buku

Drama Orang Tua yang Tidak Matang – Bagaimana Reaksi Mereka

Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 7 dan
Bab 8. Setelah memahami bagaimana
kita kehilangan diri sendiri dan
terjebak dalam fantasi penyembuhan,
Lindsay C. Gibson kini membahas
dua hal yang saling terkait:
pertama, bagaimana orang tua yang
tidak matang bereaksi ketika kita
mencoba menjadi diri sendiri;
kedua, bagaimana semua ini terasa
bagi kita sebagai anak dewasa.

Bab 7: Drama Orang Tua yang
Tidak Matang
– Bagaimana Reaksi Mereka

Gibson menjelaskan bahwa
orang tua yang tidak matang secara
emosional tidak bisa menghadapi
kenyataan yang tidak menyenangkan.
Ketika anak mereka mulai
menunjukkan kemandirian
emosional, mengungkapkan
kebutuhan yang berbeda, atau
memberikan umpan balik yang jujur,
orang tua ini tidak melihatnya
sebagai bagian normal dari
perkembangan manusia. Mereka
melihatnya sebagai ancaman. Untuk
melindungi diri dari rasa tidak
nyaman yang mendalam, mereka
menggunakan mekanisme pertahanan
primitif yang mirip dengan yang
digunakan oleh anak kecil. Berikut
adalah empat mekanisme utama
yang mereka gunakan.

Penyangkalan (Denial)

Penyangkalan adalah penolakan untuk
menerima kenyataan yang
menyakitkan atau tidak menyenangkan.
Orang tua yang tidak matang akan
menyangkal bahwa ada masalah dalam
hubungan, menyangkal bahwa mereka
pernah menyakiti anak mereka, atau
bahkan menyangkal bahwa peristiwa
menyakitkan tertentu pernah terjadi.
Bagi mereka, kenyataan yang tidak
sesuai dengan citra diri mereka sebagai
orang tua yang baik harus dihapus.

Contoh: Seorang anak dewasa, sebut
saja Maya, akhirnya mengumpulkan
keberanian untuk berbicara jujur
kepada ibunya. “Bu, aku ingin bicara
tentang masa kecilku. Ketika Ayah
membentakku setiap hari, Ibu hanya
diam dan tidak pernah membelaku.
Itu sangat menyakitkan.”
Ibunya menatapnya dengan mata
kosong, lalu berkata, “Aku tidak ingat
itu pernah terjadi. Kamu pasti salah
ingat. Ayahmu tidak pernah
membentakmu. Kamu terlalu
berlebihan. Lagipula, masa kecilmu
sangat bahagia. Kami sudah
memberikan segalanya untukmu.”
Sang ibu tidak bisa menerima
kenyataan bahwa ia mungkin telah
gagal melindungi anaknya. Alih-alih
mendengarkan dan merasakan sakit
anaknya, ia memilih untuk
menghapus kenyataan itu dari
ingatannya.

Proyeksi (Projection)

Proyeksi adalah mekanisme di mana
seseorang melemparkan perasaan,
pikiran, atau sifat yang tidak bisa
mereka terima dalam diri mereka
sendiri kepada orang lain. Orang tua
yang tidak matang sering kali
memproyeksikan kemarahan,
ketakutan, atau rasa malu mereka
sendiri kepada anak. Anak dituduh
memiliki sifat-sifat negatif yang
sebenarnya dimiliki oleh orang tua
itu sendiri.

Contoh: Seorang ayah yang
sebenarnya merasa gagal dalam
kariernya pulang ke rumah dan
melihat anaknya sedang bersantai.
Ia langsung marah.
“Kamu ini malas! Tidak ada gunanya!
Kerjaanmu cuma main dan tidur!
Aku dulu seusiamu sudah bekerja
keras membantu orang tuaku!”
Sang ayah tidak bisa menghadapi
perasaan gagalnya sendiri, jadi ia
melemparkan perasaan malas dan
tidak berguna itu kepada anaknya.
Anak itu kebingungan karena ia
merasa tidak melakukan kesalahan
apa pun.

Pemikiran Hitam-Putih
(Black-and-White Thinking)

Orang tua yang tidak matang melihat
dunia dalam kategori yang sangat
kaku: baik atau buruk, benar atau
salah, kawan atau lawan. Tidak ada
area abu-abu. Tidak ada nuansa. Jika
Anda tidak sepenuhnya setuju dengan
mereka, maka Anda adalah musuh.
Jika Anda membuat satu kesalahan
kecil, maka Anda adalah orang yang
gagal total. Pemikiran ini membuat
hubungan sangat tidak stabil.

Contoh: Seorang ibu dan anak
perempuannya sedang berdebat
tentang rencana liburan. Sang anak
mengusulkan destinasi yang berbeda
dari keinginan ibunya. Sang ibu
langsung menangis dan berkata,
“Kamu tidak pernah menghargai aku!
Aku sudah susah payah
membesarkanmu, dan sekarang kamu
tidak mau menghabiskan waktu
denganku!
Baiklah, kalau begitu, kita tidak usah
liburan sama sekali!
Kamu pergi saja sendiri!”
Sang ibu tidak bisa melihat bahwa
perbedaan pendapat tentang
destinasi liburan bukanlah penolakan
total terhadap dirinya. Baginya,
ada dua pilihan: anaknya sepenuhnya
tunduk padanya, atau anaknya
sepenuhnya melawannya.

Mengutamakan Pemahaman
Peran Ketimbang Empati
Sejati (Role Entitlement)

Mekanisme ini sangat licik. Orang tua
yang tidak matang memiliki
pemahaman yang kaku tentang peran
mereka sebagai orang tua.
Mereka percaya bahwa karena mereka
adalah orang tua, mereka otomatis
berhak mendapatkan rasa hormat,
ketaatan, dan cinta, tanpa perlu
memberikannya kembali. Mereka
menggunakan status mereka sebagai
tameng. “Aku adalah ibumu!
Aku yang melahirkanmu!
Kamu harus menghormatiku, apa pun
yang terjadi!” Kalimat ini digunakan
untuk membungkam kritik dan
menghindari tanggung jawab
emosional. Mereka tidak merasa
perlu untuk memahami perasaan
anak, karena peran “Ibu” atau “Ayah”
sudah cukup untuk memberi mereka
semua hak istimewa.

Contoh: Seorang ayah tidak pernah
menghadiri pertandingan olahraga
anaknya. Ketika anaknya dewasa
dan menjaga jarak secara emosional,
sang ayah marah. “Aku ini ayahmu!
Aku sudah bekerja keras mencari
uang untukmu. Sekarang kamu
harus meneleponku setiap minggu
dan mengunjungiku setiap bulan.
Itu kewajibanmu sebagai anak!”
Sang ayah tidak pernah berusaha
membangun hubungan emosional
yang nyata. Ia hanya menuntut hak
istimewa dari perannya sebagai
“ayah” tanpa pernah memenuhi
tanggung jawab emosional dari
peran itu.

Bab 8: Krisis Anak Dewasa
– Bagaimana Rasanya

Di bab ini, Gibson memberikan suara
dan validasi untuk kekacauan
emosional yang dialami oleh
anak-anak dewasa. Ini adalah bab
yang sering kali membuat pembaca
menangis karena akhirnya ada
seseorang yang bisa menggambarkan
dengan tepat apa yang selama ini
mereka rasakan, tetapi tidak pernah
bisa mereka ungkapkan.

Anak-anak dewasa dari orang tua
yang tidak matang sering kali hidup
dengan 
rasa bersalah kronis.
Rasa bersalah ini menempel pada
segala hal. Mereka merasa bersalah
ketika mengatakan “tidak.” Mereka
merasa bersalah ketika melakukan
sesuatu untuk diri sendiri. Mereka
merasa bersalah ketika mereka
merasa marah, karena mereka telah
diajari bahwa kemarahan mereka
tidak valid. Rasa bersalah ini adalah
suara orang tua yang telah
terinternalisasi dalam kepala
mereka.

Mereka juga dihantui oleh
kecemasan akan ditinggalkan.
Karena cinta yang mereka terima
di masa kecil selalu bersyarat dan
bisa ditarik kapan saja, mereka
tumbuh dengan ketakutan
mendalam bahwa setiap orang
yang mereka cintai akan
meninggalkan mereka jika mereka
melakukan kesalahan.
Ini membuat mereka terus-menerus
waspada dalam hubungan, takut
bahwa satu langkah salah akan
menghancurkan segalanya.

Di bawah permukaan,
ada 
kemarahan yang terpendam.
Ini adalah kemarahan yang tidak
pernah diizinkan untuk diungkapkan.
Sejak kecil, mereka belajar bahwa
menunjukkan kemarahan akan
dihukum atau akan menghancurkan
orang tua yang rapuh. Maka,
kemarahan itu dikubur. Tetapi ia tidak
hilang. Ia muncul dalam bentuk
ledakan emosi yang tidak terkendali,
atau lebih sering, dalam bentuk
depresi dan kebencian terhadap
diri sendiri.

Mereka juga menderita kelelahan
akibat people-pleasing
. Seluruh
hidup mereka dihabiskan untuk
mencoba menyenangkan orang lain,
mengantisipasi kebutuhan mereka,
dan menghindari konflik. Ini adalah
pekerjaan yang sangat melelahkan.
Mereka merasa seperti sedang
berjalan di atas tali di atas jurang
sepanjang waktu, tanpa pernah
bisa beristirahat.

Yang paling membingungkan
adalah 
kebingungan antara
cinta dan kewajiban
.
Mereka sering bertanya-tanya,
“Apakah aku mengunjungi orang
tuaku karena aku mencintai mereka,
atau karena aku takut dihukum oleh
rasa bersalah jika tidak
melakukannya?
Apakah aku membantu mereka
karena aku peduli, atau karena aku
merasa inilah kewajibanku?”
Garis antara cinta yang tulus dan
kewajiban yang menyesakkan
menjadi sangat kabur.

Puncak dari semua ini adalah
krisis ketika fantasi
penyembuhan runtuh
.
Suatu hari, setelah bertahun-tahun
berusaha, si anak dewasa mencapai
titik puncak. Mereka mungkin baru
saja menyelesaikan gelar doktor,
mendapatkan promosi besar, atau
mencapai sesuatu yang luar biasa
lainnya, dan sekali lagi, respons
orang tua mereka datar, kritis, atau
dialihkan. Di titik inilah fantasi
penyembuhan runtuh. Mereka
menyadari bahwa tidak ada yang
akan berubah. Tidak peduli seberapa
keras mereka berusaha, mereka tidak
akan pernah mendapatkan cinta
yang mereka dambakan. Runtuhnya
fantasi ini terasa seperti kegagalan
total. Mereka merasa gagal meski
sudah berusaha mati-matian. Mereka
merasa bahwa semua usaha mereka
selama ini sia-sia. Ini adalah titik
tergelap, tetapi juga merupakan
awal dari penyembuhan sejati.

Sahabat, Bab 7 dan Bab 8 ini sangat
penting untuk memahami realitas
dari dinamika yang tidak sehat ini. 

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kita lanjut ngobrolin buku Adult
Children of Emotionally Immature
Parents
. Kali ini, setelah lo paham
kenapa lo bisa ngerasa kosong dan
terus-terusan ngejar cinta yang gak
dateng, Lindsay C. Gibson ngajak lo
ngeliat dua sisi dari drama yang
sama. Pertama, gimana reaksi orang
tua lo yang gak matang itu pas lo
mulai berani jadi diri sendiri. Kedua,
gimana rasanya semua ini buat lo
sebagai anak dewasa.

Bab 7: Drama Orang Tua yang
Gak Matang, Gimana Reaksi
Mereka?

Gibson ngejelasin, orang tua yang gak
matang secara emosi itu gak bisa
ngadepin kenyataan yang gak
nyenengin. Pas lo sebagai anak
mulai nunjukin kemandirian emosi,
ngungkapin kebutuhan yang beda,
atau ngasih masukan yang jujur,
mereka gak ngeliatnya sebagai
bagian normal dari perkembangan
manusia. Mereka ngeliatnya sebagai
ANCAMAN. Buat ngelindungin diri
dari rasa gak nyaman yang
mendalam, mereka pake mekanisme
pertahanan primitif, mirip kayak
yang dipake anak kecil. Ini empat
jurus utama mereka.

Jurus pertama, Penyangkalan.
Ini adalah penolakan buat nerima
kenyataan yang menyakitkan atau
gak enak. Orang tua yang gak matang
bakal menyangkal kalo ada masalah
dalam hubungan. Mereka menyangkal
pernah nyakitin lo. Atau bahkan
menyangkal kalo kejadian
menyakitkan tertentu pernah terjadi.
Bagi mereka, kenyataan yang gak
sesuai sama citra diri mereka sebagai
“orang tua yang baik” harus dihapus
dari sejarah.

Contohnya gini, ada anak dewasa,
sebut aja Maya. Dia akhirnya
ngumpulin keberanian buat
ngomong jujur ke ibunya.
“Bu, aku mau ngomongin masa kecilku.
Pas Ayah ngebentak aku tiap hari,
Ibu cuma diem dan gak pernah
ngebelain aku. Itu sakit banget.”
Ibunya natap dia dengan mata kosong,
terus bilang, “Ibu gak inget itu pernah
terjadi. Kamu pasti salah inget.
Ayahmu gak pernah ngebentak kamu.
Kamu terlalu berlebihan. Lagian,
masa kecil kamu itu bahagia banget.
Kami udah ngasih segalanya buat
kamu.” Ibunya gak bisa nerima
kenyataan kalo dia mungkin gagal
ngelindungin anaknya. Alih-alih
dengerin dan ngerasain sakit anaknya,
dia milih buat ngehapus kenyataan
itu dari ingatannya.

Jurus kedua, Proyeksi. Ini kayak
lempar bola panas. Seseorang
ngelempar perasaan, pikiran, atau
sifat yang gak bisa mereka terima
dalam diri mereka sendiri,
ke orang lain. Orang tua yang gak
matang seringkali ngelempar
kemarahan, ketakutan, atau rasa
malu mereka sendiri ke anak. Lo
dituduh punya sifat negatif yang
sebenernya mereka sendiri yang
punya.

Contohnya, seorang ayah yang
sebenernya ngerasa gagal dalam
karirnya, pulang ke rumah dan ngeliat
anaknya lagi duduk santai.
Dia langsung murka.
“Kamu ini pemalas! Gak ada gunanya!
Kerjaanmu cuma main dan tidur!
Ayah dulu seumuran kamu udah kerja
keras bantuin orang tua!” Si ayah gak
bisa ngadepin perasaan gagalnya
sendiri, jadi dia ngelempar perasaan
malas dan gak berguna itu ke anaknya.
Si anak jadi bingung sendiri karena
dia ngerasa gak ngelakuin kesalahan
apa-apa.

Jurus ketiga, Pemikiran
Hitam-Putih
. Orang tua tipe ini
ngeliat dunia cuma dalam dua
kategori kaku: baik atau buruk,
benar atau salah, kawan atau lawan.
Gak ada area abu-abu. Gak ada
nuansa. Kalo lo gak sepenuhnya
setuju sama mereka, lo adalah
MUSUH. Kalo lo bikin satu
kesalahan kecil, lo adalah ORANG
GAGAL TOTAL. Pemikiran kayak
gini bikin hubungan jadi gak stabil
banget.

Contohnya, seorang ibu dan anak
perempuannya lagi debat soal
rencana liburan. Si anak ngusulin
tempat yang beda dari keinginan
ibunya. Si ibu langsung nangis dan
bilang, “Kamu gak pernah ngargain
Ibu! Ibu udah susah payah ngebesarin
kamu, dan sekarang kamu gak mau
ngabisin waktu sama Ibu! Ya udah,
kalo gitu kita gak usah liburan!
Kamu pergi aja sendiri!” Si ibu gak
bisa ngeliat bahwa beda pendapat
soal tempat liburan bukanlah
penolakan total terhadap dirinya.
Baginya cuma ada dua pilihan:
anaknya tunduk sepenuhnya, atau
anaknya ngelawan sepenuhnya.

Jurus keempat, Mengutamakan
Peran Ketimbang Empati
.
Ini jurus yang licik. Orang tua yang
gak matang punya pemahaman
kaku tentang peran mereka sebagai
orang tua. Mereka percaya, karena
mereka orang tua, mereka
OTOMATIS berhak dapet rasa hormat,
ketaatan, dan cinta. Tanpa perlu ngasih
balik. Mereka pake status mereka
sebagai tameng. “Aku ini ibumu!
Aku yang ngelahirin kamu!
Kamu harus hormatin aku, apapun
yang terjadi!” Kalimat ini dipake
buat ngebungkam kritik dan
ngindarin tanggung jawab emosional.
Mereka gak ngerasa perlu buat
ngertiin perasaan anak, karena peran
“Ibu” atau “Ayah” udah cukup buat
ngasih mereka semua hak istimewa.

Contohnya, seorang ayah gak pernah
dateng ke pertandingan olahraga
anaknya. Pas anaknya udah dewasa
dan mulai jaga jarak secara emosi,
si ayah marah. “Aku ini ayahmu! Aku
udah kerja keras nyari duit buat kamu.
Sekarang kamu harus nelpon aku tiap
minggu dan ngunjungin aku tiap
bulan. Itu kewajiban kamu sebagai
anak!” Si ayah gak pernah berusaha
ngebangun hubungan emosional
yang nyata. Dia cuma nuntut hak
istimewa dari perannya sebagai
“ayah” tanpa pernah memenuhi
tanggung jawab emosional dari
peran itu.

Bab 8: Krisis Anak Dewasa,
Gimana Rasanya?

Di bab ini, Gibson ngasih suara dan
validasi buat kekacauan emosi yang
lo alamin sebagai anak dewasa.
Ini bab yang sering bikin pembaca
nangis karena akhirnya ada yang
bisa ngegambarin dengan tepat apa
yang selama ini mereka rasain, tapi
gak pernah bisa mereka ungkapin.

Lo sebagai anak dewasa dari orang tua
yang gak matang, seringkali idup
dengan 
rasa bersalah kronis. Rasa
bersalah ini nempel di mana-mana.
Lo ngerasa bersalah pas bilang “gak”.
Lo ngerasa bersalah pas ngelakuin
sesuatu buat diri sendiri. Lo ngerasa
bersalah pas lo ngerasa marah,
karena lo udah diajarin bahwa
kemarahan lo itu gak valid. Rasa
bersalah ini adalah SUARA
ORANG TUA yang udah terlanjur
nyangkut di kepala lo.

Lo juga dihantuin sama kecemasan
bakal ditinggalin
. Karena cinta
yang lo terima di masa kecil selalu
pake syarat dan bisa ditarik kapan
aja, lo tumbuh dengan ketakutan
mendalam bahwa setiap orang yang
lo cintai bakal ninggalin lo kalo lo
bikin kesalahan. Ini bikin lo
terus-terusan waspada dalam
hubungan, takut kalo satu langkah
salah bakal ngancurin semuanya.

Di bawah permukaan, ada
kemarahan yang terpendam.
Ini adalah kemarahan yang gak
pernah diizinin buat diungkapin.
Sejak kecil, lo belajar bahwa
nunjukin kemarahan bakal dihukum
atau malah ngancurin orang tua yang
rapuh. Maka, kemarahan itu dikubur
dalem-dalem. Tapi dia gak ilang.
Dia muncul dalam bentuk ledakan
emosi yang gak terkendali, atau
lebih sering, dalam bentuk depresi
dan kebencian terhadap diri sendiri.

Lo juga ngalami kelelahan akibat
people-pleasing
, atau jadi
“tukang nyenengin orang”. Seluruh
hidup lo dihabisin buat nyoba
nyenengin orang lain, mengantisipasi
kebutuhan mereka, dan ngindarin
konflik. Ini kerjaan yang capek
banget. Lo ngerasa kayak lagi jalan
di atas tali di atas jurang sepanjang
waktu, tanpa pernah bisa istirahat.

Yang paling bikin bingung adalah
kebingungan antara cinta dan
kewajiban
. Lo sering nanya
ke diri sendiri, “Apa gue ngunjungin
orang tua gue karena gue beneran
cinta mereka, atau karena gue takut
dihukum rasa bersalah kalo gak
ngelakuinnya?
Apa gue bantuin mereka karena gue
peduli, atau karena gue ngerasa ini
cuma kewajiban?”
Garis antara cinta yang tulus dan
kewajiban yang menyesakkan jadi
kabur banget.

Puncak dari semua ini adalah krisis
ketika fantasi penyembuhan
runtuh
. Suatu hari, setelah
bertahun-tahun berusaha,
lo mencapai titik puncak. Lo mungkin
baru aja selesai S2, dapet promosi
gede, atau mencapai sesuatu yang
luar biasa lainnya. Dan sekali lagi,
respons orang tua lo datar, kritis, atau
malah dialihin. Di titik inilah fantasi
penyembuhan lo runtuh. Lo sadar
bahwa GAK ADA YANG BAKAL
BERUBAH. Gak peduli sekeras
apapun lo berusaha, lo gak bakal
pernah dapetin cinta yang lo
dambakan. Runtuhnya fantasi ini
kerasa kayak kegagalan total.
Lo ngerasa gagal padahal udah
berusaha mati-matian. Lo ngerasa
bahwa semua usaha lo selama ini
sia-sia. Ini adalah titik paling gelap,
tapi ironisnya, ini juga merupakan
awal dari penyembuhan sejati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *