Hume’s Guillotine: Mengapa Fakta Tidak Bisa Menentukan Apa yang Seharusnya Anda Lakukan?
Pernahkah Anda mendengar seseorang berkata, “Manusia itu pada dasarnya egois. Jadi kita harus mementingkan diri sendiri.” Atau, “Sejak dulu laki-laki lebih kuat. Jadi laki-laki harus memimpin.” Atau, “Persaingan itu alami. Jadi kita harus bersaing, bukan bekerja sama.”
Argumen-argumen itu terdengar meyakinkan. Mereka menggunakan fakta tentang dunia. Mereka menggunakan pengamatan tentang apa yang terjadi. Lalu mereka melompat ke kesimpulan tentang apa yang seharusnya terjadi. Tetapi apakah lompatan itu sah? Apakah fakta bisa membenarkan moral?
Pertanyaan itu sudah dibahas oleh seorang filsuf Skotlandia bernama David Hume. Ia mengajukan sebuah prinsip yang mengguncang dasar etika. Prinsip itu kemudian dikenal sebagai Hume’s Guillotine. Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.
Siapa Itu David Hume?
David Hume lahir pada tahun 1711 di Edinburgh, Skotlandia. Ia adalah seorang filsuf, sejarawan, dan penulis esai. Ia dikenal sebagai salah satu filsuf paling berpengaruh dalam tradisi empirisme. Ia menulis banyak buku tentang manusia, moral, pengetahuan, dan agama.
Hume adalah seorang yang sangat kritis. Ia tidak menerima sesuatu hanya karena tradisi. Ia tidak menerima sesuatu hanya karena otoritas. Ia ingin memeriksa dasar dari setiap keyakinan. Ia ingin tahu apakah keyakinan itu punya dasar yang kokoh.
Salah satu kontribusi Hume yang paling terkenal adalah pengamatannya tentang bagaimana orang membuat argumen moral. Ia memperhatikan bahwa banyak penulis dan filsuf berbicara tentang Tuhan, tentang manusia, tentang masyarakat. Mereka membuat pernyataan tentang apa yang ada. Mereka membuat pernyataan tentang apa yang terjadi. Lalu tiba-tiba, mereka beralih ke pernyataan tentang apa yang seharusnya. Mereka menggunakan kata “seharusnya” tanpa menjelaskan dari mana kata itu datang.
Apa Itu Hume’s Guillotine?
Hume’s Guillotine adalah prinsip yang mengatakan bahwa Anda tidak bisa menyimpulkan apa yang seharusnya dari apa yang ada. Anda tidak bisa menyimpulkan “ought” dari “is.” Anda tidak bisa menyimpulkan kewajiban moral hanya dari fakta.
Hume menulis dalam bukunya yang berjudul “A Treatise of Human Nature,” “Saya tidak bisa tidak memperhatikan bahwa dalam setiap sistem moral yang saya temui, penulisnya untuk sementara waktu berbicara dengan cara yang biasa, membuat pengamatan tentang sifat manusia, lalu tiba-tiba saya terkejut menemukan bahwa alih-alih proposisi yang dihubungkan dengan kata ‘adalah’ dan ‘bukan,’ saya hanya menemukan proposisi yang dihubungkan dengan kata ‘seharusnya’ dan ‘tidak seharusnya.’ Perubahan ini tidak terasa, tetapi sangat penting. Karena ‘seharusnya’ atau ‘tidak seharusnya’ mengekspresikan hubungan atau penegasan baru, hubungan itu perlu dijelaskan dan dijelaskan mengapa itu bisa disimpulkan dari yang lain.”
Dengan kata lain, Hume mengatakan bahwa Anda tidak bisa melompat dari fakta ke moral tanpa jembatan. Anda butuh sesuatu yang lain. Anda butuh premis moral. Anda butuh nilai. Anda butuh tujuan. Anda butuh sesuatu yang tidak bisa ditemukan hanya dengan mengamati dunia.
Kata “guillotine” dalam nama ini adalah metafora. Ia berarti pemotong. Hume’s Guillotine memotong lompatan dari fakta ke nilai. Ia memotong argumen yang menganggap bahwa apa yang ada adalah apa yang seharusnya.
Mengapa Ini Penting untuk Anda?
Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya masalah filsuf. Saya tidak peduli.” Tetapi coba lihat lagi.
Pernahkah Anda mendengar argumen seperti ini? “Orang kaya itu berpendidikan. Jadi orang kaya seharusnya lebih dihormati.” Atau, “Orang miskin itu kurang berusaha. Jadi orang miskin seharusnya tidak dibantu.” Atau, “Perempuan itu lebih emosional. Jadi perempuan seharusnya tidak memimpin.” Atau, “Perang itu sudah ada sejak dulu. Jadi perang tidak bisa dihindari.”
Argumen-argumen ini menggunakan fakta, atau setidaknya klaim tentang fakta. Lalu mereka melompat ke kesimpulan moral. Hume’s Guillotine mengajak kita untuk memeriksa lompatan itu. Apakah lompatan itu sah? Apakah fakta benar-benar mendukung kesimpulan moral itu?
Hume’s Guillotine juga muncul dalam debat tentang hukum. “Hukum mengatakan bahwa ini benar. Jadi ini benar.” Tetapi hukum bisa salah. Hukum bisa tidak adil. Hukum bisa berubah. Fakta bahwa sesuatu legal tidak berarti sesuatu itu baik.
Hume’s Guillotine juga muncul dalam debat tentang agama. “Kitab suci mengatakan bahwa ini dosa. Jadi ini salah.” Tetapi bagaimana kita tahu bahwa kitab suci itu benar? Bagaimana kita tahu bahwa tafsir kita benar? Kita butuh alasan lain. Kita butuh premis moral yang tidak hanya berasal dari teks.
Hume’s Guillotine juga muncul dalam debat tentang sains. “Sains mengatakan bahwa manusia cenderung kompetitif. Jadi kita harus kompetitif.” Tetapi sains hanya menggambarkan. Sains tidak memerintahkan. Sains tidak memberi nilai. Kita yang memberi nilai. Kita yang memutuskan apa yang ingin kita lakukan dengan pengetahuan itu.
Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari
Seorang ayah berkata, “Anak-anak harus patuh pada orang tua. Itu sudah tradisi.” Argumen ini menggunakan fakta tentang tradisi. Tetapi apakah tradisi selalu benar? Apakah kepatuhan selalu baik? Apakah ada situasi di mana anak seharusnya tidak patuh? Hume’s Guillotine mengajak kita untuk bertanya.
Seorang manajer berkata, “Karyawan harus bekerja lembur. Itu sudah budaya perusahaan.” Argumen ini menggunakan fakta tentang budaya. Tetapi apakah budaya selalu adil? Apakah lembur selalu perlu? Apakah ada cara lain? Hume’s Guillotine mengajak kita untuk bertanya.
Seorang politisi berkata, “Negara ini mayoritas satu agama. Jadi hukum harus mengikuti agama itu.” Argumen ini menggunakan fakta tentang demografi. Tetapi apakah mayoritas selalu benar? Apakah minoritas tidak punya hak? Apakah keadilan hanya untuk mayoritas? Hume’s Guillotine mengajak kita untuk bertanya.
Seorang pengguna media sosial berkata, “Banyak orang melakukan ini. Jadi ini wajar.” Argumen ini menggunakan fakta tentang perilaku. Tetapi apakah banyak orang selalu benar? Apakah wajar selalu baik? Apakah ada perilaku yang banyak dilakukan tetapi tetap salah? Hume’s Guillotine mengajak kita untuk bertanya.
Seorang filsuf merenung tentang moral. Ia membaca tentang Hume’s Guillotine. Ia menyadari bahwa banyak argumen moral menggunakan alam sebagai dasar. Ia menyadari bahwa itu tidak cukup. Ia menyadari bahwa moral membutuhkan lebih dari sekadar fakta tentang alam.
Semua contoh ini menunjukkan bahwa Hume’s Guillotine bukan hanya teori. Ia adalah alat untuk memeriksa argumen. Ia mengajak kita untuk tidak menerima lompatan dari fakta ke moral tanpa pertanyaan.
Tiga Fase Menghadapi Hume’s Guillotine
Fase pertama, Anda merasa yakin. Anda mendengar argumen moral. Anda menerimanya begitu saja. Anda tidak memeriksa lompatan dari fakta ke moral. Anda tidak bertanya dari mana “seharusnya” itu datang.
Fase kedua, Anda meragukan. Anda mulai menyadari bahwa banyak argumen moral melompat dari fakta ke nilai. Anda mulai bertanya, “Apakah fakta ini benar-benar mendukung kesimpulan moral ini? Atau ada premis tersembunyi yang tidak diakui?”
Fase ketiga, Anda memeriksa. Anda mulai menganalisis argumen moral. Anda mencari premis yang tersembunyi. Anda mencari nilai yang mendasari. Anda menjadi lebih kritis. Anda tidak lagi menerima begitu saja.
Tanggapan-Tanggapan terhadap Hume’s Guillotine
Hume’s Guillotine tidak lepas dari kritik. Beberapa filsuf berargumen bahwa lompatan dari is ke ought bisa dilakukan, asalkan ada premis tambahan.
Misalnya, jika kita menerima premis bahwa “kita harus mengurangi penderitaan,” dan kita mengamati bahwa “tindakan X mengurangi penderitaan,” maka kita bisa menyimpulkan bahwa “kita harus melakukan X.” Tetapi premis pertama itu sendiri adalah premis moral. Ia bukan fakta. Ia adalah nilai.
Kritik lain mengatakan bahwa Hume terlalu kaku. Dalam praktik, fakta dan nilai sering terjalin. Kita tidak bisa memisahkan keduanya dengan bersih. Ketika kita mengamati sesuatu, kita sudah membawa nilai. Ketika kita menilai sesuatu, kita sudah membawa fakta.
Kritik lain mengatakan bahwa Hume’s Guillotine hanya masalah bahasa. Mungkin kita bisa merumuskan ulang pernyataan moral sehingga lompatan itu tidak terlihat. Misalnya, “Kebaikan adalah mengurangi penderitaan” adalah pernyataan yang menghubungkan fakta dan nilai. Tetapi apakah itu menyelesaikan masalah? Atau hanya menyembunyikannya?
Cara Menyikapi Hume’s Guillotine
Pertama, waspadai lompatan. Ketika Anda mendengar argumen moral, perhatikan apakah argumen itu melompat dari is ke ought. Apakah ada fakta yang digunakan untuk mendukung kesimpulan moral? Apakah ada premis moral yang diakui?
Kedua, tanyakan “mengapa.” Ketika seseorang mengatakan, “Ini seharusnya begitu,” tanyakan, “Mengapa?” Tanyakan, “Dari mana Anda mendapatkan ‘seharusnya’ itu?” Tanyakan, “Apa nilai yang mendasarinya?”
Ketiga, akui premis moral Anda. Ketika Anda membuat argumen moral, akui premis moral Anda. Jangan berpura-pura bahwa itu berasal dari fakta. Jangan berpura-pura bahwa itu objektif. Akui bahwa Anda punya nilai.
Keempat, jangan takut pada nilai. Hume’s Guillotine bukan berarti moral itu tidak mungkin. Ia berarti moral membutuhkan nilai. Nilai bukan hal yang buruk. Nilai adalah apa yang memberi arah pada hidup kita. Nilai adalah apa yang membuat kita peduli.
Kelima, bedakan antara fakta dan nilai. Fakta adalah apa yang ada. Nilai adalah apa yang kita anggap penting. Fakta bisa diuji. Nilai bisa diperdebatkan. Jangan mencampuradukkan keduanya.
Keenam, berhati-hatilah dengan klaim “alami.” Banyak argumen moral menggunakan klaim tentang alam. “Ini alami. Jadi ini baik.” Tetapi alam tidak selalu baik. Penyakit itu alami. Gempa bumi itu alami. Kematian itu alami. Apakah semua itu baik?
Ketujuh, terbuka pada dialog. Hume’s Guillotine mengajak kita untuk berdialog. Jika kita mengakui premis moral kita, kita bisa berdiskusi. Kita bisa mencari titik temu. Kita bisa belajar dari satu sama lain. Kita tidak perlu berdebat tanpa akhir.
Kedelapan, rendah hati. Anda tidak punya semua jawaban. Nilai Anda mungkin berbeda dari nilai orang lain. Itu tidak apa-apa. Yang penting adalah Anda jujur tentang nilai Anda. Yang penting adalah Anda menghormati nilai orang lain.
Penutup
Hume’s Guillotine mengajarkan satu hal yang penting. Fakta tidak cukup untuk membenarkan moral. Anda butuh nilai. Anda butuh tujuan. Anda butuh premis yang tidak bisa ditemukan hanya dengan mengamati dunia.
Ini bisa terasa menantang. Jika moral tidak bisa disimpulkan dari fakta, dari mana moral datang? Apakah moral hanya soal perasaan? Apakah moral hanya soal pilihan? Apakah moral hanya soal kekuasaan?
Tetapi ini juga bisa terasa membebaskan. Anda tidak perlu menerima moral yang diberikan begitu saja. Anda bisa memeriksa. Anda bisa bertanya. Anda bisa memilih nilai Anda sendiri. Anda bisa bertanggung jawab atas pilihan itu.
Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah mendengar argumen yang melompat dari is ke ought? Apakah Anda pernah membuat argumen seperti itu? Dan jika ya, apakah Anda sadar bahwa ada premis moral yang tersembunyi? Apakah Anda siap untuk memeriksanya?
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai memeriksa lompatan dalam argumen Anda sendiri.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Hume’s Guillotine: Kenapa “Kenyataannya Gitu” Nggak Otomatis Jadi “Harusnya Gitu”?
Coba inget lagi. Momen di mana lo lagi berantem sama seseorang. Mungkin temen. Mungkin keluarga. Mungkin rekan kerja. Lo lagi debat soal sesuatu. Lo udah ngasih fakta. Lo udah ngasih data. Lo udah ngasih bukti. Lo ngerasa argumen lo kokoh.
Terus dia jawab satu kalimat. “Ya kenyataannya gitu. Jadi ya harus gitu.”
Lo diem. Lo mikir. Lo ngerasa ada yang aneh. Tapi lo nggak bisa ngejelasin kenapa. Karena argumennya kedengeran logis. Kedengeran kuat. Kedengeran nggak bisa dibantah.
Tapi tunggu dulu. Ada yang bolong dari argumen itu. Ada yang nggak nyambung. Dan itu udah dibahas filsuf Skotlandia lebih dari dua ratus tahun lalu. Namanya Hume’s Guillotine. Dan gue jamin, setelah baca ini, lo bakal liat argumen “kenyataannya” dengan mata yang beda.
Sebenernya Hume’s Guillotine Itu Apa Sih?
Hume’s Guillotine itu simpelnya gini: nggak bisa nyimpulin apa yang “seharusnya” dari apa yang “kenyataannya.” Nggak bisa bilang sesuatu itu harus terjadi cuma karena sesuatu itu emang terjadi.
Istilah ini datang dari filsuf Skotlandia namanya David Hume. Dia hidup di abad ke-18. Lahir 1711. Meninggal 1776. Dia filsuf. Dia sejarawan. Dia ekonom. Dia salah satu filsuf paling berpengaruh dalam sejarah.
Di bukunya yang berjudul A Treatise of Human Nature, Hume bikin pengamatan yang sederhana tapi ngeguncang. Dia bilang: banyak penulis dan filsuf ngomongin Tuhan, ngomongin manusia, ngomongin masyarakat. Mereka bikin pernyataan tentang apa yang ada. Mereka bikin pernyataan tentang apa yang terjadi. Terus tiba-tiba, mereka beralih ke pernyataan tentang apa yang seharusnya. Mereka pake kata “seharusnya” tanpa ngejelasin dari mana kata itu datang.
Hume nulis, “Gue nggak bisa nggak ngeh. Dalam setiap sistem moral yang gue temuin, penulisnya ngomong dengan cara biasa, bikin pengamatan tentang sifat manusia. Terus tiba-tiba, gue kaget nemuin bahwa bukan lagi proposisi yang dihubungin sama kata ‘adalah’ dan ‘bukan.’ Tapi proposisi yang dihubungin sama kata ‘seharusnya’ dan ‘nggak seharusnya.’ Perubahan ini nggak berasa. Tapi sangat penting. Karena ‘seharusnya’ itu ngeekspresiin hubungan baru. Hubungan itu perlu dijelasin. Dan perlu dijelasin kenapa itu bisa disimpulin dari yang lain.”
Dengan kata lain, Hume bilang: lo nggak bisa nyimpulin apa yang seharusnya cuma dari apa yang ada. Lo butuh sesuatu yang lain. Lo butuh premis moral. Lo butuh nilai. Lo butuh tujuan.
Kenapa Disebut “Guillotine”?
Kata “guillotine” itu artinya alat pemotong kepala. Alat yang dipake buat eksekusi di Prancis. Kenapa Hume pake metafora itu?
Karena Hume ngegambarin pemisahan yang tajam. Pemisahan yang tegas. Pemisahan yang nggak bisa dijembatani. Antara fakta dan nilai. Antara “is” dan “ought.” Antara kenyataan dan kewajiban.
Dia kayak bilang: “Ini fakta. Ini nilai. Dua hal yang beda. Jangan campur aduk. Jangan lompat dari satu ke yang lain tanpa ngejelasin kenapa.”
Guillotine itu motong. Dia misahin. Dia nunjukin bahwa ada garis yang nggak bisa dilewatin gitu aja. Jadi, Hume’s Guillotine itu metafora buat pemisahan antara fakta dan nilai.
Bedanya Hume’s Guillotine sama Naturalistic Fallacy
Ini penting. Banyak orang nyampur aduk dua hal ini. Mereka mirip. Tapi beda.
Hume’s Guillotine itu soal lompatan logika. Lo nggak bisa nyimpulin “seharusnya” dari “kenyataan.” Lo nggak bisa bilang “orang berbohong, jadi orang harus berbohong.”
Naturalistic Fallacy yang dibahas G.E. Moore itu soal definisi. Lo nggak bisa mendefinisikan “baik” pakai istilah alami. Lo nggak bisa bilang “baik itu ya yang alami.”
Jadi, Hume ngomongin proses. Moore ngomongin definisi. Dua-duanya nunjukin bahwa moral nggak bisa direduksi jadi fakta. Tapi dengan cara yang beda.
Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?
Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma filsafat. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Hume’s Guillotine nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.
Pertama, lo mungkin pernah denger argumen yang bikin lo nggak nyaman. “Kenyataannya orang kaya lebih pinter. Jadi orang kaya harus lebih dihormati.” “Kenyataannya perempuan lebih emosional. Jadi perempuan nggak harus jadi pemimpin.” “Kenyataannya persaingan itu alami. Jadi kita harus bersaing.” Lo ngerasa ada yang salah. Tapi lo nggak bisa ngejelasin kenapa.
Kedua, lo mungkin pernah ngerasa dijebak sama argumen kayak gitu. Lo ngerasa ada yang bolong. Tapi lo nggak bisa bantah. Karena argumennya kedengeran logis. Karena fakta yang dipake keliatannya bener. Tapi ujungnya bikin lo nggak nyaman.
Ketiga, lo mungkin pernah pake argumen kayak gitu tanpa sadar. Lo bilang, “Ya emang gitu kenyataannya, jadi ya harus gitu.” Lo nggak ngeh bahwa lo lagi melompat. Lo nggak ngeh bahwa lo lagi nyembunyiin premis moral lo.
Keempat, lo mungkin pernah ngerasa nggak nyaman waktu orang lain pake argumen kayak gitu ke lo. Lo ngerasa dipojokin. Lo ngerasa dipaksa. Lo ngerasa nggak punya ruang buat mbantah. Karena argumennya keliatan kokoh. Padahal ada yang bolong.
Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh Hume’s Guillotine
Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.
Lo pernah denger argumen “kenyataannya gitu, jadi harus gitu”? Itu tanda lo lagi nyentuh Hume’s Guillotine.
Lo pernah ngerasa ada yang salah dari argumen itu? Itu tanda lo lagi mikir.
Lo pernah ngerasa dijebak sama fakta yang dipake buat maksa moral? Itu tanda lo lagi ngerasain lompatan.
Lo pernah mikir “kok kenyataan bisa jadi kewajiban?” Itu tanda lo lagi nyentuh inti masalah ini.
Lo pernah ngerasa nggak bisa bantah padahal nggak nyaman? Itu tanda lo lagi kejebak Hume’s Guillotine.
Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener pelik. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.
Contoh yang Bikin Lo Sadar
Di kerjaan. Ada yang bilang, “Kenyataannya perusahaan butuh untung. Jadi perusahaan harus ngejar untung sebanyak mungkin, walaupun harus ngorbanin karyawan.” Lo nanya, “Tapi apa fakta bahwa perusahaan butuh untung berarti perusahaan harus ngorbanin karyawan?” Dia diem. Dia nggak punya jawabannya. Karena dari fakta “butuh untung” nggak otomatis muncul kewajiban “ngorbanin karyawan.” Ada premis moral yang tersembunyi.
Di politik. Ada yang bilang, “Kenyataannya negara ini mayoritas satu agama. Jadi hukum harus ikutin agama itu.” Lo nanya, “Tapi apa fakta bahwa mayoritas satu agama berarti hukum harus ikutin agama itu?” Dia diem. Dia nggak punya jawabannya. Karena dari fakta “mayoritas” nggak otomatis muncul kewajiban “hukum harus ikutin mayoritas.” Ada premis moral yang tersembunyi.
Di keluarga. Ada yang bilang, “Kenyataannya laki-laki lebih kuat. Jadi laki-laki harus jadi pemimpin.” Lo nanya, “Tapi apa fakta bahwa laki-laki lebih kuat berarti laki-laki harus jadi pemimpin?” Dia diem. Dia nggak punya jawabannya. Karena dari fakta “lebih kuat” nggak otomatis muncul kewajiban “harus jadi pemimpin.” Ada premis moral yang tersembunyi.
Di medsos. Ada yang bilang, “Kenyataannya orang kaya lebih berpendidikan. Jadi orang kaya harus lebih dihormati.” Lo nanya, “Tapi apa fakta bahwa orang kaya lebih berpendidikan berarti orang kaya harus lebih dihormati?” Dia diem. Dia nggak punya jawabannya. Karena dari fakta “lebih berpendidikan” nggak otomatis muncul kewajiban “harus lebih dihormati.” Ada premis moral yang tersembunyi.
Di diri lo sendiri. Lo lagi mikir. Lo nanya, “Kenapa gue harus kerja keras?” Ada suara di kepala lo yang bilang, “Ya karena kenyataannya hidup itu susah. Kalo lo nggak kerja keras, lo bakal susah.” Lo diem. Lo mikir. Apa fakta bahwa hidup susah berarti lo harus kerja keras? Apa ada pilihan lain? Apa ada cara lain? Belum tentu.
Fase-Fase Lo Ngadepin Hume’s Guillotine
Fase pertama: lo nggak sadar.
Lo denger argumen “kenyataannya.” Lo terima. Lo ikutin. Lo nggak pernah nanya kenapa. Lo nggak pernah nanya apa hubungannya antara kenyataan dan kewajiban. Lo cuma jalanin.
Fase kedua: lo mulai mikir.
Lo mulai nyadar bahwa banyak argumen “kenyataan” itu nggak nyambung. Lo mulai nanya. “Kok kenyataan berarti harus?” “Kok fakta berarti kewajiban?” Lo mulai bingung. Lo mulai ngerasa ada yang aneh.
Fase ketiga: lo mulai nanya.
Lo mulai nanya ke orang lain. “Kenapa kenyataan itu penting?” “Apa bedanya kenyataan dan kewajiban?” “Apa semua yang terjadi itu harus terjadi?” Dan lo mulai nemuin bahwa banyak orang nggak punya jawabannya. Mereka cuma ngulang apa yang mereka denger. Mereka cuma ngikutin tradisi. Mereka cuma nggak mau mikir.
Kritik: Kenapa Banyak yang Nggak Setuju?
Hume’s Guillotine nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf nolak atau ngeraguin konsep ini.
Pertama, masalah premis moral. Ada yang bilang, kalo lo punya premis moral, lo bisa nyimpulin kewajiban dari fakta. Misalnya: “Kita harus ngurangin penderitaan.” “Fakta: Tindakan X ngurangin penderitaan.” “Kesimpulan: Kita harus ngelakuin X.” Tapi kritik ini sebenernya nguatin Hume. Karena premis pertama itu sendiri adalah premis moral. Bukan fakta.
Kedua, masalah fakta yang punya nilai. Ada yang bilang, beberapa fakta udah mengandung nilai. Misalnya, fakta bahwa seseorang sakit udah mengandung nilai bahwa sakit itu buruk. Jadi, dari fakta itu, kita bisa nyimpulin kewajiban buat nolong. Tapi kritik ini juga bisa dibantah. Karena “sakit itu buruk” itu sendiri adalah penilaian. Bukan fakta murni.
Ketiga, masalah praktis. Ada yang bilang, kalo kita nggak bisa nyimpulin kewajiban dari fakta, gimana kita bisa bikin keputusan moral? Gimana kita bisa bikin hukum? Gimana kita bisa hidup bersama? Tapi pendukung Hume bilang, kita tetap bisa bikin keputusan moral. Kita cuma perlu ngakui premis moral kita. Kita cuma perlu jujur tentang nilai yang kita pegang.
Keempat, masalah dikotomi fakta-nilai. Ada yang bilang, pemisahan antara fakta dan nilai itu terlalu kaku. Dalam praktik, fakta dan nilai sering terjalin. Kita nggak bisa misahin dua-duanya dengan bersih. Tapi pendukung Hume bilang, walaupun terjalin, tetap ada bedanya. Tetap ada lompatan yang perlu dijelasin.
Tanggapan dari Pendukung
Pendukung Hume’s Guillotine punya tanggapan. Mereka nggak selalu bilang konsep ini sempurna. Mereka sering bilang konsep ini penting.
Mereka bilang, Hume’s Guillotine bukan tentang nglarang moral. Dia tentang kejujuran. Kalo lo bikin argumen moral, akui premis moral lo. Jangan pura-pura bahwa itu berasal dari fakta. Jangan pura-pura bahwa itu objektif. Akui bahwa lo punya nilai.
Mereka bilang, Hume’s Guillotine ngajarin kerendahan hati. Kita nggak bisa maksa nilai kita ke orang lain dengan alasan “fakta.” Karena fakta nggak nentuin nilai. Kita cuma bisa ngajak orang lain buat diskusi. Buat cari titik temu. Buat belajar dari satu sama lain.
Mereka bilang, Hume’s Guillotine ngebebasin kita dari dogmatisme. Kita nggak perlu nerima nilai yang dikasih gitu aja. Kita bisa nanya. Kita bisa nimbang. Kita bisa milih nilai kita sendiri.
Cara Nyikapin Hume’s Guillotine Tanpa Kehilangan Akal
1. Waspadai lompatan.
Kalo lo denger argumen moral, perhatiin apa argumen itu melompat dari is ke ought. Apa ada fakta yang dipake buat mendukung kesimpulan moral? Apa ada premis moral yang diakui? Kalo nggak ada, curiga. Ada yang disembunyiin.
2. Tanya “kenapa.”
Kalo seseorang bilang, “Ini seharusnya gitu,” tanya, “Kenapa?” Tanya, “Dari mana lo dapet ‘seharusnya’ itu?” Tanya, “Apa nilai yang mendasarinya?” Jangan puas sama jawaban yang cuma ngulang fakta. Karena fakta nggak cukup.
3. Akui premis moral lo.
Kalo lo bikin argumen moral, akui premis moral lo. Jangan pura-pura bahwa itu berasal dari fakta. Jangan pura-pura bahwa itu objektif. Akui bahwa lo punya nilai. Kalo lo jujur, orang lain bakal lebih gampang ngerti posisi lo.
4. Jangan takut sama nilai.
Hume’s Guillotine bukan berarti moral itu nggak mungkin. Dia berarti moral butuh nilai. Nilai bukan hal yang buruk. Nilai adalah apa yang ngasih arah pada hidup lo. Nilai adalah apa yang bikin lo peduli. Nilai adalah apa yang bikin lo manusia.
5. Bedain antara fakta dan nilai.
Fakta adalah apa yang ada. Nilai adalah apa yang lo anggap penting. Fakta bisa diuji. Nilai bisa diperdebatkan. Jangan nyampur aduk dua-duanya. Jangan pura-pura nilai lo adalah fakta. Jangan pura-pura fakta lo adalah nilai.
6. Waspada sama klaim “alami.”
Banyak argumen moral pake klaim tentang alam. “Ini alami. Jadi ini baik.” Tapi alam nggak selalu baik. Penyakit itu alami. Gempa bumi itu alami. Kematian itu alami. Apa semua itu baik? Tentu nggak. Jadi “alami” nggak otomatis berarti “baik.”
7. Terbuka pada dialog.
Hume’s Guillotine ngajak lo buat berdialog. Kalo lo ngakui premis moral lo, lo bisa berdiskusi. Lo bisa nyari titik temu. Lo bisa belajar dari satu sama lain. Lo nggak perlu berdebat tanpa akhir. Lo nggak perlu ngerasa terancam.
8. Rendah hati.
Lo nggak punya semua jawaban. Nilai lo mungkin beda dari nilai orang lain. Itu nggak apa-apa. Yang penting lo jujur tentang nilai lo. Yang penting lo ngormatin nilai orang lain. Yang penting lo nggak maksa nilai lo ke orang lain tanpa ngejelasin kenapa.
9. Terima kalo lo nggak akan pernah punya jawaban sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa nentuin dengan pasti nilai mana yang paling bener. Lo cuma bisa hidup dengan ketidakpastian itu. Dan itu nggak apa-apa. Itu bagian dari jadi manusia.
Yang Paling Lo Takutin Bukan Fakta
Yang paling lo takutin bukan fakta. Bukan kenyataan. Bukan dunia yang keras.
Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar bahwa banyak keyakinan moral lo ternyata nggak punya dasar. Kalo lo sadar bahwa banyak aturan yang lo ikutin ternyata cuma kesepakatan yang nggak pernah lo pertanyakan. Kalo lo sadar bahwa lo udah ngikutin “seharusnya” yang orang lain tulis, bukan yang lo pilih sendiri. Kalo lo sadar lo udah ngejalanin hidup yang bukan milik lo. Cuma karena lo nggak pernah nanya kenapa.
Itu serem. Gue ngerti.
Tapi coba pikir lagi. Kalo lo sadar, lo bisa milih. Kalo lo sadar, lo bisa nimbang. Kalo lo sadar, lo bisa ngubah. Kalo lo sadar, lo bisa nentuin nilai lo sendiri. Bukan nilai yang orang lain tulis. Tapi nilai yang bener-bener milik lo.
Hume’s Guillotine bukan tentang ngerusak moral. Dia tentang ngasih lo alat buat nimbang. Dia tentang ngasih lo kebebasan buat milih. Dia tentang ngasih lo keberanian buat nanya. “Kenapa?”
Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur
Hume’s Guillotine ngajarin satu hal yang penting. Fakta nggak cukup buat mbenerin moral. Lo butuh nilai. Lo butuh tujuan. Lo butuh premis yang nggak bisa ditemuin cuma dengan ngamati dunia.
Ini bisa berasa menantang. Kalo moral nggak bisa disimpulin dari fakta, dari mana moral datang? Apa moral cuma soal perasaan? Apa moral cuma soal pilihan? Apa moral cuma soal kekuasaan?
Tapi ini juga bisa berasa membebaskan. Lo nggak perlu nerima moral yang dikasih gitu aja. Lo bisa meriksa. Lo bisa nanya. Lo bisa milih nilai lo sendiri. Lo bisa bertanggung jawab atas pilihan itu.
Jadi, gue mau nanya ke lo.
Lo pernah denger argumen yang melompat dari is ke ought? Lo pernah bikin argumen kayak gitu? Lo pernah ngerasa dijebak sama fakta yang dipake buat maksa moral?
Dan kalo iya, lo sadar nggak bahwa ada premis moral yang tersembunyi? Lo siap nggak buat meriksanya? Lo siap nggak buat jujur tentang nilai yang lo pegang?
Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai meriksa. Lo cuma harus mulai mikir.
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai meriksa lompatan dalam argumen lo sendiri.
