buku

Ciptakan Perhatian dengan Segala Cara

Sahabat, kita lanjutkan ke lima hukum
berikutnya dari 
The 48 Laws of
Power
. Robert Greene melanjutkan
pembedahannya tentang dinamika
kekuasaan dengan prinsip-prinsip
yang sama tajamnya. Mari kita selami
Hukum 6 hingga Hukum 10.

Hukum 6: Ciptakan Perhatian
dengan Segala Cara

Robert Greene membuka hukum ini
dengan sebuah premis yang
sederhana namun sangat kuat:
apa pun yang diperhatikan akan
tampak lebih berkuasa. Dalam
hiruk-pikuk dunia yang penuh
dengan orang-orang yang
berlomba-lomba untuk diakui,
diam dan bersembunyi di balik
bayang-bayang adalah kesalahan
fatal. Kamu bisa memiliki bakat
terbesar, ide paling brilian, atau
produk paling inovatif, tetapi jika
tidak ada yang tahu, maka semua
itu tidak ada artinya.

Greene berpendapat bahwa
perhatian publik adalah mata uang
yang sangat berharga.
Ia mengangkat mereka yang dianggap
penting dan menjatuhkan mereka
yang diabaikan. Oleh karena itu,
kamu harus menciptakan perhatian
dengan segala cara. Jadilah mencolok.
Buatlah dirimu tampak lebih besar
dari kehidupan. Jangan takut untuk
menjadi kontroversial, karena
kontroversi adalah magnet
perhatian.

Greene menceritakan kisah P.T.
Barnum, seorang impresario sirkus
yang memahami hukum ini dengan
sempurna. Barnum menciptakan
sensasi di mana-mana ia pergi.
Ia memamerkan “putri duyung Fiji”
yang ternyata palsu, ia membawa
Jenderal Tom Thumb, seorang pria
kerdil yang ia ubah menjadi bintang
internasional. Semua orang tahu
bahwa banyak dari pertunjukan
Barnum adalah kebohongan,
tetapi mereka tetap datang.
Mengapa? Karena Barnum
menciptakan tontonan. Ia membuat
dirinya dan bisnisnya menjadi pusat
perhatian, dan perhatian itu
menghasilkan kekayaan.

Greene memperingatkan bahwa
tidak ada yang namanya publisitas
buruk. Bahkan jika kamu dikritik,
dicemooh, atau diserang, kamu
tetap menjadi pusat perhatian.
Dan perhatian, pada akhirnya, adalah
langkah pertama menuju kekuasaan.
Yang paling berbahaya adalah
diabaikan, karena itu berarti kamu
tidak ada.

Hukum 7: Suruh Orang Lain
Bekerja untukmu; Ambil
Kreditnya

Hukum ini terdengar sangat
eksploitatif, tetapi Greene
mendasarkannya pada realitas
sejarah yang pahit. Ia berpendapat
bahwa di balik setiap orang besar,
ada ribuan orang yang tidak dikenal
yang telah bekerja keras untuknya.
Thomas Edison, yang kita kenal
sebagai penemu lampu pijar,
sebenarnya memiliki sebuah
laboratorium penuh dengan para
insinyur dan ilmuwan yang
melakukan sebagian besar pekerjaan
teknis. Edison adalah seorang jenius,
tetapi kejeniusannya terletak pada
kemampuannya untuk memimpin
tim dan mengambil kredit atas hasil
kerja mereka.

Greene menekankan bahwa kamu
harus memanfaatkan kebijaksanaan,
tenaga, dan keterampilan orang lain.
Jangan mencoba melakukan
semuanya sendiri. Itu adalah jalan
menuju kelelahan dan anonimitas.
Sebagai gantinya, temukan
orang-orang yang memiliki bakat
yang kamu butuhkan, suruh mereka
bekerja untukmu, dan ketika hasilnya
spektakuler, pastikan bahwa
namamu yang dikaitkan dengan
kesuksesan itu.

Mengapa ini bisa berhasil?
Karena sejarah ditulis oleh para
pemenang, dan para pemenang
adalah mereka yang namanya
diingat. Orang-orang yang bekerja
di belakang layar jarang
mendapatkan pengakuan.
Greene menyarankan untuk menjadi
“otak” di balik operasi. Biarkan
orang lain menjadi tangan dan
kakimu. Kamu yang merencanakan,
kamu yang mengarahkan, dan kamu
yang menerima pujian.

Ini bukan berarti kamu harus menjadi
pencuri yang tidak tahu malu. Greene
menekankan bahwa kamu harus
memberikan kompensasi yang adil
kepada orang-orang yang bekerja
untukmu, sehingga mereka tetap puas
dan terus bekerja. Tetapi kredit,
kehormatan, dan pengakuan publik
harus menjadi milikmu. Nama kitalah
yang harus bersinar, karena nama
yang bersinar adalah magnet yang
menarik lebih banyak peluang, lebih
banyak pengikut, dan lebih banyak
kekuasaan.

Hukum 8:
Pancing Orang Mendatangimu
— Gunakan Umpan Bila Perlu

Hukum kedelapan ini adalah tentang
pentingnya mengendalikan medan
pertempuran. Robert Greene
berpendapat bahwa kamu harus
selalu berusaha untuk membuat
lawan atau calon sekutu mendatangi
kamu, bukan sebaliknya. Ketika
kamu yang mendatangi mereka,
kamu berada di posisi yang lemah.
Kamu menunjukkan bahwa kamu
membutuhkan mereka.
Kamu menyerahkan kendali.

Sebaliknya, jika kamu bisa
memancing mereka untuk datang
ke wilayahmu, ke kantormu,
ke kotamu, ke cara berpikirmu,
maka kamu memegang kendali
penuh. Kamu berada di lingkungan
yang kamu kenal. Kamu memiliki
semua sumber daya di sekitarmu.
Lawanmu, di sisi lain, berada
di wilayah asing. Mereka tidak
nyaman, tidak pasti, dan lebih
mudah dimanipulasi.

Bagaimana cara memancing mereka?
Greene menyarankan untuk
menggunakan umpan. Tawarkan
sesuatu yang sangat mereka inginkan.
Keuntungan yang tampaknya terlalu
bagus untuk dilewatkan. Informasi
eksklusif. Peluang emas. Ketika
mereka mencium umpan itu,
ketamakan atau rasa ingin tahu
mereka akan mengalahkan
kehati-hatian. Mereka akan datang
kepadamu dengan sukarela, tanpa
menyadari bahwa mereka sedang
berjalan ke dalam jebakan.

Greene menceritakan kisah
Napoleon Bonaparte yang dengan
cerdik memancing
musuh-musuhnya ke medan
pertempuran yang ia pilih sendiri.
Ia sering kali berpura-pura lemah
atau mundur, membuat musuh
terlalu percaya diri dan mengejarnya.
Begitu musuh memasuki wilayah
yang telah ia siapkan, Napoleon akan
berbalik dan menghancurkan
mereka. Ini adalah prinsip yang
sama: kendalikan situasi dengan
mengendalikan tempat dan waktu
pertemuan.

Hukum 9: Menangkan Aksi,
Jangan Lewat Argumen

Robert Greene memiliki pandangan
yang sangat pesimis tentang
argumentasi verbal. Ia berpendapat
bahwa berdebat dengan kata-kata
hampir tidak pernah mengubah
pikiran orang lain. Sebaliknya,
argumen hanya menimbulkan
kebencian. Ketika kamu mengalahkan
seseorang dalam debat,
kamu mungkin merasa menang
secara intelektual. Tetapi lawanmu
akan merasa dipermalukan,
direndahkan, dan diserang. Ia tidak
akan berterima kasih padamu karena
telah menunjukkan kebenaran.
Ia akan membencimu dan mencari
cara untuk membalas dendam.

Greene menyarankan untuk
menghindari argumentasi sama sekali.
Sebagai gantinya, menangkan melalui
tindakan. Tindakan nyata tidak bisa
dibantah. Kamu tidak perlu
menjelaskan, membela diri,
atau meyakinkan siapa pun. Biarkan
hasil kerjamu yang berbicara. Ketika
kamu mencapai sesuatu yang nyata
dan tidak bisa disangkal, semua
argumen yang menentangmu akan
runtuh dengan sendirinya.

Greene menceritakan kisah
Michelangelo, pematung jenius dari
zaman Renaisans. Ketika walikota
Florence mengkritik patung David
karya Michelangelo, mengatakan
bahwa hidungnya terlalu besar,
Michelangelo tidak berdebat. Ia naik
ke perancah, mengambil segenggam
debu marmer, dan berpura-pura
memahat hidungnya sambil
menjatuhkan debu sedikit demi
sedikit. Ia tidak benar-benar
mengubah apa pun. Kemudian ia
turun dan bertanya kepada walikota,
“Bagaimana sekarang?” Walikota,
yang melihat debu berjatuhan dan
mengira Michelangelo telah
mengikuti sarannya, berkata,
“Jauh lebih baik!”

Michelangelo memahami Hukum 9
dengan sempurna. Ia tidak
membuang waktu berdebat tentang
proporsi artistik. Ia memberikan
ilusi tindakan, dan walikota merasa
puas. Kemenangan sesungguhnya
adalah patung itu tetap tidak
berubah, dan reputasi Michelangelo
tetap utuh.

Hukum 10: Jauhi Orang Tidak
Bahagia dan Tidak Beruntung

Hukum ini mungkin terdengar sangat
kejam, tetapi Greene menekankan
bahwa ini adalah masalah bertahan
hidup. Ia berpendapat bahwa emosi
dan nasib buruk itu menular seperti
penyakit. Orang-orang yang
terus-menerus tidak bahagia, yang
selalu dikelilingi oleh masalah dan
kemalangan, memiliki energi negatif
yang sangat kuat. Jika kamu terlalu
dekat dengan mereka, kamu akan
terseret ke dalam pusaran masalah
mereka.

Greene menegaskan bahwa ini bukan
hanya tentang energi negatif.
Orang-orang yang tidak beruntung
sering kali menciptakan masalah
mereka sendiri melalui
keputusan-keputusan yang buruk.
Mereka mungkin terlihat sebagai
korban, dan belas kasihanmu
mungkin membuatmu ingin
membantu. Tetapi Greene
memperingatkan bahwa mencoba
menyelamatkan orang-orang ini
adalah kesalahan besar. Mereka akan
menghabiskan waktu, energi, dan
sumber dayamu. Mereka akan
membawa drama ke dalam hidupmu.
Dan yang paling berbahaya, ketika
malapetaka akhirnya menimpa
mereka, kamu akan ikut terseret
hanya karena berada di dekatnya.

Sebaliknya, Greene menyarankan
untuk bergaul dengan orang-orang
yang bahagia, sukses, dan beruntung.
Energi mereka akan menular secara
positif. Kamu akan belajar dari
kebiasaan mereka. Kamu akan
terhubung dengan jaringan mereka.
Kamu akan berada di jalur
keberuntungan.

Greene menggunakan analogi dokter
bedah yang tidak mengoperasi pasien
yang sudah tidak bisa diselamatkan.
Dokter itu tidak jahat. Ia hanya tahu
bahwa usahanya akan sia-sia, dan ia
bisa menggunakan waktunya untuk
menyelamatkan pasien lain yang
masih bisa ditolong. Demikian pula,
kamu harus memilih dengan siapa
kamu menghabiskan waktumu.
Jauhi mereka yang tenggelam,
sebelum mereka
menenggelamkanmu. 

Contoh Kasus Hukum 6:
Ciptakan Perhatian dengan
Segala Cara

Kasus: Donald Trump dan
Pemilu 2016

Pada awal kampanye pemilihan
presiden Amerika Serikat tahun
2016, hampir tidak ada yang
menganggap serius pencalonan
Donald Trump. Para analis politik,
media arus utama, dan para politisi
mapan dari kedua partai
menganggapnya sebagai lelucon.
Trump adalah seorang pengusaha
real estate dan bintang reality show,
bukan politisi profesional. Tetapi
Trump memahami satu hal yang
tidak dipahami oleh para pesaingnya:
dalam dunia yang penuh dengan
kebisingan, perhatian adalah
segalanya.

Trump menciptakan perhatian dengan
cara yang belum pernah dilakukan
oleh kandidat presiden sebelumnya.
Ia melontarkan
pernyataan-pernyataan kontroversial
yang membuat media tidak bisa
mengabaikannya. Setiap kali ia
mengatakan sesuatu yang
mengejutkan, media
memberitakannya tanpa henti.
Ia menguasai siklus berita.
Ia menjadi pusat dari setiap debat,
setiap diskusi, setiap analisis politik.

Para pesaingnya di Partai Republik,
seperti Jeb Bush dan Marco Rubio,
menghabiskan puluhan juta dolar
untuk iklan kampanye tradisional.
Trump hampir tidak mengeluarkan
uang untuk iklan. Sebagai gantinya,
ia mendapatkan liputan media
gratis senilai miliaran dolar, karena
setiap komentarnya yang
kontroversial langsung menjadi
berita utama. Ia memahami Hukum
6 dengan sempurna: tidak ada yang
namanya publisitas buruk. Bahkan
ketika ia dikritik, dicemooh, atau
dikecam, ia tetap menjadi pusat
perhatian. Dan perhatian itu, pada
akhirnya, mengantarkannya
ke Gedung Putih.

Contoh Kasus Hukum 7:
Suruh Orang Lain Bekerja
untukmu; Ambil Kreditnya

Kasus: Steve Jobs dan Tim
Teknis Apple

Steve Jobs dikenal di seluruh dunia
sebagai jenius di balik iPhone, iPad,
dan Mac. Namanya diabadikan
dalam sejarah teknologi. Wajahnya
muncul di sampul majalah. Ia dipuji
sebagai visioner yang mengubah
dunia. Tetapi kenyataannya, Jobs
tidak menulis kode perangkat lunak.
Ia tidak merancang sirkuit mikrochip.
Ia tidak menciptakan teknologi layar
sentuh.

Di balik layar, ada ribuan insinyur,
desainer, dan programmer yang
bekerja tanpa lelah di Apple.
Orang-orang seperti Steve Wozniak,
yang merancang komputer Apple
pertama. Tim insinyur perangkat
lunak yang mengembangkan iOS.
Tim desainer yang dipimpin oleh
Jony Ive, yang menciptakan tampilan
ikonik dari produk Apple. Semua
orang ini bekerja di bawah Jobs, dan
Jobs menggunakan hasil kerja mereka
untuk membangun reputasinya sendiri.

Jobs tidak pernah secara langsung
mengatakan bahwa ia sendiri yang
menciptakan semuanya. Tetapi ia
juga tidak pernah secara aktif
membagikan kredit kepada timnya
di depan publik. Ketika Apple
meluncurkan produk revolusioner,
Jobs-lah yang berdiri di atas
panggung, memukau penonton
dengan presentasinya yang brilian.
Namanya yang diingat. Wajahnya
yang menjadi ikon.

Ini adalah contoh sempurna dari
Hukum 7. Jobs memanfaatkan bakat
dan kerja keras orang lain.
Ia mengarahkan visinya, tetapi ia
membiarkan orang lain melakukan
pekerjaan teknis. Hasilnya, nama
Steve Jobs bersinar terang di puncak
kejayaan Apple, sementara ribuan
orang yang benar-benar membangun
produk itu tetap anonim.

Contoh Kasus Hukum 8: Pancing
Orang Mendatangimu; Gunakan
Umpan Bila Perlu

Kasus: Napoleon Bonaparte dan
Pertempuran Austerlitz

Pada tahun 1805, Napoleon Bonaparte
menghadapi koalisi besar yang terdiri
dari Rusia dan Austria. Pasukannya
kalah jumlah. Musuh-musuhnya
percaya diri. Napoleon tahu bahwa ia
tidak bisa menyerang mereka di medan
yang mereka pilih. Ia harus membuat
mereka datang kepadanya, ke medan
pertempuran yang ia sendiri yang pilih.

Napoleon menggunakan umpan yang
sangat cerdik. Ia berpura-pura lemah.
Ia memerintahkan pasukannya untuk
mundur dari posisi strategis yang
disebut Pratzen Heights, sebuah
bukit tinggi yang mendominasi
medan pertempuran. Ia membuat
musuh percaya bahwa ia takut dan
sedang melarikan diri. Musuh,
melihat peluang untuk
menghancurkan Napoleon sekali dan
untuk selamanya, bergegas maju
untuk merebut Pratzen Heights.

Apa yang tidak mereka sadari adalah
bahwa Napoleon telah
menyembunyikan pasukan cadangan
yang kuat di balik kabut pagi. Ketika
pasukan Rusia dan Austria sudah
sepenuhnya memasuki
perangkapnya, Napoleon melepaskan
pasukan cadangannya. Mereka
muncul dari kabut dan
menghancurkan musuh yang sudah
terpecah belah. Pertempuran
Austerlitz adalah kemenangan
terbesar Napoleon. Ia memancing
musuhnya untuk mendatanginya,
ke medan yang ia pilih, pada waktu
yang ia tentukan.

Contoh Kasus Hukum 9:
Menangkan Aksi, Jangan
Lewat Argumen

Kasus: Satya Nadella dan
Transformasi Budaya Microsoft

Ketika Satya Nadella menjadi CEO
Microsoft pada tahun 2014,
perusahaan itu berada dalam kondisi
yang sulit. Budaya internalnya
disebut sebagai “toxic” (beracun).
Karyawan bersaing satu sama lain
secara brutal. Departemen saling
menjatuhkan. Inovasi mandek.
Banyak orang di dalam dan di luar
perusahaan berpendapat bahwa
Microsoft membutuhkan perubahan
drastis. Tetapi Nadella tidak
memulai dengan memo panjang
atau pidato yang berapi-api. Ia tidak
berdebat dengan para eksekutif
senior tentang perlunya perubahan
budaya.

Sebagai gantinya, ia memenangkan
melalui tindakan. Nadella mulai
dengan hal-hal kecil yang sangat
simbolis. Dalam rapat-rapat
eksekutif, ia secara terbuka
mendengarkan pendapat orang lain,
sesuatu yang jarang dilakukan oleh
pendahulunya. Ia memuji kerja
sama tim, bukan persaingan
individu. Ia memberikan kredit
kepada orang lain atas kesuksesan,
alih-alih mengambilnya sendiri.
Ketika seseorang membuat kesalahan,
ia tidak menghukum atau
mempermalukan mereka.

Perlahan-lahan, perilaku Nadella
menyebar ke seluruh organisasi.
Orang-orang melihat bahwa CEO
baru ini tidak hanya berbicara
tentang perubahan budaya,
ia benar-benar melakukannya.
Hasilnya berbicara sendiri. Dalam
beberapa tahun, Microsoft bangkit
dari kematian yang tampaknya pasti.
Harga sahamnya meroket. Budaya
internalnya berubah drastis. Nadella
tidak perlu memenangkan argumen
tentang budaya perusahaan.
Ia menunjukkannya melalui tindakan.

Contoh Kasus Hukum 10:
Jauhi Orang Tidak Bahagia
dan Tidak Beruntung

Kasus: Tim Cook dan Steve
Bannon

Pada tahun 2016, setelah Donald
Trump memenangkan pemilu,
ia membentuk sebuah dewan
penasihat bisnis yang terdiri dari
para CEO terkemuka Amerika.
Tim Cook, CEO Apple, setuju untuk
bergabung. Di dewan yang sama,
ada juga Steve Bannon, seorang
tokoh kontroversial yang dikenal
karena pandangan-pandangan
ekstremnya.

Bannon adalah tipe orang yang
diperingatkan oleh Hukum 10.
Ia selalu dikelilingi oleh kontroversi,
pertengkaran, dan energi negatif.
Reputasinya sangat buruk
di kalangan publik. Banyak karyawan
Apple dan pelanggan setianya yang
memprotes keputusan Cook untuk
duduk di dewan yang sama dengan
Bannon.

Apa yang terjadi? Cook sebenarnya
tidak melakukan apa pun selain
menghadiri rapat. Tetapi karena ia
berada di ruangan yang sama dengan
Bannon, reputasinya mulai ternoda.
Kritik mengalir deras. Pelanggan
Apple mengancam akan boikot.
Media menulis berita negatif.

Cook akhirnya menyadari
kesalahannya. Ia keluar dari dewan
penasihat itu dan menjauhkan diri
dari Bannon. Pelajaran yang bisa
diambil adalah bahwa kamu tidak
perlu melakukan kesalahan apa pun
untuk ikut hancur. Cukup berada
di dekat orang yang bermasalah,
dan masalah mereka akan menempel
padamu. Inilah yang dimaksud
Robert Greene: kesialan itu menular.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kita lanjut lagi ngulik kitab The 4
8 Laws of Power
. Kali ini gue bakal
bedah hukum ke-6 sampai ke-10
dengan gaya yang lebih deket dan
pasti relatable banget sama hidup lo
sehari-hari. Yuk, langsung aja kita
bongkar.

Hukum 6: Cari Perhatian
dengan Segala Cara

Di dunia yang super sibuk ini,
jadi orang biasa aja itu resep buat
dilupain. Greene bilang, PERHATIAN
adalah mata uang yang paling berharga.
Lo boleh punya skill dewa atau ide
brilian, tapi kalo gak ada yang tau,
ya sama aja kayak hantu. Lo harus
jadi MENCUAT.

Contohnya, coba lo liat di kantor lo.
Ada dua karyawan. Si A kerjanya
rajin, selalu tepat waktu, tapi
pulangnya langsung nyelonong aja.
Si B rajin, tapi dia juga jago ngonten
di sosmed, suaranya lantang pas
meeting, dan penampilannya selalu
necis. Siapa yang bakal lebih cepet
dilirik bos buat promosi?
Hampir pasti Si B. Kenapa?
Karena dia PAHAM bahwa selain kerja
, lo juga harus jadi TONTONAN.
Dia menciptakan “merek” buat
dirinya sendiri.

Lo gak perlu jadi badut. Tapi lo
harus punya CIRI KHAS. Misalnya,
lo dikenal sebagai orang yang selalu
punya data sebelum ngomong, atau
lo jago banget ngejelasin hal rumit
dengan simpel. Jadikan itu identitas
lo. Begitu lo jadi pusat perhatian,
lo punya KUASA. Semua mata tertuju
sama lo, dan itu adalah posisi yang
sangat kuat. Jangan takut dikritik,
yang paling bahaya itu DIABAIKAN.

Hukum 7: Suruh Orang Lain
yang Kerja, Lo Ambil Kreditnya

Hukum ini emang kedengerannya
najis banget, tapi Greene ngajarin
soal EFISIENSI KEKUASAAN.
Kenapa lo harus capek-capek
sendiri kalo ada tenaga orang lain
yang bisa lo manfaatin?

Coba lo inget Thomas Edison.
Kita semua kenal dia sebagai
penemu lampu. Tapi di balik itu,
dia punya lab penuh sama insinyur
dan ilmuwan jenius yang kerja
siang malem. Edison emang brilian,
tapi kejeniusannya yang paling
gede adalah NGELOLA ORANG
dan MEMATENKAN semua hasil
kerja timnya atas namanya sendiri.
Dia yang dikenang sejarah, bukan
asistennya.

Ini analoginya di hidup lo.
Pas tugas kelompok, jangan lo
yang ngerjain semuanya sendirian.
Lo harus jadi OTAK. Lo yang bagi
tugas, lo yang set target, lo yang
ngerapihin presentasi di akhir.
Di depan dosen atau klien, lo yang
ngomong dengan pede seolah-olah
semua ide itu lahir dari otak lo.
Lo bukan cuma kuli, lo adalah
ARSITEK. Biarkan tim lo yang
berkeringat, tapi pastiin nama lo yang
diingat sebagai “orang yang bikin ini
semua terjadi”. Lo bayar mereka
dengan pujian internal, tapi lo ambil
kreditnya di panggung utama.

Hukum 8: Pancing Orang Lain
Dateng ke Lo; Pake Umpan
Kalo Perlu

Ini soal posisi tawar. Orang yang
ngejar-ngejar itu keliatan lemah.
Orang yang DIKEJAR itu keliatan
berharga.

Contohnya dalam dunia asmara.
Kalo lo tiap hari chat duluan,
ngajak ketemuan duluan, sampe
nembak duluan, posisi lo ada
di bawah. Lo keliatan “desperate”.
Sekarang coba balik. Lo pasang
foto keren, lo sering posting
tentang kesibukan asik lo, lo jadi
orang yang menyenangkan saat
diajak ngobrol, tapi lo GAK PERNAH
jadi yang pertama ngejar. Tiba-tiba,
dia yang bakal nanya,
“Sibuk apa aja lo?” Dia yang nge-like
semua story lo. Dia yang akhirnya
ngajak ketemuan. Di sinilah lo
berhasil MASANG UMPAN.

Di bisnis juga gitu. Jangan lo yang
datang ke investor dengan muka
memelas. Lo harusnya bikin produk
atau ide yang begitu keren sampe
MEREKA yang penasaran dan
menghubungi lo duluan.
Lo harus bikin “kesan” bahwa lo
adalah aset langka. Begitu mereka
yang datang ke lo, kendali ada
di tangan lo. Lo bisa atur syarat,
lo bisa atur tempat, dan lo punya
kuasa penuh.

Hukum 9: Menang Lewat Aksi,
Jangan Debat Kusir

Ini nih PR banget buat kita yang
suka kepancing debat di Twitter
atau di grup WA. Greene bilang,
MENANG DEBAT gak akan
ngerubah pikiran orang. Malah, itu
bikin orang ngerasa dipermalukan
dan dendam. Lo gak akan dapet
temen, lo cuma nambah musuh.

Ceritanya gini. Lo ngotot ke temen lo
bahwa jalur A lebih cepat dari jalur B.
Lo debat sampe berisik. Ternyata lo
bener. Temen lo diem, tapi diemnya
itu penuh kekesalan. Dia gak akan
bilang, “Wah, lo hebat.” Dia malah
mikir, “Sombong amat nih orang.”

Harusnya lo gak usah debat.
Lo tinggal bilang, “Oh, lo lewat sana?
Oke. Gue lewat sini aja.” Lo tetep
lewat jalur A, dan lo nyampe duluan.
Nanti dia sadar sendiri. Lo cukup
bilang, “Wah, gue udah duluan ya?
Mungkin tadi lagi sepi.” SELESAI.
Lo gak perlu bikin dia ngerasa kalah.
Dengan tindakan, lo nunjukin
kebenaran tanpa merendahkan.
Bukti itu jauh lebih keras dari
argumen apapun. Jadi, lain kali
sebelum lo ngetik debat panjang,
mending lo buktiin aja dulu.

Hukum 10: Jauhi Orang yang
Sial dan Gak Bahagia

Kedengerannya kejam, tapi ini soal
PROTEKSI DIRI. Greene percaya,
energi negatif dan kesialan itu
NULAR KAYAK VIRUS.

Pernah gak lo punya temen yang
selalu curhat tentang betapa
hancurnya hidupnya?
Setiap ketemu, isinya ngeluh mulu.
Lama-lama, pulang dari ketemu dia,
lo jadi ikut-ikutan bete, capek, dan
ngerasa pesimis. Itu racun yang dia
tularkan ke lo. Lebih parah lagi, tipe
orang seperti ini seringkali bikin
masalah karena keputusan bodohnya
sendiri. Tiba-tiba, lo terseret
ke drama-dramanya.

Bukan berarti lo harus jadi orang
jahat. Tapi lo harus PINTER-PINTER
MILIH lingkungan. Kalo lo lagi ngejar
target karir, lo butuh dikelilingi
orang-orang yang optimis dan sukses.
Energi mereka akan naikin semangat
lo. Sebaliknya, kalo lo terus-terusan
ada di dekat “si sumber masalah”, lo
akan ikut kena getahnya. Ibaratnya, lo
lagi berenang ke pantai, tapi ada
orang yang tenggelam dan panik
narik-narik kaki lo. Kalo lo maksa
nolongin dengan cara yang salah, lo
malah ikut tenggelam. Jadi, untuk
sementara, jauhi dulu. Selametin
diri lo sendiri.

Biar makin ngena, gue bakal kasih
lo contoh cerita buat masing-masing
hukum dari 6 sampai 10.
Cerita-cerita ini gue ambil dari situasi
yang sering banget kita temuin
sehari-hari. Dijamin lo bakal
ketawa-ketawa sendiri sambil mikir,
“iya, bener juga.”

Hukum 6: Cari Perhatian
dengan Segala Cara

Gue punya kenalan, sebut aja Dito.
Dito ini graphic designer yang
skill-nya biasa aja, jujur. Tapi dia
punya satu kelebihan: dia JAGO
BANGET bikin konten di LinkedIn.
Setiap hari, dia posting tentang
“tips desain”, “pengalaman dealing
sama klien susah”, atau sekadar foto
dia lagi kerja di kafe hipster pake
laptop dan kopi mahal. Lama-lama,
feed LinkedIn-nya rame banget.
Banyak yang komen, banyak yang
share.

Suatu hari, CEO sebuah startup
keren ngeliat postingan Dito.
CEO itu impressed bukan karena
desainnya, tapi karena Dito keliatan
“sibuk”, “kekinian”, dan “berpengaruh”.
CEO itu mikir, “Wah, kayaknya anak ini
paham branding.” Padahal, Dito mah
desainnya gitu-gitu aja. Tapi karena
dia jadi PUSAT PERHATIAN, dia
kebanjiran tawaran kerja dengan
bayaran fantastis. Sementara itu, temen
Dito yang desainnya jauh lebih jago tapi
cuma diem-diem aja di balik meja,
masih aja dapet klien recehan.

Pelajaran ala Greene:
Lo harus menonjol. Jangan cuma
jadi yang terbaik, jadilah yang PALING
TERLIHAT. Bikin “sirkus” versi lo
sendiri, maka kuasa dan uang akan
datang dengan sendirinya.

Hukum 7: Suruh Orang Lain
yang Kerja, Lo Ambil Kreditnya

Ini kejadian sama kakak tingkat gue
waktu kuliah. Sebut aja Bang Rian.
Pas tugas akhir, dia kebagian
kelompok yang isinya anak-anak
pinter semua. Ada yang jago coding,
jago riset, jago presentasi. Bang Rian
ini pintar, tapi lebih pintar lagi
ngatur orang. Dia langsung nunjukin
diri sebagai “ketua tim”. Dia yang atur
jadwal, dia yang nentuin pembagian
kerja. Anak-anak yang lain fokus
ngerjain tugas berat masing-masing.

Nah, pas presentasi akhir,
Bang Rian yang berdiri paling depan.
Dia yang ngomong, menjelaskan
semuanya dengan pede seolah-olah
semua ide itu lahir dari kepalanya.
Dia bilang,
“Kami memutuskan untuk…”,
“Metode yang kami terapkan adalah…”.
Dosen penguji terkesan banget.
Hasilnya? Nilai kelompok mereka A,
tapi semua orang ingatnya cuma Bang
Rian. Sampai sekarang, Bang Rian
dipuji sebagai “yang paling
berkontribusi”. Anggota timnya sih
dapet nilai juga, tapi siapa yang
kenal mereka?

Pelajaran ala Greene:
Jadilah arsitek, jangan jadi kuli.
Manfaatin otak dan tenaga orang lain
buat ngejar tujuan lo. Lo yang atur
strategi, lo yang dapet “piala”-nya.
Kasih mereka upah yang adil biar
tetap senyum, tapi pastikan sorotan
lampu cuma jatuh ke lo.

Hukum 8: Pancing Orang Lain
Dateng ke Lo; Pake Umpan
Kalo Perlu

Gue inget banget sohib gue, sebut aja
Celine. Dia lagi naksir cowok di gym
tempatnya nge-gym. Cewek-cewek
lain mungkin bakal nempel terus,
ajak ngobrol duluan, atau follow
IG-nya dulu. Tapi Celine enggak.
Dia malah makin fokus latihan, makin
memperbaiki bentuk badannya, dan
sering posting video latihannya yang
udah berat-berat di IG Story
(tapi dia gak follow si cowok).
Dia jadi “cewek yang terlihat wow”
tapi susah dideketin.

Seminggu kemudian, si cowok itu
malah yang follow duluan. Lalu, pas
mereka gak sengaja ketemu,
si cowok yang duluan nyapa,
“Eh, gue follow lo lho. Latihannya
berat banget ya?” Celine cuma
senyum dan jawab singkat. Di sinilah
Celine berhasil masang umpan.
Dia bikin si cowok penasaran.
Dia yang tadinya “berburu”,
sekarang dia yang “diburu”.
Posisinya sekarang jauh lebih kuat.
Si cowok merasa dia yang berusaha,
padahal semua sudah diatur oleh
Celine.

Pelajaran ala Greene:
Kendalikan situasi dengan bikin
mereka datang ke lo. Jangan pernah
keliatan butuh. Pasang umpan yang
menggoda, maka orang akan
menghampiri lo dengan sukarela,
tanpa sadar mereka masuk
ke dalam kandang lo.

Hukum 9: Menang Lewat
Aksi, Jangan Debat Kusir

Ini relate banget buat lo yang suka
kesel sama bos atau rekan kerja.
Ceritanya, Budi punya ide buat
ningkatin penjualan.
Tapi atasannya, Bu Ika, nolak
mentah-mentah idenya. Bu Ika
malah ngasih ide lain yang
kedengerannya kuno dan gak efisien.
Budi kesel banget. Dia pengen
ngomong, “Ide lo gak masuk akal,
Bu! Mendingan ide gue!”

Tapi Budi ingat Hukum Greene.
Dia gak debat. Dia diem aja.
Dia tetep kerjain ide Bu Ika seperti
yang diperintahkan.
Tapi di diam-diam, dia juga nyiapin
semua bahan dan data buat idenya
sendiri. Dua minggu kemudian,
ide Bu Ika terbukti gagal total. Angka
penjualan malah turun. Saat meeting
evaluasi, Bu Ika panik. Di saat itulah
Budi dengan tenang ngeluarin
datanya dan presentasi idenya yang
udah siap. Semua orang langsung
setuju. Bu Ika gak bisa berkata apa-apa
karena BUKTI FAKTA di depan mata.
Budi menang telak tanpa perlu berdebat
sepatah katapun sebelumnya.

Pelajaran ala Greene: Jangan buang
energi berdebat dengan orang yang
keras kepala. Biarkan realitas yang
jadi “hakim”-nya. Kalo ide lo benar,
buktikan dengan hasil. Kemenangan
lewat aksi itu jauh lebih manis dan gak
meninggalkan luka dendam.

Hukum 10: Jauhi Orang yang Sial
dan Gak Bahagia

Lo pasti punya temen kayak Doni.
Doni ini orangnya baik, tapi hidupnya
selalu “apes”. Setiap kali ketemu lo,
yang dia omongin cuma, “Gue baru
di-PHK lagi,” atau “Mantan gue jahat
banget,” atau “Gue lagi bokek parah
nih.” Awalnya lo kasihan, lo dengerin,
lo traktir dia makan. Tapi lama-lama,
setiap lo selesai nongkrong sama Doni,
lo ngerasa capek sendiri dan energi lo
kayak kesedot abis.

Suatu hari, lo lagi
semangat-semangatnya ngejar target
kerjaan. Lo pengen fokus. Tapi Doni
nelpon, minta ketemuan karena dia
butuh “curhat”. Kalo lo temuin, lo tau
lo bakal dengerin keluhan yang sama
lagi dan itu bakal ngerusak mood lo
seharian. Akhirnya, lo memutuskan
untuk menjauh. Lo tolak ajakannya
dengan alasan sibuk. Memang lo
ngerasa agak jahat, tapi seminggu
kemudian, lo sadar hidup lo jadi lebih
tenang dan fokus. Doni? Dia nemu
temen curhat baru.

Pelajaran ala Greene: Ini soal
“survival”. Emosi dan nasib buruk itu
nular. Kalo lo gak tega, lo malah ikut
tenggelam. Jauhi “perahu bocor” yang
terus menerus minta ditambal.
Fokuslah berenang ke pantai, baru
setelah lo aman, lo bisa cari bantuan
buat orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *