Penunggang Kuda Kelima
Sahabat, kita tiba di tiga bab terakhir
dari buku The Four.
Setelah membongkar dominasi Amazon,
Apple, Facebook, dan Google, Scott
Galloway kini mengalihkan
pandangannya ke masa depan.
Ia mencari perusahaan yang mungkin
bisa menyusul sebagai penunggang
kuda kelima, lalu memberikan nasihat
yang sangat personal tentang
bagaimana kita bisa bertahan dan
bahkan berkembang di era dominasi
para raksasa ini. Akhirnya,
ia merenungkan apa yang mungkin
terjadi setelah era The Four berakhir.
Bab 9: Penunggang Kuda Kelima
Setelah membedah The Four secara
mendalam, Scott Galloway
mengajukan pertanyaan yang wajar:
siapa yang bisa menyusul?
Apakah ada perusahaan lain di dunia
yang memiliki potensi untuk
bergabung dengan klub eksklusif
bernilai triliunan dolar ini?
Galloway menyebut pencarian ini
sebagai upaya menemukan
“the Fifth Horseman”
(Penunggang Kuda Kelima).
Galloway menelaah beberapa kandidat
utama. Yang pertama adalah Alibaba,
raksasa e-commerce asal Tiongkok
yang sering disebut sebagai
“Amazon-nya Tiongkok.” Galloway
menganggap Alibaba sebagai pesaing
terdekat untuk menjadi penunggang
kuda kelima. Alibaba tidak hanya
menjual barang. Mereka menguasai
seluruh rantai aktivitas konsumen
di Tiongkok: e-commerce,
pembayaran digital melalui Alipay,
komputasi awan, logistik, hiburan,
hingga layanan keuangan. Namun
Galloway mencatat bahwa Alibaba
menghadapi tantangan besar untuk
menjadi pemain global.
Ketergantungannya pada pasar
Tiongkok, ditambah dengan
hubungan yang rumit dengan
pemerintah Tiongkok, menjadi
pedang bermata dua. Di satu sisi,
pemerintah Tiongkok melindungi
Alibaba dari persaingan asing.
Di sisi lain, pemerintah yang sama
bisa menghancurkan Alibaba kapan
saja jika dianggap terlalu kuat.
Kandidat berikutnya adalah
Microsoft. Galloway mengakui bahwa
Microsoft sebenarnya sudah menjadi
perusahaan dengan kapitalisasi pasar
triliunan dolar. Di bawah
kepemimpinan Satya Nadella,
Microsoft bangkit dari kematian yang
tampaknya pasti. Mereka berhasil
mentransformasi diri dari perusahaan
perangkat lunak yang kaku menjadi
raksasa komputasi awan. Galloway
menyebut Microsoft sebagai
“the greatest comeback in business
history” (kebangkitan terbesar dalam
sejarah bisnis). Namun Galloway
berpendapat bahwa Microsoft tidak
memiliki cengkeraman pada naluri
primitif manusia sekuat The Four.
Microsoft adalah perusahaan yang
hebat secara teknis, tetapi ia tidak
membajak otak reptil kita seperti
yang dilakukan oleh Amazon, Apple,
Facebook, atau Google.
Kandidat lainnya adalah Uber,
Tesla, dan Netflix. Uber merevolusi
transportasi, tetapi hingga hari ini
masih berjuang untuk menghasilkan
laba yang konsisten. Tesla, di bawah
Elon Musk, memiliki kultus penggemar
yang fanatik mirip Apple, tetapi
industri otomotif adalah industri
dengan margin rendah, intensitas
modal tinggi, dan persaingan yang
sangat ketat. Netflix merevolusi cara
kita menonton, tetapi mereka
menghabiskan miliaran dolar untuk
konten dan menghadapi persaingan
yang semakin sengit dari Disney,
Apple, Amazon, dan lainnya.
Galloway juga membahas mengapa
beberapa raksasa “nyaris” tetapi
gagal. Ia menunjuk pada perusahaan
seperti Yahoo, AOL, dan MySpace.
Perusahaan-perusahaan ini pernah
mendominasi, tetapi akhirnya jatuh
karena gagal beradaptasi, kehilangan
fokus, atau membuat keputusan
strategis yang fatal. Galloway
menggunakan contoh-contoh ini
untuk menekankan bahwa dominasi
tidak pernah permanen. The Four
mungkin tampak tak terkalahkan
hari ini, tetapi sejarah menunjukkan
bahwa semua kerajaan pada
akhirnya runtuh.
Bab 10: The Four dan Anda:
Karier serta Pengembangan
Diri
Setelah menganalisis
perusahaan-perusahaan terbesar
di dunia, Galloway tiba-tiba
mengalihkan fokusnya. Bab ini
adalah bagian paling personal dari
seluruh buku. Galloway tidak lagi
berbicara sebagai analis bisnis.
Ia berbicara sebagai seorang mentor,
memberikan nasihat langsung kepada
para pembacanya tentang bagaimana
membangun karier dan kehidupan
yang sukses di era dominasi The Four.
Nasihat pertamanya mungkin
terdengar kontroversial: jangan ikuti
hasrat atau passion (gairah) saja.
Galloway berpendapat bahwa nasihat
“ikuti passion-mu” adalah omong
kosong berbahaya yang diwariskan
dari generasi ke generasi. Passion
tidak membayar tagihan. Sebagai
gantinya, Galloway mendorong kita
untuk mengejar bakat yang bisa
dimonetisasi. Temukan sesuatu yang
kamu kuasai, sesuatu yang
dibutuhkan oleh dunia, dan sesuatu
yang orang lain bersedia membayar
untuk itu. Passion, kata Galloway,
akan mengikuti setelah kamu menjadi
hebat dalam sesuatu, bukan
sebaliknya.
Nasihat keduanya adalah pilih kota
besar. Galloway bersikeras bahwa
lokasi geografis sangat penting untuk
kesuksesan karier. Kota-kota besar
seperti New York, San Francisco,
London, atau Jakarta adalah pusat
dari peluang, jaringan, dan energi.
Di kota besar, kamu akan dikelilingi
oleh orang-orang ambisius yang
akan mendorongmu untuk menjadi
lebih baik. Kamu akan memiliki
akses ke pekerjaan terbaik, mentor
terbaik, dan peluang terbaik.
Nasihat ketiganya adalah jaga disiplin
emosional. Galloway mengakui bahwa
dunia kerja modern penuh dengan
tekanan, ketidakadilan, dan
kekecewaan. Kemampuan untuk tetap
tenang, tidak terbawa emosi, dan
terus melangkah maju meskipun
menghadapi kesulitan adalah
keterampilan yang sangat berharga.
Nasihat keempatnya adalah bangun
kecerdasan finansial. Galloway
mengeluhkan bahwa sistem
pendidikan kita hampir tidak
mengajarkan apa pun tentang uang.
Kita diajari aljabar dan sejarah,
tetapi tidak diajari cara mengelola
keuangan pribadi, cara berinvestasi,
atau cara memahami pajak.
Galloway mendorong para
pembacanya untuk belajar sendiri
tentang topik-topik ini.
Nasihat kelima dan terakhir adalah
pelajari keterampilan yang tidak
mudah diotomatisasi. Galloway
memperingatkan bahwa kita hidup
di era di mana mesin dan algoritma
semakin mampu menggantikan
pekerjaan manusia. Galloway
mendorong kita untuk menjadi
pemilik, bukan sekadar pekerja.
Kepemilikan, dalam bentuk saham,
bisnis, atau aset yang menghasilkan
pendapatan pasif, adalah
satu-satunya jalan menuju
kebebasan finansial sejati.
Bab 11: Setelah The Four
Di bab terakhir ini, Scott Galloway
melemparkan pandangannya jauh
ke depan. Ia bertanya: apa yang
akan terjadi setelah era The Four?
Akankah para raksasa ini terus
berkuasa selamanya, atau akankah
mereka pada akhirnya jatuh seperti
kerajaan-kerajaan sebelumnya?
Galloway mengingatkan kita bahwa
sejarah penuh dengan kisah
perusahaan kolosal yang tampaknya
tak terkalahkan, hanya untuk
kemudian runtuh. General Motors,
Kodak, Blockbuster, Nokia,
semuanya pernah mendominasi
industrinya masing-masing. Hari ini,
mereka hanyalah bayangan dari
kejayaan masa lalu, atau bahkan
sudah tidak ada sama sekali.
Galloway berpendapat bahwa The
Four tidak kebal terhadap siklus ini.
Ancaman terbesar bagi The Four,
menurut Galloway, adalah regulasi
pemerintah. Galloway mencatat
bahwa di Eropa, Google sudah
didenda miliaran dolar karena
praktik anti-persaingan. Di Amerika
Serikat, semakin banyak politisi dari
kedua partai yang mulai menyerukan
agar perusahaan-perusahaan
teknologi besar dipecah. Galloway
secara pribadi mendukung
pemecahan Facebook, dengan alasan
bahwa monopoli perusahaan itu atas
jejaring sosial terlalu berbahaya bagi
demokrasi.
Galloway membayangkan sebuah
skenario di mana Amazon dipisahkan
menjadi perusahaan ritel dan
perusahaan komputasi awan.
Di mana Facebook dipaksa
melepaskan Instagram dan
WhatsApp. Di mana Google dipaksa
memisahkan bisnis periklanannya
dari bisnis pencariannya. Di mana
Apple dipaksa membuka ekosistem
tertutupnya bagi para pesaing.
Galloway menutup buku ini dengan
sebuah ajakan yang kuat.
Ia mengingatkan kita bahwa kita tidak
boleh menyerahkan kendali hidup kita
sepenuhnya kepada algoritma.
Kita harus sadar bahwa setiap kali
kita menggunakan produk gratis dari
The Four, kitalah produk yang
sebenarnya. Perhatian kita dijual.
Data kita dikomodifikasi. Naluri
primitif kita dieksploitasi. Galloway
mendorong kita untuk tidak hanya
menjadi konsumen pasif, tetapi untuk
bangkit, membangun sesuatu,
berinvestasi, menjadi pemilik, dan
ikut serta dalam membangun kembali
kapitalisme yang lebih manusiawi.
Contoh Kasus Nyata Bab 9:
Penunggang Kuda Kelima
Kasus: Alibaba, Raksasa yang
Hampir Menjadi Penunggang
Kuda Kelima
Alibaba adalah perusahaan
e-commerce asal Tiongkok yang
didirikan oleh Jack Ma pada tahun
1999. Jika kamu tinggal di Indonesia,
kamu mungkin tidak menggunakan
Alibaba secara langsung, tetapi kamu
hampir pasti pernah berinteraksi
dengan ekosistemnya. Alibaba
memiliki Lazada, salah satu platform
belanja online terbesar di Asia
Tenggara. Mereka juga memiliki
AliExpress, yang sering digunakan
oleh importir kecil di Indonesia untuk
membeli barang dari Tiongkok.
Apa yang membuat Alibaba begitu
istimewa, dan mengapa Galloway
menganggapnya sebagai kandidat
terdekat untuk menjadi penunggang
kuda kelima? Karena Alibaba tidak
hanya menjual barang. Mereka
menguasai seluruh rantai aktivitas
konsumen di Tiongkok.
Bayangkan seorang konsumen
di Shanghai bernama Li Wei.
Suatu pagi, ia membuka aplikasi
Taobao, platform e-commerce milik
Alibaba, untuk membeli sepatu baru.
Ia membayar menggunakan Alipay,
dompet digital milik Alibaba.
Uangnya disimpan di Yu’e Bao,
reksadana pasar uang milik Alibaba.
Sepatu itu dikirim melalui Cainiao,
jaringan logistik milik Alibaba.
Di waktu luangnya, Li Wei menonton
film di Youku, layanan streaming
video milik Alibaba. Ia memesan
makanan melalui Ele.me, layanan
pesan-antar makanan milik Alibaba.
Ia bahkan memesan tiket pesawat
untuk liburannya melalui Fliggy,
platform perjalanan milik Alibaba.
Hampir setiap aspek kehidupan
konsumen Li Wei terhubung dengan
Alibaba. Ini adalah tingkat integrasi
vertikal yang bahkan Amazon pun
belum capai di Amerika Serikat.
Inilah mengapa Galloway mengatakan
bahwa Alibaba adalah pesaing terdekat
untuk menjadi penunggang kuda
kelima.
Namun, Galloway juga mencatat bahwa
Alibaba menghadapi tantangan besar
untuk menjadi pemain global.
Ketergantungannya pada pasar
Tiongkok adalah pedang bermata dua.
Pada tahun 2020, Jack Ma
memberikan pidato yang mengkritik
sistem regulasi keuangan Tiongkok.
Pemerintah Tiongkok merespons
dengan cepat dan brutal. IPO Ant
Group, anak perusahaan Alibaba
yang bergerak di bidang keuangan,
dibatalkan hanya beberapa hari
sebelum pencatatannya di bursa
saham. Alibaba didenda sebesar
2,8 miliar dolar AS atas tuduhan
praktik monopoli. Harga saham
Alibaba anjlok, dan Jack Ma
menghilang dari pandangan
publik selama berbulan-bulan.
Ini adalah contoh sempurna dari risiko
yang dihadapi oleh perusahaan yang
bergantung pada satu negara. Di satu
sisi, pemerintah Tiongkok melindungi
Alibaba dari persaingan asing dengan
memblokir Google dan membatasi
Amazon. Di sisi lain, pemerintah yang
sama bisa menghancurkan Alibaba
kapan saja. Seorang investor di Amerika
yang membeli saham Alibaba pada
puncaknya kehilangan lebih dari
setengah nilai investasinya dalam
waktu satu tahun.
Apakah Alibaba bisa menjadi
penunggang kuda kelima?
Galloway mengatakan mungkin,
tetapi tantangannya sangat besar.
Ia harus mengatasi
ketergantungannya pada pasar
Tiongkok dan membangun
kepercayaan global. Sampai saat itu
terjadi, Alibaba akan tetap menjadi
raksasa regional, bukan raksasa
global.
Contoh Nyata Bab 10: The Four
dan Anda
Kasus 1: Jangan Ikuti Passion,
Kejar Bakat yang Bisa
Dimonetisasi
Seorang pemuda bernama Budi
memiliki passion yang sangat besar
terhadap musik. Ia bermain gitar
sejak SMP, menulis lagu sendiri,
dan bermimpi menjadi musisi
terkenal. Setelah lulus SMA,
ia memutuskan untuk mengejar
passion-nya. Ia menolak kuliah
dan menghabiskan tiga tahun
mencoba membangun karier
musik. Ia bermain di kafe-kafe
kecil, mengunggah lagunya
ke YouTube dan Spotify, dan
berharap suatu hari akan ditemukan.
Tiga tahun kemudian, Budi masih
belum menghasilkan cukup uang
untuk hidup mandiri. Ia masih
tinggal dengan orang tuanya,
lagu-lagunya hanya didengarkan
oleh beberapa ratus orang, dan ia
mulai kehilangan semangat.
Sementara itu, teman sekelasnya
semasa SMA, Dita, memiliki situasi
yang berbeda. Dita tidak memiliki
passion yang spesifik. Ia tidak begitu
tahu apa yang ia inginkan. Tetapi ia
menyadari bahwa ia cukup pandai
dalam hal angka dan logika.
Ia masuk kuliah jurusan akuntansi,
bukan karena ia mencintai akuntansi,
tetapi karena ia tahu bahwa akuntan
selalu dibutuhkan dan dibayar
dengan baik. Setelah lulus, ia bekerja
di sebuah firma akuntansi besar.
Ia tidak mencintai pekerjaannya,
tetapi ia cukup mahir dalam
melakukannya. Gajinya stabil, ia bisa
hidup mandiri, dan ia mulai
berinvestasi.
Sepuluh tahun kemudian, Dita telah
menjadi manajer senior dengan gaji
yang sangat nyaman. Ia memiliki
rumah sendiri, tabungan yang
cukup, dan kebebasan finansial
untuk mengejar apa pun yang ia
inginkan di waktu luangnya.
Budi, di sisi lain, akhirnya menyerah
pada mimpinya dan bekerja sebagai
guru les gitar dengan penghasilan
yang pas-pasan.
Inilah yang dimaksud oleh Scott
Galloway ketika ia berkata:
jangan ikuti passion. Ikuti bakat
yang bisa dimonetisasi. Passion
bisa berubah. Bakat, jika dipadukan
dengan kerja keras dan strategi yang
tepat, akan memberimu kebebasan.
Dan setelah kamu memiliki
kebebasan finansial, kamu bisa
mengejar passion apa pun yang
kamu mau, tanpa tekanan untuk
menghasilkan uang darinya.
Kasus 2: Pilih Kota Besar
dan Bangun Jaringan
Seorang fresh graduate bernama Sari
berasal dari kota kecil di Jawa Tengah.
Ia mendapat dua tawaran pekerjaan.
Tawaran pertama adalah bekerja
di sebuah bank di kota kelahirannya,
dengan gaji empat juta rupiah
per bulan dan biaya hidup yang sangat
rendah. Tawaran kedua adalah bekerja
di sebuah perusahaan rintisan
teknologi di Jakarta, dengan gaji tujuh
juta rupiah per bulan, tetapi biaya
hidup yang jauh lebih tinggi.
Orang tuanya mendorongnya untuk
mengambil tawaran pertama.
“Untuk apa ke Jakarta?
Macet, panas, mahal. Di sini gajinya
memang lebih kecil, tapi kamu bisa
tinggal di rumah dan tidak perlu
bayar kos.” Sari hampir setuju.
Tetapi ia ingat nasihat Galloway
tentang memilih kota besar.
Sari memutuskan untuk mengambil
risiko dan pindah ke Jakarta.
Awalnya sangat sulit. Kosnya kecil
dan panas. Biaya hidup menguras
sebagian besar gajinya.
Macet Jakarta membuatnya stres.
Tetapi di Jakarta, ia bertemu dengan
orang-orang yang tidak akan pernah
ia temui di kota kecilnya. Di sebuah
acara networking, ia berkenalan
dengan seorang direktur
di perusahaan multinasional yang
kemudian menjadi mentornya.
Di kafe dekat kantornya, ia bertemu
dengan sesama anak muda yang
sedang membangun bisnis rintisan,
dan mereka mengajaknya
bergabung sebagai salah satu pendiri.
Tiga tahun kemudian, perusahaan
rintisan itu diakuisisi oleh perusahaan
besar. Sari, sebagai salah satu pendiri,
mendapatkan uang yang cukup untuk
membeli rumah. Lebih penting lagi,
ia memiliki jaringan profesional yang
luas dan pengalaman yang tidak akan
pernah ia dapatkan jika ia tetap
tinggal di kota kecilnya. Inilah yang
dimaksud Galloway: kota besar adalah
pusat gravitasi. Di sanalah peluang,
modal, dan bakat berkumpul.
Contoh Kasus Bab 11:
Setelah The Four
Kasus: Regulasi yang
Mengancam The Four
Pada bulan Juni 2024,
Uni Eropa mengambil tindakan
yang sangat berani. Mereka
mendenda Apple sebesar
1,8 miliar euro karena melanggar
aturan anti-persaingan dalam
industri streaming musik. Kasus ini
bermula dari keluhan Spotify, yang
mengeluh bahwa Apple secara tidak
adil membatasi kemampuan mereka
untuk memberi tahu pengguna
tentang opsi pembayaran yang lebih
murah di luar App Store.
Ini bukanlah insiden pertama.
Beberapa bulan sebelumnya,
Uni Eropa memberlakukan Digital
Markets Act (DMA), undang-undang
yang secara spesifik menargetkan
praktik monopoli perusahaan
teknologi besar. DMA memaksa
Apple untuk mengizinkan toko
aplikasi alternatif di iPhone untuk
pertama kalinya dalam sejarah.
Ia memaksa Google untuk memberikan
pengguna pilihan mesin pencari default
saat pertama kali mengatur ponsel
Android. Ia melarang Amazon untuk
menggunakan data dari penjual pihak
ketiga untuk mengembangkan produk
saingannya sendiri.
Scott Galloway telah meramalkan ini
bertahun-tahun sebelumnya.
Ia menulis di Bab 11 bahwa ancaman
terbesar bagi The Four bukanlah
pesaing bisnis, melainkan regulasi
pemerintah. Ia menunjuk pada
sejarah Standard Oil, perusahaan
minyak John D. Rockefeller yang
mendominasi lebih dari sembilan
puluh persen pasar minyak Amerika
Serikat pada awal abad kedua puluh.
Standard Oil tampak tak
terkalahkan, sampai pemerintah
Amerika Serikat memutuskan
untuk memecahnya menjadi tiga
puluh empat perusahaan terpisah
pada tahun 1911.
Apakah The Four akan bernasib
sama?
Galloway tidak yakin. Ia mencatat
bahwa The Four memiliki sumber
daya yang luar biasa untuk melobi
dan melawan regulasi. Mereka
mempekerjakan ribuan pengacara,
membiayai kampanye politik, dan
membangun citra publik yang
positif. Tetapi momentum sedang
berubah. Semakin banyak politisi
dari kedua partai, semakin banyak
jurnalis, dan semakin banyak warga
biasa yang mulai melihat The Four
bukan sebagai penyelamat, tetapi
sebagai ancaman.
Ini adalah contoh dari apa yang
Galloway sebut sebagai siklus sejarah.
Semua kerajaan pada akhirnya runtuh.
Pertanyaannya bukanlah apakah
The Four akan jatuh, melainkan kapan,
dan apa yang akan menggantikan
mereka.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita udah sampe di tiga bab
pamungkas dari The Four. Setelah puas
ngebedah dominasi Amazon, Apple,
Facebook, dan Google, Scott Galloway
sekarang ngeliat ke depan. Dia nyari
perusahaan yang mungkin bisa nyusul
jadi PENUNGGANG KUDA KELIMA.
Terus, dia ngasih nasihat yang SUPER
PERSONAL soal gimana kita bisa
BERTAHAN dan bahkan
BERKEMBANG di era para raksasa ini.
Dan akhirnya, dia ngerenung: apa yang
bakal terjadi SETELAH era The Four
berakhir? Yuk, kita tuntaskan.
Bab 9: Penunggang Kuda Kelima,
Siapa yang Berani Ngejar?
Setelah bedah dalem-dalem The Four,
Galloway ngajuin pertanyaan wajar.
Siapa yang bisa NYUSUL?
Adakah perusahaan lain di dunia yang
punya POTENSI buat GABUNG
ke klub eksklusif bernilai TRILIUNAN
DOLAR ini? Galloway nyebut
pencarian ini sebagai upaya nemuin
“the Fifth Horseman”,
Sang Penunggang Kuda Kelima.
Dia nelaah beberapa kandidat utama.
Yang pertama: ALIBABA. Raksasa
e-commerce asal Tiongkok yang sering
disebut “Amazon-nya Tiongkok”.
Galloway nganggep Alibaba sebagai
PESAING TERDEKAT buat jadi
penunggang kuda kelima. Alibaba
gak cuma jualan barang. Mereka
NGENDALIIN seluruh rantai
aktivitas konsumen di Tiongkok:
e-commerce, pembayaran digital
lewat Alipay, komputasi awan, logistik,
hiburan, sampe layanan keuangan.
Tapi Galloway nyatet, Alibaba
ngadepin TANTANGAN GEDE buat
jadi pemain global. Ketergantungannya
sama pasar Tiongkok, plus hubungan
yang RUMIT sama pemerintah
Tiongkok, jadi PEDANG BERMATA
DUA. Satu sisi, pemerintah
Tiongkok ngelindungin Alibaba dari
persaingan asing. Sisi lain,
pemerintah yang sama bisa
NGANCURIN Alibaba kapan aja
kalo dianggep terlalu kuat.
Kandidat berikutnya: MICROSOFT.
Galloway ngakuin, Microsoft
sebenernya UDAH jadi perusahaan
dengan kapitalisasi pasar triliunan
dolar. Di bawah Satya Nadella,
Microsoft BANGKIT dari kematian
yang kayaknya udah pasti. Mereka
berhasil TRANSFORMASI dari
perusahaan software kaku jadi
RAKSASA KOMPUTASI AWAN.
Galloway nyebut Microsoft
“the greatest comeback in business
history”, kebangkitan terbesar dalam
sejarah bisnis. Tapi Galloway
berpendapat, Microsoft GAK PUNYA
cengkeraman di NALURI PRIMITIF
manusia sekuat The Four. Microsoft
jago secara teknis. Tapi dia
GAK MBAJAK OTAK REPTIL
lo kayak yang dilakuin Amazon, Apple,
Facebook, atau Google. Lo pake
Microsoft, tapi gak sampe tergila-gila.
Kandidat lainnya: UBER, TESLA,
dan NETFLIX. Uber merevolusi
transportasi, tapi ampe sekarang
masih BERJUANG buat ngasilin
LABA KONSISTEN. Tesla, di bawah
Elon Musk, punya KULTUS
penggemar FANATIK mirip Apple.
Tapi industri otomotif itu marginnya
TIPIS, intensitas modalnya TINGGI,
dan persaingannya SUPER KETAT.
Netflix merevolusi cara kita nonton,
tapi mereka ngabisin MILIARAN
DOLAR buat konten dan ngadepin
persaingan yang makin SENGIT
dari Disney, Apple, Amazon, dan
lainnya. Perang streaming makin
panas.
Galloway juga ngebahas kenapa
beberapa raksasa “NYARIS” tapi
akhirnya GAGAL. Dia tunjuk Yahoo,
AOL, dan MySpace. Perusahaan ini
pernah BERJAYA. Tapi akhirnya
JATUH karena GAGAL
BERADAPTASI, kehilangan fokus,
atau bikin keputusan strategis yang
FATAL. Galloway pake contoh ini
buat nekanin, DOMINASI GAK
PERNAH PERMANEN. The Four
mungkin keliatannya
GAK TERKALAHKAN sekarang.
Tapi SEJARAH nunjukin, SEMUA
KERAJAAN PADA AKHIRNYA
RUNTUH. Gak ada yang abadi.
Bab 10: The Four dan Lo,
Nasihat Biar Gak Jadi
Tumbal Raksasa
Setelah nganalisis
perusahaan-perusahaan paling gede
di dunia, Galloway tiba-tiba
NGALIHIN FOKUS. Bab ini adalah
bagian PALING PERSONAL dari
seluruh buku. Galloway gak lagi
ngomong sebagai analis bisnis.
Dia ngomong sebagai SEORANG
MENTOR. Ngasih NASIHAT
LANGSUNG ke lo, para pembaca,
soal gimana BANGUN KARIER
dan KEHIDUPAN YANG SUKSES
di era dominasi The Four.
Nasihat pertamanya mungkin bakal
KONTROVERSIAL: JANGAN
IKUTI PASSION DOANG.
Galloway berpendapat, nasihat
“ikuti passion-mu” adalah OMONG
KOSONG BERBAHAYA yang
diwarisin turun-temurun. PASSION
GAK BAYAR TAGIHAN. Gantinya,
Galloway ngedorong kita buat ngejar
BAKAT YANG BISA
DIMONETISASI. Temuin sesuatu
yang lo KUASAI. Yang DIBUTUHIN
dunia. Dan yang orang lain
BERSEDIA BAYAR buat itu. Passion,
kata Galloway, bakal NGIKUTIN
setelah lo jadi HEBAT dalam sesuatu.
Bukan sebaliknya. Jangan kebalik.
Nasihat keduanya: PILIH KOTA
BESAR. Galloway ngotot,
LOKASI GEOGRAFIS itu PENTING
BANGET buat kesuksesan karier.
Kota-kota besar kayak New York,
San Francisco, London, atau Jakarta
adalah PUSAT dari PELUANG,
JARINGAN, dan ENERGI. Di kota
besar, lo bakal DIKELILINGI
orang-orang AMBISIUS yang bakal
NGE-DORONG lo buat jadi lebih
baik. Lo bakal punya akses
ke kerjaan terbaik, mentor terbaik,
dan peluang terbaik. Jangan
ngumpet di zona nyaman.
Nasihat ketiganya:
JAGA DISIPLIN EMOSIONAL.
Galloway ngakuin, dunia kerja
modern penuh TEKANAN,
KETIDAKADILAN, dan
KEKECEWAAN. Kemampuan buat
TETEP TENANG. Gak kebawa emosi.
Dan TERUS MELANGKAH maju
meskipun ngadepin kesulitan, itu
adalah KETERAMPILAN YANG
SUPER BERHARGA. Lo bakal
diuji terus.
Nasihat keempatnya: BANGUN
KECERDASAN FINANSIAL.
Galloway ngeluh, SISTEM
PENDIDIKAN kita HAMPIR GAK
PERNAH ngajarin apa-apa soal
DUIT. Kita diajarin aljabar dan sejarah,
tapi GAK diajarin cara ngatur
keuangan pribadi, cara investasi, atau
cara paham pajak. Galloway
ngedorong lo buat BELAJAR SENDIRI
soal ini. Jangan mengandalkan sekolah.
Nasihat kelima dan pamungkas:
PELAJARI SKILL YANG GAK
GAMPANG DIOTOMATISASI.
Galloway ngingetin, kita hidup di era
di mana MESIN dan ALGORITMA
makin mampu NGANTIIN kerjaan
manusia. Galloway ngedorong kita
buat jadi PEMILIK, bukan cuma
PEKERJA. Kepemilikan, dalam
bentuk SAHAM, BISNIS, atau ASET
yang ngasilin pendapatan PASIF,
adalah SATU-SATUNYA jalan
menuju KEBEBASAN FINANSIAL
SEJATI. Lo harus punya aset yang
kerja buat lo.
Bab 11: Setelah The Four,
Apa yang Terjadi Nanti?
Di bab pamungkas ini, Galloway
ngelemparkan pandangannya
JAUH KE DEPAN. Dia nanya:
apa yang bakal terjadi SETELAH
era The Four?
Akankah para raksasa ini terus
berkuasa SELAMANYA?
Atau akankah mereka pada
akhirnya JATUH kayak
kerajaan-kerajaan sebelumnya?
Galloway ngingetin kita, SEJARAH
penuh kisah perusahaan kolosal
yang keliatannya GAK
TERKALAHKAN. Cuma untuk
kemudian RUNTUH. General
Motors. Kodak. Blockbuster. Nokia.
Semuanya pernah MENDIINASI
industrinya. Hari ini? Mereka cuma
BAYANGAN dari kejayaan masa lalu.
Atau bahkan UDAH GAK ADA.
Galloway berpendapat, The Four
GAK KEBAL terhadap siklus ini.
Mereka juga bisa jadi kenangan.
Ancaman terbesar buat The Four,
menurut Galloway, adalah
REGULASI PEMERINTAH.
Galloway nyatet, di Eropa, Google
udah DIDENDA MILIARAN DOLAR
gara-gara praktik anti-persaingan.
Di Amerika, makin BANYAK politisi
dari kedua partai yang mulai
NYERUIN biar perusahaan teknologi
gede DIPECAH. Galloway secara
pribadi DUKUNG pemecahan
Facebook. Alasannya, MONOPOLI
perusahaan itu atas jejaring sosial
TERLALU BAHAYA buat demokrasi.
Satu perusahaan pegang kendali
sosial terlalu banyak.
Galloway ngebayangin skenario
di mana Amazon DIPISAH jadi
perusahaan ritel dan perusahaan
komputasi awan. Di mana Facebook
DIPAKSA lepasin Instagram dan
WhatsApp. Di mana Google
DIPAKSA misahin bisnis iklannya
dari bisnis pencariannya. Di mana
Apple DIPAKSA buka ekosistem
tertutupnya buat para pesaing.
Bayangin betapa berubahnya
lanskap digital kalo ini terjadi.
Galloway nutup buku ini dengan
AJAKAN YANG KUAT. Dia ngingetin
kita, JANGAN NYERAHIN kendali
hidup lo SEPENUHNYA ke algoritma.
Kita harus SADAR, setiap kali kita
pake produk GRATIS dari The Four,
KITALAH PRODUK yang sebenernya.
PERHATIAN kita DIJUAL. DATA kita
DIKOMODIFIKASI. NALURI
PRIMITIF kita DIEKSPLOITASI.
Galloway ngedorong kita buat gak
cuma jadi KONSUMEN PASIF.
Tapi BANGKIT. BANGUN SESUATU.
BERINVESTASI. Jadi PEMILIK.
Dan ikut serta dalam ngebangun
kembali KAPITALISME yang LEBIH
MANUSIAWI.
Gimana, gaes? Perjalanan kita
ngebedah keempat raksasa ini udah
sampe di ujung. Dari cara mereka
mainin otak lo, sampe lo bisa ngambil
langkah buat diri sendiri. Serem juga
ya ternyata kekuasaan mereka. Tapi
sekarang lo udah punya “kacamata”
buat ngeliatnya.
