Bahasa Cinta 4: Hadiah
Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 5 dan
Bab 6. Setelah membahas Sentuhan
Fisik, Kata-Kata Penegasan, dan
Waktu Berkualitas, kini kita akan
menyelami dua bahasa cinta terakhir
yang sering kali disalahpahami.
Yang satu sering dituduh sebagai
“materialistis,” dan yang satu lagi
sering dikacaukan dengan
“memanjakan.” Mari kita luruskan
bersama.
Bab 5: Bahasa Cinta 4: Hadiah
Hadiah adalah bahasa cinta yang
paling mudah disalahpahami.
Banyak orang tua yang merasa
bersalah atau khawatir ketika
menyadari bahwa bahasa cinta
utama anak mereka adalah hadiah.
“Jangan-jangan aku sudah
memanjakannya.”
“Aku tidak ingin dia tumbuh
menjadi orang yang materialistis.”
Chapman dan Campbell
menenangkan kekhawatiran ini
dengan menjelaskan bahwa bagi
anak dengan bahasa cinta hadiah,
yang mereka lihat bukanlah harga
atau ukurannya. Yang mereka lihat
adalah bahwa hadiah itu adalah
simbol cinta yang kasat mata.
Ini adalah bukti fisik bahwa seseorang
memikirkan mereka, memperhatikan
apa yang mereka sukai, dan berusaha
untuk membahagiakan mereka.
Hadiah yang paling bermakna
bukanlah hadiah yang paling mahal.
Hadiah yang paling bermakna adalah
hadiah yang dipersonalisasi, yang
menunjukkan bahwa si pemberi
benar-benar mengenal anak itu.
Sebuah batu cantik yang ditemukan
di taman karena anak itu suka
mengoleksi batu. Sebuah buku
tentang dinosaurus karena anak itu
terobsesi dengan dinosaurus.
Sekuntum bunga yang dipetik dari
halaman dan diletakkan di meja
belajarnya. Benda-benda kecil ini,
bagi anak dengan bahasa cinta
hadiah, adalah harta karun. Mereka
menyimpannya di kotak khusus,
menaruhnya di bawah bantal, atau
memamerkannya dengan bangga.
Kunci dari hadiah yang efektif adalah
usaha dan makna di baliknya,
bukan nilai uangnya. Hadiah yang
dibeli dengan terburu-buru di kasir
supermarket karena Anda merasa
bersalah tidak akan memiliki
dampak yang sama dengan hadiah
yang jelas-jelas dipikirkan. Ketika
seorang anak menerima hadiah, ia
bertanya dalam hatinya,
“Apakah mereka benar-benar
mengenal aku?
Apakah mereka memperhatikan apa
yang aku sukai?”
Jika jawabannya ya, maka tangki
emosionalnya penuh.
Namun, para penulis memberikan
satu peringatan yang sangat penting:
hadiah tidak boleh dipakai
sebagai pengganti kehadiran
emosional. Jika Anda adalah
orang tua yang sangat sibuk dan
tidak pernah punya waktu untuk
anak, lalu Anda menebus rasa
bersalah Anda dengan membelikan
mainan mahal setiap minggu,
itu tidak akan berhasil dalam jangka
panjang. Anak-anak, terutama yang
lebih besar, akan segera menyadari
bahwa hadiah itu hanyalah
“uang tutup mulut.” Hadiah yang
diberikan sebagai pengganti diri
Anda sendiri akan terasa hampa dan
bahkan bisa menimbulkan kebencian.
Hadiah harus menjadi simbol cinta,
bukan pengganti cinta. Hadiah harus
diberikan bersama dengan kehadiran
dan perhatian, bukan sebagai gantinya.
Contoh yang sering terjadi adalah
seorang ibu yang sedang bepergian
ke luar kota untuk urusan pekerjaan.
Ia tahu bahwa bahasa cinta anaknya
adalah hadiah. Alih-alih hanya
membawa pulang gantungan kunci
bandara yang generik, ia meluangkan
waktu lima belas menit di toko buku
untuk mencari buku tentang
planet-planet, karena ia ingat
anaknya baru-baru ini sangat tertarik
pada Saturnus. Setibanya di rumah,
ia memberikan buku itu dan berkata,
“Ibu lihat ini, dan langsung ingat
kamu. Ibu tahu kamu suka
planet-planet, dan Ibu pikir kamu
akan suka belajar tentang cincin
Saturnus.” Anak itu tidak hanya
mendapatkan sebuah buku.
Ia mendapatkan bukti bahwa ibunya
memikirkannya, bahkan saat sedang
jauh. Itulah kekuatan hadiah yang
sesungguhnya.
Bab 6: Bahasa Cinta 5: Pelayanan
Bahasa cinta yang kelima adalah
pelayanan. Bagi sebagian anak,
tindakan melayani adalah ekspresi
cinta yang paling kuat.
Ketika orang tua menyiapkan sarapan
favorit mereka, membantu mereka
mengerjakan tugas sekolah yang sulit,
memperbaiki mainan yang rusak, atau
menjahitkan kancing yang lepas,
anak-anak ini merasa sangat dicintai.
Mereka melihat tindakan-tindakan ini
dan menyimpulkan,
“Mereka melakukan ini untukku.
Aku penting bagi mereka.”
Chapman dan Campbell menekankan
bahwa pelayanan kepada anak harus
dilakukan dengan motivasi yang tepat.
Pelayanan bukanlah tentang menjadi
“pelayan” bagi anak Anda, yang
melompat setiap kali mereka
memerintah. Itu adalah pola asuh
yang memanjakan dan tidak sehat.
Pelayanan adalah tentang
menunjukkan “aku ada untukmu”
melalui tindakan nyata. Ini adalah
tentang membantu anak melakukan
hal-hal yang belum bisa mereka
lakukan sendiri, sebagai ekspresi cinta,
bukan sebagai kewajiban yang
dilakukan dengan penuh keluhan.
Sikap hati saat melayani sangat
penting. Jika Anda menyiapkan
makan malam untuk anak Anda
sambil menggerutu,
“Ibu capek sekali, kamu tidak
pernah membantu,” maka tindakan
itu bukanlah pelayanan yang penuh
kasih. Itu adalah pelayanan yang
penuh kebencian, dan anak bisa
merasakannya. Pelayanan yang
efektif harus dilakukan dengan tulus
tanpa syarat. Anda melakukannya
karena Anda ingin menunjukkan
cinta, bukan karena Anda
mengharapkan imbalan atau pujian.
Seiring anak bertambah besar, bentuk
pelayanan ini harus beradaptasi.
Melayani anak bukan berarti
melakukan segala sesuatu untuk
mereka selamanya. Ketika anak masih
kecil, pelayanan berarti melakukan
hampir segalanya. Tetapi seiring
mereka tumbuh, pelayanan yang
penuh kasih juga berarti mengajari
mereka bagaimana melakukan
sesuatu untuk diri mereka sendiri.
Mengajari seorang anak cara
mengikat tali sepatu adalah pelayanan.
Membantu mereka berlatih sepeda
tanpa roda samping adalah pelayanan.
Melatih mereka mengerjakan soal
matematika dengan sabar adalah
pelayanan.
Contoh yang sering terjadi adalah
seorang ayah yang baru pulang kerja
dalam keadaan sangat lelah. Ia ingin
sekali duduk dan beristirahat.
Namun, ia melihat anak
perempuannya yang berusia sepuluh
tahun sedang frustrasi dengan
proyek sainsnya. Ia tahu bahasa cinta
anaknya adalah pelayanan.
Ia mengesampingkan rasa lelahnya,
duduk di samping anaknya, dan
berkata, “Sini, Ayah bantu. Kita
kerjakan sama-sama, ya.” Ia tidak
mengerjakan proyek itu untuk anaknya.
Ia membantu dengan sabar,
memegangi kabel, mencari alat, dan
memberi semangat. Dalam tindakan
itu, sang ayah telah mengisi tangki
emosional anaknya jauh lebih penuh
daripada sekadar berkata
“Aku sayang kamu” dari sofa.
Sahabat, dua bab ini melengkapi
pemahaman kita tentang lima bahasa
cinta anak. Hadiah dan Pelayanan
bukanlah tentang memanjakan,
melainkan tentang menunjukkan
cinta dengan cara yang paling
dimengerti oleh anak.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita lanjut ngobrolin dua bahasa
cinta terakhir dari buku The 5 Love
Languages of Children. Kadang dua
bahasa ini suka bikin orang tua salah
paham. Yang satu suka dituding bikin
anak materialistis, yang satu lagi
disangka cuma memanjakan.
Padahal, niat di baliknya yang
bikin beda.
Bab 5: Bahasa Cinta 4: Hadiah.
Duh, Anak Gue Materialistis
Ya?
Ini nih yang suka bikin orang tua
galau. Begitu nyadar bahasa cinta
anaknya adalah Hadiah, langsung
deh kepikiran, “Wah, jangan-jangan
gue udah salah besarin dia. Nanti dia
jadi orang yang matre dong.”
Chapman dan Campbell langsung
nenangin ketakutan ini. Buat anak
dengan bahasa cinta Hadiah, yang
mereka liat dari hadiah itu BUKAN
harga atau ukurannya. Yang mereka
liat adalah, “Ini bukti nyata kalo ada
yang mikirin gue.” Hadiah itu
SIMBOL CINTA yang bisa mereka
pegang dan lihat. Ini bukti fisik
bahwa seseorang peduli,
memperhatikan apa yang mereka
suka, dan rela repot-repot buat
membahagiakan mereka.
Hadiah yang paling ngena itu bukan
yang paling mahal, gaes. Bukan.
Hadiah yang paling bermakna itu
adalah hadiah yang PERSONAL.
Yang nunjukin kalo si pemberi
beneran NGENAL siapa anak itu.
Misalnya, lo ngasih batu cantik yang
lo temuin di taman, karena lo tau
anak lo suka ngoleksi batu. Lo beliin
buku tentang dinosaurus karena dia
lagi gandrung banget sama T-Rex.
Lo metik bunga dari halaman terus
lo taro di meja belajarnya.
Benda-benda kecil ini, buat anak tipe
ini, adalah HARTA KARUN. Dia bakal
nyimpen di kotak khusus, naruh
di bawah bantal, atau dipamerin
ke semua orang.
Kunci dari hadiah yang jitu itu
USAHA dan MAKNA di baliknya,
bukan nominalnya. Hadiah yang lo
beli buru-buru di kasir cuma karena
lo ngerasa bersalah gak bakal ngena.
Pas anak nerima hadiah, pertanyaan
di hatinya tuh, “Mereka beneran
kenal gue gak sih? Mereka perhatiin
gak sih apa yang gue suka?” Kalo
jawabannya iya, tangkinya langsung
penuh.
Tapi, ada peringatan penting nih.
Hadiah GAK BOLEH jadi pengganti
kehadiran emosional lo. Kalo lo
orang tua yang super sibuk, gak
pernah punya waktu, terus nebeng
rasa bersalah lo dengan beliin mainan
mahal tiap minggu, itu gak akan
manjur dalem jangka panjang.
Apalagi kalo anak lo udah gedean
dikit, mereka bakal sadar kalo hadiah
itu cuma “uang tutup mulut”. Hadiah
yang lo kasih sebagai pengganti
kehadiran lo bakal kerasa hampa,
dan malah bisa bikin mereka benci.
Ingat, hadiah harus jadi SIMBOL
CINTA, bukan PENGGANTI CINTA.
Kasih hadiah barengan sama
kehadiran dan perhatian lo, ya.
Contohnya gini. Seorang ibu lagi dinas
ke luar kota. Dia tau anaknya bertipe
Hadiah. Bukannya asal beli
gantungan kunci di bandara,
dia malah sisihin waktu 15 menit
buat nyari buku tentang planet
di toko buku, karena dia inget
anaknya lagi penasaran banget
sama Saturnus. Pas nyampe rumah,
dia kasih buku itu sambil bilang,
“Ibu liat ini, langsung inget kamu.
Ibu tau kamu lagi suka planet-planet,
dan Ibu pikir kamu bakal suka
belajar tentang cincin Saturnus.”
Si anak gak cuma dapet buku.
Dia dapet BUKTI bahwa ibunya
mikirin dia, bahkan pas lagi jauh.
Itulah kekuatan sesungguhnya
dari Hadiah.
Bab 6: Bahasa Cinta 5: Pelayanan.
Membantu dengan Sepenuh Hati
Nah, bahasa cinta yang terakhir adalah
Pelayanan. Buat sebagian anak,
tindakan orang tua yang melayani
mereka adalah ekspresi cinta yang
paling dahsyat. Pas orang tua nyiapin
sarapan favorit mereka, bantuin
ngerjain PR yang susah, betulin
mainan yang rusak, atau jahitin
kancing baju yang copot, mereka
langsung ngerasa dicintai. Mereka
ngeliat tindakan-tindakan itu dan
menyimpulkan, “Mereka ngelakuin
ini semua buat gue. Berarti gue
penting banget buat mereka.”
Chapman dan Campbell nekanin,
Pelayanan ke anak ini harus dilakuin
dengan MOTIVASI YANG BENER.
Pelayanan bukan berarti lo jadi
“babu” buat anak lo, yang langsung
loncat tiap kali mereka minta.
Itu sih pola asuh yang memanjakan
dan gak sehat. Pelayanan yang
dimaksud di sini adalah tentang
nunjukin “Gue ada buat lo” lewat
aksi nyata. Lo bantuin anak ngerjain
hal yang mereka belum bisa lakuin
sendiri. Ini adalah ekspresi cinta,
bukan kewajiban yang lo jalanin
sambil ngeluh.
Sikap hati lo pas ngelayani itu yang
paling penting. Kalo lo nyiapin
makan malem buat anak lo sambil
ngomel, “Ibu tuh capek banget tau,
kamu tuh gak pernah bantuin,”
maka itu BUKAN Pelayanan yang
penuh cinta. Itu pelayanan penuh
racun, dan anak lo pasti bisa
ngerasainnya. Pelayanan yang efektif
harus lo lakuin dengan tulus tanpa
syarat. Lo ngelakuinnya karena lo
pengen nunjukin cinta, bukan karena
lo ngarepin pujian atau balas jasa.
Seiring anak makin gede, bentuk
Pelayanan ini juga harus ikut berubah,
gaes. Melayani bukan berarti lo
ngerjain semuanya buat mereka
seumur hidup. Waktu anak masih
kecil, iya, lo yang ngerjain hampir
semuanya. Tapi begitu dia tumbuh,
Pelayanan yang penuh cinta juga
berarti lo NGAJARIN mereka gimana
caranya ngelakuin sesuatu buat diri
mereka sendiri. Ngajarin anak cara
ngiket tali sepatu itu Pelayanan.
Bantuin mereka latihan naik sepeda
roda dua itu Pelayanan. Ngajarin
mereka ngerjain soal matematika
dengan sabar juga Pelayanan.
Contohnya, seorang ayah baru pulang
kerja dalam kondisi super capek.
Rasanya pengen langsung selonjoran
di sofa. Tapi, dia liat anak
perempuannya yang umur 10 tahun
lagi frustrasi ngadepin proyek
sainsnya. Dia tau bahasa cinta
anaknya adalah Pelayanan. Akhirnya,
dia singkirin rasa capeknya, duduk
di samping anaknya, dan bilang,
“Sini, Ayah bantuin deh. Kita kerjain
bareng.” Dia gak ngerjain proyek itu
sendirian. Dia bantu dengan sabar,
megangin kabel, nyariin alat, dan
nyemangatin. Dalam tindakan itu,
si ayah udah ngisi tangki emosional
anaknya jauh lebih penuh daripada
cuma bilang “Ayah sayang kamu”
dari sofa.
Nah, dua bab ini nutup pemahaman
kita tentang lima bahasa cinta anak.
Intinya, Hadiah dan Pelayanan
bukanlah soal memanjakan atau
bikin anak manja. Ini tentang
nunjukin cinta dengan cara yang
paling mereka ngerti.
