Psikologi

Tell Them They’re Good at It, They’ll Prove You Right: Mengapa Label Positif Membuat Orang Berusaha Membuktikannya

Pernahkah Anda dipuji karena
dianggap mahir dalam sesuatu?
Misalnya, “Kamu paling bisa mengatur
acara.” Padahal Anda merasa biasa
saja. Tetapi begitu disebut seperti itu,
Anda jadi ingin menunjukkan bahwa
Anda memang bisa. Anda mulai lebih
serius, lebih rapi, lebih total.
Dan pada akhirnya, Anda benar-benar
menjadi lebih baik di bidang itu.
Itu bukan kebetulan. Itu efek dari
label positif.

Teknik ini mengajarkan bahwa jika
Anda memberi tahu seseorang bahwa
ia mahir dalam suatu hal, ia akan
berusaha untuk membuktikannya.
Manusia punya dorongan untuk
konsisten dengan citra yang
dilekatkan padanya. Begitu Anda
berkata, “Kamu sabar sekali,”
ia akan berusaha tetap sabar
di depan Anda. Begitu Anda berkata,
“Kamu jago negosiasi,” ia akan lebih
percaya diri saat bernegosiasi.

Teknik ini adalah versi sederhana
dari 
The Pygmalion Effect yang
sudah pernah dibahas di daftar
sebelumnya. Waktu itu kita
membahas bagaimana ekspektasi
guru bisa membuat murid lebih
pintar. Ini hal yang sama, hanya
dipakai dalam kehidupan
sehari-hari. Jika Anda sudah
memahami Pygmalion Effect,
Anda sudah memahami teknik ini.

Eksperimen Ilmiah:
Bukti bahwa Label Positif
Mempengaruhi Kinerja

Eksperimen Rosenthal dan
Jacobson (1968): Pygmalion
Effect di Ruang Kelas

Robert Rosenthal dan Lenore
Jacobson melakukan eksperimen
yang sangat terkenal di sebuah
sekolah dasar. Mereka memberi
tahu para guru bahwa beberapa
murid tertentu, yang sebenarnya
dipilih secara acak, memiliki
potensi kecerdasan luar biasa
berdasarkan tes khusus.
Para guru mempercayainya.

Delapan bulan kemudian,
murid-murid yang dipilih secara
acak itu benar-benar menunjukkan
peningkatan skor IQ yang signifikan.
Mengapa? Karena para guru, yang
percaya bahwa mereka akan
berhasil, secara tidak sadar memberi
lebih banyak perhatian, lebih banyak
dorongan, dan lebih banyak
kesempatan kepada mereka.
Keyakinan para guru membentuk
tindakan mereka, dan tindakan itu
membentuk hasil murid-murid
tersebut.

Dialog antara peneliti dan guru
setelah eksperimen:

Peneliti: “Menurut Anda, apa yang
membuat murid-murid ini
berkembang?”

Guru: “Mereka memang punya
sesuatu. Saya melihat potensi besar
di mereka sejak awal.”

Peneliti: “Apakah Anda
memperlakukan mereka berbeda?”

Guru: “Mungkin iya. Saya lebih sabar
menjelaskan kepada mereka.
Saya lebih sering memanggil mereka
untuk menjawab.”

Guru itu tidak sadar bahwa
keyakinannya sendiri yang ikut
menciptakan perkembangan itu.

Rosenthal dan Jacobson
menyimpulkan bahwa harapan dan
label positif dari orang yang
memiliki pengaruh bisa mengubah
perilaku dan hasil seseorang.
Ini adalah dasar dari Tell Them
They’re Good at It, They’ll Prove
You Right.

Eksperimen Dweck (2006):
Growth Mindset dan Label

Carol Dweck, psikolog dari Stanford
University, melakukan penelitian
tentang pengaruh pujian terhadap
motivasi anak. Ia meminta
anak-anak mengerjakan teka-teki.
Setelah selesai, separuh anak dipuji
karena kecerdasannya:
“Kamu pasti pintar sekali.”
Separuh lainnya dipuji karena
usahanya: “Kamu pasti bekerja
keras sekali.”

Setelah itu, anak-anak diminta
memilih teka-teki berikutnya.
Anak-anak yang dipuji karena
kecerdasannya cenderung memilih
teka-teki yang mudah. Mereka takut
kehilangan label “pintar”.
Sementara anak-anak yang dipuji
karena usahanya memilih teka-teki
yang lebih sulit. Mereka ingin terus
membuktikan bahwa mereka mau
bekerja keras.

Dialog antara peneliti dan anak:

Peneliti: “Kenapa kamu pilih
teka-teki yang mudah?”

Anak yang dipuji pintar:
“Karena kalau aku gagal,
aku nggak pintar lagi.”

Peneliti: “Kenapa kamu pilih yang sulit?”

Anak yang dipuji kerja keras:
“Karena aku mau coba lebih keras lagi.”

Dweck menyimpulkan bahwa label
positif memengaruhi cara orang
melihat dirinya. Label yang tepat,
seperti “pekerja keras”, mendorong
keberanian. Label yang keliru, seperti
“pintar”, bisa membuat orang takut
gagal.

Mengapa Tell Them They’re
Good at It Begitu Efektif?

Orang tidak mau mengecewakan citra
yang sudah Anda berikan. Jika Anda
bilang ia baik, ia tidak mau terlihat
jahat. Jika Anda bilang ia teliti,
ia tidak mau terlihat ceroboh. Jadi ia
akan berusaha, kadang tanpa sadar,
untuk menyesuaikan perilakunya
dengan kata-kata Anda.

Label positif juga menciptakan rasa
tanggung jawab. Ketika Anda berkata,
“Kamu adalah orang yang tenang,”
orang itu merasa bahwa ia harus
menjaga citra itu. Ia akan berpikir,
“Aku sudah dianggap tenang.
Aku tidak boleh panik.” Pikiran ini
yang kemudian menggerakkan
tindakannya.

Selain itu, label positif memberi
kepercayaan diri. Orang yang
dianggap mampu akan merasa lebih
yakin. Keyakinan itu membuatnya
berani mencoba. Dan semakin ia
mencoba, semakin ia berkembang.

Tiga Langkah Menerapkan Tell
Them They’re Good at It:
Kisah Raka dan Adiknya

Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Raka.
Ia ingin adiknya, Dito, lebih rajin
belajar.

Langkah 1: Cari Sifat Positif
yang Benar-benar Ada

Raka memperhatikan bahwa Dito
sebenarnya bisa fokus ketika
menyukai sesuatu. Ia tidak malas
sepenuhnya.

Raka: “Dito, kamu itu sebenarnya
anak yang rajin. Hanya saja kamu
belum menemukan cara
belajarmu sendiri.”

Langkah 2: Sampaikan
dengan Tulus

Raka tidak berbicara dengan nada
menggurui. Ia mengatakannya
dengan tenang dan jujur.

Raka: “Kakak lihat, waktu kamu
menggambar, kamu bisa fokus
berjam-jam. Itu tandanya kamu
rajin.”

Langkah 3: Ucapkan di Momen
yang Tepat

Raka mengulanginya pada saat Dito
mulai belajar. Dito merasa dipercaya.
Ia tidak mau mengecewakan kakaknya.

Dito: “Aku memang bisa, Kak.
Aku buktikan.”

Dito mulai belajar lebih teratur.
Ia ingin membuktikan bahwa
label “rajin” itu benar.

Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal

1. Rekan Kerja yang Suka Panik

Maya melihat Doni sering panik saat
deadline. Maya ingin Doni lebih
tenang.

Maya: “Doni, kamu sebenarnya orang
yang tenang. Kalau kamu bisa kelola
napasmu, kamu pasti bisa selesaikan
semua.”

Doni merasa dipercaya. Sejak itu ia
berusaha lebih tenang saat dikejar
waktu.

2. Anak yang Suka Bertengkar

Bima ingin anaknya berhenti
bertengkar dengan adiknya.

Bima: “Kamu itu kakak yang baik.
Adikmu selalu cerita kalau kamu
sering bantu dia.”

Anaknya terdiam. Ia tidak mau
kehilangan citra itu. Sejak itu ia
lebih sabar kepada adiknya.

3. Teman yang Kurang
Percaya Diri

Rina ingin Sari lebih berani
bicara di depan umum.

Rina: “Sari, kamu itu kalau ngomong
pelan tapi jelas. Semua orang bisa
paham.”

Sari: “Masa? Aku merasa gugup.”

Rina: “Mereka yang dengerin kamu
itu nyaman. Kamu punya suara
yang menenangkan.”

Sari mulai percaya diri. Ia berani
tampil lebih sering.

Cara Melindungi Diri dari
Teknik Ini

Jika Anda merasa seseorang memberi
label positif untuk memanfaatkan
Anda, ada beberapa langkah yang
bisa dilakukan.

Pertama, jangan langsung
terikat pada label.

Pujian memang menyenangkan,
tetapi jangan biarkan itu mengubah
keputusan Anda secara terburu-buru.

Kedua, evaluasi apakah label
itu masuk akal.

Jika seseorang memuji Anda secara
berlebihan, tanyakan,
“Apa dasarnya?”

Ketiga, tetap kritis pada diri
sendiri.
 Anda boleh menerima
pujian, tetapi jangan sampai label
itu membuat Anda bekerja
di luar batas yang sehat.

Keempat, jangan takut
mengecewakan.
 Anda tidak harus
selalu membuktikan label yang
diberikan orang lain. Yang penting
adalah Anda tetap jujur pada diri
sendiri.

Tell Them They’re Good at It, They’ll
Prove You Right adalah teknik yang
memanfaatkan dorongan manusia
untuk konsisten dengan citra
dirinya. Ketika digunakan dengan
tulus, ia bisa membantu orang
berkembang. Ketika digunakan
untuk memanipulasi, ia bisa
membuat orang bekerja melebihi
kapasitasnya. Gunakan dengan bijak,
karena kata-kata Anda bisa menjadi
pupuk yang menumbuhkan, atau
beban yang menekan.
Pilihlah untuk menumbuhkan.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya 
Tell Them They’re
Good at It, They’ll Prove You
Right
.

Lo pasti pernah ngalamin dibilang
jago. Misalnya, “Lo tuh paling bisa
ngatur acara.” Padahal lo ngerasa
biasa aja. Tapi begitu dibilang gitu,
lo jadi pengen nunjukin kalau
beneran bisa. Lo mulai lebih serius.
Lebih rapi. Lebih total.
Dan ujung-ujungnya, lo beneran jadi
lebih bagus di hal itu. Itu bukan
kebetulan. Itu efek dari label positif.

Simpelnya, teknik ini ngajarin bahwa
kalau lo bilang seseorang jago di suatu
hal, dia bakal berusaha buat
membuktikan itu. Karena manusia itu
punya dorongan buat konsisten sama
citra yang udah lo tempel di dia.
Begitu lo bilang, “Lo tuh sabar banget,”
dia bakal berusaha tetap sabar
di depan lo. Begitu lo bilang,
“Lo tuh jago negosiasi,” dia bakal
lebih pede pas negosiasi.

Nah, kalau lo ingat, di daftar lama kita
pernah bahas 
The Pygmalion Effect.
Persis. Ini tuh versi sederhananya.
Waktu itu kita ngomongin gimana
ekspektasi guru bisa bikin murid lebih
pinter. Nah, ini hal yang sama. Cuma
lebih dipake di kehidupan sehari-hari.
Jadi kalau lo udah paham Pygmalion
Effect, lo udah ngerti teknik ini juga.

Kenapa ini ampuh?
Karena orang nggak mau ngecewain
citra yang udah lo kasih. Kalau lo
bilang dia baik, dia nggak mau keliatan
jahat. Kalau lo bilang dia teliti,
dia nggak mau keliatan ceroboh.
Jadi dia bakal berusaha, kadang tanpa
sadar, buat nyocokin perilakunya
dengan kata-kata lo.

Contoh gampangnya gini. Lo pengen
anak lo lebih rajin belajar.
Jangan bilang, “Kamu tuh males
banget.” Itu malah nempel jadi label
negatif. Ganti dengan,
“Kamu tuh sebenernya anak yang
rajin, cuma butuh waktu.” Dia bakal
ngerasa, “Oh, gue rajin.” Dan dia
mulai nunjukin kalau dia rajin.

Di dunia kerja juga gitu. Ada rekan
yang suka panik pas deadline.
Lo bilang, “Lo tuh sebenernya orang
yang tenang. Tim butuh itu.”
Dia bakal ngerasa punya tanggung
jawab buat tetap tenang. Dan dia
bakal berusaha lebih keras.

Cara pakainya gampang.
Pertama, cari satu sifat positif yang
emang ada, walau dikit.
Jangan ngarang yang nggak ada.
Kedua, bilang dengan tulus.
Jangan kelebihan.
“Lo tuh paling enak diajak kerja sama.”
Ketiga, ucapkan di depan orang lain
kalau bisa. Itu makin nguatin.

Tapi inget, jangan sampe lo pake ini
buat manipulasi yang jahat. Kalau lo
bilang seseorang jago hanya biar dia
kerja lebih keras, dan lo nggak
beneran peduli, itu bisa balik.
Orang bakal ngerasa dimanfaatin.

Jadi, Tell Them They’re Good at
It, They’ll Prove You Right

itu ibarat lo lagi siram tanaman.
Lo bilang dia subur, dia bakal
tumbuh. Kata-kata lo itu kayak
pupuk. Makin positif labelnya,
makin semangat dia buat numbuhin
apa yang lo sebut.

Gimana? Udah inget kan miripnya
sama The Pygmalion Effect?
Kalau lo siap lanjut, berikutnya kita
bahas 
Mention What Most
People Do, They’ll Follow
.
Ini soal kekuatan bukti sosial.
Stay tuned.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *