buku

Prepping for the Big Day (Persiapan Sebelum Hari-H)

Jamie Glowacki membuka bab ini
dengan sebuah pernyataan yang
mungkin mengejutkan banyak
orang tua. Persiapan untuk potty
training, katanya, lebih banyak untuk
orang tua daripada untuk anak. Anak
Anda sebenarnya tidak membutuhkan
banyak persiapan. Mereka tidak perlu
membaca buku tentang toilet. Mereka
tidak perlu menonton video edukasi.
Mereka tidak perlu latihan
pendahuluan. Yang benar-benar
perlu dipersiapkan adalah Anda,
orang tua. Karena kunci keberhasilan
potty training bukanlah pada anak.
Kunci keberhasilannya ada pada
kesiapan mental dan emosional
Anda sendiri.

Glowacki menjelaskan bahwa potty
training yang gagal hampir selalu
gagal karena orang tuanya tidak siap.
Bukan karena anaknya nakal,
keras kepala, atau belum siap.
Orang tua yang tidak siap akan mudah
panik saat terjadi kecelakaan. Mereka
akan ragu-ragu saat anak menolak.
Mereka akan menyerah di hari kedua
karena merasa lelah. Mereka akan
secara tidak sengaja mengirimkan
pesan kepada anak bahwa potty
training adalah sesuatu yang
menakutkan dan penuh stres.
Semua ini bisa dicegah dengan
persiapan yang matang sebelum
hari pertama dimulai.

Membersihkan Jadwal Anda
Sepenuhnya

Persiapan pertama dan paling penting
adalah 
membersihkan jadwal
Anda
. Glowacki sangat serius tentang
hal ini. Ketika Anda memulai potty
training, Anda harus berkomitmen
untuk tinggal di rumah selama
beberapa hari penuh.
Bukan beberapa jam.
Bukan satu hari. Tapi beberapa hari
berturut-turut di mana Anda tidak
punya rencana lain sama sekali.

Ini berarti tidak ada janji dengan
dokter. Tidak ada acara keluarga.
Tidak ada pergi ke supermarket.
Tidak ada tamu yang datang
berkunjung. Tidak ada pekerjaan
yang harus diselesaikan dari rumah.
Telepon genggam disingkirkan.
Televisi dimatikan.
Seluruh perhatian Anda, seratus
persen, harus tercurah pada anak
Anda dan proses potty training ini.
Anda harus menjadi pengamat yang
penuh perhatian. Anda harus
memperhatikan setiap gerak-gerik
anak Anda, setiap ekspresi wajah,
setiap bahasa tubuh yang mungkin
menunjukkan bahwa mereka perlu
buang air. Jika Anda teralihkan
bahkan untuk satu menit, Anda bisa
melewatkan momen penting itu, dan
hasilnya adalah genangan di lantai.

Glowacki merekomendasikan untuk
memblokir minimal tiga hari penuh
di kalender Anda. Tiga hari di mana
Anda tidak melakukan apa pun selain
potty training. Jika setelah tiga hari
anak Anda belum sepenuhnya
menguasainya, Anda mungkin perlu
menambah satu atau dua hari lagi.
Tapi tiga hari biasanya cukup untuk
meletakkan fondasi yang kuat.
Hari-hari ini akan terasa intens.
Anda mungkin akan merasa bosan.
Anda mungkin akan merasa frustrasi.
Tapi intensitas inilah yang membuat
potty training berhasil. Anda sedang
menciptakan lingkungan yang
terkendali di mana anak Anda bisa
fokus sepenuhnya pada belajar
keterampilan baru ini.

Menyiapkan Mental Anda

Setelah jadwal Anda bersih, persiapan
berikutnya adalah 
menyiapkan
mental Anda
. Glowacki menekankan
bahwa sikap Anda selama proses potty
training sama pentingnya dengan
teknik yang Anda gunakan.
Anda harus memasuki proses ini
dengan keyakinan penuh bahwa Anda
dan anak Anda akan berhasil. Bukan
harapan. Bukan keinginan. Keyakinan.

Anak-anak sangat peka terhadap
emosi orang tua mereka. Jika Anda
gugup, mereka akan gugup.
Jika Anda ragu-ragu, mereka akan
ragu-ragu. Jika Anda frustrasi, mereka
akan merasa tertekan. Sebaliknya, jika
Anda tenang dan percaya diri, mereka
akan merasa aman dan akan
mengikuti kepemimpinan Anda.
Potty training adalah salah satu
momen pertama di mana Anda
benar-benar harus menjadi
pemimpin yang tenang dan tegas
bagi anak Anda.

Glowacki juga memperingatkan bahwa
akan ada momen-momen sulit. Akan
ada kecelakaan. Akan ada penolakan.
Akan ada saat-saat di mana Anda
ingin menyerah. Ini semua normal.
Ini semua sudah diperhitungkan.
Tugas Anda bukanlah menghindari
momen-momen ini. Tugas Anda
adalah melewatinya dengan tenang.
Tarik napas panjang. Ingatkan diri
Anda bahwa ini adalah proses
belajar. Anak Anda bukan sedang
mencoba menyulitkan Anda. Mereka
sedang belajar keterampilan yang
benar-benar baru. Mereka akan
membuat kesalahan. Sama seperti
mereka jatuh berkali-kali saat belajar
berjalan, mereka akan mengompol
berkali-kali saat belajar menggunakan
toilet. Itu bagian dari proses.
Tersenyumlah. Bersihkan. Lanjutkan.

Perlengkapan yang Perlu
Disiapkan

Glowacki sangat spesifik tentang
perlengkapan yang Anda butuhkan.
Perlengkapannya tidak banyak,
tapi masing-masing penting.

Pispot kecil yang berdiri sendiri
di lantai.
 Glowacki sangat
menyarankan menggunakan pispot
kecil yang bisa diletakkan di lantai,
bukan hanya dudukan yang dipasang
di toilet orang dewasa. Ada beberapa
alasan untuk ini.
Pertama, pispot kecil memberi anak
rasa aman. Kaki mereka bisa
menapak dengan kuat di lantai.
Mereka tidak menggantung di udara
seperti saat duduk di toilet orang
dewasa. Ini penting karena untuk
bisa mengendurkan otot-otot yang
diperlukan untuk buang air, anak
harus merasa stabil secara fisik.
Kedua, pispot kecil bisa dipindahkan.
Di hari-hari pertama, Anda mungkin
akan menghabiskan banyak waktu
di satu ruangan. Pispot harus ada
di ruangan itu bersama Anda, bukan
di kamar mandi yang jauh.
Ketiga, pispot kecil adalah milik anak.
Itu adalah ukuran mereka. Itu tidak
menakutkan seperti toilet orang
dewasa yang besar dan bisa membuat
suara siraman yang keras.

Cairan pembersih.
Glowacki merekomendasikan untuk
menyiapkan cairan pembersih yang
mudah dijangkau. Anda akan sering
membersihkan lantai dalam beberapa
hari ke depan. Pastikan cairan
pembersihnya aman untuk anak dan
tidak mengandung bahan kimia
keras yang berbahaya. Anda juga
akan membutuhkan banyak kain lap
atau tisu untuk membersihkan
kecelakaan.

Pakaian yang mudah dilepas.
Selama masa potty training, pakaian
anak Anda harus seminimal
mungkin dan semudah mungkin
untuk dilepas. Glowacki sangat
menyarankan untuk memulai proses
dengan anak dalam keadaan
telanjang sepenuhnya dari pinggang
ke bawah. Tidak ada popok.
Tidak ada celana. Tidak ada celana
dalam. Telanjang. Ini mungkin terasa
aneh pada awalnya, tapi ada alasan
kuat untuk ini. Ketika anak memakai
celana atau celana dalam, mereka
merasa seperti memakai popok.
Sensasinya mirip. Otot-otot mereka
secara otomatis bersiap untuk
melepaskan, sama seperti yang
mereka lakukan di popok. Dengan
telanjang, sensasi ini hilang. Anak
menjadi lebih sadar akan apa yang
terjadi dengan tubuh mereka.
Selain itu, tanpa celana, Anda bisa
langsung melihat ketika anak
mulai buang air. Anda bisa segera
merespons dan membawa mereka
ke pispot.

Menyiapkan Naskah
Sederhana

Langkah terakhir dalam persiapan
adalah 
menyiapkan naskah
sederhana
 yang akan Anda ucapkan
kepada anak Anda di pagi hari
pertama. Glowacki menekankan
bahwa ini bukanlah diskusi atau
negosiasi. Ini adalah pernyataan.
Anda memberitahu anak apa yang
akan terjadi, dengan tenang dan jelas.
Tidak ada pertanyaan. Tidak ada
“Apakah kamu mau coba pakai pispot
hari ini?” Itu memberikan celah
bagi anak untuk mengatakan tidak.

Naskah yang disarankan Glowacki
sangat sederhana, kira-kira seperti
ini: “Kita buang popoknya sekarang.
Pipis dan pup di pispot ya mulai
sekarang.”

Itu saja. Tidak perlu penjelasan
panjang lebar. Tidak perlu bercerita
tentang betapa menyenangkannya
menjadi anak besar. Tidak perlu
janji-janji hadiah. Hanya pernyataan
singkat yang jelas. Popok sudah
selesai. Ini adalah cara baru. Kita
akan melakukannya bersama.

Glowacki menyarankan untuk secara
fisik membuang popok bersama anak.
Bawa anak ke tempat sampah.
Biarkan mereka melihat Anda
membuang popok terakhir mereka.
Ini adalah tindakan simbolis yang
kuat. Ini menandai akhir dari era
popok dan awal dari era yang baru.
Setelah itu, tidak ada jalan kembali.
Popok tidak ada lagi di rumah. Anda
tidak bisa menyerah di tengah jalan
karena tidak ada popok untuk
kembali. Ini adalah komitmen penuh,
dan anak Anda bisa merasakannya.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kita lanjutin ke Bab 3 dari
buku 
Oh Crap! Potty Training.
Di sini Jamie Glowacki ngomongin
soal persiapan, dan lo pasti kaget,
karena ternyata persiapannya bukan
buat si kecil, tapi buat lo. Iya, lo,
para orang tua. Katanya, kunci
sukses itu bukan di anak, tapi
di kesiapan mental lo sendiri.

Glowacki buka dengan jujur,
kebanyakan potty training gagal
itu bukan gara-gara anak nakal
atau belum siap. Tapi karena
orang tuanya yang panik pas
terjadi kecelakaan, ragu pas anak
nolak, atau nyerah di hari kedua.
Ini semua bisa dicegah. Jadi, yuk
kita siapin diri lo dulu.

Ini persiapan paling krusial: lo harus
bersihin jadwal lo total.
 Seriusan.
Begitu lo mulai, lo harus komitmen
buat ngendon di rumah aja selama
beberapa hari penuh.
Bukan beberapa jam, bukan cuma
sehari. Beberapa hari berturut-turut
tanpa agenda lain sama sekali.
Nggak ada janji dokter, arisan,
ke supermarket, apalagi ngerjain
kerjaan dari rumah. Tamu yang mau
datang? Ditolak halus dulu.
TV matiin, hape lo singkirin. Seluruh
perhatian lo harus 100% ke si kecil.
Lo harus jadi pengamat profesional,
merhatiin setiap gerak-geriknya,
bahasa tubuhnya. Begitu lo ke-distract
sebentar aja, bisa-bisa lo kelewatan
momen dia mau pipis, dan
hasilnya… bye bye karpet bersih.

Lo butuh minimal 3 hari penuh
di kalender lo. Tiga hari tanpa
ngapa-ngapain selain jadi
“asisten toilet”.
Kalau belum 100% bisa, tambah
sehari dua hari lagi. Memang
bakal kerasa intens, mungkin
lo bosan atau frustrasi. Tapi justru
intensitas inilah yang bikin metode
ini berhasil. Lo lagi nyiptain
lingkungan khusus di mana si kecil
bisa fokus total belajar skill baru.

Setelah jadwal bersih, saatnya
nyiapin mental lo. Ini sama
pentingnya. Lo harus maju dengan
keyakinan penuh, bukan cuma
harapan. Yakin bahwa lo dan anak
lo pasti bisa. Karena anak itu detektor
stres berjalan, gaes. Lo gugup,
dia gugup. Lo ragu, dia ikut ragu.
Lo frustrasi, dia ngerasa tertekan.
Tapi kalau lo bisa tampil tenang dan
pede, dia bakal ngerasa aman dan
mau ngikutin pimpinan lo. Ini adalah
momen di mana lo jadi pemimpin
yang kalem dan tegas.

Glowacki juga wanti-wanti, bakal ada
momen-momen pengen nyerah.
Akan ada ompol, akan ada penolakan.
Itu semua udah ada di skenario.
Tugas lo bukan menghindarinya, tapi
ngelewatin dengan tenang.
Tarik napas. Inget, ini proses belajar.
Dia bukan nyusahin lo, dia lagi belajar
skill baru. Dulu belajar jalan aja jatuh
berkali-kali, kan? Sekarang juga gitu.
Senyumin aja, lap, lanjutin.

Soal perlengkapan, Glowacki nggak
nyaranin yang macem-macem.
Pertama, siapin pispot kecil yang
taroh di lantai. Ini penting banget,
jangan cuma dudukan di toilet gede.
Kenapa?
Pertama, biar anak ngerasa aman
karena kakinya napak, nggak
ngegantung. Buat ngendurin otot
buat pup, mereka harus stabil.
Kedua, pispot kecil bisa lo
pindah-pindah.
Ketiga, ukurannya pas buat
mereka, nggak serem
kayak toilet dewasa.

Kedua, siapin cairan pembersih yang
aman dan banyak lap. Lo bakal sering
ngepel. Ketiga, soal baju. Di hari-hari
awal, Glowacki nyaranin anak lo
telanjang total dari pinggang
ke bawah.
 Nggak pake popok, nggak
pake celana, nggak pake celana dalam.
Kenapa? Karena pas anak pake celana,
sensasinya mirip kayak pake popok.
Otot mereka otomatis siap ngelepas.
Dengan telanjang, sensasi itu ilang.
Mereka jadi lebih sadar tubuhnya.
Plus, lo bisa langsung lihat dan sigap
nanggapin.

Langkah terakhir, siapin naskah
simpel.
 Glowacki nekenin, ini bukan
diskusi atau negosiasi. Ini adalah
pemberitahuan. Lo ngasih tahu apa
yang bakal terjadi, dengan tenang dan
jelas. Jangan ada kalimat tanya kayak,
“Mau coba pispot nggak hari ini?”
itu ngasih celah dia buat bilang nggak.

Naskahnya sesimpel ini:
“Kita buang popoknya sekarang.
Pipis dan pup di pispot ya mulai
sekarang.”
 Udah. Titik. Nggak perlu
penjelasan panjang lebar, nggak perlu
janjiin hadiah.

Bahkan, Glowacki nyaranin lo ngajak
anak buang popoknya bareng
ke tempat sampah. Biarkan dia lihat
lo membuang popok terakhirnya.
Ini simbol yang kuat, gaes.
Ini menandai akhir dari era popok.
Setelah itu, nggak ada jalan mundur.
Popok udah nggak ada. Ini adalah
komitmen total lo, dan anak lo bakal
ngerasain itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *