Decision Fatigue Weaponization: Ketika Terlalu Banyak Pilihan Membuat Anda Menyerah dan Menuruti
Pernahkah Anda mengalami momen
ketika Anda sudah sangat lelah, lalu
seseorang bertanya, “Mau makan apa?
Mau ke mana? Mau pakai baju yang
mana?” Dan Anda hanya menjawab,
“Terserah.” Bukan karena Anda tidak
peduli. Tetapi karena otak Anda
sudah kenyang dengan pilihan. Anda
tidak sanggup berpikir lagi.
Inilah yang disebut Decision
Fatigue. Dan artikel ini membahas
versi pemanfaatannya, yaitu
Decision Fatigue Weaponization.
Decision Fatigue Weaponization
adalah teknik manipulasi di mana
pelaku sengaja membuat Anda
mengambil terlalu banyak keputusan
kecil, agar otak Anda lelah. Begitu
Anda lelah, Anda berhenti berpikir
panjang. Anda mencari jalan pintas.
Anda memilih yang paling mudah.
Dan biasanya, yang paling mudah
itu adalah menuruti apa yang
pelaku inginkan.
Teknik ini berhubungan dengan
Overloading with Information
yang telah dibahas sebelumnya.
Pada teknik itu, pelaku membanjiri
Anda dengan data. Pada Decision
Fatigue Weaponization, pelaku
membanjiri Anda dengan pilihan.
Bukan data. Pilihan. Karena pilihan
juga menguras energi.
Perbedaannya sedikit, tetapi
efeknya sama. Anda menjadi lelah,
bingung, dan akhirnya pasrah.
Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Terlalu Banyak Keputusan
Melemahkan Kemampuan
Berpikir
Eksperimen Shai Danziger,
Jonathan Levav, dan Liora
Avnaim-Pesso (2011):
Extraneous Factors in
Judicial Decisions
Shai Danziger, Jonathan Levav, dan
Liora Avnaim-Pesso dari Columbia
University dan Ben-Gurion University
melakukan penelitian yang sangat
terkenal tentang bagaimana kelelahan
pengambilan keputusan
memengaruhi putusan hakim.
Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal
Proceedings of the National Academy
of Sciences.
Para peneliti menganalisis lebih dari
seribu keputusan yang dibuat oleh
delapan hakim di pengadilan Israel
selama sepuluh bulan. Hakim-hakim
itu diminta memutuskan apakah
seorang narapidana layak
mendapatkan pembebasan bersyarat
atau tidak. Setiap hari, hakim
mendengarkan puluhan kasus secara
berurutan. Mereka hanya mendapat
dua kali istirahat, yaitu istirahat
makan siang dan istirahat sore.
Yang dianalisis oleh para peneliti
bukan hanya putusan hakim, tetapi
juga waktu putusan itu dibuat.
Mereka ingin melihat apakah ada
pola yang berkaitan dengan posisi
kasus dalam urutan persidangan.
Hasilnya sangat mencengangkan.
Pada awal sesi, sebelum istirahat,
hakim cenderung memberikan
pembebasan bersyarat sekitar
65 persen dari kasus. Tetapi semakin
mendekati waktu istirahat, tingkat
pembebasan bersyarat menurun
drastis. Pada kasus-kasus terakhir
sebelum istirahat, tingkat
pembebasan bersyarat hampir
mendekati nol persen. Setelah
istirahat, tingkat pembebasan
bersyarat kembali melonjak
ke sekitar 65 persen. Pola ini
berulang setiap hari.
Dialog setelah penelitian:
Peneliti: “Mengapa putusan hakim
berubah sepanjang hari?”
Danziger: “Kami menemukan bahwa
keputusan hakim dipengaruhi oleh
kelelahan mental. Semakin banyak
keputusan yang mereka buat,
semakin sulit bagi mereka untuk
membuat keputusan yang
menguntungkan.”
Peneliti: “Apakah itu berarti hakim
yang lelah lebih cenderung menolak?”
Danziger: “Ya. Menolak adalah pilihan
default. Menolak tidak membutuhkan
alasan yang panjang. Menerima
membutuhkan pertimbangan yang
lebih rumit. Ketika hakim lelah,
mereka cenderung memilih default.”
Peneliti: “Apakah istirahat membantu?”
Danziger: “Sangat membantu. Setelah
istirahat, kemampuan mereka untuk
membuat keputusan yang lebih
seimbang kembali pulih.”
Danziger dan timnya menyimpulkan
bahwa keputusan hakim tidak
sepenuhnya objektif. Ia dipengaruhi
oleh kelelahan mental. Semakin
banyak keputusan yang harus dibuat,
semakin besar kecenderungan untuk
memilih opsi default, yaitu opsi yang
paling mudah dan paling tidak
membutuhkan pertimbangan. Dalam
Decision Fatigue Weaponization,
pelaku memanfaatkan prinsip yang
sama. Ia membuat korban mengambil
banyak keputusan kecil, sehingga
ketika keputusan besar datang,
korban memilih opsi default yang
disiapkan pelaku.
Eksperimen Kathleen Vohs,
Roy Baumeister, dan
Timnya (2008): Making Choices
Impairs Subsequent Self-Control
Kathleen Vohs, Roy Baumeister, dan
timnya dari University of Minnesota
dan Florida State University
melakukan serangkaian eksperimen
untuk menguji apakah membuat
banyak pilihan melemahkan
kemampuan seseorang untuk
mengendalikan diri. Penelitian ini
diterbitkan dalam Journal of
Personality and Social Psychology.
Dalam salah satu eksperimen,
partisipan diminta membuat
serangkaian pilihan. Separuh
partisipan diminta membuat banyak
pilihan tentang produk konsumen,
seperti memilih antara dua merek
sepatu, dua jenis pasta gigi, dan dua
warna kaus. Separuh lainnya hanya
diminta melihat produk tanpa
memilih. Setelah itu,
semua partisipan diminta
menyelesaikan tugas yang
membutuhkan pengendalian diri,
seperti menahan tangan di air es
atau menahan diri dari makan
kue yang tersedia.
Hasilnya, partisipan yang
sebelumnya membuat banyak
pilihan menunjukkan kemampuan
pengendalian diri yang jauh lebih
rendah. Mereka lebih cepat
menyerah pada tugas air es.
Mereka lebih sulit menahan diri
dari makan kue. Mereka juga
melaporkan merasa lebih lelah
secara mental.
Dialog setelah eksperimen:
Vohs: “Bagaimana perasaan Anda
setelah membuat banyak pilihan?”
Partisipan: “Saya merasa lelah.
Otak saya seperti penuh.”
Vohs: “Apakah Anda merasa lebih
sulit untuk menahan diri?”
Partisipan: “Iya. Saya merasa tidak
punya energi untuk melawan.”
Vohs: “Apakah Anda menyadari bahwa
pilihan-pilihan kecil tadi
memengaruhi Anda?”
Partisipan: “Tidak. Saya pikir itu
tidak ada hubungannya.”
Vohs dan Baumeister menyimpulkan
bahwa membuat pilihan menguras
sumber daya mental yang sama yang
digunakan untuk mengendalikan
diri. Semakin banyak pilihan yang
dibuat, semakin sedikit sumber daya
yang tersisa untuk menahan godaan,
membuat keputusan yang sulit,
atau menolak permintaan orang lain.
Dalam Decision Fatigue
Weaponization, pelaku
memanfaatkan kelelahan ini.
Korban yang sudah lelah membuat
banyak pilihan menjadi lebih mudah
menuruti permintaan pelaku.
Eksperimen On Amir, Dan
Ariely, dan Timnya (2009):
Deciding Without Resources
On Amir, Dan Ariely, dan timnya dari
University of California dan Duke
University melakukan penelitian
lanjutan tentang bagaimana kelelahan
keputusan memengaruhi kemampuan
seseorang untuk membuat keputusan
yang menguntungkan dirinya sendiri.
Penelitian ini diterbitkan dalam
Journal of Marketing Research.
Dalam eksperimen ini, partisipan
diminta membuat serangkaian
keputusan tentang produk. Separuh
partisipan diminta membuat
keputusan yang melibatkan trade-off
atau pertukaran, seperti memilih
antara produk yang lebih mahal tetapi
lebih baik, atau produk yang lebih
murah tetapi kurang baik. Separuh
lainnya diminta membuat keputusan
yang tidak melibatkan trade-off.
Setelah itu, semua partisipan diminta
membuat keputusan keuangan yang
penting, seperti memilih antara
menerima uang tunai sekarang atau
menerima jumlah yang lebih besar
nanti.
Hasilnya, partisipan yang
sebelumnya membuat keputusan
yang melibatkan trade-off lebih
cenderung memilih opsi yang tidak
menguntungkan bagi diri mereka
sendiri. Mereka memilih uang tunai
sekarang dalam jumlah kecil
daripada menunggu jumlah yang
lebih besar. Mereka juga lebih
cenderung menyerah pada tugas
yang membutuhkan usaha.
Dialog setelah eksperimen:
Amir: “Mengapa Anda memilih
uang tunai sekarang daripada
jumlah yang lebih besar nanti?”
Partisipan: “Saya tidak tahu. Saya
hanya merasa tidak sanggup
memikirkan yang rumit.”
Amir: “Apakah keputusan tentang
produk tadi memengaruhi Anda?”
Partisipan: “Mungkin iya.
Saya merasa sudah terlalu banyak
memikirkan hal lain.”
Amir menyimpulkan bahwa keputusan
yang melibatkan trade-off menguras
lebih banyak energi mental daripada
keputusan yang sederhana.
Ketika energi mental itu habis, orang
cenderung memilih opsi yang paling
mudah dan paling cepat, bahkan jika
opsi itu tidak menguntungkan bagi
mereka. Dalam Decision Fatigue
Weaponization, pelaku sengaja
membuat korban menghadapi
banyak trade-off kecil. Ketika korban
lelah, pelaku menawarkan opsi
default yang menguntungkan pelaku.
Mengapa Decision Fatigue
Weaponization Begitu Efektif?
Keputusan itu seperti otot. Semakin
sering digunakan, semakin lelah.
Ketika otot lelah, ia tidak bisa
mengangkat beban berat. Otak juga
demikian. Ketika sudah lelah
mengambil keputusan, otak akan
menolak keputusan yang
membutuhkan pemikiran keras.
Otak akan memilih yang mudah.
Otak akan memilih yang sudah
disiapkan. Pelaku tinggal
menyiapkan pilihan yang ia inginkan.
Selain itu, kelelahan keputusan
membuat orang cenderung memilih
opsi default. Opsi default adalah
opsi yang paling mudah, paling
tidak membutuhkan usaha, dan
paling tidak menimbulkan konflik.
Menolak permintaan
membutuhkan energi. Menerima
permintaan lebih mudah. Ketika
korban lelah, ia memilih menerima.
Pelaku memanfaatkan ini.
Kelelahan keputusan juga
melemahkan pengendalian diri.
Orang yang lelah lebih sulit
menahan godaan, lebih sulit
menolak permintaan, dan lebih
sulit mempertahankan batasan.
Pelaku memanfaatkan kelelahan
ini untuk mendapatkan kepatuhan.
Empat Fase Decision Fatigue
Weaponization: Kisah Rina
dan Sales Mobil
Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Rina.
Ia sedang mencari mobil baru.
Fase 1: Membanjiri dengan
Pilihan Kecil
Rina datang ke showroom mobil.
Seorang sales bernama Doni
menyambutnya dengan ramah.
Ia tidak langsung menawarkan
harga. Ia mulai dengan
pertanyaan-pertanyaan kecil.
Doni: “Ibu Rina, kira-kira suka
warna apa? Ada merah, biru,
hitam, silver, putih, atau kuning.”
Rina: “Saya suka silver.”
Doni: “Baik. Kalau transmisi,
Ibu lebih suka manual atau
otomatis?”
Rina: “Otomatis.”
Doni: “Kalau fitur hiburan,
Ibu mau yang ada layar sentuh
atau yang standar?”
Rina: “Layar sentuh.”
Doni: “Kalau velg, Ibu suka
model standar atau sport?”
Rina: “Sport.”
Doni terus mengajukan pertanyaan.
Ia menanyakan tentang jok, audio,
kamera belakang, sensor parkir,
dan masih banyak lagi. Setiap
pertanyaan membutuhkan
keputusan kecil. Rina menjawab
satu per satu. Setelah tiga puluh
menit, Rina merasa lelah.
Fase 2: Menciptakan
Kelelahan Mental
Rina mulai merasa pusing. Ia tidak
lagi terlalu peduli dengan detail.
Ia hanya ingin segera selesai.
Doni terus bertanya.
Doni: “Kalau paket perawatan,
Ibu mau yang basic atau premium?”
Rina: “Terserah, yang penting bagus.”
Doni: “Kalau asuransi, Ibu mau yang
all risk atau TLO?”
Rina: “Terserah.”
Doni: “Kalau pembayaran,
Ibu mau cash atau kredit?”
Rina: “Terserah, yang penting cepat.”
Rina tidak menyadari bahwa
kelelahannya adalah hasil dari
puluhan keputusan kecil yang ia
buat. Ia tidak menyadari bahwa
Doni sengaja membuatnya lelah.
Fase 3: Masuk dengan
Permintaan Utama
Setelah Rina lelah, Doni masuk
dengan permintaan utama.
Ia menawarkan paket lengkap
dengan harga yang sudah ia
tentukan.
Doni: “Baik, Ibu Rina. Karena Ibu
sudah memilih semua fitur tadi,
saya sarankan Ibu ambil paket
lengkap ini. Harganya 350 juta.
Sudah termasuk semua yang Ibu
pilih. Ibu tinggal tanda tangan.”
Rina merasa lelah. Ia tidak ingin
memikirkan lagi. Ia tidak ingin
membandingkan harga. Ia tidak
ingin menegosiasikan apa pun.
Ia hanya ingin pulang.
Rina: “Ya sudah, saya ambil.”
Rina menandatangani kontrak.
Ia tidak memeriksa detailnya.
Ia tidak membandingkan dengan
showroom lain. Ia hanya menuruti.
Doni tersenyum. Ia berhasil
menjual mobil dengan harga yang
lebih tinggi dari harga pasar. Rina
tidak menyadari bahwa
kelelahannya dimanfaatkan.
Fase 4: Eksploitasi dan
Kepuasan Pelaku
Rina pulang dengan mobil baru.
Ia merasa senang. Tetapi beberapa
hari kemudian, ia menemukan
bahwa harga mobil itu di showroom
lain lebih murah. Ia juga menemukan
bahwa beberapa fitur yang ia pilih
sebenarnya tidak ia butuhkan.
Ia menyesal. Ia merasa telah
membuat keputusan yang buruk.
Doni tidak merasa bersalah.
Ia hanya melakukan tugasnya.
Ia tahu bahwa pelanggan yang lelah
lebih mudah menuruti. Ia tahu
bahwa semakin banyak pilihan
yang diberikan, semakin lemah
kemampuan pelanggan untuk
menolak. Ia memanfaatkan
kelelahan itu untuk mencapai
target penjualannya.
Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal
1. Atasan yang Memberi Terlalu
Banyak Pilihan
Seorang atasan, Bu Sari, ingin
bawahannya, Bima, mengerjakan
proyek tambahan. Ia tidak langsung
meminta. Ia terlebih dahulu
memberikan banyak pilihan.
Bu Sari: “Bima, kamu mau
mengerjakan bagian analisis
atau bagian presentasi?”
Bima: “Saya pilih analisis, Bu.”
Bu Sari: “Baik. Kalau untuk deadline,
kamu mau minggu depan atau
dua minggu?”
Bima: “Dua minggu, Bu.”
Bu Sari: “Kalau tim, kamu mau
bekerja dengan tim A atau tim B?”
Bima: “Tim A, Bu.”
Bu Sari terus memberikan pilihan.
Setelah setengah jam, Bima merasa
lelah. Ia sudah membuat sepuluh
keputusan. Bu Sari kemudian masuk
dengan permintaan utama.
Bu Sari: “Bima, karena kamu sudah
memilih semuanya, saya tambahkan
satu proyek lagi ya. Kamu bisa
handle kan?”
Bima merasa lelah. Ia tidak sanggup
menolak. Ia mengangguk. Bu Sari
berhasil menambahkan beban kerja
Bima tanpa perlawanan.
2. Pasangan yang Memberi
Terlalu Banyak Pilihan
Seorang pasangan, Raka, ingin
mengajak Sari pindah ke kota lain.
Ia tidak langsung meminta.
Ia terlebih dahulu memberikan
banyak pilihan.
Raka: “Sari, kamu mau kita cari
rumah di daerah utara atau selatan?”
Sari: “Selatan.”
Raka: “Kalau tipe rumah, kamu
mau yang minimalis atau klasik?”
Sari: “Minimalis.”
Raka: “Kalau jumlah kamar,
kamu mau tiga atau empat?”
Sari: “Tiga.”
Raka terus memberikan pilihan.
Setelah satu jam, Sari merasa lelah.
Raka kemudian masuk dengan
permintaan utama.
Raka: “Sari, karena kita sudah pilih
semuanya, bagaimana kalau kita
pindah bulan depan?”
Sari merasa lelah. Ia tidak sanggup
memikirkan konsekuensinya.
Ia mengangguk. Raka berhasil
mendapatkan persetujuan Sari
untuk pindah tanpa diskusi yang
panjang.
3. Sales Elektronik yang
Membanjiri Pilihan
Seorang sales, Doni, ingin menjual
paket lengkap kepada pelanggan,
Bima. Ia terlebih dahulu
memberikan banyak pilihan.
Doni: “Pak Bima, mau TV yang
43 inci atau 55 inci?”
Bima: “55 inci.”
Doni: “Kalau resolusi, mau
4K atau 8K?”
Bima: “4K.”
Doni: “Kalau fitur smart TV,
mau yang Android atau Tizen?”
Bima: “Android.”
Doni terus memberikan pilihan.
Setelah setengah jam, Bima merasa
lelah. Doni kemudian masuk dengan
permintaan utama.
Doni: “Pak Bima, karena Bapak sudah
memilih semuanya, saya sarankan
Bapak ambil paket lengkap ini. Sudah
termasuk TV, soundbar, dan instalasi.
Harganya 15 juta.”
Bima merasa lelah. Ia tidak ingin
memikirkan lagi. Ia setuju. Doni
berhasil menjual paket lengkap
dengan harga yang lebih tinggi.
4. Manipulator yang
Membanjiri Pilihan
Seorang manipulator, Doni, ingin
mengendalikan pasangannya, Rina.
Ia terlebih dahulu memberikan
banyak pilihan.
Doni: “Rina, kamu mau kita makan
di restoran A atau B?”
Rina: “A.”
Doni: “Kalau film, mau nonton
genre action atau romance?”
Rina: “Romance.”
Doni: “Kalau akhir pekan, mau
ke pantai atau ke gunung?”
Rina: “Pantai.”
Doni terus memberikan pilihan.
Setelah beberapa jam, Rina merasa
lelah. Doni kemudian masuk
dengan permintaan utama.
Doni: “Rina, karena kita sudah pilih
semuanya, aku mau kamu jauhin
Raka. Aku nggak suka kamu dekat
sama dia.”
Rina merasa lelah. Ia tidak sanggup
berdebat. Ia menuruti. Doni berhasil
mengendalikan Rina dengan
memanfaatkan kelelahan
keputusannya.
Cara Melindungi Diri dari
Decision Fatigue Weaponization
Jika Anda merasa seseorang
memberikan terlalu banyak pilihan
untuk melemahkan Anda, ada
beberapa langkah yang bisa
dilakukan.
Pertama, sadari bahwa Anda
sedang dibanjiri pilihan.
Ketika seseorang memberikan
banyak pertanyaan kecil
berturut-turut, berhentilah sejenak.
Tanyakan pada diri sendiri:
“Apakah saya benar-benar perlu
membuat semua keputusan ini
sekarang?”
Kedua, batasi pilihan.
Jangan biarkan orang lain
memberikan Anda sepuluh opsi.
Minta dua atau tiga saja. Katakan,
“Saya hanya mau
mempertimbangkan dua pilihan.
Tolong pilihkan yang terbaik.”
Ketiga, tunda keputusan.
Jangan mengambil keputusan
penting ketika Anda sedang lelah.
Katakan, “Saya perlu waktu untuk
memikirkannya.” Jeda ini memberi
Anda ruang untuk memulihkan
energi mental.
Keempat, tidur cukup.
Decision fatigue lebih parah ketika
Anda kurang tidur. Pastikan Anda
mendapatkan istirahat yang cukup
sebelum menghadapi situasi yang
membutuhkan banyak keputusan.
Kelima, makan dan minum.
Otak membutuhkan glukosa untuk
berpikir. Jika Anda merasa lelah,
makanlah camilan sehat atau
minum air. Ini membantu
memulihkan energi mental.
Keenam, pasang batasan.
Jika seseorang sengaja membuat
Anda lelah dengan banyak pilihan,
katakan dengan sopan,
“Saya tidak mau bermain dalam
permainan ini. Jika ada permintaan
utama, sampaikan langsung.”
Anda berhak menolak untuk
dibanjiri pilihan.
Ketujuh, buat keputusan penting
di awal hari. Simpan energi mental
Anda untuk keputusan yang
benar-benar penting. Buat keputusan
itu di pagi hari ketika energi Anda
masih penuh.
Decision Fatigue Weaponization
adalah teknik yang memanfaatkan
keterbatasan energi mental manusia.
Pelaku tidak perlu menyerang Anda
secara langsung. Pelaku hanya perlu
membuat Anda mengambil banyak
keputusan kecil. Ketika Anda lelah,
pelaku masuk dengan permintaan
utama. Anda menuruti karena Anda
tidak sanggup berpikir lagi.
Kenali polanya. Jaga energi mental
Anda. Dan ingatlah bahwa keputusan
yang dibuat dalam keadaan lelah
sering kali bukan keputusan yang
terbaik untuk Anda.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya Decision Fatigue
Weaponization.
Lo pasti pernah ngalamin momen
di mana lo udah capek banget, terus
ada yang nanya, “Mau makan apa?
Mau ke mana? Mau pakai baju yang
mana?” Dan lo jawabnya cuma,
“Terserah.” Bukan karena lo nggak
peduli. Tapi karena otak lo udah
kenyang sama pilihan. Lo nggak
sanggup mikir lagi. Nah, itu yang
namanya Decision Fatigue.
Dan di sini kita bahas versi
pemanfaatannya.
Simpelnya, decision fatigue
weaponization adalah teknik
manipulasi di mana pelaku sengaja
bikin lo ngambil terlalu banyak
keputusan kecil, biar otak lo lelah.
Begitu lo lelah, lo berhenti mikir
panjang. Lo cari jalan pintas.
Lo pilih yang paling gampang.
Dan biasanya, yang paling
gampang itu adalah nurut sama
apa yang pelaku mau.
Kalau lo ingat, ini masih nyambung
sama Overloading with
Information yang pernah kita
bahas di daftar sebelumnya.
Di situ pelaku ngebombardir lo
dengan data. Nah, kalau decision
fatigue weaponization ini lebih
ke ngasih lo banyak pilihan. Bukan
data. Pilihan. Karena pilihan juga
nguras energi. Bedanya dikit, tapi
efeknya sama. Lo jadi lelah,
bingung, dan akhirnya pasrah.
Kenapa ini ampuh? Karena keputusan
itu kayak otot. Makin sering dipake,
makin lelah. Dan pas ototnya lelah,
dia nggak bisa angkat beban berat.
Otak lo juga gitu. Pas udah lelah
ambil keputusan, lo bakal nolak
keputusan yang butuh mikir keras.
Lo bakal milih yang gampang.
Lo bakal milih yang udah disiapin.
Dan pelaku tinggal nyiapin pilihan
yang dia mau.
Contoh gampangnya gini. Sales mobil
nyoba jual mobil ke lo. Dia nggak
langsung nawarin harga. Dia mulai
dengan nanya, “Mau warna apa?
Merah, biru, hitam, silver, putih?”
Lo pilih. Dia tanya lagi,
“Mau transmisi manual atau
otomatis?” Lo pilih. Dia tanya lagi,
“Mau yang ada sunroof atau nggak?
Mau velg standar atau sport?”
Lo pilih lagi. Setelah sepuluh
pertanyaan, lo udah lelah. Terus
dia tanya, “Mau ambil yang mana?
Cash atau kredit?” Lo jawab,
“Terserah, yang penting jadi.”
Lo setuju aja. Padahal lo belum
ngitung untung rugi. Tapi karena
otak lo udah capek, lo nurut.
Di dunia kerja juga gitu. Bos ngasih
lo banyak pilihan. “Kamu mau
ngerjain proyek A, B, atau C?
Mau deadline minggu depan atau
dua minggu? Mau pake tim ini atau
tim itu?” Lo milih satu-satu. Tapi
makin lama, makin capek.
Akhirnya pas bos ngasih tugas
tambahan, lo iyain aja. Lo nggak
mikir lagi. Lo cuma pengen cepet
selesai.
Cara pakainya, bagi pelaku, gampang.
Pertama, siapin banyak pilihan.
Jangan langsung ke inti.
Kedua, tanya satu-satu. Jangan kasih
jeda.
Ketiga, setelah target lelah, masuk
dengan permintaan utama.
Keempat, bikin permintaan itu
keliatan kayak jalan keluar.
“Ya udah, kita ambil yang ini aja.
Biar cepet.”
Kelima, target bakal nurut karena
udah nggak sanggup mikir.
Tapi lo nggak perlu jadi pelaku.
Lo perlu tau cara nahan teknik ini.
Pertama, sadar kalau lo lagi dijejalin
pilihan. Kalau ada yang nanya
terlalu banyak, berhenti. Bilang,
“Tunggu, gue mau mikir dulu.”
Kedua, batasi pilihan. Jangan biarin
orang lain ngasih lo sepuluh opsi.
Minta dua atau tiga aja.
Ketiga, tunda keputusan. Jangan
ambil keputusan penting pas lo lagi
capek.
Keempat, tidur cukup.
Karena decision fatigue itu lebih
parah kalau lo kurang tidur.
Kelima, pasang batasan. Kalau ada
yang sengaja bikin lo lelah, bilang,
“Gue nggak mau main di permainan
ini.”
Jadi, Decision Fatigue
Weaponization itu ibarat lo lagi
dikasih seratus kunci buat buka
satu pintu. Lo coba satu-satu.
Nggak ada yang cocok. Terus ada
yang ngasih lo satu kunci sambil
bilang, “Nih, pake ini aja.”
Lo langsung ambil. Padahal kunci
itu yang dia mau lo pake dari awal.
Lo cuma terlalu capek buat nyari
yang lain.
