Egoism vs Altruism: Apakah Manusia pada Dasarnya Selfish atau Peduli?
Pernahkah Anda melihat seseorang menolong orang lain tanpa pamrih? Mungkin ia menyumbang ke panti asuhan. Mungkin ia membantu korban bencana. Mungkin ia mendonorkan darahnya. Mungkin ia menolong orang asing yang tersesat. Anda merasa kagum. Anda merasa bahwa manusia itu baik. Tetapi di sudut hati, ada suara kecil yang bertanya, “Apakah ia benar-benar tulus? Atau ia menolong karena ingin dipuji? Karena ingin merasa lebih baik? Karena ada keuntungan tersembunyi?”
Di sisi lain, pernahkah Anda melihat seseorang yang hanya mementingkan diri sendiri? Ia mengambil keuntungan tanpa peduli orang lain. Ia tidak mau berbagi. Ia tidak mau membantu. Anda merasa kesal. Anda merasa bahwa manusia itu egois. Tetapi di sudut hati, ada suara kecil yang bertanya, “Apakah ia benar-benar jahat? Atau ia hanya bertahan hidup? Bukankah setiap orang juga punya kepentingan sendiri?”
Itulah perdebatan besar antara Egoism dan Altruism. Sebuah pertanyaan tentang motif terdalam manusia. Apakah kita pada dasarnya mementingkan diri sendiri? Atau apakah kita bisa benar-benar peduli pada orang lain? Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.
Apa Itu Egoism dan Altruism?
Egoism adalah pandangan bahwa manusia pada dasarnya bertindak untuk kepentingan diri sendiri. Ada dua bentuk utama.
Yang pertama adalah egoism psikologis. Ini adalah klaim tentang fakta. Ia mengatakan bahwa semua manusia, sadar atau tidak, selalu termotivasi oleh kepentingan diri sendiri. Bahkan ketika seseorang tampak berkorban, ia sebenarnya melakukannya karena itu memberinya kepuasan, mengurangi rasa bersalahnya, atau mengharapkan imbalan di kemudian hari.
Yang kedua adalah egoism etis. Ini adalah klaim tentang moral. Ia mengatakan bahwa kita seharusnya mementingkan diri sendiri. Setiap orang berhak mengejar kepentingannya sendiri. Mengorbankan diri untuk orang lain dianggap tidak rasional atau bahkan bodoh.
Altruism adalah pandangan bahwa manusia bisa bertindak untuk kepentingan orang lain tanpa pamrih. Ada juga dua bentuk utama.
Yang pertama adalah altruism psikologis. Ini adalah klaim tentang fakta. Ia mengatakan bahwa manusia memang bisa tulus peduli pada orang lain. Seorang ibu yang melindungi anaknya, seorang tentara yang melindungi temannya, seorang donor yang menyelamatkan orang asing. Itu semua bisa terjadi tanpa motif tersembunyi.
Yang kedua adalah altruism etis. Ini adalah klaim tentang moral. Ia mengatakan bahwa kita seharusnya peduli pada orang lain. Kita seharusnya membantu. Kita seharusnya berkorban. Kepentingan orang lain sama pentingnya dengan kepentingan kita sendiri.
Mengapa Ini Penting untuk Anda?
Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya perdebatan filsuf. Saya tidak peduli.” Tetapi coba lihat lagi.
Pernahkah Anda merasa ragu ketika ada yang meminta bantuan? Anda ingin membantu. Tetapi Anda juga berpikir, “Apa untungnya bagi saya? Apa saya tidak dimanfaatkan?” Itu adalah egoism berbicara.
Pernahkah Anda merasa bersalah karena tidak membantu? Anda merasa bahwa Anda seharusnya peduli. Anda merasa bahwa Anda seharusnya berbuat lebih. Itu adalah altruism berbicara.
Pernahkah Anda melihat berita tentang orang yang menolong tanpa pamrih, lalu Anda bertanya, “Apakah ia benar-benar tulus? Atau ada kamera?” Itu adalah keraguan yang muncul dari egoism psikologis.
Pernahkah Anda melihat orang yang sangat egois, lalu Anda berpikir, “Apakah semua orang seperti ini? Apakah kebaikan itu hanya ilusi?” Itu adalah pertanyaan yang menyentuh iman kita pada manusia.
Perdebatan ini juga muncul dalam ekonomi. Apakah pasar didorong oleh kepentingan pribadi? Apakah manusia hanya mengejar keuntungan? Atau apakah ada juga motif untuk kebaikan bersama?
Perdebatan ini juga muncul dalam politik. Apakah pajak itu memaksa orang egois untuk berbagi? Apakah negara perlu memaksa altruism? Atau apakah manusia bisa peduli tanpa paksaan?
Perdebatan ini juga muncul dalam agama. Banyak agama mengajarkan kasih kepada sesama. Mengasihi tanpa pamrih. Berkorban untuk orang lain. Itu adalah altruism yang luhur. Tetapi apakah manusia benar-benar bisa melakukannya? Atau apakah kita hanya bisa melakukannya karena mengharapkan pahala?
Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari
Seorang ibu bangun tengah malam untuk menyusui anaknya. Ia lelah. Ia mengantuk. Ia bisa saja pura-pura tidak mendengar. Tetapi ia bangun. Apakah ia egois? Ia melakukannya karena ia mencintai anaknya. Tetapi ia juga melakukannya karena jika anaknya menangis, ia tidak bisa tidur juga. Jadi, ada motif egois? Atau murni altruis?
Seorang karyawan membantu rekan kerjanya yang kesulitan. Ia meluangkan waktu. Ia mengorbankan energinya. Apakah ia egois? Mungkin ia ingin dipuji atasan. Mungkin ia ingin membangun hubungan baik. Mungkin ia hanya tidak tega. Apakah motifnya murni?
Seorang pemuda menyumbangkan sebagian uangnya untuk korban bencana. Ia tidak mengenal korban. Ia tidak akan mendapat imbalan. Apakah ia egois? Mungkin ia melakukannya karena merasa senang bisa membantu. Mungkin ia melakukannya karena didikan orang tuanya. Mungkin ia melakukannya karena ingin masuk surga. Apakah itu egois?
Seorang tentara melindungi temannya dari granat. Ia mengorbankan nyawanya. Apakah ia egois? Mungkin ia melakukannya karena ingin dikenang. Mungkin ia melakukannya karena cinta pada temannya. Mungkin ia melakukannya karena naluri. Apakah itu altruism?
Seorang pengguna media sosial membagikan informasi yang bisa menyelamatkan orang lain. Ia tidak mendapat keuntungan apa pun. Ia hanya ingin membantu. Apakah ia egois? Mungkin ia melakukannya karena ingin terlihat peduli. Mungkin ia melakukannya karena benar-benar peduli.
Semua contoh ini menunjukkan bahwa motif manusia itu rumit. Kita sering tidak tahu mengapa kita melakukan sesuatu. Kita sering mencampuradukkan kepentingan diri dan kepentingan orang lain.
Tiga Fase Menghadapi Perdebatan Ini
Fase pertama, Anda merasa yakin. Anda merasa bahwa manusia itu egois. Atau Anda merasa bahwa manusia itu altruis. Anda tidak pernah mempertanyakan. Anda hanya melihat satu sisi.
Fase kedua, Anda merasa bingung. Anda membaca tentang egoism dan altruism. Anda menyadari bahwa motif manusia itu kompleks. Anda mulai bertanya, “Apakah saya egois? Apakah saya altruis? Apakah ada yang benar-benar tulus?”
Fase ketiga, Anda mencari keseimbangan. Anda menyadari bahwa manusia punya kapasitas untuk keduanya. Kita bisa egois. Kita bisa altruis. Kita bisa mencampuradukkan keduanya. Yang penting adalah kita sadar akan motif kita. Dan kita berusaha untuk lebih peduli pada orang lain.
Tanggapan-Tanggapan terhadap Egoism dan Altruism
Para filsuf dan ilmuwan sudah mencoba menjawab perdebatan ini. Tidak ada satu jawaban yang diterima semua orang.
Egoism psikologis punya argumen yang kuat. Ia mengatakan bahwa bahkan tindakan yang tampak mulia pun sebenarnya untuk kepuasan diri. Ibu yang menolong anaknya melakukannya karena ia tidak bisa tahan melihat anaknya menderita. Donor darah melakukannya karena ia merasa senang. Tentara melakukannya karena ia tidak ingin hidup dengan rasa bersalah. Jadi, selalu ada motif egois.
Kritik terhadap egoism psikologis adalah bahwa ia tidak bisa difalsifikasi. Apa pun yang dilakukan seseorang, egoism psikologis bisa mengklaim bahwa itu egois. Jika seseorang berkorban, itu karena ia ingin merasa baik. Jika seseorang tidak berkorban, itu karena ia egois. Teori yang tidak bisa salah bukanlah teori yang ilmiah.
Altruism psikologis punya argumen dari biologi evolusi. Kin selection menjelaskan mengapa kita membantu keluarga. Reciprocal altruism menjelaskan mengapa kita membantu orang yang mungkin membalas. Tetapi ada juga bukti bahwa manusia bisa membantu orang asing tanpa harapan imbalan. Penelitian tentang empati menunjukkan bahwa otak kita merespons penderitaan orang lain. Kita merasa sakit ketika melihat orang lain sakit. Itu mendorong kita untuk menolong.
Kritik terhadap altruism murni adalah bahwa mungkin tidak ada altruism yang benar-benar murni. Bahkan empati pun bisa dilihat sebagai motif egois untuk mengurangi rasa tidak nyaman kita sendiri. Kita menolong bukan karena kita peduli pada orang lain, tetapi karena kita tidak tahan melihat penderitaan mereka.
Cara Menyikapi Egoism dan Altruism
Pertama, sadari motif Anda. Ketika Anda melakukan sesuatu, tanyakan pada diri sendiri, “Mengapa saya melakukan ini? Apakah saya melakukannya untuk diri sendiri? Apakah saya melakukannya untuk orang lain? Apakah saya melakukannya karena keduanya?” Kejujuran pada diri sendiri adalah langkah pertama.
Kedua, jangan cepat menghakimi. Ketika Anda melihat seseorang berbuat baik, jangan langsung curiga ada motif tersembunyi. Ketika Anda melihat seseorang berbuat buruk, jangan langsung menganggap ia jahat. Motif manusia itu rumit. Berikan ruang untuk kebaikan.
Ketiga, latih empati. Empati bisa dilatih. Anda bisa belajar mendengarkan. Anda bisa belajar memahami perasaan orang lain. Anda bisa belajar membayangkan diri Anda di posisi mereka. Semakin Anda melatih empati, semakin mudah Anda bertindak altruis.
Keempat, bangun kerja sama. Altruism sering muncul dalam kerja sama. Ketika Anda bekerja sama dengan orang lain, Anda belajar bahwa membantu orang lain juga membantu diri sendiri. Kerja sama menciptakan rasa saling percaya. Rasa saling percaya menciptakan kebaikan.
Kelima, jangan jadikan egoism sebagai alasan. Egoism psikologis bukan alasan untuk bersikap egois. Bahkan jika semua orang punya motif egois, Anda tetap bisa memilih untuk berbuat baik. Anda tetap bisa memilih untuk peduli. Anda tetap bisa memilih untuk berkorban.
Keenam, hargai kebaikan. Ketika seseorang berbuat baik pada Anda, hargai. Ucapkan terima kasih. Balas kebaikannya. Kebaikan yang dihargai akan tumbuh. Kebaikan yang diabaikan akan layu.
Ketujuh, jangan takut dimanfaatkan. Jika Anda berbuat baik, ada risiko dimanfaatkan. Tetapi jika Anda berbuat baik dengan bijak, Anda bisa melindungi diri Anda. Anda bisa menetapkan batas. Anda bisa memilih siapa yang Anda bantu. Anda bisa memilih bagaimana Anda membantu. Kebaikan bukan berarti menjadi bodoh.
Kedelapan, rendah hati. Anda tidak punya semua jawaban. Tidak ada yang punya semua jawaban. Motif manusia itu misteri. Anda mungkin tidak akan pernah sepenuhnya memahami mengapa Anda melakukan sesuatu. Terimalah itu. Terimalah bahwa Anda adalah manusia yang rumit. Terimalah bahwa Anda membutuhkan kasih karunia.
Penutup
Egoism vs Altruism mengajarkan satu hal yang mendalam. Manusia itu rumit. Kita bisa egois. Kita bisa altruis. Kita bisa mencampuradukkan keduanya. Kita sering tidak tahu mengapa kita melakukan sesuatu. Kita sering menipu diri sendiri tentang motif kita.
Ini bisa terasa membingungkan. Jika kita tidak tahu motif kita sendiri, bagaimana kita bisa menjadi orang baik? Tetapi ini juga bisa terasa membebaskan. Kita tidak perlu sempurna. Kita tidak perlu selalu murni. Kita hanya perlu berusaha. Kita hanya perlu bertumbuh. Kita hanya perlu belajar untuk lebih peduli.
Bagi orang beriman, perdebatan ini menemukan jawabannya dalam kasih. Kasih adalah panggilan untuk peduli pada orang lain, bukan karena kita mengharapkan imbalan, tetapi karena Tuhan lebih dulu mengasihi kita. Kasih adalah anugerah. Kasih adalah kekuatan. Kasih adalah tujuan. Dalam kasih, egoism dan altruism bukan lagi pertentangan. Kasih memampukan kita untuk mencintai diri sendiri dengan sehat, dan mencintai orang lain dengan tulus.
Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah merasa ragu antara menolong dan mementingkan diri sendiri? Apakah Anda pernah bertanya apakah kebaikan Anda tulus? Dan jika ya, apa yang membuat Anda tetap berbuat baik? Apakah hati nurani Anda? Apakah didikan Anda? Apakah iman Anda? Atau apakah Anda hanya memilih untuk berbuat baik, karena itu cara terbaik untuk hidup bersama?
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai memeriksa motif dan kebaikan dalam hidup Anda.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Egoism vs Altruism: Lo Sebenernya Cuma Mikirin Diri Sendiri, atau Beneran Peduli Sama Orang Lain?
Coba inget lagi. Momen di mana lo nolong seseorang. Mungkin lo bantuin temen lo yang kesusahan. Mungkin lo donasi ke korban bencana. Mungkin lo dengerin curhatan seseorang sampe jam 2 pagi. Mungkin lo ngorbanin waktu, tenaga, atau duit buat orang lain. Lo ngerasa lo lagi ngelakuin sesuatu yang baik. Lo ngerasa lo lagi peduli. Lo ngerasa lo lagi nolong tanpa pamrih.
Terus ada suara kecil di kepala lo yang nanya. “Tapi sebenernya, lo nolong karena lo peduli? Atau karena lo pengen ngerasa baik? Karena lo pengen dipuji? Karena lo takut dianggap jahat? Karena lo pengen masuk surga? Karena lo pengen orang lain nolongin lo balik?”
Lo diem. Lo mikir. Lo nggak yakin. Karena di satu sisi, lo ngerasa tulus. Di sisi lain, lo nggak bisa nafik bahwa ada sesuatu di dalem diri lo yang pengen sesuatu. Entah itu pengakuan. Entah itu ketenangan. Entah itu imbalan. Entah itu citra diri yang baik.
Itulah perdebatan antara Egoism vs Altruism. Dan gue jamin, setelah baca ini, lo bakal liat tindakan lo sehari-hari dengan mata yang beda.
Sebenernya Egoism Itu Apa Sih?
Egoism itu pandangan yang bilang bahwa manusia pada dasarnya digerakin oleh kepentingan diri sendiri. Ada beberapa versi.
Pertama, psychological egoism. Ini klaim tentang fakta. Ini bilang bahwa semua manusia, tanpa kecuali, selalu bertindak berdasarkan kepentingan diri sendiri. Bahkan waktu lo nolong orang, lo sebenernya nolong diri sendiri. Mungkin lo nolong karena lo pengen ngerasa senang. Mungkin lo nolong karena lo nggak mau ngerasa bersalah. Mungkin lo nolong karena lo pengen dipuji. Mungkin lo nolong karena lo pengen masuk surga. Apa pun itu, motivasi lo tetap egois.
Kedua, ethical egoism. Ini klaim tentang moral. Ini bilang bahwa lo seharusnya bertindak berdasarkan kepentingan diri sendiri. Bukan karena lo nggak bisa. Tapi karena itu yang bener. Menurut pandangan ini, lo punya tanggung jawab utama buat diri lo sendiri. Kalo lo nolong orang lain, itu bagus. Tapi cuma kalo nolong orang lain bikin hidup lo lebih baik. Kalo nggak, lo nggak punya kewajiban buat nolong. Tokoh terkenal dari pandangan ini adalah Ayn Rand. Dia nulis buku kayak The Fountainhead dan Atlas Shrugged. Dia bilang bahwa altruisme itu berbahaya. Karena altruisme bikin orang ngorbanin diri buat orang lain. Dan itu bikin masyarakat lemah.
Ketiga, rational egoism. Ini bilang bahwa bertindak berdasarkan kepentingan diri sendiri itu rasional. Kalo lo rasional, lo bakal ngejar kepentingan lo sendiri. Karena cuma lo yang bisa ngerasain apa yang lo rasain. Cuma lo yang bisa tau apa yang lo butuh. Jadi, lo harus fokus pada diri lo sendiri.
Sebenernya Altruism Itu Apa Sih?
Altruism itu pandangan yang bilang bahwa manusia bisa bertindak berdasarkan kepentingan orang lain. Bahkan waktu itu ngorbanin diri sendiri. Bahkan waktu nggak ada imbalan. Bahkan waktu nggak ada pengakuan.
Ada beberapa versi.
Pertama, psychological altruism. Ini klaim tentang fakta. Ini bilang bahwa manusia bisa punya motivasi yang beneran buat nolong orang lain. Bukan cuma buat diri sendiri. Bukan cuma buat imbalan. Bukan cuma buat rasa senang. Tapi beneran karena peduli.
Kedua, ethical altruism. Ini klaim tentang moral. Ini bilang bahwa lo punya kewajiban buat nolong orang lain. Bahkan kalo itu ngorbanin diri lo. Bahkan kalo nggak ada imbalan. Bahkan kalo nggak ada pengakuan. Tokoh terkenal dari pandangan ini adalah Auguste Comte. Dia orang yang pertama kali pake istilah altruisme. Dia bilang bahwa manusia harus hidup buat orang lain. Bukan buat diri sendiri.
Ketiga, effective altruism. Ini gerakan modern. Ini bilang bahwa lo harus nolong orang lain dengan cara yang paling efektif. Bukan cuma nolong karena emosi. Tapi nolong berdasarkan data. Berdasarkan bukti. Berdasarkan hasil. Tokoh terkenal dari pandangan ini adalah Peter Singer. Dia nulis buku kayak The Life You Can Save dan The Most Good You Can Do. Dia bilang bahwa kalo lo punya lebih, lo punya kewajiban buat nolong. Karena kalo lo nggak nolong, lo bikin orang lain mati. Atau bikin orang lain menderita.
Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?
Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma debat filsuf. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Perdebatan ini nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.
Pertama, lo mungkin pernah ngerasa bingung soal motivasi lo. Kenapa lo nolong? Kenapa lo peduli? Kenapa lo ngorbanin? Apakah karena lo tulus? Apakah karena lo pengen sesuatu? Apakah karena lo pengen ngerasa baik? Apakah karena lo takut dianggap jahat? Lo nggak pernah yakin. Karena motivasi manusia itu kompleks. Nggak selalu hitam putih.
Kedua, lo mungkin pernah ngerasa dimanfaatin. Lo nolong orang. Lo bantu. Lo kasih. Lo korbankan. Tapi orang itu nggak berubah. Nggak berterima kasih. Nggak balas. Nggak peduli. Dan lo ngerasa capek. Lo ngerasa bodoh. Lo ngerasa dimanfaatin. Lo mulai mikir, “Buat apa gue nolong? Apa gunanya?”
Ketiga, lo mungkin pernah ngerasa bersalah karena nggak nolong. Lo liat orang kesusahan. Lo liat bencana. Lo liat ketidakadilan. Lo pengen nolong. Tapi lo nggak bisa. Lo nggak punya duit. Lo nggak punya waktu. Lo nggak punya tenaga. Dan lo ngerasa bersalah. Lo ngerasa egois. Lo ngerasa jahat.
Keempat, lo mungkin pernah mikir bahwa semua orang egois. Lo mulai curiga sama niat baik orang. Lo mulai mikir, “Ah, dia pasti ada maunya.” “Ah, dia pasti pengen sesuatu.” “Ah, nggak mungkin ada yang tulus.” Dan lo mulai sinis. Lo mulai nutup diri. Lo mulai nggak percaya.
Kelima, lo mungkin pernah mikir bahwa lo harus altruis total. Lo ngerasa bahwa lo harus ngorbanin segalanya buat orang lain. Lo ngerasa bahwa kepentingan lo nggak penting. Lo ngerasa bahwa lo harus ngalah terus. Dan lo mulai capek. Lo mulai hampa. Lo mulai kehilangan diri.
Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh Perdebatan Ini
Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.
Lo pernah ngerasa nggak yakin soal motivasi lo sendiri? Itu tanda lo lagi nyentuh perdebatan egoism vs altruism.
Lo pernah ngerasa dimanfaatin waktu nolong? Itu tanda lo lagi ngerasain ketegangan ini.
Lo pernah ngerasa bersalah karena nggak nolong? Itu tanda lo lagi mikir soal kewajiban.
Lo pernah mikir bahwa semua orang egois? Itu tanda lo lagi nyentuh psychological egoism.
Lo pernah mikir bahwa lo harus altruis total? Itu tanda lo lagi nyentuh ethical altruism.
Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener manusiawi. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.
Contoh yang Bikin Lo Sadar
Di keluarga. Lo bantuin orang tua lo. Lo bantuin adik lo. Lo bantuin keluarga lo. Kenapa? Karena lo sayang. Tapi juga karena lo ngerasa kewajiban. Tapi juga karena lo nggak mau ngerasa bersalah. Tapi juga karena lo pengen dianggap anak yang baik. Motivasi lo campur. Nggak cuma satu.
Di pertemanan. Lo pinjemin duit ke temen lo. Lo bantuin dia. Lo dengerin dia. Kenapa? Karena lo peduli. Tapi juga karena lo pengen dia ada buat lo waktu lo butuh. Tapi juga karena lo pengen dipuji. Tapi juga karena lo nggak mau dianggap pelit. Motivasi lo campur.
Di kerjaan. Lo bantuin rekan kerja lo. Lo lembur buat nyelesaiin proyek. Lo sharing ilmu. Kenapa? Karena lo pengen tim lo sukses. Tapi juga karena lo pengen bos lo liat. Tapi juga karena lo pengen naik jabatan. Tapi juga karena lo nggak mau dianggap nggak kerja sama. Motivasi lo campur.
Di donasi. Lo donasi ke bencana. Lo bantu korban. Lo kasih ke yatim. Kenapa? Karena lo terharu. Tapi juga karena lo pengen ngerasa berguna. Tapi juga karena lo pengen masuk surga. Tapi juga karena lo nggak mau ngerasa bersalah. Motivasi lo campur.
Di medsos. Lo share konten kebaikan. Lo bantu campaign. Lo ajak orang buat donasi. Kenapa? Karena lo peduli. Tapi juga karena lo pengen dibilang baik. Tapi juga karena lo pengen citra lo bagus. Tapi juga karena lo pengen ngerasa bahwa lo bagian dari solusi. Motivasi lo campur.
Di diri lo sendiri. Lo lagi mikir. Lo lagi nimbang. Lo lagi nanya. Apa lo egois? Apa lo altruis? Apa lo cuma ngerasa altruis padahal sebenernya egois? Apa lo cuma ngerasa egois padahal sebenernya altruis? Jawabannya nggak gampang. Karena motivasi manusia itu berlapis. Nggak bisa disederhanain jadi satu.
Fase-Fase Lo Ngadepin Egoism vs Altruism
Fase pertama: lo ngerasa altruis.
Lo ngerasa bahwa lo nolong tanpa pamrih. Lo ngerasa bahwa lo peduli. Lo ngerasa bahwa lo tulus. Lo nggak pernah nanya kenapa. Lo cuma jalanin.
Fase kedua: lo mulai ngeraguin.
Ada yang nanya. Ada yang ngritik. Ada yang bilang, “Ah, lo mah cuma pengen pahala.” “Ah, lo mah cuma pengen dipuji.” “Ah, lo mah cuma pengen ngerasa baik.” Lo mulai mikir. Lo mulai nanya. Lo mulai ngeraguin diri lo sendiri.
Fase ketiga: lo mulai nimbang.
Lo mulai ngeh bahwa motivasi lo campur. Ada egoisnya. Ada altruisnya. Ada yang tulus. Ada yang nggak. Ada yang buat orang lain. Ada yang buat diri sendiri. Dan lo mulai nerima. Bahwa lo nggak harus sempurna. Bahwa lo cuma manusia. Bahwa lo bisa punya banyak motivasi sekaligus.
Kritik: Kenapa Banyak yang Bilang Psychological Egoism Itu Salah?
Psychological egoism nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf dan psikolog nolak atau ngeraguin pandangan ini.
Pertama, masalah definisi. Kalo semua tindakan disebut egois, maka istilah egois jadi nggak berguna. Kalo nolong karena peduli disebut egois, dan nolong karena pengen pahala disebut egois, apa bedanya? Istilah egois jadi kehilangan makna.
Kedua, masalah bukti. Banyak bukti bahwa manusia bisa beneran altruis. Ada orang yang ngorbanin nyawa buat orang lain. Ada orang yang nolong tanpa pengakuan. Ada orang yang ngasih tanpa imbalan. Apa itu egois? Kalo iya, apa yang nggak egois?
Ketiga, masalah motivasi campur. Manusia punya banyak motivasi. Bisa egois. Bisa altruis. Bisa dua-duanya sekaligus. Psychological egoism nyederhanain semua jadi egois. Padahal kenyataannya lebih kompleks.
Keempat, masalah moral. Kalo semua orang egois, apa artinya moral? Apa artinya kebaikan? Apa artinya pengorbanan? Kalo semuanya cuma kamuflase, maka moral cuma ilusi.
Kelima, masalah pengalaman. Kita ngerasain bahwa kita bisa peduli. Kita ngerasain bahwa kita bisa tulus. Kita ngerasain bahwa kita bisa nolong tanpa pamrih. Kalo pengalaman itu ilusi, kenapa terasa nyata?
Kritik: Kenapa Banyak yang Bilang Altruism Itu Naif?
Altruism juga nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf dan psikolog nolak atau ngeraguin pandangan ini.
Pertama, masalah manusia. Manusia punya batas. Manusia punya kebutuhan. Manusia punya kepentingan. Kalo lo altruis total, lo bakal hancur. Lo bakal capek. Lo bakal hampa. Lo bakal kehilangan diri.
Kedua, masalah efektivitas. Kalo lo altruis tanpa mikir, lo bisa ngerugiin diri sendiri dan orang lain. Lo bisa nolong orang yang nggak butuh. Lo bisa nolong dengan cara yang salah. Lo bisa nolong tapi malah bikin masalah baru.
Ketiga, masalah keadilan. Kalo lo altruis terus, orang lain bisa jadi manja. Orang lain bisa jadi nggak mandiri. Orang lain bisa jadi nggak bertanggung jawab. Altruism bisa bikin ketergantungan.
Keempat, masalah eksploitasi. Kalo lo altruis, orang lain bisa manfaatin lo. Orang lain bisa ambil keuntungan dari kebaikan lo. Orang lain bisa pake lo. Dan lo nggak bisa ngelawan. Karena lo ngerasa harus nolong.
Kelima, masalah moral. Kalo lo nggak nolong, apa lo jahat? Kalo lo nolong, apa lo baik? Apa moral cuma soal ngorbanin diri? Apa moral nggak ngasih ruang buat diri lo sendiri?
Jalan Tengah: Egoism dan Altruism Bisa Jalan Bareng
Banyak filsuf dan psikolog bilang bahwa egoism dan altruism bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Dua-duanya bisa jalan bareng.
Pertama, enlightened self-interest. Ini bilang bahwa lo bisa ngejar kepentingan diri lo, tapi dengan cara yang juga nguntungin orang lain. Lo nolong orang, dan lo juga dapet manfaat. Lo ngasih, dan lo juga dapet kebahagiaan. Lo berkorban, dan lo juga dapet makna.
Kedua, reciprocal altruism. Ini bilang bahwa manusia nolong karena ada timbal balik. Lo nolong orang, dan suatu hari orang nolong lo. Ini bukan egois murni. Ini juga bukan altruis murni. Ini campuran. Dan ini yang bikin kerja sama manusia bertahan.
Ketiga, empati. Ini bilang bahwa manusia punya kemampuan buat ngerasain apa yang orang lain rasain. Empati bikin lo peduli. Empati bikin lo nolong. Empati bukan egois. Tapi juga bukan altruis murni. Empati adalah jembatan.
Keempat, nilai. Ini bilang bahwa manusia punya nilai. Nilai bukan cuma soal untung rugi. Nilai bukan cuma soal imbalan. Nilai bikin lo nolong karena lo percaya itu bener. Bukan karena lo pengen sesuatu.
Kelima, keseimbangan. Ini bilang bahwa lo harus nimbang. Lo nggak boleh egois total. Lo nggak boleh altruis total. Lo harus cari keseimbangan. Lo harus peduli sama diri lo. Lo juga harus peduli sama orang lain. Dua-duanya penting.
Cara Nyikapin Egoism vs Altruism Tanpa Kehilangan Akal
1. Akui bahwa motivasi lo campur.
Lo nggak perlu malu. Lo nggak perlu ngerasa bersalah. Motivasi manusia itu kompleks. Ada egoisnya. Ada altruisnya. Ada yang tulus. Ada yang nggak. Akui aja. Itu langkah pertama.
2. Jangan hakimin diri lo sendiri.
Lo nggak perlu ngerasa bahwa lo harus altruis total. Lo nggak perlu ngerasa bahwa lo jahat karena punya kepentingan. Lo cuma manusia. Manusia punya kebutuhan. Manusia punya batas. Manusia punya diri.
3. Jangan hakimin orang lain.
Lo nggak perlu curiga sama semua niat baik. Lo nggak perlu mikir bahwa semua orang egois. Lo nggak perlu sinis. Karena kalo lo sinis, lo bakal kehilangan kepercayaan. Lo bakal kehilangan koneksi.
4. Cari keseimbangan.
Lo nggak perlu egois total. Lo nggak perlu altruis total. Cari keseimbangan. Peduli sama diri lo. Peduli sama orang lain. Dua-duanya penting. Dua-duanya perlu.
5. Bedain antara nolong dan ngorbanin diri.
Nolong itu baik. Tapi nolong bukan berarti ngorbanin diri total. Lo bisa nolong tanpa kehilangan diri. Lo bisa bantu tanpa hancur. Lo bisa ngasih tanpa kehabisan.
6. Jangan nolong karena pengen dipuji.
Kalo lo nolong karena pengen dipuji, lo bakal kecewa. Karena orang lain nggak selalu ngasih pujian. Tapi kalo lo nolong karena lo peduli, lo nggak butuh pujian. Lo cuma butuh nolong.
7. Jangan nolong karena takut bersalah.
Kalo lo nolong karena takut bersalah, lo bakal capek. Karena rasa bersalah nggak pernah cukup. Tapi kalo lo nolong karena lo pengen, lo nggak butuh rasa bersalah. Lo cuma butuh kemauan.
8. Hargai kebaikan kecil.
Lo nggak perlu nolong semua orang. Lo nggak perlu nyelametin dunia. Lo cuma perlu nolong satu orang. Satu aja. Kebaikan kecil tetap kebaikan. Nggak perlu gede. Nggak perlu heroik.
9. Terima bahwa lo nggak akan pernah tau motivasi lo sepenuhnya.
Motivasi manusia itu berlapis. Lo nggak akan pernah bisa ngejelasin kenapa lo nolong. Lo nggak akan pernah bisa ngejelasin kenapa lo peduli. Lo cuma bisa nerima. Dan nerima itu cukup.
10. Hidup dengan nilai.
Yang paling penting bukan apakah lo egois atau altruis. Yang paling penting adalah apakah lo hidup dengan nilai. Apakah lo hidup dengan integritas. Apakah lo hidup dengan cara yang bisa lo pertanggungjawabkan. Itu yang bikin hidup lo berarti.
Yang Paling Lo Takutin Bukan Egois
Yang paling lo takutin bukan egois. Bukan altruis. Bukan salah satu.
Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar lo nggak pernah tau kenapa lo nolong. Kalo lo sadar lo nggak pernah tau kenapa lo peduli. Kalo lo sadar lo nggak pernah tau apakah lo tulus. Kalo lo sadar lo cuma ngerasa tulus. Tapi sebenernya nggak. Dan lo nggak bisa ngebuktiin. Dan lo nggak bisa ngubah. Dan lo harus hidup dengan ketidakpastian itu.
Itu serem. Gue ngerti.
Tapi coba pikir lagi. Kalo lo nggak pernah tau, itu artinya lo harus terus nanya. Terus nimbang. Terus belajar. Terus tumbuh. Dan itu bukan hal yang buruk. Itu bagian dari jadi manusia.
Egoism vs Altruism bukan tentang bikin lo bingung. Dia tentang nunjukin bahwa motivasi manusia itu kompleks. Dia tentang nunjukin bahwa lo nggak harus sempurna. Dia tentang nunjukin bahwa lo bisa punya banyak sisi. Dan itu nggak apa-apa.
Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur
Egoism vs Altruism ngajarin satu hal yang menantang. Apakah manusia pada dasarnya egois? Apakah manusia bisa beneran altruis? Apakah lo nolong karena lo peduli? Apakah lo nolong karena lo pengen sesuatu? Apakah semua kebaikan cuma kamuflase? Apakah semua pengorbanan cuma investasi?
Ini bisa berasa menakutkan. Kalo semua cuma egois, apa artinya moral? Tapi ini juga bisa berasa membebaskan. Karena kalo lo nggak harus sempurna, lo bisa lebih santai. Lo bisa lebih jujur. Lo bisa lebih nerima diri lo sendiri.
Jadi, gue mau nanya ke lo.
Lo pernah ngerasa bingung soal motivasi lo sendiri? Lo pernah ngerasa dimanfaatin waktu nolong? Lo pernah ngerasa bersalah karena nggak nolong? Lo pernah mikir bahwa semua orang egois?
Dan kalo iya, apa yang lo lakuin? Apa lo terus nolong? Apa lo mulai mikir? Apa lo mulai nimbang? Apa lo mulai cari keseimbangan?
Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai mikir. Lo cuma harus mulai nanya.
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai ngehargain bahwa motivasi lo nggak sesederhana yang lo kira.
