buku

Poin-Poin Penting & Harapan untuk Pemulihan

Tiga Pelajaran Besar tentang
Trauma

Pada bagian ini, ada tiga pelajaran
utama yang menjadi inti refleksi
setelah membaca The Body Keeps The
Score
. Bab ini bukan hanya tentang
memahami trauma, tetapi tentang
harapan, bahwa pemulihan itu nyata
dan mungkin terjadi.

Pertama, penting untuk diingat bahwa
penyakit mental tidak dapat
didefinisikan seakurat kebanyakan
penyakit fisik

kedua, ada banyak cara untuk
menyembuhkan trauma, dan sebagian
besar penyintas membutuhkan
kombinasi metode

ketiga, ada begitu banyak yang dapat
kita lakukan untuk menyembuhkan
trauma

Gangguan Mental Tidak Selalu
Sesederhana Diagnosis

Pelajaran pertama adalah bahwa
gangguan mental tidak bisa
didefinisikan sepresisi penyakit fisik.
Dalam dunia medis, kita bisa melihat
infeksi melalui tes darah atau hasil
laboratorium. Namun dalam kesehatan
mental, gejala sering kali tampak
serupa meskipun akar masalahnya
berbeda.

Seorang pasien bisa didiagnosis bipolar
karena perubahan suasana hati yang
ekstrem. Orang lain bisa diberi label
depresi karena rasa putus asa yang
mendalam. Seseorang mungkin disebut
ADHD karena sulit fokus. Semua
kondisi itu bisa saja diobati dengan
obat untuk meredakan gejala.

Namun, pendekatan yang lebih
menyeluruh menuntut kita melihat
gambaran besar. Terapis yang baik
tidak berhenti pada gejala. Mereka
bertanya: apakah ada trauma yang
mendasari semua ini?

Bukan berarti semua bipolar, depresi,
atau ADHD disebabkan oleh trauma.
Tetapi dalam beberapa kasus, perilaku
yang terlihat seperti gangguan tersebut
sebenarnya berakar pada pengalaman
traumatis yang belum diproses. Jika
akar ini tidak disentuh, pengobatan
mungkin hanya meredakan permukaan,
bukan menyembuhkan sumber luka.

Karena itu, penting bagi terapis, dokter,
guru, dan siapa pun yang bekerja
dengan manusia untuk
mempertimbangkan kemungkinan
trauma di balik perilaku.

Trauma Bisa Disembuhkan
dengan Banyak Cara

Pelajaran kedua adalah bahwa ada
banyak cara untuk menyembuhkan
trauma, dan sebagian besar
penyintas membutuhkan kombinasi
metode.

Van der Kolk mengelompokkan
pendekatan penyembuhan ke dalam
beberapa kategori utama.

Mengatasi Hiperarousal

Hiperarousal adalah kondisi ketika
sistem saraf terus berada dalam
mode siaga, seolah bahaya selalu
mengintai. Dalam kondisi ini,
tubuh sulit tenang.

Pendekatan seperti pengobatan, yoga,
dan ritme membantu menenangkan
sistem saraf. Ritme yang teratur
membantu tubuh merasa aman kembali.

Contoh Penerapan Pengobatan
(dengan pendampingan
profesional)

Seseorang yang selalu gelisah, jantung
berdebar, sulit tidur, dan mudah panik
mungkin berkonsultasi dengan
psikiater. Dokter dapat meresepkan
obat tertentu untuk membantu
menstabilkan sistem saraf sehingga
tubuh tidak terus berada dalam
kondisi “siaga bahaya”.

Tujuannya bukan menghapus trauma,
tetapi menurunkan intensitas respons
fisik agar individu cukup tenang untuk
menjalani terapi dan aktivitas
sehari-hari. Dengan sistem saraf yang
lebih stabil, proses pemulihan menjadi
lebih mungkin dilakukan.

Contoh Penerapan Yoga

Seorang penyintas trauma merasa
tegang setiap kali mendengar suara
keras. Ia mengikuti kelas yoga yang
berfokus pada gerakan lambat dan
kesadaran napas.

Dalam sesi tersebut:

  • Gerakan dilakukan perlahan
    dan terstruktur.

  • Napas diatur secara ritmis
    (misalnya tarik 4 hitungan,
    hembus 6 hitungan).

  • Instruktur sering mengingatkan
    peserta untuk memperhatikan
    sensasi tubuh tanpa menghakimi.

Setelah beberapa minggu, tubuhnya
mulai belajar bahwa tidak semua
sensasi berarti bahaya. Otot yang
biasanya kaku menjadi lebih rileks.
Sistem saraf perlahan belajar
kembali ke keadaan tenang.

Contoh Penerapan Ritme

Ritme membantu sistem saraf karena
tubuh manusia merespons pola yang
teratur sebagai sinyal keamanan.

Contohnya:

Jalan Kaki Berirama

Seseorang berjalan kaki setiap pagi
selama 20 menit dengan langkah
stabil. Ia menyelaraskan langkah
dengan napas
—dua langkah tarik napas, dua langkah
hembus. Pola yang konsisten memberi
pesan pada otak bahwa lingkungan
aman.

Mendengarkan Musik Berirama
Stabil

Musik dengan tempo yang konsisten
membantu menurunkan ketegangan.
Tubuh secara alami mengikuti ritme
tersebut, detak jantung menjadi lebih
teratur.

Aktivitas Kelompok Berirama

Mengikuti kegiatan seperti menari
bersama, latihan pernapasan
kelompok, atau aktivitas tepuk tangan
berirama membantu tubuh merasa
selaras dengan orang lain. Keselarasan
ritme ini memulihkan rasa
keterhubungan dan keamanan.

Contoh Penerapan Latihan
Pernapasan Sederhana

Saat merasa jantung mulai berdebar
cepat dan pikiran terasa waspada
berlebihan, seseorang bisa melakukan
latihan berikut:

  1. Duduk dengan kaki menapak
    lantai.

  2. Tarik napas perlahan selama
    4 hitungan.

  3. Hembuskan lebih lama,
    misalnya 6–8 hitungan.

  4. Ulangi selama 2–3 menit.

Hembusan napas yang lebih panjang
memberi sinyal pada sistem saraf
bahwa tubuh tidak sedang dalam
bahaya. Secara fisiologis, ini
membantu mengaktifkan respons
relaksasi.

Inti dari Semua Pendekatan

Semua metode ini memiliki tujuan
yang sama:
membantu tubuh keluar dari mode
“bahaya terus-menerus” dan kembali
ke kondisi aman.

Hiperarousal bukan kelemahan
karakter. Itu adalah sistem
perlindungan yang bekerja terlalu
keras. Dengan pendekatan yang tepat
—baik melalui pengobatan, yoga,
ritme, atau latihan pernapasan
—tubuh dapat belajar kembali bahwa
ia tidak sedang terancam.

Dan ketika tubuh mulai merasa aman,
proses penyembuhan menjadi jauh
lebih mungkin terjadi.

Mindfulness dan Kesadaran Diri

Mindfulness membantu seseorang
memperlambat diri dan menyadari
apa yang terjadi di tubuhnya ketika
otak mengingat trauma. Dengan
memperhatikan sensasi tubuh
tanpa panik, trauma dapat
diproses secara bertahap.

Tujuannya bukan menghindari
kenangan, tetapi menghadapi dan
memprosesnya dengan sistem
saraf yang lebih stabil.

Contoh 1: Saat Kenangan
Tiba-Tiba Muncul

Seseorang yang pernah mengalami
kecelakaan mobil merasa jantungnya
berdebar kencang setiap kali
mendengar suara rem mendadak.
Biasanya ia langsung panik atau
berusaha mengalihkan perhatian.

Dengan mindfulness, ia melakukan
langkah berbeda:

  1. Ia berhenti sejenak.

  2. Menarik napas perlahan dan dalam.

  3. Mengamati apa yang terjadi
    di tubuhnya.

Ia berkata dalam hati:
“Jantungku berdebar. Tanganku dingin.
Bahuku terasa tegang.”

Alih-alih berkata “Aku dalam bahaya!”,
ia menyadari:
“Ini respons tubuhku terhadap
kenangan lama. Saat ini aku aman.”

Ia tidak menolak sensasi itu, tetapi juga
tidak membiarkannya mengambil alih.
Ia hanya mengamati. Perlahan, napas
menjadi lebih teratur dan tubuh mulai
tenang.

Di sini, trauma tidak dihindari,
tetapi diproses dengan sistem saraf
yang lebih stabil.

Contoh 2: Saat Tubuh Bereaksi
Tanpa Disadari

Seorang penyintas kekerasan masa
kecil merasa sangat gelisah ketika
seseorang berbicara dengan nada
suara keras. Ia biasanya langsung
merasa ingin pergi atau membeku.

Dengan latihan kesadaran diri,
ia belajar mengenali tanda-tanda awal:

  • Perut terasa kencang

  • Napas menjadi pendek

  • Leher terasa kaku

Begitu menyadarinya, ia melakukan
grounding sederhana:

  • Menyadari kedua kaki
    menyentuh lantai

  • Menekan telapak tangan
    satu sama lain

  • Menarik napas 4 hitungan,
    menghembuskan 6 hitungan

Ia berkata pada dirinya sendiri:
“Aku sedang terpicu. Tapi aku tidak
sedang berada dalam situasi
berbahaya sekarang.”

Dengan cara ini, ia tetap terhubung
pada tubuhnya tanpa tenggelam
dalam respons lama.

Contoh 3: Latihan Terstruktur
untuk Memproses Kenangan

Dalam sesi terapi, seseorang diminta
mengingat peristiwa traumatis
dalam dosis kecil.

Namun kali ini berbeda. Terapis
memintanya:

  • Memperhatikan napas

  • Mengamati sensasi tubuh saat
    mulai menceritakan kejadian

  • Berhenti jika tubuh terasa terlalu
    tegang

Jika jantung mulai berdetak terlalu
cepat, ia tidak dipaksa melanjutkan.
Ia kembali fokus pada napas dan
sensasi duduk di kursi.

Dengan cara ini, otak tetap “online”.
Bahasa tetap berjalan. Tubuh tidak
sepenuhnya masuk mode fight,
flight, atau freeze.

Proses ini membantu otak belajar
bahwa mengingat tidak selalu
berarti bahaya nyata.

Contoh 4: Latihan Harian
Sederhana

Mindfulness tidak selalu harus
dilakukan saat kenangan muncul.
Justru latihan sehari-hari membantu
memperkuat stabilitas sistem saraf.

Contohnya:

  • Duduk 5 menit setiap pagi
    memperhatikan napas

  • Body scan sebelum tidur,
    menyadari bagian tubuh
    yang tegang

  • Menyadari sensasi saat berjalan:
    langkah kaki, angin di kulit,
    suara sekitar

Latihan kecil ini membangun
kemampuan untuk tetap hadir dalam
tubuh. Ketika kenangan trauma
muncul, kapasitas untuk tetap tenang
sudah lebih terlatih.

Inti Penerapan

Mindfulness dalam konteks trauma
bukan sekadar “relaksasi”.

Ia adalah kemampuan untuk:

  • Menyadari sensasi tubuh

  • Mengenali respons sistem saraf

  • Tetap hadir tanpa tenggelam

  • Mengingat tanpa merasa
    kembali berada di masa lalu

Dengan latihan yang konsisten dan
bertahap, tubuh belajar bahwa ia bisa
merasakan tanpa hancur, mengingat
tanpa kehilangan kendali.

Dan dari situlah pemrosesan trauma
bisa terjadi
—perlahan, stabil, dan aman.

Relasi yang Aman

Hubungan yang aman secara fisik dan
emosional sangat penting. Trauma
sering kali terjadi dalam relasi, dan
penyembuhan juga sering terjadi
dalam relasi.

Terhubung dengan orang lain yang
memberikan rasa aman
memungkinkan proses pemulihan
berlangsung tanpa ancaman.

Berikut beberapa contoh

Dalam Hubungan Terapis
dan Klien

Seorang klien dengan riwayat
kekerasan datang ke sesi terapi.
Terapis:

  • Konsisten hadir tepat waktu
    setiap minggu.

  • Tidak menghakimi cerita klien.

  • Memberi ruang bagi klien untuk
    berhenti ketika merasa kewalahan.

