Hyperobjects: Ketika Sesuatu Terlalu Besar untuk Kita Pahami Sepenuhnya
Pernahkah Anda mencoba membayangkan perubahan iklim? Anda tahu bahwa Bumi semakin panas. Anda tahu bahwa es di kutub mencair. Anda tahu bahwa cuaca semakin ekstrem. Tetapi pernahkah Anda benar-benar merasakannya? Pernahkah Anda melihat perubahan iklim sebagai sesuatu yang nyata, yang bisa Anda sentuh, yang bisa Anda lihat secara langsung?
Mungkin tidak. Perubahan iklim terlalu besar. Ia tersebar di seluruh dunia. Ia berlangsung selama ratusan tahun. Ia melibatkan miliaran orang, miliaran keputusan, dan miliaran ton gas. Anda tidak bisa melihatnya sekaligus. Anda hanya bisa melihat potongannya. Anda melihat banjir di satu tempat. Anda melihat kekeringan di tempat lain. Anda melihat berita tentang suhu yang memecahkan rekor. Tetapi Anda tidak bisa melihat keseluruhannya. Ia terlalu besar untuk dipahami oleh satu orang.
Itulah yang disebut Hyperobject. Sebuah konsep yang dikembangkan oleh seorang filsuf bernama Timothy Morton. Ia mengajak kita memahami hal-hal yang begitu besar, begitu tersebar, dan begitu lama sehingga mereka melampaui kemampuan manusia untuk memahaminya secara utuh. Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.
Apa Itu Hyperobjects?
Hyperobject adalah entitas yang sangat besar dalam ruang dan waktu sehingga tidak bisa dilihat atau dipahami sepenuhnya oleh manusia. Ia tidak bisa dipahami sebagai satu objek tunggal. Ia tersebar di banyak tempat. Ia berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Ia melibatkan begitu banyak hal sehingga tidak ada satu sudut pandang yang bisa menangkapnya seluruhnya.
Contoh hyperobject antara lain perubahan iklim, globalisasi, internet, plastik di laut, dan radiasi nuklir. Semua itu adalah hal-hal yang nyata. Mereka memengaruhi hidup kita. Tetapi kita tidak bisa melihat mereka secara langsung. Kita hanya bisa melihat gejala-gejalanya. Kita hanya bisa melihat potongan-potongannya. Kita tidak bisa melihat gambaran besarnya.
Timothy Morton mengatakan bahwa hyperobject adalah sesuatu yang “viscous.” Ia lengket. Ia menempel pada kita. Kita tidak bisa lepas darinya. Kita selalu berada di dalamnya. Kita selalu menjadi bagian darinya. Kita tidak bisa keluar untuk melihatnya dari luar.
Hyperobject juga “nonlocal.” Ia tidak berada di satu tempat. Ia berada di banyak tempat sekaligus. Perubahan iklim tidak hanya terjadi di satu negara. Ia terjadi di seluruh dunia. Internet tidak hanya ada di satu server. Ia ada di mana-mana.
Hyperobject juga “phased.” Ia muncul dalam berbagai bentuk. Kita hanya bisa melihat sebagiannya pada satu waktu. Kita melihat polusi udara. Kita melihat banjir. Kita melihat kekeringan. Tetapi kita tidak bisa melihat semuanya sekaligus.
Mengapa Ini Penting untuk Anda?
Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya teori filsuf. Saya tidak peduli.” Tetapi coba lihat lagi.
Pernahkah Anda merasa cemas tentang masa depan? Pernahkah Anda merasa bahwa dunia ini sedang menuju kehancuran? Pernahkah Anda merasa bahwa masalahnya terlalu besar untuk diselesaikan? Itu adalah perasaan yang muncul ketika kita berhadapan dengan hyperobject.
Perubahan iklim adalah hyperobject. Kita tahu bahwa ia nyata. Kita tahu bahwa ia berbahaya. Tetapi kita tidak bisa melihatnya secara langsung. Kita tidak bisa merasakannya sebagai satu hal. Kita hanya bisa merasakan potongannya. Itu membuat kita sulit untuk bertindak. Kita merasa bahwa apa pun yang kita lakukan tidak akan cukup. Kita merasa bahwa masalahnya terlalu besar.
Hyperobject juga muncul dalam teknologi. Internet adalah hyperobject. Ia menghubungkan miliaran orang. Ia menyimpan triliunan informasi. Ia berubah setiap detik. Tidak ada satu orang yang bisa memahami internet sepenuhnya. Tidak ada satu orang yang bisa mengendalikannya. Kita semua hanya bagian kecil dari jaringan yang jauh lebih besar.
Hyperobject juga muncul dalam ekonomi. Globalisasi adalah hyperobject. Ia menghubungkan ekonomi di seluruh dunia. Ia melibatkan jutaan perusahaan. Ia melibatkan miliaran pekerja. Ia melibatkan aliran uang yang tidak bisa dilacak. Tidak ada yang bisa memahami globalisasi sepenuhnya. Tidak ada yang bisa mengendalikannya.
Hyperobject juga muncul dalam lingkungan. Plastik di laut adalah hyperobject. Ia tersebar di seluruh samudra. Ia terurai menjadi mikroplastik. Ia masuk ke dalam rantai makanan. Ia memengaruhi kesehatan manusia. Kita tidak bisa melihat keseluruhannya. Kita hanya bisa melihat potongannya. Kita melihat plastik di pantai. Kita melihat ikan yang mati karena plastik. Tetapi kita tidak bisa melihat seluruh gambaran.
Hyperobject juga muncul dalam politik. Perang adalah hyperobject. Ia melibatkan banyak negara. Ia melibatkan banyak tentara. Ia melibatkan banyak korban. Ia berlangsung selama bertahun-tahun. Tidak ada satu orang yang bisa memahami perang sepenuhnya. Tidak ada satu orang yang bisa mengakhirinya.
Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari
Seorang ibu melihat anaknya sakit karena polusi udara. Ia merasa sedih. Ia merasa marah. Ia ingin melakukan sesuatu. Tetapi ia bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan? Polusi udara itu masalah besar. Itu melibatkan banyak pabrik. Itu melibatkan banyak kendaraan. Itu melibatkan banyak negara. Saya hanya satu orang.” Ia merasa tidak berdaya. Itulah perasaan yang muncul ketika berhadapan dengan hyperobject.
Seorang ilmuwan mempelajari perubahan iklim. Ia mengumpulkan data dari seluruh dunia. Ia membuat model. Ia membuat prediksi. Tetapi ia juga merasa bahwa ia tidak bisa memahami semuanya. Terlalu banyak variabel. Terlalu banyak ketidakpastian. Terlalu banyak hal yang tidak diketahui. Ia merasa rendah hati. Ia merasa bahwa alam ini jauh lebih besar dari pengetahuannya.
Seorang pengguna media sosial membaca berita tentang bencana. Ia melihat foto-foto korban. Ia merasa sedih. Ia ingin membantu. Tetapi ia juga merasa bahwa masalahnya terlalu besar. Terlalu banyak bencana. Terlalu banyak korban. Terlalu banyak kebutuhan. Ia merasa kewalahan. Ia merasa bahwa apa pun yang ia lakukan tidak akan cukup.
Seorang filsuf merenung tentang alam semesta. Ia membaca tentang hyperobject. Ia menyadari bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar. Ia menyadari bahwa pengetahuan manusia itu terbatas. Ia menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipahami sepenuhnya. Ia merasa rendah hati. Ia merasa kagum.
Seorang aktivis lingkungan berjuang melawan perubahan iklim. Ia tahu bahwa masalahnya besar. Ia tahu bahwa ia tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Tetapi ia tetap berjuang. Ia tetap bertindak. Ia tetap berharap. Ia tahu bahwa setiap tindakan kecil berarti. Ia tahu bahwa setiap orang penting. Ia tahu bahwa perubahan bisa dimulai dari satu orang.
Semua contoh ini menunjukkan bahwa Hyperobjects bukan hanya teori. Ia menyentuh cara kita memahami masalah besar, merasa tidak berdaya, dan tetap berjuang.
Tiga Fase Menghadapi Hyperobjects
Fase pertama, Anda merasa kewalahan. Anda dihadapkan pada masalah yang sangat besar. Anda merasa bahwa masalahnya terlalu luas. Anda merasa bahwa Anda tidak bisa memahaminya. Anda merasa bahwa Anda tidak bisa melakukan apa pun. Anda merasa tidak berdaya.
Fase kedua, Anda mencari cara untuk memahami. Anda membaca. Anda belajar. Anda berbicara dengan orang lain. Anda mencoba melihat potongan-potongannya. Anda mencoba memahami hubungan antara potongan-potongan itu. Anda mulai melihat gambaran yang lebih besar, meskipun belum sempurna.
Fase ketiga, Anda bertindak. Anda menyadari bahwa Anda tidak perlu memahami semuanya untuk bertindak. Anda bisa melakukan sesuatu. Anda bisa mengurangi sampah. Anda bisa menghemat energi. Anda bisa mengajar orang lain. Anda bisa mendukung kebijakan yang baik. Anda bisa menjadi bagian dari solusi.
Tanggapan-Tanggapan terhadap Hyperobjects
Hyperobjects tidak lepas dari kritik. Beberapa filsuf dan ilmuwan menolak atau meragukan konsep ini.
Kritik pertama, apakah hyperobject benar-benar ada? Mungkin hyperobject hanyalah cara kita menggambarkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Mungkin perubahan iklim hanyalah kumpulan dari banyak peristiwa kecil. Mungkin tidak ada “perubahan iklim” sebagai satu objek.
Kritik kedua, apakah hyperobject berguna? Jika kita tidak bisa memahami hyperobject, bagaimana kita bisa mengatasinya? Apakah konsep ini hanya menambah kebingungan?
Kritik ketiga, apakah hyperobject terlalu abstrak? Mungkin lebih baik fokus pada masalah konkret. Daripada berbicara tentang “perubahan iklim,” lebih baik berbicara tentang “polusi di kota saya.” Daripada berbicara tentang “globalisasi,” lebih baik berbicara tentang “pekerjaan saya.”
Kritik keempat, apakah hyperobject mengabaikan agensi manusia? Jika hyperobject begitu besar, apakah manusia masih punya peran? Apakah kita hanya bagian kecil yang tidak berarti?
Cara Menyikapi Hyperobjects
Pertama, jangan merasa tidak berdaya. Hyperobject memang besar. Tetapi Anda tetap bisa bertindak. Setiap tindakan kecil berarti. Setiap orang penting. Perubahan besar dimulai dari langkah kecil.
Kedua, belajarlah. Semakin Anda memahami hyperobject, semakin Anda bisa bertindak dengan bijak. Bacalah. Ikutilah diskusi. Tanyakan pada ahli. Jangan menyerah pada kebingungan.
Ketiga, bertindaklah lokal. Anda tidak perlu menyelamatkan dunia sendirian. Mulailah dari lingkungan Anda. Kurangi sampah. Hemat energi. Tanam pohon. Bantu tetangga. Jadilah teladan.
Keempat, bekerja samalah. Hyperobject tidak bisa diatasi sendirian. Butuh kerja sama. Butuh kolaborasi. Butuh solidaritas. Bergabunglah dengan komunitas. Dukung organisasi yang peduli. Ajak orang lain.
Kelima, jangan menyerah. Perubahan besar butuh waktu. Hasilnya tidak selalu terlihat langsung. Tetapi setiap usaha berarti. Setiap suara penting. Setiap tindakan berharga.
Keenam, hargailah hidup. Hyperobject bisa membuat kita cemas. Hyperobject bisa membuat kita putus asa. Tetapi hidup ini tetap indah. Nikmatilah. Syukuri. Cintai. Jangan biarkan kecemasan merampas kebahagiaan Anda.
Ketujuh, hargailah iman. Bagi orang beriman, Tuhan lebih besar dari semua hyperobject. Tuhan adalah pencipta alam semesta. Tuhan adalah penguasa sejarah. Tuhan adalah harapan di tengah keputusasaan. Iman memberi kekuatan. Iman memberi makna. Iman memberi pengharapan.
Kedelapan, rendah hati. Anda tidak punya semua jawaban. Tidak ada yang punya semua jawaban. Hyperobject adalah misteri. Terimalah bahwa Anda mungkin tidak akan pernah sepenuhnya memahami. Terimalah bahwa Anda adalah bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Penutup
Hyperobjects mengajarkan satu hal yang mendalam. Ada hal-hal yang terlalu besar untuk dipahami sepenuhnya. Perubahan iklim. Globalisasi. Internet. Plastik di laut. Semua itu nyata. Semua itu memengaruhi kita. Tetapi kita tidak bisa melihatnya secara utuh.
Ini bisa terasa menakutkan. Jika masalahnya begitu besar, bagaimana kita bisa mengatasinya? Tetapi ini juga bisa terasa membebaskan. Kita tidak perlu memahami semuanya. Kita tidak perlu menyelesaikan semuanya. Kita hanya perlu bertindak. Kita hanya perlu berkontribusi. Kita hanya perlu menjadi bagian dari solusi.
Bagi orang beriman, Hyperobjects adalah pengingat bahwa Tuhan lebih besar dari semua masalah kita. Tuhan tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Tuhan melihat gambaran yang lengkap. Tuhan tahu akhir dari segala sesuatu. Kita tidak perlu memahami semuanya. Kita hanya perlu percaya pada-Nya. Kita hanya perlu melakukan bagian kita. Kita hanya perlu berserah pada kehendak-Nya.
Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah merasa kewalahan oleh masalah yang besar? Apakah Anda pernah merasa tidak berdaya? Dan jika ya, apa yang membuat Anda tetap melangkah? Apakah harapan Anda? Apakah iman Anda? Apakah cinta Anda? Atau apakah Anda hanya memilih untuk bertindak, karena setiap tindakan kecil berarti?
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai menghargai peran Anda di tengah hal-hal yang lebih besar dari diri Anda.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Hyperobjects: Kenapa Perubahan Iklim, Internet, dan Sampah Plastik Itu Terlalu Gede Buat Otak Lo Pahami?
Coba inget lagi. Momen di mana lo lagi denger berita soal perubahan iklim. Suhu bumi naik. Es di kutub mencair. Laut naik. Cuaca makin ekstrem. Lo denger. Lo ngerti secara intelektual. Tapi di saat yang sama, lo juga ngerasa ada yang aneh. Ada yang nggak nyambung. Karena di luar jendela lo, hari ini cerah. Panasnya biasa. Hujannya biasa. Semuanya keliatan normal. Dan lo mulai mikir. “Kok bisa ya gue percaya sesuatu yang gue nggak bisa liat? Kok bisa ya gue harus takut sama sesuatu yang nggak keliatan di depan mata? Kok bisa ya sesuatu yang gede banget malah nggak kerasa nyata?”
Atau lo lagi mikir soal internet. Internet itu ada di mana? Di HP lo? Di laptop lo? Di server? Di kabel bawah laut? Di satelit? Di awan? Internet itu ada di mana-mana. Tapi juga nggak ada di satu tempat. Lo nggak bisa nunjuk dan bilang, “Nah, itu internet.” Lo cuma bisa nunjuk alat yang nyambung ke internet. Tapi internetnya sendiri? Nggak keliatan. Nggak bisa dipegang. Nggak bisa dikunjungi. Tapi nyata. Dan ngaruh ke hidup lo setiap hari.
Atau lo lagi mikir soal sampah plastik. Sampah plastik itu ada di laut. Di darat. Di udara. Di tubuh ikan. Di tubuh lo. Mikroplastik udah ada di darah lo. Di paru-paru lo. Di plasenta bayi yang belum lahir. Plastik yang lo pake sekali, bakal ada selama ratusan tahun. Tapi lo nggak bisa liat. Lo nggak bisa ngerasain. Lo nggak bisa ngitung. Karena dia terlalu kecil. Terlalu tersebar. Terlalu lama.
Itulah yang disebut Hyperobjects. Dan gue jamin, setelah baca ini, lo bakal liat dunia ini dengan mata yang beda.
Sebenernya Hyperobjects Itu Apa Sih?
Hyperobjects adalah konsep yang diperkenalkan sama filsuf Amerika namanya Timothy Morton. Dia lahir tahun 1968. Dia profesor di Rice University. Dia nulis buku terkenal tahun 2013. Judulnya Hyperobjects: Philosophy and Ecology after the End of the World. Di situ, dia ngejelasin konsep ini.
Intinya gini. Hyperobject adalah objek yang terlalu besar tersebar di ruang dan waktu sehingga kita nggak bisa ngamati secara keseluruhan. Kita cuma bisa ngamati bagian-bagiannya. Kita cuma bisa ngamati manifestasi lokalnya. Kita nggak pernah bisa ngeliat hyperobject secara utuh.
Morton bilang ada beberapa ciri hyperobject.
Pertama, viscous. Artinya lengket. Hyperobject nempel di lo. Lo nggak bisa lepas. Lo nggak bisa ngehindarin. Lo nggak bisa lari. Karena lo bagian dari hyperobject itu. Lo di dalemnya. Bukan di luarnya.
Kedua, molten. Artinya cair. Hyperobject nggak punya bentuk yang tetap. Dia berubah. Dia mengalir. Dia bergerak. Dia nggak bisa dibekukan. Dia nggak bisa dikunci.
Ketiga, nonlocal. Artinya nggak lokal. Hyperobject nggak ada di satu tempat. Dia ada di banyak tempat sekaligus. Atau nggak ada di mana pun secara spesifik. Dia tersebar. Dia nggak punya pusat.
Keempat, phased. Artinya bertahap. Hyperobject cuma muncul sebagian. Cuma muncul sepotong. Cuma muncul dalam manifestasi tertentu. Kita nggak pernah bisa nangkep keseluruhannya. Kita cuma bisa nangkep fragmennya.
Kelima, interobjective. Artinya ada di antara objek. Hyperobject nggak cuma ada di satu objek. Dia ada di hubungan antar objek. Dia ada di antara lo dan plastik. Di antara lo dan udara. Di antara lo dan internet.
Contoh hyperobject? Banyak. Perubahan iklim. Radioaktif. Styrofoam. Internet. Biosfer. Kapitalisme. Evolusi. Bahasa. Semua itu hyperobject. Semua itu terlalu besar. Terlalu tersebar. Terlalu lama. Buat dipahami secara utuh.
Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?
Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma filsafat. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Hyperobjects nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.
Pertama, lo mungkin pernah ngerasa bahwa masalah besar terlalu abstrak. Lo denger soal perubahan iklim. Lo denger soal polusi. Lo denger soal kepunahan. Lo ngerti secara intelektual. Tapi lo nggak ngerasa urgensi. Lo nggak ngerasa panik. Lo nggak ngerasa harus bertindak. Karena masalahnya terlalu gede. Terlalu jauh. Terlalu abstrak. Dan lo mulai mikir. “Kok bisa ya gue nggak peduli padahal gue tau?”
Kedua, lo mungkin pernah ngerasa bahwa lo nggak bisa ngapa-ngapain. Lo liat masalah global. Lo liat sistem yang gede. Lo liat kekuatan yang nggak bisa lo lawan. Dan lo ngerasa kecil. Lo ngerasa nggak berarti. Lo ngerasa bahwa apa pun yang lo lakuin nggak akan ngaruh. Dan lo mulai mikir. “Buat apa gue repot-repot?”
Ketiga, lo mungkin pernah ngerasa bahwa lo hidup di dunia yang udah rusak. Lo ngerasa bahwa kerusakan itu udah terjadi. Lo ngerasa bahwa lo udah telat. Lo ngerasa bahwa lo cuma bisa nunggu kiamat. Dan lo mulai mikir. “Apa masih ada harapan?”
Keempat, lo mungkin pernah ngerasa bingung soal tanggung jawab. Siapa yang harus tanggung jawab atas perubahan iklim? Lo? Pemerintah? Perusahaan? Semua orang? Nggak ada yang mau tanggung jawab. Nggak ada yang mau ngaku. Karena semuanya tersebar. Semuanya terbagi. Dan lo mulai mikir. “Kalo nggak ada yang tanggung jawab, gimana kita bisa benerin?”
Kelima, lo mungkin pernah ngerasa bahwa lo nggak bisa lari. Lo pengen kabur. Lo pengen ngelupain. Lo pengen hidup kayak biasa. Tapi lo nggak bisa. Karena hyperobject nempel di lo. Karena lo bagian dari hyperobject. Karena nggak ada tempat yang aman. Dan lo mulai mikir. “Kalo gue nggak bisa lari, gue harus gimana?”
Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh Hyperobjects
Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.
Lo pernah ngerasa masalah besar terlalu abstrak? Itu tanda lo lagi nyentuh hyperobject.
Lo pernah ngerasa nggak bisa ngapa-ngapain? Itu tanda lo lagi ngalamin kelumpuhan hyperobject.
Lo pernah ngerasa hidup di dunia yang udah rusak? Itu tanda lo lagi mikir soal akhir dunia.
Lo pernah bingung soal tanggung jawab? Itu tanda lo lagi nyentuh hyperobject.
Lo pernah ngerasa nggak bisa lari? Itu tanda lo lagi ngerasain kelengketan hyperobject.
Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener gede. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.
Contoh yang Bikin Lo Sadar
Di perubahan iklim. Lo ngerasa bahwa iklim itu abstrak. Lo nggak bisa liat iklim. Lo cuma bisa liat cuaca. Dan cuaca hari ini biasa aja. Jadi lo nggak panik. Tapi Morton bilang. Perubahan iklim itu hyperobject. Dia terlalu gede. Terlalu tersebar. Terlalu lama. Lo cuma bisa liat manifestasi lokalnya. Badai. Kekeringan. Banjir. Tapi lo nggak bisa liat keseluruhannya. Karena keseluruhannya terlalu gede buat otak manusia.
Di radioaktif. Lo tau bahwa radioaktif itu bahaya. Tapi lo nggak bisa liat. Lo nggak bisa cium. Lo nggak bisa rasa. Lo cuma bisa deteksi dengan alat. Dan radioaktif yang dihasilin hari ini bakal ada selama puluhan ribu tahun. Puluhan ribu tahun! Itu lebih lama dari peradaban manusia. Itu hyperobject. Terlalu lama. Terlalu jauh. Terlalu gede.
Di styrofoam. Lo pake styrofoam sekali. Lo buang. Lo pikir udah selesai. Tapi Morton bilang. Styrofoam itu hyperobject. Dia nggak akan hilang. Dia bakal ada selama ratusan tahun. Dia bakal pecah jadi mikroplastik. Dia bakal masuk ke laut. Dia bakal masuk ke ikan. Dia bakal masuk ke lo. Lo nggak bisa liat. Lo nggak bisa ngerasain. Tapi dia ada.
Di internet. Internet itu ada di mana? Di mana-mana. Dan nggak ada di mana pun. Lo nggak bisa nunjuk. Lo nggak bisa ngejelasin. Lo cuma bisa ngerasain efeknya. Internet itu hyperobject. Dia terlalu tersebar. Terlalu kompleks. Terlalu gede. Lo cuma bisa liat layar. Tapi layar itu bukan internet. Internet ada di suatu tempat yang nggak bisa lo jangkau.
Di kapitalisme. Kapitalisme itu ada di mana? Di bank? Di pasar? Di pabrik? Di semua tempat. Tapi juga nggak ada di satu tempat. Kapitalisme itu hyperobject. Dia ngaruh ke hidup lo setiap hari. Lo nggak bisa lepas dari dia. Lo nggak bisa lari dari dia. Karena lo bagian dari dia. Dan lo mulai mikir. “Kok bisa ya sesuatu yang nggak kelihatan nguasain hidup gue?”
Di pandemi. Pandemi COVID-19 itu hyperobject. Virusnya terlalu kecil. Terlalu tersebar. Terlalu cepet berubah. Lo nggak bisa liat virusnya. Lo cuma bisa liat angka. Lo cuma bisa liat berita. Lo cuma bisa liat masker. Tapi virusnya ada di mana-mana. Dan dia ngubah seluruh dunia. Dan lo nggak bisa ngehindarin. Karena lo bagian dari dia.
Di diri lo sendiri. Lo lagi duduk. Lo lagi mikir. Lo lagi ngerasain sesuatu. Coba tanya. Apa lo bagian dari hyperobject? Apa lo bagian dari perubahan iklim? Apa lo bagian dari internet? Apa lo bagian dari kapitalisme? Jawabannya: iya. Lo nggak bisa lepas. Lo nggak bisa lari. Lo udah nempel. Lo udah tercampur. Lo udah jadi bagian dari sesuatu yang lebih gede dari diri lo.
Fase-Fase Lo Ngadepin Hyperobjects
Fase pertama: lo nggak sadar.
Lo jalanin hidup lo kayak biasa. Lo pake plastik. Lo pake internet. Lo pake listrik. Lo nggak pernah mikir soal sistem yang lebih gede. Lo nggak pernah mikir soal hyperobject. Lo cuma jalanin.
Fase kedua: lo mulai ngeh.
Lo mulai baca. Lo mulai belajar. Lo mulai ngeh bahwa ada masalah yang lebih gede dari diri lo. Lo mulai ngeh bahwa ada sistem yang terlalu kompleks buat dipahami. Lo mulai bingung. Lo mulai ngerasa ada yang aneh. Lo mulai nanya. “Kok bisa ya gue bagian dari sesuatu yang gue nggak ngerti?”
Fase ketiga: lo ngerasa lumpuh.
Lo mulai ngeh bahwa masalahnya terlalu gede. Lo mulai ngeh bahwa lo cuma setitik. Lo mulai ngeh bahwa apa pun yang lo lakuin nggak akan ngaruh. Lo ngerasa kecil. Lo ngerasa nggak berarti. Lo ngerasa nggak bisa ngapa-ngapain.
Fase keempat: lo nyari cara.
Lo mulai mikir. Lo mulai nanya. Lo mulai nyari cara. Lo mulai ngeh bahwa lo nggak perlu ngerasa seluruhnya. Lo nggak perlu paham semuanya. Lo cuma perlu ngelakuin sesuatu. Lo cuma perlu mulai dari hal kecil. Lo cuma perlu nerima bahwa lo bagian dari hyperobject. Dan dari situ, lo bisa bertindak.
Kritik: Kenapa Banyak yang Nggak Setuju?
Konsep Hyperobjects nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf dan ilmuwan nolak atau ngeraguin gagasan ini.
Pertama, masalah definisi. Ada yang bilang konsep ini terlalu kabur. Apa yang bukan hyperobject? Kalo semua bisa jadi hyperobject, maka istilahnya jadi nggak berguna. Kalo semua bisa jadi hyperobject, maka nggak ada bedanya sama objek biasa.
Kedua, masalah praktis. Ada yang bilang konsep ini terlalu abstrak. Nggak ngasih solusi. Nggak ngasih arahan. Cuma ngasih deskripsi. Cuma ngasih pemahaman. Tapi nggak ngasih tindakan.
Ketiga, masalah skeptisisme. Ada yang bilang kalo kita nggak bisa nangkep hyperobject, gimana kita bisa ngerti? Gimana kita bisa ngelawan? Gimana kita bisa nguasain? Kalo semuanya terlalu gede buat dipahami, apa gunanya?
Keempat, masalah politik. Ada yang bilang konsep ini bisa bikin orang pesimis. Bisa bikin orang nyerah. Bisa bikin orang ngerasa bahwa nggak ada gunanya berjuang. Padahal masalah iklim butuh tindakan. Butuh aksi. Butuh perubahan.
Kelima, masalah mistisisme. Ada yang bilang konsep ini terlalu mistis. Terlalu puitis. Terlalu romantis. Padahal masalah iklim butuh sains. Butuh data. Butuh kebijakan.
Tanggapan dari Pendukung
Pendukung konsep Hyperobjects punya tanggapan. Mereka nggak selalu bilang konsep ini sempurna. Mereka sering bilang konsep ini nguatin pemahaman kita.
Mereka bilang, definisi emang kabur. Tapi itu justru intinya. Hyperobject nggak punya definisi yang jelas. Karena dia nggak punya batas yang jelas. Jadi, kekaburan itu bukan kelemahan. Tapi ciri.
Mereka bilang, konsep ini emang nggak ngasih solusi instan. Tapi dia ngasih pemahaman. Dan dari pemahaman, solusi bisa datang. Karena lo nggak bisa nyelesaiin masalah yang lo nggak ngerti.
Mereka bilang, skeptisisme emang risiko. Tapi bukan berarti lo harus nyerah. Lo cuma perlu nerima bahwa lo nggak bisa nangkep semuanya. Tapi lo tetap bisa nangkep sebagian. Dan dari sebagian, lo bisa bertindak.
Mereka bilang, konsep ini emang bisa bikin pesimis. Tapi bukan berarti harus pesimis. Karena kalo lo ngerti bahwa lo bagian dari hyperobject, lo juga ngerti bahwa tindakan lo punya efek. Kecil. Tapi nyata.
Mereka bilang, konsep ini emang puitis. Tapi bukan berarti nggak ilmiah. Puitis bisa jadi cara buat ngerti sesuatu yang terlalu gede buat dijelasin dengan data. Dan dari puisi, kesadaran bisa muncul. Dan dari kesadaran, tindakan bisa lahir.
Cara Nyikapin Hyperobjects Tanpa Kehilangan Akal
1. Jangan panik.
Kalo lo mikir “gimana kalo gue nggak bisa ngerti apa pun,” jangan panik. Itu wajar. Banyak filsuf juga mikir gitu. Tapi mereka nggak panik. Mereka terus mikir. Mereka terus nanya.
2. Terima batas otak lo.
Otak manusia punya batas. Otak manusia nggak dirancang buat ngerti sesuatu yang terlalu gede. Terlalu lama. Terlalu tersebar. Jadi, terima bahwa lo nggak akan pernah nangkep semuanya. Dan itu nggak apa-apa. Itu manusiawi.
3. Fokus pada manifestasi lokal.
Lo nggak bisa nangkep hyperobject secara keseluruhan. Tapi lo bisa nangkep manifestasi lokalnya. Lo nggak bisa ngelawan perubahan iklim sendirian. Tapi lo bisa ngurangin sampah lo. Lo nggak bisa ngubah kapitalisme. Tapi lo bisa milih beli dari yang lokal. Fokus pada apa yang bisa lo lakuin.
4. Terima bahwa lo bagian dari hyperobject.
Lo nggak bisa lepas dari hyperobject. Lo nggak bisa lari. Lo nggak bisa ngehindarin. Jadi, terima aja. Terima bahwa lo bagian dari sesuatu yang lebih gede. Dan dari situ, lo bisa mulai bertindak. Bukan sebagai orang di luar. Tapi sebagai bagian dari.
5. Jangan nuntut hasil instan.
Hyperobject butuh waktu. Hyperobject butuh kesabaran. Lo nggak akan bisa ngeliat hasilnya sekarang. Mungkin nggak dalam hidup lo. Tapi tindakan lo tetap berarti. Tetap ngaruh. Tetap berkontribusi.
6. Jangan ngerasa sendirian.
Lo nggak sendirian. Ada banyak orang yang ngerasain hal yang sama. Ada banyak orang yang peduli. Ada banyak orang yang bertindak. Gabung sama mereka. Bangun komunitas. Karena bersama, lo bisa lebih kuat.
7. Jangan cuma mikir.
Lo bisa mikir. Lo bisa ngerti. Lo bisa ngerasa. Tapi kalo lo cuma mikir, lo nggak akan berubah. Lo perlu bertindak. Lo perlu ngelakuin sesuatu. Kecil. Tapi nyata.
8. Hargai momen.
Karena hyperobject terlalu gede, lo bisa lupa buat hidup. Lo bisa lupa buat nikmatin momen. Lo bisa lupa buat hadir. Jadi, hargai momen. Hargai sekarang. Karena itu yang lo punya.
9. Jangan jadi pesimis.
Kalo lo sadar bahwa hyperobject terlalu gede, jangan jadi pesimis. Jangan ngerasa bahwa semuanya sia-sia. Karena kalo lo pesimis, lo nggak akan bertindak. Dan kalo lo nggak bertindak, hyperobject bakal makin parah.
10. Terima kalo lo nggak akan pernah punya jawaban sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa ngerti hyperobject sepenuhnya. Lo cuma bisa hidup dengan ketidakpastian itu. Dan itu nggak apa-apa.
Yang Paling Lo Takutin Bukan Hyperobjects
Yang paling lo takutin bukan hyperobjects. Bukan sesuatu yang gede. Bukan sesuatu yang tersebar.
Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar lo nggak bisa ngapa-ngapain. Kalo lo sadar lo cuma setitik. Kalo lo sadar lo cuma bagian kecil dari sistem yang gede. Kalo lo sadar bahwa apa pun yang lo lakuin nggak akan ngaruh. Kalo lo sadar bahwa lo udah telat. Dan lo nggak bisa balik. Dan lo nggak bisa ngebuktiin. Dan lo harus hidup dengan ketidakpastian itu.
Itu serem. Gue ngerti.
Tapi coba pikir lagi. Kalo lo bagian dari hyperobject, itu artinya lo juga hyperobject. Tindakan lo nggak berhenti di lo. Tindakan lo ngaruh ke orang lain. Ke masa depan. Ke generasi berikutnya. Lo nggak akan pernah ngerti seberapa besar efek lo. Tapi efek lo tetap ada. Tetap nyata. Tetap berarti.
Hyperobjects bukan tentang bikin lo ngerasa kecil. Dia tentang nunjukin bahwa lo terhubung. Dia tentang nunjukin bahwa lo bagian dari sesuatu yang lebih gede. Dia tentang nunjukin bahwa lo nggak sendirian. Dan itu nggak apa-apa.
Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur
Hyperobjects ngajarin satu hal yang menantang. Ada objek yang terlalu besar. Terlalu tersebar. Terlalu lama. Buat dipahami secara utuh. Kita cuma bisa ngamati fragmennya. Kita cuma bisa ngamati manifestasi lokalnya. Kita nggak pernah bisa ngeliat keseluruhannya. Dan itu bikin kita ngerasa kecil. Ngerasa nggak berarti. Ngerasa nggak bisa ngapa-ngapain.
Ini bisa berasa menakutkan. Kalo masalahnya terlalu gede, apa yang bisa gue lakuin? Tapi ini juga bisa berasa membebaskan. Karena kalo masalahnya terlalu gede, maka lo nggak perlu nyelesaiin semuanya. Lo cuma perlu ngelakuin bagian lo. Lo cuma perlu ngelakuin yang bisa lo lakuin.
Jadi, gue mau nanya ke lo.
Lo pernah ngerasa masalah besar terlalu abstrak? Lo pernah ngerasa nggak bisa ngapa-ngapain? Lo pernah ngerasa hidup di dunia yang udah rusak? Lo pernah bingung soal tanggung jawab?
Dan kalo iya, apa yang lo lakuin? Apa lo nyerah? Apa lo terus mikir? Apa lo mulai bertindak? Apa lo mulai nerima bahwa lo bagian dari sesuatu yang lebih gede?
Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai mikir. Lo cuma harus mulai nanya.
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai ngehargain bahwa lo bagian dari sesuatu yang lebih gede dari diri lo.
