buku

Albert Bandura dan Teori Pembelajaran Sosial

Albert Bandura adalah seorang
psikolog Kanada-Amerika yang
menawarkan jalan tengah yang
revolusioner dalam psikologi.
Pada masa ia bekerja, dunia psikologi
terbelah antara dua kubu yang saling
bertentangan. Di satu sisi ada para
behavioris yang mengatakan bahwa
semua perilaku adalah hasil dari
pengkondisian, reward, dan
punishment. Di sisi lain ada para
psikolog kognitif yang menekankan
proses mental internal.

Bandura tidak puas dengan kedua
kubu ini. Ia setuju bahwa konsekuensi
dari tindakan kita memengaruhi
perilaku kita. Tapi ia juga percaya
bahwa manusia bukanlah mesin
yang hanya merespons stimulus dan
reward. Manusia adalah makhluk
yang berpikir. Kita bisa belajar hanya
dengan mengamati orang lain. Kita
tidak perlu mengalami semuanya
sendiri. Kita tidak perlu dihukum atau
diberi hadiah untuk belajar. Inilah inti
dari 
Teori Pembelajaran Sosial
yang dirumuskan oleh Bandura.

Eksperimen Bobo Doll

Untuk membuktikan teorinya,
Bandura merancang sebuah
eksperimen yang sekarang menjadi
salah satu yang paling terkenal dalam
sejarah psikologi. Eksperimen ini
menggunakan sebuah boneka tiup
besar yang disebut Bobo Doll.
Bentuknya seperti badut dengan
bagian bawah yang berat sehingga
ketika dipukul, boneka itu akan
kembali ke posisi berdiri.

Bandura mengumpulkan sekelompok
anak-anak usia prasekolah dan
membagi mereka menjadi tiga
kelompok. Kelompok pertama
menyaksikan sebuah pemandangan
yang tidak biasa. Seorang dewasa
masuk ke dalam ruangan yang penuh
dengan mainan, termasuk Bobo Doll.
Orang dewasa itu kemudian mulai
bertindak agresif terhadap boneka
tersebut. Ia memukulnya dengan
tinju. Ia menendangnya. Ia melempar
boneka itu ke udara. Ia memukulnya
dengan palu mainan.
Sambil melakukan semua ini,
ia mengucapkan kata-kata agresif
seperti “Hajar dia!” dan “Tendang dia!”

Kelompok kedua menyaksikan
pemandangan yang berbeda.
Orang dewasa yang sama masuk
ke ruangan yang sama, tapi kali ini ia
bermain dengan tenang.
Ia mengabaikan Bobo Doll sepenuhnya
dan bermain dengan mainan lain
secara damai. Kelompok ketiga adalah
kelompok kontrol. Anak-anak dalam
kelompok ini tidak menyaksikan
model apa pun.

Setelah menyaksikan pemandangan
ini, setiap anak dibawa ke ruangan
terpisah yang juga penuh dengan
mainan, termasuk Bobo Doll. Bandura
dan timnya kemudian mengamati
perilaku anak-anak ini melalui cermin
satu arah. Apa yang mereka temukan
sangat mencengangkan.

Anak-anak yang menyaksikan orang
dewasa bertindak agresif terhadap
Bobo Doll 
meniru perilaku agresif
itu dengan sangat persis
. Mereka
memukul boneka itu.
Mereka menendangnya. Mereka
melemparnya. Mereka menggunakan
palu mainan. Mereka bahkan
menirukan kata-kata agresif yang
diucapkan oleh model dewasa. Mereka
tidak hanya meniru secara umum.
Mereka meniru secara spesifik.

Sementara itu, anak-anak yang
menyaksikan model yang tenang,
serta anak-anak dalam kelompok
kontrol, menunjukkan tingkat agresi
yang jauh lebih rendah. Mereka
mungkin bermain dengan boneka itu,
tapi mereka tidak memukulinya
dengan cara yang sama.

Ini adalah bukti kuat bahwa
anak-anak bisa belajar perilaku
baru hanya melalui pengamatan
,
tanpa perlu reward, punishment, atau
latihan langsung. Mereka melihat.
Mereka menyimpan informasi itu
di dalam pikiran mereka. Dan ketika
diberi kesempatan, mereka
mengeluarkannya kembali dalam
bentuk tindakan.

Observational Learning
(Pembelajaran Melalui
Pengamatan)

Dari eksperimen ini dan penelitian
selanjutnya, Bandura merumuskan
konsep 
observational learning
 atau pembelajaran melalui
pengamatan. Ini adalah proses
belajar yang terjadi ketika seseorang
mengamati perilaku orang lain dan
konsekuensinya, lalu menggunakan
informasi itu untuk membimbing
perilakunya sendiri di masa depan.

Bandura menjelaskan bahwa
observational learning terdiri dari
empat proses yang saling terkait.

Proses pertama adalah
perhatian.
 Anda tidak bisa belajar
dari model jika Anda tidak
memperhatikannya. Semakin
menarik, semakin relevan, atau
semakin mirip model itu dengan
Anda, semakin besar kemungkinan
Anda akan memperhatikannya.
Inilah sebabnya anak-anak sering
meniru orang tua mereka, teman
sebaya mereka, atau tokoh yang
mereka kagumi di televisi.
Model-model ini menarik perhatian
mereka.

Proses kedua adalah retensi atau
penyimpanan.
 Setelah Anda
memperhatikan perilaku model,
Anda harus bisa mengingatnya. Anda
menyimpan informasi itu di dalam
ingatan Anda, sering kali dalam
bentuk gambaran mental atau dalam
bentuk kata-kata. Anda bisa
membayangkan diri Anda melakukan
tindakan itu. Anda bisa mengulangi
instruksi di dalam kepala Anda.

Proses ketiga adalah reproduksi
motorik.
 Ini adalah kemampuan
untuk benar-benar melakukan
perilaku yang telah Anda amati dan
ingat. Anda mungkin sudah
memperhatikan dan mengingat
bagaimana seorang pemain sepak
bola melakukan tendangan
melengkung. Tapi untuk benar-benar
melakukannya sendiri, Anda
membutuhkan kemampuan fisik
yang cukup. Anda perlu latihan.
Anda perlu koordinasi. Proses ini
menerjemahkan gambaran mental
menjadi tindakan fisik yang nyata.

Proses keempat adalah motivasi.
 Ini adalah proses yang paling penting
untuk menentukan apakah
pembelajaran akan diubah menjadi
tindakan. Anda mungkin sudah
memperhatikan, mengingat, dan
bahkan mampu melakukan suatu
perilaku. Tapi apakah Anda
benar-benar akan melakukannya?
Itu tergantung pada motivasi Anda.
Dan motivasi ini sangat dipengaruhi
oleh apa yang Anda lihat terjadi pada
model. Jika Anda melihat model
mendapat hadiah setelah melakukan
suatu perilaku, Anda akan lebih
termotivasi untuk menirunya.
Ini disebut 
vicarious
reinforcement
 atau penguatan
yang dialami secara tidak langsung.
Sebaliknya, jika Anda melihat model
dihukum, Anda akan kurang
termotivasi untuk meniru, meskipun
Anda masih bisa menyimpan
pembelajarannya. Ini disebut
vicarious punishment.

Eksperimen Bobo Doll kemudian
dikembangkan lebih lanjut. Dalam
satu variasi, anak-anak menyaksikan
model yang agresif dipuji dan diberi
permen setelah memukul Bobo Doll.
Kelompok ini kemudian
menunjukkan tingkat agresi yang
paling tinggi. Dalam variasi lain,
anak-anak menyaksikan model yang
agresif dimarahi dan dipukul setelah
memukul Bobo Doll. Kelompok ini
menunjukkan tingkat agresi yang
jauh lebih rendah. Semua anak
belajar bagaimana memukul boneka
itu. Tapi hanya mereka yang melihat
modelnya dihargai yang termotivasi
untuk benar-benar melakukannya.

Pemodelan (Modeling)

Pemodelan adalah proses di mana
seseorang meniru perilaku model
yang diamati. Bandura menekankan
bahwa model bukan hanya orang tua
atau guru. Model bisa siapa saja:
teman sebaya, tokoh di televisi,
karakter di video game, atau bahkan
orang asing di jalan.

Ada beberapa karakteristik yang
membuat sebuah model lebih
mungkin ditiru. Model yang memiliki
status tinggi atau yang dihormati
lebih mungkin ditiru. Model yang
mirip dengan pengamat,
misalnya dalam hal usia, jenis
kelamin, atau latar belakang, juga
lebih mungkin ditiru. Model yang
kompeten atau ahli dalam apa yang
mereka lakukan lebih mungkin ditiru.
Model yang 
menarik atau
karismatik lebih mungkin ditiru.

Di era modern, pemodelan terjadi
di mana-mana. Selebriti, influencer
media sosial, atlet profesional, dan
tokoh publik lainnya berfungsi
sebagai model bagi jutaan orang.
Apa yang mereka kenakan, apa yang
mereka makan, bagaimana mereka
berbicara, dan bagaimana mereka
berperilaku semuanya diamati dan
ditiru oleh penggemar mereka.

Pemodelan juga merupakan alat yang
sangat ampuh dalam pendidikan dan
pengasuhan. Orang tua yang ingin
mengajarkan anaknya untuk bersikap
sopan tidak bisa hanya memberi tahu
mereka untuk sopan. Mereka harus
menjadi model kesopanan. Guru yang
ingin muridnya mencintai membaca
tidak bisa hanya menyuruh mereka
membaca. Guru itu sendiri harus
terlihat menikmati membaca.

Self-Efficacy (Keyakinan Diri)

Konsep penting ketiga dalam teori
Bandura adalah 
self-efficacy.
Ini adalah keyakinan seseorang
tentang kemampuannya sendiri
untuk berhasil dalam situasi tertentu
atau menyelesaikan tugas tertentu.
Self-efficacy bukanlah kepercayaan
diri yang umum. Ia sangat spesifik
terhadap tugas atau bidang tertentu.
Anda mungkin memiliki self-efficacy
yang tinggi dalam menulis, tapi
self-efficacy yang rendah dalam
berbicara di depan umum.

Bandura berpendapat bahwa
self-efficacy adalah pendorong utama
perilaku manusia. Keyakinan Anda
tentang kemampuan Anda sendiri
memengaruhi hampir semua aspek
kehidupan Anda. Ia memengaruhi
pilihan Anda. Anda cenderung
memilih tugas yang Anda yakini bisa
Anda selesaikan, dan menghindari
tugas yang Anda yakini berada
di luar kemampuan Anda.
Ia memengaruhi 
usaha Anda. Ketika
Anda memiliki self-efficacy yang
tinggi, Anda akan bekerja lebih keras
dan lebih gigih menghadapi
rintangan. Ia memengaruhi
ketahanan Anda. Orang dengan
self-efficacy tinggi tidak menyerah
saat gagal. Mereka melihat kegagalan
sebagai umpan balik yang berguna,
bukan sebagai bukti
ketidakmampuan mereka.

Bandura mengidentifikasi empat
sumber utama self-efficacy.
Sumber pertama dan paling kuat
adalah
pengalaman keberhasilan
langsung
. Setiap kali Anda berhasil
melakukan sesuatu, terutama sesuatu
yang sulit, self-efficacy Anda
meningkat. Anda memiliki bukti
nyata bahwa Anda bisa.
Sumber kedua adalah
pengalaman tidak langsung
atau melihat orang lain
berhasil. Ketika Anda melihat
seseorang yang mirip dengan Anda
berhasil dalam suatu tugas, Anda
mulai percaya bahwa Anda juga bisa.
Sumber ketiga adalah 
bujukan verbal
 atau dorongan dari orang lain. Ketika
seseorang yang Anda percayai
mengatakan bahwa Anda bisa, Anda
mulai memercayainya.
Sumber keempat adalah 
keadaan
fisiologis dan emosional
. Tingkat
stres, kelelahan, dan suasana hati
Anda memengaruhi penilaian Anda
tentang kemampuan Anda.

Self-efficacy adalah jembatan antara
mengetahui dan melakukan. Anda
mungkin tahu apa yang harus
dilakukan. Anda mungkin bahkan tahu
bagaimana melakukannya. Tapi jika
Anda tidak percaya bahwa Anda bisa
melakukannya, Anda tidak akan
bertindak. Di sisi lain, jika Anda
memiliki self-efficacy yang kuat,
Anda akan menghadapi tantangan
dengan keyakinan bahwa Anda bisa
mengatasinya. Dan keyakinan itu
sendiri sering kali menjadi ramalan
yang terwujud dengan sendirinya.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Albert Bandura adalah seorang
psikolog Kanada-Amerika yang
mencoba menjembatani dua aliran
besar dalam psikologi.
Para behavioris menekankan bahwa
perilaku dibentuk oleh hadiah dan
hukuman, sedangkan para psikolog
kognitif menekankan pentingnya
proses berpikir. Bandura setuju
bahwa keduanya penting, tetapi ia
menambahkan satu hal yang sangat
mendasar: manusia dapat belajar
hanya dengan mengamati orang lain.

Menurut Bandura, kita tidak harus
mengalami semuanya sendiri untuk
belajar. Kita bisa melihat apa yang
dilakukan orang lain, memperhatikan
akibat dari perilaku mereka, lalu
menggunakan informasi itu untuk
membimbing tindakan kita sendiri.
Gagasan ini dikenal sebagai Teori
Pembelajaran Sosial (Social
Learning Theory)
.

Eksperimen Bobo Doll

Untuk menguji teorinya, Bandura
melakukan eksperimen yang
terkenal menggunakan sebuah
boneka tiup besar bernama
Bobo Doll.

Anak-anak usia prasekolah dibagi
menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama

Anak-anak melihat seorang dewasa
bertindak agresif terhadap Bobo Doll.

Orang dewasa itu:

  • memukul boneka,
  • menendangnya,
  • melemparkannya,
  • memukulnya dengan palu
    mainan,
  • mengucapkan kata-kata
    kasar seperti “Hajar dia!”

Kelompok kedua

Anak-anak melihat orang dewasa
bermain dengan tenang dan tidak
menunjukkan perilaku agresif.

Kelompok ketiga

Anak-anak tidak melihat model
apa pun.

Setelah itu, setiap anak
ditempatkan di ruangan yang
berisi berbagai mainan, termasuk
Bobo Doll.

Kelompok ketiga adalah
kelompok kontrol.
Anak-anak
dalam kelompok ini tidak melihat
orang dewasa yang bersikap
agresif maupun tenang
sebelum
bermain.

Setelah ditempatkan di ruangan
yang berisi berbagai mainan,
termasuk Bobo Doll, mereka
umumnya bermain secara biasa.
Mereka mungkin menyentuh,
mendorong, atau memainkan boneka
itu seperti mainan lainnya, tetapi
tidak menunjukkan perilaku
agresif yang spesifik dan
berlebihan
seperti memukul
dengan palu, menendang, atau
mengucapkan kata-kata kasar yang
ditunjukkan oleh kelompok pertama.

Kelompok ini berfungsi sebagai
pembanding. Dengan adanya
kelompok kontrol, Bandura
dapat menunjukkan bahwa:

  • Anak-anak yang melihat
    model agresif menjadi jauh
    lebih agresif.
  • Anak-anak yang melihat
    model tenang cenderung
    bermain dengan tenang.
  • Anak-anak yang tidak melihat
    model apa pun menunjukkan
    tingkat agresi alami yang relatif
    rendah.

Dengan kata lain, perilaku agresif yang
muncul pada kelompok pertama bukan
terjadi secara kebetulan, melainkan
karena mereka telah mempelajari
perilaku tersebut melalui
pengamatan
.

oleh kelompok pertama.

Hasil Eksperimen

Anak-anak yang sebelumnya melihat
model agresif cenderung meniru
perilaku tersebut.

Mereka:

  • memukul boneka,
  • menendangnya,
  • melemparkannya,
  • bahkan mengucapkan kata-kata
    yang sama seperti yang mereka
    dengar dari orang dewasa.

Sebaliknya, anak-anak yang melihat
model yang tenang menunjukkan
perilaku yang jauh lebih damai.

Eksperimen ini menunjukkan bahwa
manusia dapat mempelajari perilaku
baru hanya dengan mengamati
orang lain.

Pembelajaran Melalui
Pengamatan (Observational
Learning)

Bandura menyebut proses ini sebagai
observational learning, yaitu
belajar dengan cara mengamati
perilaku orang lain.

Menurut Bandura, ada empat proses
penting dalam pembelajaran melalui
pengamatan.

1. Perhatian (Attention)

Kita harus memperhatikan model
terlebih dahulu.

Semakin menarik, dihormati, atau
mirip dengan diri kita, semakin
besar kemungkinan kita
memperhatikannya.

Contoh:

  • Anak kecil memperhatikan
    orang tuanya.
  • Remaja memperhatikan idola
    atau influencer favorit mereka.
  • Murid memperhatikan guru
    yang mereka sukai.

2. Retensi (Retention)

Setelah memperhatikan, kita harus
mengingat apa yang telah diamati.

Informasi tersebut disimpan dalam
ingatan sehingga dapat digunakan
di kemudian hari.

Contoh:

Seorang anak melihat cara mengikat
tali sepatu, lalu mengingat
langkah-langkahnya untuk dicoba
sendiri nanti.

3. Reproduksi (Reproduction)

Seseorang harus memiliki
kemampuan untuk melakukan
perilaku yang telah dipelajari.

Mengetahui suatu tindakan belum
tentu berarti langsung mampu
melakukannya dengan baik.

Contoh:

Melihat cara bermain gitar tidak
otomatis membuat seseorang bisa
bermain gitar. Ia tetap
membutuhkan latihan.

4. Motivasi (Motivation)

Meskipun seseorang sudah
memperhatikan, mengingat, dan
mampu melakukan suatu perilaku,
ia belum tentu akan melakukannya.

Keputusan untuk bertindak
dipengaruhi oleh motivasi.

Contoh:

Jika seorang anak melihat kakaknya
mendapat pujian karena rajin belajar,
ia mungkin akan lebih termotivasi
untuk belajar.

Penguatan Tidak Langsung
(Vicarious Reinforcement)

Bandura menemukan bahwa kita
dapat belajar dari pengalaman
orang lain.

Jika model mendapat
penghargaan

Kita lebih terdorong untuk
meniru perilakunya.

Contoh:

Melihat teman mendapatkan nilai
bagus karena belajar dengan tekun
dapat membuat kita ikut belajar
lebih rajin.

Jika model mendapat hukuman

Kita cenderung menghindari
perilaku tersebut.

Contoh:

Melihat seseorang ditilang karena
melanggar lampu merah membuat
kita lebih berhati-hati saat
berkendara.

Kita belajar tanpa harus mengalami
konsekuensinya sendiri.

Pemodelan (Modeling)

Pemodelan adalah proses meniru
perilaku orang lain.

Model dapat berasal dari:

  • orang tua,
  • guru,
  • teman sebaya,
  • tokoh masyarakat,
  • atlet,
  • selebriti,
  • media sosial,
  • film atau televisi.

Bandura menjelaskan bahwa model
lebih mudah ditiru jika:

  • memiliki status tinggi,
  • dianggap ahli,
  • menarik atau karismatik,
  • memiliki kesamaan dengan
    pengamat.

Contoh:

Anak-anak sering meniru cara
berbicara orang tua mereka
tanpa disadari.

Pentingnya Teladan

Bandura menekankan bahwa manusia
lebih banyak belajar dari contoh
daripada dari nasihat.

Karena itu:

  • orang tua perlu menjadi contoh
    perilaku yang baik,
  • guru perlu menunjukkan sikap
    yang ingin mereka tanamkan,
  • pemimpin perlu memberikan
    teladan bagi bawahannya.

Sulit mengajarkan kejujuran jika orang
yang mengajarkannya sendiri tidak
jujur.

Self-Efficacy (Keyakinan terhadap
Kemampuan Diri)

Konsep penting lainnya dari Bandura
adalah self-efficacy, yaitu keyakinan
seseorang bahwa ia mampu
menyelesaikan tugas tertentu.

Self-efficacy berbeda dengan rasa
percaya diri secara umum.

Seseorang bisa:

  • yakin dalam matematika tetapi
    tidak yakin berbicara di depan
    umum;
  • yakin bermain sepak bola tetapi
    tidak yakin menggambar.

Keyakinan ini memengaruhi:

  • pilihan yang diambil,
  • besarnya usaha yang dikeluarkan,
  • ketekunan saat menghadapi
    kesulitan,
  • kemampuan bangkit setelah gagal.

Empat Sumber Self-Efficacy

1. Pengalaman keberhasilan

Ini adalah sumber yang paling kuat.

Setiap keberhasilan meningkatkan
keyakinan bahwa kita mampu.

Contoh:

Berhasil menyelesaikan soal yang
sulit membuat kita lebih yakin
menghadapi soal berikutnya.

2. Melihat orang lain berhasil

Ketika melihat orang yang mirip
dengan kita berhasil, kita mulai
percaya bahwa kita juga bisa berhasil.

Contoh:

Melihat teman sekelas berhasil masuk
universitas impiannya dapat
meningkatkan semangat kita.

3. Dorongan dari orang lain

Kata-kata dukungan dapat
meningkatkan keyakinan seseorang.

Contoh:

Guru yang berkata, “Kamu mampu
melakukannya,” dapat membantu
murid lebih percaya diri.

4. Kondisi fisik dan emosi

Kelelahan, stres, atau kecemasan
dapat membuat seseorang
meragukan kemampuannya.

Sebaliknya, tubuh yang sehat dan
suasana hati yang baik dapat
meningkatkan keyakinan diri.

Determinisme Timbal Balik
(Reciprocal Determinism)

Bandura kemudian menjelaskan
bahwa perilaku manusia
dipengaruhi oleh tiga faktor
yang saling memengaruhi:

  1. Perilaku yang kita lakukan.
  2. Faktor pribadi, seperti
    pikiran, keyakinan, dan emosi.
  3. Lingkungan tempat kita hidup.

Ketiganya saling memengaruhi satu
sama lain.

Contoh:

Seorang siswa yang percaya dirinya
tinggi akan lebih aktif di kelas.
Keaktifannya membuat guru lebih
sering memberi kesempatan
berbicara. Pengalaman positif ini
semakin meningkatkan
kepercayaan dirinya.

Warisan Bandura

Albert Bandura menunjukkan
bahwa manusia tidak hanya belajar
melalui hadiah dan hukuman. Kita
juga belajar melalui pengamatan,
peniruan, dan keyakinan terhadap
kemampuan diri sendiri.

Teorinya memiliki pengaruh besar
dalam:

  • pendidikan,
  • pengasuhan anak,
  • psikologi klinis,
  • dunia kerja,
  • media massa,
  • olahraga.

Bandura mengingatkan bahwa
perilaku seseorang tidak hanya
dibentuk oleh apa yang terjadi pada
dirinya, tetapi juga oleh apa yang ia
lihat terjadi pada orang lain.
Karena itu, setiap orang dapat
menjadi teladan
—baik teladan yang membangun
maupun teladan yang merusak
bagi orang-orang di sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *