MASTER BUILDING THE RIGHT TEAM (Kuasai Membangun Tim yang Tepat)
Sahabat, kita lanjutkan ke Move 3
dari buku Your Next Five Moves.
Setelah Patrick Bet-David membawa
kita mengenali diri sendiri di Move 1
dan mengasah kemampuan bernalar
di Move 2, kini ia membawa kita
ke sebuah kenyataan yang sering kali
menjadi batu sandungan bagi banyak
pengusaha dan pemimpin: kamu tidak
bisa menang sendirian. Move 3 ini
berjudul “Master Building the Right
Team” (Kuasai Membangun Tim yang
Tepat).
MOVE 3: MASTER BUILDING
THE RIGHT TEAM
(Kuasai Membangun Tim yang
Tepat)
Patrick Bet-David membuka Move 3
dengan sebuah pernyataan yang tegas:
seorang grandmaster catur mungkin
memiliki otak yang brilian, tetapi ia
tidak akan pernah memenangkan
pertandingan jika bidak-bidaknya
tidak berada di posisi yang tepat.
Dalam bisnis dan kehidupan,
bidak-bidak itu adalah orang-orang
di sekitarmu. Timmu. Bet-David
berpendapat bahwa kemampuan
membangun tim yang solid bukanlah
sekadar keterampilan tambahan.
Ia adalah pengganda kekuatan.
Dengan tim yang tepat, seorang
pemimpin biasa bisa mencapai hasil
yang luar biasa. Dengan tim yang
salah, seorang jenius sekalipun akan
gagal.
Masalahnya, kebanyakan orang tidak
tahu cara membangun tim. Mereka
merekrut berdasarkan perasaan,
berdasarkan pertemanan, atau
berdasarkan desakan kebutuhan sesaat.
Mereka tidak memiliki sistem untuk
menilai siapa yang layak masuk
ke dalam lingkaran terdalam mereka.
Bet-David menawarkan sistem itu.
Ia membagi orang-orang di sekitar kita
ke dalam beberapa kategori yang
sangat jelas.
Kategori pertama adalah orang yang
loyal dan kompeten. Ini adalah bidak
terkuat di papan caturmu. Mereka
tidak hanya memiliki keterampilan
untuk melakukan pekerjaan dengan
baik, tetapi mereka juga memiliki
kesetiaan terhadap visimu. Ketika
kamu menemukan orang seperti ini,
Bet-David menyarankan untuk
memperlakukan mereka seperti
emas. Beri mereka tanggung jawab,
beri mereka kepercayaan, dan yang
paling penting, beri mereka alasan
untuk tetap tinggal.
Kategori kedua adalah orang yang
hanya penjilat. Di permukaan,
mereka tampak seperti pendukung
setia. Mereka selalu mengangguk
setuju dengan apa pun yang kamu
katakan. Mereka selalu memuji
ide-idemu, bahkan yang paling
bodoh sekalipun. Tetapi di balik
senyuman mereka, tidak ada
kesetiaan sejati. Mereka ada
di dekatmu bukan karena mereka
percaya pada visimu, tetapi karena
mereka ingin mendapatkan sesuatu
dari posisimu. Bet-David
memperingatkan bahwa penjilat
sangat berbahaya karena mereka
memberi rasa nyaman palsu. Kamu
tidak akan tahu bahwa strategimu
salah jika semua orang di sekitarmu
terus mengatakan bahwa kamu
benar.
Kategori ketiga adalah orang yang
beracun. Ini adalah kategori yang
paling merusak. Orang beracun tidak
hanya tidak kompeten atau tidak loyal.
Mereka secara aktif menyebarkan
energi negatif, menghasut rekan
kerja lain, dan merusak budaya tim.
Bet-David tegas dalam hal ini: orang
beracun harus segera dikeluarkan
dari papan catur, tidak peduli
seberapa hebat keterampilan mereka.
Mempertahankan satu orang beracun
dalam tim sama dengan membiarkan
satu sel kanker menyebar dan
menghancurkan seluruh tubuh.
Setelah kita tahu siapa yang ada
di sekitar kita, Bet-David melanjutkan
dengan prinsip penempatan.
Ia menggunakan analogi catur:
setiap bidak memiliki kekuatan dan
kelemahannya sendiri. Ksatria
bergerak dengan cara yang tidak bisa
dilakukan oleh benteng. Menteri
memiliki jangkauan yang tidak
dimiliki oleh pion. Tugas seorang
pemimpin bukanlah mengubah
semua bidak menjadi sama,
melainkan menempatkan setiap
orang di posisi di mana kekuatan
mereka bisa dimaksimalkan dan
kelemahan mereka tidak menjadi
masalah. Ini membutuhkan
pengamatan yang tajam dan
kejujuran. Kamu harus berani
mengakui bahwa seseorang mungkin
tidak cocok untuk posisi tertentu,
meskipun kamu menyukainya secara
pribadi.
Bet-David juga menekankan
pentingnya membangun budaya
perusahaan yang kuat. Budaya
bukanlah sekadar kata-kata indah
yang ditempel di dinding kantor.
Budaya adalah apa yang terjadi ketika
kamu tidak ada di ruangan. Budaya
adalah keputusan yang diambil oleh
karyawanmu ketika mereka
menghadapi dilema dan tidak ada
yang melihat. Jika kamu membangun
budaya yang tepat, timmu akan
bergerak ke arah yang sama bahkan
tanpa kamu harus terus-menerus
mengawasi mereka.
Mengelola ekspektasi juga menjadi
bagian penting dari Move 3 ini.
Banyak konflik internal terjadi bukan
karena orang jahat, tetapi karena
ekspektasi yang tidak jelas.
Bet-David mengajarkan untuk secara
eksplisit mendiskusikan apa yang
kamu harapkan dari setiap anggota
tim, dan apa yang bisa mereka
harapkan darimu. Ketika ekspektasi
jelas, tidak ada ruang untuk
kekecewaan yang tidak perlu.
Terakhir, Bet-David berbicara tentang
konflik internal. Di setiap tim, konflik
pasti akan muncul. Perbedaan
pendapat, kecemburuan, dan
kesalahpahaman adalah bagian alami
dari interaksi manusia. Pemimpin
yang baik tidak menghindari konflik.
Ia menghadapinya secara langsung,
dengan tenang, dan menyelesaikannya
sebelum membesar. Bet-David
memberikan kerangka kerja untuk
menangani konflik: dengarkan kedua
belah pihak secara terpisah,
identifikasi akar masalahnya,
pertemukan mereka dalam satu
ruangan, dan arahkan percakapan
menuju solusi, bukan saling
menyalahkan.
Inti dari Move 3 ini adalah bahwa
bisnis dan kehidupan pada akhirnya
adalah permainan tim.
Kamu mungkin memiliki visi yang
brilian, strategi yang cerdas, dan
keterampilan yang tajam. Tetapi jika
kamu tidak bisa membangun tim yang
solid, kamu akan tetap kalah.
Belajarlah menilai orang dengan jernih.
Beranilah menyingkirkan bidak yang
merugikan. Tempatkan setiap orang
di posisi optimalnya. Dan yang paling
penting, bangun budaya di mana
orang-orang terbaik ingin tinggal dan
bertumbuh. Itulah kunci dari
membangun tim yang tak terkalahkan.
Contoh Penerapan Move 3:
Master Building the Right Team
Situasi: Kamu Adalah Pemilik
Kafe yang Sedang Berkembang
Enam bulan telah berlalu sejak kamu
memutuskan untuk fokus pada
pertumbuhan organik bisnis furnitur
custom-mu. Bisnismu berkembang
pesat. Kamu kini memiliki workshop
yang lebih besar, dua mesin baru,
dan order yang terus mengalir.
Tetapi kamu mulai kewalahan. Kamu
tidak bisa lagi menangani semuanya
sendiri. Kamu membutuhkan tim.
Saat ini, ada tiga orang yang
membantumu. Yang pertama adalah
Doni, teman lamamu sejak SMA.
Doni adalah orang yang setia.
Ia selalu ada saat kamu membutuhkan
bantuan, bahkan sejak awal saat kamu
masih bekerja di garasi. Masalahnya,
Doni tidak terlalu terampil dalam
pengerjaan kayu. Ia sering membuat
kesalahan kecil yang harus kamu
perbaiki sendiri. Yang kedua adalah
Rina, seorang desainer interior yang
kamu rekrut tiga bulan lalu.
Rina sangat berbakat.
Desain-desainnya sering dipuji oleh
pelanggan. Tetapi akhir-akhir ini,
kamu mendengar bisikan bahwa Rina
sering mengeluh di belakangmu.
Ia berkata bahwa kamu terlalu
perfeksionis, bahwa kamu tidak
pernah puas, dan bahwa ia berpikir
untuk pindah ke perusahaan lain.
Yang ketiga adalah Budi, pengrajin
kayu senior yang baru bergabung
sebulan lalu. Budi adalah pekerja yang
luar biasa. Hasil kerjanya rapi, cepat,
dan hampir tidak pernah salah.
Tetapi Budi adalah tipe yang pendiam
dan tidak banyak bicara.
Sekarang kamu sedang
mempertimbangkan untuk merekrut
satu orang lagi untuk membantu
pemasaran. Kamu mewawancarai
seorang kandidat bernama Sinta.
Sinta sangat karismatik, berbicara
dengan percaya diri, dan memiliki
pengalaman di bidang pemasaran
digital. Tetapi selama wawancara,
Sinta beberapa kali menyela
pertanyaanmu dan tampak
meremehkan pencapaian bisnismu.
“Oh, followers-nya baru segitu?
Aku bisa lipat gandakan dalam
sebulan,” katanya dengan nada
yang sedikit sombong.
Kamu bingung. Kamu harus
memutuskan: siapa yang harus
dipertahankan, siapa yang harus
diberi tanggung jawab lebih, siapa
yang harus diperingatkan, dan apakah
kamu harus merekrut Sinta. Inilah
saatnya menerapkan prinsip Move 3.
Langkah Pertama: Kategorikan
Orang-Orang di Sekitarmu
Kamu teringat pada tipologi yang
diajarkan oleh Bet-David. Kamu
mengambil selembar kertas dan
mulai mengkategorikan semua
orang yang ada di timmu.
Pertama, Budi. Ia adalah pengrajin
yang luar biasa. Hasil kerjanya selalu
sempurna. Ia tidak pernah mengeluh,
tidak pernah membuat drama, dan
selalu menyelesaikan pekerjaannya
tepat waktu. Budi jelas masuk dalam
kategori loyal dan kompeten.
Bet-David mengatakan bahwa
orang seperti ini harus diperlakukan
seperti emas. Kamu tidak boleh
kehilangan Budi. Kamu harus
memastikan ia merasa dihargai,
diberi kompensasi yang layak, dan
diberi ruang untuk bertumbuh.
Kedua, Doni. Teman lamamu ini
adalah orang yang setia. Ia sudah
bersamamu sejak awal, saat kamu
belum punya apa-apa. Masalahnya,
ia tidak kompeten dalam pengerjaan
kayu. Bet-David tidak menyediakan
kategori khusus untuk “loyal tapi
tidak kompeten”, tetapi prinsipnya
jelas: setiap orang harus ditempatkan
di posisi di mana kekuatan mereka
bisa dimaksimalkan. Doni mungkin
tidak cocok sebagai pengrajin. Tetapi
ia memiliki kekuatan lain: ia adalah
orang yang sangat ramah dan supel.
Ia ingat nama setiap pelanggan yang
pernah datang. Ia ingat pesanan
favorit mereka. Mungkin Doni bisa
dipindahkan ke bagian layanan
pelanggan atau administrasi
penjualan, di mana keterampilan
sosialnya jauh lebih berguna
daripada keterampilan kayunya.
Ketiga, Rina. Ini adalah kasus yang
lebih rumit. Rina sangat kompeten
secara teknis. Desainnya luar biasa.
Tetapi sikapnya di belakang mulai
menunjukkan tanda-tanda orang
beracun. Ia menyebarkan keluhan
dan energi negatif. Bet-David sangat
tegas tentang ini: orang beracun
harus segera dihadapi, dan jika tidak
berubah, harus dikeluarkan. Namun
sebelum mengambil keputusan
drastis, kamu harus menghadapinya
secara langsung.
Keempat, Sinta, si kandidat
pemasaran. Perilakunya selama
wawancara menunjukkan tanda
bahaya. Menyela, meremehkan,
dan berbicara dengan nada sombong.
Bet-David menyebut tipe ini sebagai
penjilat potensial atau bahkan
orang beracun yang belum masuk
ke dalam tim. Sinta mungkin memang
memiliki keterampilan, tetapi
sikapnya menunjukkan bahwa ia akan
sulit diajak bekerja sama. Ia mungkin
akan mendominasi percakapan,
mengabaikan visimu, dan menciptakan
konflik dengan anggota tim yang lain.
Langkah Kedua: Tempatkan
Setiap Orang di Posisi Optimal
Sesuai Kekuatannya
Sekarang kamu memiliki peta yang
jelas. Langkah selanjutnya adalah
menyusun ulang timmu seperti
menyusun bidak catur.
Untuk Budi, kamu memutuskan untuk
memberinya kenaikan gaji dan
mengangkatnya sebagai kepala
pengrajin. Kamu juga akan
melibatkannya dalam pengambilan
keputusan tentang bahan baku dan
peralatan baru. Budi adalah
bentengmu: kokoh, andal, dan tak
tergantikan.
Untuk Doni, kamu mengajaknya
berbicara secara jujur.
“Don, kamu adalah teman terbaikku,
dan aku sangat menghargai
kesetiaanmu. Tapi aku lihat kamu
kurang cocok di bagian produksi.
Aku lihat kamu sangat hebat dalam
berinteraksi dengan pelanggan.
Bagaimana kalau kamu pindah
ke bagian layanan pelanggan?
Aku akan melatihmu tentang produk
kita, dan kamu bisa menjadi ujung
tombak kita dalam menjaga
hubungan dengan pelanggan.”
Doni setuju. Ia sebenarnya juga
merasa frustrasi dengan pekerjaan
produksinya. Sekarang ia merasa
dihargai karena kekuatannya yang
sesungguhnya.
Untuk Rina, kamu tidak
menunda-nunda. Keesokan harinya,
kamu mengundangnya untuk
berbicara secara pribadi. Kamu
berkata, “Rina, aku sangat
menghargai bakatmu. Desainmu
luar biasa, dan pelanggan kita sangat
menyukainya. Tapi belakangan ini
aku mendengar beberapa keluhan
yang disampaikan di belakang.
Aku ingin kita punya hubungan yang
terbuka. Kalau ada masalah, aku
ingin kamu bicara langsung padaku.
Apakah ada sesuatu yang
mengganggumu?” Rina terdiam.
Ia tidak menyangka bahwa kamu tahu
tentang keluhannya. Ia akhirnya
mengakui bahwa ia merasa stres
dengan tenggat waktu yang ketat.
Kamu berdiskusi dan mencari solusi
bersama: kamu akan memberikan
tenggat yang lebih realistis, dan Rina
berjanji untuk tidak lagi mengeluh
di belakang. Kamu menutup
percakapan dengan peringatan tegas
namun profesional: “Aku ingin kamu
tetap di tim ini, Rina. Tapi kalau ini
terulang lagi, aku tidak punya
pilihan lain.”
Untuk Sinta, kamu memutuskan
untuk tidak merekrutnya. Meskipun
ia memiliki keterampilan, sikapnya
terlalu berisiko. Bet-David
mengatakan bahwa lebih baik
memiliki posisi kosong daripada
mengisi posisi dengan orang yang
salah. Kamu akan melanjutkan
pencarian untuk kandidat
pemasaran yang lebih cocok
dengan budaya timmu.
Langkah Ketiga: Bangun
Budaya Tim yang Kuat
Setelah semua penyesuaian dilakukan,
kamu mengumpulkan seluruh tim
untuk rapat singkat. Kamu berkata,
“Aku ingin kita semua jelas tentang
budaya kerja kita. Di sini, kita
menghargai keterbukaan. Kalau ada
masalah, bicarakan langsung, bukan
di belakang. Di sini, kita menghargai
kualitas. Setiap produk yang keluar dari
workshop ini harus yang terbaik. Dan
di sini, kita saling menghormati. Tidak
peduli apakah kamu pengrajin senior
atau magang baru, setiap orang
diperlakukan dengan hormat.”
Kamu juga menetapkan ekspektasi
yang jelas untuk setiap orang. Budi
bertanggung jawab atas kualitas
produksi. Doni bertanggung jawab
atas kepuasan pelanggan. Rina
bertanggung jawab atas desain,
dengan tenggat waktu yang sudah
disepakati bersama. Tidak ada lagi
ambiguitas. Semua orang tahu apa
yang diharapkan dari mereka.
Hasil Enam Bulan Kemudian
Budi tetap menjadi andalan dan kini
melatih dua pengrajin baru. Doni
berkembang pesat di bagian layanan
pelanggan. Pelanggan sering
memujinya karena keramahannya.
Rina berhenti mengeluh. Ia merasa
lebih dihargai karena masalah tenggat
waktunya didengarkan dan dicarikan
solusi. Dan untuk posisi pemasaran,
kamu akhirnya menemukan Tono,
seorang profesional yang rendah hati
dan kompeten, yang cocok dengan
budaya tim.
Timmu kini berjalan seperti mesin
yang diminyaki dengan baik. Kamu
tidak lagi kewalahan. Kamu bisa
fokus pada strategi besar, karena
kamu tahu bahwa bidak-bidakmu
berada di posisi yang tepat.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita lanjut ke Move 3. Setelah
Patrick Bet-David ngajak lo ngenalin
diri sendiri dan ngasah nalar,
sekarang dia bawa lo ke kenyataan
yang sering bikin banyak pengusaha
dan pemimpin KESELEO:
LO GAK BISA MENANG SENDIRIAN.
Move 3 ini judulnya
“Master Building the Right Team”,
Kuasai Seni Bangun Tim yang Tepat.
Bet-David buka langkah ini dengan
pernyataan TEGAS.
Seorang grandmaster catur mungkin
punya otak BRILLIANT, tapi dia
GAK AKAN PERNAH menangin
pertandingan kalo BIDAK-BIDAKNYA
gak ada di POSISI YANG TEPAT.
Dalam bisnis dan hidup, bidak-bidak
itu adalah ORANG-ORANG
DI SEKITAR LO. Tim lo. Bet-David
berpendapat, kemampuan BANGUN
TIM yang solid itu BUKAN sekadar
skill tambahan. Dia adalah
PENGGANDA KEKUATAN. Bayangin,
dengan tim yang TEPAT, seorang
pemimpin BIASA bisa ngasilin hasil
LUAR BIASA. Tapi dengan tim yang
SALAH, seorang JENIUS pun bakal
GAGAL total. Tim lo bisa jadi roket
pendorong, atau jangkar yang nahan
lo di dasar.
Masalahnya, KEBANYAKAN ORANG
gak tau caranya bangun tim. Mereka
ngerekrut berdasarkan PERASAAN.
Berdasarkan PERTEMANAN. Atau
berdasarkan DESAKAN KEBUTUHAN
sesaat. Mereka gak punya SISTEM
buat NILAI siapa yang LAYAK masuk
ke LINGKARAN TERDALEM mereka.
Bet-David nawarin SISTEM itu.
Dia bagi orang-orang di sekitar kita
ke beberapa KATEGORI yang
JELAS BANGET.
Kategori pertama: ORANG YANG
LOYAL DAN KOMPETEN.
Ini adalah BIDAK TERKUAT
di papan catur lo. Mereka gak cuma
punya KETERAMPILAN buat ngerjain
tugas dengan BAIK, tapi mereka juga
punya KESETIAAN terhadap VISI lo.
Pas lo nemu orang kayak gini,
Bet-David nyaranin buat PERLAKUIN
MEREKA KAYAK EMAS.
Kasih mereka TANGGUNG JAWAB.
Kasih mereka KEPERCAYAAN. Dan
yang paling penting, kasih mereka
ALASAN buat TETAP TINGGAL.
Jangan sampe orang kayak gini
diambil orang.
Kategori kedua: ORANG YANG
CUMA PENJILAT. Di permukaan,
mereka keliatan kayak pendukung
SETIA. Mereka selalu ANGGUK
SETUJU sama apapun yang lo
omongin. Selalu MUJI ide-ide lo,
bahkan yang paling BODOH
sekalipun. Tapi di balik senyuman
mereka, GAK ADA KESETIAAN
SEJATI. Mereka ada di deket lo
BUKAN karena percaya visi lo,
tapi karena mereka PENGEN
DAPET SESUATU dari posisi lo.
Bet-David ngingetin, PENJILAT itu
BAHAYA BANGET. Karena mereka
ngasih lo RASA NYAMAN PALSU.
Lo GAK AKAN TAU kalo strategi lo
salah, kalo semua orang di sekitar lo
terus-terusan bilang lo bener.
Mereka kayak racun manis.
Kategori ketiga: ORANG YANG
BERACUN. Ini kategori paling
MERUSAK. Orang beracun gak cuma
GAK KOMPETEN atau GAK LOYAL.
Mereka SECARA AKTIF nyebarin
ENERGI NEGATIF. Ngomporin rekan
kerja lain. Ngerusak BUDAYA TIM.
Bet-David TEGAS dalam hal ini:
ORANG BERACUN HARUS SEGERA
DIKELUARIN dari papan catur.
GAK PEDULI seberapa HEBAT
keterampilan mereka.
Mempertahankan satu orang beracun
dalem tim, sama aja kayak
NGEBIARIN SATU SEL KANKER
nyebar dan ngancurin SELURUH
TUBUH. Jangan punya rasa
kasihan sama sel kanker.
Setelah kita TAU siapa yang ada
di sekitar kita, Bet-David lanjut
dengan PRINSIP PENEMPATAN.
Dia pake analogi catur: setiap bidak
punya KEKUATAN dan KELEMAHAN
sendiri. Ksatria gerak dengan CARA
yang gak bisa dilakuin Benteng.
Menteri punya JANGKAUAN yang
gak dimiliki Pion. Tugas seorang
pemimpin BUKAN ngubah semua
bidak JADI SAMA. Tapi NEMPATIN
setiap orang di POSISI di mana
KEKUATAN mereka bisa
DIMAKSIMALKAN, dan
KELEMAHAN mereka gak jadi
masalah. Ini butuh PENGAMATAN
TAJAM dan KEJUJURAN. Lo harus
BERANI ngakuin kalo seseorang
mungkin GAK COCOK buat posisi
tertentu, meskipun lo SUKA sama dia
secara pribadi. Jangan pake perasaan.
Bet-David juga nekanin pentingnya
BANGUN BUDAYA PERUSAHAAN
yang KUAT. Budaya BUKAN cuma
kata-kata indah di dinding kantor.
Budaya adalah APA YANG TERJADI
KETIKA LO GAK ADA DI RUANGAN.
Budaya adalah KEPUTUSAN yang
diambil karyawan lo pas mereka
ngadepin DILEMA dan GAK ADA
yang NGELIAT. Kalo lo berhasil
bangun budaya yang TEPAT, tim lo
bakal GERAK KE ARAH YANG SAMA,
bahkan TANPA lo harus terus-terusan
NGAWASIN mereka. Mereka udah
autopilot ke arah yang bener.
Ngatur EKSPEKTASI juga jadi bagian
PENTING di Move 3 ini. BANYAK
konflik internal terjadi BUKAN
karena orangnya JAHAT, tapi karena
EKSPEKTASI yang GAK JELAS.
Bet-David ngajarin buat secara
EKSPLISIT ngediskusiin APA yang lo
HARAPIN dari setiap anggota tim.
Dan apa yang BISA MEREKA
HARAPIN dari lo. Pas ekspektasi
JELAS, gak ada ruang buat KECEWA
yang GAK PERLU. Kayak kontrak
sosial mini.
Terakhir, Bet-David ngomongin soal
KONFLIK INTERNAL. Di setiap tim,
konflik PASTI MUNCUL.
Beda pendapat, kecemburuan, salah
paham, itu BAGIAN ALAMI dari
interaksi manusia. Pemimpin yang
BAIK gak MENGHINDAR konflik.
Dia NGADEPIN secara LANGSUNG.
Dengan TENANG. Dan NYELESAIIN
sebelum MEMBESAR. Bet-David
ngasih kerangka kerja buat nanemin
konflik: DENGERIN kedua belah pihak
secara TERPISAH. Identifikasi AKAR
MASALAHNYA. Pertemukan mereka
dalam SATU RUANGAN.
Dan ARAHKAN percakapan menuju
SOLUSI. Bukan saling NYALAHIN.
Inti dari Move 3 ini adalah: bisnis dan
kehidupan itu pada akhirnya adalah
PERMAINAN TIM. Lo mungkin punya
VISI BRILLIANT. Strategi CERDAS.
Keterampilan TAJAM. Tapi kalo lo
GAK BISA bangun TIM yang SOLID,
lo bakal TETAP KALAH. Belajarlah
MENILAI ORANG dengan JERNIH.
Beranilah NYINGKIRIN BIDAK yang
MERUGIKAN. Tempatin setiap orang
di POSISI OPTIMALNYA. Dan yang
paling penting, BANGUN BUDAYA
di mana orang-orang terbaik
PENGEN TINGGAL dan TUMBUH.
Itulah kunci dari membangun tim
yang TAK TERKALAHKAN.