  • Tidak memaksa klien
    menceritakan detail sebelum
    ia siap.

Konsistensi, sikap tenang, dan
penerimaan tanpa tekanan menciptakan
rasa aman. Klien belajar bahwa ada
relasi di mana ia tidak disakiti, tidak
dipermalukan, dan tidak dipaksa.
Dari sinilah pemrosesan trauma bisa
dimulai.

Dalam Lingkungan Sekolah

Seorang murid yang sering marah dan
sulit diatur ternyata memiliki riwayat
kekerasan di rumah. Alih-alih
langsung menghukum, guru:

  • Mengajaknya bicara secara
    pribadi dengan nada tenang.

  • Mengatakan, “Kamu aman di sini.”

  • Memberikan tempat duduk
    yang konsisten di kelas.

  • Menjadi figur yang dapat
    diprediksi dan stabil.

Keamanan fisik (tidak ada ancaman)
dan keamanan emosional (tidak
dipermalukan) membantu sistem
saraf anak perlahan tenang.
Perubahan perilaku muncul bukan
karena hukuman, tetapi karena
rasa aman.

Dalam Persahabatan

Seseorang dengan PTSD sering
tiba-tiba menarik diri. Sahabatnya:

  • Tidak memaksa untuk langsung
    bercerita.

  • Mengirim pesan sederhana
    seperti,
    “Aku di sini kalau kamu butuh.”

  • Menjaga kerahasiaan cerita.

  • Tidak meremehkan pengalaman
    traumatisnya.

Relasi ini memberi pesan penting:
kamu tidak sendirian dan kamu tidak
dalam bahaya. Koneksi yang konsisten
membantu tubuh belajar bahwa
kedekatan tidak selalu berarti ancaman.

Dalam Hubungan Pasangan

Pasangan dari penyintas trauma
memahami bahwa sentuhan bisa
memicu respons takut. Maka ia:

  • Selalu meminta izin sebelum
    menyentuh.

  • Menghormati batasan tanpa
    tersinggung.

  • Menenangkan dengan suara
    lembut saat pasangan mulai
    cemas.

Keamanan emosional tercipta karena
ada rasa dihormati. Keamanan fisik
tercipta karena tubuh tidak dipaksa.
Sedikit demi sedikit, tubuh belajar
bahwa kedekatan bisa terasa aman.

Dalam Komunitas atau
Kelompok Dukungan

Kelompok dukungan trauma
menerapkan aturan:

  • Tidak menginterupsi saat
    seseorang berbicara.

  • Tidak memberi nasihat
    yang menghakimi.

  • Tidak membocorkan
    cerita anggota lain.

  • Menggunakan bahasa yang
    penuh empati.

Ruang bersama ini menjadi tempat
di mana pengalaman yang dulu
membuat seseorang merasa terisolasi
kini bisa dibagikan tanpa ancaman.

Intinya

Relasi yang aman memiliki ciri:

  • Konsisten dan dapat diprediksi

  • Tidak menghakimi

  • Menghormati batasan

  • Memberi rasa aman secara fisik

  • Memberi validasi emosional

Karena trauma sering melibatkan
hilangnya rasa aman dalam hubungan,
maka penyembuhan membutuhkan
pengalaman relasional yang
berlawanan: hubungan yang stabil,
hangat, dan tidak mengancam.

Di dalam relasi seperti inilah tubuh
perlahan belajar bahwa dunia tidak
selalu berbahaya. Dan dari rasa
aman itulah pemulihan bisa tumbuh.

Integrasi Sensorik dan Ritme
Komunal

Aktivitas bersama
—bermain dalam kelompok, bergerak
dalam ritme yang sama, membantu
memulihkan kembali kemampuan
untuk selaras dengan diri sendiri dan
orang lain.

Ritme bersama menciptakan
rasa keterhubungan yang memperbaiki
sistem yang sebelumnya terputus
akibat trauma.

Berikut beberapa contoh

Drum Circle
(Lingkaran Menabuh Drum)

Sekelompok orang duduk melingkar dan
memainkan drum atau alat perkusi
sederhana dengan ketukan yang sama.
Tidak ada tuntutan harus sempurna,
yang penting adalah mengikuti ritme
bersama.

Mengapa ini efektif?
Ketika semua orang bergerak dalam
tempo yang sama, sistem saraf mulai
menyesuaikan diri. Detak, gerakan
tangan, dan suara yang sinkron
membantu tubuh keluar dari mode
siaga (hyperarousal) dan masuk
ke keadaan yang lebih stabil. Tubuh
belajar kembali bahwa kebersamaan
bisa terasa aman.

Senam atau Gerakan Berirama
Bersama

Misalnya senam pagi, zumba, atau
latihan peregangan yang dilakukan
bersama dalam satu tempo.

Mengapa ini membantu?
Gerakan yang dilakukan serentak
menciptakan pengalaman “selaras”.
Penyintas trauma yang sebelumnya
merasa terputus dari tubuhnya mulai
merasakan kembali koordinasi gerak,
napas, dan keberadaan orang lain
di sekitarnya. Ini membantu
memulihkan attunement—kemampuan
menyelaraskan diri dengan orang lain.

Bernyanyi dalam Paduan Suara

Bernyanyi bersama dalam kelompok,
mengikuti nada dan tempo yang sama.

Dampaknya pada sistem saraf:
Bernapas bersama dalam pola yang
teratur membantu mengatur ritme
jantung dan pernapasan. Suara
kolektif menciptakan rasa
keterhubungan emosional. Bagi
seseorang yang pernah merasa
terisolasi akibat trauma, pengalaman
ini bisa sangat memulihkan.

Permainan Kelompok yang
Terstruktur

Contohnya permainan sederhana
seperti tepuk ritme bergantian,
permainan lempar tangkap bola
dalam lingkaran, atau aktivitas teater
improvisasi ringan.

Mengapa ini penting?
Permainan melibatkan respons
sensorik—melihat, mendengar,
menyentuh, bergerak, secara
terintegrasi. Saat dilakukan bersama,
otak belajar membaca isyarat sosial
secara aman. Ini membantu
memperbaiki sistem yang sebelumnya
“mati rasa” atau terlalu waspada.

Kegiatan Ritual atau Tradisi
Komunal

Misalnya kegiatan keagamaan yang
melibatkan gerakan serentak, doa
bersama dengan tempo tertentu, atau
tradisi budaya yang mengandung
unsur ritme.

Efeknya:
Ritme yang berulang dan dilakukan
bersama menciptakan rasa stabilitas
dan makna. Tubuh merasakan
keteraturan. Dalam trauma, dunia
terasa kacau; ritme komunal
mengembalikan rasa struktur dan
kepastian.

Mengapa Ini Penting dalam
Pemulihan Trauma?

Trauma sering membuat seseorang:

  • Merasa terputus dari
    tubuhnya sendiri

  • Sulit membaca sinyal sosial

  • Terisolasi dari orang lain

  • Terjebak dalam mode fight,
    flight, atau freeze

Integrasi sensorik dan ritme komunal
membantu menyatukan kembali
pengalaman tubuh, emosi, dan relasi
sosial. Tubuh belajar bahwa
kebersamaan tidak selalu berbahaya.
Sistem saraf belajar bahwa
sinkronisasi dengan orang lain bisa
terasa aman.

Dengan kata lain, penyembuhan tidak
selalu dimulai dari kata-kata. Kadang
ia dimulai dari satu ketukan yang sama,
satu napas yang selaras, satu gerakan
yang dilakukan bersama.

Sentuhan dan Body Work

Terapi seperti pijat terapeutik atau
terapi kraniosakral membantu
melepaskan ketegangan emosional
yang tersimpan dalam tubuh.

Bagi orang yang mengalami disosiasi,
sentuhan yang aman membantu
“membangunkan” bagian tubuh yang
selama ini terasa mati atau terputus.

Contoh Penerapan Pijat
Terapeutik untuk Melepaskan
Ketegangan Emosional

Seorang perempuan yang memiliki
riwayat kekerasan di masa kecil sering
merasa bahunya sangat kaku dan
napasnya pendek setiap kali berbicara
tentang masa lalunya. Secara medis,
tidak ada cedera fisik serius. Namun
tubuhnya selalu tegang.

Dalam sesi pijat terapeutik dengan
terapis yang terlatih trauma-informed:

  • Terapis terlebih dahulu
    menjelaskan setiap langkah
    yang akan dilakukan.

  • Klien diberi kendali penuh
    untuk mengatakan “berhenti”
    kapan saja.

  • Sentuhan dilakukan perlahan
    dan konsisten, terutama di area
    bahu dan punggung atas yang
    menyimpan ketegangan.

Saat pijatan berlangsung, klien mulai
menyadari bahwa napasnya semakin
dalam. Ia merasakan sensasi hangat
dan perlahan muncul emosi yang
selama ini tertahan, bahkan bisa
berupa tangisan tanpa kata-kata.

Di sini, tujuan utamanya bukan sekadar
relaksasi otot, tetapi membantu tubuh
melepaskan ketegangan emosional
yang selama ini tersimpan secara fisik.

Contoh Penerapan Terapi
Kraniosakral

Seorang pria dengan PTSD sering
mengalami sakit kepala dan rasa
“terlepas” dari tubuhnya.
Ia menggambarkan dirinya seperti
melihat hidup dari luar tubuh.

Dalam terapi kraniosakral:

  • Terapis menggunakan sentuhan
    yang sangat lembut di kepala
    dan tulang belakang.

  • Tidak ada tekanan kuat, hanya
    kontak ringan yang stabil dan
    konsisten.

  • Klien diajak memperhatikan
    sensasi halus di tubuhnya.

Awalnya ia merasa mati rasa. Namun
setelah beberapa sesi, ia mulai bisa
merasakan detak halus dan aliran
sensasi di kepalanya. Ia mengatakan,
“Saya mulai merasa benar-benar ada
di dalam tubuh saya.”

Bagi orang dengan disosiasi,
pengalaman ini penting. Sentuhan
yang aman membantu “membangunkan”
bagian tubuh yang selama ini terasa
mati atau terputus.

Contoh untuk Mengatasi
Disosiasi Ringan

Seorang penyintas trauma sering
merasa tangannya seperti bukan
miliknya saat sedang cemas.
Ia tidak benar-benar merasakan
kehadiran tubuhnya.

Dalam sesi body work:

  • Terapis meminta izin sebelum
    menyentuh tangannya.

  • Tangan klien dipegang dengan
    tekanan yang stabil, tidak
    mengejutkan.

  • Klien diajak berkata dalam hati,
    “Ini tangan saya. Saya di sini.”

Perlahan, sensasi kembali. Ia mulai
merasakan suhu, tekanan, dan
keberadaan tangannya sendiri.

Ini bukan sekadar sentuhan fisik.
Ini adalah proses menghubungkan
kembali otak dan tubuh.

Prinsip Penting dalam Sentuhan
dan Body Work

  1. Keamanan adalah prioritas
    utama.
    Tidak ada sentuhan
    tanpa persetujuan.

  2. Klien memiliki kendali
    penuh.
    Ia boleh menghentikan
    kapan saja.

  3. Tujuannya bukan memaksa
    emosi keluar
    , tetapi
    menciptakan ruang aman agar
    tubuh bisa melepaskan
    ketegangan dengan ritmenya
    sendiri.

  4. Fokus pada kesadaran tubuh,
    bukan pada cerita verbal.

Dalam konteks The Body Keeps The
Score
, tubuh menyimpan jejak
pengalaman traumatis. Karena itu,
penyembuhan tidak cukup hanya
dengan berbicara. Tubuh juga perlu
dilibatkan.

Sentuhan yang aman dan terarah
membantu sistem saraf belajar bahwa
saat ini berbeda dari masa lalu
—bahwa tubuh tidak lagi dalam bahaya.
Dan dari sanalah proses pemulihan
bisa semakin dalam.

Membiarkan Tubuh Bertindak

Penyintas trauma sering kali dipaksa
untuk diam, tunduk, atau tidak
bergerak ketika mengalami kekerasan.
Respons alami tubuh
—melawan, mendorong, atau lari,
tidak sempat dilakukan.

Dalam proses penyembuhan, mereka
perlu diberi ruang yang aman untuk
mengekspresikan impuls fisik itu.
Dalam lingkungan yang sehat, mereka
bisa belajar memukul, mendorong,
atau berlari sebagai bentuk pelepasan
energi yang dulu terhenti.

Berikut beberapa contoh

Latihan Mendorong Dinding
(Wall Push)

Seorang penyintas yang dulu dipaksa
diam saat mengalami kekerasan
sering menyimpan impuls
“mendorong” di tubuhnya.

Dalam sesi terapi:

  • Ia berdiri menghadap dinding.

  • Kedua tangan menekan dinding
    sekuat mungkin.

  • Terapis memintanya menyadari
    napas, kekuatan otot, dan
    sensasi di tubuh.

  • Ia boleh mengucapkan kata
    seperti “berhenti” atau “jangan”.

Latihan ini membantu tubuh
menyelesaikan respons defensif yang
dulu tidak bisa dilakukan. Tubuh
belajar bahwa sekarang ia punya
kekuatan dan pilihan.

Memukul Bantal atau Punching
Pad

Jika respons yang tertahan adalah
dorongan untuk melawan, terapi
bisa melibatkan:

  • Memukul bantal besar atau
    samsak.

  • Menghentakkan kaki ke lantai.

  • Menggerakkan lengan dengan
    kuat sambil berteriak.

Ini bukan tentang melampiaskan
kemarahan secara liar, tetapi tentang
memberi ruang pada energi “fight”
yang dulu terhenti dalam situasi tak
berdaya. Setelah itu, biasanya tubuh
terasa lebih ringan dan napas lebih
dalam.

Latihan Lari atau Gerakan Cepat

Banyak penyintas memiliki respons
“flight” (lari) yang dulu tidak sempat
dilakukan.

Contoh penerapannya:

  • Sprint pendek di ruang aman.

  • Lari di tempat dengan intensitas
    tinggi.

  • Latihan interval di bawah
    pengawasan profesional.

Gerakan cepat membantu sistem saraf
menyelesaikan siklus respons ancaman
yang dulu terhenti di tengah jalan.

Role Play dengan Batas Aman

Dalam pendekatan tertentu seperti
pelatihan bela diri terapeutik:

  • Penyintas berlatih menghadapi
    “penyerang” yang berperan
    sebagai pelatih.

  • Ia belajar mengambil posisi
    bertahan.

  • Ia meneriakkan batas dengan
    suara tegas.

  • Ia mempraktikkan gerakan
    mendorong atau melepaskan diri.

Tujuannya adalah mengubah respons
freeze menjadi respons aktif. Tubuh
belajar bahwa ia bisa bergerak dan
memilih tindakan.

Latihan Suara dan Batas

Sebagian orang membeku bukan hanya
secara fisik, tetapi juga secara verbal.

Latihan bisa berupa:

  • Berdiri tegak dan mengatakan
    “tidak” dengan lantang.

  • Mengulang kalimat batas
    pribadi.

  • Menggabungkan suara dengan
    gerakan tangan mendorong
    ke depan.

Ini membantu menyatukan tubuh
dan bahasa, agar otak tetap “online”
saat tubuh bergerak.

Mengintegrasikan dengan
Regulasi

Yang penting, semua latihan ini
dilakukan:

  • Dalam lingkungan aman

  • Dengan pendamping
    profesional terlatih

  • Secara bertahap

  • Dengan perhatian pada regulasi
    napas dan sistem saraf

Setelah tubuh bergerak, sesi biasanya
diakhiri dengan grounding atau
pernapasan agar sistem saraf
kembali tenang.

Mengapa Ini Penting?

Saat trauma terjadi, tubuh masuk
ke mode bertahan hidup. Jika respons
melawan atau lari tidak bisa dilakukan,
energi itu tidak benar-benar hilang
—ia tersimpan.

“Membiarkan tubuh bertindak”
berarti memberi kesempatan pada
tubuh untuk menyelesaikan respons
tersebut dalam kondisi yang sekarang
aman. Dengan begitu, tubuh tidak
lagi terjebak dalam masa lalu.

Ini bukan tentang menghidupkan
kembali trauma, melainkan tentang
memberi akhir yang berbeda
—akhir di mana tubuh memiliki
kekuatan, pilihan, dan kendali.

Trauma Bisa Diproses dengan
Tetap Terhubung

Pelajaran ketiga adalah bahwa
benar-benar ada banyak hal yang bisa
kita lakukan untuk sembuh dari
trauma.

Salah satu kisah yang menguatkan
adalah tentang seorang perempuan
yang masa kecilnya dipenuhi kekerasan.
Ia mengikuti program model mugging,
sebuah pelatihan yang membantu
perempuan mengubah respons
membeku (freeze) menjadi energi
melawan.

Program ini melatih ulang respons
tubuh terhadap ancaman. Ketakutan
tidak lagi berakhir dalam kelumpuhan,
tetapi dialihkan menjadi tindakan.

Tidak lama setelah menyelesaikan
pelatihan, ia berjalan sendirian ketika
tiga pria melompat dari semak-semak
dan menuntut uangnya. Alih-alih
membeku, ia mengambil posisi karate
dan berteriak menantang mereka.
Ketiga penyerang itu justru melarikan
diri.

Kisah ini menunjukkan bahwa
seseorang bisa diberdayakan melalui
proses penyembuhan. Trauma tidak
harus selamanya menentukan
respons tubuh.

Kita bisa memproses trauma
sedemikian rupa sehingga:

  • Otak tetap “online”

  • Bahasa dan cerita tetap
    terhubung

  • Tubuh tetap tenang

Semua itu bisa terjadi bersamaan.

Satu Langkah Kecil Sudah Cukup

Membahas dampak trauma terhadap
otak dan tubuh bisa terasa sangat berat.
Mengetahui bahwa penyembuhan
membutuhkan usaha juga bisa terasa
melelahkan.

Namun pesan pentingnya sederhana:
tarik napas. Kamu tidak harus
melakukan semuanya sekaligus.

Jika ada satu hal yang menonjol
—misalnya mindfulness, yoga, atau
terapi tubuh, mulailah dari sana.
Pelajari sedikit. Cari informasi.
Tonton video. Hubungi seseorang
yang bisa membantu.

Langkah kecil tetaplah langkah.

Sedikit demi sedikit, energi akan
bertambah. Rasa aman dalam tubuh
akan meningkat. Dari sana, langkah
berikutnya akan terasa lebih mungkin.

Trauma bisa ditangani secara efektif.
Harapan itu nyata.

Menuju Masyarakat yang Sadar
Trauma

Ketika buku ini diterbitkan pada tahun
2014, van der Kolk mengatakan bahwa
kita sedang berada di ambang menjadi
masyarakat yang sadar trauma.

Buku ini berkontribusi besar dalam
membuka percakapan tentang sesuatu
yang sebelumnya tabu dan sering
diabaikan. Kini semakin banyak orang
memahami bahwa trauma
memengaruhi seluruh pribadi
—otak, tubuh, relasi, dan cara seseorang
memandang dunia.

Meski begitu, buku ini tidak cocok untuk
semua orang karena banyak kisah yang
bisa memicu kembali ingatan
menyakitkan. Namun buku ini sangat
direkomendasikan bagi guru, pengasuh,
atau siapa pun yang memiliki teman
atau keluarga dengan PTSD.

Dari buku ini, kita belajar bahwa
dampak trauma sangat dalam, tetapi
pilihan penyembuhannya juga sangat
beragam.

Harapan Itu Nyata

Jika seseorang yang kamu kenal adalah
penyintas trauma, mungkin ia bisa
terbantu dengan terapi yang tepat.
Ada banyak metode yang tersedia, dan
mungkin salah satunya akan terasa cocok.

Jika ingin belajar mengatur sistem saraf,
ada keterampilan grounding yang
membantu menghadapi respons fight,
flight, atau freeze dan kembali
ke keadaan tenang.

Yang terpenting adalah ini:
penyembuhan itu mungkin.

Jika kamu hidup dengan dampak
trauma, selalu ada langkah berikutnya
yang bisa diambil. Tidak harus besar.
Tidak harus sempurna. Cukup satu
langkah kecil.

Karena sedikit demi sedikit, tubuh
bisa belajar bahwa ia aman kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *