Hume’s Problem of Miracles: Mengapa Kita Ragu pada Cerita Keajaiban?
Pernahkah Anda mendengar seseorang berkata, “Saya sembuh dari penyakit yang katanya tidak bisa disembuhkan. Itu mukjizat.” Atau, “Saya melihat sendiri orang yang sudah meninggal hidup kembali.” Anda ingin percaya. Anda ingin kagum. Tetapi di dalam hati, ada suara kecil yang bertanya, “Apakah itu benar? Bagaimana saya tahu? Mungkin ada penjelasan lain.”
Suara kecil itu bukan suara Anda saja. Ia sudah dibahas oleh seorang filsuf Skotlandia bernama David Hume lebih dari dua ratus tahun lalu. Ia mengajukan sebuah argumen yang mengguncang cara kita menilai cerita-cerita mukjizat. Argumen itu dikenal sebagai Hume’s Problem of Miracles. Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.
Siapa Itu David Hume?
David Hume lahir pada tahun 1711 di Edinburgh, Skotlandia. Ia adalah seorang filsuf, sejarawan, dan penulis esai. Ia dikenal sebagai salah satu filsuf paling berpengaruh dalam tradisi empirisme. Ia menulis banyak buku tentang manusia, moral, pengetahuan, dan agama.
Hume adalah seorang yang sangat kritis. Ia tidak menerima sesuatu hanya karena tradisi. Ia tidak menerima sesuatu hanya karena otoritas. Ia ingin memeriksa dasar dari setiap keyakinan. Ia ingin tahu apakah keyakinan itu punya dasar yang kokoh.
Salah satu kontribusi Hume yang paling terkenal adalah analisisnya tentang mukjizat. Ia menulis tentang ini dalam bukunya yang berjudul “An Enquiry Concerning Human Understanding,” yang diterbitkan pada tahun 1748. Di dalam buku itu, ia mengajukan argumen yang sampai sekarang masih diperdebatkan.
Apa Itu Hume’s Problem of Miracles?
Hume’s Problem of Miracles adalah argumen yang mempertanyakan apakah kita bisa dibenarkan untuk percaya pada mukjizat. Hume mendefinisikan mukjizat sebagai pelanggaran terhadap hukum alam. Sesuatu yang bertentangan dengan pengalaman kita yang biasa tentang bagaimana dunia bekerja.
Hume berargumen bahwa kita tidak pernah punya bukti yang cukup untuk percaya pada mukjizat. Mengapa? Karena hukum alam didukung oleh bukti yang sangat banyak. Kita sudah melihat matahari terbit setiap hari. Kita sudah melihat air mendidih pada suhu tertentu. Kita sudah melihat orang mati tidak hidup kembali. Bukti untuk hukum alam itu sangat kuat.
Ketika seseorang mengklaim bahwa mukjizat terjadi, kita dihadapkan pada dua kemungkinan. Pertama, mukjizat itu benar-benar terjadi. Kedua, kesaksian itu salah. Mungkin orang yang melaporkan salah paham. Mungkin ia berbohong. Mungkin ia tertipu. Mungkin ada penjelasan alami yang belum ditemukan.
Hume mengatakan bahwa selalu lebih masuk akal untuk percaya bahwa kesaksian itu salah daripada percaya bahwa hukum alam dilanggar. Mengapa? Karena hukum alam didukung oleh jutaan pengamatan. Sedangkan kesaksian mukjizat hanya didukung oleh beberapa orang. Bukti untuk hukum alam jauh lebih besar daripada bukti untuk mukjizat.
Hume juga menambahkan bahwa kesaksian tentang mukjizat sering datang dari sumber yang tidak dapat dipercaya. Orang-orang yang melaporkan mukjizat mungkin punya kepentingan. Mereka mungkin ingin terkenal. Mereka mungkin ingin membela agama mereka. Mereka mungkin ingin menipu. Hume mengatakan bahwa kita harus skeptis terhadap cerita-cerita seperti itu.
Mengapa Ini Penting untuk Anda?
Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya argumen filsuf. Saya tidak peduli.” Tetapi coba lihat lagi.
Pernahkah Anda mendengar cerita tentang orang yang disembuhkan secara ajaib? Pernahkah Anda membaca berita tentang penampakan atau kejadian supranatural? Pernahkah Anda merasa ragu apakah cerita itu benar? Hume’s Problem of Miracles mengajak kita untuk berpikir kritis. Ia mengajak kita untuk tidak langsung percaya pada cerita yang menakjubkan. Ia mengajak kita untuk memeriksa bukti.
Bagi orang beriman, pertanyaan ini bisa menggoyahkan iman. Jika mukjizat tidak bisa dipercaya, bagaimana dengan mukjizat dalam kitab suci? Bagaimana dengan mukjizat yang menjadi dasar agama? Apakah kita harus meragukan semuanya?
Bagi orang yang meragukan agama, argumen Hume bisa menjadi senjata. Mereka menggunakannya untuk menunjukkan bahwa cerita-cerita mukjizat tidak bisa dipercaya. Mereka mengatakan bahwa orang beriman hanya percaya pada cerita yang tidak masuk akal.
Bagi siapa pun yang berpikir, argumen Hume mengajak kita untuk memeriksa hubungan antara iman dan akal. Apakah iman harus selalu didukung bukti? Apakah ada hal-hal yang melampaui akal? Bagaimana kita menyeimbangkan keduanya?
Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari
Seorang pria mendengar bahwa tetangganya disembuhkan dari kanker setelah berdoa. Ia ingin percaya. Ia ingin kagum. Tetapi ia juga tahu bahwa kadang kanker bisa sembuh sendiri. Kadang obat bekerja lebih lambat. Kadang diagnosis awal salah. Ia bertanya, “Apakah ini benar-benar mukjizat? Atau ada penjelasan alami?”
Seorang wanita membaca berita tentang seorang anak yang selamat dari kecelakaan yang seharusnya membunuhnya. Ia merasa bahwa itu mukjizat. Tetapi ia juga tahu bahwa kadang orang bisa selamat dari kecelakaan karena kebetulan. Karena posisi tubuh. Karena bantuan cepat. Karena keberuntungan. Ia bertanya, “Apakah ini mukjizat? Atau hanya keberuntungan?”
Seorang pengguna media sosial melihat video tentang orang yang berjalan di atas air. Ia merasa kagum. Ia ingin percaya. Tetapi ia juga tahu bahwa video bisa diedit. Bahwa ada trik sulap. Bahwa ada penjelasan ilmiah. Ia bertanya, “Apakah ini nyata? Atau hanya tipuan?”
Seorang pasien diberitahu bahwa ia tidak akan pernah bisa berjalan lagi. Setelah berbulan-bulan terapi, ia bisa berjalan. Ia merasa bahwa itu mukjizat. Tetapi dokternya mengatakan bahwa itu hasil kerja keras dan terapi yang tepat. Ia bertanya, “Apakah ini mukjizat? Atau ini hasil usaha saya?”
Seorang filsuf merenung tentang mukjizat. Ia membaca Hume. Ia menyadari bahwa mukjizat sulit dibuktikan. Tetapi ia juga menyadari bahwa hidup ini penuh misteri. Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh sains. Ada hal-hal yang melampaui akal. Ia bertanya, “Apakah saya harus menolak semua mukjizat? Atau apakah saya harus terbuka pada kemungkinan bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari hukum alam?”
Semua contoh ini menunjukkan bahwa Hume’s Problem of Miracles bukan hanya teori. Ia menyentuh iman, keraguan, dan cara kita memahami dunia.
Tiga Fase Menghadapi Hume’s Problem of Miracles
Fase pertama, Anda merasa yakin. Anda percaya pada mukjizat. Anda percaya bahwa Tuhan bisa melakukan apa saja. Anda tidak pernah mempertanyakan cerita-cerita mukjizat. Anda menerimanya begitu saja.
Fase kedua, Anda merasa ragu. Anda membaca Hume. Anda menyadari bahwa mukjizat sulit dibuktikan. Anda mulai bertanya, “Apakah cerita ini benar? Apakah ada penjelasan lain? Apakah saya terlalu mudah percaya?”
Fase ketiga, Anda mencari keseimbangan. Anda menyadari bahwa akal dan iman bisa berjalan bersama. Anda tidak perlu menolak semua mukjizat. Tetapi Anda juga tidak perlu menerima semua cerita. Anda belajar untuk memeriksa bukti. Anda belajar untuk tetap rendah hati. Anda belajar untuk percaya pada Tuhan, bukan pada setiap cerita tentang mukjizat.
Tanggapan-Tanggapan terhadap Hume’s Problem of Miracles
Hume’s Problem of Miracles tidak lepas dari kritik. Banyak filsuf dan teolog menolak atau meragukan argumen ini.
Pertama, apakah mukjizat benar-benar pelanggaran hukum alam? Mungkin mukjizat adalah bagian dari hukum alam yang lebih dalam yang belum kita pahami. Mungkin Tuhan bekerja melalui hukum alam, bukan melawannya.
Kedua, apakah bukti untuk mukjizat selalu lemah? Ada banyak kesaksian tentang mukjizat dari berbagai budaya dan zaman. Ada juga mukjizat yang dilaporkan oleh banyak saksi. Apakah semua itu bisa diabaikan?
Ketiga, apakah Hume terlalu skeptis? Jika kita menolak semua yang tidak biasa, kita mungkin menolak banyak hal yang benar. Dulu, orang menganggap bahwa bumi bulat itu mustahil. Sekarang kita tahu itu benar. Jadi, mungkin ada mukjizat yang benar, meskipun tampak mustahil.
Keempat, apakah iman butuh bukti? Bagi banyak orang, iman bukanlah tentang bukti. Iman adalah tentang kepercayaan. Iman adalah tentang hubungan dengan Tuhan. Iman melampaui akal. Jadi, argumen Hume mungkin tidak relevan bagi orang yang beriman.
Tanggapan terhadap Kritik
Pendukung Hume punya tanggapan. Mereka tidak selalu mengatakan bahwa mukjizat tidak mungkin. Mereka sering mengatakan bahwa kita harus berhati-hati.
Mereka mengatakan bahwa kita tidak boleh langsung percaya pada cerita mukjizat. Kita harus memeriksa bukti. Kita harus mencari penjelasan alami. Kita harus bertanya pada ahli. Kita harus skeptis.
Mereka juga mengatakan bahwa banyak cerita mukjizat berasal dari sumber yang tidak dapat dipercaya. Banyak yang sudah terbukti palsu. Banyak yang hanya legenda. Jadi, kita harus waspada.
Mereka juga mengatakan bahwa iman bukanlah tentang percaya pada cerita mukjizat. Iman adalah tentang percaya pada Tuhan. Mukjizat bukanlah dasar iman. Mukjizat hanyalah tanda. Iman yang sejati tidak bergantung pada mukjizat.
Cara Menyikapi Hume’s Problem of Miracles
Pertama, jangan takut pada pertanyaan. Pertanyaan sulit bukan musuh iman. Pertanyaan sulit adalah teman pertumbuhan. Semakin Anda bertanya, semakin dalam pemahaman Anda. Semakin Anda bertanya, semakin kuat iman Anda.
Kedua, periksa bukti. Ketika Anda mendengar cerita mukjizat, jangan langsung percaya. Jangan juga langsung menolak. Periksa buktinya. Tanyakan pada yang tahu. Cari penjelasan alami. Lalu putuskan.
Ketiga, bedakan antara mukjizat dan keajaiban. Mukjizat adalah pelanggaran hukum alam. Keajaiban adalah sesuatu yang menakjubkan tetapi mungkin masih dalam hukum alam. Tidak semua yang menakjubkan adalah mukjizat. Tidak semua yang tidak bisa dijelaskan adalah mukjizat.
Keempat, hargai akal. Tuhan memberi kita akal. Kita bisa berpikir. Kita bisa bertanya. Kita bisa mencari. Akal adalah anugerah. Gunakan akal untuk memahami iman. Gunakan akal untuk memeriksa bukti.
Kelima, hargai iman. Iman melampaui akal. Iman memberi kita keyakinan pada sesuatu yang lebih besar dari diri kita. Iman memberi kita harapan. Iman memberi kita kekuatan. Jangan biarkan akal menghancurkan iman. Jangan biarkan iman mengabaikan akal.
Keenam, jangan sombong. Anda tidak punya semua jawaban. Tidak ada yang punya semua jawaban. Mukjizat adalah misteri. Terimalah bahwa Anda mungkin tidak akan pernah sepenuhnya memahaminya. Terimalah bahwa Tuhan lebih besar dari pikiran Anda.
Ketujuh, fokus pada hubungan dengan Tuhan. Mukjizat bukanlah tujuan. Mukjizat adalah tanda. Yang penting adalah hubungan Anda dengan Tuhan. Apakah Anda mencintai-Nya? Apakah Anda mempercayai-Nya? Apakah Anda hidup sesuai kehendak-Nya? Itu lebih penting daripada memperdebatkan mukjizat.
Kedelapan, rendah hati. Anda tidak tahu segalanya. Anda tidak bisa membuktikan segalanya. Terimalah bahwa Anda adalah makhluk terbatas. Terimalah bahwa ada misteri yang tidak bisa dipecahkan. Hidup dengan rasa kagum. Hidup dengan rasa syukur.
Penutup
Hume’s Problem of Miracles mengajarkan satu hal yang menantang. Mukjizat sulit dibuktikan. Hukum alam didukung oleh bukti yang sangat kuat. Kesaksian tentang mukjizat sering lemah. Jadi, kita harus berhati-hati sebelum percaya pada cerita mukjizat.
Ini bisa terasa menakutkan. Jika kita tidak bisa percaya pada mukjizat, bagaimana dengan iman kita? Tetapi ini juga bisa terasa membebaskan. Kita tidak perlu percaya pada setiap cerita mukjizat. Kita tidak perlu membuktikan iman kita dengan mukjizat. Kita hanya perlu percaya pada Tuhan. Kita hanya perlu hidup dengan iman. Kita hanya perlu bersyukur.
Bagi orang beriman, mukjizat bukanlah dasar iman. Mukjizat adalah tanda kasih Tuhan. Tetapi iman yang sejati tidak bergantung pada tanda. Iman yang sejati adalah percaya pada Tuhan, bahkan ketika tidak ada mukjizat. Iman yang sejati adalah setia pada Tuhan, bahkan ketika hidup ini sulit. Iman yang sejati adalah percaya pada Tuhan, bahkan ketika doa tidak dijawab seperti yang kita inginkan.
Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah mendengar cerita mukjizat? Apakah Anda percaya? Apakah Anda meragukan? Dan jika ya, apa yang membuat Anda tetap percaya pada Tuhan? Apakah mukjizat? Apakah kitab suci? Apakah pengalaman pribadi? Apakah hubungan Anda dengan-Nya? Atau apakah Anda hanya memilih untuk percaya, karena iman adalah anugerah yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan oleh akal?
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai memeriksa bukti dan iman Anda dengan lebih bijak.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Hume’s Problem of Miracles: Kenapa Cerita Mukjizat Susah Bikin Orang Percaya?
Coba inget lagi. Lo denger cerita dari seseorang. Mungkin dari keluarga. Mungkin dari temen. Mungkin dari medsos. Mungkin dari ceramah. Ada yang bilang dia sembuh dari penyakit berat setelah didoakan. Ada yang bilang dia melihat sesuatu yang ajaib. Ada yang bilang kitab suci mencatat mukjizat. Ada yang bilang ada orang bisa berjalan di atas air. Ada yang bilang ada orang bangkit dari kematian.
Lo pengen percaya. Lo pengen percaya karena ceritanya indah. Karena ceritanya bikin harapan. Karena ceritanya bikin lo ngerasa bahwa dunia ini nggak cuma mesin dingin. Tapi di saat yang sama, ada suara di kepala lo yang nanya. “Bener nggak? Buktinya apa? Apa ada penjelasan lain? Apa gue cuma pengen percaya?”
Itulah yang dibahas filsuf Skotlandia namanya David Hume. Dia hidup di abad ke-18. Lahir 1711. Meninggal 1776. Dia filsuf. Dia sejarawan. Dia ekonom. Dia salah satu filsuf paling berpengaruh dalam sejarah. Dia nulis banyak tentang manusia, moral, pengetahuan, agama, dan politik.
Di salah satu tulisannya, dia ngebahas soal mukjizat. Tulisan itu ada di buku An Enquiry Concerning Human Understanding. Bagiannya berjudul Of Miracles. Di situ, Hume ngejelasin kenapa cerita mukjizat susah dipercaya. Bukan karena mukjizat mustahil. Bukan karena Tuhan nggak ada. Tapi karena bukti yang dipake buat mukjizat biasanya lemah.
Sebenernya Hume’s Problem of Miracles Itu Apa Sih?
Hume’s Problem of Miracles itu simpelnya gini: mukjizat itu pelanggaran hukum alam. Hukum alam didukung oleh pengalaman yang sangat luas. Cerita mukjizat didukung oleh kesaksian manusia. Dua-duanya harus ditimbang. Dan biasanya, bukti hukum alam jauh lebih kuat daripada bukti kesaksian.
Hume nggak bilang mukjizat itu nggak mungkin. Dia nggak bilang Tuhan nggak bisa bikin mukjizat. Dia cuma bilang: kalo ada orang ngaku mukjizat terjadi, kita harus nimbang. Apa yang lebih mungkin? Apa hukum alam dilanggar? Atau saksi itu salah? Atau saksi itu bohong? Atau saksi itu ketipu?
Hume nulis kalimat yang terkenal. “Tidak ada kesaksian yang cukup buat membuktikan mukjizat, kecuali kesaksian itu sedemikian rupa sehingga kebohongannya lebih ajaib daripada fakta yang mau dibuktikan.”
Maksudnya, kalo ada yang bilang, “Gue bangkit dari kematian,” maka lo harus nimbang. Apa lebih ajaib kalo orang itu beneran bangkit? Atau lebih ajaib kalo dia bohong? Atau lebih ajaib kalo dia salah? Atau lebih ajaib kalo banyak orang yang salah paham?
Hume bilang, dalam hampir semua kasus, kebohongan atau kesalahan saksi itu lebih mungkin daripada mukjizat. Karena manusia sering bohong. Manusia sering salah. Manusia sering terlalu pengen percaya. Manusia sering nambah-nambah cerita. Manusia sering ketipu.
Argumen Hume
Hume ngejelasin beberapa alasan kenapa cerita mukjizat susah dipercaya.
Pertama, hukum alam itu stabil. Matahari terbit setiap hari. Air mendidih di suhu tertentu. Batu jatuh ke bawah. Manusia mati. Semua ini terjadi terus menerus. Pengalaman kita tentang hukum alam sangat luas. Jadi, kalo ada yang bilang hukum alam dilanggar, bukti harus sangat kuat.
Kedua, kesaksian manusia itu lemah. Manusia bisa salah. Manusia bisa bohong. Manusia bisa ketipu. Manusia bisa punya kepentingan. Manusia bisa pengen terkenal. Manusia bisa pengen bikin orang percaya. Jadi, kesaksian manusia nggak bisa langsung dipercaya.
Ketiga, manusia suka hal ajaib. Hume bilang manusia punya kecenderungan buat suka cerita yang menakjubkan. Kita suka cerita yang bikin merinding. Kita suka cerita yang bikin kagum. Kita suka cerita yang bikin kita ngerasa bahwa dunia ini lebih dari sekadar biasa. Jadi, kita sering percaya cerita mukjizat tanpa mikir.
Keempat, mukjizat sering terjadi di tempat yang jauh. Hume bilang, cerita mukjizat sering datang dari tempat yang jauh. Dari zaman yang jauh. Dari budaya yang jauh. Dari orang yang nggak bisa kita periksa. Jadi, susah buat verifikasi.
Kelima, agama saling bertentangan. Hume bilang, setiap agama punya mukjizat sendiri. Kristen punya mukjizat. Islam punya mukjizat. Hindu punya mukjizat. Buddha punya mukjizat. Yahudi punya mukjizat. Tapi mukjizat satu agama sering bertentangan dengan mukjizat agama lain. Jadi, mukjizat nggak bisa jadi bukti yang kuat buat satu agama tertentu.
Keenam, saksi mukjizat sering nggak memenuhi syarat. Hume bilang, bukti mukjizat harus datang dari banyak orang. Orang yang cerdas. Orang yang terdidik. Orang yang punya integritas. Orang yang nggak punya kepentingan. Orang yang siap diperiksa. Tapi dalam kenyataan, cerita mukjizat sering datang dari sedikit orang. Dari orang yang nggak terdidik. Dari orang yang punya kepentingan. Dari orang yang nggak bisa diperiksa.
Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?
Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma filsafat abad ke-18. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Masalah ini nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.
Pertama, lo mungkin pernah denger cerita mukjizat. Dari keluarga. Dari temen. Dari medsos. Dari ceramah. Dari buku. Ada yang bilang disembuhkan. Ada yang bilang melihat sesuatu. Ada yang bilang mendapat pesan. Lo pengen percaya. Tapi lo juga ragu. Dan lo nggak tau harus gimana.
Kedua, lo mungkin pernah debat soal sains dan agama. Sains bilang hukum alam nggak bisa dilanggar. Agama bilang Tuhan bisa bikin mukjizat. Dua-duanya punya pengikut. Dua-duanya punya alasan. Dan lo nggak tau harus percaya yang mana.
Ketiga, lo mungkin pernah ngerasa bahwa iman lo bergantung pada mukjizat. Kalo mukjizat itu nggak terjadi, apakah iman lo masih kuat? Kalo mukjizat itu cuma cerita, apakah lo masih percaya? Lo mulai nanya. “Apa iman gue cuma berdiri di atas cerita yang nggak bisa dibuktiin?”
Keempat, lo mungkin pernah ngerasa bahwa lo terlalu gampang percaya. Lo baca berita. Lo liat video. Lo denger cerita. Lo langsung percaya. Lo langsung bagi. Terus ternyata hoaks. Terus lo ngerasa malu. Terus lo ngerasa bodoh. Dan lo mulai mikir. “Kok gue gampang banget percaya?”
Kelima, lo mungkin pernah ngerasa bahwa lo terlalu sinis. Lo nolak semua cerita mukjizat. Lo nolak semua yang nggak bisa dijelasin sains. Lo nolak semua yang nggak bisa diukur. Tapi di saat yang sama, lo ngerasa kosong. Lo ngerasa bahwa hidup ini cuma mesin. Lo ngerasa bahwa nggak ada yang ajaib. Dan lo mulai nanya. “Apa gue terlalu cepat nolak?”
Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh Masalah Ini
Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.
Lo pernah denger cerita mukjizat dan lo bingung harus percaya atau nggak? Itu tanda lo lagi nyentuh Hume’s Problem of Miracles.
Lo pernah debat soal sains dan agama yang nggak ada ujungnya? Itu tanda lo lagi nyentuh masalah bukti.
Lo pernah ngerasa iman lo bergantung pada mukjizat? Itu tanda lo lagi mikir soal dasar iman.
Lo pernah ngerasa terlalu gampang percaya? Itu tanda lo lagi mikir soal kesaksian.
Lo pernah ngerasa terlalu sinis? Itu tanda lo lagi mikir soal batas skeptisisme.
Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener pelik. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.
Contoh yang Bikin Lo Sadar
Di keluarga. Ada yang bilang, “Dulu kakek lo sembuh dari penyakit parah setelah didoakan.” Lo dengerin. Lo pengen percaya. Tapi lo juga mikir. Apa penyakitnya beneran parah? Apa diagnosisnya bener? Apa ada obat lain? Apa kesembuhannya cuma kebetulan? Apa ceritanya udah ditambahin dari mulut ke mulut?
Di medsos. Ada video yang bilang ada orang berjalan di atas air. Ada video yang bilang ada orang bangkit dari mati. Ada video yang bilang ada benda suci mengeluarkan cahaya. Lo liat. Lo kagum. Tapi lo juga mikir. Apa videonya diedit? Apa sudut kameranya ngecoh? Apa ada penjelasan teknologi? Apa ada penjelasan ilmiah?
Di pengobatan. Ada orang yang bilang penyakitnya hilang setelah minum ramuan tertentu. Ada yang bilang penyakitnya hilang setelah berdoa. Ada yang bilang penyakitnya hilang setelah dipijat. Lo denger. Lo pengen percaya. Tapi lo juga mikir. Apa penyakitnya beneran hilang? Apa cuma sementara? Apa cuma placebo? Apa diagnosisnya bener?
Di agama. Ada kitab suci yang nyatet mukjizat. Ada yang bilang laut terbelah. Ada yang bilang orang bangkit dari mati. Ada yang bilang air berubah jadi anggur. Lo baca. Lo pengen percaya. Tapi lo juga mikir. Apa ini catatan sejarah? Apa ini cerita simbolik? Apa ini mitos? Apa ini cerita yang ditulis ratusan tahun setelah kejadian?
Di diri lo sendiri. Lo lagi sakit. Lo berdoa. Lo minta kesembuhan. Lo pengen mukjizat. Lo pengen keajaiban. Lo pengen sesuatu yang ajaib terjadi. Tapi lo juga mikir. Apa Tuhan bakal bikin mukjizat buat gue? Apa gue cukup penting? Apa gue cukup baik? Apa mukjizat itu beneran ada?
Fase-Fase Lo Ngadepin Masalah Ini
Fase pertama: lo percaya total.
Lo denger cerita mukjizat. Lo langsung percaya. Lo nggak nanya. Lo nggak mikir. Lo nggak nimbang. Lo cuma nerima. Karena lo pengen percaya. Karena lo butuh percaya. Karena lo nggak mau ragu.
Fase kedua: lo ragu.
Lo denger Hume. Lo denger kritik. Lo denger penjelasan lain. Lo mulai mikir. Lo mulai nanya. Lo mulai nimbang. Lo mulai ngerasa bahwa nggak semua cerita mukjizat bisa dipercaya. Lo mulai bingung. Lo mulai ngerasa goyah.
Fase ketiga: lo nyari keseimbangan.
Lo mulai mikir lebih dalem. Lo mulai nimbang bukti. Lo mulai periksa saksi. Lo mulai periksa konteks. Lo mulai periksa motif. Lo mulai nemuin posisi lo sendiri. Mungkin lo tetep percaya. Mungkin lo jadi lebih skeptis. Mungkin lo ada di tengah. Yang penting, lo mulai mikir.
Kritik: Kenapa Banyak yang Nggak Setuju sama Hume?
Hume’s Problem of Miracles nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf dan teolog nolak atau ngeraguin argumen Hume.
Pertama, masalah definisi mukjizat. Hume bilang mukjizat itu pelanggaran hukum alam. Tapi apa hukum alam itu mutlak? Apa hukum alam itu cuma deskripsi dari apa yang biasanya terjadi? Kalo hukum alam cuma deskripsi, maka mukjizat bukan pelanggaran. Mukjizat cuma kejadian yang jarang.
Kedua, masalah hukum alam yang nggak mutlak. Sains modern nunjukin bahwa hukum alam nggak selalu pasti. Ada probabilitas. Ada ketidakpastian. Ada hal-hal yang nggak bisa diprediksi dengan pasti. Jadi, mukjizat mungkin bukan pelanggaran. Mungkin cuma kejadian yang probabilitasnya sangat kecil.
Ketiga, masalah kesaksian yang kuat. Hume bilang kesaksian manusia lemah. Tapi dalam banyak kasus, kesaksian manusia bisa sangat kuat. Di pengadilan, kesaksian saksi bisa ngebuktiin seseorang bersalah. Di sejarah, kesaksian banyak orang bisa ngebuktiin suatu peristiwa. Jadi, nggak semua kesaksian lemah.
Keempat, masalah prasangka naturalistik. Hume dianggap ngasumsiin bahwa alam itu tertutup. Bahwa nggak ada campur tangan dari luar. Tapi itu sendiri adalah asumsi. Bukan fakta. Kalo Tuhan ada, maka mukjizat mungkin. Kalo Tuhan bisa campur tangan, maka hukum alam bisa dilanggar.
Kelima, masalah Bayesian. Ada filsuf yang pake probabilitas Bayes. Mereka bilang, kalo Tuhan ada, maka prior probability mukjizat nggak nol. Jadi, bukti kesaksian bisa nambah probabilitas mukjizat. Hume dianggap ngabaikan ini.
Keenam, masalah konteks. Mukjizat sering terjadi dalam konteks agama. Dalam konteks iman. Dalam konteks komunitas. Jadi, nggak bisa dinilai cuma dari kesaksian individual. Ada konteks yang lebih luas.
Tanggapan dari Pendukung Hume
Pendukung Hume bilang, kritik itu valid. Tapi nggak bikin argumen Hume hilang.
Mereka bilang, Hume nggak bilang mukjizat mustahil. Dia cuma bilang bukti mukjizat harus sangat kuat. Kalo buktinya kuat, maka percaya itu rasional. Tapi biasanya, buktinya nggak kuat.
Mereka bilang, Hume nggak nolak Tuhan. Dia cuma nolak bukti mukjizat sebagai dasar iman. Dia bilang iman harus berdasarkan sesuatu yang lain. Mungkin pengalaman. Mungkin hubungan. Mungkin cinta. Bukan cuma cerita mukjizat.
Mereka bilang, Hume ngajarin kita buat hati-hati. Jangan gampang percaya. Jangan gampang ketipu. Jangan gampang dimanfaatin. Karena banyak orang pake agama buat nipu. Banyak orang pake mukjizat buat cari duit. Banyak orang pake cerita ajaib buat cari pengikut.
Mereka bilang, Hume ngajarin kita buat nimbang. Bukan buat nolak. Bukan buat percaya. Tapi buat mikir. Buat periksa. Buat nimbang.
Cara Nyikapin Hume’s Problem of Miracles Tanpa Kehilangan Akal
1. Jangan langsung percaya.
Kalo lo denger cerita mukjizat, jangan langsung percaya. Jangan langsung bagi. Jangan langsung ngeyakinin orang lain. Periksa dulu. Tanya dulu. Nimbang dulu.
2. Jangan langsung nolak.
Kalo lo denger cerita mukjizat, jangan langsung nolak. Jangan langsung bilang hoaks. Jangan langsung bilang mustahil. Mungkin ada penjelasan. Mungkin ada bukti. Mungkin ada yang bener.
3. Periksa saksi.
Siapa yang cerita? Berapa banyak? Apa mereka punya kepentingan? Apa mereka bisa dipercaya? Apa mereka siap diperiksa? Apa ada saksi lain yang independen?
4. Periksa konteks.
Kapan cerita itu muncul? Di mana? Dalam situasi apa? Apa ada konteks politik? Apa ada konteks ekonomi? Apa ada konteks sosial? Apa ada motif tersembunyi?
5. Periksa alternatif.
Apa ada penjelasan lain? Apa ada penjelasan ilmiah? Apa ada penjelasan psikologis? Apa ada penjelasan medis? Apa ada penjelasan teknologi? Jangan puas sama satu penjelasan.
6. Timbang bukti.
Apa bukti untuk mukjizat? Apa bukti untuk penjelasan biasa? Mana yang lebih kuat? Mana yang lebih masuk akal? Mana yang lebih didukung data?
7. Sadari bias lo.
Lo pengen percaya? Lo pengen nolak? Lo punya kepentingan? Lo punya prasangka? Sadari itu. Jangan biarin bias nguasain penilaian lo.
8. Dialog.
Bicarain sama orang lain. Dengerin pandangan mereka. Mungkin mereka punya info yang lo nggak punya. Mungkin mereka punya perspektif yang beda. Mungkin lo bisa belajar.
9. Rendah hati.
Lo nggak tau segalanya. Sains nggak tau segalanya. Agama nggak tau segalanya. Ada misteri yang belum terpecahin. Terimalah itu.
10. Terima ketidakpastian.
Lo nggak akan pernah bisa buktiin dengan pasti apakah suatu mukjizat beneran atau nggak. Lo cuma bisa hidup dengan ketidakpastian itu. Dan itu nggak apa-apa.
Yang Paling Lo Takutin Bukan Mukjizat
Yang paling lo takutin bukan mukjizat. Bukan keajaiban. Bukan hal yang nggak bisa dijelasin.
Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar iman lo cuma berdiri di atas cerita yang nggak bisa dibuktiin. Kalo lo sadar lo percaya cuma karena lo takut. Kalo lo sadar lo nolak cuma karena lo nggak mau mikir. Kalo lo sadar lo udah terlalu gampang percaya. Atau terlalu cepat nolak. Dan lo nggak pernah bener-bener nimbang.
Itu serem. Gue ngerti.
Tapi coba pikir lagi. Kalo lo sadar, lo bisa nimbang. Kalo lo sadar, lo bisa mikir. Kalo lo sadar, lo bisa periksa. Kalo lo sadar, lo bisa dialog. Kalo lo sadar, lo bisa nemuin iman yang lebih kokoh. Bukan iman yang cuma berdiri di atas cerita. Tapi iman yang berdiri di atas pengalaman, hubungan, dan pemahaman.
Hume’s Problem of Miracles bukan tentang ngerusak iman. Dia tentang ngajarin lo buat nimbang. Dia tentang ngajarin lo buat hati-hati. Dia tentang ngajarin lo buat jujur. Dia tentang ngajarin lo buat mikir.
Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur
Hume’s Problem of Miracles ngajarin satu hal yang menantang. Mukjizat itu pelanggaran hukum alam. Hukum alam didukung pengalaman luas. Cerita mukjizat didukung kesaksian manusia. Dua-duanya harus ditimbang. Dan biasanya, bukti hukum alam lebih kuat.
Ini bisa berasa menakutkan. Kalo mukjizat susah dipercaya, apa artinya iman? Tapi ini juga bisa berasa membebaskan. Karena kalo lo nggak bisa andelin mukjizat, lo bisa andelin hal lain. Lo bisa andelin pengalaman lo. Lo bisa andelin hubungan lo. Lo bisa andelin cinta. Lo bisa andelin hidup lo sendiri.
Jadi, gue mau nanya ke lo.
Lo pernah denger cerita mukjizat dan lo bingung harus percaya atau nggak? Lo pernah ngerasa iman lo bergantung pada mukjizat? Lo pernah ngerasa terlalu gampang percaya atau terlalu sinis?
Dan kalo iya, apa yang lo lakuin? Apa lo terus percaya? Apa lo mulai nimbang? Apa lo mulai periksa? Apa lo mulai mikir?
Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai mikir. Lo cuma harus mulai nimbang.
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai ngehargain bahwa mukjizat bukan cuma soal percaya. Tapi juga soal bukti.
