Psikologi

Attention Residue Exploitation: Ketika Distraksi Kecil Dijadikan Alat untuk Melemahkan Fokus Anda

Pernahkah Anda mengalami momen
ketika Anda sedang fokus
mengerjakan sesuatu, lalu muncul
notifikasi? Anda memeriksanya
sebentar. Hanya sebentar.
Tetapi setelah itu, Anda sulit
kembali fokus. Pikiran Anda masih
tersangkut pada notifikasi tadi.
Walaupun Anda sudah kembali
ke pekerjaan Anda, sebagian
perhatian Anda masih tertinggal
di situ. Inilah yang disebut
Attention Residue.

Attention Residue Exploitation
adalah teknik manipulasi di mana
pelaku sengaja menciptakan
distraksi kecil yang meninggalkan
residu di kepala Anda. Tujuannya
bukan membuat Anda berhenti
bekerja. Tujuannya adalah
membuat Anda tidak bisa fokus
sepenuhnya. Ketika fokus Anda
terpecah, Anda lebih mudah
dipengaruhi. Anda lebih mudah
salah mengambil keputusan.
Anda lebih mudah menuruti
permintaan.

Teknik ini berhubungan dengan
Baiting with Curiosity Gaps
yang telah dibahas sebelumnya.
Pada teknik itu, pelaku
memanfaatkan rasa penasaran
Anda. Pada Attention Residue
Exploitation, pelaku memanfaatkan
efek samping dari distraksi. Pelaku
tidak perlu membuat Anda
penasaran. Pelaku hanya perlu
membuat Anda kehilangan fokus
sedikit. Dari situ, pelaku masuk.

Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Perpindahan Tugas
Meninggalkan Residu Kognitif

Eksperimen Sophie
Leroy (2009):
Why Is It So Hard to
Do My Job?

Sophie Leroy, seorang profesor
manajemen dari University of
Minnesota, melakukan penelitian
yang sangat relevan tentang
bagaimana perpindahan tugas
memengaruhi kinerja.
Ia memperkenalkan konsep
attention residue untuk
menjelaskan mengapa orang sulit
fokus setelah berpindah dari satu
tugas ke tugas lain.

Dalam eksperimen ini, Leroy
meminta partisipan untuk
mengerjakan dua tugas secara
berurutan. Tugas pertama adalah
membaca sebuah dokumen dan
menjawab pertanyaan tentang
isinya. Tugas kedua adalah
menyelesaikan serangkaian soal
logika. Waktu untuk tugas
pertama terbatas.

Partisipan dibagi menjadi tiga
kelompok.
Kelompok pertama diminta
menyelesaikan tugas pertama
sampai selesai sebelum beralih
ke tugas kedua.
Kelompok kedua diminta berhenti
di tengah tugas pertama,
lalu langsung beralih ke tugas
kedua.
Kelompok ketiga diminta berhenti
di tengah tugas pertama, tetapi
sebelum beralih, mereka diberi
waktu untuk menuliskan rencana
penyelesaian tugas pertama itu.

Setelah semua partisipan
menyelesaikan tugas kedua,
Leroy mengukur kinerja mereka.
Ia juga mengukur seberapa sering
pikiran mereka melayang
ke tugas pertama.

Hasilnya, partisipan yang berhenti
di tengah tugas pertama dan
langsung beralih ke tugas kedua
menunjukkan kinerja yang paling
buruk. Mereka membuat lebih
banyak kesalahan. Mereka juga
melaporkan bahwa pikiran mereka
sering melayang kembali ke tugas
pertama yang belum selesai. Residu
kognitif dari tugas pertama
mengganggu konsentrasi mereka
pada tugas kedua.

Partisipan yang menyelesaikan
tugas pertama sebelum beralih
menunjukkan kinerja yang lebih
baik. Mereka bisa fokus penuh
pada tugas kedua karena tidak
ada residu dari tugas sebelumnya.

Yang paling menarik, partisipan
yang diberi waktu untuk menuliskan
rencana penyelesaian tugas pertama
sebelum beralih menunjukkan
kinerja yang hampir setara dengan
kelompok yang menyelesaikan tugas
pertama. Menuliskan rencana
membantu otak menutup loop
sementara. Residu kognitifnya
berkurang. Mereka bisa fokus
pada tugas kedua.

Dialog setelah eksperimen:

Leroy: “Bagaimana perasaan Anda
saat mengerjakan tugas kedua?”

Partisipan kelompok kedua:
“Saya sulit fokus. Pikiran saya terus
kembali ke tugas pertama yang
belum selesai.”

Leroy: “Apakah Anda menyadari
bahwa itu mengganggu kinerja
Anda?”

Partisipan: “Iya. Saya merasa tidak
bisa sepenuhnya hadir di tugas
kedua.”

Leroy: “Apa yang membantu Anda
fokus?”

Partisipan kelompok ketiga:
“Menulis rencana itu membantu.
Setelah saya tulis, saya merasa lebih
tenang. Seperti ada yang
menampung pikiran saya.”

Leroy menyimpulkan bahwa
perpindahan tugas yang tidak tuntas
menciptakan residu kognitif. Residu
itu mengganggu fokus pada tugas
berikutnya. Menuliskan rencana atau
menutup loop sementara dapat
mengurangi residu. Dalam Attention
Residue Exploitation, pelaku
menciptakan distraksi yang tidak
tuntas. Distraksi itu meninggalkan
residu. Ketika fokus korban melemah,
pelaku masuk dengan permintaan.

Eksperimen Gloria Mark,
Daniela Gudith, dan Ulrich
Klocke (2008): The Cost of
Interrupted Work

Gloria Mark, Daniela Gudith, dan
Ulrich Klocke dari University of
California, Irvine, melakukan
penelitian tentang bagaimana
interupsi memengaruhi kinerja dan
stres. Mereka ingin mengukur
berapa lama waktu yang dibutuhkan
seseorang untuk kembali fokus
setelah diinterupsi.

Dalam eksperimen ini, partisipan
diminta mengerjakan tugas yang
membutuhkan konsentrasi, seperti
menulis atau memecahkan
masalah. Mereka diinterupsi pada
waktu yang tidak terduga. Interupsi
itu bisa berupa pertanyaan dari
rekan kerja, telepon, atau notifikasi
email. Setelah interupsi selesai,
partisipan diminta melanjutkan
tugas mereka.

Peneliti mengukur berapa lama
partisipan kembali ke tingkat fokus
sebelum interupsi. Mereka juga
mengukur tingkat stres partisipan.

Hasilnya, partisipan membutuhkan
rata-rata 23 menit dan 15 detik
untuk kembali sepenuhnya fokus
pada tugas mereka setelah
diinterupsi. Selama waktu itu,
mereka mengerjakan tugas dengan
setengah perhatian. Mereka juga
melaporkan tingkat stres yang lebih
tinggi. Semakin sering diinterupsi,
semakin tinggi tingkat stres dan
semakin lama waktu yang
dibutuhkan untuk kembali fokus.

Dialog setelah eksperimen:

Mark: “Berapa lama Anda merasa
butuh untuk kembali fokus setelah
interupsi?”

Partisipan: “Lama. Saya merasa
pikiran saya terpecah.
Saya mengerjakan tugas, tetapi
setengah pikiran saya masih
di interupsi tadi.”

Mark: “Apakah interupsi itu
memengaruhi kualitas pekerjaan
Anda?”

Partisipan: “Iya. Saya membuat lebih
banyak kesalahan. Saya sulit
berkonsentrasi.”

Mark: “Apakah Anda merasa lebih
stres?”

Partisipan: “Sangat stres. Saya merasa
tidak pernah bisa menyelesaikan apa
pun dengan baik.”

Mark menyimpulkan bahwa interupsi
memiliki biaya kognitif yang
signifikan. Ia tidak hanya mengganggu
momen saat interupsi terjadi.
Ia mengganggu fokus untuk waktu
yang lama setelahnya.
Dalam Attention Residue Exploitation,
pelaku menciptakan interupsi kecil
yang berulang. Setiap interupsi
meninggalkan residu. Residu itu
menumpuk. Fokus korban semakin
melemah. Korban menjadi lebih
mudah dipengaruhi.

Eksperimen Erik Altmann,
J. Gregory Trafton, dan David
Hambrick (2014):
The Persistent Cost of
Interruption

Erik Altmann, J. Gregory Trafton,
dan David Hambrick dari Michigan
State University melakukan
penelitian lanjutan tentang
bagaimana interupsi memengaruhi
kemampuan kognitif. Mereka ingin
menguji apakah interupsi pendek
tetap memiliki efek jangka panjang.

Dalam eksperimen ini, partisipan
diminta mengerjakan tugas yang
membutuhkan memori kerja,
seperti mengingat urutan angka
sambil melakukan operasi
matematika. Mereka diinterupsi
selama beberapa detik. Setelah
interupsi, mereka diminta
melanjutkan tugas.

Hasilnya, partisipan yang diinterupsi
membuat lebih banyak kesalahan
daripada partisipan yang tidak
diinterupsi. Yang lebih penting,
kesalahan itu tidak hanya terjadi
tepat setelah interupsi. Kesalahan
itu terus terjadi selama beberapa
menit setelahnya. Residu dari
interupsi itu tetap ada, bahkan
ketika partisipan sudah kembali
mengerjakan tugas.

Dialog setelah eksperimen:

Altmann: “Apakah Anda merasa sudah
kembali fokus setelah interupsi?”

Partisipan: “Saya merasa sudah.
Tapi saya masih membuat kesalahan.”

Altmann: “Apakah Anda menyadari
bahwa interupsi itu masih
memengaruhi Anda?”

Partisipan: “Tidak. Saya pikir saya
sudah baik-baik saja. Ternyata tidak.”

Altmann menyimpulkan bahwa efek
interupsi bertahan lebih lama dari
yang disadari. Orang merasa sudah
kembali fokus, tetapi kinerja mereka
masih terganggu. Residu kognitif
tetap ada di bawah sadar.
Dalam Attention Residue Exploitation,
pelaku memanfaatkan residu ini.
Korban merasa sudah kembali fokus,
tetapi sebenarnya masih setengah
hadir. Pelaku masuk di momen itu.

Mengapa Attention Residue
Exploitation Begitu Efektif?

Otak manusia tidak bisa multitasking
secara sejati. Ketika Anda berpindah
dari satu tugas ke tugas lain,
sebagian perhatian Anda masih
tertinggal di tugas sebelumnya.
Inilah yang disebut attention residue.
Semakin sering Anda berpindah,
semakin banyak residu.
Semakin banyak residu, semakin
lemah fokus Anda. Ketika fokus Anda
lemah, Anda lebih mudah
diprovokasi, lebih mudah dibohongi,
lebih mudah menuruti.

Pelaku memanfaatkan residu ini
dengan menciptakan distraksi kecil
yang tidak tuntas. Distraksi itu bisa
berupa pertanyaan yang digantung,
informasi setengah-setengah, atau
notifikasi yang memicu rasa
penasaran. Distraksi itu tidak perlu
besar. Ia hanya perlu cukup untuk
menciptakan residu. Setelah residu
tercipta, pelaku menunggu momen
yang tepat. Ketika korban sedang
tidak fokus, pelaku masuk dengan
permintaan.

Selain itu, attention residue
menciptakan kelelahan kognitif.
Semakin banyak residu, semakin
besar beban mental. Korban merasa
lelah. Korban merasa kewalahan.
Korban ingin segera menyelesaikan
semuanya. Dalam kondisi itu,
korban lebih mudah menuruti
permintaan pelaku, bahkan
permintaan yang sebenarnya
tidak wajar.

Empat Fase Attention Residue
Exploitation: Kisah Rina dan
Rekan Kerjanya

Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Rina.
Ia bekerja di sebuah perusahaan
yang sibuk.

Fase 1: Menciptakan Distraksi
Kecil

Rina sedang mengerjakan laporan
yang membutuhkan konsentrasi
tinggi. Ia harus menganalisis data
dan menulis kesimpulan. Tiba-tiba,
rekannya, Doni, datang ke mejanya.

Doni: “Rin, kamu sudah dengar
berita soal proyek baru belum?”

Rina: “Belum. Ada apa?”

Doni: “Nanti deh, gue cerita. Panjang.
Tapi penting banget.”

Doni pergi. Ia tidak menjelaskan
apa pun. Ia hanya menanam distraksi.
Rina kembali ke laporannya. Tetapi
pikirannya mulai terpecah.
Apa proyek baru itu? Apakah itu
akan memengaruhi pekerjaannya?
Apakah ia akan dilibatkan?

Fase 2: Membiarkan Residu
Terbentuk

Rina mencoba fokus kembali
ke laporan. Tetapi pikirannya terus
kembali ke pertanyaan Doni.
Ia membaca paragraf yang sama
berulang kali. Ia mengetik kalimat,
lalu menghapusnya. Ia merasa
frustrasi. Ia merasa laporannya
tidak selesai-selesai.

Doni: “Rin, kamu sudah selesai?”

Rina: “Belum. Konsentrasi
gue pecah.”

Doni: “Oh, maaf ya. Tadi gue
cuma mau cerita soal proyek
baru. Tapi nanti aja.”

Doni kembali pergi. Ia tidak
menutup loop. Ia meninggalkan
Rina dengan residu yang
semakin besar.

Fase 3: Masuk dengan
Permintaan

Doni kembali lagi setelah beberapa
saat. Kali ini ia membawa
permintaan.

Doni: “Rin, gue butuh bantuan nih.
Laporan gue juga harus selesai hari
ini. Bisa kamu bantu review sebentar?
Cuma sepuluh menit.”

Rina merasa lelah. Ia merasa
pikirannya sudah terpecah. Ia tidak
ingin menambah beban. Tetapi ia
juga merasa tidak enak untuk
menolak. Doni sudah bilang maaf.
Doni sudah bilang nanti akan cerita.

Rina: “Ya udah. Sini.”

Rina membantu Doni.
Ia mengerjakan laporan Doni
dengan setengah fokus. Ia membuat
beberapa kesalahan kecil.
Doni berterima kasih. Ia pergi.
Rina kembali ke laporannya.
Ia merasa semakin lelah. Ia merasa
laporannya semakin jauh dari
selesai.

Fase 4: Eksploitasi dan
Akumulasi Residu

Doni mengulangi pola itu. Setiap hari,
ia menciptakan distraksi kecil.
Setiap hari, ia menunggu Rina
kehilangan fokus. Setiap hari,
ia masuk dengan permintaan.
Rina tidak menyadari bahwa ia
sedang dikendalikan. Ia merasa
bahwa Doni hanyalah rekan yang
sibuk. Ia merasa bahwa dirinya
yang kurang bisa mengatur fokus.

Akibatnya, laporan Rina sering
terlambat. Kualitasnya menurun.
Ia mendapat teguran dari atasannya.
Ia merasa stres. Ia merasa tidak
kompeten. Padahal, ia hanya
menjadi korban Attention Residue
Exploitation. Doni tidak pernah
menyerangnya secara langsung.
Ia hanya menciptakan distraksi.
Rina yang menghancurkan
fokusnya sendiri.

Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal

1. Atasan yang Menciptakan
Residu

Seorang atasan, Bu Sari, ingin
bawahannya, Bima, mengerjakan
tugas tambahan.
Ia tidak langsung meminta.
Ia terlebih dahulu mengirim
pesan singkat.

Bu Sari: “Bima, ada perubahan
penting. Nanti saya jelaskan.”

Bima membaca pesan itu. Ia merasa
cemas. Ia menunggu penjelasan.
Ia tidak bisa fokus pada
pekerjaannya. Ia terus memeriksa
ponselnya. Setelah satu jam,
Bu Sari datang.

Bu Sari: “Bima, saya butuh kamu
lembur hari ini. Ada tugas tambahan.”

Bima merasa lelah. Ia merasa
pikirannya sudah terpecah. Ia tidak
bisa menolak. Ia setuju. Bu Sari
menggunakan residu dari pesan
singkat itu untuk mendapatkan
kepatuhan Bima.

2. Rekan Kerja yang
Mengganggu Fokus

Seorang rekan kerja, Doni, ingin
meminjam uang kepada Rina.
Ia tidak langsung meminta.
Ia terlebih dahulu mengirim
pesan.

Doni: “Rin, gue lagi ada masalah.
Nanti gue cerita ya.”

Rina membaca pesan itu. Ia merasa
khawatir. Ia menunggu cerita Doni.
Ia tidak bisa fokus. Setelah
beberapa jam, Doni datang.

Doni: “Rin, gue butuh pinjaman.
Bisa bantu?”

Rina merasa tidak enak. Ia sudah
terlanjur khawatir. Ia memberikan
pinjaman. Doni menggunakan residu
dari pesan singkat itu untuk
mendapatkan uang.

3. Sales yang Menciptakan
Residu

Seorang sales, Doni, ingin menjual
produk kepada calon pembeli,
Bima. Ia tidak langsung
menawarkan. Ia terlebih dahulu
mengirim pesan.

Doni: “Pak Bima, saya ada informasi
penting soal produk yang Bapak cari.
Nanti saya sampaikan.”

Bima membaca pesan itu. Ia merasa
penasaran. Ia menunggu informasi.
Ia tidak bisa fokus pada
pekerjaannya. Setelah beberapa
jam, Doni menelepon.

Doni: “Pak Bima, produk yang
Bapak cari ada stok terbatas.
Saya sarankan Bapak memesan
sekarang.”

Bima merasa panik. Ia merasa
pikirannya sudah terpecah.
Ia memesan produk tanpa berpikir
panjang. Doni menggunakan residu
dari pesan singkat itu untuk
mendapatkan penjualan.

4. Manipulator yang
Menciptakan Residu

Seorang manipulator, Doni, ingin
mengendalikan pasangannya, Rina.
Ia tidak langsung meminta.
Ia terlebih dahulu mengirim pesan.

Doni: “Rin, ada yang mau gue
omongin. Tapi nanti aja.”

Rina membaca pesan itu. Ia merasa
cemas. Ia merasa ada yang salah.
Ia tidak bisa fokus pada
pekerjaannya. Ia menunggu
penjelasan Doni. Setelah beberapa
jam, Doni datang.

Doni: “Rin, gue nggak suka kamu
deket sama Raka. Tolong jauhin
dia.”

Rina merasa terpojok. Ia merasa
pikirannya sudah terpecah. Ia merasa
tidak berdaya. Ia menuruti
permintaan Doni. Doni menggunakan
residu dari pesan singkat itu untuk
mengendalikan Rina.

Cara Melindungi Diri dari
Attention Residue Exploitation

Jika Anda merasa seseorang
menciptakan distraksi untuk
melemahkan fokus Anda, ada
beberapa langkah yang bisa
dilakukan.

Pertama, sadari bahwa Anda
sedang kehilangan fokus.

Ketika Anda merasa pikiran Anda
terpecah, berhentilah sejenak.
Tanyakan pada diri sendiri:
“Apakah saya sedang dipengaruhi
oleh distraksi tadi?”

Kedua, tunda keputusan.
Jangan mengambil keputusan penting
ketika Anda sedang tidak fokus.
Katakan, “Saya perlu waktu untuk
memikirkannya.” Jeda ini memberi
Anda ruang untuk kembali fokus.

Ketiga, tuliskan distraksi itu.
Jika seseorang memberikan
informasi setengah-setengah,
tuliskan di catatan. Tuliskan apa
yang Anda ketahui dan apa yang
belum. Ini membantu otak Anda
menutup loop sementara. Residu
berkurang. Anda bisa kembali fokus.

Keempat, latih fokus.
Kurangi multitasking. Kerjakan satu
tugas sampai selesai sebelum
beralih ke tugas lain. Semakin Anda
melatih fokus, semakin sulit
orang lain mengganggu Anda.

Kelima, pasang batasan.
Jika seseorang sering mengganggu
Anda dengan distraksi kecil,
katakan dengan sopan,
“Saya sedang fokus. Bisa kita bicara
nanti?” Anda berhak menjaga
waktu fokus Anda.

Keenam, jangan merasa
bersalah.

Ketika Anda menolak permintaan
yang datang saat Anda tidak fokus,
Anda tidak perlu merasa bersalah.
Anda sedang menjaga kualitas
pekerjaan Anda. Anda sedang
menjaga diri Anda.

Ketujuh, kenali polanya.
Jika seseorang selalu menciptakan
distraksi sebelum meminta
sesuatu, itu bukan kebetulan.
Itu pola. Kenali polanya. Jangan
biarkan diri Anda terjebak
berulang kali.

Attention Residue Exploitation adalah
teknik yang memanfaatkan
keterbatasan fokus manusia.
Pelaku tidak perlu menyerang Anda
secara langsung. Pelaku hanya perlu
menciptakan distraksi kecil. Residu
dari distraksi itu melemahkan fokus
Anda. Ketika fokus Anda lemah,
pelaku masuk dengan permintaan.
Kenali polanya. Jaga fokus Anda.
Dan ingatlah bahwa distraksi kecil
yang tidak Anda sadari bisa menjadi
alat yang sangat kuat untuk
mengendalikan Anda.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya 
Attention Residue
Exploitation
.

Lo pasti pernah ngalamin momen
di mana lo lagi fokus ngerjain
sesuatu, terus ada notifikasi muncul.
Lo cek sebentar. Cuma sebentar.
Tapi setelah itu, lo susah balik
fokus. Pikiran lo masih nyangkut
di notifikasi tadi. Walaupun lo
udah balik ke kerjaan lo, separuh
otak lo masih di situ. Nah, itu yang
namanya 
Attention Residue.

Simpelnya, attention residue
exploitation adalah teknik di mana
pelaku sengaja nyiptain distraksi
kecil yang ninggalin residu
di kepala lo. Tujuannya bukan
bikin lo berhenti kerja. Tujuannya
bikin lo nggak bisa fokus penuh.
Karena begitu fokus lo pecah,
lo lebih gampang dipengaruhi.
Lo lebih gampang salah ambil
keputusan. Lo lebih gampang
nurut.

Ini masih nyambung sama Baiting
with Curiosity Gaps
 yang
barusan kita bahas. Di situ pelaku
manfaatin rasa penasaran lo.
Kalau attention residue ini lebih
ke efek samping dari distraksi.
Dia nggak perlu bikin lo penasaran.
Dia cuma perlu bikin lo kehilangan
fokus dikit. Dan dari situ, dia bisa
masuk.

Kenapa ini ampuh?
Karena otak kita nggak bisa
multitasking beneran. Pas lo pindah
dari satu tugas ke tugas lain,
sebagian perhatian lo masih nempel
di tugas sebelumnya. Itu namanya
attention residue. Makin sering lo
pindah, makin banyak residu. Makin
banyak residu, makin lemah fokus
lo. Dan pas fokus lo lemah, lo lebih
gampang diprovokasi, lebih
gampang dibohongin, lebih
gampang nurut.

Contoh gampangnya gini. Lo lagi
ngerjain laporan. Tiba-tiba ada yang
nanya, “Eh, lo udah denger berita
soal si A belum?” Lo jawab, “Belum.”
Dia bilang, “Nanti deh gue cerita.”
Dia pergi. Tapi sekarang, kepala lo
kepikiran. Siapa A. Berita apa.
Lo susah balik fokus. Dan pas dia
dateng lagi buat minta tolong,
lo lagi nggak fokus. Lo iyain aja.

Di dunia kerja juga gitu. Bos ngirim
email, “Ada perubahan kecil. Nanti
gue jelasin.” Lo baca. Lo nunggu.
Lo nggak bisa fokus ke kerjaan lain.
Dan pas dia dateng bawa tugas
tambahan, lo lagi nggak siap.
Lo terima aja.

Cara pakainya, bagi pelaku, gampang.
Pertama, kasih distraksi kecil.
Bisa pesan, bisikan, atau informasi
setengah-setengah. Kedua, biarin
target kepikiran. Ketiga, pas target
lagi nggak fokus, masuk dengan
permintaan atau instruksi. Keempat,
jangan kasih waktu buat mikir.
Buru-buru dikit.

Tapi lo nggak perlu jadi pelaku.
Lo perlu tau cara nahan teknik ini.
Pertama, sadar kalau lo lagi
kehilangan fokus. Kedua, tunda
keputusan. Jangan ambil keputusan
penting pas lo lagi nggak fokus.
Ketiga, tulis. Kalau ada distraksi,
tulis di catatan. Biar otak lo nggak
nyimpen. Keempat, latih fokus.
Kurangin multitasking. Kelima,
pasang batasan. Kalau ada yang
ganggu, bilang, “Nanti ya, gue
lagi fokus.”

Jadi, Attention Residue
Exploitation
itu ibarat lo lagi
nyetir. Ada yang ngelempar batu
kecil ke kaca. Kacanya nggak pecah.
Tapi lo kaget. Lo kehilangan fokus
sedetik. Dan di detik itu, lo bisa
nabrak. Atau bisa dibelokkan.
Pelaku nggak perlu ngerusak mobil
lo. Dia cuma perlu ngganggu lo
sebentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *