buku

HOW TO GET OVER YOUR BS ALREADY

Melepaskan Cerita Lama dan
Berhenti Menyabotase Diri Sendiri

Bagian ini berbicara tentang satu hal
yang sangat mendasar: berhenti hidup
dari cerita lama yang membatasi diri.
Seperti bagian lain dalam buku ini,
langkah yang ditekankan adalah
melepaskan kisah-kisah negatif yang
selama ini membingkai realitas.
Cerita tentang kegagalan, tentang
ketidakmampuan, tentang
“aku memang begini dari dulu”
— semua itu bukan fakta mutlak,
melainkan narasi yang terus diulang.

Ketika seseorang terus fokus pada sisi
negatif, ia tanpa sadar membangun
realitas yang sesuai dengan
keyakinannya sendiri. Padahal, realitas
bisa diciptakan ulang. Cara berpikir
bisa diganti. Sudut pandang bisa
diubah. Dan ketika cerita internal
berubah, arah hidup pun ikut berubah.
Intinya sederhana: berhenti
memelihara kisah yang melemahkan
diri.

Berhenti Menunda dan Mengakui
Bentuk Sabotase Diri

Penundaan sering terlihat sepele,
padahal ia adalah bentuk sabotase diri
yang paling mudah dan paling halus.
Kita sebenarnya tahu apa yang perlu
dilakukan. Kita tahu langkah apa yang
harus diambil. Namun alih-alih
melakukannya, kita memilih menunggu
momen yang terasa “lebih tepat”.

Padahal, menunda hanyalah cara aman
untuk menghindari ketidaknyamanan.
Energi yang seharusnya dipakai untuk
bertindak justru habis untuk membuat
alasan. Daripada menghabiskan waktu
memikirkan mengapa sesuatu tidak
bisa dilakukan, arahkan energi itu
untuk mulai melakukannya. Tindakan,
sekecil apa pun, selalu lebih kuat
daripada alasan.

Menghapus Alasan-Alasan
Umum yang Terasa Masuk Akal

Ada beberapa alasan klasik yang sering
muncul: tidak punya cukup waktu,
terlalu banyak yang harus dikerjakan,
atau merasa terlalu lelah.
Alasan-alasan ini terdengar logis dan
sulit dibantah. Namun sering kali, itu
hanyalah pola yang terbentuk dari
kebiasaan lama.

Ketika waktu dan energi dikelola
dengan lebih sadar, alasan tersebut
mulai terlihat sebagai konstruksi
yang selama ini diterima begitu saja.
Mengontrol waktu berarti memilih
prioritas. Mengontrol energi berarti
sadar pada apa yang benar-benar
penting. Ketika kontrol itu diambil
kembali, alasan-alasan tadi
kehilangan kekuatannya.

Menghadapi dan Membalik Rasa
Takut

Langkah terakhir adalah melepaskan
rasa takut. Takut untuk melangkah
maju. Takut keluar dari zona nyaman.
Takut pada kemungkinan terburuk
yang bahkan belum tentu terjadi.

Jika melihat ke belakang, sebagian
besar hal yang dulu ditakuti ternyata
tidak pernah benar-benar terjadi.
Banyak kekhawatiran hanya hidup
di dalam pikiran. Cara lain yang bisa
dilakukan adalah mengidentifikasi
secara spesifik apa yang sebenarnya
ditakuti. Setelah itu, ubah sudut
pandangnya. Balik ketakutan itu dan
jadikan ia alat pendorong, bukan
penghambat.

Ketakutan tidak selalu harus
dihilangkan. Kadang cukup dipahami,
dihadapi, lalu diarahkan agar bekerja
untuk kita.

Bagian ini menegaskan bahwa
perubahan tidak selalu membutuhkan
strategi rumit. Ia sering kali dimulai
dari keberanian untuk menghentikan
kebiasaan lama: berhenti mengulang
cerita negatif, berhenti menunda,
berhenti berlindung di balik alasan,
dan berhenti dikuasai rasa takut.
Ketika itu dilakukan, ruang untuk
menciptakan realitas baru terbuka
dengan sendirinya.

Berikut contoh

Mengganti Cerita Lama yang
Membatasi

Kasus:
Seseorang selalu berkata pada dirinya
sendiri, “Saya memang tidak berbakat
bisnis. Dari dulu selalu gagal.”

Penerapan:
Ia menyadari bahwa kalimat itu
hanyalah cerita lama yang terus
diulang. Ia berhenti mengulang narasi
tersebut dan menggantinya dengan
sudut pandang baru: kegagalan
sebelumnya adalah pengalaman belajar,
bukan bukti ketidakmampuan.
Alih-alih fokus pada kegagalan masa
lalu, ia mulai bertanya: langkah kecil
apa yang bisa saya lakukan hari ini
untuk membangun usaha dengan cara
berbeda? Dari situ, ia mulai
membangun realitas baru lewat
tindakan nyata.

Berhenti Menunda dan
Langsung Bertindak

Kasus:
Seseorang ingin mulai menulis buku,
tetapi terus menunggu waktu luang
yang sempurna.

Penerapan:
Ia menyadari bahwa penundaan
hanyalah bentuk sabotase diri yang
terasa aman. Daripada memikirkan
alasan “belum siap” atau “masih
kurang referensi”, ia menetapkan
target menulis 300 kata per hari.
Energi yang biasanya dipakai untuk
membuat alasan kini dialihkan untuk
benar-benar menulis. Hasilnya
bukan kesempurnaan, tetapi kemajuan.

Menghapus Alasan “Tidak Ada
Waktu” dan “Terlalu Lelah”

Kasus:
Seseorang ingin berolahraga, tetapi
selalu berkata tidak punya waktu dan
sudah terlalu capek setelah bekerja.

Penerapan:
Ia mulai mengevaluasi penggunaan
waktunya. Ternyata ada waktu 30–45
menit yang selama ini habis untuk
aktivitas yang tidak prioritas.
Ia mengatur ulang jadwal dan mulai
dengan olahraga ringan 3 kali
seminggu. Dengan mengelola waktu
dan energi lebih sadar, alasan yang
dulu terasa mutlak ternyata bisa
dipatahkan.

Menghadapi dan Membalik
Ketakutan

Kasus:
Seseorang takut berbicara di depan
umum karena khawatir akan
mempermalukan diri sendiri.

Penerapan:
Ia menuliskan secara spesifik apa
yang sebenarnya ditakuti: takut
salah bicara, takut dinilai bodoh.
Lalu ia membalik perspektifnya:
bagaimana jika kesempatan ini justru
membuatnya berkembang? Ia mulai
dari audiens kecil dan terus melatih
diri.
Ia menyadari bahwa sebagian besar
skenario buruk yang dibayangkan
tidak pernah terjadi. Ketakutan itu
tidak hilang sepenuhnya, tetapi kini
menjadi dorongan untuk bertumbuh.

Inti penerapan bab ini sederhana:

  • Sadari cerita lama yang
    membatasi.

  • Hentikan penundaan yang
    menyamar sebagai alasan.

  • Ambil kembali kendali atas
    waktu dan energi.

  • Hadapi ketakutan dengan sudut
    pandang baru.

Perubahan tidak dimulai dari motivasi
besar, tetapi dari keputusan untuk
berhenti menyabotase diri sendiri
hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *