Perbedaan Saluran Penjualan: Grosir, Eceran, Konsinyasi
Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 4 dan
Bab 5 dari buku How to Price
Crafts and Things You Make
to Sell. Setelah kamu menguasai
perhitungan biaya dan formula dasar,
James Dillehay membawa kita ke dua
topik yang sangat penting: memahami
perbedaan saluran penjualan dan
menetapkan harga berdasarkan nilai,
bukan hanya berdasarkan biaya.
Bab 4: Perbedaan Saluran
Penjualan: Grosir, Eceran,
Konsinyasi
Dillehay menekankan bahwa harga
produkmu tidak bisa disamaratakan
untuk semua tempat. Di mana kamu
menjual produkmu akan sangat
menentukan berapa harga yang bisa
kamu tetapkan dan berapa
keuntungan yang akan kamu
dapatkan. Ia membagi saluran
penjualan menjadi tiga jenis utama,
masing-masing dengan konsekuensi
yang berbeda.
Grosir
Grosir adalah ketika kamu menjual
produkmu dalam jumlah besar
kepada toko atau pengecer, dan
mereka yang akan menjualnya
kembali kepada konsumen akhir.
Dillehay menjelaskan bahwa dalam
model ini, toko biasanya membeli
produkmu dengan harga
sekitar lima puluh persen dari harga
eceran yang akan mereka pasang.
Jadi, jika toko akan menjual
dompetmu seharga Rp200.000,
mereka hanya akan membayarmu
sekitar Rp100.000.
Ini berarti marginmu lebih kecil,
tetapi keuntungannya adalah volume.
Kamu bisa menjual banyak produk
sekaligus tanpa harus melayani
pelanggan satu per satu. Dillehay
memperingatkan dengan keras:
pastikan kamu tetap untung di harga
grosir ini. Jangan sampai kamu
terlalu bersemangat karena ada toko
yang mau membeli, lalu menetapkan
harga grosir yang ternyata di bawah
biaya produksimu. Kamu harus
menghitung ulang semua biaya dan
memastikan bahwa harga grosirmu
masih menyisakan laba yang cukup.
Eceran Langsung
Eceran langsung adalah ketika kamu
menjual produkmu sendiri kepada
konsumen akhir. Ini bisa terjadi
di pameran kerajinan, di studio
pribadimu, atau melalui toko online
milikmu sendiri. Keuntungan dari
model ini adalah margin yang jauh
lebih besar karena tidak ada perantara
yang mengambil bagian. Kamu bisa
menetapkan harga eceran penuh dan
menyimpan seluruh keuntungannya.
Namun, Dillehay mengingatkan
bahwa menjual eceran langsung juga
berarti kamu menanggung semua
biaya dan pekerjaan sendiri. Kamu
harus memasarkan produkmu,
melayani pertanyaan pelanggan,
menangani pembayaran, mengemas,
dan mengirim barang. Semua ini
membutuhkan waktu dan tenaga.
Margin yang lebih besar adalah
kompensasi yang adil untuk
pekerjaan ekstra ini.
Konsinyasi
Konsinyasi adalah model di mana
kamu menitipkan barangmu di toko
tanpa dibeli terlebih dahulu oleh
pemilik toko. Toko akan memajang
produkmu, dan jika terjual, mereka
akan mengambil komisi, biasanya
antara tiga puluh hingga lima puluh
persen dari harga jual. Jika tidak
terjual, barang itu dikembalikan
kepadamu.
Dillehay menyebut model ini sebagai
pedang bermata dua. Di satu sisi,
konsinyasi membuka pintu
ke toko-toko yang mungkin tidak
berani membeli stok secara grosir.
Di sisi lain, risikonya ada padamu.
Kamu sudah mengeluarkan biaya
untuk membuat produk, tetapi
uangnya belum tentu kembali.
Selain itu, komisi yang diambil
toko bisa sangat besar.
Dillehay menekankan bahwa jika kamu
memilih konsinyasi, kamu harus
memperhitungkan komisi ini sejak
awal saat menetapkan harga eceran.
Jangan sampai setelah komisi
dipotong, kamu mendapati bahwa
kamu sebenarnya rugi. Harga jual
akhir di toko konsinyasi harus cukup
tinggi untuk menutupi biaya
produksimu, memberikan laba
kepadamu, dan masih menyisakan
komisi untuk pemilik toko.
Contoh Perhitungan untuk
Ketiga Saluran
Mari kita gunakan kembali contoh
Sari si pembuat dompet kulit. Dari
perhitungan sebelumnya, total biaya
produksi satu dompet adalah
Rp325.750. Sari ingin mendapatkan
laba bersih sekitar Rp150.000
per dompet. Berikut strategi harga
Sari untuk setiap saluran penjualan.
Untuk penjualan eceran langsung
di pameran atau website pribadinya,
Sari menetapkan harga langsung
berdasarkan total biaya produksi
ditambah laba yang diinginkan.
Rp325.750 ditambah Rp150.000
sama dengan Rp475.750, yang bisa
dibulatkan menjadi Rp479.000.
Ini adalah harga eceran langsungnya.
Untuk penjualan grosir ke toko, Sari
tahu bahwa toko akan menjual
dompetnya dengan harga sekitar
dua kali lipat dari harga grosir. Jika
Sari ingin toko menjual dengan harga
yang sama seperti harga eceran
langsungnya, yaitu sekitar
Rp479.000, maka ia harus
menetapkan harga grosir sekitar
setengahnya. Rp479.000 dibagi dua
sama dengan Rp239.500, yang bisa
dibulatkan menjadi Rp240.000.
Pada harga ini, Sari harus memeriksa
apakah ia masih untung.
Biaya produksinya Rp325.750, tetapi
harga grosirnya hanya Rp240.000.
Itu artinya ia rugi hampir
Rp86.000 per dompet. Ini adalah
jebakan klasik yang diperingatkan
Dillehay.
Melihat kenyataan ini, Sari punya dua
pilihan. Pertama, ia menaikkan harga
eceran yang diharapkan di toko.
Jika toko bisa menjual dompetnya
seharga Rp800.000, maka harga
grosirnya bisa Rp400.000. Pada harga
ini, Sari mendapatkan laba sekitar
Rp74.250 per dompet. Pilihan kedua,
Sari memutuskan bahwa ia hanya akan
menjual secara grosir dalam jumlah
sangat besar, misalnya minimal
dua puluh lima dompet, sehingga biaya
overhead per dompetnya turun karena
produksi massal lebih efisien.
Untuk penjualan konsinyasi di sebuah
butik, Sari menitipkan dompetnya dan
toko mengambil komisi empat puluh
persen. Sari tetap ingin mendapatkan
laba bersih Rp150.000 per dompet.
Maka perhitungannya adalah total
biaya produksi Rp325.750 ditambah
laba yang diinginkan Rp150.000,
hasilnya Rp475.750. Karena toko
mengambil empat puluh persen,
maka Rp475.750 ini mewakili enam
puluh persen dari harga jual akhir.
Harga jual akhir dihitung dengan
membagi Rp475.750 dengan enam
puluh persen, hasilnya sekitar
Rp792.917, yang dibulatkan menjadi
Rp795.000. Pada harga ini, ketika
dompet terjual, toko mengambil
komisi empat puluh persen yaitu
Rp318.000, dan Sari menerima
sisanya yaitu Rp477.000, yang
menutupi biaya produksinya dan
memberikan laba yang diinginkan.
Sahabat, dari contoh ini kamu bisa
melihat bahwa memilih saluran
penjualan bukanlah keputusan
sepele. Ia sangat mempengaruhi
struktur harga dan kelangsungan
bisnismu. Dillehay menyarankan
untuk tidak bergantung pada satu
saluran saja, tetapi
mengkombinasikannya dengan
bijak.
Bab 5: Penetapan Harga Berbasis
Nilai (Value-Based Pricing)
Di bab ini, Dillehay membawa kita
melampaui perhitungan matematika.
Ia mengatakan bahwa harga tidak
hanya soal biaya produksi.
Ada kekuatan lain yang jauh lebih
besar: nilai yang dirasakan
pelanggan.
Dillehay menyebut pendekatan ini
sebagai value-based pricing.
Prinsipnya sederhana: orang tidak
membeli produk hanya karena
bahan dan waktu yang dihabiskan
untuk membuatnya. Mereka membeli
karena produk itu memberikan
sesuatu kepada mereka. Bisa berupa
keindahan, kebanggaan, ketenangan,
rasa unik, atau koneksi emosional.
Jika kamu bisa menawarkan nilai
tambah yang nyata, kamu berhak
menetapkan harga yang lebih tinggi.
Dillehay merinci beberapa unsur yang
meningkatkan nilai di mata pelanggan.
Unsur pertama adalah keunikan.
Apakah produkmu satu-satunya
di dunia? Apakah ada sesuatu yang
tidak bisa ditemukan di tempat lain?
Unsur kedua adalah cerita di balik
produk. Setiap kerajinan tangan
memiliki cerita.
Siapa yang membuatnya?
Mengapa ia membuatnya?
Dari mana bahan-bahannya berasal?
Cerita ini menambah dimensi
emosional yang tidak dimiliki produk
pabrik. Unsur ketiga adalah kualitas
unggul. Bahan terbaik, pengerjaan
paling teliti, dan perhatian terhadap
detail yang tidak dimiliki produk
massal. Unsur keempat adalah
kelangkaan. Apakah produkmu
dibuat dalam jumlah terbatas?
Unsur kelima adalah manfaat
emosional dan fungsional.
Apakah produkmu menyelesaikan
masalah pelanggan?
Apakah ia membuat mereka merasa
lebih baik, lebih cantik, atau lebih
bahagia?
Dillehay menekankan bahwa jika
produkmu memiliki nilai tambah ini,
jangan ragu untuk menetapkan
harga yang mencerminkan nilai
tersebut. Tetapi ada satu syarat
mutlak: kamu harus
mengomunikasikan nilai itu. Jangan
berasumsi bahwa pelanggan akan
melihatnya sendiri. Ceritakan
kisahmu. Tunjukkan proses
pembuatannya. Jelaskan mengapa
bahanmu istimewa. Pelanggan yang
paham nilainya akan jauh lebih
bersedia membayar harga premium.
Contoh dalam praktik:
Dua pengrajin sama-sama membuat
syal rajutan tangan. Pengrajin
pertama, sebut saja Mina, menjual
syalnya seharga Rp150.000.
Ia mengambil foto ala kadarnya,
menulis deskripsi “Syal rajut tangan,
bahan akrilik, tersedia warna biru,”
dan memasangnya di marketplace.
Syalnya bagus, tetapi presentasinya
biasa saja.
Pengrajin kedua, sebut saja Dewi,
menjual syalnya seharga Rp450.000.
Ia menggunakan benang wol merino
impor yang ia datangkan langsung
dari Selandia Baru, sebuah bahan
yang lembut, hangat, dan tidak gatal.
Ia memotret syalnya di tengah taman
dengan pencahayaan lembut,
menampilkan detail rajutan yang
rapi. Dalam deskripsinya, ia menulis:
“Setiap syal dirajut selama tiga hari
menggunakan wol merino premium.
Nenek saya mengajari saya merajut
ketika saya berusia tujuh tahun, dan
setiap tusukan adalah warisan dari
tiga generasi perempuan di keluarga
saya. Syal ini bukan sekadar
penghangat; ia adalah pelukan
yang menenangkan di hari yang
dingin.”
Mengapa Dewi bisa menjual dengan
harga tiga kali lipat? Karena ia tidak
menjual syal. Ia menjual warisan
keluarga. Ia menjual kualitas wol
terbaik. Ia menjual cerita tentang
tiga generasi perempuan. Ia menjual
perasaan dipeluk. Dewi menerapkan
value-based pricing, dan pelanggan
yang membaca deskripsinya mengerti
mengapa harga itu sepadan.
Sahabat, dua bab ini mengajarkan
bahwa harga bukan hanya hasil
kalkulasi. Ia adalah hasil dari strategi
saluran penjualan yang kamu pilih
dan nilai yang berhasil kamu
komunikasikan. Pahami di mana
kamu menjual, dan pahami apa yang
sebenarnya kamu jual. Dengan begitu,
kamu tidak akan lagi takut
menetapkan harga yang pantas untuk
karyamu.
Sahabat, setelah memahami teori
di Bab 4 dan Bab 5, sekarang saatnya
kita masuk ke contoh perhitungan
yang lebih rinci. Saya akan
menggunakan dua pengrajin yang
berbeda: Sari si pembuat dompet
kulit dan Dewi si pembuat syal rajut.
Kita akan melihat bagaimana harga
mereka berubah di setiap saluran
penjualan dan bagaimana nilai
mempengaruhi harga akhir.
Contoh 1: Sari dan Dompet
Kulitnya di Tiga Saluran
Penjualan
Data Dasar Produk Sari
(dari perhitungan sebelumnya):
Biaya bahan langsung
per dompet: Rp110.000Biaya tenaga kerja
per dompet: Rp100.000Biaya overhead
per dompet: Rp115.750Total biaya produksi
per dompet: Rp325.750Sari ingin laba bersih
per dompet: Rp150.000
Skenario A: Eceran Langsung
di Pameran atau Website
Pribadi
Sari menjual langsung ke konsumen
tanpa perantara. Ia tinggal
menambahkan laba yang diinginkan
ke total biaya produksi.
Total biaya produksi: Rp325.750.
Laba yang diinginkan: Rp150.000.
Harga eceran langsung:
Rp325.750 + Rp150.000
= Rp475.750, dibulatkan
menjadi Rp479.000.
Verifikasi keuntungan: Sari menjual
satu dompet seharga Rp479.000.
Setelah dikurangi total biaya
produksi Rp325.750, tersisa
Rp153.250. Ini sedikit di atas
laba yang ia targetkan.
Skenario B: Grosir ke Toko
Sari mendekati sebuah butik. Pemilik
butik mengatakan bahwa mereka
menggunakan keystone pricing, yaitu
menjual barang dengan harga
dua kali lipat dari harga grosir. Sari
harus menentukan harga grosir yang
membuatnya tetap untung, sekaligus
menghasilkan harga eceran akhir
yang masuk akal di mata pelanggan.
Jika Sari ingin harga eceran di toko
sekitar Rp650.000, maka harga
grosir yang harus ia tetapkan adalah
setengahnya, yaitu Rp325.000.
Mari kita periksa apakah Sari untung
di harga ini. Harga grosir Rp325.000
dikurangi total biaya produksi
Rp325.750, hasilnya minus
Rp750. Sari justru rugi.
Sari perlu menaikkan target harga
eceran di toko. Ia mencoba target
harga eceran Rp800.000.
Harga grosir yang harus ia tetapkan
adalah setengahnya, yaitu
Rp400.000. Verifikasi:
Harga grosir Rp400.000 dikurangi
total biaya produksi Rp325.750,
hasilnya laba bersih
Rp74.250 per dompet. Sari tidak
mencapai target laba Rp150.000,
tetapi masih untung. Mungkin ia
bisa menegosiasikan harga grosir
yang lebih tinggi, atau menaikkan
target harga eceran di toko menjadi
Rp900.000, sehingga harga grosirnya
Rp450.000, memberikan laba bersih
Rp124.250.
Skenario C: Konsinyasi di Butik
Sebuah butik setuju untuk memajang
dompet Sari dengan sistem
konsinyasi. Butik mengambil komisi
empat puluh persen dari harga jual
akhir. Sari tetap ingin mendapatkan
laba bersih Rp150.000 per dompet.
Harga yang harus ditetapkan di butik
dihitung sebagai berikut. Total biaya
produksi ditambah laba yang
diinginkan: Rp325.750 + Rp150.000
= Rp475.750. Ini adalah uang yang
harus diterima Sari setelah komisi
dipotong. Karena butik mengambil
empat puluh persen, maka Rp475.750
adalah enam puluh persen dari harga
jual. Harga jual di butik:
Rp475.750 ÷ 0,6 = Rp792.917,
dibulatkan menjadi Rp795.000.
Verifikasi: Dompet terjual seharga
Rp795.000. Butik mengambil komisi
empat puluh persen, yaitu
Rp318.000. Sisa untuk Sari:
Rp795.000 – Rp318.000 = Rp477.000.
Setelah dikurangi total biaya produksi
Rp325.750, laba bersih Sari adalah
Rp151.250. Target tercapai.
Contoh 2: Dewi dan Syal
Rajutannya dengan
Value-Based Pricing
Data Dasar Produk Dewi
(Syal Rajut Wol Merino):
Biaya bahan langsung per syal:
Rp180.000 (wol merino impor
dari Selandia Baru)Biaya tenaga kerja per syal:
3 hari × 4 jam × Rp40.000
= Rp480.000Biaya overhead per syal:
Rp60.000 (kemasan premium,
biaya pemotretan profesional)Total biaya produksi per syal:
Rp720.000Dewi ingin laba bersih per syal:
Rp280.000
Skenario A: Hanya Menggunakan
Perhitungan Biaya (Markup)
Jika Dewi hanya menggunakan formula
markup standar, misalnya markup
1,5 kali dari total biaya produksi, maka
harga jualnya adalah Rp720.000 × 1,5
= Rp1.080.000, dibulatkan menjadi
Rp1.080.000. Laba bersihnya:
Rp1.080.000 – Rp720.000
= Rp360.000. Target laba tercapai,
tetapi Dewi merasa syalnya bisa
dihargai lebih tinggi karena nilai
yang terkandung di dalamnya.
Skenario B: Menerapkan
Value-Based Pricing
Dewi menganalisis nilai tambah
yang dimiliki syalnya.
Unsur pertama, keunikan: Setiap syal
dirajut dengan pola eksklusif yang
dirancang sendiri oleh Dewi. Tidak
ada syal lain yang persis sama.
Unsur kedua, cerita di balik produk:
Dewi belajar merajut dari neneknya,
dan setiap syal diberi nama sesuai
nama perempuan di keluarganya.
Unsur ketiga, kualitas unggul:
Wol merino yang digunakan adalah
grade tertinggi, didatangkan
langsung dari peternakan di Selandia
Baru.
Unsur keempat, kelangkaan:
Dewi hanya membuat sepuluh syal
per bulan.
Unsur kelima, manfaat emosional:
Syal ini memberikan rasa hangat,
nyaman, dan merasa istimewa
karena dibuat khusus dengan
sentuhan personal.
Dewi memutuskan bahwa syalnya
layak dijual dengan harga premium.
Ia menetapkan harga berdasarkan
nilai yang dirasakan pelanggan,
bukan hanya biaya. Ia memasang
harga Rp1.800.000 per syal.
Verifikasi: Harga jual Rp1.800.000
dikurangi total biaya produksi
Rp720.000, laba bersih Dewi
adalah Rp1.080.000.
Bagaimana Dewi
Mengomunikasikan Nilai Ini?
Dewi tidak hanya memajang syal
dengan label harga. Ia menulis
deskripsi produk yang menggugah:
“Setiap syal dalam koleksi ‘Warisan’
dirajut tangan selama tiga hari
menggunakan wol merino premium
yang saya datangkan langsung dari
peternakan keluarga di Selandia Baru.
Pola rajutan ini diajarkan oleh nenek
saya ketika saya berusia tujuh tahun,
dan kini saya memberinya nama ‘Siti’,
sesuai nama nenek saya sendiri. Syal
ini bukan sekadar aksesori. Ia adalah
pelukan hangat dari tiga generasi
perempuan. Hanya tersedia sepuluh
buah bulan ini.”
Dewi juga menyertakan foto close-up
tekstur rajutan, video singkat proses
merajut, dan foto neneknya sebagai
sentuhan personal. Hasilnya,
pelanggan yang membaca deskripsi
ini tidak lagi membandingkan syal
Dewi dengan syal pabrik seharga
Rp150.000. Mereka memahami
bahwa mereka membeli sesuatu
yang jauh lebih berharga. Dalam
waktu dua minggu, sepuluh syal
Dewi terjual habis.
Sahabat, dari dua contoh ini kamu
bisa melihat bagaimana teori
Dillehay bekerja dalam praktik.
Saluran penjualan yang berbeda
memerlukan strategi harga yang
berbeda. Dan ketika kamu berani
menerapkan value-based pricing,
mengomunikasikan cerita dan
kualitas di balik produkmu,
pelanggan akan bersedia membayar
lebih.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, gaes. Kita lanjut lagi ngebahas
strategi harga buat lo yang punya
bisnis kreatif. Setelah lo jago ngitung
biaya dan punya formula dasar,
James Dillehay bakal ngajak lo mikir
lebih dalem lagi. Di Bab 4 dan 5 ini,
lo harus paham bedanya jualan
langsung, titip di toko, atau grosir,
dan yang paling penting, gimana
caranya lo nggak cuma jual barang,
tapi jual NILAI. Yuk, langsung aja.
Bab 4: Bedanya Jualan Grosir,
Eceran, atau Titipan (Konsinyasi)
Dillehay nekenin, harga produk lo itu
nggak bisa lo pukul rata buat semua
tempat. Di mana lo jualan, itu ngaruh
banget sama harga yang bisa lo
pasang dan untung yang lo dapet.
Dia mecah saluran penjualan jadi
tiga jenis utama, masing-masing
punya untung-ruginya sendiri.
1. Grosir (Jual ke Toko)
Ini model di mana lo jual barang lo
dalam jumlah gede ke toko, dan
mereka yang jual lagi ke konsumen
akhir. Dillehay ngejelasin, di model
ini, toko biasanya cuma mau beli
barang lo dengan harga sekitar
setengah dari harga eceran
yang bakal mereka pasang. Jadi,
kalau toko mau jual dompet lo
seharga 200rb, mereka paling
cuma mau bayar lo sekitar 100rb.
Artinya, margin lo lebih kecil, tapi
enaknya lo bisa jual banyak
sekaligus tanpa harus ribet
ngelayani pelanggan satu-satu.
Tapi, Dillehay wanti-wanti keras:
lo harus pastiin lo tetep
untung di harga grosir ini!
Jangan sampe lo terlalu girang ada
toko yang mau beli, eh taunya harga
grosir yang lo kasih malah di bawah
biaya produksi. Lo harus itung ulang
semua dan pastiin masih ada laba
yang lumayan.
2. Eceran Langsung (Jual Sendiri)
Ini pas lo jualan sendiri langsung
ke pembeli akhir, entah di pameran,
di studio, atau di toko online lo
sendiri. Keuntungannya, margin lo
jauh lebih gede karena nggak ada
perantara yang ngambil bagian.
Lo bisa pasang harga eceran penuh
dan nyimpen semua untungnya.
Tapi Dillehay ngingetin, jual eceran
langsung artinya lo juga nanggung
SEMUA biaya dan kerjaan sendiri.
Lo harus pasarin produk, ngurusin
pertanyaan pembeli, handle
pembayaran, ngepak, sampe ngirim.
Semua ini butuh waktu dan tenaga.
Margin yang lebih gede itu adalah
kompensasi yang adil buat kerja
ekstra lo.
3. Konsinyasi (Nitip Barang)
Ini model di mana lo nitip barang
di toko tanpa dibeli dulu sama
pemiliknya. Toko bakal majang
produk lo, dan kalau laku, mereka
baru ambil komisi (biasanya 30-50%).
Kalau nggak laku, ya dikembaliin
ke lo.
Dillehay nyebut model ini kayak
pedang bermata dua.
Di satu sisi, ini buka pintu
ke toko-toko yang mungkin nggak
berani beli stok lo secara grosir.
Di sisi lain, risikonya ada di pundak
lo. Lo udah keluar modal bikin
barang, tapi duitnya belum tentu
balik. Plus, komisi toko bisa gede
banget. Dillehay nekenin, kalau
lo milih jalur ini, lo harus ngitung
komisi ini sejak awal pas
nentuin harga eceran.
Jangan sampe pas komisi dipotong,
lo baru sadar kalau lo boncos.
Contoh Perhitungan Nyata:
Si Sari Lagi
Kita pake lagi contoh Sari si pembuat
dompet kulit. Total biaya produksinya
Rp 325.750. Sari pengen laba bersih
sekitar Rp 150.000 per dompet.
Ini strateginya:
Eceran Langsung:
Sari pasang harga langsung.
Rp 325.750 + Rp 150.000
= Rp 475.750, dibuletin jadi
Rp 479.000.Grosir: Sari tahu toko mau jual
dengan harga 2x lipat. Kalau dia
mau toko jual di harga yang
sama (~Rp 479.000), dia harus
pasang harga grosir setengahnya:
Rp 479.000 / 2 = Rp 239.500,
buletin Rp 240.000. Tapi, gila!
Biaya produksinya aja
Rp 325.750, ini malah rugi!
Ini jebakan klasik.
Melihat ini, Sari punya dua
pilihan: dia naikin harga eceran
yang diharapin di toko
(misal toko jual 800rb, jadi
harga grosirnya 400rb, Sari
dapet laba Rp 74.250), atau dia
cuma mau jual grosir dalam
jumlah super gede biar biaya
per produk turun.Konsinyasi:
Sari nitip dompet, toko ambil
komisi 40%. Sari tetep pengen
laba Rp 150.000.
Total biaya + laba = Rp 475.750.
Karena toko ambil 40%, maka
Rp 475.750 ini mewakili 60%
dari harga jual akhir. Jadi, harga
jual akhir = Rp 475.750 / 60%
= Rp 792.917, buletin
Rp 795.000. Pas laku, toko
ambil 40% (Rp 318.000), Sari
terima Rp 477.000. Itu nutup
biaya dan ngasih laba.
Jadi, milih saluran jualan itu nggak
bisa asal, gaes. Itu ngaruh banget
ke struktur harga dan kelangsungan
bisnis lo.
Bab 5: Jual Nilai, Bukan Cuma
Barang! (Value-Based Pricing)
Di bab ini, Dillehay ngajak lo terbang
lebih tinggi dari sekadar itung-itungan.
Dia bilang, harga itu nggak cuma
soal biaya produksi. Ada kekuatan
yang jauh lebih gede: nilai yang
dirasain pelanggan
(value-based pricing).
Prinsipnya simpel: orang nggak beli
produk lo cuma karena bahan dan
waktu pembuatannya. Mereka beli
karena produk lo ngasih sesuatu
ke mereka. Bisa berupa keindahan,
kebanggaan, rasa tenang, rasa unik,
atau koneksi emosional. Kalau lo bisa
nawarin nilai tambah yang nyata, lo
berhak pasang harga lebih tinggi.
Dillehay merinci unsur-unsur yang
naikin nilai di mata pelanggan:
Keunikan: Produk lo one and
only, nggak ada duanya?Cerita: Setiap handmade punya
cerita. Siapa yang bikin? Kenapa?
Bahannya dari mana? Cerita ini
nambah dimensi emosional yang
nggak dipunya produk pabrikan.Kualitas Premium: Bahan
terbaik, pengerjaan paling teliti,
detail yang nggak ada di produk
massal.Kelangkaan: Produk lo limited
edition, dibuat terbatas?Manfaat: Produk lo
menyelesaikan masalah?
Bikin mereka ngerasa lebih
cantik, lebih nyaman, lebih
bahagia?
Dillehay nekenin, kalau produk lo
punya ini, jangan ragu pasang harga
tinggi. Tapi, syaratnya satu:
lo WAJIB ngomunikasikan
nilai itu. Jangan cuma berharap
pelanggan ngerti sendiri. Ceritain
kisah lo, tunjukin prosesnya, jelasin
kenapa bahan lo istimewa.
Pelanggan yang paham nilainya
bakal jauh lebih rela bayar mahal.
Contoh Praktis: Dua Penjual
Syal yang Nasibnya Beda
Bayangin dua pengrajin sama-sama
bikin syal rajut tangan. Si Mina jual
syalnya Rp 150rb. Foto alakadarnya,
deskripsi cuma, “Syal rajut tangan,
bahan akrilik, warna biru.” Syalnya
bagus, tapi presentasinya biasa aja.
Si Dewi jual syalnya Rp 450rb!
Dia pake benang wol merino impor
dari Selandia Baru yang lembut,
hangat, nggak gatal. Fotonya estetik
di tengah taman, detail rajutannya
jelas. Di deskripsinya, dia nulis:
“Setiap syal dirajut selama tiga hari.
Nenek saya mengajari saya merajut
sejak umur tujuh tahun. Setiap
tusukan adalah warisan tiga generasi
perempuan di keluarga saya. Syal ini
bukan sekadar penghangat, ia adalah
pelukan yang menenangkan di hari
yang dingin.”
Kenapa Dewi bisa jual 3x lipat?
Karena dia bukan jual syal, gaes.
Dia jual warisan keluarga, kualitas
wol terbaik, cerita tiga generasi,
dan perasaan dipeluk. Dewi paham
value-based pricing, dan
pelanggannya ngerti kenapa harga
itu sepadan.
Jadi, dua bab ini ngajarin lo bahwa
harga bukan cuma hasil kalkulasi,
tapi hasil dari strategi saluran
penjualan yang lo pilih dan nilai yang
berhasil lo komunikasikan. Paham
di mana lo jual, dan paham apa yang
sebenernya lo jual. Dengan gitu, lo
nggak bakal takut lagi pasang harga
yang pantas buat karya lo. 🔥
