Harry Harlow dan Eksperimen Kasih Sayang
Harry Harlow adalah seorang psikolog
Amerika yang bekerja di University of
Wisconsin. Pada pertengahan abad
ke-20, ada pandangan yang sangat
kuat dalam psikologi tentang
hubungan antara ibu dan anak.
Pandangan ini didominasi oleh para
behavioris dan didukung oleh para
dokter anak. Mereka percaya bahwa
bayi mencintai ibunya karena ibu
adalah sumber makanan. Ikatan
antara ibu dan anak, menurut
pandangan ini, hanyalah efek
samping dari proses pemberian
makan. Ibu adalah “lemari makan”
yang kebetulan memiliki wajah
yang ramah.
Harlow curiga bahwa penjelasan ini
terlalu sederhana dan mungkin
sepenuhnya salah. Ia merancang
serangkaian eksperimen yang
sekarang dianggap klasik, meskipun
juga kontroversial secara etis, untuk
menguji gagasan ini. Eksperimen ini
secara fundamental mengubah cara
kita memahami cinta, kelekatan,
dan pengasuhan.
Desain Eksperimen: Ibu Kawat
dan Ibu Kain
Harlow menggunakan bayi monyet
rhesus sebagai subjek eksperimennya.
Ia memisahkan bayi-bayi monyet ini
dari ibu kandung mereka segera
setelah lahir, dan membesarkan
mereka dengan dua “ibu” buatan.
Kedua ibu buatan ini dirancang
dengan sangat hati-hati untuk
mengisolasi variabel yang ingin diuji.
“Ibu” yang pertama terbuat dari
kawat. Tubuhnya hanyalah rangka
kawat logam yang dingin dan keras.
Sebuah botol susu dipasang di dada
ibu kawat ini. Jadi, ibu kawat
menyediakan makanan, kebutuhan
paling dasar untuk bertahan hidup.
Tapi ia tidak menyediakan apa pun
selain itu.
“Ibu” yang kedua terbuat dari kain
yang lembut dan hangat.
Tubuhnya dilapisi dengan kain terry
yang empuk, mirip handuk mandi.
Di dalamnya ada lampu pijar yang
memberikan kehangatan. Tapi ibu
kain ini tidak memiliki botol susu.
Ia tidak menyediakan makanan
sama sekali.
Dengan dua ibu buatan ini, Harlow
menciptakan pilihan yang sangat jelas
bagi bayi-bayi monyet. Ibu kawat
memberikan makanan, tapi tidak
nyaman. Ibu kain memberikan
kenyamanan, tapi tidak memberikan
makanan. Jika teori behavioris benar
bahwa ikatan ibu-anak didasarkan
pada makanan, maka bayi-bayi
monyet seharusnya menghabiskan
sebagian besar waktu mereka bersama
ibu kawat. Seharusnya itulah yang
terjadi. Tapi Harlow menemukan
hasil yang sangat berbeda.
Hasil: Contact Comfort Lebih
Penting dari Makanan
Apa yang terjadi membuat Harlow
dan seluruh dunia psikologi
tercengang. Bayi-bayi monyet
menghabiskan hampir seluruh waktu
mereka bergelantungan pada ibu
kain yang lembut.
Mereka memeluk ibu kain itu. Mereka
tidur di dekatnya. Mereka tampak
mencari kenyamanan dan keamanan
dari sentuhan lembut itu.
Ketika mereka lapar, mereka akan
pergi ke ibu kawat. Mereka akan
menyusu dengan cepat,
kadang-kadang hanya dalam posisi
di mana tubuh mereka masih bisa
menyentuh ibu kain dengan kaki
belakang mereka. Begitu perut mereka
terisi, mereka segera kembali ke ibu
kain. Mereka tidak tinggal lebih lama
dari yang diperlukan di dekat ibu
kawat.
Apa yang ditunjukkan oleh
eksperimen ini? Harlow menyebut
temuan ini sebagai contact comfort,
atau kenyamanan kontak fisik. Bayi
monyet memiliki kebutuhan biologis
yang mendalam akan sentuhan fisik
yang lembut dan hangat. Kebutuhan
ini bukanlah efek samping dari
kebutuhan makan. Ia adalah
kebutuhan yang berdiri sendiri, sama
pentingnya dengan makanan itu
sendiri.
Eksperimen Lanjutan:
Rasa Takut dan Keamanan
Harlow melanjutkan eksperimennya
untuk menguji seberapa kuat ikatan
ini. Ia menempatkan bayi-bayi
monyet dalam situasi yang
menakutkan untuk melihat ke mana
mereka akan pergi mencari keamanan.
Dalam satu eksperimen, Harlow
memperkenalkan benda asing yang
menakutkan ke dalam kandang,
seperti robot mainan yang
bergerak-gerak dan mengeluarkan
suara keras. Bayi monyet yang
ketakutan akan segera berlari
ke ibu kain. Mereka memeluknya
erat-erat. Setelah beberapa saat
dalam pelukan ibu kain, rasa takut
mereka mereda. Mereka mulai
tenang. Bahkan, setelah cukup
tenang, mereka mulai menunjukkan
perilaku yang luar biasa. Mereka
akan berbalik dan menghadapi
benda menakutkan itu,
kadang-kadang bahkan
mendekatinya untuk menyelidiki.
Ketika ibu kain tidak ada di dalam
kandang, reaksi bayi monyet
terhadap benda menakutkan itu
sangat berbeda. Mereka akan
meringkuk di sudut, gemetar, dan
tidak bergerak. Mereka tidak berani
menjelajah. Mereka tidak bisa
menenangkan diri sendiri.
Apa yang terjadi ketika ibu kawat
yang tersedia sebagai satu-satunya
sumber keamanan? Bayi-bayi monyet
itu tidak pergi ke ibu kawat untuk
mencari kenyamanan. Mereka tetap
meringkuk di sudut, sama seperti
ketika tidak ada ibu sama sekali.
Ibu kawat yang dingin dan keras,
meskipun memberikan makanan,
tidak memberikan keamanan
emosional.
Eksperimen ini menunjukkan bahwa
fungsi seorang ibu bukan hanya
sebagai penyedia makanan.
Ia adalah basis yang aman
(secure base) dari mana seorang
anak bisa menjelajahi dunia.
Kehadiran ibu yang memberikan
kenyamanan fisik memberi anak
keberanian untuk menghadapi
hal-hal baru dan menakutkan.
Tanpa basis yang aman ini, anak
menjadi penakut dan tidak mampu
mengeksplorasi lingkungannya.
Dampak Isolasi Sosial
Eksperimen Harlow memiliki sisi
yang sangat gelap yang menunjukkan
betapa pentingnya kasih sayang
di awal kehidupan. Beberapa bayi
monyet dibesarkan dalam isolasi
total, tanpa ibu buatan sama sekali,
tanpa kontak dengan monyet lain,
selama berbulan-bulan. Dampaknya
sangat mengerikan.
Ketika akhirnya diperkenalkan
ke monyet lain, monyet-monyet yang
dibesarkan dalam isolasi ini tidak
bisa berfungsi secara sosial. Mereka
meringkuk di sudut,
menggoyang-goyangkan tubuh
mereka, melukai diri sendiri, dan
tidak tahu bagaimana berinteraksi
dengan monyet lain. Beberapa dari
mereka begitu ketakutan dan agresif
sehingga tidak bisa mendekati
monyet lain. Monyet betina yang
dibesarkan dalam isolasi dan
kemudian menjadi ibu tidak tahu
bagaimana merawat bayinya sendiri.
Beberapa mengabaikan bayi mereka.
Yang lain secara aktif menyakiti atau
bahkan membunuh bayi mereka
sendiri.
Harlow menyimpulkan bahwa ada
periode kritis di awal kehidupan
untuk perkembangan sosial dan
emosional. Jika seekor monyet tidak
mendapatkan kasih sayang dan
kontak sosial selama periode ini,
kerusakan yang terjadi mungkin
bersifat permanen dan tidak bisa
diperbaiki.
Implikasi Eksperimen Harlow
Eksperimen Harlow, meskipun
kontroversial karena kekejamannya
terhadap hewan, memiliki dampak
yang sangat besar dalam mengubah
praktik pengasuhan anak.
Sebelum Harlow, nasihat medis
standar kepada orang tua adalah
untuk tidak “memanjakan”
anak-anak dengan terlalu banyak
menggendong atau menyentuh.
Orang tua disarankan untuk
memberi makan pada jadwal yang
ketat dan membiarkan bayi
menangis agar mereka belajar
mandiri. Kontak fisik dianggap
tidak perlu dan bahkan berpotensi
merusak.
Harlow membuktikan bahwa
pandangan ini sangat keliru.
Sentuhan fisik bukanlah
memanjakan. Ia adalah kebutuhan
biologis yang fundamental,
sama seperti makanan dan air.
Tanpa sentuhan dan kenyamanan
fisik, perkembangan emosional dan
sosial seorang anak bisa rusak parah.
Eksperimen ini juga memiliki
dampak besar pada lembaga-lembaga
seperti panti asuhan dan rumah sakit.
Sebelumnya, bayi-bayi di panti
asuhan sering kali hanya diberi makan
dan diganti popoknya, tapi jarang
digendong atau diajak bermain.
Setelah Harlow, semakin banyak
bukti bahwa tanpa kontak fisik,
anak-anak di institusi gagal
berkembang, bahkan jika kebutuhan
fisik mereka terpenuhi.
Ini mendorong perubahan dalam
cara lembaga-lembaga ini beroperasi.
Harlow menunjukkan bahwa cinta
bukanlah sekadar konsep abstrak
atau puitis. Ia adalah kebutuhan
biologis yang nyata, dengan
mekanisme fisik yang bisa diamati
dan diukur. Sentuhan, pelukan,
dan kehangatan fisik adalah fondasi
dari perkembangan psikologis yang
sehat. Dan seorang ibu, atau
pengasuh utama, jauh lebih dari
sekadar “lemari makan”. Ia adalah
tempat berlindung yang aman,
sumber keberanian, dan fondasi
dari mana seorang anak belajar
untuk menghadapi dunia.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Harry Harlow dan Eksperimen
Kasih Sayang
Harry Harlow adalah seorang psikolog
Amerika yang bekerja di University of
Wisconsin. Pada pertengahan abad
ke-20, banyak psikolog beranggapan
bahwa ikatan antara ibu dan bayi
terutama terbentuk karena ibu
menyediakan makanan. Menurut
pandangan ini, bayi mencintai ibunya
karena ibulah yang memenuhi
kebutuhan fisiknya.
Harlow meragukan penjelasan
tersebut. Ia menduga bahwa hubungan
antara ibu dan anak jauh lebih dalam
daripada sekadar pemberian makan.
Untuk mengujinya, ia melakukan
serangkaian eksperimen yang
kemudian mengubah cara dunia
memandang kasih sayang dan
pengasuhan.
Desain Eksperimen: Ibu Kawat
dan Ibu Kain
Harlow menggunakan bayi monyet
rhesus yang dipisahkan dari ibu
kandungnya sejak lahir. Setiap bayi
diberi dua “ibu” buatan.
Ibu kawat
- Terbuat dari rangka kawat
logam. - Memiliki botol susu sebagai
sumber makanan. - Tidak memberikan
kehangatan atau kenyamanan.
Ibu kain
- Dilapisi kain yang lembut dan
hangat. - Tidak menyediakan makanan.
- Memberikan rasa nyaman
saat dipeluk.
Dengan pengaturan ini, Harlow ingin
mengetahui mana yang lebih penting
bagi bayi: makanan atau kenyamanan.
Hasil yang Mengejutkan
Hasil eksperimen menunjukkan
bahwa bayi monyet lebih banyak
menghabiskan waktu bersama
ibu kain.
Mereka:
- memeluk ibu kain,
- tidur di dekatnya,
- kembali ke sana setelah
selesai menyusu.
Ketika lapar, mereka hanya pergi
sebentar ke ibu kawat untuk minum
susu, lalu segera kembali ke ibu kain.
Temuan ini menunjukkan bahwa
sentuhan lembut dan rasa nyaman
memiliki peran yang sangat penting
dalam perkembangan anak.
Harlow menyebutnya contact
comfort, yaitu kenyamanan yang
diperoleh melalui kontak fisik.
Rasa Aman Saat Menghadapi
Ketakutan
Harlow kemudian menguji
bagaimana bayi monyet bereaksi
saat menghadapi sesuatu yang
menakutkan.
Misalnya, ia memasukkan benda
asing yang bergerak dan
mengeluarkan suara keras
ke dalam kandang.
Jika ibu kain tersedia
Bayi monyet:
- segera berlari menuju ibu kain,
- memeluknya sampai tenang,
- kemudian berani melihat dan
menjelajahi benda yang
menakutkan itu.
Jika hanya ibu kawat yang
tersedia
Bayi monyet:
- tidak mencari perlindungan
pada ibu kawat, - meringkuk di sudut kandang,
- gemetar dan tidak berani
menjelajah.
Temuan ini menunjukkan bahwa
kehadiran pengasuh yang memberikan
rasa aman membantu anak
memperoleh keberanian untuk
mengenal dunia di sekitarnya.
Konsep “Basis yang Aman”
Dari hasil ini, Harlow menyimpulkan
bahwa ibu bukan hanya pemberi
makan.
Pengasuh utama berfungsi sebagai
basis yang aman (secure base),
yaitu tempat yang memberikan rasa
aman sehingga anak berani:
- bermain,
- belajar,
- mencoba hal baru,
- menghadapi ketakutan.
Ketika anak merasa aman, ia lebih
percaya diri untuk menjelajahi
lingkungannya.
Dampak Isolasi Sosial
Bagian paling kontroversial dari
penelitian Harlow adalah
eksperimen isolasi sosial.
Beberapa bayi monyet dibesarkan:
- tanpa ibu,
- tanpa teman sebaya,
- tanpa kontak sosial selama
berbulan-bulan.
Akibatnya sangat serius.
Monyet-monyet tersebut:
- takut berinteraksi dengan
monyet lain, - sering meringkuk sendirian,
- menggoyangkan tubuh
berulang-ulang, - melukai diri sendiri,
- mengalami kesulitan dalam
hubungan sosial.
Sebagian monyet betina yang
tumbuh dalam isolasi bahkan
tidak mampu merawat anaknya
sendiri.
Temuan ini menunjukkan bahwa
hubungan sosial pada masa awal
kehidupan sangat penting bagi
perkembangan emosional.
Periode Penting dalam
Perkembangan
Harlow menyimpulkan bahwa ada
masa penting pada awal kehidupan
ketika anak sangat membutuhkan:
- kasih sayang,
- sentuhan,
- interaksi sosial.
Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi
dalam jangka waktu lama,
dampaknya dapat bertahan hingga
dewasa dan sulit diperbaiki.
Pengaruh terhadap Cara
Mengasuh Anak
Sebelum penelitian Harlow,
banyak orang tua disarankan untuk:
- tidak terlalu sering
menggendong bayi, - membatasi sentuhan fisik,
- membiarkan bayi menangis
agar tidak “manja”.
Penelitian Harlow menunjukkan
bahwa pandangan tersebut tidak
sepenuhnya tepat.
Sentuhan, pelukan, dan perhatian
bukanlah bentuk memanjakan yang
berlebihan. Bagi anak, hal-hal
tersebut merupakan kebutuhan
penting untuk perkembangan
emosional yang sehat.
Dampak pada Panti Asuhan
dan Rumah Sakit
Penelitian Harlow juga memengaruhi
cara lembaga pengasuhan anak bekerja.
Sebelumnya, beberapa panti asuhan
hanya berfokus pada:
- makanan,
- kebersihan,
- kebutuhan fisik.
Setelah berbagai penelitian
berkembang, semakin jelas
bahwa anak juga membutuhkan:
- perhatian,
- interaksi,
- pelukan,
- hubungan yang hangat
dengan pengasuh.
Perkembangan anak tidak cukup
hanya dengan memenuhi
kebutuhan fisik.
Kontroversi
Eksperimen Harlow banyak dikritik
karena menimbulkan penderitaan
pada hewan.
Para penentang berpendapat bahwa:
- bayi monyet mengalami
tekanan psikologis yang berat, - isolasi yang dilakukan terlalu
ekstrem, - manfaat ilmiah tidak sebanding
dengan penderitaan yang
ditimbulkan.
Karena alasan etika, penelitian
semacam ini tidak lagi diperbolehkan
dilakukan dengan cara yang sama
pada masa sekarang.
Warisan Harlow
Harry Harlow menunjukkan bahwa
kasih sayang bukan sekadar perasaan
romantis atau konsep abstrak.
Kasih sayang, sentuhan, dan
hubungan yang hangat merupakan
kebutuhan penting bagi
perkembangan manusia.
Seorang pengasuh bukan hanya orang
yang menyediakan makanan. Ia juga
memberikan:
- rasa aman,
- kenyamanan,
- dukungan emosional,
- keberanian bagi anak untuk
menghadapi dunia.
Penelitian Harlow menjadi salah satu
dasar berkembangnya teori kelekatan
(attachment theory) dan mengubah
cara kita memahami hubungan
antara orang tua dan anak.
