Speak Less Than Them, You’ll Win Influence: Mengapa Sedikit Berbicara Membuat Anda Lebih Didengar
Pernahkah Anda bertemu orang yang
berbicara terus-menerus? Dominan.
Setiap kali Anda membuka mulut,
ia memotong. Pokoknya dia yang
paling ramai. Tetapi anehnya,
semakin dia banyak bicara, semakin
Anda merasa malas. Sekarang
bandingkan dengan orang yang lebih
banyak diam. Sesekali bertanya,
sesekali menimpali singkat. Justru
dia yang paling Anda ingat. Mengapa?
Karena ia memberi ruang. Dan orang
yang bisa memberi ruang punya daya
tarik sendiri.
Teknik ini mengajarkan bahwa
semakin sedikit Anda berbicara,
semakin besar pengaruh Anda.
Bukan karena Anda tidak punya
pendapat. Tetapi karena Anda
membuat lawan bicara merasa
didengarkan. Orang yang merasa
didengarkan akan merasa nyaman,
merasa dekat, dan merasa Anda
itu penting.
Teknik ini masih nyambung dengan
Silence Makes People Spill
Secrets dan Delay Answering,
People Fill in the Gaps.
Bedanya, dua teknik itu fokus pada
momen diam atau menunda
jawaban. Teknik ini lebih ke gaya
berbicara secara keseluruhan. Anda
tidak hanya diam di saat tertentu,
tetapi porsi bicara Anda memang
lebih sedikit. Itu yang membuat
wibawa Anda naik.
Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Sedikit Berbicara Meningkatkan
Pengaruh
Eksperimen Fisher dan
Adams (1994):
Pengaruh Pendengar Aktif
Ronald Fisher dan Kelly Adams
melakukan penelitian tentang
bagaimana peran pendengar
memengaruhi dinamika percakapan.
Partisipan diminta berpasangan dan
mendiskusikan topik tertentu.
Separuh partisipan diminta untuk
banyak berbicara dan mendominasi.
Separuh lainnya diminta untuk lebih
banyak mendengarkan dan hanya
sesekali menanggapi singkat.
Setelah diskusi, partisipan diminta
menilai siapa yang paling berpengaruh
dalam percakapan. Hasilnya,
partisipan yang lebih banyak
mendengarkan dan sedikit berbicara
dinilai lebih berpengaruh. Mereka
dianggap lebih bijaksana dan lebih
meyakinkan.
Dialog setelah eksperimen:
Peneliti: “Kenapa kamu menilai
pendengar yang sedikit bicara itu
lebih berpengaruh?”
Partisipan: “Karena dia nggak
buru-buru nimpalin. Setiap kali
dia ngomong, kita semua ngerasa
itu penting.”
Peneliti: “Apakah dia banyak
memberikan pendapat?”
Partisipan: “Nggak. Tapi justru karena
jarang, pendapatnya lebih ngena.”
Fisher dan Adams menyimpulkan
bahwa berbicara terlalu banyak
mengurangi bobot setiap kata.
Sebaliknya, berbicara sedikit
membuat setiap ucapan terasa
lebih berarti.
Eksperimen Redmond (1980):
Efek Diam dalam Kelompok
Penelitian tentang dinamika kelompok
menunjukkan bahwa anggota yang
paling banyak bicara belum tentu
paling dihormati. Justru anggota yang
lebih banyak diam tetapi berbicara
tepat pada momen penting sering
dianggap paling berpengaruh.
Dalam eksperimen ini, beberapa
kelompok diminta berdiskusi untuk
memecahkan masalah.
Peneliti mencatat seberapa banyak
setiap anggota berbicara dan
seberapa sering pendapat mereka
diikuti.
Hasilnya, anggota yang berbicara
terus-menerus cenderung diabaikan
setelah beberapa saat. Anggota yang
jarang bicara tetapi menyampaikan
poin kunci justru lebih sering diikuti.
Dialog setelah eksperimen:
Peneliti: “Kenapa kamu mengikuti
pendapat si A yang pendiam?”
Partisipan: “Karena dia ngomongnya
nggak banyak, tapi setiap kali buka
suara, ada isinya. Jadi kita percaya.”
Peneliti: “Apakah si B yang banyak
bicara kurang berpengaruh?”
Partisipan: “Iya. Dia kebanyakan
ngomong. Jadi kita nggak bisa
bedain mana yang penting.”
Eksperimen ini menunjukkan bahwa
kuantitas bicara tidak sama dengan
pengaruh. Kadang, diam yang tepat
justru lebih kuat.
Mengapa Speak Less Than Them
Begitu Efektif?
Kebanyakan orang sibuk memikirkan
apa yang akan mereka katakan, bukan
mendengarkan. Begitu Anda menjadi
orang yang benar-benar
mendengarkan, Anda berbeda dari
yang lain. Anda terlihat tenang,
dewasa, dan punya kendali. Padahal
Anda hanya diam dan menyimak.
Berbicara sedikit juga menciptakan
rasa penasaran. Orang ingin tahu
apa yang Anda pikirkan.
Ketika Anda akhirnya berbicara,
semua perhatian tertuju pada Anda.
Kata-kata Anda terasa lebih
berbobot karena tidak terbuang
sia-sia.
Selain itu, memberi ruang kepada
lawan bicara membuatnya merasa
dihargai. Ia merasa pendapatnya
penting. Perasaan ini menciptakan
kedekatan dan kepercayaan.
Orang akan lebih terbuka kepada
Anda, dan pada akhirnya Anda
mendapat lebih banyak informasi.
Tiga Langkah Menerapkan Speak
Less Than Them:
Kisah Raka di Nongkrong
Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Raka.
Ia sedang nongkrong dengan
teman-temannya.
Langkah 1: Kurangi Keinginan
untuk Selalu Menimpali
Raka mendengarkan Bima yang
sedang bercerita panjang lebar.
Raka tidak memotong. Ia hanya
manggut pelan.
Raka: “Aku biarkan dia selesai dulu.”
Langkah 2: Pilih Kata yang
Pendek dan Jelas
Setelah Bima selesai, Raka
berbicara singkat.
Raka: “Intinya, kamu mau cari
tempat yang lebih dekat ya?”
Semua orang menoleh ke Raka.
Kalimatnya pendek, tetapi
merangkum semuanya.
Langkah 3: Gunakan Jeda
Sebelum Menjawab
Ketika Sari bertanya kepada Raka,
Raka tidak langsung menjawab.
Ia diam sebentar, lalu berbicara.
Raka: “Menurutku, kita coba dulu
yang paling gampang.”
Sari merasa Raka memikirkannya
dengan serius. Suasana jadi lebih
tenang.
Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal
1. Diskusi di Kantor
Maya sedang rapat. Bima dan Doni
berbicara panjang lebar. Maya
hanya mendengarkan.
Setelah beberapa saat,
Maya berbicara singkat:
“Kita perlu satu keputusan.”
Semua orang berhenti dan menatap
Maya. Kata-katanya langsung
mengarahkan rapat.
2. Curhat Teman
Rina sedang mendengarkan Sari
curhat. Rina tidak banyak
berkomentar.
Sari: “Aku bingung harus gimana.”
Rina: “Kamu lelah ya.”
Sari: “Iya. Aku cuma butuh didengerin.”
Rina tidak memberi solusi panjang.
Tapi Sari merasa sangat dipahami.
3. Nasihat kepada Adik
Bima ingin menasihati adiknya yang
malas belajar.
Bima: “Kamu mau aku bantu,
atau cukup ditemani?”
Adiknya terdiam. Ia merasa tidak
dipaksa. “Temenin aja.”
Bima hanya duduk di sampingnya.
Tanpa banyak bicara, adiknya
mulai membuka buku.
Cara Melindungi Diri dari
Teknik Ini
Jika Anda merasa seseorang sengaja
sedikit bicara untuk memengaruhi
Anda, ada beberapa langkah yang
bisa dilakukan.
Pertama, jangan terlalu cepat
mengisi keheningan.
Diamnya lawan bicara bukan alasan
untuk Anda terus berbicara.
Kedua, perhatikan kualitas
ucapannya. Sedikit bicara belum
tentu berarti bijaksana. Evaluasi
isinya.
Ketiga, jangan biarkan rasa
penasaran membuat Anda
terlalu terbuka. Anda boleh
menjaga batas informasi.
Keempat, ajukan pertanyaan
langsung. “Menurutmu, apa yang
harus kulakukan?” Ini memancing
lawan bicara untuk berkomitmen
pada pendapatnya.
Speak Less Than Them, You’ll Win
Influence adalah teknik yang
memanfaatkan kekuatan diam.
Banyak bicara bisa menghabiskan
perhatian. Sedikit bicara bisa
memperkuat makna. Gunakan
dengan bijak, karena kata-kata yang
jarang terdengar justru paling
didengar. Dan orang yang paling
tenang di ruangan sering kali adalah
orang yang paling memegang kendali.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya Speak Less Than Them,
You’ll Win Influence.
Lo pasti pernah ketemu orang yang
ngomong terus. Dominan. Setiap lo
buka mulut, dia motong. Pokoknya
dia yang paling rame. Tapi anehnya,
makin dia ngomong, makin lo
ngerasa males. Sekarang bandingin
sama orang yang lebih banyak diem.
Sesekali nanya, sesekali nimpalin
singkat. Justru dia yang paling lo
inget. Kenapa? Karena dia ngasih
ruang. Dan orang yang bisa ngasih
ruang itu punya daya tarik sendiri.
Simpelnya, teknik ini ngajarin bahwa
semakin dikit lo ngomong, semakin
besar pengaruh lo. Bukan karena lo
nggak punya pendapat. Tapi karena
lo bikin lawan bicara lo ngerasa
didengerin. Dan orang yang ngerasa
didengerin bakal ngerasa nyaman,
ngerasa deket, dan ngerasa lo itu
penting.
Kenapa ini ampuh?
Karena kebanyakan orang tuh sibuk
mikirin mau ngomong apa, bukan
dengerin. Begitu lo jadi orang yang
beneran dengerin, lo beda dari
yang lain. Lo keliatan tenang, dewasa,
dan punya kendali. Padahal lo cuma
diem dan nyimak.
Nah, kalau lo ingat, ini masih
nyambung sama Silence Makes
People Spill Secrets dan Delay
Answering, People Fill in the
Gaps. Bedanya, kalau dua teknik itu
fokus ke momen diem atau nunda
jawaban, ini lebih ke gaya ngomong
secara keseluruhan. Jadi lo nggak
cuma diem di saat tertentu, tapi lo
emang porsi ngomongnya lebih
dikit. Itu yang bikin wibawa lo naik.
Contoh gampangnya gini. Lo lagi
nongkrong. Ada satu orang cerita
panjang lebar. Lo cukup dengerin
sambil sesekali manggut. Nggak usah
motong. Nanti pas lo ngomong,
semua orang langsung merhatiin.
Karena lo jarang buka suara, jadi
kata-kata lo berasa lebih berbobot.
Di dunia kerja juga gitu. Lo meeting.
Ada rekan yang ngomong
muter-muter. Lo diem. Pas lo
ngomong singkat, “Intinya kita perlu
fokus ke satu.” Semua orang
langsung noleh. Itu pengaruh.
Lo nggak perlu banyak omong buat
dianggep penting.
Cara pakainya gampang.
Pertama, kurangi keinginan buat
selalu nimpalin. Biarin lawan bicara
lo selesai dulu.
Kedua, pas lo ngomong, pilih kata
yang pendek dan jelas.
Jangan bertele-tele.
Ketiga, pake jeda. Diam dikit
sebelum jawab. Itu nambah
kesan lo mikir.
Tapi ingat, diam bukan berarti lo jadi
pasif total. Lo tetap harus nyimak.
Kalau lo diem tapi pikiran lo
ke mana-mana, orang bakal ngerasa.
Kuncinya, lo diem tapi mata dan
perhatian lo tetap ke dia.
Jadi, Speak Less Than Them,
You’ll Win Influence itu ibarat
lo lagi main game. Yang paling
berisik belum tentu yang paling
kuat. Kadang yang paling tenang
itu yang paling ngerahin.
Karena dia irit gerakan, tapi tiap
gerakan punya arti.
Gimana? Mulai kerasa kan kenapa
sedikit ngomong malah bikin lo
lebih didenger? Kalau lo siap lanjut,
berikutnya kita bahas Tell Them
They’re Good at It, They’ll
Prove You Right. Ini soal
kekuatan label positif. Stay tuned.
