Buku Braiding Sweetgrass Robin Wall Kimmerer, Dr., Skywoman Falling: Kisah Penciptaan yang Berbeda

Robin Wall Kimmerer, Dr.
versi yang sederhana:
Oke, kita ganti haluan lagi. Kali ini
kita ngomongin buku yang
vibes-nya beda banget:
Braiding Sweetgrass karya Robin
Wall Kimmerer. Jangan salah, ini
bukan buku dongeng pengantar
tidur. Ini adalah perpaduan gila
antara kearifan leluhur suku asli
Amerika dan ilmu botani modern.
Kita mulai dari bagian pertama yang
judulnya Menanam Sweetgrass.
Skywoman Jatuh: Bukan Diusir,
Tapi Disambut
Kimmerer buka bukunya bukan
dengan data ilmiah yang bikin kepala
lo pusing. Dia buka dengan kisah
lama dari tradisi lisan suku
Anishinaabe, suku leluhurnya sendiri.
Ini kisah tentang Skywoman, atau
Perempuan Langit.
Ceritanya, dulu di Dunia Langit,
hiduplah Skywoman. Suatu hari,
karena suatu peristiwa, dia jatuh.
Tubuhnya meluncur deras menuju
dunia bawah yang saat itu seluruhnya
air. Nggak ada daratan sama sekali.
Cuma lautan luas yang gelap dan dalem.
Pas lagi jatuh, kawanan angsa ngeliat
dia. Mereka nggak tinggal diam kayak
orang liat kecelakaan di jalan. Mereka
terbang nyamperin, nangkep dia
pake sayap-sayap lebar mereka, dan
nahan dia biar nggak tenggelam.
Tapi masalahnya, angsa-angsa itu
nggak bisa nahan dia selamanya.
Mereka butuh tempat buat naruh
Skywoman.
Nah, di bawah air, seekor kura-kura
raksasa ngedenger keributan. Dia
muncul ke permukaan dan nawarin
punggungnya yang lebar sebagai
tempat istirahat. Skywoman pun
ditaruh di atas punggung kura-kura
dengan lembut.
Tapi masalah belum kelar. Skywoman
selamat, tapi dia butuh tanah buat
hidup. Dia butuh daratan. Maka,
hewan-hewan lain mulai pada nyelam
ke air yang gelap buat ngambil
segenggam lumpur dari dasar lautan.
Berang-berang nyoba, gagal.
Loon (sejenis burung penyelam)
nyoba, gagal. Semuanya balik
ke permukaan dengan paru-paru
mau meledak, tanpa bawa apa-apa.
Akhirnya, seekor tikus kesturi,
hewan kecil yang sering banget
diremehin, ngajuin diri. Dia nyelam.
Dia ngilang di bawah air untuk waktu
yang lama banget. Begitu lama
sampai hewan-hewan lain udah
kehilangan harapan. Akhirnya,
tubuh kecilnya muncul ke permukaan.
Dia udah nggak bernyawa. Dia udah
ngorbanin nyawanya. Tapi lo liat
tangannya yang mungil itu…
menggenggam erat segenggam
lumpur dari dasar lautan.
Skywoman ngambil lumpur itu.
Dia taruh di atas punggung kura-kura.
Lalu, dengan penuh rasa syukur dan
hormat, dia mulai menari.
Dia menari berputar-putar, dan
saat dia menari, lumpur itu mulai
menyebar. Makin lama makin luas,
makin tebal. Dari tarian Skywoman
dan segenggam lumpur pemberian
si tikus, terciptalah daratan yang
kini dikenal sebagai Pulau
Kura-Kura (Turtle Island) ,
rumah bagi semua makhluk hidup.
Nah, lo tau kan kisah Adam dan
Hawa? Di situ, manusia diusir dari
surga sebagai hukuman, terus
disuruh kuasain alam. Alam itu
sesuatu yang harus ditaklukin.
Nah, di kisah Skywoman, ceritanya
kebalik banget. Skywoman nggak
diusir, dia jatuh dan disambut.
Dia nggak sendiri, hewan-hewan
ngebantuin dia, bahkan sampe
rela berkorban. Dia nggak naklukin
alam, dia malah bikin taman
bareng-bareng sama hewan.
Ini model hubungan yang kolaboratif,
penuh syukur, dan saling bergantung.
Inilah fondasi dari seluruh isi buku ini.
The Council of Pecans:
Pohon Itu Guru Ekonomi, Bukan
Cuma Bahan Bangunan
Bab ini ngebawa lo ke masa lalu
keluarga Kimmerer sendiri. Kakeknya
tinggal di Oklahoma, setelah peristiwa
pahit pemindahan paksa penduduk
asli Amerika yang dikenal sebagai
Trail of Tears. Di masa-masa susah,
pas paceklik dan makanan langka,
keluarga kakek Kimmerer diselamatin
sama sesuatu yang keliatan simpel:
kacang pecan.
Pohon-pohon pecan ngasih panen
kacang yang melimpah, dan panen
inilah yang jadi penopang hidup
keluarga Kimmerer pas lagi
susah-susahnya. Dari sinilah
Kimmerer mulai ngeliat pohon
pecan bukan cuma sebagai sumber
kacang, tapi sebagai guru.
Lho, pohon ngajar? Iya. Pohon pecan
punya perilaku unik. Mereka tuh
nggak berbuah asal-asalan.
Di suatu daerah, semua pohon pecan
bakal berbuah secara serentak dan
melimpah di tahun yang sama.
Tahun depannya? Bisa jadi nggak
ada satu pun yang berbuah. Tahun
depannya lagi? Serentak lagi,
melimpah lagi, luar biasa banyak.
Ini dalam biologi disebut masting.
Kenapa ngelakuin ini?
Strategi ini tuh cerdas banget.
Dengan berbuah serentak dalam
jumlah gila-gilaan, mereka mastiin
tupai, burung, dan hewan pemakan
lainnya bakal kenyang duluan sebelum
semuanya habis. Jadi, bakal selalu
ada sisa kacang yang bisa tumbuh jadi
pohon baru. Ini strategi bertahan hidup.
Tapi Kimmerer ngeliat makna yang
lebih dalem. Dia ngeliat masting ini
sebagai metafora keren tentang aksi
bersama dan kesatuan tujuan.
Pohon-pohon pecan nggak saling
sikut. Mereka kerja sama. Mereka
bergerak harmonis. Dari sini,
Kimmerer ngenalin konsep ekonomi
pemberian (gift economy).
Alam tuh kerjanya berdasarkan prinsip
kemurahan hati. Pohon nggak nimbun
kacangnya. Pohon ngasih. Dan justru
kemurahan hati inilah yang bikin
semuanya bisa tetap hidup. Ini adalah
pelajaran ekonomi yang beda banget
dari ekonomi pasar yang ngajarin lo
buat kompetisi mati-matian dan
ngumpulin harta sebanyak-banyaknya.
The Gift of Strawberries:
Anugerah yang Nggak Bisa
Lo Beli
Kimmerer ngajak lo balik ke masa
kecilnya. Dia inget saat-saat dia
pergi panen stroberi liar. Di pinggir
hutan, di bawah sinar matahari yang
nyelip di antara daun,
stroberi-stroberi kecil itu tumbuh.
Ukurannya jauh lebih kecil dari yang
di toko. Tapi rasanya? Jauh lebih
manis, lebih pekat, lebih… hidup.
Pengalaman metik stroberi liar ini
yang ngebentuk pandangan
hidupnya. Dia belajar bahwa dunia
adalah anugerah yang berlimpah.
Stroberi itu nggak ditanam
siapa-siapa. Nggak ada yang beli
bibitnya. Nggak ada yang pupuk.
Stroberi itu tumbuh sendiri,
dikasih sama tanah, matahari,
hujan. Siapa pun boleh metik.
Siapa pun boleh nikmatin.
Inilah yang dimaksud ekonomi
pemberian. Hadiah itu tersedia
buat siapa aja, bukan sebagai barang
dagangan, tapi sebagai anugerah
yang lo terima dengan rasa syukur.
Dia bandingin ini sama stroberi
di supermarket. Di sana, stroberi
dijual dalam kotak plastik pake label
harga. Ditanam massal, dipetik buruh
upah murah, dikirim truk lintas
benua, dijual demi untung. Stroberi
bukan lagi anugerah, tapi udah jadi
komoditas.
Suku Potawatomi, suku leluhur
Kimmerer, nyebut stroberi liar
sebagai “heart berries” , buah hati.
Stroberi adalah simbol cinta dan
hubungan langsung dengan tanah.
Sebuah pengingat bahwa ada hal-hal
di dunia ini yang nggak bisa lo beli
pake uang. Ada anugerah yang
cuma bisa lo terima dengan hati yang
terbuka dan tangan yang bersyukur.
An Offering: Upacara Buatan
Lo Sendiri
Di bab ini, Kimmerer cerita soal
bokapnya. Setiap kali keluarganya
pergi kemping, bokapnya selalu
ngelakuin satu kebiasaan kecil yang
dulu nggak dipahami Kimmerer kecil.
Setiap pagi, abis nyeduh kopi, sang
bokap bakal nuang secangkir kopi
pertama ke tanah. Bukan tumpah,
bukan nggak sengaja. Tapi sebagai
persembahan buat dewa-dewa lokal
di tempat mereka kemping.
Awalnya Kimmerer nganggep ini
aneh. Dia pikir ini ritual “tiruan”,
sok-sokan spiritual gitu.
Buang-buang kopi enak.
Tapi makin gede, Kimmerer mulai
ngerti. Ini adalah
“upacara buatan sendiri” ,
homemade ceremony. Bukan ritual
kuno yang diwarisin turun-temurun.
Tapi lahir dari kesadaran pribadi.
Sebuah keputusan sadar buat
berhenti sejenak, ngakuin bahwa
kita bukan pemilik alam, dan
ngasih sesuatu sebagai tanda hormat
dan syukur.
Dari bokapnya, Kimmerer belajar
bahwa lo semua juga bisa bikin ritual
lo sendiri. Ritual nggak harus kuno
buat jadi bermakna. Ritual nggak
harus disetujui lembaga agama buat
jadi sakral. Yang penting tuh
niat di baliknya. Keinginan buat
terkoneksi. Kerelaan buat ngasih balik.
Asters and Goldenrod: Lo dan
Gebetan Lo Itu Kolaborasi,
Bukan Kompetisi
Bab ini pendek, tapi indah banget.
Kimmerer cerita soal dua bunga yang
sering tumbuh bareng di padang
rumput: aster (ungu) dan
goldenrod (kuning). Sekilas, cuma
bunga liar biasa. Tapi coba lo
tataplah lebih lama. Warna ungu dan
kuning, kalau ditaro sebelahan,
ciptain kontras yang begitu kuat,
sampe lebah dan kupu-kupu
langsung ngeh dari jarak jauh.
Ini bukan kebetulan, gengs. Aster
dan goldenrod secara evolusi udah
ngembangin strategi ini
bareng-bareng. Mereka beda, tapi
mereka saling melengkapi. Mereka
kerja sama buat narik penyerbuk,
dan itu untung buat keduanya.
Bab ini adalah kode keras bahwa
keindahan itu lahir dari kerja
sama dan saling
ketergantungan. Aster dan
goldenrod nggak saling sikut buat
jadi yang paling mencolok
sendirian. Mereka justru makin
kuat dan makin indah pas mereka
barengan. Ini pelajaran buat lo juga.
Kita jadi lebih indah, lebih kuat, dan
lebih bermakna pas kita kolaborasi,
bukan saling jatuhin.
Kimmerer juga nyelipin satu poin
penting soal sains. Pertanyaan
ilmiah itu nggak harus mulai dari
laboratorium atau rumus rumit.
Bisa mulai dari kekaguman
estetika. Dari ngeliat sesuatu
yang indah dan bertanya-tanya,
“Kok bisa gitu ya? Gimana caranya?”
Rasa kagum adalah pintu masuk
paling asik menuju pengetahuan.
Learning the Grammar of
Animacy: Belajar Tata Bahasa
Kehidupan
Ini dia salah satu bab yang paling
dalem dan paling personal buat
Kimmerer. Dia cerita soal usahanya
belajar bahasa leluhurnya, bahasa
Potawatomi. Ini susah banget.
Bahasanya hampir punah. Cuma
dikit yang masih bisa fasih.
Pas dia belajar, dia nemuin sesuatu
yang ngeguncang cara pandangnya
ke dunia. Dalam bahasa Inggris, lo
biasa bagi kata benda cuma jadi dua:
hidup (manusia, hewan) dan mati
(meja, batu, air). Meja itu “it”.
Air itu “it”. Seolah barang-barang
itu nggak punya jiwa.
Tapi di bahasa Potawatomi?
Pembagian ini nggak berlaku sama
sekali. Banyak banget kata yang
dalam bahasa Inggris lo anggap
“benda mati”, di bahasa Potawatomi
malah diperlakuin sebagai subjek
hidup. Pohon bukan “itu”. Pohon
adalah “seseorang”. Batu bukan
“itu”. Batu adalah “seseorang”.
Air, angin, tanah… semuanya punya
status sebagai makhluk hidup
dalam tata bahasanya.
Kimmerer nyebut ini “tata bahasa
kehidupan” (grammar of
animacy). Ini bukan sekadar aturan
teknis beda bahasa. Ini adalah cara
pandang yang sama sekali berbeda.
Ketika lo terbiasa nganggep alam
sebagai subjek hidup, lo nggak
mungkin bisa ngeksploitasi seenak
jidat. Lo nggak bisa gampang
nebang pohon, karena pohon adalah
seseorang. Lo nggak bisa seenaknya
nyemarin sungai, karena sungai
adalah seseorang. Ada tanggung
jawab moral yang muncul dari tata
bahasa kayak gini.
Belajar bahasa ini, kata Kimmerer,
bisa jadi rem buat eksploitasi alam
yang brutal. Bahasa ngebentuk
cara lo mikir. Kalau lo ubah bahasa
lo, kalau lo mulai ngomong soal
alam sebagai “siapa” dan bukan
“apa” , mungkin lo juga bakal
ngubah cara lo memperlakukan
alam. Mungkin lo bakal lebih
hormat, lebih peduli, dan inget lagi
bahwa lo itu bukan pemilik bumi,
tapi cuma bagian dari komunitas
makhluk hidup yang lebih gede.
