Montaigne dan Skeptisisme Modern: Seni Hidup dengan Keraguan yang Sehat
Bayangkan sebuah menara batu di pedesaan Prancis, jauh dari hiruk-pikuk kota dan keributan perang agama yang sedang membakar Eropa. Di dalam menara itu, seorang pria bangsawan berusia tiga puluhan duduk dikelilingi buku-buku. Ia baru saja pensiun dari jabatannya sebagai anggota parlemen, dan kini ia ingin melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan orang sebelumnya: menulis tentang dirinya sendiri. Bukan tentang prestasi atau kebajikannya, melainkan tentang keraguan, keanehan, dan ketidakkonsistenan yang ia temukan dalam dirinya. Pria itu adalah Michel de Montaigne, dan dari menara itulah lahir sebuah bentuk tulisan baru yang ia sebut essai, yang berarti “percobaan” atau “upaya”. Dari “percobaan” itulah lahir salah satu bentuk skeptisisme paling manusiawi dan berpengaruh dalam sejarah pemikiran Barat.
Biografi dan Pemikiran Montaigne: Dari Menara Menuju Kebijaksanaan
Michel Eyquem de Montaigne lahir pada tanggal 28 Februari 1533 di Château de Montaigne, dekat Bordeaux, Prancis. Ia berasal dari keluarga bangsawan kaya. Ayahnya, Pierre Eyquem, adalah seorang pria yang sangat peduli pada pendidikan. Konon, Montaigne kecil dibangunkan setiap pagi oleh suara musik, dan ia hanya diperbolehkan berbicara dalam bahasa Latin hingga usia enam tahun. Pendidikan yang tidak biasa ini menanamkan dalam dirinya kecintaan pada bahasa dan sastra klasik.
Montaigne belajar hukum dan kemudian menjalani karier di dunia publik. Ia menjadi anggota Parlemen Bordeaux dan pernah menjabat sebagai wali kota Bordeaux. Namun, pada tahun 1570, pada usia 38 tahun, ia memutuskan untuk pensiun dari kehidupan publik dan mengasingkan diri di menara perpustakaannya. Di sanalah ia mulai menulis Essais-nya.
Essais bukanlah buku filsafat yang sistematis. Montaigne tidak membangun argumen dari awal hingga akhir. Ia menulis tentang berbagai topik: persahabatan, pendidikan, kematian, kebiasaan, dan bahkan tentang kanibalisme. Tetapi di balik semua topik itu, ada satu subjek yang selalu hadir: dirinya sendiri. Ia menulis, “Saya sendiri adalah bahan dari buku saya”. Dengan meneliti dirinya sendiri, dengan segala keanehan dan keraguannya, ia berusaha memahami hakikat manusia pada umumnya.
Montaigne hidup pada masa ketika Eropa sedang dilanda perang agama antara Katolik dan Protestan. Ia menyaksikan bagaimana orang-orang membunuh satu sama lain demi keyakinan yang mereka anggap mutlak benar. Melihat kekejaman itu, Montaigne mengembangkan sikap yang ia sebut sebagai “ketidaktahuan yang terpelajar”. Ia belajar untuk tidak terlalu yakin, untuk meragukan klaim-klaim kebenaran yang terlalu pasti, dan untuk hidup dengan keraguan yang tenang.
Skeptisisme Montaigne: Jalan Tengah di Antara Keraguan dan Dogmatisme
Skeptisisme Montaigne bukanlah skeptisisme yang dingin dan merusak. Ia bukanlah orang yang meragukan segala sesuatu hanya untuk terlihat pintar. Skeptisismenya lahir dari pengamatan yang mendalam tentang betapa beragamnya keyakinan dan kebiasaan manusia.
Sumber-Sumber Skeptisisme Montaigne
Montaigne tidak menciptakan skeptisismenya dari ruang kosong. Ia dipengaruhi oleh dua sumber utama. Pertama, skeptisisme kuno, terutama dari Pyrrho dan Sextus Empiricus. Karya Sextus, Outlines of Pyrrhonism, memberikan kepadanya serangkaian argumen tentang mengapa pengetahuan yang pasti itu tidak mungkin. Montaigne membaca karya ini dan mengalami apa yang oleh para sarjana disebut sebagai “krisis skeptis” pada sekitar tahun 1576. Namun, ia tidak menjadi seorang Pyrrhonian yang ekstrem. Ia mengambil semangatnya, tetapi memodifikasinya agar sesuai dengan pengalaman hidupnya.
Kedua, pengalaman hidupnya sendiri. Montaigne hidup pada masa penemuan geografis yang membuka mata orang Eropa pada keberagaman budaya. Ia membaca tentang masyarakat adat di Amerika yang sama sekali berbeda dari masyarakat Eropa. Ia menyaksikan perang agama yang menunjukkan bahwa keyakinan yang dianggap paling benar pun bisa memicu kekejaman. Dari semua ini, ia menyimpulkan bahwa kebiasaan dan adat istiadat memiliki kekuatan yang luar biasa dalam membentuk keyakinan manusia. Apa yang kita anggap sebagai “kebenaran” sering kali hanyalah kebiasaan yang kita warisi dari masyarakat kita.
“Ketidaktahuan yang Membahagiakan”: Jalan Tengah
Inti dari skeptisisme Montaigne adalah apa yang bisa disebut sebagai “ketidaktahuan yang membahagiakan” atau docta ignorantia. Ia tidak mengatakan bahwa kita tidak bisa mengetahui apa pun. Ia hanya mengatakan bahwa kita tidak boleh terlalu yakin bahwa pengetahuan kita adalah pengetahuan yang pasti dan mutlak. Ada jarak antara apa yang kita klaim kita ketahui dan apa yang sebenarnya ada.
Montaigne menolak dua ekstrem. Di satu sisi, ia menolak dogmatisme, yaitu sikap orang-orang yang mengklaim memiliki kebenaran mutlak dan tidak mau mendengarkan pandangan lain. Di sisi lain, ia juga menolak nihilisme, yaitu sikap orang-orang yang karena tidak ada kepastian lalu memutuskan bahwa tidak ada yang berarti dan segala sesuatu boleh dilakukan.
Jalan tengah yang ia tawarkan adalah keraguan yang rendah hati. Kita bisa memiliki keyakinan, tetapi kita harus menyadari bahwa keyakinan kita mungkin salah. Kita bisa bertindak, tetapi kita harus siap untuk belajar dari kesalahan. Kita bisa mengikuti adat istiadat kita, tetapi kita tidak boleh menganggap adat kita lebih unggul dari adat orang lain. Sikap ini bukanlah kelemahan, melainkan sebuah kebijaksanaan. Montaigne percaya bahwa dengan mengakui keterbatasan kita, kita menjadi lebih toleran, lebih terbuka, dan lebih damai.
Inovasi Montaigne: Menyangkal Kebenaran Absolut dan Memeriksa Keyakinan
Montaigne bukan hanya seorang skeptis yang meragukan. Ia juga seorang inovator yang mengubah cara orang berpikir tentang pengetahuan dan tentang diri mereka sendiri.
Penyangkalan terhadap Kebenaran Absolut
Salah satu kontribusi paling penting Montaigne adalah penyangkalan terhadap kebenaran absolut yang dapat diakses oleh manusia. Ia menunjukkan bahwa untuk setiap klaim tentang kebenaran, selalu ada klaim lain yang sama kuatnya yang bisa diajukan. Ini bukan berarti tidak ada kebenaran. Ini hanya berarti bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk mencapai kebenaran itu secara pasti dan sempurna.
Ia menggunakan contoh-contoh yang sangat konkret. Ia menunjukkan bahwa apa yang dianggap baik di satu masyarakat dianggap buruk di masyarakat lain. Orang Yunani membakar mayat, orang India memakannya. Orang Eropa menganggap kanibalisme itu keji, tetapi Montaigne, dalam esainya yang terkenal “Tentang Kanibal”, justru mempertanyakan apakah orang Eropa yang “beradab” sebenarnya lebih biadab daripada orang “kanibal” yang mereka hinakan. Dengan cara ini, ia mengguncang keyakinan pembacanya tentang superioritas peradaban mereka sendiri.
Keyakinan Pribadi yang Layak Diperiksa Secara Kritis
Montaigne juga mengajarkan bahwa keyakinan pribadi harus diperiksa secara kritis. Ia tidak pernah menerima sesuatu hanya karena itu adalah pendapat umum atau ajaran otoritas. Ia selalu bertanya: “Apa buktinya? Bagaimana saya tahu ini benar? Mungkin saja saya salah.” Sikap ini adalah inti dari apa yang kemudian disebut sebagai kesadaran individu (individual consciousness).
Dengan menulis tentang dirinya sendiri, Montaigne menunjukkan bahwa setiap orang memiliki pengalaman yang unik dan berharga. Setiap orang adalah “buku” yang layak dibaca. Ini adalah gagasan yang sangat radikal pada masanya. Pada abad ke-16, individu belum dianggap sebagai pusat perhatian. Yang penting adalah keluarga, kelas sosial, dan agama. Montaigne mengubah itu. Ia menunjukkan bahwa mengamati diri sendiri, dengan segala keraguan dan keanehannya, adalah sebuah proyek yang mulia dan bermakna.
Pengaruh pada Pemikiran Modern dan Pencerahan
Gagasan-gagasan Montaigne memiliki pengaruh yang sangat besar pada perkembangan pemikiran modern dan Pencerahan. Ia dianggap sebagai bapak skeptisisme modern. Para filsuf seperti René Descartes terinspirasi oleh keraguan metodisnya, meskipun Descartes kemudian menggunakan keraguan itu untuk mencapai kepastian yang tidak dapat diragukan, sesuatu yang tidak pernah dilakukan Montaigne. Blaise Pascal bergulat dengan skeptisisme Montaigne dan mencoba menemukan jalan keluar melalui iman. Voltaire dan Jean-Jacques Rousseau mengagumi gaya penulisannya yang bebas dan humanisnya.
Yang paling penting, Montaigne membantu menciptakan ruang bagi toleransi. Dengan menunjukkan bahwa keyakinan manusia sangat beragam dan tidak ada satu pun yang bisa mengklaim kebenaran mutlak, ia memberikan argumen filosofis bagi sikap saling menghormati di tengah perbedaan. Ini adalah warisan yang sangat relevan hingga hari ini.
Warisan Montaigne: Model Skeptisisme Konstruktif
Montaigne meninggal pada tahun 1592, tetapi warisannya terus hidup. Ia meninggalkan sebuah model skeptisisme yang tidak merusak, melainkan membangun.
Model Skeptisisme Konstruktif
Skeptisisme Montaigne adalah skeptisisme konstruktif. Ia tidak bertujuan untuk menghancurkan pengetahuan, tetapi untuk membersihkan pikiran dari kesombongan. Dengan mengakui bahwa kita tidak tahu segalanya, kita menjadi lebih rendah hati, lebih terbuka untuk belajar, dan lebih toleran terhadap orang lain. Skeptisisme ini bukanlah akhir dari pencarian, melainkan awal dari pencarian yang lebih jujur.
Ia mengajarkan bahwa keraguan bukanlah musuh iman atau pengetahuan. Keraguan adalah alat yang sehat untuk menguji keyakinan kita. Keyakinan yang tidak pernah diragukan adalah keyakinan yang rapuh. Keyakinan yang telah melewati keraguan adalah keyakinan yang lebih matang dan lebih kuat.
Pengembangan Kesadaran Individu
Warisan Montaigne yang paling abadi adalah pengembangan kesadaran individu. Ia mengajarkan bahwa setiap orang memiliki dunia batin yang kaya dan unik. Dengan menulis tentang dirinya sendiri, ia memberikan izin kepada orang lain untuk melakukan hal yang sama: untuk melihat ke dalam, untuk merenung, dan untuk menemukan makna dalam pengalaman mereka sendiri. Ini adalah fondasi bagi individualisme modern dan bagi gagasan bahwa setiap orang memiliki martabat dan nilai yang unik.
Menghindari Nihilisme Ekstrem
Yang paling penting, Montaigne menunjukkan bahwa skeptisisme tidak harus berujung pada nihilisme. Ia sendiri hidup dengan gembira, menikmati hidup, dan menghargai persahabatan. Ia tidak tenggelam dalam keputusasaan karena ketidakpastian. Sebaliknya, ia menemukan kebebasan dalam ketidakpastian. Jika tidak ada jawaban yang mutlak, maka kita bebas untuk menjelajah, untuk mencoba, dan untuk hidup dengan lebih ringan. Skeptisisme Montaigne adalah skeptisisme yang membebaskan, bukan yang melumpuhkan.
Kesimpulan: Kebijaksanaan dalam Keraguan
Montaigne adalah salah satu pemikir paling manusiawi dalam sejarah. Ia tidak menawarkan sistem filsafat yang megah atau jawaban yang pasti. Ia menawarkan sesuatu yang lebih berharga: sebuah cara hidup. Cara hidup yang menerima keterbatasan manusia, yang merayakan keberagaman, dan yang menemukan kedamaian dalam keraguan yang jujur.
Ia mengajarkan kita bahwa menjadi bijak bukanlah tentang memiliki semua jawaban, melainkan tentang berani mengajukan pertanyaan yang tepat. Ia mengajarkan kita bahwa keyakinan yang sejati tidak takut pada keraguan, dan bahwa kebijaksanaan sejati dimulai dari kesadaran akan ketidaktahuan kita sendiri. Warisannya adalah undangan untuk hidup dengan lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih terbuka terhadap keajaiban dunia yang tidak pernah sepenuhnya dapat kita pahami.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Ada satu kejadian di tahun 1570-an yang bikin Michel de Montaigne berubah pikiran tentang hampir segala hal. Dia sedang berkuda di pedesaan Prancis. Hari cerah. Jalanan tenang. Tiba-tiba salah satu pelayannya jatuh dari kuda dan terinjak. Darah di mana-mana. Montaigne turun dari kudanya. Dia mencoba menolong. Tapi dia sendiri shock. Dia lemah. Dia pingsan. Dia dibawa pulang. Selama beberapa hari, dia berada di ambang kematian. Dia melihat sesuatu. Dia merasa sesuatu. Dan ketika dia sadar kembali, dia menyadari satu hal yang bikin dia nggak bisa tidur: dia nggak tahu apa yang terjadi. Apakah dia mati sebentar? Apakah dia mimpi? Apakah jiwa itu ada? Apakah dia benar-benar mengalami kematian? Dia nggak tahu. Dan justru karena nggak tahu, dia jadi penasaran. Bukan penasaran yang bikin stres. Tapi penasaran yang bikin tenang. Karena dia sadar, mungkin hidup ini memang bukan untuk diketahui semuanya. Mungkin hidup ini untuk dijalani. Dan dari situlah, Montaigne mulai menulis. Tentang dirinya. Tentang keraguannya. Tentang kebodohannya. Dan tulisan-tulisan itu jadi salah satu karya paling jujur dalam sejarah filsafat. Yuk kita bedah.
Montaigne dan Skeptisisme Modern: Filsuf yang Bangga Bilang “Aku Nggak Tahu”
Biografi dan Pemikiran Montaigne: Bangsawan yang Kabur dari Dunia
Montaigne lahir di Château de Montaigne, Prancis, tahun 1533. Keluarganya bangsawan. Ayahnya seorang pedagang kaya yang beli gelar bangsawan. Ibunya keturunan Yahudi Spanyol. Jadi Montaigne tumbuh dalam lingkungan yang kaya. Lingkungan yang terdidik. Lingkungan yang penuh buku. Ayahnya sengaja membesarkan dia dengan cara yang aneh. Montaigne kecil dibangunkan oleh musik. Dia diajari bahasa Latin sebelum bahasa Prancis. Dia diasuh oleh tutor Jerman yang nggak bisa bahasa Prancis. Jadi bahasa pertama Montaigne adalah Latin. Bahasa kedua baru Prancis. Bayangin anak kecil yang ngomong Latin ke tukang roti. Pasti bikin bingung satu desa.
Dia belajar hukum. Dia menjadi anggota parlemen Bordeaux. Dia menjadi negarawan. Dia menjadi diplomat. Dia bertemu dengan banyak orang penting. Dia melihat banyak intrik. Dia melihat banyak korupsi. Dia melihat banyak kemunafikan. Dan dia bosan. Dia muak. Jadi pada usia tiga puluh delapan tahun, dia pensiun. Dia meninggalkan dunia politik. Dia mengurung diri di menara perpustakaannya. Dia punya dua ribu buku. Dia baca semua. Dia tulis. Dia renung. Dan dari situ, lahir Essais. Esai. Buku yang bukan buku filsafat sistematis. Bukan buku teologi. Tapi buku tentang dirinya. Tentang keraguannya. Tentang pengalamannya. Tentang ketidaktahuannya.
Dia meninggal tahun 1592. Dia meninggal di kastilnya. Dia meninggal sebagai penulis. Dia meninggal sebagai filsuf. Dia meninggal sebagai skeptis. Tapi skeptis yang bahagia. Skeptis yang tenang. Skeptis yang nggak takut pada ketidaktahuan.
Skeptisisme Montaigne: Ketidakpastian yang Membahagiakan
Ini inti dari pemikiran Montaigne. Dia bukan skeptis yang pesimis. Bukan skeptis yang nggak percaya apa pun. Bukan skeptis yang bikin hidup kering. Tapi skeptis yang bahagia. Skeptis yang menikmati ketidakpastian. Skeptis yang sadar bahwa manusia itu nggak mungkin tahu segalanya. Jadi nggak perlu stres. Nggak perlu sombong. Nggak perlu memaksakan diri.
Ketidakpastian yang membahagiakan: jalan tengah antara keraguan dan dogmatisme. Montaigne bilang, ada dua ekstrem yang berbahaya. Pertama, dogmatisme. Yaitu percaya bahwa kita tahu segalanya. Bahwa kita punya jawaban untuk semua pertanyaan. Bahwa kita nggak mungkin salah. Dogmatisme bikin orang fanatik. Bikin orang intoleran. Bikin orang berperang. Kedua, nihilisme. Yaitu percaya bahwa nggak ada yang bisa diketahui. Bahwa semuanya sia-sia. Bahwa hidup ini nggak punya makna. Nihilisme bikin orang putus asa. Bikin orang depresi. Bikin orang nggak peduli.
Montaigne memilih jalan tengah. Dia bilang, kita nggak tahu segalanya. Tapi kita juga nggak harus tahu segalanya. Kita bisa hidup dengan ketidakpastian. Kita bisa menikmati ketidakpastian. Karena ketidakpastian itu justru membebaskan. Kita nggak perlu memaksakan diri untuk punya jawaban. Kita nggak perlu malu kalau nggak tahu. Kita nggak perlu takut kalau salah. Kita cuma perlu jujur. Cuma perlu rendah hati. Cuma perlu terbuka.
Inspirasi dari pemikir klasik seperti Pyrrho dan Sextus Empiricus. Montaigne membaca karya-karya skeptis kuno. Dia membaca Pyrrho. Dia membaca Sextus Empiricus. Dia membaca tentang epoché, penangguhan penilaian. Dia membaca tentang ataraxia, ketenangan jiwa. Dan dia terpesona. Tapi dia nggak meniru mentah-mentah. Dia mengembangkan. Dia menyesuaikan. Dia memberi warna baru. Jadi Montaigne adalah penerus. Tapi juga pembaharu. Dia mengambil skeptisisme kuno dan menjadikannya relevan untuk manusia modern.
Pengakuan terhadap eksistensi dan peran individu. Montaigne juga menekankan individu. Bukan cuma masyarakat. Bukan cuma gereja. Bukan cuma negara. Tapi individu. Aku. Diriku. Pengalamanku. Perasaanku. Pikiranku. Jadi Montaigne adalah pionir individualisme modern. Dia bilang, aku adalah subjek dari tulisanku. Aku adalah bahan dari filsafatku. Jadi jangan cari kebenaran di luar sana. Carilah di dalam. Karena kebenaran itu personal. Kebenaran itu subjektif. Kebenaran itu pengalaman.
Inovasi Montaigne: Menyangkal Kebenaran Absolut
Montaigne adalah inovator. Bukan cuma dalam gaya menulis. Tapi dalam cara berpikir. Dia berani menyangkal kebenaran absolut. Dia berani mempertanyakan otoritas. Dia berani menguji tradisi.
Penyangkalan terhadap kebenaran absolut. Montaigne bilang, nggak ada kebenaran absolut. Nggak ada kebenaran yang berlaku untuk semua orang. Nggak ada kebenaran yang berlaku di semua tempat. Nggak ada kebenaran yang berlaku di semua zaman. Karena kebenaran itu tergantung pada perspektif. Tergantung pada budaya. Tergantung pada pengalaman. Jadi jangan sombong. Jangan merasa paling benar. Jangan memaksakan kebenaran lo pada orang lain. Karena kebenaran lo belum tentu kebenaran mereka.
Montaigne punya kalimat terkenal. Que sais-je? Apa yang aku tahu? Kalimat itu menjadi moto skeptisisme modern. Kalimat itu menjadi pengingat bahwa kita nggak tahu banyak. Kalimat itu menjadi panggilan untuk rendah hati. Jadi jangan sombong dengan pengetahuan lo. Jangan merasa paling pintar. Jangan merasa paling benar. Karena lo nggak tahu segalanya. Lo cuma tahu sebagian kecil. Dan sebagian kecil itu pun belum tentu benar.
Keyakinan pribadi yang layak diperiksa secara kritis. Montaigne juga bilang, keyakinan pribadi itu penting. Tapi keyakinan pribadi juga layak diperiksa. Layak diuji. Layak dikritik. Jadi jangan terima mentah-mentah. Jangan percaya buta. Tapi periksa. Uji. Renungkan. Apakah keyakinan lo masuk akal? Apakah keyakinan lo sesuai pengalaman? Apakah keyakinan lo bermanfaat? Kalau nggak, mungkin lo perlu berubah. Mungkin lo perlu belajar. Mungkin lo perlu tumbuh.
Pengaruh pada pemikiran filosofis modern dan Pencerahan. Montaigne sangat mempengaruhi pemikiran modern. Dia mempengaruhi Descartes. Dia mempengaruhi Pascal. Dia mempengaruhi Hume. Dia mempengaruhi Nietzsche. Dia mempengaruhi para filsuf Pencerahan. Jadi Montaigne adalah bapak. Bapak skeptisisme modern. Bapak esai. Bapak individualisme.
Warisan Montaigne: Model Skeptisisme Konstruktif
Montaigne meninggalkan warisan yang sangat besar. Bukan cuma untuk filsafat. Tapi untuk seluruh budaya Barat.
Model skeptisisme konstruktif. Montaigne mengajarkan skeptisisme yang konstruktif. Bukan skeptisisme yang merusak. Bukan skeptisisme yang bikin putus asa. Tapi skeptisisme yang bikin kita rendah hati. Bikin kita terbuka. Bikin kita toleran. Jadi skeptisisme bukanlah akhir. Skeptisisme adalah awal. Awal dari pencarian. Awal dari dialog. Awal dari pertumbuhan.
Pengembangan kesadaran individu. Montaigne juga mengembangkan kesadaran individu. Dia bilang, aku adalah subjek dari hidupku. Aku adalah penulis dari ceritaku. Aku adalah pemilik dari pengalamanku. Jadi jangan biarkan orang lain menulis cerita lo. Jangan biarkan orang lain menentukan hidup lo. Jangan biarkan orang lain mengatur perasaan lo. Tapi tulislah sendiri. Tentukan sendiri. Rasakan sendiri. Karena hidup lo adalah milik lo.
Menghindari nihilisme ekstrem. Montaigne juga menghindari nihilisme ekstrem. Dia bilang, ketidaktahuan bukanlah alasan untuk putus asa. Ketidaktahuan adalah alasan untuk terus mencari. Untuk terus belajar. Untuk terus tumbuh. Jadi jangan menyerah. Jangan berhenti. Jangan bilang nggak ada yang bisa diketahui. Tapi bilanglah, aku belum tahu. Aku masih mencari. Aku masih belajar. Aku masih hidup.
Tokoh-tokoh Lain yang Perlu Lo Kenal
Selain Montaigne, ada beberapa tokoh skeptis dan humanis lain yang penting.
Pyrrho dari Elide. Dia adalah pendiri skeptisisme kuno. Dia mengajarkan epoché, penangguhan penilaian. Dia mengajarkan ataraxia, ketenangan jiwa. Montaigne membaca Pyrrho. Montaigne mengagumi Pyrrho. Tapi Montaigne nggak sepenuhnya setuju. Karena Montaigne masih percaya pada pengalaman. Masih percaya pada hidup.
Sextus Empiricus. Dia adalah skeptis Yunani. Dia menulis Outlines of Pyrrhonism. Buku itu adalah sumber utama skeptisisme kuno. Montaigne membaca Sextus. Montaigne mengutip Sextus. Montaigne belajar dari Sextus. Tapi Montaigne juga mengembangkan. Dia nggak cuma mengulang. Dia menyesuaikan. Dia memberi warna baru.
René Descartes. Dia adalah filsuf Prancis. Dia adalah rasionalis. Dia adalah bapak filsafat modern. Dia dipengaruhi oleh Montaigne. Bukan karena dia skeptis. Tapi karena dia juga meragukan segalanya. Tapi Descartes nggak berhenti pada keraguan. Dia mencari kepastian. Dia menemukan cogito ergo sum. Jadi Descartes adalah murid Montaigne. Tapi juga pengkritik Montaigne.
Blaise Pascal. Dia adalah filsuf Prancis. Dia adalah matematikawan. Dia adalah teolog. Dia membaca Montaigne. Dia mengagumi Montaigne. Tapi dia juga mengkritik Montaigne. Dia bilang, Montaigne terlalu skeptis. Terlalu ragu. Terlalu nggak percaya. Padahal iman itu penting. Padahal Tuhan itu nyata. Jadi Pascal adalah pengkritik. Tapi juga pengagum.
Kritik terhadap Montaigne
Montaigne juga dikritik. Beberapa orang bilang, dia terlalu skeptis. Dia terlalu ragu. Dia terlalu nggak percaya. Jadi dia nggak punya pendirian. Nggak punya prinsip. Nggak punya keyakinan.
Beberapa orang bilang, dia terlalu individualistis. Dia terlalu fokus pada diri sendiri. Terlalu fokus pada pengalaman pribadi. Terlalu fokus pada perasaan pribadi. Jadi dia nggak peduli pada masyarakat. Nggak peduli pada politik. Nggak peduli pada orang lain.
Beberapa orang bilang, dia terlalu santai. Dia terlalu menikmati hidup. Terlalu menikmati ketidakpastian. Terlalu menikmati keraguan. Jadi dia nggak serius. Nggak serius pada filsafat. Nggak serius pada kebenaran. Nggak serius pada hidup.
Tapi ada juga yang membela. Mereka bilang, Montaigne adalah pahlawan. Dia adalah pembebas. Dia adalah penyelamat. Tanpa Montaigne, mungkin kita akan tetap dogmatis. Tetap fanatik. Tetap sombong. Tanpa Montaigne, mungkin kita nggak akan pernah tahu bahwa keraguan itu sehat. Bahwa ketidaktahuan itu manusiawi. Bahwa hidup ini bukan untuk diketahui semuanya. Tapi untuk dijalani.
Penutup
Montaigne ngajarin lo bahwa nggak tahu itu nggak apa-apa. Nggak yakin itu nggak apa-apa. Ragu itu nggak apa-apa. Justru dari ketidaktahuan, kita bisa belajar. Justru dari keraguan, kita bisa tumbuh. Justru dari ketidakpastian, kita bisa tenang.
Dia juga ngajarin lo bahwa kebenaran itu personal. Bukan cuma doktrin. Bukan cuma teori. Tapi pengalaman. Tapi hidup. Tapi cinta. Jadi jangan cuma mencari kebenaran di luar sana. Carilah di dalam. Karena kebenaran itu bukanlah sesuatu yang dimiliki. Tapi sesuatu yang dialami.
Dia juga ngajarin lo bahwa hidup ini bukan untuk diketahui semuanya. Tapi untuk dijalani. Jadi jangan habiskan hidup lo dengan mencemaskan hal-hal yang nggak bisa lo ketahui. Jangan habiskan hidup lo dengan mencari jawaban yang nggak akan pernah lo temukan. Tapi hiduplah. Nikmatilah. Rasakanlah. Karena hidup ini adalah anugerah. Dan anugerah itu nggak perlu dijelaskan. Cukup disyukuri.
