Bab 6 Pelarian dan Keadilan
Bab ini adalah titik balik dari seluruh
cerita. Setelah bertahun-tahun hidup
dalam teror, setelah menyaksikan
pembunuhan dan dipaksa ikut serta
dalam penyiksaan, dua putri Shelly
akhirnya menemukan jalan keluar.
Tapi jalan itu tidak mudah, dan
keputusan untuk berbicara bukanlah
keputusan yang datang dengan cepat.
Nikki dan Sami, dua kakak beradik
tertua, sudah bukan lagi anak-anak.
Mereka telah tumbuh menjadi
dewasa muda. Mereka telah
menyaksikan kematian Kathy Loreno.
Mereka telah melihat Shane Watson
disiksa sampai cacat permanen.
Mereka telah melihat Ron
Woodworth dibunuh dan tubuhnya
dibakar di halaman belakang.
Mereka telah dipaksa untuk ikut
memukul, mengejek, dan menyiksa.
Dan mereka tahu bahwa jika mereka
tetap tinggal, suatu hari nanti mereka
mungkin akan menjadi korban
berikutnya, atau mereka akan dipaksa
untuk menjadi seperti ibu mereka.
Mengapa Anak-Anak Disuruh
Ikut Memukul, Mengejek, dan
Menyiksa
mengapa Shelly memaksa Nikki,
Sami, dan Tori untuk ikut menyiksa
korban seperti Kathy, Shane, dan
Ron. Ini bukan tindakan acak atau
sekadar kekejaman tanpa tujuan.
Shelly melakukannya dengan alasan
yang sangat terencana. Ada beberapa
tujuan yang ingin ia capai.
Tujuan pertama:
Menghancurkan solidaritas.
Shelly tahu bahwa jika anak-anaknya
bersimpati pada para korban, mereka
mungkin akan mencoba membantu
secara diam-diam. Mereka mungkin
akan menyelundupkan makanan.
Mereka mungkin akan mencoba
melonggarkan ikatan.
Mereka mungkin akan memberikan
kata-kata penghiburan. Solidaritas
antara anak-anak dan korban adalah
ancaman bagi kekuasaan Shelly.
Maka, ia menghancurkannya dengan
cara yang paling kejam: ia memaksa
anak-anaknya untuk menjadi algojo.
Setelah Nikki memukul Kathy,
bagaimana mungkin Kathy masih
memandang Nikki sebagai teman?
Setelah Sami mengejek Shane,
bagaimana mungkin Shane masih
percaya pada Sami? Shelly
memastikan bahwa tidak ada ikatan
kasih sayang yang bisa terbentuk
antara anak-anaknya dan para
tahanan.
Tujuan kedua: Mengikat
anak-anak dengan rasa bersalah.
Ini adalah strategi yang sangat licik.
Dengan memaksa anak-anaknya ikut
serta dalam penyiksaan dan
pembunuhan, Shelly menjadikan
mereka sebagai bagian dari kejahatan.
Mereka bukan lagi saksi yang tidak
bersalah. Mereka adalah peserta.
Tangan mereka juga kotor. Shelly tahu
bahwa ini akan membuat
anak-anaknya takut untuk melapor.
Jika mereka melapor ke polisi, mereka
harus menjelaskan peran mereka
sendiri. Mereka harus mengakui
bahwa mereka ikut memukul, ikut
mengejek, ikut menyiksa. Ketakutan
akan hukuman ini membuat mereka
bungkam selama bertahun-tahun.
Shelly sering mengingatkan mereka
tentang hal ini. Ia mengatakan,
“Kalian juga terlibat. Kalian pikir
polisi akan membebaskan kalian?
Kalian sama jahatnya dengan aku.”
Kata-kata ini menancap dalam
di hati anak-anaknya.
Tujuan ketiga: Menormalisasi
kekejaman. Shelly ingin
anak-anaknya tumbuh dengan
keyakinan bahwa apa yang terjadi
di rumah mereka adalah normal.
Bahwa menyiksa orang adalah hal
yang biasa. Bahwa memukul,
menendang, dan merendahkan
orang lain adalah cara yang benar
untuk mendisiplinkan. Dengan
memaksa mereka berpartisipasi,
Shelly melatih mereka untuk tidak
memiliki empati. Ia membunuh rasa
iba di dalam hati mereka. Anak-anak
yang terbiasa menyiksa akan
berhenti merasa kasihan. Mereka
akan menjadi kebal terhadap
penderitaan orang lain. Inilah yang
Shelly inginkan: ia ingin mencetak
anak-anak yang keras, yang tidak
akan menangisi nasib para korban,
yang akan patuh tanpa pertanyaan.
Tujuan keempat: Menunjukkan
kekuasaan mutlak. Setiap kali
Shelly memberi perintah untuk
memukul, dan anak-anaknya patuh,
ia menegaskan posisinya sebagai
penguasa absolut di rumah itu.
Tidak ada yang bisa menolak
perintahnya. Bahkan anak
kandungnya sendiri harus tunduk
pada kehendaknya. Ini adalah
pesan yang sangat kuat, baik untuk
anak-anak maupun untuk para
korban. Kepada anak-anak, Shelly
berkata: “Aku adalah ibumu, dan
aku memegang kendali penuh atas
hidup dan matimu.” Kepada para
korban, Shelly berkata: “Bahkan
anak-anakku sendiri lebih takut
padaku daripada bersimpati
padamu. Kamu benar-benar sendirian.”
Tujuan kelima: Menghancurkan
moral anak-anak secara
permanen. Ini mungkin adalah
tujuan yang paling gelap. Shelly
sepertinya menikmati proses
menghancurkan kepolosan
anak-anaknya sendiri. Ada kepuasan
tersendiri baginya saat melihat
seorang anak kecil dipaksa melakukan
sesuatu yang menjijikkan. Ia ingin
anak-anaknya merasa bahwa mereka
sudah rusak, bahwa mereka sudah
tidak bisa diselamatkan, bahwa tidak
ada jalan kembali. Orang yang merasa
dirinya sudah hancur tidak akan
berusaha untuk keluar. Mereka akan
menyerah. Mereka akan tetap tinggal
di dalam neraka karena mereka
percaya bahwa mereka memang
pantas berada di sana.
Contoh Konkret di Rumah
Knotek
Agar lebih jelas, berikut adalah
contoh bagaimana Shelly
menjalankan strategi ini.
Suatu hari, Shelly marah pada
Kathy Loreno. Ia memanggil Nikki
yang saat itu masih remaja. Shelly
memberikan sebatang ikat pinggang
kepada Nikki dan berkata, “Pukul dia.”
Nikki ragu-ragu. Di dalam hatinya, ia
tahu ini salah. Tapi Shelly menatapnya
dengan mata yang dingin.
“Kalau kamu tidak memukulnya,”
kata Shelly, “kamu yang akan aku
pukul. Dan akan lebih sakit.”
Nikki tidak punya pilihan.
Ia mengayunkan ikat pinggang itu
ke tubuh Kathy yang sudah kurus
kering. Kathy meringis kesakitan.
Shelly tersenyum puas.
Di lain waktu, Shelly menyuruh Sami
untuk mengejek Shane yang sedang
kelaparan. “Bilang padanya dia
gemuk dan menjijikkan,” perintah
Shelly. Sami tidak mau. Tapi Shelly
mengancam akan mengurungnya
di luar rumah saat hujan. Sami
akhirnya menurut. Ia berteriak pada
Shane, mengulangi kata-kata yang
Shelly bisikkan di telinganya. Shane
menunduk, air mata mengalir
di pipinya. Sami merasa ada sesuatu
yang mati di dalam dirinya saat itu.
Jadi, Shelly tidak hanya menyiksa
tubuh korbannya. Ia juga menyiksa
jiwa anak-anaknya sendiri.
Ia memaksa mereka untuk menjadi
algojo, dan dalam prosesnya,
ia menghancurkan kepolosan
mereka selamanya.
menyiksa korban dari luar. Ia juga
mengadu domba anak-anaknya
sendiri. Jika Nikki dianggap
melanggar aturan, Shelly akan
menyuruh Sami untuk memukul
kakaknya sendiri. Jika Sami yang
bersalah, maka Nikki dan Tori yang
diperintahkan untuk menghukum
Sami. Shelly berdiri di samping
mereka, mengawasi dengan dingin,
dan memastikan bahwa pukulan itu
dilakukan dengan keras.
Jika pukulannya dianggap terlalu
pelan, anak yang disuruh memukul
akan ikut dihukum. Dengan cara ini,
Shelly memastikan bahwa tidak ada
kasih sayang di antara saudara
kandung. Mereka semua saling
takut dan tidak bisa saling percaya.
Inilah yang saya jelaskan
sebelumnya, dan ini semua ada
di dalam buku.
Tahap pertama: Melarikan diri.
Satu per satu, Nikki dan Sami berhasil
meninggalkan rumah Knotek secara
fisik. Ini bukanlah pelarian yang
dramatis di tengah malam dengan tas
di punggung. Ini adalah proses yang
lambat dan bertahap. Mereka sudah
cukup dewasa untuk bekerja. Mereka
mencari pekerjaan, menabung sedikit
demi sedikit, dan akhirnya
menemukan tempat tinggal sendiri
di luar rumah. Shelly tidak bisa
menahan mereka secara fisik karena
mereka sudah bukan anak-anak lagi.
Tapi meskipun tubuh mereka sudah
bebas, pikiran mereka masih
terbelenggu. Rasa takut terhadap ibu
mereka tidak hilang begitu saja hanya
karena mereka sudah pindah.
Tahap kedua: Hidup dalam
ketakutan. Meskipun sudah tinggal
di luar rumah Knotek, Nikki dan Sami
tidak langsung melapor ke polisi.
Mereka masih sangat takut pada
Shelly. Mereka tahu apa yang ibu
mereka mampu lakukan. Mereka
telah melihat sendiri bahwa Shelly
bisa membunuh orang tanpa ragu.
Mereka juga takut bahwa jika mereka
melapor, mereka sendiri akan
ditangkap karena telah ikut serta
dalam penyiksaan. Rasa bersalah dan
rasa takut bercampur menjadi satu,
membuat mereka diam selama
bertahun-tahun.
Ada satu hal yang terus menghantui
mereka: Tori. Adik bungsu mereka
masih di bawah umur. Ia masih
tinggal di rumah Knotek. Ia masih
berada dalam jangkauan Shelly.
Setiap hari, Nikki dan Sami dihantui
oleh pikiran bahwa adik mereka
mungkin sedang disiksa saat itu juga.
Mungkin ia sedang dipukuli.
Mungkin ia sedang kelaparan.
Mungkin ia akan menjadi korban
berikutnya yang dikubur di halaman
belakang. Pikiran ini tidak memberi
mereka kedamaian.
Tahap ketiga: Keberanian
untuk berbicara. Akhirnya,
sesuatu dalam diri Nikki dan Sami
berubah. Mereka tidak bisa lagi
hidup dalam ketakutan. Mereka
tidak bisa membiarkan Tori
mengalami nasib yang sama dengan
Kathy, Shane, atau Ron. Mereka
membuat keputusan yang paling
menakutkan dalam hidup mereka:
mereka akan memberi tahu polisi.
Mereka pergi ke kantor polisi.
Dengan suara yang mungkin
gemetar, dengan jantung yang
mungkin berdebar kencang, mereka
mulai berbicara.
Mereka menceritakan semuanya.
Tentang Kathy Loreno. Tentang
Shane Watson yang cacat dan
mungkin masih bisa ditemukan.
Tentang Ron Woodworth. Tentang
penyiksaan yang terjadi setiap hari
di rumah itu. Dan yang paling
penting, mereka memberi tahu
polisi tentang halaman belakang.
Tentang abu manusia yang disebar
di tanah. Tentang kuburan tanpa
nisan yang tersembunyi di properti
keluarga Knotek.
Tahap keempat: Investigasi
dimulai. Polisi yang mendengarkan
kesaksian Nikki dan Sami mungkin
awalnya tidak percaya. Cerita ini
terlalu mengerikan. Tapi Nikki dan
Sami sangat detail. Mereka bisa
menyebutkan nama. Mereka bisa
menyebutkan tanggal. Mereka bisa
menggambarkan bagaimana Shelly
menyiksa korbannya, bagaimana
Dave ikut memukul, bagaimana
mayat-mayat itu dibakar di halaman
belakang. Dan ada saksi kunci yang
masih hidup: Shane Watson. Polisi
bisa menemukan Shane dan melihat
dengan mata kepala sendiri kondisi
tubuhnya yang cacat akibat
penyiksaan.
Polisi mulai menyelidiki. Mereka
mewawancarai Shane. Mereka
mendatangi rumah Knotek. Mereka
mulai menggali halaman belakang,
mencari bukti fisik dari pembunuhan
yang diceritakan oleh Nikki dan Sami.
Dan perlahan, kebenaran yang selama
ini tersembunyi mulai terungkap.
Tahap kelima: Penangkapan.
Bukti yang dikumpulkan polisi cukup
untuk menangkap Shelly dan Dave
Knotek. Pasangan suami istri yang
telah meneror, menyiksa, dan
membunuh selama bertahun-tahun
akhirnya harus berhadapan dengan
hukum. Shelly, yang selama ini
merasa tidak tersentuh, yang selama
ini percaya bahwa ia bisa
mengendalikan semua orang
di sekitarnya, kini tidak bisa lagi
mengendalikan apa pun.
Ia ditangkap. Dave juga ditangkap.
Kerajaan teror yang mereka bangun
di rumah terpencil di Washington
akhirnya runtuh.
Bagaimana Mereka Bisa
Melarikan Diri
Nikki dan Sami tidak melarikan diri
dengan cara yang dramatis seperti
di film, di mana seseorang melompat
keluar jendela di tengah malam dan
berlari sekencang mungkin. Pelarian
mereka adalah proses yang lambat,
bertahap, dan sangat hati-hati.
Langkah pertama: Mereka
tumbuh dewasa. Ketika semua
penyiksaan terjadi, Nikki dan Sami
masih anak-anak dan remaja.
Mereka tidak punya uang. Mereka
tidak punya keterampilan. Mereka
tidak punya tempat tujuan.
Ke mana pun mereka pergi, Shelly
bisa memanggil polisi dan
mengatakan bahwa anak-anaknya
kabur dari rumah. Polisi akan
mencari mereka dan mengembalikan
mereka ke rumah, karena anak
di bawah umur tidak bisa pergi
begitu saja.
Tapi seiring berjalannya waktu,
Nikki dan Sami tumbuh menjadi
dewasa muda. Mereka mencapai
usia di mana secara hukum mereka
bisa bekerja dan tinggal sendiri.
Ini adalah celah pertama yang
mereka miliki. Shelly tidak bisa lagi
mengklaim bahwa mereka adalah
anak di bawah umur yang harus
tinggal di rumah.
Langkah kedua: Mencari
pekerjaan. Nikki dan Sami mulai
bekerja. Mungkin awalnya pekerjaan
kecil-kecilan, seperti bekerja di toko
atau restoran. Pekerjaan ini memberi
mereka sesuatu yang belum pernah
mereka miliki sebelumnya: uang
sendiri. Uang ini adalah kunci
kebebasan. Dengan uang, mereka
bisa membeli makanan sendiri.
Mereka bisa menyewa tempat tinggal.
Mereka tidak lagi sepenuhnya
bergantung pada Shelly untuk
bertahan hidup.
Langkah ketiga: Menabung
secara diam-diam. Nikki dan
Sami tidak bisa memberitahu Shelly
bahwa mereka sedang menabung
untuk keluar dari rumah. Jika Shelly
tahu, ia akan langsung mengambil
uang itu atau menghukum mereka
dengan kejam. Jadi, mereka
menyembunyikan uang mereka.
Mereka menabung sedikit demi
sedikit, menyimpannya di tempat
yang tidak akan ditemukan Shelly.
Langkah keempat: Mencari
tempat tinggal. Setelah memiliki
cukup uang, mereka mulai mencari
tempat tinggal sendiri. Mungkin
awalnya mereka menyewa kamar
kecil atau apartemen murah.
Proses ini dilakukan secara rahasia.
Shelly tidak boleh tahu sampai
semuanya sudah siap.
Langkah kelima: Keluar secara
bertahap. Mereka tidak kabur
di malam hari dengan panik. Mereka
pergi secara perlahan. Mungkin
mereka mengatakan pada Shelly
bahwa mereka sibuk bekerja. Mereka
mulai menghabiskan lebih banyak
waktu di luar rumah. Akhirnya,
mereka berhasil pindah secara
permanen. Secara fisik, mereka
sudah bebas.
Mengapa Mereka Tidak
Memberi Tahu Teman
atau Orang Lain
Ini adalah pertanyaan yang paling
sering diajukan dalam kasus-kasus
seperti ini. Mengapa mereka tidak
bilang pada siapa pun? Jawabannya
ada pada tiga lapisan ketakutan
yang mengurung mereka.
Ketakutan pertama: Takut
pada Shelly sendiri. Ini adalah
ketakutan yang paling besar dan
paling mendasar. Nikki dan Sami
sudah melihat dengan mata kepala
sendiri apa yang Shelly mampu
lakukan pada orang yang tidak ia
sukai. Mereka melihat Kathy Loreno
disiksa sampai mati. Mereka
melihat Shane Watson kakinya
dipatahkan dan tidak pernah diobati.
Mereka melihat Ron Woodworth
dibunuh. Mereka tahu bahwa ibu
mereka adalah seorang pembunuh.
Shelly juga terus-menerus
mengancam mereka. Ia mengatakan
hal-hal seperti, “Kalau kalian berani
cerita ke siapa pun, kalian akan mati.”
Atau, “Tidak ada yang akan percaya
kalian.” Atau, “Aku akan membunuh
kalian dan mengubur kalian
di halaman belakang seperti yang lain.”
Bagi Nikki dan Sami, ancaman ini
bukanlah omong kosong.
Mereka sudah melihat buktinya.
Mereka percaya sepenuhnya bahwa
ibu mereka akan membunuh mereka
jika mereka berbicara.
Ketakutan kedua: Takut akan
hukuman untuk diri sendiri.
Ini adalah lapisan ketakutan yang
sangat pelik. Nikki dan Sami dipaksa
untuk ikut serta dalam penyiksaan.
Shelly memerintahkan mereka untuk
memukul, mengejek, dan menyiram
korban. Mereka melakukannya
karena jika menolak, mereka sendiri
yang akan disiksa. Tapi sekarang,
saat mereka berpikir untuk melapor,
mereka sadar bahwa mereka juga
telah melakukan hal-hal buruk.
Mereka bertanya pada diri sendiri:
“Apakah kami juga akan masuk
penjara? Apakah kami akan dianggap
sebagai penjahat juga?” Rasa bersalah
dan ketakutan ini sangat membebani
mereka.
Ketakutan ketiga: Takut tidak
dipercaya. Shelly adalah
manipulator ulung. Di depan umum,
ia adalah wanita yang karismatik,
ramah, dan meyakinkan. Tidak ada
yang akan menduga bahwa ia adalah
seorang pembunuh dan penyiksa.
Nikki dan Sami tahu ini. Mereka takut
bahwa jika mereka bercerita, tidak
akan ada yang percaya. Orang-orang
akan mengira mereka melebih-lebihkan.
Atau mereka dituduh berbohong.
Atau mereka dianggap gila. Shelly
sendiri selalu mengatakan,
“Tidak ada yang akan percaya kalian.
Kalian hanyalah anak-anak. Aku adalah
orang dewasa yang dihormati.”
Apakah Mereka Tidak
Bersekolah
Nikki dan Sami sebenarnya
bersekolah. Mereka bukan
anak-anak yang dikurung di dalam
rumah sepanjang waktu tanpa pernah
keluar. Tapi ada beberapa hal yang
membuat sekolah tidak bisa menjadi
tempat untuk mencari pertolongan.
Pertama: Mereka tidak punya
teman dekat. Shelly dengan
sengaja mengisolasi anak-anaknya
dari dunia luar. Mereka tidak
diizinkan membawa teman ke rumah.
Mereka tidak diizinkan untuk terlalu
dekat dengan siapa pun. Jika mereka
mulai dekat dengan seseorang,
Shelly akan menemukan cara untuk
memutuskan hubungan itu.
Akibatnya, Nikki dan Sami tumbuh
tanpa teman dekat yang bisa mereka
percayai.
Kedua: Mereka tidak tahu
bahwa apa yang mereka alami
adalah kejahatan. Ini adalah
poin yang sangat penting. Bagi
Nikki dan Sami, semua kekejaman
di rumah mereka adalah hal yang
normal. Itu adalah kehidupan
sehari-hari mereka. Mereka tidak
tahu bahwa anak-anak lain tidak
dipukuli. Mereka tidak tahu bahwa
anak-anak lain tidak dipaksa
menyiksa orang. Shelly selalu
mengatakan bahwa korban-korban itu
pantas dihukum. Bahwa ini adalah
disiplin. Bahwa semua keluarga
melakukan ini. Nikki dan Sami
tumbuh dengan keyakinan ini.
Ketiga: Mereka diajari untuk
tidak pernah berbicara. Aturan
nomor satu di rumah Knotek adalah:
jangan pernah membocorkan apa
yang terjadi di dalam rumah ke dunia
luar. Shelly menanamkan aturan ini
dengan sangat keras. Jika ada guru
atau tetangga yang bertanya,
jawabannya harus selalu sama:
“Semuanya baik-baik saja.”
Melanggar aturan ini berarti
hukuman berat.
Apa yang Akhirnya Membuat
Mereka Berbicara
Setelah bertahun-tahun hidup dalam
ketakutan, dua hal akhirnya memberi
Nikki dan Sami keberanian untuk
berbicara.
Hal pertama: Keselamatan Tori.
Adik bungsu mereka masih di bawah
umur. Ia masih tinggal di rumah
Knotek. Nikki dan Sami tahu bahwa
selama Tori masih di sana, ia dalam
bahaya. Setiap hari mereka dihantui
oleh pikiran bahwa Tori mungkin
akan menjadi korban berikutnya.
Cinta pada adik mereka lebih kuat
dari rasa takut pada ibu mereka.
Hal kedua: Mereka sudah cukup
dewasa dan cukup jauh. Nikki dan
Sami sekarang sudah bekerja dan
tinggal sendiri. Mereka tidak lagi secara
fisik berada dalam jangkauan Shelly.
Jarak ini memberi mereka sedikit rasa
aman. Mereka juga sudah cukup dewasa
untuk memahami bahwa apa yang
terjadi di rumah mereka adalah salah.
Mereka sudah cukup dewasa untuk tahu
bahwa pembunuhan tidak bisa
dibenarkan dengan alasan apa pun.
Dengan dua kekuatan ini, cinta pada
adik dan kedewasaan yang baru
ditemukan, Nikki dan Sami akhirnya
berjalan ke kantor polisi. Mereka
menceritakan semuanya. Mereka
adalah pahlawan yang tidak
mengenakan jubah. Mereka adalah
dua wanita muda yang, setelah
bertahun-tahun disiksa dan dipaksa
diam, akhirnya menemukan suara
mereka.
Catatan Penting tentang
Proses Hukum
Pada titik ini dalam cerita, Shelly
dan Dave sudah ditangkap, tapi
proses pengadilan masih panjang.
Yang penting untuk diketahui
sekarang adalah bahwa kesaksian
para korban, terutama Nikki, Sami,
dan Shane, adalah kunci dari
segalanya. Tanpa keberanian
mereka untuk berbicara, mungkin
Shelly tidak akan pernah diadili.
Mungkin Tori akan menjadi korban
berikutnya. Mungkin akan ada lebih
banyak abu yang disebar di halaman
belakang itu.
Kisah tentang apa yang terjadi
di persidangan, bagaimana Shelly
dan Dave dihukum, dan apa yang
terjadi pada para korban setelah
keadilan ditegakkan akan
diceritakan di bab selanjutnya.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Guys, setelah semua teror,
pembunuhan, dan penyiksaan yang
udah kita obrolin, akhirnya kita
sampai di titik terang. Ini adalah bab
di mana para korban yang selamat
menemukan kekuatan untuk melawan,
dan monster yang selama ini nggak
tersentuh mulai goyah. Yuk, kita
lanjutin.
Bab 6: Pelarian dan Keadilan
Ini adalah titik balik dari seluruh
cerita. Setelah bertahun-tahun hidup
dalam teror, setelah nyaksiin
pembunuhan dan dipaksa ikut serta
dalam penyiksaan, dua putri Shelly,
Nikki dan Sami, akhirnya
menemukan jalan keluar. Tapi
jalannya nggak gampang, dan
keputusan buat ngomong itu bukan
sesuatu yang tiba-tiba muncul.
Nikki dan Sami, dua kakak beradik
tertua, udah bukan anak-anak lagi.
Mereka udah tumbuh jadi dewasa
muda. Mereka udah nyaksiin
semuanya. Kematian Kathy Loreno.
Shane Watson disiksa sampe cacat
permanen. Ron Woodworth
dibunuh dan mayatnya dibakar.
Mereka juga dipaksa ikut mukul,
ngejek, dan nyiksa. Dan mereka
tahu, kalau tetep tinggal, suatu hari
mereka mungkin bakal jadi korban
berikutnya, atau lebih parah lagi,
mereka bakal dipaksa jadi kayak
ibu mereka sendiri.
Tahap pertama, melarikan diri.
Satu per satu, Nikki dan Sami
berhasil ninggalin rumah Knotek.
Ini bukan pelarian dramatis ala film
dengan koper di tengah malam.
Ini proses yang lambat. Mereka udah
cukup umur buat kerja, jadi mereka
cari kerja, nabung dikit demi dikit,
dan akhirnya nemu tempat tinggal
sendiri. Shelly nggak bisa nahan
mereka lagi. Tapi, meskipun badan
mereka udah bebas, pikiran mereka
masih terbelenggu. Rasa takut sama
ibu mereka nggak langsung ilang
cuma karena mereka pindah rumah.
Tahap kedua, hidup dalam ketakutan.
Meskipun udah tinggal di luar, Nikki
dan Sami nggak langsung lari
ke polisi. Mereka masih takut banget
sama Shelly. Mereka tahu persis
kemampuan ibu mereka. Mereka udah
ngeliat sendiri, Shelly bisa bunuh
orang tanpa ragu. Mereka juga takut,
kalau mereka lapor, mereka sendiri
juga bisa ditangkap karena ikut serta.
Rasa bersalah dan takut campur aduk
jadi satu, bikin mereka diem selama
bertahun-tahun.
Tapi ada satu hal yang terus-terusan
menghantui mereka: Tori, si bungsu.
Adik mereka masih di bawah umur,
dan masih tinggal di rumah Knotek.
Setiap hari, Nikki dan Sami dihantui
pikiran kalau adik mereka mungkin
sedang disiksa saat itu juga, mungkin
dipukuli, mungkin dikasih makan,
mungkin bakal jadi korban
berikutnya. Pikiran ini yang bikin
mereka nggak bisa tidur nyenyak.
Tahap ketiga, keberanian buat
ngomong. Akhirnya, sesuatu berubah.
Nikki dan Sami nggak bisa lagi cuma
diem. Mereka nggak bisa biarin Tori
ngalamin hal yang sama kayak
Kathy, Shane, atau Ron. Mereka
bikin keputusan paling ngeri dalam
hidup mereka: mereka bakal ngasih
tahu polisi.
Mereka pergi ke kantor polisi. Dengan
suara yang mungkin gemetar, jantung
deg-degan, mereka mulai ngomong.
Mereka ceritain semuanya. Soal Kathy
Loreno, soal Shane Watson, soal
Ron Woodworth, soal penyiksaan
tiap hari, dan soal halaman belakang.
Mereka bilang ke polisi kalau di sana
ada abu manusia yang disebar, ada
kuburan tanpa nisan.
Tahap keempat, investigasi dimulai.
Polisi yang dengerin pasti awalnya
susah percaya. Ceritanya terlalu
mengerikan. Tapi Nikki dan Sami
sangat detail. Mereka bisa sebutin
nama, tanggal, dan menggambarkan
gimana Shelly nyiksa korbannya,
gimana Dave ikut mukul, gimana
mayat-mayat itu dibakar. Dan yang
paling penting, ada saksi kunci yang
masih hidup: Shane Watson. Polisi
bisa nemuin Shane dan ngeliat
langsung kondisi kakinya yang
cacat permanen.
Akhirnya polisi mulai bergerak.
Mereka wawancarai Shane, datengin
rumah Knotek, dan mulai gali
halaman belakang buat nyari bukti.
Pelan-pelan, semua kebenaran yang
tersembunyi mulai terkuak.
Tahap kelima, penangkapan. Bukti
yang dikumpulin polisi udah cukup
buat nangkep Shelly dan Dave Knotek.
Pasangan suami istri yang udah
meneror, nyiksa, dan membunuh
selama bertahun-tahun akhirnya
harus berhadapan sama hukum.
Shelly, yang selama ini ngerasa nggak
tersentuh, yang percaya dia bisa
ngontrol semua orang, sekarang
udah nggak bisa ngontrol apa-apa.
Dia ditangkap, Dave juga ditangkap.
Kerajaan teror yang mereka bangun
akhirnya runtuh.
Nah, di titik ini, Shelly dan Dave udah
ditangkap, tapi proses pengadilannya
masih panjang. Yang penting buat lo
tahu sekarang, kesaksian para korban,
terutama Nikki, Sami, dan Shane,
adalah kunci dari segalanya. Tanpa
keberanian mereka buat ngomong,
mungkin Shelly nggak bakal pernah
diadili. Mungkin Tori bakal jadi korban
berikutnya. Mungkin bakal ada lebih
banyak abu yang disebar di halaman
belakang itu.
