HOW TO TAP INTO THE MOTHERLODE
Dalam bagian ini, Jen Sincero
membahas sesuatu yang sering
disalahpahami sebagai konsep
“terlalu new-age”. Banyak orang
menyebutnya Tuhan. Ada yang
menyebutnya semesta, Mother Earth,
faith, bahkan sekadar kebetulan yang
terasa magis. Namun bagi Sincero,
nama tidaklah penting.
Ia menyebutnya Source Energy
— energi tak terlihat yang melimpah
dan selalu ada di sekitar kita.
Yang menarik, Source Energy bukanlah
konsep mistis yang jauh dari
kehidupan nyata. Dalam penjelasan
yang lebih praktis, Source Energy
adalah kesadaran penuh
(mindfulness). Ia adalah
kemampuan untuk menyadari pikiran
bawah sadar kita, mengendalikan
perhatian, mengarahkan pikiran, dan
menenangkan batin. Dengan kata lain,
ini tentang bagaimana kita terhubung
dengan diri sendiri secara sadar dan
utuh.
Source Energy sebagai
Mindfulness
Sincero menekankan bahwa Source
Energy bukan sesuatu yang harus
dicari di luar diri. Ia bukan sesuatu
yang datang dari langit secara ajaib.
Ia adalah keadaan ketika kita
benar-benar hadir.
Ketika kita mampu:
Menyadari pikiran bawah sadar,
Mengontrol arah perhatian,
Mengelola isi pikiran,
Dan menenangkan diri,
maka kita sedang membuka akses
menuju “motherlode”
— tambang emas energi batin yang
melimpah.
Masalahnya, sebagian besar dari kita
hidup dalam autopilot. Pikiran kita
melompat dari satu kekhawatiran
ke kekhawatiran lain. Kita lebih fokus
pada hambatan dibanding tujuan.
Kita lebih sering bereaksi dibanding
menyadari. Di sinilah latihan
menjadi penting.
Meditasi: Gerbang Awal
Mengakses Sumber Energi
Menurut Sincero, semuanya
dimulai dari meditasi.
Bagi yang sudah terbiasa, mereka
tahu apa yang harus dilakukan.
Namun bagi yang belum pernah
mencoba, langkahnya sangat
sederhana:
Duduk tegak dalam posisi nyaman.
Tutup mata.
Biarkan pikiran yang muncul berlalu
tanpa dilawan.
Fokus pada napas.
Tujuannya bukan untuk
“tidak berpikir sama sekali”,
melainkan menjaga pikiran tetap
sejernih mungkin. Saat pikiran
mulai tenang, kita bisa merasakan
koneksi yang lebih dalam dengan
Source Energy.
Meditasi menjadi latihan untuk:
Mengurangi kebisingan mental,
Melepaskan distraksi,
Dan menciptakan ruang hening
tempat energi itu bisa dirasakan.
Dalam keheningan itulah kita mulai
menyadari bahwa kita bukan korban
pikiran kita. Kita adalah pengarahnya.
Menjadi Penguasa Pikiran Sendiri
Setelah meditasi, langkah berikutnya
adalah mengambil alih kendali pikiran.
Sincero menegaskan bahwa pikiran
menentukan realitas. Jika pikiran
terus diarahkan pada hambatan, maka
hambatan akan terasa semakin besar.
Jika pikiran diarahkan pada tujuan,
maka fokus dan energi akan menguat
ke arah itu.
Ini bukan sekadar berpikir positif
secara dangkal. Ini adalah disiplin
mental.
Mengalihkan pikiran dari:
“Bagaimana kalau gagal?”
menjadi“Bagaimana kalau berhasil?”
Mengganti:
“Ini sulit”
menjadi“Ini menantang dan bisa dipelajari”
Dengan sadar mengarahkan pikiran,
kita sedang menyelaraskan diri dengan
Source Energy.
Menghubungi Diri Masa Kecil
yang Tak Takut Apa Pun
Taktik pertama dalam
“Source Energy 101”
adalah kembali terhubung
dengan diri kecil kita.
Diri yang dulu:
Tidak takut bermimpi besar,
Tidak takut terlihat aneh,
Tidak takut gagal,
Tidak membatasi diri dengan
logika orang dewasa.
Anak kecil tidak berkata,
“Ah, sepertinya ini tidak realistis.”
Mereka berkata,
“Kenapa tidak?”
Menghubungi kembali diri masa kecil
berarti menghidupkan lagi keberanian
alami dan imajinasi tanpa batas. Itu
adalah energi murni sebelum dunia
mengajarkan ketakutan.
Gratitude dan Forgiveness:
Membersihkan Energi Negatif
Taktik kedua adalah membangun
kebiasaan bersyukur dan memaafkan.
Saat kita menyimpan dendam atau
kebencian terhadap seseorang,
perhatian kita tersita. Energi kita
terkuras untuk memikirkan
orang lain. Kita tidak sedang fokus
pada pertumbuhan diri, melainkan
pada luka.
Sincero menyarankan untuk:
Melepaskan resentmen,
Membiarkan negativitas mencair,
Menggantikannya dengan
rasa syukur.
Salah satu latihan konkret adalah
menuliskan 10 hal yang patut
disyukuri setiap hari. Ini bukan
sekadar formalitas. Ini adalah latihan
melatih otak untuk melihat
kelimpahan, bukan kekurangan.
Ketika rasa syukur menjadi kebiasaan,
pikiran menjadi lebih ringan. Energi
menjadi lebih jernih. Dan koneksi
dengan Source Energy menjadi lebih
kuat.
Memberi dan Menerima:
Mengalirkan Energi Baik
Taktik ketiga adalah prinsip memberi
dan menerima.
Jika ingin menarik energi baik, kita
harus terlebih dahulu mengirim
energi baik. Energi tidak statis.
Ia mengalir.
Bentuknya bisa sederhana:
Mendukung sebuah tujuan
yang baik,Menyumbangkan waktu atau
uang,Memberi tip sedikit lebih
banyak,Tersenyum,
Memberi pujian,
Membuat orang tertawa.
Intinya adalah pay it forward
— menyebarkan kebaikan tanpa
perhitungan sempit.
Ketika kita memberi, kita menegaskan
kepada diri sendiri bahwa kita hidup
dalam kelimpahan. Dan ketika kita
percaya pada kelimpahan, kita selaras
dengan Source Energy.
Menyentuh Motherlode
Mengakses motherlode bukan tentang
ritual rumit. Ia tentang:
Menenangkan pikiran melalui
meditasi,Mengendalikan arah pikiran,
Menghidupkan kembali
keberanian masa kecil,Membiasakan syukur dan
memaafkan,Mengalirkan energi baik
melalui tindakan nyata.
Semua itu adalah praktik sadar untuk
menyelaraskan diri dengan energi tak
terlihat yang selalu ada.
Dan setelah kita berhasil mengetuk
pintu sumber energi itu, perjalanan
belum selesai. Justru di sanalah
langkah berikutnya dimulai
— bagaimana menghadapi dan
mengatasi “Bullsh*t.” kita sendiri.
Namun sebelum masuk ke tahap itu,
fondasi ini harus kuat: koneksi dengan
Source Energy. Karena dari sanalah
kekuatan perubahan berasal.
Meditasi untuk Mengakses
Source Energy
Situasi:
Seseorang merasa cemas karena target
hidupnya terasa jauh dan pikirannya
terus dipenuhi keraguan.
Penerapan:
Ia meluangkan waktu 10–15 menit
setiap pagi. Duduk tegak di kursi,
menutup mata, dan fokus pada napas.
Saat pikiran seperti
“bagaimana kalau gagal?”
muncul, ia tidak melawannya,
hanya membiarkannya lewat
dan kembali ke napas.
Hasil yang dicari:
Pikiran menjadi lebih tenang.
Ia mulai menyadari bahwa ia bisa
mengamati pikirannya tanpa
dikendalikan olehnya. Dari
ketenangan itu, muncul rasa percaya
diri yang lebih stabil, koneksi dengan
Source Energy terasa lebih jelas.
Mengambil Alih Kendali Pikiran
Situasi:
Seseorang ingin memulai proyek baru,
tetapi terus memikirkan hambatan:
kurang modal, kurang pengalaman,
takut ditolak.
Penerapan:
Setiap kali pikiran negatif muncul,
ia sengaja mengarahkannya ulang:
Dari:
“Aku belum siap.”Menjadi:
“Aku bisa belajar sambil jalan.”
Dari: “Banyak pesaing.”
Menjadi: “Ini berarti pasarnya ada.”
Ia melatih pikirannya untuk tetap
fokus pada tujuan, bukan pada
rintangan.
Hasil yang dicari:
Energi mental tidak lagi habis untuk
ketakutan. Fokus berpindah ke solusi
dan langkah konkret.
Terhubung dengan Diri Masa
Kecil
Situasi:
Seseorang merasa hidupnya monoton
dan tidak berani bermimpi besar lagi.
Penerapan:
Ia menuliskan pertanyaan:
“Apa yang dulu ingin kulakukan saat
kecil tanpa takut dinilai?”
Ia mengingat bahwa dulu ia ingin
berbicara di depan banyak orang dan
menginspirasi. Maka ia mulai dari
langkah kecil: berbagi ide
di komunitas kecil atau media sosial.
Hasil yang dicari:
Keberanian alami yang dulu ada mulai
muncul kembali. Ia bertindak bukan
dari ketakutan, tetapi dari rasa ingin
mencoba.
Gratitude dan Forgiveness
Situasi:
Seseorang masih menyimpan dendam
pada rekan kerja lama yang pernah
menjatuhkannya.
Penerapan:
Ia menyadari bahwa memikirkan
orang tersebut hanya menguras
energinya. Ia memilih untuk
melepaskan resentmen itu secara
sadar.
Setiap malam, ia menuliskan 10 hal
yang ia syukuri hari itu, bahkan hal
kecil seperti udara pagi, makanan,
atau percakapan menyenangkan.
Hasil yang dicari:
Fokus berpindah dari luka
ke kelimpahan. Pikiran terasa lebih
ringan dan energi lebih bersih.
Memberi dan Menerima
Situasi:
Seseorang merasa hidupnya stagnan
dan merasa “kurang beruntung”.
Penerapan:
Ia mulai melakukan tindakan sederhana:
Memberi tip sedikit lebih banyak.
Membantu teman tanpa diminta.
Memberi pujian tulus.
Menyumbangkan waktu untuk
kegiatan sosial.
Ia melatih diri untuk mengirim energi
positif lebih dulu, tanpa menunggu
balasan.
Hasil yang dicari:
Ia mulai merasakan perubahan
suasana hati dan hubungan sosial.
Memberi membuatnya merasa
cukup, bukan kekurangan.
Integrasi Keseluruhan
Penerapan bab ini bukan tentang
satu tindakan besar, melainkan
kombinasi:
Menenangkan pikiran lewat
meditasi,Mengarahkan pikiran pada
tujuan,Menghidupkan kembali
keberanian masa kecil,Membiasakan syukur dan
memaafkan,Mengalirkan energi baik lewat
tindakan nyata.
Dengan praktik konsisten, seseorang
tidak lagi merasa terputus atau
sendirian menghadapi hidup.
Ia merasa terhubung, selaras, dan lebih
percaya diri, seolah telah menemukan
“motherlode” dalam dirinya sendiri.
