Buku Economic Facts and Fallacies Thomas Sowell, The Power of Fallacies (Kekuatan Sesat Pikir)

Thomas Sowell
Sahabat, kali ini kita akan menyelami
buku Economic Facts and
Fallacies karya Thomas Sowell.
Buku ini bukanlah bacaan ringan
yang menghibur. Ia adalah tamparan
keras terhadap keyakinan-keyakinan
populer yang sering kita dengar
di media, di kampus, dan di obrolan
sehari-hari. Sowell, seorang ekonom
yang dikenal tajam dan tanpa
kompromi, membongkar satu per
satu “kebenaran” yang ternyata
hanyalah sesat pikir ketika
dihadapkan dengan data dan logika.
Mari kita mulai dari Bab 1 dan Bab 2.
Bab 1: The Power of Fallacies
(Kekuatan Sesat Pikir)
Thomas Sowell membuka buku ini
bukan dengan data atau grafik,
melainkan dengan satu pertanyaan
mendasar: mengapa begitu banyak
orang percaya pada hal-hal yang
salah? Mengapa sesat pikir atau
fallacy bisa bertahan selama
bertahun-tahun, bahkan ketika
bukti sudah jelas menunjukkan
kekeliruannya?
Jawabannya, menurut Sowell, adalah
bahwa sesat pikir tidak bertahan
karena orang bodoh. Ia bertahan
karena ia memuaskan kebutuhan
emosional dan intelektual tertentu.
Sesat pikir sering kali terdengar
indah, terasa adil, dan cocok dengan
prasangka yang sudah kita miliki.
Ia tidak menuntut kita untuk berpikir
lebih keras; ia malah membenarkan
apa yang sudah ingin kita percayai.
Sowell merinci empat jenis sesat pikir
utama yang menjadi fondasi dari
hampir semua kekeliruan ekonomi
yang akan ia bahas di bab-bab
berikutnya.
Pertama: Zero-Sum Fallacy
(Sesat Pikir Jumlah Nol).
Ini adalah keyakinan bahwa
keuntungan satu pihak pasti berasal
dari kerugian pihak lain.
Ibarat sebuah kue yang ukurannya
tetap: jika seseorang mengambil
potongan lebih besar, orang lain
pasti mendapat potongan lebih kecil.
Logika ini sangat kuat secara
emosional karena ia menyentuh rasa
keadilan kita. Ketika kita melihat
orang kaya semakin kaya, sesat pikir
ini langsung berbisik: “Mereka pasti
mengambil dari yang miskin.”
Tetapi Sowell menunjukkan bahwa
ekonomi bukanlah kue yang
ukurannya tetap. Kue itu bisa
membesar. Transaksi ekonomi yang
sejati dan sukarela selalu menciptakan
keuntungan bagi kedua belah pihak.
Ketika kamu membeli secangkir kopi
seharga tiga puluh ribu rupiah, kamu
mendapatkan kenikmatan dan energi
yang nilainya bagimu lebih tinggi dari
tiga puluh ribu rupiah itu. Sementara
penjual kopi mendapatkan uang yang
nilainya baginya lebih tinggi dari
secangkir kopi yang ia jual. Kedua
pihak sama-sama untung. Tidak ada
yang dirugikan. Kekayaan tidak
berpindah; ia diciptakan.
Kedua: Fallacy of Composition
(Sesat Pikir Komposisi).
Ini adalah kekeliruan yang muncul
ketika kita menganggap bahwa apa
yang benar untuk satu bagian pasti
benar untuk keseluruhan. Sowell
memberikan contoh klasik: seorang
petani yang panen raya akan untung
besar. Tetapi jika semua petani
panen raya secara bersamaan, harga
hasil panen akan anjlok karena
pasokan melimpah, dan semua
petani justru bisa rugi.
Sesat pikir ini sangat umum dalam
kebijakan publik. Apa yang berhasil
untuk satu orang, satu perusahaan,
atau satu daerah, belum tentu
berhasil jika diterapkan secara
nasional atau global.
Contoh sederhana: jika satu orang
berdiri di stadion, ia bisa melihat
lebih jelas. Tetapi jika semua orang
berdiri, tidak ada yang bisa melihat
lebih jelas, dan semua orang jadi
lebih tidak nyaman.
Ketiga: Chess-Pieces Fallacy
(Sesat Pikir Bidak Catur).
Ini adalah keyakinan bahwa manusia
bisa diatur seperti bidak catur oleh
pemerintah atau perencana pusat.
Para pengambil kebijakan sering kali
membayangkan bahwa mereka bisa
menggerakkan rakyat seperti
menggerakkan pion: memindahkan
ke sini, memindahkan ke sana, dan
semuanya akan berjalan sesuai
rencana.
Sowell menunjukkan betapa naifnya
pandangan ini. Manusia bukanlah
bidak catur. Mereka memiliki
kehendak sendiri, reaksi sendiri, dan
kemampuan untuk menyesuaikan
diri terhadap kebijakan yang
diterapkan pada mereka. Ketika
pemerintah menaikkan pajak, orang
tidak diam saja; mereka mencari
celah, memindahkan investasi, atau
mengurangi jam kerja. Ketika
pemerintah menetapkan harga
maksimum, pedagang tidak diam
saja; mereka menimbun barang atau
menjual di pasar gelap.
Setiap kebijakan memicu respons
manusiawi yang sering kali
menghasilkan konsekuensi yang
sama sekali tidak terduga oleh
para perencana.
Keempat: Open-Ended Fallacy
(Sesat Pikir Tanpa Batas).
Ini adalah kekeliruan yang
mengabaikan batasan sumber daya.
Ia muncul dalam argumen-argumen
yang menganggap bahwa solusi ideal
bisa terus dijalankan tanpa
memperhitungkan biaya yang
membengkak.
“Kita harus menyelamatkan setiap
spesies yang terancam punah,”
misalnya, terdengar sangat mulia.
Tetapi ketika kita mulai menghitung
berapa triliun rupiah yang
dibutuhkan untuk menyelamatkan
setiap spesies, berapa banyak rumah
sakit yang tidak jadi dibangun,
berapa banyak sekolah yang tidak
jadi diperbaiki, kita mulai menyadari
bahwa sumber daya kita terbatas.
Sowell tidak mengatakan bahwa
tujuan-tujuan mulia itu salah.
Ia mengatakan bahwa setiap pilihan
memiliki biaya, dan biaya itu harus
diperhitungkan dengan jujur. Sesat
pikir tanpa batas menolak menghitung
biaya itu, dan akibatnya, sumber daya
dihabiskan untuk proyek-proyek yang
hasilnya tidak sebanding dengan
pengorbanannya.
Keempat sesat pikir ini, menurut
Sowell, bukanlah sekadar kesalahan
teknis yang dilakukan oleh para
ekonom amatir. Ia adalah akar dari
kebijakan-kebijakan yang telah
menghancurkan kota, merusak
kehidupan, dan memiskinkan bangsa.
Dan ia terus hidup karena ia
memuaskan sesuatu di dalam diri
kita: keinginan untuk percaya bahwa
dunia ini sederhana, bahwa keadilan
itu mudah, dan bahwa
masalah-masalah rumit bisa
diselesaikan dengan niat baik.
Contoh dalam praktik:
Kamu sedang makan malam
bersama tiga orang teman.
Kalian memesan satu piza
besar yang sudah dipotong
menjadi delapan bagian.
Ini adalah cara berpikir
zero-sum: jika temanmu
mengambil tiga potong, kamu
hanya mendapat satu. Tapi
bayangkan skenario yang
berbeda. Temanmu tidak
hanya duduk menunggu piza
datang. Ia pergi ke dapur dan
membantu koki membuat
adonan. Koki jadi bisa
membuat dua piza dalam
waktu yang sama. Sekarang,
temanmu mengambil tiga
potong dari piza pertama, dan
kamu masih mendapat tiga
potong dari piza kedua. Tidak
ada yang dirugikan. Inilah
yang terjadi dalam ekonomi
sesungguhnya: nilai tidak
hanya dibagi; ia bisa diciptakan.Seorang gubernur
mengumumkan kebijakan baru:
upah minimum dinaikkan lima
puluh persen. Tujuannya mulia:
membantu pekerja miskin. Ini
adalah chess-pieces fallacy.
Gubernur membayangkan bahwa
pengusaha akan diam saja dan
membayar sesuai aturan baru.
Tetapi kenyataannya, pengusaha
mulai berpikir: “Jika aku harus
membayar dua kali lipat untuk
karyawan yang sama, mungkin
aku lebih baik membeli mesin
yang bisa menggantikan tiga
karyawan.” Atau: “Mungkin aku
akan memindahkan pabrikku
ke negara lain.” Atau: “Mungkin
aku hanya akan mempekerjakan
karyawan yang sudah
berpengalaman, dan tidak
menerima lulusan baru.”
Akibatnya, pekerja muda dan
tidak berpengalaman justru
semakin sulit mendapatkan
pekerjaan. Mereka yang tadinya
bisa magang dengan upah
rendah sambil belajar, sekarang
tidak diberi kesempatan sama
sekali. Kebijakan yang
dimaksudkan untuk membantu
justru merugikan mereka yang
paling rentan.
Bab 2: Urban Facts and Fallacies
(Fakta dan Sesat Pikir Perkotaan)
Di bab kedua ini, Sowell membawa kita
ke medan yang sangat akrab: kota.
Ia membongkar mitos-mitos yang
sering kita dengar tentang perumahan,
lingkungan, dan kemacetan.
Mitos-mitos ini, kata Sowell,
memiliki satu kesamaan: ia terdengar
masuk akal, didukung oleh niat baik,
dan hampir selalu salah.
Fallacy pertama: Pembangunan
rumah mewah menyebabkan
harga rumah naik dan mengusir
warga miskin.
Ini adalah argumen yang sangat
populer di banyak kota besar.
Sebuah pengembang membangun
apartemen mewah di tengah kota,
dan protes pun bermunculan.
“Pembangunan ini akan membuat
harga rumah di sekitarnya naik,”
kata para pengkritik.
“Warga miskin akan terusir.”
Sowell menunjukkan bahwa argumen
ini persis terbalik. Pembangunan
apa pun, termasuk apartemen mewah,
menambah pasokan total tempat
tinggal di suatu kota. Ketika pasokan
naik, harga seharusnya turun, bukan
naik. Orang-orang kaya yang pindah
ke apartemen mewah itu tidak muncul
begitu saja dari udara; mereka tadinya
tinggal di tempat lain, mungkin
di rumah-rumah tua yang sekarang
bisa ditempati oleh orang lain.
Ini disebut filtering: setiap kali unit
baru dibangun, rantai perpindahan
terjadi, dan pada akhirnya, unit yang
lebih tua dan lebih murah menjadi
tersedia untuk mereka yang
berpenghasilan lebih rendah.
Sebaliknya, melarang pembangunan
apartemen mewah tidak
menyelamatkan warga miskin.
Ia justru menciptakan kelangkaan
buatan. Pasokan tidak bertambah,
sementara permintaan terus naik.
Hasilnya: harga melambung. Warga
miskin yang tadinya berharap bisa
tinggal di kota itu kini benar-benar
terusir, bukan karena pembangunan,
melainkan karena tidak ada cukup
rumah untuk semua orang.
Fallacy kedua: Pembatasan
lahan atau open space laws
menyelamatkan lingkungan
tanpa biaya.
Ini adalah argumen yang sangat
menarik bagi para pencinta
lingkungan. Pemerintah
menetapkan sebagian besar lahan
di sekitar kota sebagai kawasan
hijau yang tidak boleh dibangun.
Tujuannya: menjaga paru-paru kota,
mencegah betonisasi, dan
mempertahankan keindahan alam.
Siapa yang bisa menolak?
Namun, Sowell menunjukkan bahwa
kebijakan ini memiliki biaya yang
sangat besar, dan biaya itu ditanggung
bukan oleh para pejabat yang
menetapkannya, melainkan oleh
warga biasa. Ketika sebagian besar
lahan dilarang untuk dibangun,
pasokan lahan yang tersedia menjadi
sangat terbatas. Harga tanah dan
rumah di atasnya meroket.
Ini terlihat sangat jelas di California,
di mana kota-kota seperti San
Francisco dan Los Angeles memiliki
harga rumah yang selangit justru
karena begitu banyak lahan
dilindungi oleh aturan lingkungan.
Akibatnya, pekerja biasa, guru,
perawat, dan polisi tidak mampu
tinggal di dekat tempat mereka
bekerja. Mereka terpaksa pindah
jauh ke pinggiran, menempuh
perjalanan berjam-jam setiap hari.
Perjalanan panjang ini menciptakan
lebih banyak kemacetan dan polusi
daripada yang seharusnya dicegah
oleh kawasan hijau itu. Ironisnya,
kebijakan lingkungan yang
dimaksudkan untuk menyelamatkan
bumi justru menghasilkan lebih
banyak asap knalpot.
Fallacy ketiga: Pembangunan
menyebabkan kemacetan.
Ini adalah keluhan yang sangat
akrab: “Jangan bangun gedung
baru di sini. Nanti makin macet.”
Logikanya tampak sederhana:
lebih banyak gedung berarti lebih
banyak orang, dan lebih banyak
orang berarti lebih banyak
kendaraan.
Sowell kembali menunjukkan bahwa
argumen ini dangkal. Kemacetan
bukanlah akibat dari jumlah gedung;
ia adalah akibat dari pemusatan
aktivitas tanpa mekanisme harga
yang tepat. Di kota-kota yang
menerapkan jalan tol, di mana
pengemudi harus membayar untuk
menggunakan jalan pada jam-jam
sibuk, kemacetan cenderung jauh
lebih ringan. Harga berfungsi
sebagai sinyal: mereka yang
benar-benar perlu menggunakan
jalan pada jam sibuk akan
membayar, sementara yang lain
akan menunda perjalanan atau
mencari alternatif.
Melarang pembangunan tidak
menyelesaikan kemacetan; ia hanya
memindahkannya. Ketika pusat kota
tidak boleh dibangun lebih padat,
orang-orang akan pindah
ke pinggiran. Tetapi pekerjaan
mereka tetap di pusat kota.
Akibatnya, setiap pagi dan sore,
lautan kendaraan membanjiri jalan
raya yang menghubungkan
pinggiran ke pusat kota. Kemacetan
tidak hilang; ia malah meregang
menjadi lebih panjang dan lebih
melelahkan. Polusi pun meningkat.
Solusi yang tampaknya
“pro-lingkungan” berubah menjadi
bencana lingkungan yang
sesungguhnya.
Contoh dalam praktik:
Bayangkan sebuah kota pesisir
yang indah. Banyak orang ingin
tinggal di sana. Harga rumah
mulai naik. Pemerintah kota
memutuskan untuk
memberlakukan aturan ketat:
semua lahan di perbukitan
sekitar kota tidak boleh
dibangun agar pemandangan
tetap hijau dan alami. Niatnya
baik. Hasilnya: lahan yang
boleh dibangun hanya tersisa
sedikit. Harga tanah di area
yang diizinkan melonjak
gila-gilaan. Pengembang tidak
lagi bisa membangun rumah
sederhana yang terjangkau;
mereka hanya bisa membangun
rumah mewah karena hanya itu
yang bisa menutupi biaya tanah
yang selangit. Guru-guru
sekolah, perawat rumah sakit,
dan pegawai negeri mulai
mengeluh bahwa mereka tidak
mampu membeli rumah. Mereka
pindah ke kota sebelah yang
jaraknya lima puluh kilometer.
Setiap pagi, ribuan mobil
memadati jalan raya menuju kota
pesisir itu. Di musim hujan,
banjir dan kemacetan
memperparah polusi.Suatu hari, seorang pengusaha
lokal mengajukan izin untuk
membangun sebuah gedung
dengan seratus unit apartemen
kecil di atas lahannya sendiri.
Gedung ini tidak mewah;
ia dirancang untuk pekerja biasa.
Harganya terjangkau. Tetapi
protes dari warga sekitar
langsung membanjiri balai kota.
“Kami tidak ingin lingkungan
kami berubah,” kata mereka.
“Kami pindah ke sini karena
suasananya tenang.”
Pemerintah kota menolak izin.
Apartemen tidak jadi dibangun.
Para pekerja yang tadinya
berharap bisa tinggal dekat
tempat kerja mereka tetap
harus menempuh perjalanan
panjang setiap hari. Mereka
yang memprotes tetap tinggal
di rumah mereka yang tenang,
tidak menyadari bahwa
ketenangan itu dibeli dengan
mengorbankan orang lain
yang terpaksa menghabiskan
hidup mereka di jalan raya.Sowell akan berkata: tidak ada
solusi tanpa biaya.
Mempertahankan pemandangan
hijau adalah pilihan yang sah,
tetapi ia memiliki harga.
Harga itu adalah rumah yang
tidak terjangkau, perjalanan
yang melelahkan, dan
kemacetan yang memburuk.
Yang salah bukanlah pilihan itu
sendiri, melainkan keengganan
untuk mengakui bahwa pilihan
itu memiliki korban. Sesat pikir
perkotaan bertahan karena ia
membiarkan kita menikmati
kenyamanan psikologis
seolah-olah kita telah melakukan
sesuatu yang baik, tanpa harus
menghadapi konsekuensi yang
sebenarnya.
Sahabat, dua bab awal ini meletakkan
fondasi yang sangat penting.
Bab pertama membekali kita dengan
alat untuk mengenali sesat pikir:
zero-sum, composition, chess-pieces,
dan open-ended. Bab kedua
menunjukkan bagaimana sesat
pikir itu beroperasi dalam isu-isu
perkotaan yang kita temui
setiap hari. Sowell mengajarkan
bahwa niat baik tidak cukup.
Kebijakan yang terdengar indah
bisa menghasilkan bencana jika ia
mengabaikan bagaimana manusia
benar-benar bertindak, bukan
bagaimana kita berharap mereka
bertindak.
versi yang sederhana:
Gaes, kali ini kita ngomongin buku
yang isinya tamparan keras buat otak:
Economic Facts and Fallacies karya
Thomas Sowell. Ini bukan bacaan
santai, tapi buku yang bakal
ngebongkar satu per satu keyakinan
populer yang sering lo denger
di mana-mana. Sowell, ekonom yang
terkenal tajam dan nggak kenal
kompromi, bakal nunjukin kalau
banyak “kebenaran” yang ternyata
cuma sesat pikir begitu dicek sama
data dan logika. Yuk, kita mulai
dari Bab 1 dan 2.
Bab 1: Kekuatan Sesat Pikir,
Kenapa Kita Gampang Ketipu?
Thomas Sowell buka buku ini bukan
dengan data, tapi dengan pertanyaan
mendasar: kenapa sih banyak
orang percaya sama hal yang
salah? Kenapa fallacy atau sesat
pikir bisa bertahan bertahun-tahun,
padahal bukti udah jelas?
Jawabannya, kata Sowell, bukan
karena orangnya bego. Tapi karena
sesat pikir itu memuaskan
kebutuhan emosional dan
intelektual kita. Dia seringkali
kedengeran indah, adil, dan pas
banget sama prasangka yang udah
ada di kepala kita. Dia nggak maksa
kita mikir lebih keras, malah
ngebenarin apa yang udah pengen
kita percayai.
Sowell merinci empat jenis sesat
pikir utama yang jadi akar dari
hampir semua kekeliruan
ekonomi:
Pertama: Zero-Sum Fallacy
(Sesat Pikir Jumlah Nol).
Ini adalah keyakinan kalau
keuntungan satu pihak pasti berasal
dari kerugian pihak lain. Kayak kue
yang ukurannya tetap: kalau ada
yang ngambil gede, yang lain
dapetnya kecil. Logika ini kuat
banget karena nyentuh rasa keadilan
kita. Pas liat orang kaya makin kaya,
langsung kepikiran, “Mereka pasti
ngambil dari yang miskin.”
Tapi Sowell nunjukin, ekonomi itu
bukan kue yang ukurannya tetap.
Kue itu bisa membesar. Transaksi
ekonomi yang beneran dan sukarela
itu selalu nguntungin dua pihak.
Lo beli kopi 30 ribu, lo dapet
kenikmatan yang nilainya lebih dari
30 ribu. Penjual kopi dapet duit
30 ribu yang nilainya lebih gede dari
secangkir kopi. Dua-duanya untung.
Nggak ada yang dirugikan. Kekayaan
nggak cuma pindah, tapi diciptakan.
Kedua: Fallacy of Composition
(Sesat Pikir Komposisi).
Ini kekeliruan pas kita nganggep, apa
yang bener buat satu bagian, pasti
bener buat keseluruhan. Contoh
klasik: satu petani panen raya, dia
untung gede. Tapi kalau semua
petani panen raya barengan, harga
hasil panen malah anjlok, dan
semuanya bisa rugi.
Ini sering banget terjadi
di kebijakan publik. Apa yang
berhasil buat satu orang, belum
tentu berhasil buat nasional.
Satu orang berdiri di stadion, dia
bisa ngeliat lebih jelas. Tapi kalau
semua orang berdiri, nggak ada
yang bisa ngeliat, malah makin
nggak nyaman.
Ketiga: Chess-Pieces Fallacy
(Sesat Pikir Bidak Catur).
Ini keyakinan kalau manusia bisa
diatur kayak bidak catur sama
pemerintah. Para pembuat kebijakan
sering ngebayangin mereka bisa
nggerakin rakyat kayak pion, pindah
sini, pindah sana, dan semuanya
bakal sesuai rencana.
Sowell bilang, ini naif banget.
Manusia bukan bidak catur.
Mereka punya kehendak sendiri,
reaksi, dan kemampuan buat
nyesuaiin diri. Pas pemerintah naikin
pajak, orang nggak diem aja, mereka
nyari celah, mindahin investasi, atau
ngurangin jam kerja. Setiap kebijakan
memicu respons yang seringkali
nggak terduga.
Keempat: Open-Ended Fallacy
(Sesat Pikir Tanpa Batas).
Ini kekeliruan yang ngabaikan
batasan sumber daya. Argumennya
sering mulia, “Kita harus nyelamatin
semua spesies!” Tapi pas lo itung
butuh berapa triliun, berapa banyak
sekolah dan rumah sakit yang nggak
jadi dibangun, lo sadar sumber daya
kita terbatas.
Sowell nggak bilang tujuan mulia itu
salah. Dia bilang, setiap pilihan ada
biayanya, dan biaya itu harus dihitung
dengan jujur. Sesat pikir ini nolak
ngitung, akibatnya sumber daya abis
buat proyek yang hasilnya nggak
sebanding.
Keempat sesat pikir ini bukan sekadar
kesalahan teknis. Ini akar dari
kebijakan yang ngancurin kota,
ngerusak hidup, dan miskinin bangsa.
Dia tetep idup karena memuaskan
keinginan kita buat percaya kalau
dunia ini simpel, keadilan itu gampang,
dan masalah rumit bisa selesai dengan
niat baik.
Contoh praktis:
Lo lagi makan malam bertiga, pesen
satu piza delapan potong. Ini cara
pikir zero-sum: kalau temen
lo ngambil tiga, lo cuma dapet satu.
Tapi bayangin temen lo bantuin koki
bikin adonan, jadi sekarang ada
dua piza. Dia ngambil tiga dari piza
pertama, lo masih dapet tiga dari piza
kedua. Nggak ada yang dirugikan.
Inilah ekonomi sesungguhnya: nilai
bisa diciptakan.
Atau, seorang gubernur naikin upah
minimum 50% buat bantu pekerja
miskin. Ini chess-pieces fallacy.
Dia pikir pengusaha bakal diem aja.
Padahal pengusaha mikir,
“Gue mending beli mesin,” atau
“Gue pindahin pabrik.” Akibatnya,
pekerja muda dan nggak
berpengalaman malah makin susah
dapet kerja. Kebijakan yang niatnya
nolong, malah ngerugiin yang paling
rentan.
Bab 2: Fakta dan Sesat Pikir
Perkotaan, Mitos di Sekitar Lo
Di bab ini, Sowell bawa kita ke isu
yang familiar banget: kota.
Dia ngebongkar mitos soal
perumahan, lingkungan, dan
kemacetan yang sering lo denger.
Mitos ini kedengeran masuk akal,
didukung niat baik, dan hampir
selalu salah.
Fallacy Pertama: Pembangunan
rumah mewah bikin harga naik
dan ngusir warga miskin.
Argumen ini populer banget. Sowell
nunjukin, ini justru kebalik.
Pembangunan apa pun, termasuk
apartemen mewah, nambah
pasokan total. Pasokan naik,
harga harusnya turun. Orang kaya
yang pindah ke apartemen mewah itu
tadinya tinggal di tempat lain, yang
sekarang bisa ditempatin orang lain.
Ini namanya filtering. Melarang
pembangunan malah bikin
kelangkaan buatan, pasokan dikit,
permintaan naik, harga melambung,
dan warga miskin beneran terusir.
Fallacy Kedua: Pembatasan
lahan (open space laws)
nyelamatin lingkungan tanpa
biaya.
Pemerintah netapin lahan sebagai
kawasan hijau, kedengerannya mulia.
Tapi Sowell nunjukin ini ada biaya
gede yang ditanggung warga biasa.
Pasokan lahan terbatas, harga tanah
dan rumah meroket, kayak di San
Francisco. Akibatnya, guru, perawat,
polisi nggak mampu tinggal dekat
kerja. Mereka pindah jauh, perjalanan
panjang, macet, dan polusi malah
meningkat. Kebijakan lingkungan
yang niatnya nyelamatin bumi, malah
ngasilin lebih banyak asap knalpot.
Fallacy Ketiga: Pembangunan
menyebabkan kemacetan.
“Jangan bangun gedung baru, nanti
makin macet!” Logikanya keliatannya
simpel. Sowell bilang ini dangkal.
Kemacetan bukan dari jumlah gedung,
tapi dari pemusatan aktivitas tanpa
mekanisme harga. Jalan tol dengan
tarif bisa ngurangin macet. Melarang
pembangunan malah mindahin macet.
Orang pindah ke pinggiran, kerjaan
di pusat, lautan kendaraan di jalan
raya tiap pagi dan sore. Kemacetan
nggak ilang, malah makin panjang
dan melelahkan.
Contoh praktis:
Bayangin kota pesisir indah.
Pemerintah larang pembangunan
di perbukitan biar tetep hijau.
Niatnya baik. Hasilnya, lahan dikit,
harga meroket. Pengembang cuma
bisa bangun rumah mewah. Guru,
perawat, nggak mampu beli, pindah
50 km jauhnya. Tiap pagi, ribuan
mobil di jalan, macet, polusi. Lalu ada
pengusaha lokal mau bangun
apartemen kecil yang terjangkau.
Warga protes, “Nggak mau lingkungan
berubah.” Izin ditolak. Para pekerja
tetep harus nempuh perjalanan
panjang. Warga yang protes tinggal
nyaman, nggak sadar ketenangan
mereka dibeli dengan ngorbankan
orang lain.
Sowell bakal bilang, nggak ada solusi
tanpa biaya. Mempertahankan
pemandangan hijau itu pilihan sah,
tapi ada harga: rumah nggak
terjangkau, perjalanan melelahkan,
macet. Yang salah adalah keengganan
ngakuin pilihan itu ada korbannya.
Sesat pikir perkotaan bertahan
karena bikin kita ngerasa nyaman,
seolah udah ngelakuin sesuatu yang
baik, tanpa harus ngadepin
konsekuensinya.
Gimana, gaes? Dua bab awal ini
langsung ngebekali lo alat buat
ngenalin sesat pikir. Bab pertama
ngasih lo kerangka buat deteksi
fallacy di mana-mana, dan bab
kedua nunjukin gimana fallacy itu
kerja di isu perkotaan yang lo temuin
tiap hari. Sowell ngajarin, niat baik
itu nggak cukup. Kebijakan yang
indah bisa ngasilin bencana kalau
ngabaikan gimana manusia beneran
bertindak. 🔥
