filsafat

Evolutionary Argument Against Naturalism: Jika Evolusi Benar, Bisakah Kita Mempercayai Pikiran Kita?

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa Anda bisa berpikir? Mengapa Anda bisa merenung, bertanya, dan mencari kebenaran? Anda merasa bahwa pikiran Anda adalah alat yang bisa diandalkan. Anda merasa bahwa akal Anda mampu menemukan kebenaran. Tetapi pernahkah Anda bertanya, “Bagaimana jika pikiran saya tidak dirancang untuk menemukan kebenaran? Bagaimana jika pikiran saya hanya dirancang untuk bertahan hidup?”

Pertanyaan itu bukan pertanyaan baru. Ia sudah dibahas oleh seorang filsuf Amerika bernama Alvin Plantinga. Ia mengajukan sebuah argumen yang mengguncang cara kita memahami hubungan antara evolusi, naturalisme, dan kemampuan berpikir kita. Argumen itu dikenal sebagai Evolutionary Argument Against Naturalism. Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.

Apa Itu Evolutionary Argument Against Naturalism?

Evolutionary Argument Against Naturalism atau disingkat EAAN adalah argumen yang mengatakan bahwa jika naturalisme dan evolusi keduanya benar, maka kita tidak punya alasan untuk mempercayai bahwa kemampuan kognitif kita bisa diandalkan. Dan jika kita tidak bisa mempercayai kemampuan kognitif kita, maka kita juga tidak bisa mempercayai naturalisme dan evolusi itu sendiri. Jadi, kombinasi naturalisme dan evolusi adalah self-defeating atau meruntuhkan dirinya sendiri.

Naturalisme adalah pandangan bahwa hanya alam fisik yang ada. Tidak ada Tuhan, tidak ada roh, tidak ada hal supranatural. Segala sesuatu bisa dijelaskan oleh hukum alam.

Evolusi adalah teori ilmiah yang menjelaskan bagaimana makhluk hidup berkembang melalui seleksi alam. Makhluk yang punya sifat yang membantu bertahan hidup akan mewariskan sifat itu. Makhluk yang punya sifat yang merugikan akan punah.

Plantinga tidak menolak evolusi. Ia tidak menolak sains. Ia hanya menunjukkan bahwa jika Anda menggabungkan naturalisme dengan evolusi, muncul masalah serius. Masalah itu adalah: seleksi alam hanya peduli pada perilaku yang membantu bertahan hidup. Ia tidak peduli pada kebenaran keyakinan. Yang penting adalah apakah keyakinan itu menghasilkan perilaku yang menguntungkan. Keyakinan bisa saja salah, asalkan perilakunya benar.

Siapa Itu Alvin Plantinga?

Alvin Plantinga lahir pada tahun 1932. Ia adalah seorang filsuf Amerika yang mengajar di Universitas Notre Dame. Ia dikenal karena karyanya dalam filsafat agama, epistemologi, dan metafisika. Ia adalah salah satu filsuf Kristen paling berpengaruh pada abad ke-20 dan ke-21.

Plantinga mengembangkan EAAN dalam bukunya yang berjudul “Warrant and Proper Function,” yang diterbitkan pada tahun 1993. Ia kemudian memperluasnya dalam buku “Warranted Christian Belief” pada tahun 2000. Argumen ini menjadi salah satu argumen paling diperdebatkan dalam filsafat agama kontemporer.

Mengapa Ini Penting untuk Anda?

Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya argumen filsuf. Saya tidak peduli.” Tetapi coba lihat lagi.

EAAN menyentuh pertanyaan tentang keandalan pikiran Anda. Apakah Anda bisa mempercayai apa yang Anda pikirkan? Apakah Anda bisa mempercayai kesimpulan yang Anda ambil? Apakah Anda bisa mempercayai bahwa Anda benar-benar memahami dunia ini?

EAAN juga muncul dalam debat tentang ateisme. Banyak ateis menggunakan evolusi untuk menjelaskan asal mula manusia tanpa perlu Tuhan. Plantinga menunjukkan bahwa jika evolusi dan naturalisme benar, maka kita tidak punya alasan untuk mempercayai kemampuan berpikir kita. Dan jika kita tidak bisa mempercayai kemampuan berpikir kita, maka kita juga tidak bisa mempercayai argumen ateis itu.

EAAN juga muncul dalam debat tentang iman. Banyak orang beriman merasa tertekan oleh naturalisme. Mereka merasa bahwa sains telah menggantikan Tuhan. Plantinga menunjukkan bahwa naturalisme justru meruntuhkan dirinya sendiri. Ia menunjukkan bahwa iman pada Tuhan adalah dasar yang lebih kokoh untuk mempercayai kemampuan berpikir kita.

EAAN juga muncul dalam kehidupan sehari-hari. Ketika Anda membuat keputusan, Anda mengandalkan pikiran Anda. Ketika Anda menilai sesuatu, Anda mengandalkan akal Anda. Jika pikiran Anda tidak bisa diandalkan, bagaimana Anda bisa hidup? EAAN mengajak kita untuk memeriksa dasar dari kepercayaan kita pada pikiran kita sendiri.

Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari

Seorang ilmuwan bekerja di laboratorium. Ia melakukan eksperimen. Ia mengumpulkan data. Ia menarik kesimpulan. Ia merasa bahwa kesimpulannya benar. Tetapi ia juga seorang naturalis. Ia percaya bahwa pikirannya hanyalah hasil evolusi. Ia percaya bahwa pikirannya dirancang untuk bertahan hidup, bukan untuk menemukan kebenaran. Ia mulai bertanya, “Jika pikiranku dirancang untuk bertahan hidup, bagaimana aku bisa yakin bahwa kesimpulanku benar? Mungkin kesimpulanku hanya berguna, bukan benar.”

Seorang ateis berdebat dengan seorang teis. Ateis itu berkata, “Sains sudah menjelaskan segalanya. Tidak perlu Tuhan.” Teis itu bertanya, “Jika evolusi dan naturalisme benar, bagaimana kamu bisa yakin bahwa pikiranmu bisa diandalkan? Jika pikiranmu hanya hasil seleksi alam, ia mungkin hanya peduli pada kelangsungan hidup, bukan kebenaran. Jadi, mengapa aku harus mempercayai argumenmu?” Ateis itu terdiam. Ia tidak punya jawaban yang mudah.

Seorang filsuf merenung tentang pengetahuan. Ia membaca tentang EAAN. Ia menyadari bahwa jika naturalisme benar, maka tidak ada jaminan bahwa pikiran manusia bisa menemukan kebenaran. Ia mulai bertanya, “Apakah pengetahuan itu mungkin? Apakah kebenaran itu bisa dijangkau?” Ia merasa bingung. Ia merasa bahwa fondasi pengetahuannya goyah.

Seorang ibu mengajari anaknya untuk jujur. Anaknya bertanya, “Bu, mengapa aku harus jujur?” Ibu itu menjawab, “Karena jujur itu benar.” Anak itu bertanya lagi, “Bagaimana Ibu tahu bahwa jujur itu benar?” Ibu itu terdiam. Ia menyadari bahwa ia percaya pada kebenaran. Ia percaya bahwa ada standar yang lebih tinggi dari sekadar kelangsungan hidup. Ia percaya bahwa pikirannya bisa menemukan kebenaran. Ia percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan kemampuan untuk mengenal kebenaran.

Seorang pengguna media sosial membaca berita tentang penemuan ilmiah. Ia merasa kagum. Ia merasa bahwa sains adalah sumber kebenaran. Tetapi ia juga membaca tentang EAAN. Ia mulai bertanya, “Jika pikiranku hanya hasil evolusi, bagaimana aku bisa yakin bahwa sains itu benar? Mungkin sains hanya berguna, bukan benar.” Ia merasa tidak nyaman. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar sains.

Semua contoh ini menunjukkan bahwa EAAN bukan hanya teori. Ia menyentuh cara kita memahami pengetahuan, iman, dan diri kita sendiri.

Tiga Fase Menghadapi EAAN

Fase pertama, Anda merasa yakin. Anda percaya bahwa pikiran Anda bisa diandalkan. Anda percaya bahwa Anda bisa menemukan kebenaran. Anda tidak pernah mempertanyakan dari mana kepercayaan itu datang.

Fase kedua, Anda merasa bingung. Anda membaca tentang EAAN. Anda menyadari bahwa jika naturalisme dan evolusi benar, maka pikiran Anda mungkin tidak bisa diandalkan. Anda mulai bertanya, “Bagaimana saya bisa yakin pada apa pun? Bagaimana saya bisa yakin bahwa saya benar-benar tahu?”

Fase ketiga, Anda mencari keseimbangan. Anda menyadari bahwa Anda butuh dasar yang lebih kokoh untuk mempercayai pikiran Anda. Anda mulai mempertimbangkan bahwa mungkin ada sesuatu yang lebih dari sekadar materi. Anda mulai mempertimbangkan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan akal yang bisa diandalkan. Anda mulai membangun keyakinan yang lebih dalam.

Tanggapan-Tanggapan terhadap EAAN

EAAN tidak lepas dari kritik. Banyak filsuf dan ilmuwan menolak atau meragukan argumen ini.

Kritik pertama, apakah seleksi alam benar-benar tidak peduli pada kebenaran? Mungkin keyakinan yang benar lebih menguntungkan daripada keyakinan yang salah. Misalnya, keyakinan bahwa ada predator di dekat sini lebih menguntungkan jika benar. Jadi, seleksi alam mungkin mendorong keyakinan yang benar.

Plantinga menanggapi bahwa keyakinan yang salah juga bisa menguntungkan. Misalnya, seorang manusia purba yang percaya bahwa ia akan diselamatkan oleh roh hutan jika ia berlari ke arah tertentu mungkin akan berlari ke arah yang benar dan selamat. Keyakinannya salah, tetapi perilakunya benar. Jadi, seleksi alam tidak menjamin kebenaran.

Kritik kedua, apakah kita benar-benar tidak bisa mempercayai pikiran kita? Dalam praktiknya, kita harus mempercayai pikiran kita. Kita tidak bisa hidup tanpa mempercayai pikiran kita. Jadi, argumen ini tidak praktis.

Plantinga menanggapi bahwa kita memang harus mempercayai pikiran kita. Tetapi pertanyaannya adalah apakah kita punya dasar untuk mempercayainya. Jika naturalisme benar, kita tidak punya dasar. Jika teisme benar, kita punya dasar.

Kritik ketiga, apakah EAAN hanya berlaku untuk naturalisme? Apakah teisme juga menghadapi masalah yang sama? Teisme mengatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan akal yang bisa diandalkan. Jadi, teisme tidak menghadapi masalah yang sama.

Kritik keempat, apakah EAAN terlalu mengandalkan definisi naturalisme yang sempit? Mungkin ada bentuk naturalisme yang bisa menjelaskan keandalan akal. Misalnya, naturalisme yang mengakui bahwa evolusi menghasilkan kemampuan kognitif yang cukup baik untuk bertahan hidup dan menemukan kebenaran.

Plantinga menanggapi bahwa naturalisme yang seperti itu masih belum memberikan jaminan. Ia hanya berharap bahwa kebenaran itu berguna. Tetapi tidak ada jaminan bahwa kebenaran selalu berguna.

Cara Menyikapi EAAN

Pertama, hargai akal Anda. Akal adalah anugerah. Anda bisa berpikir. Anda bisa bertanya. Anda bisa mencari kebenaran. Jangan meremehkan akal. Tetapi juga jangan sombong. Akal punya batas.

Kedua, akui batas akal. Akal tidak bisa menjawab semua pertanyaan. Akal tidak bisa membuktikan segalanya. Akui itu. Mengakui batas adalah langkah pertama menuju kebijaksanaan.

Ketiga, hargai iman. Iman melampaui akal. Iman memberi Anda dasar untuk mempercayai bahwa akal Anda bisa diandalkan. Iman memberi Anda keyakinan bahwa Tuhan menciptakan Anda dengan tujuan. Iman memberi Anda harapan bahwa kebenaran itu bisa ditemukan.

Keempat, jangan takut pada pertanyaan. Pertanyaan sulit bukan musuh iman. Pertanyaan sulit adalah teman pertumbuhan. Semakin Anda bertanya, semakin dalam pemahaman Anda. Semakin Anda bertanya, semakin kuat iman Anda.

Kelima, hargai sains. Sains adalah alat yang luar biasa. Sains membantu kita memahami dunia fisik. Sains membantu kita mengembangkan teknologi. Hargai sains. Tetapi jangan jadikan sains sebagai satu-satunya sumber kebenaran.

Keenam, hargai filsafat. Filsafat membantu kita bertanya tentang hal-hal yang tidak bisa dijawab oleh sains. Filsafat membantu kita memeriksa asumsi. Filsafat membantu kita melihat batas.

Ketujuh, jangan dogmatis. Jangan menganggap bahwa naturalisme pasti benar. Jangan juga menganggap bahwa teisme pasti benar. Terbukalah pada kemungkinan. Terbukalah pada dialog. Terbukalah pada pembelajaran.

Kedelapan, rendah hati. Anda tidak punya semua jawaban. Tidak ada yang punya semua jawaban. EAAN adalah salah satu argumen dalam perdebatan besar. Mungkin benar. Mungkin salah. Terimalah bahwa Anda mungkin tidak akan pernah sepenuhnya memahami. Terimalah bahwa Anda adalah manusia yang sedang belajar.

Penutup

Evolutionary Argument Against Naturalism mengajarkan satu hal yang mendalam. Jika naturalisme dan evolusi benar, maka kita tidak punya alasan untuk mempercayai kemampuan berpikir kita. Dan jika kita tidak bisa mempercayai kemampuan berpikir kita, maka kita juga tidak bisa mempercayai naturalisme dan evolusi itu sendiri. Jadi, kombinasi naturalisme dan evolusi adalah self-defeating.

Ini bisa terasa menakutkan. Jika pikiran kita tidak bisa diandalkan, bagaimana kita bisa hidup? Tetapi ini juga bisa terasa membebaskan. Kita tidak perlu terjebak dalam naturalisme. Kita bisa mempertimbangkan bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar materi. Kita bisa mempertimbangkan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan akal yang bisa diandalkan.

Bagi orang beriman, EAAN adalah pengingat bahwa iman bukanlah pelarian dari akal. Iman adalah dasar yang memungkinkan akal untuk berfungsi dengan baik. Tuhan menciptakan manusia dengan akal. Tuhan memberi manusia kemampuan untuk mengenal kebenaran. Tuhan adalah sumber dari segala kebenaran. Dalam Tuhan, kita menemukan dasar yang kokoh untuk mempercayai pikiran kita sendiri.

Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah meragukan kemampuan berpikir Anda? Apakah Anda pernah bertanya apakah pikiran Anda bisa diandalkan? Dan jika ya, apa yang membuat Anda tetap percaya pada akal Anda? Apakah pengalaman Anda? Apakah iman Anda? Apakah Tuhan? Atau apakah Anda hanya memilih untuk percaya, karena hidup ini adalah anugerah yang harus dijalani?

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai menghargai anugerah akal yang Anda miliki.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Evolutionary Argument Against Naturalism: Kalau Pikiran Lo Cuma Hasil Evolusi, Apa Lo Masih Bisa Percaya Sama Pikiran Lo?

Coba inget lagi. Momen di mana lo lagi percaya banget sama sains. Lo percaya evolusi. Lo percaya bahwa manusia itu hasil dari proses alam. Lo percaya bahwa nggak ada yang namanya campur tangan supernatural. Lo percaya bahwa alam ini berdiri sendiri. Lo percaya bahwa pikiran lo, kesadaran lo, dan kemampuan lo buat mikir juga hasil dari evolusi.

Terus ada yang nanya satu pertanyaan yang bikin lo diem. “Kalau pikiran lo cuma hasil evolusi, dan evolusi cuma peduli sama bertahan hidup, bukan sama kebenaran, gimana lo bisa yakin bahwa pikiran lo bisa dipercaya buat nemuin kebenaran?”

Lo diem. Lo mikir. Lo coba jawab. Tapi otak lo muter. Karena di satu sisi, lo pengen percaya bahwa pikiran lo bisa dipercaya. Di sisi lain, lo nggak punya alasan yang kuat buat percaya itu. Kalau pikiran lo cuma alat buat bertahan hidup, bukan alat buat nemuin kebenaran, maka kesimpulan lo tentang evolusi, tentang naturalisme, tentang sains, semuanya bisa salah. Dan lo nggak punya cara buat ngecek.

Itulah inti dari Evolutionary Argument Against Naturalism. Dan gue jamin, setelah baca ini, lo bakal liat akal, evolusi, dan keyakinan lo dengan mata yang beda.

Sebenernya Evolutionary Argument Against Naturalism Itu Apa Sih?

Evolutionary Argument Against Naturalism, atau disingkat EAAN, adalah argumen filosofis yang dikembangin sama filsuf Amerika namanya Alvin Plantinga. Dia lahir tahun 1932. Dia profesor filsafat di University of Notre Dame. Dia salah satu filsuf agama paling berpengaruh di abad ke-20 dan ke-21. Dia juga seorang Kristen yang sangat taat. Tapi argumen ini nggak cuma buat orang Kristen. Argumen ini bisa dipahami siapa aja yang mau mikir soal dasar pengetahuan.

Inti argumennya gini. Ada dua keyakinan yang sering digabung sama banyak orang modern.

Yang pertama: naturalisme. Naturalisme adalah pandangan bahwa alam ini adalah segalanya. Nggak ada Tuhan. Nggak ada roh. Nggak ada realitas supernatural. Semua yang ada bisa dijelasin sama hukum alam. Pikiran, kesadaran, moral, semuanya muncul dari proses alam.

Yang kedua: teori evolusi. Teori evolusi bilang bahwa makhluk hidup berkembang lewat seleksi alam. Mutasi acak. Seleksi alam. Yang cocok bertahan. Yang nggak cocok mati. Proses ini berjalan miliaran tahun. Dan manusia adalah hasil dari proses ini.

Nah, Plantinga nanya. Kalau naturalisme bener, dan evolusi bener, maka pikiran manusia juga hasil evolusi. Pikiran manusia berkembang bukan buat nemuin kebenaran. Tapi buat bertahan hidup. Buat kawin. Buat cari makan. Buat kabur dari bahaya. Buat menang bersaing.

Evolusi nggak peduli apakah keyakinan lo bener. Evolusi cuma peduli apakah perilaku lo membantu lo bertahan hidup. Keyakinan yang salah bisa bikin perilaku yang benar. Keyakinan yang bener bisa bikin perilaku yang salah. Yang penting bukan kebenaran keyakinan. Yang penting hasilnya.

Contoh sederhana. Bayangin lo liat bayangan di semak. Lo mikir itu harimau. Lo kabur. Ternyata itu cuma angin. Keyakinan lo salah. Tapi perilaku lo menyelamatkan lo. Kalo lo mikir itu angin, dan lo diem aja, dan ternyata itu harimau, lo mati. Jadi, keyakinan yang salah bisa bikin lo bertahan hidup. Keyakinan yang bener bisa bikin lo mati.

Kalau begitu, apa jaminan bahwa pikiran lo berkembang buat nemuin kebenaran? Nggak ada jaminan. Mungkin pikiran lo berkembang buat bikin lo bertahan hidup. Bukan buat bikin lo ngerti realitas.

Nah, kalau pikiran lo nggak bisa dipercaya buat nemuin kebenaran, maka kesimpulan lo bahwa naturalisme bener juga nggak bisa dipercaya. Kesimpulan lo bahwa evolusi bener juga nggak bisa dipercaya. Kesimpulan lo bahwa sains bener juga nggak bisa dipercaya. Semuanya produk dari pikiran yang nggak bisa dipercaya.

Jadi, naturalisme dan evolusi, kalau digabung, menghancurkan dasar kepercayaan pada pikiran. Dan kalau lo nggak bisa percaya pada pikiran, lo nggak bisa percaya pada naturalisme dan evolusi. Argumen ini disebut self-defeating. Dia makan dirinya sendiri.

Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?

Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma argumen filsuf. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. EAAN nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.

Pertama, lo mungkin pernah ngerasa bahwa sains dan akal itu satu-satunya dasar. Lo percaya bahwa sains bisa jelasin segalanya. Lo percaya bahwa akal bisa nemuin kebenaran. Lo percaya bahwa evolusi bisa jelasin kenapa manusia punya akal. Tapi EAAN nanya. Kalau akal cuma hasil evolusi, dari mana lo tau bahwa akal bisa dipercaya? Dari mana lo tau bahwa akal nggak cuma alat bertahan hidup? Dari mana lo tau bahwa akal nggak nipu lo?

Kedua, lo mungkin pernah ngerasa bahwa keyakinan lo nggak punya dasar. Lo percaya sesuatu. Lo yakin sesuatu. Tapi lo nggak bisa ngebuktiin bahwa dasar keyakinan lo kuat. Lo cuma percaya bahwa akal lo bisa dipercaya. Tapi kenapa? Apa alasannya? Kalau alasannya cuma “ya karena gue punya akal,” itu sirkular. Itu cuma muter.

Ketiga, lo mungkin pernah ngerasa bahwa naturalisme dan evolusi itu cukup. Lo ngerasa bahwa dua hal itu bisa jelasin semuanya. Tapi EAAN nunjukin bahwa dua hal itu, kalau digabung, bikin pengetahuan jadi nggak mungkin. Karena pikiran yang nggak bisa dipercaya nggak bisa bikin pengetahuan yang bisa dipercaya.

Keempat, lo mungkin pernah ngerasa bahwa agama dan sains bertentangan. Lo ngerasa bahwa kalau lo percaya evolusi, lo nggak bisa percaya Tuhan. Lo ngerasa bahwa kalau lo percaya sains, lo nggak bisa percaya iman. Tapi EAAN nunjukin bahwa evolusi dan naturalisme justru bertentangan. Evolusi bisa akur sama teisme. Yang bermasalah adalah naturalisme.

Kelima, lo mungkin pernah ngerasa bahwa pertanyaan ini terlalu berat. Lo ngerasa bahwa lo nggak punya cukup pengetahuan buat mikir soal ini. Lo ngerasa bahwa ini cuma buat filsuf. Tapi EAAN sebenernya simpel. Dia cuma nanya. Kalau pikiran lo hasil evolusi, apa lo masih bisa percaya sama pikiran lo? Kalau nggak bisa, apa artinya semua yang lo percaya?

Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh EAAN

Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.

  1. Lo pernah ngerasa bahwa pikiran lo nggak bisa dipercaya? Itu tanda lo lagi nyentuh EAAN.

  2. Lo pernah mikir “kalau evolusi bener, apa artinya akal gue?” Itu tanda lo lagi mikir soal dasar pengetahuan.

  3. Lo pernah ngerasa bahwa naturalisme bikin pengetahuan jadi nggak mungkin? Itu tanda lo lagi nyentuh argumen ini.

  4. Lo pernah bingung soal hubungan antara evolusi dan kebenaran? Itu tanda lo lagi mikir.

  5. Lo pernah mikir “apa gue bisa percaya sama apa yang gue pikir?” Itu tanda lo lagi nyentuh inti EAAN.

Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener fundamental. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.

Contoh yang Bikin Lo Sadar

Di sains. Sains ngandelin akal. Sains ngandelin logika. Sains ngandelin kemampuan buat mikir. Tapi kalau akal cuma hasil evolusi, dan evolusi cuma peduli bertahan hidup, dari mana kita tau bahwa akal bisa nemuin kebenaran? Sains nggak bisa jalan tanpa kepercayaan pada akal. Tapi naturalisme nggak bisa ngejamin kepercayaan itu. Jadi, sains dan naturalisme nggak selalu akur.

Di matematika. Matematika ngandelin logika. Matematika ngandelin kemampuan buat mikir abstrak. Tapi kenapa manusia bisa mikir abstrak? Apa gunanya buat bertahan hidup? Apa gunanya buat kawin? Apa gunanya buat cari makan? Kalau evolusi cuma peduli bertahan hidup, kenapa manusia bisa nemuin matematika yang rumit? Kenapa manusia bisa nemuin kebenaran yang nggak ada gunanya buat bertahan hidup? Ini pertanyaan yang bikin naturalisme susah.

Di moral. Lo percaya bahwa membunuh itu salah. Lo percaya bahwa menolong itu baik. Tapi kalau moral cuma hasil evolusi, maka moral cuma alat bertahan hidup. Moral cuma cara alam bikin kita kerja sama. Moral bukan kebenaran. Moral cuma ilusi yang berguna. Kalau gitu, apa artinya “salah” dan “baik”? Apa artinya “keadilan”? Apa artinya “hak”? Semua cuma ilusi.

Di agama. Lo percaya Tuhan. Lo percaya ada realitas yang lebih tinggi. Lo percaya bahwa hidup ini punya makna. Tapi kalau naturalisme bener, maka semua itu cuma ilusi. Cuma produk otak. Cuma cara manusia bertahan hidup. Dan lo nggak punya dasar buat percaya bahwa ilusi itu bener. Karena pikiran lo sendiri nggak bisa dipercaya.

Di diri lo sendiri. Lo lagi mikir. Lo lagi nimbang. Lo lagi nanya. Apa lo bisa percaya sama pikiran lo? Apa lo bisa percaya sama kesimpulan lo? Apa lo bisa percaya sama keyakinan lo? Kalau pikiran lo cuma hasil evolusi, apa jaminan bahwa pikiran lo nggak nipu lo? Dan kalau nggak ada jaminan, apa artinya semua ini?

Fase-Fase Lo Ngadepin EAAN

Fase pertama: lo percaya naturalisme dan evolusi.
Lo ngerasa bahwa dua hal itu cukup. Lo ngerasa bahwa dua hal itu bisa jelasin semuanya. Lo ngerasa bahwa nggak butuh Tuhan. Lo ngerasa bahwa nggak butuh supernatural. Lo ngerasa bahwa sains dan akal adalah cukup.

Fase kedua: lo mulai mikir.
Lo denger EAAN. Lo mulai nanya. “Kalau pikiran gue hasil evolusi, apa gue bisa percaya sama pikiran gue?” Lo mulai bingung. Lo mulai ngerasa bahwa ada yang bolong. Lo mulai ngerasa bahwa naturalisme punya masalah.

Fase ketiga: lo nyari jawaban.
Lo mulai baca. Lo mulai mikir. Lo mulai nanya. Lo mulai nimbang. Lo mulai nemuin beberapa posisi. Ada yang bilang EAAN bener. Ada yang bilang salah. Ada yang bilang ada di tengah. Lo mulai nemuin posisi lo sendiri.

Fase keempat: lo milih.
Lo mulai milih. Mungkin lo milih naturalisme, dan lo coba jawab EAAN. Mungkin lo milih teisme, dan lo pake EAAN buat nguatin iman lo. Mungkin lo milih agnostisisme, dan lo nerima bahwa lo nggak tau. Yang penting, lo mulai mikir. Lo mulai nimbang. Lo mulai jujur.

Kritik: Kenapa Banyak yang Nggak Setuju?

EAAN nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf dan ilmuwan nolak atau ngeraguin argumen ini.

Pertama, masalah probabilitas. Plantinga bilang probabilitas bahwa pikiran kita bisa dipercaya, kalau naturalisme dan evolusi bener, itu rendah atau nggak diketahui. Tapi banyak filsuf nolak. Mereka bilang probabilitasnya nggak rendah. Mereka bilang evolusi emang ngasih kita pikiran yang bisa nemuin kebenaran. Karena kebenaran itu berguna buat bertahan hidup.

Kedua, masalah hubungan kebenaran dan survival. Ada yang bilang keyakinan yang bener lebih membantu bertahan hidup daripada keyakinan yang salah. Kalo lo tau di mana ada makanan, lo bisa makan. Kalo lo tau di mana ada predator, lo bisa kabur. Jadi, evolusi emang milih pikiran yang bisa nemuin kebenaran. Jadi, pikiran kita bisa dipercaya.

Ketiga, masalah definisi naturalisme. Ada yang bilang naturalisme nggak harus nolak semua hal non-fisik. Ada naturalis yang percaya bahwa pikiran itu nyata, meskipun muncul dari proses fisik. Jadi, naturalisme nggak harus bikin pikiran nggak bisa dipercaya.

Keempat, masalah self-defeating. Ada yang bilang EAAN sendiri self-defeating. Kalo kita nggak bisa percaya sama pikiran kita, gimana kita bisa percaya sama argumen Plantinga? Argumen Plantinga juga produk dari pikiran. Jadi, kalo pikiran nggak bisa dipercaya, argumen Plantinga juga nggak bisa dipercaya.

Kelima, masalah praktis. Ada yang bilang EAAN cuma masalah teoretis. Dalam praktik, kita tetap bisa pake akal. Kita tetap bisa pake sains. Kita tetap bisa nemuin kebenaran. Jadi, EAAN nggak ngaruh ke hidup kita.

Keenam, masalah alternatif. Ada yang bilang ada penjelasan lain. Misalnya, pikiran kita bisa dipercaya karena alam semesta ini teratur. Atau karena logika itu bagian dari realitas. Atau karena ada hukum alam yang bikin pikiran kita cocok sama dunia. Jadi, nggak butuh Tuhan buat ngejamin kebenaran.

Tanggapan dari Pendukung

Pendukung EAAN punya tanggapan. Mereka nggak selalu bilang argumen ini sempurna. Mereka sering bilang argumen ini nguatin keraguan terhadap naturalisme.

Mereka bilang, probabilitas itu emang nggak pasti. Tapi yang penting bukan probabilitasnya. Yang penting adalah apakah naturalisme bisa ngejamin bahwa pikiran kita bisa dipercaya. Dan jawabannya: nggak bisa. Naturalisme nggak punya dasar buat ngejamin itu. Teisme punya. Karena teisme bilang Tuhan menciptakan pikiran kita buat nemuin kebenaran. Jadi, teisme lebih masuk akal.

Mereka bilang, hubungan kebenaran dan survival emang ada. Tapi nggak selalu. Banyak keyakinan yang salah tapi berguna. Banyak keyakinan yang bener tapi nggak berguna. Jadi, evolusi nggak bisa ngejamin bahwa pikiran kita bisa nemuin kebenaran. Cuma bisa ngejamin bahwa pikiran kita cukup buat bertahan hidup.

Mereka bilang, definisi naturalisme emang bisa beda-beda. Tapi naturalisme yang paling umum adalah naturalisme yang nolak semua hal non-fisik. Dan naturalisme itu yang bermasalah. Kalo lo mulai nambah hal non-fisik, lo udah bukan naturalis lagi.

Mereka bilang, EAAN emang self-defeating. Tapi itu justru intinya. Kalo naturalisme bener, maka EAAN juga nggak bisa dipercaya. Tapi itu nunjukin bahwa naturalisme itu self-defeating. Karena naturalisme bikin semua argumen nggak bisa dipercaya. Termasuk argumen buat naturalisme.

Mereka bilang, EAAN emang masalah teoretis. Tapi masalah teoretis tetap penting. Karena kalo dasar lo salah, maka semua yang lo bangun di atasnya bisa salah. Jadi, lo perlu dasar yang kuat.

Mereka bilang, alternatif kayak “alam semesta teratur” atau “logika bagian dari realitas” tetap butuh penjelasan. Kenapa alam semesta teratur? Kenapa logika cocok sama realitas? Naturalisme nggak bisa jawab. Teisme bisa. Karena Tuhan yang bikin alam semesta teratur. Tuhan yang bikin logika cocok sama realitas.

Cara Nyikapin EAAN Tanpa Kehilangan Akal

1. Jangan panik.
Kalo lo mikir “gimana kalo pikiran gue nggak bisa dipercaya,” jangan panik. Itu wajar. Banyak filsuf juga mikir gitu. Tapi mereka nggak panik. Mereka terus mikir. Mereka terus nimbang.

2. Bedain antara naturalisme dan evolusi.
EAAN bukan argumen melawan evolusi. EAAN argumen melawan naturalisme. Evolusi bisa akur sama teisme. Evolusi bisa akur sama keyakinan bahwa Tuhan menciptakan proses evolusi. Yang bermasalah adalah naturalisme. Jadi, jangan buang evolusi cuma karena EAAN.

3. Pikirin dasar pengetahuan lo.
Dari mana lo tau bahwa akal lo bisa dipercaya? Dari mana lo tau bahwa logika lo valid? Dari mana lo tau bahwa pengalaman lo nyata? Pertanyaan ini penting. Bukan cuma buat filsuf. Tapi buat siapa aja yang pengen punya dasar yang kuat.

4. Jangan cuma andelin akal.
Akal itu penting. Tapi akal bukan segalanya. Ada pengalaman. Ada intuisi. Ada hubungan. Ada cinta. Ada iman. Semua itu bisa ngasih lo pengetahuan yang nggak bisa dikasih akal. Jangan reduksi semuanya jadi akal.

5. Hargai misteri.
Nggak semua pertanyaan bisa dijawab. Nggak semua masalah bisa diselesaiin. Kadang, lo cuma perlu hidup dengan misteri. Kadang, lo cuma perlu percaya meskipun nggak ngerti.

6. Jangan dogmatis.
Jangan ngerasa bahwa naturalisme pasti bener. Jangan ngerasa bahwa teisme pasti bener. Karena dua-duanya punya argumen. Dua-duanya punya kritik. Jadi, terbuka. Jangan dogmatis.

7. Cari jawaban yang paling masuk akal.
Nggak ada jawaban yang sempurna. Nggak ada posisi yang bebas masalah. Jadi, cari yang paling masuk akal buat lo. Cari yang paling bisa lo pertanggungjawabkan. Cari yang paling bisa lo hidupin.

8. Jangan pake EAAN buat ngejek.
Jangan pake EAAN buat ngejek orang naturalis. Jangan pake buat ngerendahin. Jangan pake buat ngerasa paling bener. Gunain buat mikir. Bukan buat menang.

9. Hormati perbedaan.
Ada yang percaya naturalisme. Ada yang percaya teisme. Ada yang percaya agnostisisme. Nggak ada yang salah. Nggak ada yang bener. Setiap orang punya jalan sendiri. Hormati itu.

10. Terus belajar.
Filsafat terus berkembang. Sains terus berkembang. Jadi, jangan berhenti belajar. Jangan berhenti mikir. Jangan berhenti nanya.

Yang Paling Lo Takutin Bukan Naturalisme

Yang paling lo takutin bukan naturalisme. Bukan evolusi. Bukan sains.

Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar lo nggak punya dasar buat percaya sama pikiran lo sendiri. Kalo lo sadar lo nggak bisa ngebuktiin bahwa akal lo bisa dipercaya. Kalo lo sadar lo cuma percaya bahwa lo bisa mikir. Tapi lo nggak tau kenapa. Dan lo nggak bisa ngejelasin. Dan lo harus hidup dengan ketidakpastian itu.

Itu serem. Gue ngerti.

Tapi coba pikir lagi. Kalo lo nggak punya dasar, itu artinya lo harus nyari dasar. Kalo lo nggak bisa ngebuktiin, itu artinya lo harus lebih rendah hati. Kalo lo nggak bisa ngejelasin, itu artinya lo harus lebih terbuka. Dan itu bukan hal yang buruk. Itu langkah pertama menuju pemahaman yang lebih dalam.

EAAN bukan tentang bikin lo ngerasa bodoh. Dia tentang nunjukin bahwa dasar pengetahuan itu penting. Dia tentang nunjukin bahwa naturalisme punya masalah. Dia tentang nunjukin bahwa lo perlu mikir lebih dalem. Dan itu nggak apa-apa.

Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur

Evolutionary Argument Against Naturalism ngajarin satu hal yang menantang. Kalau naturalisme dan evolusi bener, maka pikiran kita cuma hasil seleksi alam. Seleksi alam cuma peduli bertahan hidup, bukan kebenaran. Jadi, kita nggak punya jaminan bahwa pikiran kita bisa nemuin kebenaran. Kalau kita nggak punya jaminan, maka kita nggak bisa percaya pada naturalisme dan evolusi. Jadi, naturalisme dan evolusi, kalau digabung, menghancurkan dasar kepercayaan pada pikiran. Dan itu self-defeating.

Ini bisa berasa menakutkan. Kalo dasar pengetahuan nggak bisa diandelin, apa yang bisa diandelin? Tapi ini juga bisa berasa membebaskan. Karena kalo lo ngerti, lo bisa lebih bijak. Lo bisa lebih jujur. Lo bisa lebih terbuka. Lo bisa lebih rendah hati.

Jadi, gue mau nanya ke lo.

Lo pernah ngerasa bahwa pikiran lo nggak bisa dipercaya? Lo pernah mikir “kalau evolusi bener, apa artinya akal gue?” Lo pernah ngerasa bahwa naturalisme bikin pengetahuan jadi nggak mungkin?

Dan kalo iya, apa yang lo lakuin? Apa lo terus percaya naturalisme? Apa lo mulai mikir? Apa lo mulai nanya? Apa lo mulai nyari dasar yang lebih kokoh?

Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai mikir. Lo cuma harus mulai nanya.

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai ngehargain bahwa dasar pengetahuan lo nggak sesederhana yang lo kira.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *