buku

MASTER THE ABILITY TO REASON (Kuasai Kemampuan Bernalar)

Sahabat, kita lanjutkan ke Move 2 dari
buku 
Your Next Five Moves.
Setelah Patrick Bet-David membawa
kita ke ruangan sunyi untuk mengenali
diri sendiri di Move 1, kini ia mengajak
kita untuk melangkah ke tahap
berikutnya: mengasah cara berpikir.
Jika Move 1 adalah tentang fondasi,
maka Move 2 adalah tentang mesin
penggerak. Bet-David menyebutnya
sebagai “Master the Ability to Reason”
(Kuasai Kemampuan Bernalar).

MOVE 2: MASTER THE ABILITY
TO REASON
(Kuasai Kemampuan Bernalar)

Patrick Bet-David membuka Move 2
dengan sebuah pengamatan yang
tajam. Ia mengatakan bahwa
kebanyakan orang tidak benar-benar
berpikir. Mereka bereaksi. Mereka
merasa. Mereka menuruti naluri.
Tetapi mereka jarang berhenti
sejenak, mundur selangkah, dan
benar-benar memproses situasi
dengan logika yang jernih. Di dunia
bisnis, di medan catur, dan dalam
krisis hidup, perbedaan antara
orang yang bereaksi dan orang yang
bernalar adalah perbedaan antara
pecundang dan pemenang.

Bet-David menekankan pentingnya
memisahkan antara dua mode
operasi mental yang sangat berbeda:
bereaksi atau 
reacting (bereaksi),
dan bernalar atau 
reasoning
(bernalar). Bereaksi adalah
respons instingtif, didorong oleh
emosi, dan biasanya terjadi dalam
hitungan detik. Ketika seseorang
menghinamu di depan umum dan
kamu langsung membalas dengan
kata-kata yang lebih tajam, itu adalah
reaksi. Ketika kamu melihat harga
sahammu turun drastis dan kamu
langsung menjual semuanya dalam
kepanikan, itu adalah reaksi. Reaksi
terasa memuaskan pada saat itu,
tetapi hampir selalu menghasilkan
hasil yang buruk dalam jangka
panjang.

Bernalar, di sisi lain, adalah proses
yang jauh lebih lambat dan lebih
disengaja. Bernalar melibatkan
pengambilan jarak dari situasi,
pengumpulan fakta, analisis objektif,
dan pertimbangan konsekuensi jangka
panjang. Ketika seseorang
menghinamu dan kamu memilih
untuk diam sejenak, menarik napas,
dan bertanya pada dirimu sendiri,
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?
Apakah membalas akan membantuku
mencapai tujuanku, atau justru
merugikanku?”, di situlah kamu
sedang bernalar.

Bagaimana cara melatih kemampuan
bernalar ini? Bet-David menawarkan
beberapa pendekatan praktis.
Pertama, ia mengajarkan cara
memproses masalah secara sistematis.
Ketika masalah datang, jangan
langsung panik atau mencari solusi
instan. Duduklah. Ambil selembar
kertas. Tuliskan masalahnya dengan
jelas. Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa penyebabnya? Siapa yang terlibat?
Apa fakta-faktanya?
Sering kali, masalah yang tampak besar
dan rumit sebenarnya hanyalah
campuran dari beberapa masalah kecil
yang bisa diurai satu per satu.

Kedua, Bet-David mengajarkan cara
menghitung risiko. Setiap keputusan
memiliki sisi positif dan negatifnya.
Orang yang bernalar akan secara sadar
menghitung keduanya.
Apa kemungkinan terbaik yang bisa
terjadi jika aku mengambil langkah ini?
Apa kemungkinan terburuknya?
Apakah aku bisa bertahan jika
kemungkinan terburuk itu terjadi?
Dengan menghitung risiko secara
eksplisit, kamu menghilangkan
kekuatan emosi yang sering kali
membesar-besarkan bahaya atau
keuntungan.

Ketiga, Bet-David memperkenalkan
konsep “langkah terbaik berikutnya”.
Ketika kamu berada di bawah
tekanan tinggi, jangan mencoba
memikirkan sepuluh langkah
ke depan sekaligus. Otakmu akan
kewalahan dan akhirnya tidak
memutuskan apa-apa. Fokuslah
hanya pada satu pertanyaan:
apa langkah terbaik yang bisa aku
ambil sekarang, dengan informasi
yang aku miliki saat ini?
Setelah langkah itu diambil, kamu
bisa mengevaluasi lagi dan
mengambil langkah berikutnya.

Bet-David mendorong kita untuk
mengambil keputusan seperti seorang
CEO. Seorang CEO tidak hanya
memikirkan bagaimana sebuah
keputusan akan memengaruhi hari ini
atau minggu ini. Ia memikirkan
dampaknya terhadap kuartal
berikutnya, tahun berikutnya, dan
bahkan dekade berikutnya. Sebelum
mengambil keputusan besar,
tanyakan pada dirimu sendiri:
bagaimana aku akan melihat
keputusan ini satu tahun dari
sekarang?
Apakah aku akan bangga, atau
menyesal?

Inti dari Move 2 ini adalah bahwa
emosi adalah bagian alami dari
menjadi manusia. Bet-David tidak
meminta kita untuk menjadi robot
tanpa perasaan. Yang ia minta
adalah agar kita tidak membiarkan
emosi mengambil alih kemudi.
Biarkan emosi menjadi penumpang
di dalam mobil, tetapi pastikan
bahwa logika dan nalar jangka
panjang yang memegang kemudi.

Contoh Penerapan Move 2:
Master the Ability to Reason

Situasi: Kamu Mendapatkan
Tawaran Investasi yang
Tampaknya Menggiurkan

Kamu adalah seorang pengusaha yang
baru saja meluncurkan produk furnitur
custom pertamamu. Respons pasar
cukup baik. Kamu mendapatkan
beberapa pesanan dan ulasan positif.
Suatu hari, seorang investor
menghubungimu. Ia menawarkan
dana segar sebesar lima ratus juta
rupiah dengan imbalan empat puluh
persen saham perusahaannya. Angka
itu sangat besar. Jauh lebih besar
dari apa pun yang pernah kamu
pegang. Pikiranmu langsung
melayang: dengan uang sebanyak itu,
kamu bisa menyewa workshop yang
lebih besar, membeli peralatan
canggih, dan merekrut lebih banyak
pengrajin.

Investor itu mengatakan bahwa ia
butuh jawaban dalam tiga hari.
Ia juga menyebutkan bahwa ada
pengusaha lain yang tertarik dengan
tawarannya, jadi kamu harus cepat.
Jantungmu berdebar kencang. Ini
adalah kesempatan emas. Insting
pertamamu mengatakan:
“Ambil! Jangan sampai kehabisan!”
Tapi sesuatu di dalam dirimu,
mungkin suara kecil yang dilatih
oleh Move 1, berbisik: “Tunggu dulu.”
Kamu ingat ajaran Patrick Bet-David.
Kamu memutuskan untuk tidak
bereaksi. Kamu memutuskan untuk
bernalar.

Langkah Pertama:
Pisahkan antara Reaksi dan
Nalar

Hal pertama yang kamu lakukan
adalah mengenali bahwa tubuhmu
sedang dalam mode reaksi.
Jantungmu berdebar kencang.
Pikiranmu berpacu. Kamu merasakan
dorongan yang sangat kuat untuk
segera mengatakan “ya” sebelum
kesempatan ini hilang. Ini adalah
respons emosional klasik. Investor itu
sengaja menciptakan rasa urgensi
dengan mengatakan ada pengusaha
lain yang tertarik. Ia menggunakan
prinsip kelangkaan untuk memicu
reaksi impulsifmu.

Alih-alih langsung menjawab, kamu
mengatakan kepada investor itu,
“Terima kasih atas tawarannya.
Ini sangat menarik. Saya akan
mempelajarinya dengan serius dan
memberikan jawaban dalam tiga
hari.” Kamu menutup telepon,
menarik napas panjang, dan sadar
bahwa kamu baru saja menghindari
jebakan emosi yang pertama. Kamu
tidak membiarkan dirimu dipaksa
mengambil keputusan dalam
hitungan detik.

Langkah Kedua: Proses Masalah
Secara Sistematis

Keesokan paginya, dengan kepala yang
jauh lebih jernih, kamu duduk di meja
kerja. Kamu mengambil selembar
kertas kosong. Di bagian paling atas,
kamu menulis satu pertanyaan:
“Apa masalah yang sebenarnya
sedang aku hadapi?”

Kamu mulai menguraikan. Masalahnya
bukanlah sekadar “haruskah aku
mengambil uang ini?” Masalahnya
adalah sebuah pertukaran: kamu
menyerahkan empat puluh persen
kendali atas perusahaan yang baru
saja kamu bangun, sebagai ganti uang
tunai yang bisa mempercepat
pertumbuhan. Sekarang masalahnya
menjadi lebih jelas. Kamu bertanya
lebih lanjut: siapa sebenarnya investor
ini? Dari mana uangnya berasal?
Apakah ia punya pengalaman
di industri furnitur?
Apakah ia hanya akan menjadi
penyandang dana, atau akankah ia
ikut campur dalam keputusan
sehari-hari?
Kamu menulis semua pertanyaan
ini di atas kertas.

Kamu menghubungi investor itu
dan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Ia memberikan jawaban yang cukup
memuaskan, tetapi ada satu hal yang
mengganjal. Ketika kamu bertanya
tentang visinya untuk perusahaan ini
dalam jangka panjang, ia berbicara
tentang “exit strategy” (strategi keluar)
dalam waktu tiga tahun. Ia ingin
perusahaan ini tumbuh cepat, lalu
dijual ke perusahaan yang lebih besar.
Sekarang kamu menyadari sesuatu
yang penting. Apakah aku ingin
menjual perusahaanku dalam tiga
tahun?
Jika aku menjualnya, apa yang akan
terjadi dengan mimpi awalku?

Langkah Ketiga: Hitung Risiko
dan Dampak Jangka Panjang

Kamu teringat kembali pada definisi
sukses yang sudah kamu tulis
di Move 1. Definisi suksesmu adalah
memiliki bisnis furnitur custom yang
stabil, dengan jam kerja fleksibel,
yang memungkinkanmu hadir untuk
anak-anakmu. Jika kamu menjual
perusahaan ini dalam tiga tahun,
apa yang akan terjadi?
Mungkin kamu akan mendapatkan
uang yang banyak. Tetapi setelah itu,
kamu harus memulai semuanya dari
awal lagi. Atau lebih buruk lagi, kamu
mungkin terikat kontrak yang
melarangmu membuka bisnis serupa
selama beberapa tahun.

Sekarang kamu menghitung risikonya
secara eksplisit. Di kolom kiri, kamu
menulis “Kemungkinan Terbaik”:
bisnis tumbuh pesat, produkmu
dikenal luas, dan dalam tiga tahun
kamu menjualnya dengan harga
miliaran rupiah. Itu terdengar
menggiurkan. Di kolom kanan,
kamu menulis “Kemungkinan
Terburuk”: investor itu ternyata sulit
diajak bekerja sama. Ia memaksakan
keputusan-keputusan yang
bertentangan dengan visimu.
Kualitas produk menurun demi
mengejar pertumbuhan cepat.
Merekmu rusak. Dalam tiga tahun,
perusahaan dijual dengan harga
murah, dan kamu kehilangan
kendali atas sesuatu yang kamu
bangun dengan susah payah.

Setelah melihat kedua kolom ini,
kamu menyadari bahwa risiko
terbesarnya bukanlah kehilangan
uang. Risiko terbesarnya adalah
kehilangan kendali dan
kehilangan visi.

Langkah Keempat: Ambil
Keputusan Seperti Seorang CEO

Kamu bertanya pada dirimu sendiri
pertanyaan pamungkas yang diajarkan
oleh Bet-David: “Bagaimana aku akan
melihat keputusan ini satu tahun dari
sekarang?” Jika kamu mengambil
tawaran ini, dan setahun kemudian
produkmu menjadi murahan karena
investor itu terus menekan biaya,
bagaimana perasaanmu?
Jika kamu menolak tawaran ini,
dan setahun kemudian bisnismu
tumbuh perlahan tapi pasti, sesuai
dengan visimu, bagaimana
perasaanmu?

Kamu akhirnya mengambil keputusan.
Kamu menolak tawaran investor itu.
Tetapi kamu tidak melakukannya
dengan kasar. Kamu meneleponnya
dan berkata, “Saya sangat menghargai
tawaran Anda. Tapi setelah dipikirkan
matang-matang, saya merasa visi kita
berbeda. Saya ingin membangun
perusahaan ini untuk jangka panjang,
bukan untuk dijual dalam waktu dekat.
Saya harap kita bisa bekerja sama
dalam bentuk lain di masa depan.”
Investor itu terdengar sedikit kecewa,
tetapi ia menghormati keputusanmu.

Langkah Kelima: Tentukan
Langkah Terbaik Berikutnya

Kamu sekarang memiliki kejelasan
baru. Kamu tahu bahwa kamu tidak
ingin menjual perusahaanmu dalam
waktu dekat. Jadi, apa langkah
terbaik berikutnya?
Kamu memutuskan untuk fokus
pada pertumbuhan organik. Kamu
akan menggunakan keuntungan
dari pesanan yang ada untuk
membeli satu mesin baru setiap
bulannya. Kamu akan merekrut
satu pengrajin baru. Kamu akan
tumbuh perlahan, tanpa kehilangan
kendali. Ini mungkin bukan jalan
yang paling cepat, tetapi ini adalah
jalan yang paling sesuai dengan
definisi suksesmu sendiri.

Enam bulan kemudian, kamu tidak
menyesali keputusanmu. Bisnismu
memang tumbuh lebih lambat, tetapi
setiap pelanggan puas, setiap produk
berkualitas, dan kamu masih bisa
pulang tepat waktu untuk makan
malam bersama keluargamu. Kamu
menyadari bahwa menolak setengah
miliar rupiah mungkin terlihat gila
di mata orang lain, tetapi itu adalah
langkah yang paling tepat untukmu.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kita lanjut ke Move 2. Setelah
Patrick Bet-David ngajak lo ngintip
dalem diri sendiri di Move 1, sekarang
dia ngajak lo buat NGE-UPGRADE
CARA BERPIKIR. Kalo Move 1 itu
soal fondasi, Move 2 ini soal MESIN
PENGGERAKNYA. Dia nyebutnya
“Master the Ability to Reason”,
Kuasai Kemampuan Bernalar.

Bet-David buka langkah ini dengan
pengamatan TAJEM. Dia bilang,
KEBANYAKAN ORANG tuh GAK
BENERAN BERPIKIR. Mereka cuma
BEREAKSI. Mereka NGERASA.
Mereka NURUTIN NALURI. Tapi
mereka JARANG banget berhenti
sejenak, mundur selangkah, dan
BENER-BENER MEMPROSES
situasi dengan LOGIKA yang
JERNIH. Di dunia bisnis, di medan
catur, dan dalam krisis hidup, beda
antara orang yang Cuma BEREAKSI
dan orang yang BERNALAR itu beda
antara PECUNDANG dan
PEMENANG.

Nah, Bet-David nekanin pentingnya
MISAHIN dua mode operasi mental
yang BEDA BANGET ini.
Pertama,
BEREAKSI. Ini respons
INSTINGTIF, didorong EMOSI, dan
biasanya terjadi dalam hitungan
detik. Pas ada orang NGATAI lo
di depan umum, dan lo LANGSUNG
BALES dengan kata-kata yang lebih
pedes, itu REAKSI. Pas lo liat harga
saham lo ANJLOK drastis dan lo
LANGSUNG JUAL semua dalem
KEPANIKAN, itu REAKSI. Reaksi
tuh MEMUASKAN pas lo lakuin.
Tapi HAMPIR SELALU ngasilin hasil
yang BURUK dalam jangka panjang.
Kayak lo garuk kudis, enak bentar,
tambah parah nantinya.

Kedua, BERNALAR. Ini proses yang
JAUH LEBIH LAMBAT dan LEBIH
SENGAJA. Bernalar itu ngambil
JARAK dari situasi. Ngumpulin
FAKTA. Analisis OBJEKTIF.
Mikirin KONSEKUENSI JANGKA
PANJANG. Pas orang ngatain lo,
dan lo milih buat DIEM sejenak,
tarik napas, terus nanya ke diri
sendiri, “Apa sih sebenernya yang
lagi terjadi? Kalo gue bales, itu bakal
ngebantu gue nyampe tujuan, atau
malah ngerugiin gue?” Nah, di situ
lo lagi BERNALAR. Lo gak nelen
umpan mentah-mentah.

Gimana caranya ngelatih skill bernalar
ini? Bet-David ngasih beberapa
pendekatan PRAKTIS.
Pertama, dia ngajarin cara
MEMPROSES MASALAH SECARA
SISTEMATIS. Pas masalah dateng,
JANGAN LANGSUNG PANIK atau
nyari solusi instan. Duduk. Ambil
kertas. Tulis masalahnya dengan
JELAS. Apa yang BENERAN terjadi?
Apa penyebabnya?
Siapa yang terlibat? Apa FAKTA-nya?
Seringkali, masalah yang keliatan
GEDE dan RUMIT, sebenernya cuma
CAMPURAN dari beberapa masalah
KECIL yang bisa lo urai SATU
PERSATU. Kayak benang kusut,
lo urai pelan-pelan, kelar.

Kedua, Bet-David ngajarin cara
MENGHITUNG RISIKO. Setiap
keputusan ada SISI POSITIF dan
NEGATIFNYA. Orang yang bernalar
bakal secara sadar NGITUNG
DUA-DUANYA. Apa kemungkinan
TERBAIK yang bisa terjadi kalo gue
ambil langkah ini? Apa kemungkinan
TERBURUKnya? Apa gue BISA
BERTAHAN kalo kemungkinan
terburuk itu beneran terjadi? Dengan
ngitung risiko secara EKSPLISIT, lo
NGILANGIN kekuatan EMOSI yang
suka NGEBESAR-BESARIN bahaya
atau keuntungan. Jadi lo bisa ngeliat
dengan lebih jernih.

Ketiga, Bet-David ngenalin konsep
“LANGKAH TERBAIK
BERIKUTNYA”
. Pas lo lagi
di bawah TEKANAN TINGGI,
JANGAN COBA MIKIRIN SEPULUH
LANGKAH ke depan sekaligus. Otak
lo bakal KEWALAHAN dan akhirnya
gak mutusin APA-APA. Fokus aja
sama SATU pertanyaan:
“Apa LANGKAH TERBAIK yang bisa
gue ambil SEKARANG, dengan
INFORMASI yang gue punya
SAAT INI?” Udah. Setelah langkah itu
lo ambil, lo bisa EVALUASI lagi, dan
ambil langkah berikutnya. Jangan
lompat-lompat.

Bet-David dorong kita buat ngambil
keputusan kayak seorang CEO.
Seorang CEO gak cuma mikirin
gimana keputusan ini ngaruh
ke HARI INI atau MINGGU INI.
Dia mikirin DAMPAKNYA
ke KUARTAL DEPAN, TAHUN
DEPAN, bahkan DEKADE
berikutnya. Sebelum lo mutusin
sesuatu yang gede, tanya diri sendiri:
“Gimana gue bakal NGELIAT
keputusan ini SATU TAHUN dari
sekarang? Gue bakal BANGGA,
atau malah NYESEL?” Bayangin lo
di masa depan lagi ngeliatin diri lo
yang sekarang.

Inti dari Move 2 ini adalah: EMOSI
itu BAGIAN ALAMI dari jadi
manusia. Bet-David GAK maksa
kita buat jadi ROBOT tanpa
perasaan. Yang dia minta adalah,
JANGAN biarin EMOSI yang
NGAMBIL ALIH KEMUDI. Biarin
emosi jadi PENUMPANG di dalem
mobil lo. Boleh ada. Tapi PASTIKAN
bahwa LOGIKA dan NALAR JANGKA
PANJANG lo yang MEGANG
KEMUDI. Kalo emosi yang nyetir,
siap-siap nabrak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *