filsafat

Anselmus dari Aosta: Filsuf dan Teolog Abad Pertengahan

Bayangkan seorang biarawan tua duduk di ruang kerjanya yang sunyi. Di depannya terbentang lembaran perkamen. Ia sedang menulis sebuah doa yang panjang, sebuah percakapan intim dengan Tuhan. Namun, di tengah doa itu, ia menyusun sebuah argumen logis yang akan mengguncang dunia filsafat selama berabad-abad. Argumen itu sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Ia berusaha membuktikan keberadaan Tuhan hanya dengan menggunakan akal, tanpa perlu melihat alam semesta atau membaca Kitab Suci. Biarawan itu adalah Anselmus dari Aosta, dan argumen yang ia tulis dikenal sebagai argumen ontologis.

Biografi: Kehidupan dan Karya

Anselmus lahir pada tahun 1033 di Aosta, sebuah kota di Pegunungan Alpen, Italia utara. Ia berasal dari keluarga bangsawan. Ayahnya seorang yang keras dan duniawi, sementara ibunya seorang perempuan yang saleh dan lembut. Konon, ibunya inilah yang menanamkan benih iman dalam diri Anselmus sejak kecil.

Pada usia sekitar dua puluh tiga tahun, Anselmus meninggalkan rumah dan menyeberangi Pegunungan Alpen menuju Prancis. Ia masuk biara Benediktin di Bec, Normandia. Di sana, ia belajar di bawah bimbingan Lanfranc, seorang sarjana terkenal. Anselmus berkembang pesat. Ia menjadi seorang biarawan, kemudian menjadi prior, dan akhirnya menjadi abbas. Pada tahun 1093, ia diangkat menjadi Uskup Agung Canterbury, jabatan tertinggi dalam gereja Inggris pada masa itu.

Selama hidupnya, Anselmus menulis banyak karya. Yang paling terkenal adalah Monologion dan Proslogion. Dalam Proslogion, ia menuangkan argumen ontologisnya. Ia juga menulis Cur Deus Homo (Mengapa Tuhan Menjadi Manusia), sebuah karya tentang penebusan. Ia meninggal pada tahun 1109 dan kemudian dinyatakan sebagai santo. Pada tahun 1720, ia diangkat sebagai Doktor Gereja.

Argumen Ontologis: Membuktikan Tuhan dengan Logika

Konsep Tuhan sebagai Makhluk Paling Sempurna

Inti dari argumen ontologis Anselmus adalah definisi tentang Tuhan. Menurut Anselmus, Tuhan adalah “id quo maius cogitari nequit”, yang berarti “sesuatu yang tidak ada yang lebih besar dapat dipikirkan”. Dengan kata lain, Tuhan adalah makhluk yang paling sempurna yang dapat dibayangkan oleh pikiran manusia. Tidak ada yang lebih besar, lebih baik, atau lebih sempurna dari Tuhan.

Definisi ini terdengar sederhana, tetapi mengandung konsekuensi yang sangat mendalam. Jika Tuhan adalah makhluk yang paling sempurna yang dapat dipikirkan, maka Tuhan harus memiliki segala kesempurnaan. Ia harus mahakuasa, mahatahu, mahabaik, dan seterusnya. Dan salah satu kesempurnaan itu adalah eksistensi. Sesuatu yang ada lebih sempurna daripada sesuatu yang tidak ada. Karena itu, Tuhan harus ada.

Bukti A Priori Keberadaan Tuhan

Argumen Anselmus disebut a priori karena tidak bergantung pada pengalaman indrawi. Ia tidak perlu melihat alam semesta, mengamati keteraturan, atau mencari bukti-bukti empiris. Ia hanya perlu menganalisis konsep tentang Tuhan. Dari konsep itu, ia menarik kesimpulan bahwa Tuhan harus ada.

Mari kita ikuti langkah-langkah argumennya secara sederhana. Pertama, kita mendefinisikan Tuhan sebagai makhluk yang paling sempurna yang dapat dipikirkan. Kedua, jika Tuhan hanya ada di dalam pikiran, maka kita dapat membayangkan sesuatu yang lebih besar, yaitu makhluk yang sama tetapi juga ada di dalam kenyataan. Ketiga, tetapi itu bertentangan dengan definisi Tuhan sebagai makhluk yang tidak ada yang lebih besar dapat dipikirkan. Keempat, karena itu, Tuhan harus ada di dalam kenyataan, bukan hanya di dalam pikiran.

Bayangkan seperti ini. Anda membayangkan sebuah pulau yang paling sempurna. Pulau itu memiliki segala yang Anda inginkan: pantai berpasir putih, air terjun, hutan tropis, dan istana megah. Apakah pulau itu ada? Tentu saja belum tentu. Membayangkan pulau yang sempurna tidak berarti pulau itu benar-benar ada. Tetapi bagi Anselmus, Tuhan berbeda dari pulau. Tuhan adalah makhluk yang paling sempurna. Jika Ia hanya ada dalam pikiran, maka Ia tidak sempurna, karena sesuatu yang ada dalam pikiran dan kenyataan lebih sempurna daripada yang hanya ada dalam pikiran. Karena itu, Tuhan harus ada.

Kritik dari Gaunilo

Argumen Anselmus tidak diterima begitu saja. Seorang biarawan bernama Gaunilo dari Marmoutier menulis sebuah tanggapan yang tajam. Ia menggunakan analogi pulau yang sempurna. Menurut Gaunilo, jika argumen Anselmus benar, maka kita juga bisa membuktikan keberadaan pulau yang sempurna hanya dengan membayangkannya. Tetapi itu jelas tidak masuk akal. Kita tidak bisa membuat sesuatu menjadi ada hanya dengan mendefinisikannya sebagai sempurna.

Anselmus menjawab kritik ini dengan mengatakan bahwa argumennya hanya berlaku untuk Tuhan, bukan untuk hal-hal lain. Pulau yang sempurna hanyalah sebuah konsep yang diciptakan oleh pikiran manusia. Tidak ada kontradiksi jika pulau itu tidak ada. Tetapi Tuhan adalah makhluk yang paling sempurna. Jika Ia tidak ada, maka ada kontradiksi. Karena itu, Tuhan harus ada.

Kritik Gaunilo dan jawaban Anselmus ini menjadi salah satu perdebatan paling terkenal dalam sejarah filsafat. hingga hari ini, para filsuf masih memperdebatkan apakah argumen ontologis valid atau tidak. Immanuel Kant, misalnya, menolak argumen ini dengan mengatakan bahwa eksistensi bukanlah predikat yang dapat menambah kesempurnaan. Menurut Kant, seratus koin yang ada di pikiran tidak berbeda dengan seratus koin yang ada di kenyataan, sejauh menyangkut konsepnya. Eksistensi hanya menambahkan posisi, bukan kesempurnaan.

Hubungan Iman dan Akal: Iman yang Mencari Pemahaman

Komplementaritas Iman dan Akal

Anselmus percaya bahwa iman dan akal tidak bertentangan. Keduanya berasal dari Tuhan yang sama. Iman adalah anugerah Tuhan yang memungkinkan manusia mengenal-Nya. Akal adalah anugerah Tuhan yang memungkinkan manusia memahami dunia. Tugas manusia adalah menggunakan akal untuk memahami iman.

Anselmus tidak ingin menggantikan iman dengan akal. Ia tidak ingin membuktikan Tuhan seolah-olah Tuhan hanyalah kesimpulan dari sebuah argumen logis. Sebaliknya, ia ingin memahami apa yang sudah ia yakini. Ia berangkat dari iman, lalu berusaha memahami. Ia tidak berangkat dari keraguan, lalu mencari bukti.

Credo ut Intelligam

Salah satu kalimat paling terkenal dari Anselmus adalah “credo ut intelligam”, yang berarti “aku percaya agar aku memahami”. Kalimat ini mirip dengan “fides quaerens intellectum” dari Agustinus, yang berarti “iman yang mencari pemahaman”.

Maksud Anselmus adalah: iman adalah titik awal. Kita percaya dulu, baru kemudian kita berusaha memahami. Iman bukanlah lawan dari akal. Iman justru mendorong kita untuk menggunakan akal kita untuk memahami lebih dalam apa yang kita percayai. Tanpa iman, akal tidak akan pernah sampai pada pemahaman yang sejati tentang Tuhan. Tanpa akal, iman akan menjadi buta dan tidak berkembang.

Bayangkan seperti ini. Anda mencintai seseorang. Anda percaya bahwa orang itu baik. Tetapi Anda ingin lebih memahami siapa dia sebenarnya. Jadi Anda belajar tentang dia, berbicara dengannya, menghabiskan waktu bersamanya. Iman Anda mendorong Anda untuk mencari pemahaman yang lebih dalam. Itulah yang dimaksud Anselmus.

Refleksi Teologis: Kebebasan dan Penebusan

Kebebasan Kehendak dan Predestinasi

Anselmus juga bergulat dengan pertanyaan sulit tentang kebebasan kehendak dan predestinasi. Jika Tuhan sudah mengetahui sejak kekekalan siapa yang akan diselamatkan dan siapa yang akan binasa, apakah manusia benar-benar bebas? Jika Tuhan sudah menentukan segala sesuatu, bagaimana mungkin manusia bertanggung jawab atas dosa-dosanya?

Anselmus mencoba menjawab pertanyaan ini dengan membedakan antara pengetahuan Tuhan dan penyebab Tuhan. Tuhan mengetahui segala sesuatu, tetapi pengetahuan-Nya tidak menyebabkan segala sesuatu. Ia mengetahui bahwa saya akan melakukan sesuatu, tetapi pengetahuan-Nya tidak memaksa saya untuk melakukannya. Saya tetap bebas memilih. Pengetahuan Tuhan tidak menghapus kebebasan manusia.

Namun, Anselmus juga mengakui bahwa ini adalah misteri yang tidak sepenuhnya dapat dipahami. Ia tidak mencoba menjelaskan semuanya. Ia hanya menunjukkan bahwa tidak ada kontradiksi yang nyata antara kebebasan manusia dan pengetahuan Tuhan.

Teori Penebusan

Salah satu kontribusi teologis paling penting dari Anselmus adalah teori penebusan yang ia kembangkan dalam Cur Deus Homo (Mengapa Tuhan Menjadi Manusia). Pada masa itu, ada perdebatan tentang mengapa Yesus harus mati di kayu salib. Beberapa teolog mengatakan bahwa kematian Yesus adalah tebusan yang dibayarkan kepada Iblis. Yang lain mengatakan bahwa kematian Yesus adalah contoh kasih Tuhan.

Anselmus menawarkan teori yang berbeda. Menurutnya, dosa manusia adalah pelanggaran terhadap kehormatan Tuhan. Manusia telah berdosa, dan dosa itu menuntut pemulihan kehormatan Tuhan. Tetapi manusia tidak mampu memulihkan kehormatan Tuhan karena ia sendiri sudah berdosa. Hanya makhluk yang tidak berdosa yang dapat memulihkan kehormatan Tuhan. Tetapi makhluk yang tidak berdosa itu juga harus manusia, karena manusialah yang berdosa.

Karena itu, Tuhan menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Yesus adalah manusia yang tidak berdosa, tetapi juga Tuhan yang mahakuasa. Kematian-Nya di kayu salib adalah tindakan ketaatan yang sempurna yang memulihkan kehormatan Tuhan. Melalui kematian-Nya, Yesus menebus dosa manusia dan mendamaikan manusia dengan Tuhan.

Teori ini kemudian dikenal sebagai teori penebusan Anselmian atau teori kepuasan (satisfaction theory). Teori ini sangat berpengaruh dalam teologi Kristen Barat dan masih menjadi salah satu teori utama tentang penebusan hingga hari ini.

Metode Filosofis: Logika dan Dialektika

Penggunaan Metode dan Prinsip Logis

Anselmus adalah seorang filsuf yang sangat mengandalkan logika. Ia menggunakan prinsip-prinsip logika Aristoteles untuk menyusun argumen-argumennya. Ia percaya bahwa logika adalah alat yang diberikan Tuhan untuk membantu manusia memahami kebenaran. Logika tidak bertentangan dengan iman; logika justru membantu iman menjadi lebih jelas dan terstruktur.

Salah satu prinsip logis yang sering ia gunakan adalah prinsip non-kontradiksi. Prinsip ini menyatakan bahwa sesuatu tidak dapat sekaligus menjadi dan tidak menjadi dalam aspek yang sama. Anselmus menggunakan prinsip ini untuk menunjukkan bahwa konsep tentang Tuhan tidak mengandung kontradiksi. Jika ada yang tampak kontradiktif, itu hanya karena pemahaman kita yang terbatas.

Pendekatan Dialektis

Anselmus juga menggunakan pendekatan dialektis dalam karya-karyanya. Ia sering memulai dengan mengajukan pertanyaan, lalu menyusun argumen untuk dan menentang, dan akhirnya memberikan jawabannya sendiri. Pendekatan ini mirip dengan metode quaestio disputata yang digunakan oleh para skolastik.

Dalam Cur Deus Homo, misalnya, Anselmus memulai dengan pertanyaan: “Mengapa Tuhan menjadi manusia?” Ia lalu menyusun berbagai jawaban yang mungkin, menunjukkan kelemahan masing-masing, dan akhirnya memberikan jawabannya sendiri. Pendekatan ini melatih pembaca untuk berpikir kritis dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang.

Kesimpulan: Iman yang Mencari Pemahaman

Anselmus dari Aosta adalah salah satu pemikir paling orisinal pada abad pertengahan. Ia tidak hanya seorang teolog yang saleh, tetapi juga seorang filsuf yang berani menggunakan akal untuk memahami iman. Argumen ontologisnya, meskipun kontroversial, tetap menjadi salah satu argumen paling terkenal dalam sejarah filsafat. Kalimatnya “credo ut intelligam” merangkum seluruh pendekatannya: iman adalah titik awal, dan akal adalah alat untuk memahami iman.

Warisan Anselmus adalah undangan untuk tidak takut menggunakan akal dalam beriman. Ia mengajarkan bahwa iman yang sejati tidak pernah takut pada pertanyaan. Ia mengajarkan bahwa mencari pemahaman adalah bagian dari ibadah. Dan ia mengajarkan bahwa pada akhirnya, semua pencarian manusia akan bermuara pada satu tujuan: Tuhan, sumber dari segala kebenaran dan pemahaman.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Halo gaessss! Balik lagi sama gue. Oke, sekarang gue mau ngajak lo nongkrong lagi. Bayangin kita masih di warung kopi yang sama. Kopi udah setengah gelas. Gorengan tinggal satu. Dan gue mau cerita tentang satu orang yang mungkin namanya jarang disebut di tongkrongan, tapi sebenernya dia adalah orang yang bikin pertanyaan paling licik dalam sejarah filsafat. Namanya Anselmus dari Aosta. Yuk kita ghibahin.

Anselmus dari Aosta: Pria yang Bikin Argumen Paling Licik dalam Sejarah Filsafat

Biografi: Dari Aosta ke Canterbury

Lo tau nggak sih, Anselmus itu bukan orang sembarangan. Dia lahir di Aosta, Italia, sekitar tahun 1033 M. Jadi dia hidup di abad ke-11. Bayangin, abad ke-11! Itu zaman ketika Eropa masih belum sepenuhnya bangkit dari kekacauan. Tapi Anselmus ini anak yang cerdas. Dia haus ilmu. Dia pengen belajar. Dia pengen mencari kebenaran.

Ayahnya seorang bangsawan. Tapi Anselmus nggak tertarik pada kekayaan. Nggak tertarik pada kekuasaan. Dia tertarik pada Tuhan. Jadi dia masuk biara. Dia menjadi biarawan Benediktin. Dia belajar. Dia berdoa. Dia menulis. Dia menjadi guru. Dia menjadi prior. Dia menjadi abbas. Dan akhirnya, dia menjadi Uskup Agung Canterbury. Jabatan tertinggi dalam gereja Inggris.

Tapi hidupnya nggak selalu mulus. Dia sering berkonflik dengan raja. Dia sering diasingkan. Dia sering dipersulit. Tapi dia nggak pernah menyerah. Dia nggak pernah mundur. Dia nggak pernah kompromi. Dia adalah teladan keberanian. Teladan keteguhan. Teladan kesetiaan.

Anselmus meninggal pada tahun 1109 M. Dia meninggal sebagai uskup agung. Dia meninggal sebagai filsuf. Dia meninggal sebagai teolog. Dia meninggalkan warisan yang luar biasa. Warisan yang mengubah cara orang berpikir tentang Tuhan. Tentang iman. Tentang akal.

Argumen Ontologis: Argumen Paling Licik dalam Sejarah Filsafat

Nah, ini dia yang bikin Anselmus terkenal. Argumen ontologis. Ini adalah argumen untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Bukan melalui alam. Bukan melalui pengalaman. Tapi melalui logika murni. Melalui konsep. Melalui definisi. Jadi ini argumen a priori. Artinya, argumen yang nggak bergantung pada pengalaman. Nggak bergantung pada data. Nggak bergantung pada observasi.

Konsep Tuhan sebagai ‘makhluk paling sempurna’. Anselmus bilang, Tuhan adalah makhluk yang paling sempurna. Yang paling besar. Yang paling tinggi. Yang paling agung. Nggak ada yang bisa dipikirkan lebih besar dari Tuhan. Dalam bahasa Latin, Tuhan adalah id quo maius cogitari nequit. Artinya, sesuatu yang nggak ada yang lebih besar untuk dipikirkan. Jadi Tuhan adalah puncak dari segala kesempurnaan. Puncak dari segala kebesaran.

Bukti a priori keberadaan Tuhan. Nah, di sinilah akal-akalan Anselmus mulai. Dia bilang begini. Kalau Tuhan adalah yang paling sempurna, apakah Tuhan itu ada? Kalau Tuhan nggak ada, maka ada sesuatu yang lebih besar. Yaitu sesuatu yang ada. Karena sesuatu yang ada lebih besar dari sesuatu yang nggak ada. Jadi kalau Tuhan nggak ada, maka ada yang lebih besar dari Tuhan. Padahal Tuhan adalah yang terbesar. Jadi Tuhan harus ada. Karena kalau nggak ada, dia bukan yang terbesar.

Coba lo pikir. Anselmus bilang, kita bisa memikirkan Tuhan. Kita punya konsep tentang Tuhan. Konsep tentang makhluk yang paling sempurna. Tapi kalau Tuhan cuma ada di pikiran kita, maka dia bukan yang terbesar. Karena sesuatu yang ada di pikiran dan ada di kenyataan lebih besar dari sesuatu yang cuma ada di pikiran. Jadi supaya Tuhan menjadi yang terbesar, dia harus ada di kenyataan. Bukan cuma di pikiran. Jadi Tuhan harus ada. Titik.

Ini adalah argumen yang sangat cerdik. Sangat elegan. Sangat sederhana. Tapi juga sangat licik. Karena dia mengandalkan definisi. Mengandalkan konsep. Mengandalkan logika. Bukan pengalaman. Bukan bukti. Bukan observasi. Jadi banyak filsuf yang terpesona. Banyak filsuf yang bingung. Banyak filsuf yang marah.

Kritik dari Gaunilo. Nah, ada seorang biarawan bernama Gaunilo. Dia nggak terima. Dia bilang, argumen Anselmus itu cacat. Dia bilang, kalau logika Anselmus benar, maka kita bisa membuktikan apa saja. Misalnya, pulau yang paling sempurna. Kalau pulau yang paling sempurna itu ada di pikiran kita, maka dia harus ada di kenyataan. Karena pulau yang ada di pikiran dan ada di kenyataan lebih sempurna dari pulau yang cuma ada di pikiran. Jadi pulau yang paling sempurna harus ada. Tapi itu kan absurd. Nggak ada pulau yang paling sempurna. Jadi argumen Anselmus salah.

Anselmus menjawab. Dia bilang, pulau itu nggak sama dengan Tuhan. Pulau itu terbatas. Pulau itu bisa lebih sempurna. Tapi Tuhan itu nggak terbatas. Tuhan itu sudah sempurna. Jadi nggak bisa dibandingkan. Tapi kritik Gaunilo tetap saja menggugah. Sampai sekarang, argumen ontologis masih diperdebatkan. Masih diperdebatkan. Masih diperdebatkan.

Hubungan Iman dan Akal: Credo ut Intelligam

Anselmus juga terkenal dengan kalimatnya. Credo ut intelligam. Artinya, aku percaya supaya aku mengerti. Atau, aku percaya supaya aku memahami. Jadi iman itu langkah pertama. Pengertian itu langkah kedua. Jangan kebalik. Jangan coba memahami semuanya dulu baru percaya. Nggak akan pernah sampai. Percaya dulu. Lalu pemahaman akan datang.

Ini adalah prinsip yang sangat penting. Karena banyak orang yang bilang, aku nggak percaya sebelum aku mengerti. Anselmus bilang, justru sebaliknya. Mengerti itu datang setelah percaya. Iman itu bukan musuh akal. Iman itu pembuka jalan bagi akal. Iman itu cahaya yang menerangi akal. Jadi jangan takut beriman. Jangan takut percaya. Karena iman akan membawa lo pada pengertian yang lebih dalam.

Komplementaritas iman dan akal. Anselmus bilang, iman dan akal itu nggak bertentangan. Mereka bisa jalan bareng. Mereka bisa saling melengkapi. Iman memberi arah. Akal memberi alat. Iman memberi tujuan. Akal memberi jalan. Jadi jangan pisahkan. Jangan pertentangkan. Jangan lawankan. Tapi satukan. Gabungkan. Sintesiskan.

Refleksi Teologis: Kebebasan Kehendak dan Penebusan

Anselmus juga membahas tentang kebebasan kehendak. Dia bilang, manusia itu punya kehendak bebas. Manusia bisa memilih. Manusia bisa memutuskan. Manusia bisa bertindak. Tapi kehendak bebas itu nggak mutlak. Kehendak bebas itu terbatas. Kehendak bebas itu diberikan oleh Tuhan. Jadi manusia bisa memilih. Tapi pilihan manusia itu nggak lepas dari kekuasaan Tuhan. Manusia berusaha. Tuhan yang menentukan.

Anselmus juga membahas tentang predestinasi. Dia bilang, Tuhan sudah tahu siapa yang akan diselamatkan. Tapi pengetahuan Tuhan itu bukan penyebab. Bukan pemaksa. Tuhan cuma tahu. Tuhan cuma melihat. Tapi manusia tetap bebas. Manusia tetap memilih. Jadi predestinasi dan kebebasan itu nggak bertentangan. Mereka bisa jalan bareng.

Teori penebusan. Anselmus juga punya teori tentang penebusan. Dia bilang, manusia sudah berdosa. Manusia sudah melanggar perintah Tuhan. Manusia sudah menghina Tuhan. Jadi manusia harus membayar. Harus menebus. Tapi manusia nggak bisa menebus. Karena manusia itu terbatas. Manusia itu nggak sempurna. Jadi manusia butuh penebus. Butuh perantara. Butuh yang sempurna. Butuh yang ilahi. Itulah Yesus Kristus. Dia adalah Tuhan. Dia adalah manusia. Jadi dia bisa menebus. Dia bisa membayar. Dia bisa menyelamatkan.

Metode Filosofis: Logika dan Dialektika

Anselmus menggunakan metode logis. Dia menggunakan logika. Dia menggunakan silogisme. Dia menggunakan argumen. Dia nggak cuma percaya. Dia juga berpikir. Dia nggak cuma menerima. Dia juga menganalisis. Jadi dia adalah teladan bagi kita semua. Iman yang cerdas. Iman yang kritis. Iman yang mencari pengertian.

Pendekatan dialektis. Anselmus juga menggunakan pendekatan dialektis. Dia bertanya. Dia menjawab. Dia membantah. Dia mempertahankan. Dia mencari titik temu. Jadi dia adalah pionir dalam metode skolastik. Dia adalah pendahulu Thomas Aquinas. Dia adalah jembatan antara Agustinus dan skolastisisme.

Penutup

Halo gaessss, Anselmus dari Aosta itu bukanlah orang suci yang membosankan. Dia adalah pemikir yang berani. Dia adalah filsuf yang cerdik. Dia adalah teolog yang mendalam. Dia adalah orang yang bikin argumen paling licik dalam sejarah filsafat. Argumen ontologis. Argumen yang bikin pusing selama seribu tahun. Argumen yang masih diperdebatkan sampai sekarang.

Dia ngajarin lo bahwa iman itu langkah pertama. Pengertian itu langkah kedua. Jadi jangan kebalik. Percaya dulu. Lalu pemahaman akan datang. Dia juga ngajarin lo bahwa iman dan akal itu nggak bertentangan. Mereka bisa jalan bareng. Mereka bisa saling melengkapi. Jadi jangan takut beriman. Jangan takut berpikir.

Jadi gitu gaessss. Anselmus adalah salah satu tokoh paling penting dalam sejarah filsafat Abad Pertengahan. Dia adalah jembatan antara dunia kuno dan dunia modern. Dia adalah pionir dalam metode skolastik. Dan kalau lo mau, lo bisa belajar dari dia. Lo bisa mengambil yang terbaik dari dia. Lo bisa mengembangkan apa yang dia mulai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *