Repeat Their Last Words, They’ll Keep Talking: Mengapa Mengulang Kata Terakhir Membuat Orang Semakin Terbuka
Pernahkah Anda curhat kepada
seseorang yang benar-benar
mendengarkan? Ia tidak banyak
bertanya, tetapi Anda malah bercerita
panjang lebar. Mengapa? Karena ia
sesekali mengulang kata-kata Anda.
Misalnya Anda berkata, “Aku lagi
capek banget sama kerjaan.” Lalu ia
menjawab, “Capek banget ya?”
Itu saja. Tetapi rasanya Anda seperti
didorong untuk melanjutkan cerita.
Inilah yang disebut Repeat Their
Last Words.
Teknik ini mengajarkan bahwa
dengan mengulang kata terakhir
lawan bicara, Anda membuatnya
merasa didengarkan. Begitu merasa
didengarkan, ia akan membuka
lebih banyak. Otaknya menangkap
sinyal, “Orang ini menyimak. Aku
bisa lanjut.”
Teknik ini masih nyambung dengan
Silence Makes People Spill
Secrets yang baru saja kita bahas.
Bedanya, kalau silence itu Anda
diam total, teknik ini Anda aktif
mengulang. Dua-duanya
sama-sama membuat orang terus
berbicara. Tetapi kalau silence
membuat orang mengisi kekosongan,
mengulang kata membuat orang
merasa diperhatikan. Jadi lebih
lembut.
Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Mengulang Kata Membuat
Orang Terus Berbicara
Eksperimen Miller dan Rollnick
(2013): Reflective Listening
dalam Motivational Interviewing
William Miller dan Stephen Rollnick,
dua psikolog klinis, mengembangkan
teknik motivational interviewing
untuk membantu orang berubah.
Salah satu inti dari teknik ini adalah
reflective listening atau
mendengarkan reflektif, yaitu
mengulang kembali sebagian ucapan
lawan bicara untuk menunjukkan
pemahaman.
Dalam banyak sesi konseling, mereka
menemukan bahwa ketika konselor
mengulang kata atau frasa terakhir
klien, klien cenderung melanjutkan
pembicaraannya lebih dalam.
Ia merasa dipahami, sehingga ia
lebih terbuka.
Contoh dialog dalam sesi konseling:
Klien: “Aku nggak yakin bisa
berhenti merokok.”
Konselor: “Nggak yakin ya?”
Klien: “Iya. Soalnya aku udah coba
beberapa kali, tapi selalu balik lagi.
Apalagi kalau lagi stres, rasanya
cuma rokok yang bisa nenangin.”
Konselor: “Cuma rokok yang bisa
nenangin.”
Klien: “Nah iya. Padahal aku tahu itu
nggak sehat. Tapi ya gitu, aku ngerasa
terjebak.”
Perhatikan bagaimana konselor hanya
mengulang beberapa kata. Tetapi itu
cukup untuk membuat klien menggali
lebih dalam perasaannya.
Miller dan Rollnick menyimpulkan
bahwa reflective listening adalah cara
paling sederhana namun paling kuat
untuk membangun kepercayaan.
Orang yang merasa didengarkan akan
terus berbicara. Dan semakin ia
berbicara, semakin banyak yang ia
ungkapkan.
Eksperimen Rautalinko (2016):
Mengulang Kata dalam
Percakapan Sehari-hari
Penelitian oleh psikolog sosial
menunjukkan bahwa mengulang kata
terakhir lawan bicara dalam
percakapan biasa juga memiliki efek
yang sama. Partisipan diminta
berbicara dengan aktor yang kadang
mengulang kata terakhir mereka,
kadang tidak.
Hasilnya, partisipan yang
kata-katanya diulang berbicara lebih
lama dan lebih terbuka. Mereka juga
menilai lawan bicaranya lebih
menyenangkan dan lebih peduli.
Dialog setelah eksperimen:
Peneliti: “Bagaimana perasaanmu saat
berbicara dengan orang yang
mengulang kata-katamu?”
Partisipan: “Aku ngerasa dia
benar-benar dengerin.
Jadi aku nggak ragu buat cerita
lebih banyak.”
Peneliti: “Apakah kamu sadar dia
mengulang kata-katamu?”
Partisipan: “Nggak terlalu.
Aku cuma ngerasa nyaman.”
Eksperimen ini menunjukkan bahwa
teknik ini bekerja di bawah sadar.
Orang tidak menyadari bahwa
kata-katanya diulang. Ia hanya
merasa didengarkan.
Mengapa Repeat Their Last
Words Begitu Efektif?
Manusia butuh validasi. Begitu
kata-katanya dipantulkan balik,
ia merasa, “Oh, dia ngerti.”
Perasaan dimengerti itu membuat
ia semakin nyaman. Ia jadi tidak
merasa dihakimi, sehingga lebih
lancar berbicara.
Mengulang kata juga menunjukkan
bahwa Anda tidak sedang memikirkan
jawaban sendiri. Anda fokus pada apa
yang baru saja diucapkan lawan
bicara. Fokus ini terasa tulus.
Dan ketulusan itu membuka pintu
untuk cerita yang lebih dalam.
Selain itu, mengulang kata adalah
pancingan yang lembut. Anda tidak
bertanya “kenapa” atau
“maksudnya apa”. Anda hanya
memantulkan kata. Lawan bicara
merasa bahwa ia yang memegang
kendali. Ia boleh menjelaskan sejauh
yang ia mau. Rasa kendali ini
membuat ia berani melangkah lebih
jauh.
Tiga Langkah Menerapkan
Repeat Their Last Words:
Kisah Raka dan Bima
Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Raka.
Temannya, Bima, terlihat gelisah.
Langkah 1: Dengarkan Kalimat
Terakhir
Bima duduk di samping Raka.
Ia berkata, “Gue bingung harus
milih yang mana.”
Raka tidak langsung bertanya.
Ia menangkap kata terakhir Bima.
Langkah 2: Ulangi Bagian yang
Paling Penting
Raka menjawab dengan nada datar,
“Bingung ya?”
Bima mengangguk. “Iya. Soalnya
dua-duanya ada plus minus.”
Langkah 3: Diam dan Biarkan
Lawan Bicara Melanjutkan
Raka tidak menambahkan pertanyaan.
Ia hanya diam, menatap Bima dengan
tenang.
Bima melanjutkan,
“Yang pertama gajinya gede, tapi
jaraknya jauh. Yang kedua deket,
tapi pekerjaannya monoton.
Gue nggak tau harus prioritasin
yang mana.”
Raka hanya mengangguk pelan.
Bima terus bercerita sampai akhirnya
menemukan jawabannya sendiri.
Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal
1. Rekan Kerja yang Mengeluh
Maya sedang mendengar keluhan
Bima.
Bima: “Meeting tadi nggak jelas
arahnya.”
Maya: “Nggak jelas arahnya ya.”
Bima: “Iya. Dari awal muter-muter,
nggak ada keputusan. Padahal
waktunya tinggal dikit.”
Maya: “Waktunya tinggal dikit.”
Bima: “Nah, itu yang bikin gue
khawatir. Kalau nggak segera
diputusin, proyeknya bisa molor.”
2. Teman yang Curhat
Raka sedang berbicara dengan Sari.
Sari: “Aku ngerasa nggak dihargai.”
Raka: “Nggak dihargai ya?”
Sari: “Iya. Aku udah kerja keras,
tapi nggak ada yang ngeliat.”
Raka: “Nggak ada yang ngeliat.”
Sari: “Mungkin aku yang kurang
vokal. Tapi aku nggak mau minta
perhatian.”
3. Pasangan yang Sedang
Bimbang
Bima sedang bercerita kepada Rina.
Bima: “Aku ragu mau pindah kerja.”
Rina: “Ragu ya?”
Bima: “Iya. Di sini udah nyaman,
tapi nggak ada perkembangan.”
Rina: “Nggak ada perkembangan.”
Bima: “Kadang aku takut kalau
pindah malah nyesel.”
Cara Melindungi Diri dari
Teknik Ini
Jika Anda merasa seseorang
mengulang kata Anda untuk
membuat Anda terus berbicara,
ada beberapa langkah yang
bisa dilakukan.
Pertama, sadari bahwa
mengulang kata tidak selalu
berarti setuju. Itu bisa jadi
sekadar teknik mendengarkan.
Kedua, jangan merasa harus
terus berbicara hanya
karena didengarkan.
Anda boleh berhenti kapan pun
Anda mau.
Ketiga, tentukan batas
informasi. Tidak semua hal
perlu dibagikan.
Keempat, kendalikan arah
percakapan. Anda boleh
bertanya balik, “Menurutmu
gimana?” untuk memindahkan
fokus.
Repeat Their Last Words, They’ll Keep
Talking adalah teknik yang
memanfaatkan kebutuhan manusia
untuk didengarkan. Ketika digunakan
dengan tulus, ia membuat percakapan
lebih dalam dan hubungan lebih
dekat. Ketika digunakan untuk
menggali informasi, ia bisa membuat
Anda lebih banyak tahu dari yang
seharusnya. Gunakan dengan bijak,
karena mendengarkan yang baik
adalah hadiah, dan tidak semua
orang layak menerima cerita Anda.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya Repeat Their Last
Words, They’ll Keep Talking.
Lo pasti pernah ngalamin curhat
ke orang yang bener-bener dengerin.
Dia nggak banyak nanya, tapi lo
malah cerita panjang lebar. Kenapa?
Karena dia sesekali ngulang
kata-kata lo. Misalnya lo bilang,
“Gue lagi capek banget sama
kerjaan.” Terus dia jawab,
“Capek banget ya?” Itu aja. Tapi
rasanya lo kayak didorong buat
lanjut cerita. Nah, ini yang namain
teknik ini.
Simpelnya, teknik ini ngajarin
bahwa dengan ngulang kata
terakhir lawan bicara, lo bikin dia
ngerasa didengerin. Dan begitu
dia ngerasa didengerin, dia bakal
buka lebih banyak. Karena otak
dia nangkep sinyal, “Ini orang
nyimak. Gue bisa lanjut.”
Nah, kalau lo inget, ini masih
nyambung sama Silence Makes
People Spill Secrets yang barusan
kita bahas. Kalau silence itu lo diem
total, ini lo aktif ngulang. Dua-duanya
sama-sama bikin orang terus
ngomong. Bedanya, kalau silence itu
bikin orang ngisi kekosongan, ngulang
kata ini bikin orang ngerasa
diperhatiin. Jadi lebih lembut.
Kenapa ini ampuh? Karena manusia
itu butuh validasi.
Begitu kata-katanya dipantulin balik,
dia ngerasa, “Oh, dia ngerti.”
Dan perasaan dimengerti itu bikin dia
makin nyaman. Dia jadi nggak
ngerasa dihakimi, jadi makin lancar
ngomong.
Contoh gampangnya gini. Temen lo
bilang, “Gue bingung harus milih
yang mana.” Lo jawab, “Bingung ya?”
Dia langsung lanjut, “Iya, soalnya
dua-duanya ada plus minus.”
Padahal lo nggak nanya. Cukup
ngulang kata “bingung”. Itu udah
jadi pancingan.
Di dunia kerja juga gitu. Rekan lo
ngeluh, “Meeting tadi nggak jelas
arahnya.” Lo timpali, “Nggak jelas
arahnya ya.” Dia langsung buka,
“Iya, dari awal udah muter-muter,
nggak ada keputusan.” Lo dapet
info tambahan cuma dengan
ngulang kalimatnya.
Cara pakainya gampang banget.
Pertama, dengerin dulu kalimat
terakhir dia.
Kedua, ulangin bagian paling penting
dengan nada datar atau tanya.
Ketiga, diem. Biarin dia yang lanjutin.
Jangan buru-buru nambah
pertanyaan.
Tapi inget, jangan sampe lo
ngulang kayak burung beo.
Harus ada jeda dan nada yang
natural. Kalau lo ngulang semua
kata, dia malah ngerasa lo aneh.
Jadi, Repeat Their Last Words,
They’ll Keep Talking itu ibarat lo
lagi mantulin bola. Lo nggak
nendang keras. Cukup balikin pelan.
Dan dia bakal nendang lagi, lebih
jauh, lebih dalem. Lo cuma butuh
dengerin, dan dia bakal cerita
semuanya.
Gimana? Mulai kerasa kan gimana
kalimat pendek bisa jadi pembuka?
Kalau lo siap lanjut, berikutnya kita
bahas Fake a Yawn and Make
the Room Tired. Ini teknik yang
unik, karena lo bisa ngontrol
suasana lewat sinyal tubuh.
Stay tuned.
