filsafat

Compatibilism: Mengapa Kebebasan dan Takdir Bisa Berjalan Bersama?

Pernahkah Anda merasa terjebak antara dua keyakinan yang tampak bertentangan? Di satu sisi, Anda merasa bahwa Anda punya kehendak bebas. Anda bisa memilih. Anda bisa memutuskan. Anda bisa mengubah arah hidup Anda. Di sisi lain, Anda juga merasa bahwa banyak hal dalam hidup ini sudah ditentukan. Anda tidak memilih orang tua Anda. Anda tidak memilih tempat lahir Anda. Anda tidak memilih gen Anda. Anda tidak memilih lingkungan awal Anda. Lalu, apakah Anda benar-benar bebas? Atau apakah kebebasan itu hanya ilusi?

Perdebatan antara determinisme dan kehendak bebas sudah berlangsung ribuan tahun. Banyak filsuf mengatakan bahwa keduanya tidak bisa hidup bersama. Jika segalanya sudah ditentukan, maka tidak ada kebebasan. Jika ada kebebasan, maka tidak semua ditentukan. Tetapi ada filsuf yang menawarkan jalan tengah. Jalan tengah itu bernama Compatibilism. Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.

Apa Itu Compatibilism?

Compatibilism adalah pandangan bahwa determinisme dan kehendak bebas bisa hidup bersama. Keduanya tidak saling bertentangan. Kita bisa hidup di alam semesta yang mengikuti hukum sebab akibat, dan pada saat yang sama, kita tetap bisa disebut bebas.

Bagaimana mungkin? Compatibilism mengubah cara kita memahami kebebasan. Kebebasan tidak berarti bebas dari semua pengaruh. Kebebasan tidak berarti bisa melakukan apa pun tanpa sebab. Kebebasan tidak berarti melampaui hukum alam. Kebebasan berarti bertindak sesuai dengan keinginan dan pertimbangan Anda sendiri, tanpa paksaan dari luar.

Menurut Compatibilism, Anda bebas jika tindakan Anda berasal dari diri Anda sendiri. Anda bebas jika Anda tidak dipaksa. Anda bebas jika Anda bisa melakukan apa yang Anda inginkan. Anda tidak perlu bebas dari gen Anda. Anda tidak perlu bebas dari didikan Anda. Anda tidak perlu bebas dari pengalaman Anda. Anda hanya perlu bertindak sesuai dengan diri Anda.

Siapa yang Mengembangkan Compatibilism?

Compatibilism sudah ada sejak lama. Ia dikembangkan oleh beberapa filsuf besar.

Yang pertama adalah Thomas Hobbes. Ia hidup pada abad ke-17. Ia adalah seorang filsuf Inggris yang terkenal dengan bukunya “Leviathan.” Hobbes percaya bahwa segala sesuatu di alam semesta ini mengikuti hukum sebab akibat. Bahkan pikiran dan keinginan manusia pun ditentukan oleh sebab sebelumnya. Tetapi Hobbes juga percaya bahwa manusia bisa disebut bebas. Bebas berarti tidak ada hambatan untuk melakukan apa yang diinginkan. Jika Anda ingin minum, dan tidak ada yang menghalangi, maka Anda bebas.

Yang kedua adalah David Hume. Ia hidup pada abad ke-18. Ia adalah seorang filsuf Skotlandia yang terkenal dengan empirisme dan skeptisismenya. Hume berargumen bahwa kehendak bebas dan determinisme sebenarnya tidak bertentangan. Keduanya adalah dua cara melihat hal yang sama. Ketika kita melihat tindakan manusia dari sudut pandang motif dan karakter, kita menyebutnya bebas. Ketika kita melihatnya dari sudut pandang sebab akibat, kita menyebutnya ditentukan. Tidak ada kontradiksi.

Yang ketiga adalah Daniel Dennett. Ia adalah seorang filsuf Amerika kontemporer. Ia mengembangkan Compatibilism dengan menggunakan ilmu saraf dan evolusi. Ia berargumen bahwa kebebasan adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, untuk belajar dari pengalaman, dan untuk membuat pilihan yang lebih baik. Kebebasan bukanlah sesuatu yang dimiliki atau tidak dimiliki. Kebebasan adalah spektrum. Semakin kompleks makhluk, semakin besar kebebasannya.

Mengapa Ini Penting untuk Anda?

Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya perdebatan filsuf. Saya tidak peduli.” Tetapi coba lihat lagi.

Pernahkah Anda merasa bersalah atas kesalahan yang Anda lakukan? Anda merasa bahwa Anda seharusnya bisa memilih yang berbeda. Tetapi Anda juga tahu bahwa ada faktor-faktor yang memengaruhi Anda. Compatibilism membantu Anda memahami bahwa rasa bersalah itu tetap valid, selama tindakan Anda berasal dari diri Anda sendiri.

Pernahkah Anda merasa marah pada seseorang yang menyakiti Anda? Anda merasa bahwa ia seharusnya tidak melakukan itu. Tetapi Anda juga tahu bahwa ia punya latar belakang yang sulit. Compatibilism membantu Anda memahami bahwa kemarahan itu tetap valid, selama tindakannya berasal dari dirinya sendiri, bukan dari paksaan.

Pernahkah Anda merasa bahwa Anda tidak bisa berubah? Anda merasa bahwa Anda sudah ditentukan oleh masa lalu Anda. Compatibilism membantu Anda memahami bahwa Anda tetap punya ruang untuk berubah. Anda tidak bisa mengubah gen Anda. Anda tidak bisa mengubah masa lalu Anda. Tetapi Anda bisa mengubah cara Anda merespons. Anda bisa mengubah kebiasaan Anda. Anda bisa mengubah tujuan Anda.

Compatibilism juga muncul dalam hukum. Ketika seseorang melakukan kejahatan, apakah ia bertanggung jawab? Compatibilism mengatakan ya, jika tindakannya berasal dari dirinya sendiri. Jika ia dipaksa, jika ia tidak tahu, jika ia tidak mampu mengendalikan diri, maka tanggung jawabnya berkurang. Hukum modern sering menggunakan prinsip ini.

Compatibilism juga muncul dalam agama. Banyak agama mengajarkan bahwa Tuhan itu mahatahu dan mahakuasa. Tuhan tahu segalanya. Tuhan mengatur segalanya. Tetapi agama juga mengajarkan bahwa manusia bertanggung jawab atas perbuatannya. Bagaimana keduanya bisa bertemu? Compatibilism menawarkan jalan tengah. Tuhan menentukan segalanya, tetapi manusia tetap punya kebebasan yang diberikan oleh Tuhan.

Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari

Seorang mahasiswa memilih jurusan kuliah. Ia memilih psikologi. Apakah pilihannya bebas? Menurut Compatibilism, ya. Ia memilih karena ia tertarik pada psikologi. Ia memilih karena ia ingin membantu orang lain. Ia tidak dipaksa oleh siapa pun. Gen, didikan, dan lingkungannya memengaruhi minatnya. Tetapi pilihan itu tetap berasal dari dirinya sendiri.

Seorang karyawan memutuskan untuk resign. Ia tidak tahan dengan pekerjaannya. Apakah keputusannya bebas? Menurut Compatibilism, ya. Ia memutuskan karena ia ingin mencari pekerjaan yang lebih baik. Ia memutuskan karena ia ingin menjaga kesehatan mentalnya. Ia tidak dipaksa oleh siapa pun. Kondisi ekonominya memengaruhi keputusannya. Tetapi keputusan itu tetap berasal dari dirinya sendiri.

Seorang ibu memaafkan orang yang menyakiti anaknya. Apakah keputusannya bebas? Menurut Compatibilism, ya. Ia memutuskan untuk memaafkan karena ia ingin hidup dengan damai. Ia memutuskan karena ia ingin memberi contoh pada anaknya. Ia tidak dipaksa oleh siapa pun. Pengalaman hidupnya memengaruhi keputusannya. Tetapi keputusan itu tetap berasal dari dirinya sendiri.

Seorang pemuda berhenti dari kecanduan narkoba. Apakah keputusannya bebas? Menurut Compatibilism, ya. Ia memutuskan untuk berhenti karena ia ingin hidup lebih baik. Ia memutuskan karena ia ingin membahagiakan keluarganya. Ia tidak dipaksa oleh siapa pun. Kecanduannya memengaruhi keputusannya. Tetapi keputusan itu tetap berasal dari dirinya sendiri.

Seorang pengguna media sosial memilih untuk tidak berkomentar kasar. Apakah keputusannya bebas? Menurut Compatibilism, ya. Ia memutuskan untuk menahan diri karena ia ingin menjaga perdamaian. Ia memutuskan karena ia ingin menjadi orang yang lebih baik. Ia tidak dipaksa oleh siapa pun. Emosinya memengaruhi keputusannya. Tetapi keputusan itu tetap berasal dari dirinya sendiri.

Semua contoh ini menunjukkan bahwa Compatibilism bukan hanya teori. Ia menyentuh cara kita memahami pilihan, tanggung jawab, dan kebebasan.

Tiga Fase Menghadapi Compatibilism

Fase pertama, Anda merasa bingung. Anda mendengar tentang determinisme. Anda mendengar tentang kehendak bebas. Anda merasa bahwa keduanya bertentangan. Anda tidak tahu harus memilih yang mana.

Fase kedua, Anda merasa terbuka. Anda membaca tentang Compatibilism. Anda menyadari bahwa keduanya bisa hidup bersama. Anda mulai memahami bahwa kebebasan bukan berarti bebas dari semua pengaruh. Anda mulai memahami bahwa kebebasan berarti bertindak sesuai dengan diri sendiri.

Fase ketiga, Anda merasa bebas. Anda menyadari bahwa Anda tidak perlu menjadi sempurna. Anda tidak perlu bebas dari semua batasan. Anda hanya perlu bertindak sesuai dengan nilai-nilai Anda. Anda hanya perlu bertanggung jawab atas pilihan Anda. Anda hanya perlu hidup dengan integritas.

Tanggapan-Tanggapan terhadap Compatibilism

Compatibilism tidak lepas dari kritik. Banyak filsuf menolak atau meragukan pandangan ini.

Kritik pertama datang dari libertarian. Mereka mengatakan bahwa Compatibilism terlalu mudah. Ia mengubah definisi kebebasan. Ia membuat kebebasan menjadi sesuatu yang murahan. Kebebasan sejati adalah kemampuan untuk memilih yang berbeda dalam situasi yang sama. Jika segalanya sudah ditentukan, maka kebebasan sejati tidak ada.

Kritik kedua datang dari determinis keras. Mereka mengatakan bahwa Compatibilism tidak konsisten. Jika segalanya ditentukan, maka tidak ada kebebasan. Tidak ada gunanya mengatakan bahwa kita bebas selama kita bertindak sesuai keinginan kita. Keinginan itu sendiri sudah ditentukan.

Kritik ketiga datang dari skeptis. Mereka mengatakan bahwa Compatibilism hanya permainan kata. Ia tidak menyelesaikan masalah. Ia hanya mengubah definisi agar masalahnya hilang. Itu tidak memuaskan secara filosofis.

Kritik keempat datang dari ilmu saraf. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa keputusan sudah dibuat di otak sebelum kita sadar. Jika benar, maka kebebasan yang kita rasakan hanyalah ilusi. Compatibilism mungkin terlalu optimis.

Tanggapan terhadap Kritik

Pendukung Compatibilism punya tanggapan. Mereka tidak selalu menerima kritik itu.

Mereka mengatakan bahwa kebebasan memang bertingkat. Kebebasan bukan tombol on dan off. Kebebasan adalah spektrum. Semakin kompleks makhluk, semakin besar kebebasannya. Manusia lebih bebas dari kucing. Kucing lebih bebas dari batu. Itu bukan definisi yang murahan. Itu definisi yang realistis.

Mereka juga mengatakan bahwa determinisme tidak harus menghapus kebebasan. Jika keinginan Anda ditentukan, tetapi Anda bertindak sesuai keinginan itu, maka Anda tetap bebas. Anda tidak dipaksa. Anda tidak dihalangi. Anda bertindak sesuai diri Anda.

Mereka juga mengatakan bahwa ilmu saraf tidak membuktikan bahwa kebebasan itu ilusi. Ilmu saraf hanya menunjukkan bahwa keputusan melibatkan proses bawah sadar. Tetapi keputusan itu tetap melibatkan diri Anda. Diri Anda bukan hanya kesadaran. Diri Anda mencakup seluruh proses mental Anda.

Mereka juga mengatakan bahwa Compatibilism bukanlah permainan kata. Ia adalah upaya untuk memahami kebebasan dengan lebih jujur. Ia mengakui bahwa kita tidak sepenuhnya bebas. Tetapi ia juga mengakui bahwa kita tidak sepenuhnya terikat. Kita berada di antara keduanya. Itu adalah kenyataan manusia.

Cara Menyikapi Compatibilism

Pertama, jangan terjebak pada definisi kaku. Kebebasan tidak harus berarti bebas dari semua pengaruh. Kebebasan bisa berarti bertindak sesuai dengan diri sendiri. Terbukalah pada definisi yang lebih luas.

Kedua, akui batasan Anda. Anda tidak memilih gen Anda. Anda tidak memilih orang tua Anda. Anda tidak memilih masa kecil Anda. Akui itu. Mengakui batasan bukan berarti menyerah. Mengakui batasan membuat Anda lebih jujur.

Ketiga, perluas kebebasan Anda. Kebebasan bertumbuh ketika pengetahuan bertambah. Belajar, membaca, bergaul dengan orang berbeda, dan mencari pengalaman baru membuka pintu yang tadinya tertutup. Semakin Anda tahu, semakin banyak pilihan yang Anda lihat.

Keempat, bertanggung jawablah. Anda mungkin tidak memilih semua kondisi awal. Tetapi Anda bisa memilih respons Anda. Anda bisa memilih kebiasaan kecil. Anda bisa memilih untuk mencoba. Anda bisa memilih untuk bangkit setelah jatuh.

Kelima, berbelas kasihlah pada orang lain. Jika hidup ini hanya soal usaha pribadi, orang yang gagal mudah dihakimi. Tetapi jika banyak faktor memengaruhi, kita perlu lebih adil. Bukan berarti menghapus tanggung jawab. Tetapi berarti memahami konteks.

Keenam, latih kebebasan kecil. Kebebasan besar jarang datang sekaligus. Mulailah dari hal kecil. Bangun kebiasaan. Tepati janji pada diri sendiri. Tunda kepuasan. Pilih reaksi yang lebih baik. Kebebasan tumbuh melalui latihan.

Ketujuh, renungkan pilihan Anda. Sesekali, berhentilah. Tanyakan, “Apakah saya memilih ini karena saya ingin, atau karena saya takut?” Pertanyaan itu sederhana, tetapi bisa mengubah arah hidup.

Kedelapan, rendah hati. Anda tidak punya semua jawaban. Tidak ada yang punya semua jawaban. Kebebasan itu misteri. Takdir itu misteri. Terimalah bahwa Anda mungkin tidak akan pernah sepenuhnya memahami keduanya. Terimalah bahwa Anda adalah manusia yang sedang belajar.

Penutup

Compatibilism mengajarkan satu hal yang membebaskan. Kita tidak perlu memilih antara kebebasan dan takdir. Keduanya bisa hidup bersama. Kita bisa hidup di alam semesta yang mengikuti hukum sebab akibat, dan pada saat yang sama, kita tetap bisa disebut bebas.

Ini bisa terasa melegakan. Kita tidak perlu merasa bahwa hidup ini sudah ditulis sepenuhnya. Kita juga tidak perlu merasa bahwa kita harus melampaui semua batasan. Kita hanya perlu bertindak sesuai dengan diri kita. Kita hanya perlu bertanggung jawab atas pilihan kita. Kita hanya perlu hidup dengan integritas.

Bagi orang beriman, Compatibilism bisa dilihat sebagai cara memahami hubungan antara kehendak Tuhan dan kehendak manusia. Tuhan menentukan segalanya. Tetapi Tuhan juga memberi manusia kebebasan. Manusia bertanggung jawab atas pilihannya. Itu adalah misteri yang tidak bisa sepenuhnya dipahami. Tetapi itu adalah misteri yang bisa dijalani dengan iman.

Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah merasa terjebak antara kebebasan dan takdir? Apakah Anda pernah merasa bahwa pilihan Anda sudah ditentukan? Dan jika ya, apa yang membuat Anda tetap merasa bebas? Apakah keinginan Anda? Apakah pilihan Anda? Apakah tanggung jawab Anda? Atau apakah Anda hanya memilih untuk hidup, karena hidup ini adalah anugerah yang harus dijalani?

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai menghargai kebebasan yang Anda miliki.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Compatibilism: Gimana Kalo Lo Beneran Bebas Meskipun Segalanya Udah Ditentuin?

Coba inget lagi. Momen di mana lo lagi ngerasa terjepit. Lo harus milih antara dua hal. Lo harus nentuin jalan. Lo harus ngambil keputusan. Dan lo ngerasa bahwa lo lagi milih. Lo ngerasa bahwa lo lagi nentuin. Lo ngerasa bahwa lo punya kendali.

Terus ada suara di kepala lo yang nanya. “Tapi lo beneran milih? Atau lo cuma ngerasa milih? Apa keputusan lo udah ditentuin sama gen lo? Sama didikan lo? Sama lingkungan lo? Sama ekonomi lo? Sama semua hal yang lo nggak pernah pilih? Kalo semua udah ditentuin, apa artinya lo milih? Apa artinya lo bebas?”

Lo diem. Lo mikir. Lo ngerasa ada yang aneh. Karena di satu sisi, lo ngerasa bebas. Di sisi lain, lo ngerasa bahwa banyak hal di luar kendali lo. Dan lo nggak tau harus gimana. Lo nggak tau harus percaya yang mana.

Itulah yang dibahas dalam salah satu posisi paling menarik dalam filsafat tentang kebebasan. Namanya Compatibilism. Dan gue jamin, setelah baca ini, lo bakal liat kebebasan dan tanggung jawab dengan mata yang beda.

Sebenernya Compatibilism Itu Apa Sih?

Compatibilism itu pandangan yang bilang bahwa determinisme dan kebebasan bisa jalan bareng. Dua-duanya nggak saling bertentangan.

Determinisme bilang bahwa semua yang terjadi, termasuk keputusan lo, ditentuin sama sebab-sebab sebelumnya. Nggak ada yang acak. Semuanya ngalir kayak rantai sebab-akibat.

Kebebasan, atau free will, bilang bahwa lo bisa milih. Lo bisa nentuin. Lo bisa ngambil keputusan. Lo bisa nolak dorongan. Lo bisa mulai sesuatu yang baru.

Biasanya, orang mikir bahwa dua hal ini nggak bisa jalan bareng. Kalo determinisme bener, maka kebebasan cuma ilusi. Kalo kebebasan bener, maka determinisme salah.

Tapi compatibilism bilang. “Nggak gitu. Dua-duanya bisa jalan bareng. Asal kita ngerti apa artinya bebas.”

Menurut compatibilism, bebas bukan berarti bebas mutlak dari semua pengaruh. Nggak ada manusia yang bebas mutlak. Nggak ada manusia yang bisa milih tanpa dipengaruhi gen, lingkungan, budaya, sejarah, dan ekonomi.

Tapi lo tetap bisa disebut bebas kalo tindakan lo sesuai sama keinginan dan pertimbangan lo sendiri. Lo nggak dipaksa orang lain. Lo nggak lagi dibelenggu. Lo nggak lagi diancam. Lo nggak lagi dikendaliin. Lo bertindak karena lo memang pengen bertindak gitu.

Jadi, compatibilism ngubah pertanyaannya. Bukan lagi, “Apakah lo bebas mutlak?” Tapi, “Seberapa bebas lo di situasi tertentu?”

Bebas bukan tombol on dan off. Bebas itu spektrum. Ada orang yang lebih bebas. Ada orang yang kurang bebas. Ada situasi yang buka banyak pilihan. Ada situasi yang nyempitin pilihan sampe cuma ada satu jalan.

Sejarah Singkat Compatibilism

Compatibilism bukan gagasan baru. Dia udah ada sejak lama. Bahkan sebelum istilah “compatibilism” muncul.

Salah satu filsuf yang paling terkenal dalam tradisi ini adalah Thomas Hobbes. Dia hidup di abad ke-17. Dia bilang bahwa bebas berarti nggak ada hambatan eksternal. Kalo lo bisa ngelakuin apa yang lo pengen, lo bebas. Nggak peduli apakah keinginan lo itu sendiri udah ditentuin sama sebab-sebab sebelumnya.

David Hume juga punya pandangan yang mirip. Dia hidup di abad ke-18. Dia bilang bahwa kebebasan bukan berarti bebas dari sebab. Kebebasan berarti bebas dari paksaan. Kalo lo bertindak sesuai keinginan lo, dan nggak ada yang maksa lo, maka lo bebas.

Di abad ke-20, compatibilism dikembangin lebih lanjut sama filsuf-filsuf kayak A.J. Ayer. Harry Frankfurt. Daniel Dennett. Mereka punya versi masing-masing. Tapi intinya sama. Determinisme dan kebebasan bisa jalan bareng.

Harry Frankfurt ngasih gagasan yang menarik. Dia bilang bahwa yang penting bukan apakah lo bisa milih yang beda. Yang penting adalah apakah lo punya keinginan tingkat dua. Apa itu keinginan tingkat dua? Keinginan tingkat dua adalah keinginan tentang keinginan lo.

Contoh. Lo punya keinginan buat merokok. Itu keinginan tingkat satu. Tapi lo juga punya keinginan buat nggak merokok. Lo pengen bahwa keinginan merokok lo itu hilang. Itu keinginan tingkat dua. Nah, menurut Frankfurt, lo bebas kalo keinginan tingkat dua lo sesuai sama tindakan lo. Kalo lo nggak pengen merokok, dan lo nggak merokok, maka lo bebas. Kalo lo pengen nggak merokok, tapi lo tetap merokok, maka lo nggak bebas.

Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?

Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma filsafat. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Compatibilism nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.

Pertama, lo mungkin pernah ngerasa nggak bebas, tapi nggak tau kenapa. Lo ngerasa terjebak. Lo ngerasa terkekang. Lo ngerasa nggak bisa milih. Tapi lo nggak tau apa yang ngekang lo. Apakah lingkungan lo? Apakah keluarga lo? Apakah ekonomi lo? Apakah trauma lo? Apakah kebiasaan lo? Compatibilism nanya. Apa yang bikin lo nggak bebas? Apa hambatannya? Apa paksaananya?

Kedua, lo mungkin pernah ngerasa bebas, tapi nggak yakin. Lo milih sesuatu. Lo ngerasa bahwa itu pilihan lo. Tapi lo juga ngerasa bahwa lo milih karena didikan. Karena tekanan. Karena ekspektasi. Compatibilism nanya. Apa lo milih karena lo pengen? Atau lo milih karena lo takut? Apa lo milih karena lo sadar? Atau lo milih karena lo nggak punya pilihan lain?

Ketiga, lo mungkin pernah bingung soal tanggung jawab. Kalo semua udah ditentuin, apa artinya tanggung jawab? Kalo lo nggak bebas, kenapa lo harus dipenjara? Kenapa lo harus dipuji? Kenapa lo harus disalahin? Compatibilism nanya. Tanggung jawab bukan soal apakah lo bebas mutlak. Tanggung jawab soal apakah lo bertindak sesuai keinginan lo. Kalo lo nggak dipaksa, kalo lo nggak dibelenggu, maka lo bertanggung jawab.

Keempat, lo mungkin pernah ngerasa bahwa hidup lo nggak adil. Ada orang yang lahir kaya. Ada orang yang lahir miskin. Ada orang yang lahir sehat. Ada orang yang lahir sakit. Dan lo nanya. Kalo semua udah ditentuin, kenapa harus gue yang susah? Compatibilism nanya. Seberapa bebas lo di situasi lo? Seberapa banyak pilihan yang lo punya? Seberapa gede hambatan yang lo hadapi?

Kelima, lo mungkin pernah ngerasa bahwa lo bisa berubah. Lo ngerasa bahwa lo bisa ngerubah hidup lo. Lo ngerasa bahwa lo bisa ngerubah kebiasaan lo. Lo ngerasa bahwa lo bisa ngerubah arah. Dan lo mulai mikir. Kalo semua udah ditentuin, apa masih ada ruang buat berubah? Compatibilism bilang. Ada. Karena bebas bukan soal apakah lo bisa nolak semua pengaruh. Tapi soal apakah lo bisa bertindak sesuai keinginan lo. Dan keinginan lo bisa berubah. Bisa tumbuh. Bisa dibentuk.

Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh Compatibilism

Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.

  1. Lo pernah ngerasa bebas, tapi juga ngerasa bahwa banyak hal di luar kendali lo? Itu tanda lo lagi nyentuh compatibilism.

  2. Lo pernah bingung soal tanggung jawab? Itu tanda lo lagi mikir soal kebebasan.

  3. Lo pernah ngerasa nggak bebas, tapi nggak tau kenapa? Itu tanda lo lagi mikir soal hambatan.

  4. Lo pernah mikir “kalo semua udah ditentuin, apa artinya gue milih?” Itu tanda lo lagi nyentuh determinisme.

  5. Lo pernah ngerasa bahwa lo bisa berubah, meskipun ada banyak faktor yang nentuin lo? Itu tanda lo lagi nyentuh inti compatibilism.

Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener dalem. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.

Contoh yang Bikin Lo Sadar

Di keputusan kecil. Lo milih mau makan apa. Lo pilih nasi goreng. Apa lo bebas? Compatibilism bilang. Iya. Kalo lo milih karena lo pengen nasi goreng, dan nggak ada yang maksa lo, maka lo bebas. Meskipun keinginan lo buat nasi goreng dipengaruhi sama gen lo, sama kebiasaan lo, sama iklan yang lo liat, lo tetep bebas. Karena lo bertindak sesuai keinginan lo.

Di keputusan besar. Lo milih jurusan kuliah. Lo pilih kedokteran. Apa lo bebas? Compatibilism bilang. Tergantung. Kalo lo milih kedokteran karena lo pengen, karena lo tertarik, karena lo yakin, maka lo bebas. Tapi kalo lo milih kedokteran karena orang tua lo maksa, karena lo takut dianggap gagal, karena lo nggak punya pilihan lain, maka lo kurang bebas. Bukan karena nggak ada pilihan. Tapi karena pilihan itu nggak berasal dari lo.

Di kecanduan. Lo pecandu rokok. Lo pengen berhenti. Tapi lo nggak bisa. Apa lo bebas? Compatibilism bilang. Nggak sepenuhnya. Karena keinginan tingkat dua lo (pengen berhenti) nggak sesuai sama tindakan lo (tetap merokok). Lo nggak bebas karena lo nggak bisa bertindak sesuai keinginan lo yang lebih dalem.

Di paksaan. Lo disuruh bos lo ngelakuin sesuatu yang nggak lo pengen. Lo nggak bisa nolak karena lo butuh kerjaan. Apa lo bebas? Compatibilism bilang. Kurang bebas. Karena lo bertindak bukan karena keinginan lo. Tapi karena paksaan. Karena ancaman. Karena konsekuensi.

Di tekanan sosial. Lo ikut arus karena lo takut dianggap aneh. Lo nggak berani beda. Lo nggak berani ngomong. Apa lo bebas? Compatibilism bilang. Tergantung. Kalo lo ikut arus karena lo setuju, maka lo bebas. Kalo lo ikut arus karena lo takut, maka lo kurang bebas. Karena lo bertindak bukan karena keinginan lo. Tapi karena ketakutan lo.

Di diri lo sendiri. Lo lagi duduk. Lo lagi mikir. Lo lagi ngerasain sesuatu. Coba tanya. Seberapa bebas lo sekarang? Apa lo lagi bertindak sesuai keinginan lo? Apa lo lagi ngelakuin apa yang lo pengen? Apa lo lagi milih dengan sadar? Atau lo cuma ngalir? Atau lo cuma ngikutin? Atau lo cuma bertahan?

Fase-Fase Lo Ngadepin Compatibilism

Fase pertama: lo percaya kebebasan mutlak.
Lo ngerasa bahwa lo bebas. Lo ngerasa bahwa lo bisa milih apa pun. Lo ngerasa bahwa lo punya kendali penuh atas hidup lo. Lo nggak pernah mikir soal determinisme. Lo nggak pernah mikir soal faktor-faktor yang nentuin lo.

Fase kedua: lo mulai ragu.
Lo belajar sains. Lo belajar psikologi. Lo belajar sosiologi. Lo mulai ngeh bahwa banyak hal di luar kendali lo. Lo mulai ngeh bahwa gen ngaruh. Lo mulai ngeh bahwa didikan ngaruh. Lo mulai ngeh bahwa lingkungan ngaruh. Lo mulai nanya. Kalo semua ngaruh, apakah gue beneran bebas?

Fase ketiga: lo nyari jawaban.
Lo mulai baca. Lo mulai mikir. Lo mulai nanya. Lo nemuin beberapa posisi. Ada yang bilang bebas itu ilusi. Ada yang bilang bebas itu nyata. Ada yang bilang bebas dan determinisme bisa jalan bareng. Lo mulai nimbang. Lo mulai nemuin posisi lo sendiri. Mungkin lo milih compatibilism. Mungkin lo nolak. Mungkin lo ada di tengah. Yang penting, lo mulai mikir.

Kritik: Kenapa Banyak yang Nggak Setuju?

Compatibilism nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf nolak atau ngeraguin pandangan ini.

Pertama, masalah definisi ulang. Ada yang bilang compatibilism cuma main kata. Dia ngubah definisi kebebasan supaya cocok sama determinisme. Tapi itu bukan menyelesaikan masalah. Itu cuma menghindari masalah.

Kedua, masalah kebebasan sejati. Ada yang bilang compatibilism nggak ngasih kebebasan sejati. Kalo semua udah ditentuin, maka nggak ada yang namanya “bisa milih yang beda.” Lo cuma bisa milih apa yang emang udah ditentuin. Dan itu bukan kebebasan.

Ketiga, masalah manipulasi. Ada yang bilang compatibilism nggak bisa bedain antara orang yang bebas dan orang yang dimanipulasi. Kalo lo dimanipulasi supaya pengen ngelakuin sesuatu, dan lo ngelakuin sesuatu itu, apa lo bebas? Compatibilism bilang iya. Tapi banyak yang ngerasa itu salah.

Keempat, masalah tanggung jawab. Ada yang bilang compatibilism nggak ngasih dasar yang cukup buat tanggung jawab. Kalo semua udah ditentuin, kenapa orang harus dipenjara? Kenapa orang harus dipuji? Kenapa orang harus disalahin?

Kelima, masalah intuitif. Ada yang bilang compatibilism bertentangan sama intuisi kita. Kita ngerasa bahwa kita bisa milih yang beda. Kita ngerasa bahwa kita punya kendali. Kalo determinisme bener, maka perasaan itu ilusi. Dan compatibilism nyoba menyelamatkan perasaan itu dengan cara yang nggak jujur.

Tanggapan dari Pendukung

Pendukung compatibilism punya tanggapan. Mereka nggak selalu bilang pandangan ini sempurna. Mereka sering bilang pandangan ini paling masuk akal.

Mereka bilang, definisi kebebasan yang mereka pake emang beda. Tapi itu bukan main kata. Itu cara buat ngerti kebebasan dengan lebih tepat. Karena kebebasan mutlak itu nggak ada. Nggak ada manusia yang bebas mutlak. Jadi, kita perlu definisi yang lebih realistis.

Mereka bilang, kebebasan sejati bukan soal bisa milih yang beda. Kebebasan sejati soal bertindak sesuai keinginan lo. Kalo lo bertindak sesuai keinginan lo, lo bebas. Nggak peduli apakah keinginan lo itu ditentuin atau nggak.

Mereka bilang, masalah manipulasi bisa diatasi. Kalo lo dimanipulasi, maka keinginan lo bukan bener-bener keinginan lo. Keinginan itu ditanam sama orang lain. Jadi, lo nggak bebas. Compatibilism bisa bedain antara keinginan yang autentik dan keinginan yang ditanam.

Mereka bilang, tanggung jawab tetap ada. Kalo lo bertindak sesuai keinginan lo, dan lo nggak dipaksa, maka lo bertanggung jawab. Bukan karena lo bebas mutlak. Tapi karena lo bertindak dengan sadar.

Mereka bilang, intuisi bisa salah. Dulu, intuisi bilang bumi itu datar. Ternyata salah. Dulu, intuisi bilang matahari muter di sekitar bumi. Ternyata salah. Jadi, intuisi bukan patokan mutlak.

Cara Nyikapin Compatibilism Tanpa Kehilangan Akal

1. Jangan panik.
Kalo lo mikir “gimana kalo gue nggak bebas,” jangan panik. Itu wajar. Banyak filsuf juga mikir gitu. Tapi mereka nggak panik. Mereka terus mikir. Mereka terus debat.

2. Bedain antara bebas mutlak dan bebas cukup.
Lo nggak akan pernah bebas mutlak. Nggak ada yang bebas mutlak. Tapi lo bisa bebas cukup. Bebas cukup buat milih. Bebas cukup buat bertindak. Bebas cukup buat bertanggung jawab.

3. Liat hambatannya.
Kalo lo ngerasa nggak bebas, tanya. Apa yang ngekang lo? Apa yang maksa lo? Apa yang bikin lo nggak bisa milih? Kenali hambatannya. Dari situ, lo bisa mulai.

4. Perluas pilihan lo.
Kebebasan sering nambah waktu pengetahuan nambah. Belajar. Baca. Bergaul sama orang beda. Cari pengalaman baru. Semua itu buka pintu yang tadinya ketutup. Semua itu nambah pilihan yang tadinya nggak ada.

5. Kenali keinginan lo.
Apa yang lo bener-bener pengen? Apa yang lo pengen karena orang lain pengen? Apa yang lo pengen karena lo takut? Bedain. Jujur. Karena keinginan yang autentik bikin lo lebih bebas. Keinginan yang ditanam bikin lo kurang bebas.

6. Latih kebebasan kecil.
Kebebasan gede jarang dateng sekaligus. Mulai dari hal kecil. Bangun kebiasaan. Tepatin janji ke diri sendiri. Tunda kepuasan. Pilih reaksi yang lebih baik. Kebebasan tumbuh lewat latihan.

7. Jangan salahin diri sepenuhnya.
Kalo lo gagal, jangan langsung nyalahin diri. Mungkin ada faktor di luar kendali lo. Mungkin ada hambatan yang lo nggak bisa atasi. Sadari itu. Tapi jangan pake itu buat lari dari tanggung jawab.

8. Jangan salahin orang lain sepenuhnya.
Kalo orang lain gagal, jangan langsung nyalahin mereka. Mungkin ada faktor di luar kendali mereka. Mungkin ada hambatan yang mereka nggak bisa atasi. Sadari itu. Itu bikin lo lebih adil. Lebih berbelas kasih.

9. Terima kompleksitas.
Kebebasan itu kompleks. Determinisme itu kompleks. Hubungan antara dua-duanya kompleks. Jangan nyederhanain. Jangan bikin hitam putih. Terima bahwa ada banyak lapisan. Ada banyak nuansa.

10. Terima kalo lo nggak akan pernah punya jawaban sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa ngebuktiin apakah lo bebas mutlak. Lo nggak akan pernah bisa ngebuktiin apakah determinisme bener. Lo cuma bisa hidup dengan ketidakpastian itu. Dan itu nggak apa-apa.

Yang Paling Lo Takutin Bukan Nggak Bebas

Yang paling lo takutin bukan nggak bebas. Bukan determinisme. Bukan takdir.

Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar lo nggak pernah bener-bener milih. Kalo lo sadar lo cuma ngalir. Kalo lo sadar lo cuma ngikutin. Kalo lo sadar lo cuma bertahan. Kalo lo sadar lo cuma jalanin skenario yang orang lain tulis. Dan lo nggak bisa ngebuktiin sebaliknya. Dan lo harus hidup dengan ketidakpastian itu.

Itu serem. Gue ngerti.

Tapi coba pikir lagi. Kalo lo nggak bebas mutlak, itu artinya lo nggak sendirian. Itu artinya semua orang juga punya batas. Itu artinya lo nggak perlu sempurna. Lo cuma perlu ngelakuin yang terbaik. Lo cuma perlu bertindak sesuai keinginan lo. Lo cuma perlu bertanggung jawab. Dan itu cukup.

Compatibilism bukan tentang bikin lo ngerasa terjebak. Dia tentang nunjukin bahwa kebebasan itu lebih rumit dari yang kita kira. Dia tentang nunjukin bahwa lo bisa bebas meskipun ada batas. Dia tentang nunjukin bahwa lo bisa bertanggung jawab meskipun ada faktor yang nentuin. Dan itu nggak apa-apa.

Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur

Compatibilism ngajarin satu hal yang menantang. Determinisme dan kebebasan bisa jalan bareng. Dua-duanya nggak saling bertentangan. Asal kita ngerti apa artinya bebas. Bebas bukan berarti bebas mutlak. Bebas berarti bertindak sesuai keinginan lo. Bebas berarti nggak dipaksa. Bebas berarti punya ruang.

Ini bisa berasa menakutkan. Kalo semua udah ditentuin, apa artinya gue milih? Tapi ini juga bisa berasa membebaskan. Karena kalo lo ngerti, lo bisa lebih bijak. Lo bisa lebih jujur. Lo bisa lebih bertanggung jawab.

Jadi, gue mau nanya ke lo.

Lo pernah ngerasa bebas, tapi juga ngerasa bahwa banyak hal di luar kendali lo? Lo pernah bingung soal tanggung jawab? Lo pernah ngerasa nggak bebas, tapi nggak tau kenapa?

Dan kalo iya, apa yang lo lakuin? Apa lo nyerah? Apa lo mulai mikir? Apa lo mulai ngeliat hambatannya? Apa lo mulai ngerubah apa yang bisa lo ubah?

Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai mikir. Lo cuma harus mulai milih.

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai ngehargain bahwa kebebasan itu bukan soal bebas dari segalanya. Tapi soal bertindak sesuai diri lo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *