Gettier Problem: Mengapa Anda Bisa Benar Tanpa Benar-Benar Tahu?
Pernahkah Anda menebak sesuatu
dengan alasan yang kuat, lalu tebakan
itu ternyata benar, tetapi Anda sadar
bahwa Anda sebenarnya tidak tahu?
Mungkin Anda menduga teman
Anda akan terlambat karena biasanya
macet. Ternyata dia memang
terlambat, tetapi karena ban
motornya bocor. Anda benar.
Tetapi alasan Anda salah.
Apakah Anda benar-benar tahu?
Tidak. Anda hanya kebetulan benar.
Itulah inti dari Gettier Problem.
Sebuah masalah filosofis yang
mengguncang cara kita memahami
pengetahuan. Ia menunjukkan
bahwa Anda bisa memiliki
keyakinan yang benar, Anda bisa
punya alasan yang kuat, tetapi Anda
tetap tidak bisa disebut tahu. Mari
saya ajak Anda masuk ke dalamnya.
Apa Itu Gettier Problem?
Gettier Problem adalah masalah dalam
epistemologi, yaitu cabang filsafat yang
mempelajari pengetahuan. Masalah ini
pertama kali diperkenalkan oleh
Edmund Gettier pada tahun 1963
melalui sebuah artikel pendek yang
berjudul
“Is Justified True Belief Knowledge?”
Artikel itu hanya tiga halaman.
Tetapi dampaknya sangat besar.
Ia mengubah arah perdebatan tentang
pengetahuan selama puluhan tahun.
Sebelum Gettier, banyak filsuf
menerima definisi pengetahuan yang
sederhana. Pengetahuan adalah
keyakinan yang benar dan dibuktikan.
Dalam bahasa Inggris, definisi ini
disebut Justified True Belief, atau
disingkat JTB. Menurut definisi ini,
Anda bisa disebut tahu jika
memenuhi tiga syarat.
Pertama, Anda percaya pada sesuatu.
Kedua, keyakinan Anda itu benar.
Ketiga, keyakinan Anda itu punya
justifikasi, yaitu alasan atau bukti
yang mendukung.
Jika ketiga syarat itu terpenuhi,
maka Anda dianggap tahu.
Selama berabad-abad, definisi ini
dianggap cukup. Tetapi Gettier
menunjukkan bahwa definisi ini
tidak cukup. Ia memberikan
contoh-contoh di mana ketiga
syarat terpenuhi, tetapi kita tetap
merasa bahwa orang itu tidak
benar-benar tahu.
Contoh Pertama: Smith dan
Pekerjaan
Bayangkan seorang pria bernama
Smith. Smith dan temannya,
Jones, melamar sebuah pekerjaan.
Smith punya bukti yang kuat
bahwa Jones akan diterima.
Misalnya, bos perusahaan
mengatakan bahwa Jones adalah
kandidat terbaik. Smith juga tahu
bahwa Jones memiliki sepuluh koin
di kantongnya. Smith sudah melihat
Jones menghitung koin itu dan
memasukkannya ke kantong.
Dari dua informasi itu,
Smith menyimpulkan sebuah
proposisi. Ia berkata,
“Orang yang akan mendapatkan
pekerjaan itu memiliki sepuluh
koin di kantongnya.”
Ternyata, tanpa diketahui Smith,
yang diterima adalah Smith sendiri,
bukan Jones. Dan secara kebetulan,
Smith juga memiliki sepuluh koin
di kantongnya. Jadi, proposisi
Smith benar. Orang yang
mendapatkan pekerjaan itu memang
memiliki sepuluh koin di kantong.
Smith juga percaya pada proposisi
itu. Smith juga punya justifikasi,
yaitu bukti tentang Jones dan
koinnya.
Tetapi apakah Smith tahu?
Tentu tidak. Smith benar karena
kebetulan. Ia tidak tahu bahwa ia
sendiri yang akan diterima.
Ia tidak tahu bahwa ia sendiri punya
sepuluh koin. Ia hanya kebetulan
benar.
Contoh Kedua: Mobil Merah
Bayangkan seorang wanita bernama
Sarah. Sarah punya teman yang
memiliki mobil merah. Suatu hari,
Sarah melihat temannya
mengendarai mobil merah. Sarah
menyimpulkan,
“Temanku memiliki mobil merah.”
Ternyata, teman Sarah sudah menjual
mobil merahnya kemarin. Mobil yang
sedang dikendarai adalah mobil rental.
Tetapi, pagi itu, teman Sarah juga
membeli mobil merah baru.
Jadi, teman Sarah memang memiliki
mobil merah. Proposisi Sarah benar.
Sarah percaya pada proposisi itu.
Sarah juga punya justifikasi, yaitu
penglihatannya sendiri. Tetapi
apakah Sarah tahu? Tidak. Sarah
benar karena kebetulan. Alasan
Sarah salah, meskipun
kesimpulannya benar.
Mengapa Gettier Problem
Begitu Penting?
Gettier Problem penting karena ia
menunjukkan bahwa pengetahuan
tidak sesederhana yang kita kira.
Kita sering menganggap bahwa
jika seseorang benar dan punya
alasan, maka ia tahu.
Tetapi Gettier menunjukkan bahwa
ada celah antara memiliki alasan
dan benar-benar tahu.
Celah itu adalah keberuntungan.
Dalam kasus Gettier, orang itu
benar, tetapi kebenarannya tidak
cukup terhubung dengan alasannya.
Ada unsur kebetulan yang membuat
proposisi itu benar. Pengetahuan
sejati seharusnya tidak bergantung
pada kebetulan.
Gettier Problem juga penting karena
ia memaksa filsuf untuk mencari
definisi pengetahuan yang lebih
baik. Banyak teori baru muncul
sebagai respons. Misalnya, teori
yang mengatakan bahwa
pengetahuan memerlukan proses
yang dapat diandalkan. Atau teori
yang mengatakan bahwa
pengetahuan tidak boleh
mengandung premis yang salah.
Atau teori yang mengatakan
bahwa pengetahuan harus berasal
dari kebajikan intelektual.
Sampai sekarang, tidak ada satu
definisi yang diterima semua filsuf.
Gettier Problem masih menjadi
tantangan. Ia mengingatkan kita
bahwa pengetahuan itu misterius.
Ia tidak sesederhana yang kita
bayangkan.
Mengapa Ini Penting
untuk Anda?
Mungkin Anda berpikir,
“Ah, itu kan hanya masalah
filsuf. Saya tidak peduli.”
Tetapi coba lihat lagi.
Pernahkah Anda membaca berita
dari sumber yang biasanya akurat?
Anda percaya berita itu.
Ternyata berita itu benar.
Tetapi sumber itu sebenarnya
menyalin dari sumber palsu yang
kebetulan benar.
Apakah Anda tahu? Tidak. Anda
benar, tetapi karena kebetulan.
Pernahkah Anda menduga pasangan
Anda selingkuh karena dia sering
pulang malam?
Ternyata dia memang selingkuh.
Tetapi alasan pulang malamnya
karena lembur. Anda benar,
tetapi justifikasi Anda salah.
Apakah Anda tahu? Tidak.
Pernahkah Anda menjawab soal
ujian dengan menebak?
Anda memilih jawaban B karena
merasa B terdengar benar.
Ternyata jawabannya B.
Anda benar. Apakah Anda tahu?
Tidak. Anda hanya beruntung.
Pernahkah Anda menduga cuaca
akan hujan karena langit mendung?
Ternyata hujan. Tetapi hujan itu
terjadi karena pesawat menyemai
awan, bukan karena mendung
alami. Anda benar, tetapi alasan
Anda salah.
Semua contoh ini menunjukkan
bahwa Gettier Problem bukan
hanya teori. Ia menyentuh kehidupan
sehari-hari. Kita sering mengklaim
tahu, padahal kita hanya benar
karena kebetulan.
Tiga Fase Menghadapi Gettier
Problem
Fase pertama, Anda merasa yakin.
Anda mengira bahwa pengetahuan
itu sederhana. Jika Anda benar dan
punya alasan, maka Anda tahu.
Anda tidak pernah mempertanyakan
definisi itu.
Fase kedua, Anda terkejut. Anda
membaca kasus Gettier. Anda
menyadari bahwa ada celah. Anda
mulai bertanya, “Apakah saya
benar-benar tahu? Atau saya hanya
kebetulan benar?”
Fase ketiga, Anda mencari
pemahaman yang lebih dalam.
Anda mulai memeriksa keyakinan
Anda. Anda mulai bertanya,
“Apakah alasan saya benar-benar
terhubung dengan kebenaran?
Apakah ada premis yang salah?
Apakah saya hanya beruntung?”
Cara Menyikapi Gettier
Problem
Pertama, bedakan antara benar
dan tahu. Anda bisa benar tanpa
tahu. Anda bisa punya alasan
tanpa pemahaman. Jangan
samakan keduanya.
Kedua, periksa premis Anda.
Ketika Anda menyimpulkan
sesuatu, periksa apakah premis
Anda benar. Jangan hanya
melihat kesimpulan. Kesimpulan
yang benar bisa datang dari
premis yang salah.
Ketiga, cari bukti langsung.
Jangan hanya mengandalkan
kesimpulan tidak langsung. Jika
Anda ingin tahu apakah teman
Anda punya mobil merah, lihat
mobilnya langsung. Jangan
hanya melihat dari kejauhan.
Keempat, waspadai keberuntungan.
Ketika Anda benar, tanyakan,
“Apakah saya benar karena
pengetahuan, atau karena kebetulan?”
Jika jawabannya kebetulan, maka
Anda tidak tahu.
Kelima, akui batas pengetahuan Anda.
Anda tidak perlu tahu segalanya.
Mengakui bahwa Anda tidak tahu
adalah tanda kebijaksanaan. Lebih
baik jujur tidak tahu daripada
mengklaim tahu padahal hanya
menebak.
Keenam, terbuka pada koreksi.
Ketika seseorang menunjukkan
bahwa alasan Anda salah, terimalah.
Jangan bertahan pada keyakinan
yang dibangun di atas premis
yang salah.
Ketujuh, latih berpikir kritis. Gettier
Problem mengajak kita untuk
berpikir lebih teliti. Jangan puas
dengan jawaban yang benar.
Tanyakan mengapa jawaban itu
benar. Tanyakan apakah alasannya
valid.
Kedelapan, rendah hati.
Pengetahuan manusia itu terbatas.
Kita sering salah. Kita sering benar
karena kebetulan. Mengakui itu
membuat kita lebih bijak.
Penutup
Gettier Problem mengajarkan satu hal
yang mengejutkan. Benar saja tidak
cukup. Anda bisa benar tanpa tahu.
Anda bisa punya alasan tanpa
pemahaman. Anda bisa yakin tanpa
dasar yang kokoh.
Ini bisa terasa mengganggu.
Jika pengetahuan tidak sesederhana
yang kita kira, bagaimana kita bisa
yakin pada apa pun?
Tetapi ini juga bisa terasa
membebaskan. Kita tidak perlu tahu
segalanya. Kita hanya perlu jujur
tentang apa yang kita tahu dan apa
yang tidak.
Maka izinkan saya bertanya kepada
Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah
benar tanpa benar-benar tahu?
Apakah Anda pernah yakin karena
alasan yang ternyata salah?
Dan jika ya, apakah Anda masih
mengklaim bahwa Anda tahu?
Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai memeriksa keyakinan
Anda sendiri.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gettier Problem: Kenapa Lo Bisa
Benar Tanpa Bener-Bener Tahu?
Coba inget lagi. Lo lagi main
tebak-tebakan sama temen lo.
Dia pegang sesuatu di belakang
punggung. Dia nanya,
“Tebak, ini apa?”
Lo liat petunjuk. Ada suara kertas.
Ada bau tinta. Lo yakin banget.
Lo jawab, “Buku!”
Dia keluarin tangannya.
Ternyata bener. Buku.
Lo seneng. Lo ngerasa pinter.
Lo ngerasa jago nebak. Tapi terus
dia bilang, “Sebenernya tadi gue
pegang pensil. Tapi pensilnya
jatuh, terus gue ambil buku yang
ada di meja. Jadi lo bener, tapi
bukan karena alasan lo.”
Diem.
Lo bener. Tapi lo nggak
bener-bener tau. Lo cuma
kebetulan bener. Alasan lo salah.
Tapi hasilnya bener. Dan lo
nggak tau harus ngerasa apa.
Kalo lo pernah ngerasain momen
kayak gini, lo udah nyentuh salah
satu masalah paling mengganggu
dalam filsafat. Namanya Gettier
Problem. Dan gue jamin, setelah
baca ini, lo bakal liat “tahu”
dengan mata yang beda.
Sebenernya Gettier Problem
Itu Apa Sih?
Gettier Problem itu simpelnya gini:
lo bisa punya keyakinan yang
bener. Lo bisa punya alasan
yang kuat. Tapi lo tetep nggak
bisa disebut tahu.
Kenapa? Karena ada celah. Celah itu
namanya keberuntungan.
Bener aja nggak cukup. Punya alasan
aja nggak cukup. Kalo kebenarannya
cuma kebetulan, kalo alasan lo nggak
bener-bener nyambung sama
kenyataan, maka lo nggak tahu.
Lo cuma lagi beruntung.
Masalah ini pertama kali diperkenalin
sama Edmund Gettier tahun 1963.
Lewat artikel pendek. Cuma tiga
halaman. Judulnya
“Is Justified True Belief Knowledge?”
Tapi dampaknya? Gede banget.
Dia ngguncang cara filsuf ngerti
pengetahuan selama puluhan tahun.
Definisi Lama yang Dianggap
Cukup
Sebelum Gettier, banyak filsuf nerima
definisi pengetahuan yang simpel.
Pengetahuan adalah keyakinan
yang benar dan dibuktikan.
Dalam bahasa Inggris:
Justified True Belief. Disingkat JTB.
Menurut definisi ini, lo bisa disebut
tahu kalo memenuhi tiga syarat.
Pertama, lo percaya pada
sesuatu. Kedua, keyakinan
lo itu bener. Ketiga, keyakinan
lo itu punya justifikasi.
Ada alasan. Ada bukti. Ada dasar.
Kalo tiga syarat ini terpenuhi,
lo dianggap tahu. Selama
berabad-abad, definisi ini dianggap
cukup. Nggak ada yang ngeraguin.
Sampe Gettier dateng.
Dia nunjukin bahwa definisi ini
nggak cukup. Dia ngasih contoh
di mana tiga syarat terpenuhi.
Tapi kita tetep ngerasa orang itu
nggak bener-bener tahu.
Contoh Pertama: Smith dan
Pekerjaan
Bayangin ada pria namanya Smith.
Smith sama temennya, Jones, lagi
ngelamar kerjaan. Smith punya
bukti kuat bahwa Jones bakal
diterima. Misalnya, bos perusahaan
bilang bahwa Jones adalah kandidat
terbaik. Smith juga tau bahwa
Jones punya sepuluh koin
di kantongnya. Smith udah liat
Jones ngitung koin itu dan masukin
ke kantong.
Dari dua informasi itu,
Smith nyimpulin sesuatu.
Dia bilang, “Orang yang bakal
dapet pekerjaan itu punya
sepuluh koin di kantongnya.”
Ternyata, tanpa diketahui Smith,
yang diterima adalah Smith sendiri.
Bukan Jones. Dan secara kebetulan,
Smith juga punya sepuluh koin
di kantongnya. Jadi proposisi Smith
bener. Orang yang dapet pekerjaan
itu emang punya sepuluh koin
di kantong. Smith juga percaya pada
proposisi itu. Smith juga punya
justifikasi. Bukti tentang Jones
dan koinnya.
Tapi apa Smith tahu? Tentu nggak.
Smith bener karena kebetulan.
Dia nggak tau bahwa dia sendiri
yang bakal diterima. Dia nggak tau
bahwa dia sendiri punya sepuluh
koin. Dia cuma kebetulan bener.
Contoh Kedua: Mobil Merah
Bayangin seorang wanita namanya
Sarah. Sarah punya temen yang
punya mobil merah. Suatu hari,
Sarah liat temennya lagi nyetir
mobil merah. Sarah nyimpulin,
“Temen gue punya mobil
merah.”
Ternyata, temen Sarah udah jual
mobil merahnya kemarin. Mobil
yang lagi dikendarai adalah mobil
rental. Tapi, pagi itu, temen Sarah
juga beli mobil merah baru. Jadi,
temen Sarah emang punya mobil
merah. Proposisi Sarah bener.
Sarah percaya pada proposisi itu.
Sarah juga punya justifikasi.
Penglihatannya sendiri. Tapi apa
Sarah tahu? Nggak. Sarah bener
karena kebetulan. Alasan Sarah
salah. Meskipun kesimpulannya
bener.
Kenapa Ini Penting Banget
Buat Lo?
Mungkin lo mikir,
“Ah, itu kan cuma masalah filsuf.
Gue nggak peduli.” Tapi tunggu
dulu. Masalah ini nyentuh hidup
lo dengan cara yang sangat
pribadi.
Pertama, lo mungkin pernah
baca berita dari sumber yang
biasanya akurat.
Lo percaya berita itu. Ternyata
berita itu bener. Tapi sumber itu
sebenernya nyalin dari sumber
palsu yang kebetulan bener.
Lo bener. Tapi lo nggak tau.
Lo cuma kebetulan bener.
Kedua, lo mungkin pernah
nuduh pasangan lo selingkuh
karena dia sering pulang
malem.
Ternyata dia emang selingkuh. Tapi
alasan pulang malemnya karena
lembur. Lo bener. Tapi justifikasi
lo salah. Lo nggak tau. Lo cuma
kebetulan bener.
Ketiga, lo mungkin pernah
jawab soal ujian dengan
nebak.
Lo milih jawaban B karena ngerasa
B kedengeran bener. Ternyata
jawabannya B. Lo bener. Tapi lo
nggak tau. Lo cuma beruntung.
Keempat, lo mungkin pernah
menduga cuaca bakal hujan
karena langit mendung.
Ternyata hujan. Tapi hujan itu
terjadi karena pesawat nyemai
awan. Bukan karena mendung alami.
Lo bener. Tapi alasan lo salah.
Tanda-Tanda Lo Lagi Kejebak
Gettier Problem
Coba jawab dalam hati. Jujur.
Nggak usah jawab ke gue.
Lo pernah bener tapi lo
nggak tau kenapa bener?
Itu tanda lo lagi kejebak
Gettier.Lo pernah punya alasan
yang kuat, tapi ternyata
alasannya salah?
Itu tanda lo cuma kebetulan
bener.Lo pernah ngerasa yakin
banget, tapi ternyata
keyakinan lo dibangun
di atas premis yang keliru?
Itu tanda lo butuh meriksa
ulang.Lo pernah ngeklaim
“gue tau” padahal lo cuma
nebak?
Itu tanda lo nyampur aduk
antara bener dan tahu.Lo pernah ngerasa
beruntung karena tebakan
lo tepat?
Itu tanda lo sadar lo nggak
bener-bener tahu.
Kalo lo jawab iya di dua atau lebih,
selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin
sesuatu yang bener-bener pelik.
Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda
lo mikir.
Contoh yang Bikin Lo Sadar
Di medsos. Lo liat berita. Lo percaya.
Lo bagi. Ternyata berita itu bener.
Tapi sumbernya nggak jelas.
Sumbernya cuma akun anonim yang
kebetulan dapet info bener. Lo bener.
Tapi lo nggak tau. Lo cuma
kebetulan bener.
Di kerjaan. Lo duga proyek bakal
sukses. Lo kasih presentasi. Lo yakin.
Ternyata sukses. Tapi suksesnya
bukan karena strategi lo.
Suksesnya karena kompetitor lo
bangkrut. Lo bener. Tapi alasan
lo salah.
Di hubungan. Lo duga pasangan
lo lagi sedih. Lo beliin hadiah.
Ternyata dia emang sedih. Tapi
sedihnya bukan karena yang lo kira.
Sedihnya karena masalah lain.
Lo bener. Tapi lo nggak paham.
Di kesehatan. Lo duga lo sakit flu.
Lo minum obat flu. Ternyata lo
emang sakit flu. Tapi obatnya
bukan yang bikin lo sembuh.
Lo sembuh karena istirahat.
Lo bener. Tapi lo nggak tau kenapa.
Di diri lo sendiri. Lo duga lo
bakal gagal. Lo nggak usaha.
Ternyata lo emang gagal. Lo bilang,
“Kan gue bilang juga apa.” Tapi lo
gagal bukan karena lo duga. Lo
gagal karena lo nggak usaha. Lo
bener. Tapi lo nggak tau.
Fase-Fase Lo Ngadepin
Gettier Problem
Fase pertama: lo ngerasa yakin.
Lo ngira pengetahuan itu simpel.
Kalo lo bener dan punya alasan,
maka lo tahu. Lo nggak pernah
mempertanyakan definisi itu.
Fase kedua: lo kaget.
Lo baca kasus Gettier. Lo sadar ada
celah. Lo mulai nanya,
“Apa gue bener-bener tahu?
Atau gue cuma kebetulan bener?”
Fase ketiga: lo nyari
pemahaman yang lebih dalem.
Lo mulai meriksa keyakinan lo.
Lo mulai nanya, “Apa alasan gue
bener-bener nyambung sama
kebenaran?
Apa ada premis yang salah?
Apa gue cuma beruntung?”
Cara Nyikapin Gettier Problem
Tanpa Kehilangan Akal
1. Bedain antara bener dan tahu.
Lo bisa bener tanpa tahu.
Lo bisa punya alasan tanpa
pemahaman. Jangan samain
dua-duanya. Bener itu hasil.
Tahu itu proses.
2. Periksa premis lo.
Waktu lo nyimpulin sesuatu, periksa
apakah premis lo bener.
Jangan cuma liat kesimpulan.
Kesimpulan yang bener bisa dateng
dari premis yang salah.
3. Cari bukti langsung.
Jangan cuma ngandelin kesimpulan
nggak langsung. Kalo lo pengen tau
apakah temen lo punya mobil merah,
liat mobilnya langsung. Jangan cuma
liat dari kejauhan.
4. Waspadai keberuntungan.
Waktu lo bener, tanya:
“Apa gue bener karena pengetahuan,
atau karena kebetulan?”
Kalo jawabannya kebetulan,
maka lo nggak tahu.
5. Akui batas pengetahuan lo.
Lo nggak perlu tau segalanya.
Ngakuin bahwa lo nggak tau adalah
tanda kebijaksanaan. Lebih baik
jujur nggak tau daripada ngeklaim
tahu padahal cuma nebak.
6. Terbuka pada koreksi.
Waktu seseorang nunjukin bahwa
alasan lo salah, terima.
Jangan bertahan pada keyakinan
yang dibangun di atas premis
yang salah. Jangan defensif.
Jangan egois.
7. Latih berpikir kritis.
Gettier Problem ngajak lo buat
berpikir lebih teliti. Jangan puas
sama jawaban yang bener. Tanya
kenapa jawaban itu bener. Tanya
apakah alasannya valid. Tanya
apakah ada celah.
8. Rendah hati.
Pengetahuan manusia itu terbatas.
Kita sering salah. Kita sering bener
karena kebetulan. Ngakuin itu bikin
kita lebih bijak. Bukan lebih lemah.
9. Terima kalo lo nggak akan
pernah punya jawaban
sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa nentuin
dengan pasti apakah lo bener-bener
tahu atau cuma kebetulan bener.
Lo cuma bisa hidup dengan
ketidakpastian itu. Dan itu
nggak apa-apa.
Yang Paling Lo Takutin
Bukan Salah
Yang paling lo takutin bukan salah.
Bukan keliru. Bukan nggak tahu.
Yang paling lo takutin adalah:
kalo lo sadar lo udah ngeklaim
tahu selama ini, padahal lo
cuma kebetulan bener. Kalo lo
sadar lo udah yakin banget,
padahal keyakinan lo dibangun
di atas premis yang salah.
Kalo lo sadar lo udah nyebarin
informasi yang bener, tapi lo
nggak paham kenapa itu bener.
Itu serem. Gue ngerti.
Tapi coba pikir lagi. Kalo lo sadar,
lo bisa meriksa. Kalo lo sadar,
lo bisa nimbang. Kalo lo sadar,
lo bisa lebih teliti. Kalo lo sadar,
lo bisa lebih jujur sama diri sendiri.
Kalo lo sadar, lo bisa mulai bedain
antara bener dan tahu.
Gettier Problem bukan tentang
ngerusak pengetahuan.
Dia tentang ngasih lo alat buat
meriksa. Dia tentang ngasih lo
keberanian buat ngaku.
“Gue bener, tapi gue nggak tau
kenapa.” Dan itu langkah pertama.
Penutup: Pertanyaan yang
Bakal Nemenin Lo Tidur
Gettier Problem ngajarin satu hal
yang ngejutin. Bener aja nggak
cukup. Lo bisa bener tanpa tahu.
Lo bisa punya alasan tanpa
pemahaman. Lo bisa yakin
tanpa dasar yang kokoh.
Ini bisa berasa mengganggu.
Kalo pengetahuan nggak
sesederhana yang kita kira,
gimana kita bisa yakin pada
apa pun? Tapi ini juga bisa berasa
membebaskan. Kita nggak perlu
tahu segalanya. Kita cuma perlu
jujur tentang apa yang kita tahu
dan apa yang nggak.
Jadi, gue mau nanya ke lo.
Lo pernah bener tanpa
bener-bener tahu?
Lo pernah yakin karena alasan
yang ternyata salah?
Dan kalo iya, lo masih
ngeklaim bahwa lo tahu?
Gue nggak bisa jawab buat lo.
Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa
ngingetin: lo nggak harus punya
jawaban sekarang. Lo cuma harus
mulai jujur sama diri sendiri.
Lo cuma harus mulai meriksa.
Lo cuma harus mulai bedain
antara bener dan tahu.
Selamat merenung.
Atau setidaknya, selamat mulai
meriksa keyakinan lo sendiri.
