Maple Sugar Moon: Pelajaran dari Nanabozho
Di bab ini, Kimmerer membawa kita
ke masa ketika dunia masih baru. Ia
menceritakan kisah Nanabozho,
tokoh dalam tradisi lisan
Anishinaabe yang sering
digambarkan sebagai guru sekaligus
penipu yang bijaksana.
Pada zaman dahulu, getah pohon
maple tidak seperti sekarang. Getah
itu langsung berupa sirup yang
sangat kental dan manis. Begitu
kental dan manisnya sehingga
manusia tidak perlu bekerja keras
sama sekali. Mereka cukup pergi
ke pohon maple, menusuk batangnya,
dan sirup kental itu langsung
mengalir keluar. Hidup terasa sangat
mudah. Terlalu mudah.
Nanabozho mengamati perilaku
manusia dari kejauhan. Ia melihat
sesuatu yang meresahkan. Karena
anugerah yang terlalu berlimpah,
manusia menjadi malas. Mereka
tidak lagi berburu. Mereka tidak lagi
bercocok tanam. Mereka tidak lagi
mengadakan upacara-upacara syukur
kepada Sang Pencipta. Mereka hanya
duduk di bawah pohon maple
sepanjang hari, menikmati manisnya
sirup, dan melupakan semua
tanggung jawab mereka.
Melihat ini, Nanabozho memutuskan
untuk bertindak. Ia turun ke bumi
dan pergi ke pohon-pohon maple.
Ia mengambil air dari sungai dan
menuangkannya ke batang pohon
maple, mengencerkan getah yang
tadinya kental menjadi cairan yang
sangat encer. Kini, untuk
menghasilkan satu galon sirup
maple, manusia harus
mengumpulkan empat puluh
galon getah terlebih dahulu.
Mereka harus bekerja keras. Mereka
harus menebang kayu untuk
membuat api. Mereka harus duduk
berjam-jam menjaga api tetap
menyala untuk merebus getah
yang encer itu hingga mengental.
Tindakan Nanabozho ini bukanlah
hukuman. Ini adalah pelajaran.
Dengan mengencerkan getah maple,
Nanabozho mengajari manusia
tentang kemungkinan dan tanggung
jawab yang berjalan beriringan.
Anugerah tetap ada. Sirup maple
masih tersedia. Tapi sekarang,
untuk mendapatkannya, manusia
harus terlibat. Harus bekerja.
Harus bersabar. Harus bekerja sama.
Kimmerer menggunakan kisah ini
untuk merenungkan hubungan
antara manusia dan alam. Alam
memberi dengan murah hati. Tapi
kemurahan hati itu tidak berarti
bahwa manusia boleh
bermalas-malasan dan mengambil
begitu saja tanpa memberi kembali.
Ada tanggung jawab yang melekat
pada setiap anugerah. Kerja keras
mengumpulkan getah dan
merebusnya adalah bagian dari ritual
syukur itu sendiri. Rasa manis sirup
maple terasa lebih berharga karena
ada usaha di baliknya.
Witch Hazel: Seorang Tetangga
Tua dan Sebuah Pelajaran
tentang Nama
Bab ini diceritakan dari sudut
pandang salah satu putri
Kimmerer. Ini adalah cerita
kecil yang sederhana namun
menyentuh tentang bagaimana
anak-anak memahami dunia.
Di lingkungan tempat tinggal mereka,
ada seorang tetangga tua bernama
Hazel. Hazel adalah wanita yang baik
hati, ramah, dan selalu punya waktu
untuk berbicara dengan anak-anak.
Ia sering berkebun di halaman
rumahnya, dan ia selalu menyapa
dengan hangat setiap kali putri
Kimmerer lewat.
Tapi ada satu kebingungan yang lucu.
Putri Kimmerer, sebagai anak kecil,
hanya pernah mendengar kata “hazel”
dalam satu konteks: tanaman
witch hazel. Witch hazel adalah
tanaman obat yang dikenal karena
khasiatnya. Dalam pikiran anak kecil
itu, jika kata “hazel” adalah nama
tanaman, dan tetangganya bernama
Hazel, maka tetangganya pasti punya
hubungan dengan tanaman itu.
Mungkin tetangganya adalah penyihir.
Mungkin itu sebabnya ia dipanggil
“Witch Hazel”.
Kimmerer menggunakan kebingungan
lucu ini untuk mengeksplorasi sesuatu
yang lebih dalam. Ia merenungkan
tentang bagaimana anak-anak secara
alami menghubungkan nama,
alam, dan manusia.
Bagi anak-anak, belum ada pemisahan
yang kaku antara dunia manusia dan
dunia alam. Seorang tetangga bisa
dinamai seperti tanaman. Tanaman
bisa memiliki kepribadian seperti
manusia. Semua terhubung secara
alami.
Bab ini juga adalah tentang
persahabatan tak terduga yang
mekar melewati batas generasi.
Hazel si tetangga tua dan putri
Kimmerer yang masih kecil menjadi
sahabat. Mereka tidak sebaya.
Mereka tidak memiliki banyak
kesamaan secara permukaan. Tapi
mereka saling menyayangi. Hazel
memberikan kue. Putri Kimmerer
memberikan tawa. Ini adalah
gambaran kecil tentang bagaimana
komunitas seharusnya bekerja.
Lintas generasi. Lintas usia.
Saling peduli.
A Mother’s Work: Merawat
Adalah Pekerjaan Fundamental
Di bab ini, Kimmerer merenungkan
perannya sebagai seorang ibu.
Bukan hanya ibu bagi anak-anaknya
sendiri, tapi juga ibu dalam konteks
yang lebih luas. Ibu bagi komunitas.
Ibu bagi Bumi.
Kimmerer mengingat semua
pekerjaan yang ia lakukan sebagai
ibu sehari-hari. Menyiapkan
makanan. Membersihkan rumah.
Menghibur anak yang menangis.
Mengajari anak berjalan dan
berbicara. Mendengarkan cerita
mereka. Menenangkan ketakutan
mereka. Pekerjaan ini sering
dianggap remeh. Dianggap tidak
penting. Dianggap bukan
“pekerjaan sungguhan” oleh dunia
yang mengukur nilai berdasarkan
uang dan status.
Tapi Kimmerer menolak pandangan
itu. Ia berpendapat bahwa merawat
adalah pekerjaan yang paling
fundamental dan paling
penting. Tanpa ibu yang merawat,
tidak akan ada generasi berikutnya.
Tanpa orang yang merawat,
masyarakat akan runtuh. Merawat
adalah fondasi yang tidak terlihat
dari segala sesuatu yang berharga
dalam hidup.
Ia menarik paralel antara merawat
anak-anaknya dan merawat alam.
Sebagaimana ia merasa
bertanggung jawab untuk
memastikan anak-anaknya tumbuh
sehat, bahagia, dan kuat, ia juga
merasa bertanggung jawab untuk
merawat Bumi. Memastikan tanah
tetap subur. Memastikan air tetap
bersih. Memastikan hutan tetap
hijau. Ini bukanlah dua tanggung
jawab yang terpisah. Ini adalah
pekerjaan ibu yang sama,
hanya dalam skala yang berbeda.
Pekerjaan merawat, kata Kimmerer,
seringkali tidak terlihat. Tidak ada
yang bertepuk tangan untuk ibu
yang sudah menghabiskan tiga jam
merebus getah maple untuk
anak-anaknya. Tidak ada yang
memberi medali untuk ibu yang
sudah menanam pohon dan
merawatnya sampai besar. Tapi
justru di situlah letak kesuciannya.
Merawat dilakukan bukan untuk
pengakuan. Merawat dilakukan
karena cinta.
The Consolation of Water Lilies:
Kekuatan yang Tak Terlihat
Bab ini dimulai dengan momen yang
emosional. Kimmerer baru saja
mengantar putrinya
ke perguruan tinggi. Ini adalah
momen perpisahan yang berat bagi
seorang ibu. Anak yang selama
bertahun-tahun ada di rumah, yang
suaranya memenuhi ruangan, yang
tawanya adalah musik sehari-hari,
kini telah pergi untuk memulai
kehidupannya sendiri.
Alih-alih langsung pulang ke rumah
yang akan terasa kosong dan sunyi,
Kimmerer memutuskan untuk
pergi ke sebuah kolam. Ia duduk
di tepi kolam, menatap air yang
tenang, membiarkan perasaannya
mengalir.
Di kolam itu, ia melihat bunga lili
air. Bunga-bunga itu mengapung
dengan anggun di permukaan air.
Kelopaknya yang putih atau merah
muda kontras dengan daun-daun
hijau yang lebar. Mereka adalah
gambaran keindahan yang
sempurna. Tenang. Damai.
Seolah-olah mereka tidak punya
beban sama sekali.
Tapi Kimmerer adalah seorang
botanis. Ia tahu bahwa keindahan
yang terlihat di permukaan hanyalah
sebagian kecil dari cerita. Di bawah
air, di dasar kolam yang gelap dan
berlumpur, ada rimpang yang
kuat dan kokoh. Rimpang ini
adalah batang yang tertanam dalam
di lumpur, mencengkeram tanah
dengan kekuatan yang hampir
mustahil untuk dipatahkan. Dari
rimpang inilah semua keindahan
di permukaan berasal. Bunga yang
anggun tidak akan bisa mengapung
tanpa rimpang yang mencengkeram.
Kimmerer menjadikan bunga lili air
sebagai metafora penghiburan
di saat-saat sulit. Hidup memiliki
momen-momen sulit. Perpisahan.
Kehilangan. Kesedihan. Pada
saat-saat seperti itu, kita mungkin
merasa seperti hanyut, seperti tidak
memiliki pegangan. Tapi Kimmerer
mengingatkan bahwa seperti bunga
lili, kita juga memiliki rimpang.
Ada kekuatan yang tak terlihat
di dalam diri kita. Ada akar yang
mencengkeram. Kita mungkin tidak
melihatnya. Orang lain mungkin
tidak melihatnya. Tapi ia ada
di sana, di dasar yang paling dalam,
menopang kita untuk tetap
mengapung.
Allegiance to Gratitude:
Setia pada Rasa Syukur
Bab ini adalah refleksi Kimmerer
tentang pendidikan dan nilai-nilai.
Ia menceritakan tentang sebuah
sekolah di wilayah Onondaga,
salah satu bangsa dalam
konfederasi Haudenosaunee.
Sekolah ini memiliki praktik yang
sangat berbeda dari sekolah-sekolah
pada umumnya di Amerika.
Setiap pagi dan setiap sore, sebelum
dan sesudah jam pelajaran, para
siswa di sekolah Onondaga tidak
mengucapkan Pledge of
Allegiance atau Ikrar Kesetiaan
kepada bendera. Sebagai gantinya,
mereka mengucapkan
Thanksgiving Address, atau
Pidato Syukur. Ini adalah doa kuno
yang diwariskan secara lisan
selama ribuan tahun, yang isinya
adalah ucapan terima kasih kepada
segala sesuatu di alam semesta.
Mereka berterima kasih kepada
Bumi. Kepada Air. Kepada Ikan.
Kepada Tanaman. Kepada Pohon.
Kepada Hewan. Kepada Angin.
Kepada Matahari. Kepada Bulan.
Kepada Bintang-bintang. Kepada
Sang Pencipta. Satu per satu
disebutkan. Satu per satu diberi
penghormatan. Pidato ini bisa
berlangsung sangat lama, kadang
sampai berjam-jam, karena setiap
elemen alam didoakan secara
terpisah.
Kimmerer merenungkan perbedaan
antara Pledge of Allegiance dan
Thanksgiving Address.
Ikrar Kesetiaan adalah sumpah
kepada sebuah entitas politik.
Ia berbicara tentang bendera,
tentang republik, tentang bangsa.
Ia penting dalam konteksnya
sendiri. Tapi ia tidak berbicara
tentang hubungan dengan alam.
Thanksgiving Address, di sisi lain,
adalah sumpah kepada seluruh
komunitas kehidupan. Ia berbicara
tentang rasa syukur. Tentang
ketergantungan. Tentang rasa
hormat. Setiap pagi, sebelum
belajar apa pun, anak-anak
Onondaga diingatkan bahwa mereka
bukanlah makhluk yang terpisah dari
alam. Mereka adalah bagian dari
jalinan kehidupan yang lebih besar,
dan mereka berutang budi kepada
semua makhluk yang menopang
hidup mereka.
Kimmerer bertanya: apa yang terjadi
pada jiwa manusia jika setiap pagi,
selama bertahun-tahun, mereka
mengucapkan terima kasih kepada
air? Bagaimana perasaan mereka
terhadap air setelah mengucapkan
terima kasih ribuan kali?
Mungkinkah mereka akan lebih
sulit untuk mencemarinya?
Mungkinkah mereka akan lebih
mudah untuk menjaganya?
Bab ini adalah ajakan untuk
menanamkan rasa syukur
setiap hari. Bukan hanya sebagai
ritual formal, tapi sebagai cara hidup.
Rasa syukur, kata Kimmerer, adalah
fondasi dari hubungan yang sehat
dengan Bumi. Tanpa rasa syukur,
kita hanya akan menjadi pengambil.
Kita hanya akan melihat alam
sebagai sumber daya yang bisa
dieksploitasi. Dengan rasa syukur,
kita menjadi penerima yang rendah
hati. Kita mengakui bahwa kita
bergantung pada makhluk lain.
Kita belajar untuk memberi kembali.
versi yang sederhana:
Oke, lanjut! Kita masih di buku
Braiding Sweetgrass, dan sekarang
masuk ke bagian kedua: Merawat
Sweetgrass. Di sini Kimmerer
makin dalem nunjukin gimana
tradisi dan alam bisa jadi guru
buat hidup lo sehari-hari.
Maple Sugar Moon: Pelajaran
dari Nanabozho si Bijak yang
Jail
Di bab ini, Kimmerer ngebawa lo
ke masa ketika dunia masih baru.
Dia cerita soal Nanabozho, tokoh
dalam tradisi lisan Anishinaabe.
Bayangin dia kayak guru bijak
tapi juga tukang ngerjain.
Dulu tuh, getah pohon maple nggak
kayak sekarang. Getahnya langsung
berupa sirup kental dan manis
banget. Saking kental dan manisnya,
manusia nggak perlu kerja keras
sama sekali. Tinggal dateng
ke pohon, tusuk batangnya,
langsung ngalir deh sirupnya.
Hidup enak banget. Terlalu enak
malah.
Nanabozho ngawasin dari jauh.
Dia ngeliat sesuatu yang bikin
prihatin. Karena anugerah yang
terlalu melimpah, manusia jadi
mager total. Nggak ada lagi yang
berburu, nggak ada yang bercocok
tanam, dan yang paling parah,
nggak ada lagi yang ngadain
upacara syukur. Mereka cuma duduk
di bawah pohon maple seharian,
nyeruput sirup, dan lupa sama
semua tanggung jawab.
Nanabozho akhirnya turun tangan.
Dia pergi ke pohon-pohon maple
dan ngambil air dari sungai. Air itu
dituangin ke batang pohon, jadi deh
getah yang tadinya kental banget
berubah jadi encer. Sekarang, buat
dapetin satu galon sirup maple aja,
manusia harus ngumpulin 40 galon
getah lebih dulu. Mereka harus
nebang kayu, bikin api, dan duduk
berjam-jam jagain api biar getah
encer itu mengental.
Tindakan Nanabozho ini bukan
hukuman, gengs. Ini pelajaran.
Dengan ngincerin getah maple,
dia ngajarin manusia soal
kemungkinan dan tanggung
jawab yang berjalan beriringan.
Anugerah sirup maple masih ada.
Tapi sekarang, buat nikmatin, lo
harus terlibat, kerja keras, sabar,
dan kerja sama.
Kimmerer pakai kisah ini buat
ngerenungin hubungan kita sama
alam. Alam itu murah hati, tapi
bukan berarti lo boleh seenaknya
nyomot tanpa ngasih balik. Kerja
keras ngumpulin getah dan
merebusnya itu sendiri adalah
bagian dari ritual syukur. Rasa
manis sirup maple jadi jauh lebih
berharga karena ada peluh lo
di baliknya.
Witch Hazel: Tetangga Tua dan
Misteri Nama
Bab ini diceritain dari sudut pandang
salah satu putri Kimmerer. Ceritanya
simpel dan manis soal anak kecil yang
mencerna dunia di sekitarnya.
Di lingkungan tempat tinggal mereka,
ada tetangga tua bernama Hazel.
Dia baik hati, ramah, dan selalu
punya waktu buat ngobrol sama
anak-anak. Dia sering berkebun, dan
selalu nyapa hangat setiap anak-anak
lewat.
Tapi ada kebingungan lucu di kepala
putri Kimmerer. Sebagai anak kecil,
dia cuma pernah denger kata “hazel”
dalam satu konteks: tanaman witch
hazel. Itu tanaman obat yang terkenal.
Dalam pikirannya, kalau kata “hazel”
adalah nama tanaman, dan
tetangganya juga bernama Hazel,
berarti tetangganya pasti punya
hubungan sama tanaman itu.
Mungkin dia penyihir. Makanya
dipanggil “Witch Hazel”.
Kimmerer pakai cerita lucu ini buat
nyelam ke sesuatu yang lebih dalem.
Dia merenungin soal gimana
anak-anak itu secara alami langsung
nyambungin nama, alam, dan
manusia. Buat mereka, belum ada
pemisahan kaku antara dunia
manusia dan alam. Tetangga bisa
dinamain kayak tanaman. Tanaman
bisa punya kepribadian kayak
manusia. Semua nyambung secara
alami.
Bab ini juga tentang persahabatan
nggak terduga yang mekar lintas
generasi. Hazel si tetangga tua dan
putri Kimmerer yang masih kecil
jadi sahabat. Nggak seumuran,
nggak punya banyak kesamaan
di permukaan, tapi saling sayang.
Hazel ngasih kue, putri Kimmerer
ngasih tawa. Ini gambaran kecil
soal gimana komunitas seharusnya
berjalan: lintas generasi, lintas usia,
saling peduli.
A Mother’s Work: Merawat Itu
Kerjaan Paling Mendasar
Di bab ini, Kimmerer merenungin
perannya sebagai ibu. Bukan cuma
ibu buat anak-anaknya, tapi juga ibu
dalam arti yang lebih gede: ibu buat
komunitas, ibu buat Bumi.
Dia inget semua kerjaan
sehari-harinya. Nyiapin makanan,
bersihin rumah, ngehibur anak
nangis, ngajarin anak jalan dan
ngomong, dengerin cerita,
nenangin ketakutan. Kerjaan ini
sering diremehin, dianggep bukan
“kerjaan beneran” sama dunia
yang cuma ngukur nilai dari
duit dan status.
Tapi Kimmerer nolak keras
pandangan itu. Dia bilang merawat
adalah kerjaan paling
fundamental dan paling
penting. Tanpa ibu yang rawat,
nggak bakal ada generasi selanjutnya.
Tanpa orang yang rawat, masyarakat
bakal runtuh. Merawat adalah fondasi
nggak keliatan dari semua hal
berharga dalam hidup.
Dia narik paralel antara merawat
anak-anak dan merawat alam. Dia
ngerasa punya tanggung jawab buat
mastiin anak-anaknya tumbuh
sehat, bahagia, kuat, dan dia juga
ngerasa punya tanggung jawab yang
sama buat Bumi. Mastiin tanah
tetap subur, air tetap bersih, hutan
tetap hijau. Ini bukan dua tanggung
jawab terpisah. Ini adalah kerjaan
ibu yang sama, cuma skalanya aja
yang beda.
Kerjaan merawat, kata Kimmerer,
sering nggak keliatan. Nggak ada
yang tepuk tangan pas lo habis tiga
jam ngerebus getah maple buat
anak-anak lo. Nggak ada yang
ngasih medali buat lo yang udah
nanem pohon dan rawat sampe gede.
Tapi justru di situlah letak sakralnya.
Merawat itu dilakuin bukan buat
pengakuan, tapi karena cinta.
The Consolation of Water
Lilies: Kekuatan yang Nggak
Keliatan
Bab ini mulai dengan momen
emosional. Kimmerer baru aja
nganter anaknya ke perguruan
tinggi. Ini momen perpisahan yang
berat banget buat seorang ibu. Anak
yang selama bertahun-tahun ada
di rumah, yang suaranya penuhin
ruangan, yang tawanya jadi musik
harian, sekarang pergi buat mulai
hidup sendiri.
Bukannya langsung pulang ke rumah
yang pasti bakal berasa kosong dan
sunyi, Kimmerer malah pergi
ke sebuah kolam. Dia duduk
di pinggir, natap air yang tenang,
ngebiarin perasaannya ngalir.
Di kolam itu, dia ngeliat bunga lili
air. Bunga-bunga itu ngapung
anggun, kelopaknya putih atau
pink, kontras sama daun-daun
hijau lebar. Mereka gambaran
keindahan yang sempurna, tenang,
damai. Kayak nggak punya beban
sama sekali.
Tapi sebagai botanis, Kimmerer tahu,
keindahan di permukaan cuma
sebagian kecil dari cerita. Di bawah
air, di dasar kolam yang gelap dan
berlumpur, ada rimpang yang
kuat dan kokoh. Ini adalah batang
yang tertanam dalem di lumpur,
nyengkeram tanah dengan kekuatan
yang hampir mustahil dipatahin.
Dari rimpang inilah semua
keindahan di permukaan berasal.
Bunga yang anggun nggak bakal bisa
ngapung tanpa rimpang yang
nyengkeram.
Kimmerer menjadikan bunga lili air
ini sebagai metafora penghiburan
di saat-saat susah. Hidup lo pasti
punya momen sulit: perpisahan,
kehilangan, kesedihan. Pas lagi
kayak gitu, lo mungkin ngerasa
hanyut, kayak nggak punya pegangan.
Tapi inget, kayak bunga lili, lo juga
punya rimpang. Ada kekuatan yang
nggak keliatan di dalem diri lo. Ada
akar yang nyengkeram. Mungkin lo
nggak ngeliatnya, mungkin
orang lain juga nggak, tapi dia ada
di sana, di dasar yang paling dalem,
nopang lo buat tetap ngapung.
Allegiance to Gratitude:
Setia pada Rasa Syukur
Bab ini adalah refleksi Kimmerer soal
pendidikan dan nilai-nilai. Dia cerita
soal sebuah sekolah di wilayah
Onondaga, salah satu bangsa dalam
konfederasi Haudenosaunee. Sekolah
ini punya kebiasaan yang beda banget
dari sekolah pada umumnya
di Amerika.
Setiap pagi dan sore, sebelum dan
sesudah pelajaran, para siswa
di sekolah Onondaga nggak
ngucapin Pledge of Allegiance atau
Ikrar Kesetiaan ke bendera.
Gantinya, mereka ngucapin
Thanksgiving Address, atau
Pidato Syukur. Ini adalah doa
kuno yang diwarisin secara lisan
selama ribuan tahun, isinya cuma
satu: ucapan terima kasih
ke segala sesuatu di alam semesta.
Mereka berterima kasih ke Bumi,
ke Air, ke Ikan, ke Tanaman,
ke Pohon, ke Hewan, ke Angin,
ke Matahari, ke Bulan, ke Bintang,
ke Sang Pencipta. Satu per satu
disebut, satu per satu dihormatin.
Pidato ini bisa berlangsung lama
banget, kadang berjam-jam,
karena setiap elemen alam didoain
secara terpisah.
Kimmerer merenungin perbedaan
antara Pledge of Allegiance dan
Thanksgiving Address. Ikrar
Kesetiaan adalah sumpah
ke entitas politik, soal bendera,
republik, bangsa. Penting dalam
konteksnya sendiri, tapi nggak
ngomongin hubungan sama alam.
Thanksgiving Address, di sisi lain,
adalah sumpah ke seluruh komunitas
kehidupan. Isinya tentang rasa
syukur, ketergantungan, rasa hormat.
Setiap pagi, sebelum belajar apa pun,
anak-anak Onondaga diingetin:
lo bukan makhluk yang terpisah dari
alam, lo adalah bagian dari jalinan
kehidupan yang lebih gede, dan lo
berutang budi ke semua yang nopang
hidup lo.
Kimmerer nanya, apa yang terjadi
sama jiwa manusia kalau setiap pagi,
selama bertahun-tahun, mereka
ngucapin terima kasih ke air?
Gimana perasaan mereka ke air
setelah ngucapin terima kasih
ribuan kali? Mungkinkah mereka
bakal lebih sulit buat nyemarinnya?
Mungkinkah lebih gampang buat
menjaganya?
Bab ini ngajakin lo buat nanem rasa
syukur tiap hari. Bukan cuma ritual
formal, tapi sebagai cara hidup.
Rasa syukur, kata Kimmerer,
adalah fondasi hubungan yang
sehat sama Bumi. Tanpa rasa
syukur, lo cuma bakal jadi
pengambil, ngeliat alam sebagai
stok barang yang bisa dieksploitasi.
Dengan rasa syukur, lo jadi
penerima yang rendah hati, ngaku
kalau lo bergantung sama makhluk
lain, dan belajar buat ngasih balik.
