buku

Oktavia: Duka, Kedekatan, dan Kepercayaan

Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 2 dari
buku 
Soul of an Octopus. Kematian
Athena meninggalkan ruang kosong
di akuarium, dan di hati Sy
Montgomery. Namun, alam bawah
sadarnya telah diubah selamanya.
Ia kini tahu bahwa di balik mata
gurita, ada sesuatu yang melihat
kembali. Maka, ketika seekor gurita
baru didatangkan ke New England
Aquarium, Montgomery tidak ragu
untuk kembali. Nama gurita itu
adalah Oktavia.

Bab 2: Oktavia: Duka,
Kedekatan, dan Kepercayaan

Sy Montgomery pertama kali bertemu
Oktavia tidak lama setelah kematian
Athena. Ia masih menyimpan duka
atas kehilangan itu, tetapi juga rasa
ingin tahu yang membara.
Jika Athena adalah guru yang
membuka pintu, maka Oktavia akan
menjadi sahabat yang mengajaknya
masuk dan duduk di dalam ruangan itu.
Montgomery memutuskan untuk
mengunjungi Oktavia secara rutin,
dua kali seminggu, selama
berbulan-bulan. Kunjungan ini
bukanlah untuk penelitian ilmiah
yang ketat, melainkan untuk sesuatu
yang lebih dalam: membangun
hubungan.

Pertemuan pertama mereka tidak
langsung akrab. Oktavia, seperti
semua gurita, adalah individu dengan
kepribadiannya sendiri. Ia tidak
serta-merta mengulurkan lengannya
seperti yang dilakukan Athena.
Ia lebih pendiam, lebih berhati-hati.
Montgomery harus membuktikan
dirinya. Ia harus menunjukkan
bahwa ia bukanlah ancaman,
melainkan teman. Setiap kali ia datang,
ia akan berdiri di depan akuarium,
memasukkan tangannya ke dalam air
yang dingin, dan menunggu.
Menunggu adalah bagian penting dari
proses ini. Kamu tidak bisa memaksa
kepercayaan. Kepercayaan harus
diberikan dengan sukarela, dan itu
membutuhkan waktu.

Perlahan-lahan, Oktavia mulai
mendekat. Lengan-lengannya yang
berwarna kemerahan mulai terjulur
ke arah Montgomery. Ketika lengan
itu akhirnya menyentuh kulitnya,
Montgomery merasakan sensasi
yang tidak akan pernah ia lupakan:
isapan lembut dari ratusan alat
pengisap. Bagi seekor gurita, alat
pengisap bukan sekadar alat untuk
bergerak atau menangkap mangsa.
Setiap alat pengisap adalah organ
yang luar biasa kompleks, berfungsi
ganda sebagai perasa, penciuman,
dan peraba. Ketika Oktavia
menyentuh lengan Montgomery,
ia tidak hanya meraba. Ia mengecap
rasa kulitnya. Ia mencium aroma
dirinya. Ia mengumpulkan informasi
yang sangat kaya tentang siapa
manusia ini, jauh melampaui apa
yang bisa kita pahami.

Montgomery menggambarkan
sensasi ini dengan sangat rinci.
Isapan itu tidak menyakitkan, tetapi
terasa sangat asing. Kadang-kadang,
isapannya lebih kuat, meninggalkan
bekas merah kecil di kulit yang
disebut “octopus hickey”
(bekas gigitan gurita). Kadang-kadang,
isapannya sangat lembut, seperti
bisikan. Melalui sentuhan inilah
Oktavia mulai mengenali Montgomery.
Dan melalui sentuhan inilah
Montgomery mulai memahami Oktavia.

Oktavia juga menunjukkan
kemampuan yang memukau dalam
hal kamuflase. Gurita memiliki
sel-sel pigmen khusus di kulitnya yang
disebut kromatofora, yang bisa
mengembang dan mengerut dalam
sekejap untuk mengubah warna.
Di bawahnya, ada sel-sel pemantul
yang disebut iridofor dan leukofor,
yang menciptakan efek kilau dan
metalik. Dan yang paling
mencengangkan, gurita memiliki
otot-otot kecil di kulitnya yang disebut
papila, yang bisa mengubah tekstur
kulit dari halus menjadi kasar,
bergelombang, atau berduri, dalam
hitungan detik. Oktavia bisa menyamar
menjadi batu karang, rumput laut,
atau pasir, tidak hanya dalam warna
tetapi juga dalam tekstur. Ini bukan
sekadar kamuflase. Ini adalah bentuk
komunikasi. Para peneliti percaya
bahwa perubahan warna dan tekstur
ini juga mencerminkan suasana hati
gurita. Putih mungkin berarti
ketakutan atau kegembiraan. Gelap
mungkin berarti agresi. Oktavia
berbicara melalui kulitnya.

Namun, yang paling mengharukan
dari semua interaksi mereka adalah
momen-momen ketika Oktavia secara
sukarela mengulurkan lengannya,
bukan untuk menyelidiki makanan,
bukan karena rasa ingin tahu, tetapi
hanya untuk berpegangan tangan.
Montgomery menggambarkan
momen-momen ini dengan penuh
kelembutan. Ia akan duduk di tepi
akuarium, tangannya terendam
dalam air yang dingin, dan Oktavia
akan merangkak mendekat,
mengulurkan satu lengannya, dan
dengan lembut membungkusnya
di sekitar jari-jari Montgomery.
Lengan itu akan tinggal di sana, tidak
bergerak, tidak menarik, hanya
memegang.

Bagi Montgomery, ini adalah tanda
kepercayaan yang mendalam. Seekor
gurita adalah makhluk yang sangat
rentan. Mereka tidak memiliki
cangkang, tidak memiliki tulang,
tidak memiliki perlindungan
apa pun selain kamuflase dan
kecerdasan mereka. Ketika Oktavia
memegang tangannya dan tetap diam,
itu adalah isyarat bahwa ia merasa
aman. Ia tidak perlu bersembunyi.
Ia tidak perlu melarikan diri. Ia cukup
tenang untuk hanya berada di sana,
bersama seorang teman.

Montgomery menulis tentang momen
ini dengan nada yang nyaris spiritual.
Ia merasakan sesuatu yang melampaui
batas spesies. Ia menulis:
“It was an embrace, a deliberate,
gentle grasping, unlike anything I
had ever felt from an animal.”

(Itu adalah pelukan, sebuah
genggaman yang disengaja dan lembut,
tidak seperti apa pun yang pernah aku
rasakan dari seekor hewan.)
Genggaman itu, katanya,
mengingatkannya pada kontak antara
dua sahabat, dua makhluk yang saling
percaya dan tidak membutuhkan
kata-kata untuk berkomunikasi.

Tentu saja, tidak semua orang akan
menafsirkan perilaku ini dengan cara
yang sama. Para ilmuwan yang skeptis
mungkin akan mengatakan bahwa
kita tidak bisa mengetahui apa yang
dipikirkan atau dirasakan oleh gurita,
bahwa kita memproyeksikan emosi
manusia ke makhluk yang mungkin
tidak memilikinya. Montgomery tidak
menyangkal kemungkinan itu. Tetapi
ia bertanya: jika seekor hewan
bertindak seolah-olah ia merasakan
sesuatu, jika ia secara sukarela
mencari kontak, menunjukkan
preferensi, dan tampak tenang
di hadapan seseorang, bukankah itu
cukup sebagai bukti bahwa sesuatu
yang mirip dengan emosi sedang
terjadi? Apakah kita harus menunggu
sampai seekor gurita bisa berbicara
dalam bahasa manusia sebelum kita
mengakui bahwa ia memiliki
kehidupan batin?

Di akhir bab ini, hubungan antara
Montgomery dan Oktavia telah
berkembang menjadi sesuatu yang
sangat berharga. Montgomery tidak
lagi melihat Oktavia sebagai spesimen
atau hewan peliharaan. Ia melihatnya
sebagai seorang individu, dengan
kepribadian, preferensi, dan suasana
hati yang unik. Dan ia tahu bahwa
waktunya bersama Oktavia, seperti
waktu bersama Athena, akan sangat
singkat. Gurita raksasa Pasifik hanya
hidup selama tiga sampai lima tahun.
Setiap kunjungan adalah hadiah.
Setiap sentuhan adalah kenangan
yang akan bertahan seumur hidup.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kita lanjut ke Bab 2. Setelah
Athena berpulang, akuarium terasa
kosong. Tapi hati Montgomery udah
terlanjur kesengat sama makhluk
delapan lengan ini. Jadi, ketika New
England Aquarium datengin gurita
baru bernama Oktavia, Montgomery
langsung gas lagi. Kali ini, dia gak
cuma pengen tau. Dia pengen
JALIN HUBUNGAN.

Bab 2: Oktavia: Duka, Kedekatan,
dan Kepercayaan

Montgomery pertama kali ketemu
Oktavia gak lama setelah Athena
tiada. Dia masih ngerasain duka,
tapi rasa penasarannya udah kebakar
habis-habisan. Kalo Athena adalah
guru yang ngebukain pintu, Oktavia
adalah sahabat yang ngajak lo masuk,
duduk, dan ngobrol santai di dalem.
Montgomery mutusin buat ngunjungin
Oktavia secara RUTIN. Dua kali
seminggu, selama berbulan-bulan.
Ini bukan riset ilmiah kaku. Ini upaya
tulus buat BANGUN HUBUNGAN.

Pertemuan pertama mereka gak
langsung klop. Oktavia, kayak gurita
pada umumnya, adalah PRIBADI
dengan karakter sendiri. Dia gak serta
merta julurin lengan kayak Athena.
Dia lebih kalem, lebih waspada.
Kayak orang yang butuh waktu buat
ngenalin lo. Montgomery harus
BUKTIIN DIRI dulu. Dia harus
nunjukin kalo dia bukan ancaman,
tapi temen. Setiap dateng, dia cuma
berdiri di depan akuarium, nyelupin
tangan ke air dingin, dan… NUNGGU.

Nunggu itu kunci, gaes. Lo gak bisa
maksa kepercayaan. Kepercayaan itu
HARUS DIKASIH SECARA
SUKARELA. Dan itu butuh waktu.
Gak bisa instan kayak mie rebus.

Perlahan, Oktavia mulai mendekat.
Lengan-lengannya yang kemerahan
mulai terjulur ke arah Montgomery.
Pas lengan itu akhirnya nyentuh kulit,
Montgomery ngerasain sensasi yang
GAK AKAN PERNAH DILUPAIN.
Isapan LEMBUT dari ratusan alat
pengisap. Buat gurita, alat pengisap
ini BUKAN cuma buat jalan atau
nangkep mangsa. Setiap alat pengisap
itu ORGAN SUPER KOMPLEKS.
Fungsinya ganda: perasa, penciuman,
sekaligus peraba. Jadi, pas Oktavia
nyentuh lengan Montgomery, dia gak
cuma ngeraba. Dia NGECAP RASA
kulit. Dia NGENDUS aroma.
Dia ngumpulin info super kaya tentang
siapa manusia ini. Jauh di luar
pemahaman kita.

Montgomery ngegambarin sensasi ini
dengan detail. Isapannya gak sakit,
tapi ASING BANGET.
Kadang isapannya lebih kenceng,
ninggalin bekas merah kecil di kulit
yang mereka sebut “bekas gigitan
gurita”. Bayangin, lo dicupangin
gurita. Kadang isapannya lembut
banget, kayak bisikan. Lewat sentuhan
inilah Oktavia mulai MENGENALI
Montgomery. Dan lewat sentuhan ini
pula Montgomery mulai MEMAHAMI
Oktavia.

Oktavia juga nunjukin skill
KAMUFLASE yang bikin melongo.
Gurita punya sel pigmen di kulit
namanya KROMATOFORA. Sel ini
bisa ngembang dan ngerut dalam
sekejap buat ngubah warna.
Di bawahnya ada sel pemantul yang
nyiptain efek kilau metalik. Dan yang
paling gila, gurita punya otot-otot
kecil di kulit yang bisa ngubah
TEKSTUR. Dari halus jadi kasar,
bergelombang, atau berduri, DALAM
HITUNGAN DETIK. Kulitnya kayak
TV LED 8K yang bisa ngubah
tayangan.

Oktavia bisa nyamar jadi batu karang,
rumput laut, atau pasir. Gak cuma
WARNA, tapi juga TEKSTUR.
Ini bukan sekadar kamuflase. Ini
KOMUNIKASI. Para peneliti percaya,
perubahan warna dan tekstur ini juga
ngasih liat SUASANA HATI gurita.
Putih mungkin takut atau girang.
Gelap mungkin agresi. Oktavia
NGOMONG lewat kulitnya.
Keren banget kan?

Tapi, yang paling ngena dari semua
interaksi mereka adalah momen
ketika Oktavia SECARA SUKARELA
ngulurin lengannya. Bukan buat
nyelidikin makanan, bukan karena
penasaran. Tapi… CUMA BUAT
GANDENGAN TANGAN.
Montgomery ngegambarin momen
ini dengan lembut banget.
Dia duduk di tepi akuarium, tangan
terendam air dingin. Oktavia
ngerangkak deket, ngulurin satu
lengan, dan dengan lembut
NGELILIT jari-jari Montgomery.
Lengannya diem aja di situ.
Gak gerak, gak narik.
Cuma… megang.

Buat Montgomery, ini tanda
KEPERCAYAAN yang dalem. Seekor
gurita itu makhluk yang RENTAN
BANGET. Gak punya cangkang, gak
punya tulang, gak punya perlindungan
apa-apa selain kamuflase dan
KECERDASAN mereka. Ketika
Oktavia megang tangannya dan diem,
itu isyarat dia ngerasa AMAN. Dia gak
perlu ngumpet. Gak perlu kabur. Dia
cukup tenang buat… ADA di situ.
Bareng seorang temen.

Montgomery nulis momen ini dengan
nada yang nyaris spiritual.
Dia ngerasain sesuatu yang
NGELEWATIN BATAS SPESIES.
Dia nulis: 
“It was an embrace,
a deliberate, gentle grasping, unlike
anything I had ever felt from an
animal.”
 Itu adalah pelukan.
Genggaman yang sengaja dan lembut.
Gak kayak apapun yang pernah dia
rasain dari hewan. Genggaman itu,
katanya, ngingetin dia sama
kontak antara dua sahabat.
Dua makhluk yang saling percaya
dan gak butuh kata-kata buat ngobrol.

Tentu aja, gak semua orang bakal
nafsirin ini dengan cara yang sama.
Ilmuwan skeptis mungkin bakal
bilang, kita gak tau apa yang dipikirin
atau dirasain gurita. Jangan-jangan
kita cuma NGE-MANUSIA-IN hewan,
ngasih proyeksi emosi ke makhluk
yang mungkin gak punya.
Montgomery gak nolak kemungkinan
itu. Tapi dia balik nanya: kalo seekor
hewan BERTINDAK seolah dia
ngerasain sesuatu, kalo dia secara
sukarela nyari kontak, nunjukin
preferensi, dan keliatan tenang
di depan seseorang, BUKANKAH ITU
CUKUP sebagai bukti kalo sesuatu
yang MIRIP EMOSI lagi terjadi?
Apa kita harus nunggu sampe gurita
bisa ngomong pake bahasa manusia
dulu, sebelum ngakuin dia punya
KEHIDUPAN BATIN?

Di ujung bab ini, hubungan
Montgomery dan Oktavia udah
berkembang jadi sesuatu yang
SANGAT BERHARGA. Montgomery
gak lagi ngeliat Oktavia sebagai
spesimen atau hewan peliharaan.
Dia ngeliatnya sebagai INDIVIDU.
Dengan kepribadian, preferensi, dan
mood yang unik. Dan dia sadar,
waktunya bareng Oktavia, kayak
waktu bareng Athena, bakal
SINGKAT BANGET. Gurita raksasa
Pasifik cuma hidup tiga sampe lima
tahun. Setiap kunjungan adalah
HADIAH. Setiap sentuhan adalah
KENANGAN yang bakal nempel
SEUMUR HIDUP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *