buku

Kebiasaan 6: Wujudkan Sinergi

Sahabat, kita tiba di puncak dari
Kemenangan Publik. Setelah
membangun fondasi saling
ketergantungan melalui pola pikir
Menang-Menang dan komunikasi
empatik, Stephen R. Covey
memperkenalkan kebiasaan yang
merupakan hasil dari semuanya.
Kebiasaan 6 adalah tentang sinergi,
di mana kerjasama kreatif
menghasilkan sesuatu yang jauh
melampaui kemampuan individu.

Kebiasaan 6: Wujudkan Sinergi

Covey mendefinisikan sinergi sebagai
kerjasama kreatif. Esensinya adalah
bahwa keseluruhan lebih besar
daripada jumlah bagian-bagiannya.
Ini adalah momen ajaib dalam
interaksi manusia ketika dua orang
atau lebih, yang mungkin memiliki
perspektif yang sangat berbeda,
bersatu dan menciptakan sesuatu
yang tidak akan pernah bisa
diciptakan oleh salah satu dari
mereka sendirian. Ini bukanlah
sekadar bekerja sama atau
berkompromi. Kompromi adalah
1 + 1 = 1,5. Kedua belah pihak
mengorbankan sesuatu, dan tidak
ada yang benar-benar puas.
Sinergi adalah 1 + 1 = 3, 8, atau
bahkan seratus. Ini adalah
penciptaan solusi yang sama sekali
baru, solusi yang tidak
terbayangkan sebelumnya.

Covey menggunakan analogi yang
kuat dari alam. Jika Anda
menanam satu tanaman saja,
tanah di sekitarnya akan terkikis.
Tetapi jika Anda menanam berbagai
jenis tanaman bersama-sama, akar
mereka akan saling mengikat dan
memperkuat tanah. Mereka tumbuh
lebih subur bersama daripada
sendirian. Itulah sinergi. Dalam
hubungan manusia, sinergi terjadi
ketika kita menghargai perbedaan,
bukan sekadar mentoleransinya.
Perbedaan dalam cara berpikir,
pengalaman, bakat, dan perspektif
bukanlah hambatan. Mereka adalah
aset yang sangat berharga.
Orang yang tidak matang secara
emosional sering kali merasa
terancam oleh perbedaan. Mereka
menginginkan semua orang untuk
berpikir seperti mereka, dan jika
tidak, mereka menganggapnya
sebagai ancaman. Ini adalah akar
dari prasangka dan konflik.

Sebaliknya, orang yang matang
melihat perbedaan sebagai peluang
untuk belajar dan menciptakan
sesuatu yang baru. Covey menyebut
ini sebagai 
menghargai
perbedaan
 (valuing the differences),
dan ia menyebutnya sebagai esensi
dari sinergi. Ketika Anda bertemu
dengan seseorang yang tidak setuju
dengan Anda, alih-alih langsung
membela diri atau mencoba
meyakinkan mereka, Anda bisa
berkata pada diri sendiri,
“Orang ini melihat dunia secara
berbeda dari saya. Pasti ada sesuatu
yang bisa saya pelajari darinya.”
Sikap ini membuka pintu menuju
kreativitas yang luar biasa.

Untuk mencapai sinergi, Anda
membutuhkan semua kebiasaan
sebelumnya. Anda harus proaktif
untuk mengambil inisiatif
menciptakan solusi baru.
Anda harus memiliki visi yang jelas
tentang tujuan akhir. Anda harus
mendahulukan yang utama agar
punya waktu untuk dialog kreatif.
Anda harus memiliki mentalitas
Menang-Menang untuk percaya
bahwa solusi yang lebih baik itu
mungkin. Dan yang paling penting,
Anda harus menggunakan
keterampilan mendengarkan
empatik dari Kebiasaan 5 untuk
benar-benar memahami perspektif
orang lain sebelum Anda
menyampaikan perspektif Anda
sendiri. Ketika semua ini
digabungkan, sinergi menjadi
mungkin.

Covey menceritakan sebuah kisah
klasik untuk menggambarkan
perbedaan antara kompromi dan
sinergi. Bayangkan sebuah keluarga
yang sedang merencanakan liburan.
Sang suami ingin pergi ke danau
untuk memancing. Sang istri ingin
pergi ke kota besar untuk berbelanja
dan menikmati hiburan. Mereka
bisa berkompromi: memilih setengah
waktu di danau dan setengah waktu
di kota. Itu adalah kompromi 1 + 1
= 1,5. Sang suami tidak akan
benar-benar menikmati waktunya
di kota, dan sang istri tidak akan
benar-benar menikmati waktunya
di danau.

Tetapi bagaimana jika mereka
mencari sinergi? Mereka duduk dan
benar-benar mendengarkan
kebutuhan terdalam satu sama lain.
Sang suami menjelaskan bahwa
kebutuhannya yang sebenarnya
bukanlah memancing, melainkan
ketenangan dan kedamaian jauh
dari kebisingan. Sang istri
menjelaskan bahwa kebutuhannya
yang sebenarnya bukanlah
berbelanja, melainkan stimulasi
dan kegembiraan dari keramaian.
Dengan pemahaman baru ini,
mereka mungkin menemukan solusi
ketiga yang tidak pernah terpikirkan
sebelumnya: sebuah resor
pegunungan yang tenang dengan
pemandangan indah, tetapi juga
memiliki pusat seni dan pertunjukan
yang ramai. Solusi ini tidak
memerlukan pengorbanan dari
kedua belah pihak. Ini adalah
1 + 1 = 3.

Sahabat, Kebiasaan 6 adalah
puncak dari semua kebiasaan
sebelumnya.

Contoh: Tim Pengembang Produk

Bayangkan sebuah perusahaan yang
sedang mengembangkan produk baru.
Dua orang ditugaskan untuk
memimpin proyek ini bersama-sama.
Rian adalah seorang desainer produk
yang sangat kreatif dan visioner.
Ia selalu berpikir tentang pengalaman
pengguna, keindahan, dan inovasi.
Maya adalah seorang insinyur yang
sangat analitis dan praktis. Ia selalu
berpikir tentang kelayakan teknis,
biaya produksi, dan efisiensi.

Pada suatu rapat, terjadi perdebatan
sengit. Rian mempresentasikan
desain produk terbarunya dengan
penuh semangat.
“Lihatlah lengkungan ini. Ini akan
terasa sangat nyaman di tangan
pengguna. Dan warna-warna ini
akan membuat produk kita
menonjol di rak toko.
Ini adalah desain yang berani.”

Maya menggelengkan kepalanya pelan.
Ia menatap desain itu dengan mata
teknis. “Rian, desain ini memang
indah. Tapi lengkungan yang kamu
buat ini tidak bisa diproduksi
dengan mesin yang kita punya.
Kita harus memesan cetakan khusus
yang biayanya tiga kali lipat.
Dan warnanya, untuk mendapatkan
warna-warna itu, kita harus memesan
bahan baku dari pemasok yang
berbeda. Ini akan membuat biaya
produksi membengkak.”

Rian merasa frustrasi. “Kamu selalu
bicara soal biaya. Produk kita tidak
akan laku jika tidak menarik secara
visual. Kita harus berani berinvestasi.”

Maya membalas, “Dan produk kita
tidak akan pernah diluncurkan jika
kita bangkrut duluan karena biaya
produksi yang tidak terkendali.
Kita harus realistis.”

Mereka berdua terdiam.
Suasana rapat menjadi tegang.

Pendekatan Kompromi

Jika mereka mengambil pendekatan
kompromi, mereka akan saling
mengorbankan sesuatu. Rian akan
mengurangi beberapa detail
desainnya. Maya akan menyetujui
satu atau dua warna yang sedikit
lebih mahal. Hasilnya adalah
produk yang cukup menarik tetapi
tidak istimewa, dengan biaya yang
cukup terkendali tetapi tetap lebih
mahal dari yang diinginkan.
Keduanya tidak benar-benar puas.
Mereka hanya sama-sama kalah
sedikit. Inilah 1 + 1 = 1,5.

Pendekatan Sinergi

Rian menarik napas dalam-dalam.
Ia ingat prinsip yang pernah ia baca:
berusaha mengerti dahulu, baru
dimengerti. Ia memutuskan untuk
mencoba pendekatan yang berbeda.

“Maya,” katanya dengan nada yang
lebih tenang, “tolong jelaskan
padaku lebih detail.
Kenapa lengkungan ini tidak bisa
diproduksi? Aku benar-benar
ingin mengerti kendalanya.”

Maya, yang biasanya bersiap untuk
berdebat, sedikit terkejut.
Ia menjelaskan dengan rinci tentang
keterbatasan mesin cetak yang
mereka miliki. Ia bahkan menggambar
sketsa teknis untuk menunjukkan
titik-titik di mana desain Rian akan
gagal dalam proses produksi.
Rian mendengarkan dengan saksama.
Ia tidak menyela. Ia tidak menyusun
argumen balasan. Ia benar-benar
mencoba memahami dunia dari
sudut pandang Maya.

Setelah Maya selesai, giliran Rian
yang berbicara. “Terima kasih sudah
menjelaskan. Aku sekarang
mengerti kendalanya. Bisakah aku
sekarang menjelaskan mengapa
lengkungan dan warna-warna ini
sangat penting bagiku?”

Maya mengangguk. Rian kemudian
bercerita tentang riset pengguna
yang telah ia lakukan.
Ia menunjukkan video wawancara
dengan calon pelanggan.
“Lihatlah wajah mereka saat mereka
memegang produk dengan
lengkungan seperti ini. Mereka
merasa dihargai. Mereka merasa
produk ini dibuat khusus untuk
mereka. Perasaan itu tidak bisa
diciptakan oleh desain yang
biasa-biasa saja.”

Maya menonton video itu dengan
saksama. Untuk pertama kalinya,
ia tidak hanya melihat biaya dan
mesin. Ia melihat manusia
di balik produk itu.

Setelah keduanya benar-benar
memahami kebutuhan satu sama lain,
sesuatu yang luar biasa terjadi. Maya
berkata, “Bagaimana kalau kita tidak
menggunakan mesin cetak biasa,
tetapi menggunakan teknik cetak
yang berbeda?
Ada teknologi baru yang
memungkinkan kita membuat
lengkungan seperti ini tanpa
cetakan khusus yang mahal.”

Rian terkejut.
“Aku tidak tahu itu ada.”

Maya tersenyum. “Karena biasanya
aku tidak menceritakan detail teknis
kepada para desainer. Aku pikir
kalian tidak tertarik.”

Rian kemudian menambahkan,
“Dan untuk warnanya, bagaimana
kalau kita tidak menggunakan
semua warna-warna ini di setiap
produk? Kita bisa membuat tiga
varian warna yang berbeda.
Masing-masing varian menggunakan
satu warna yang berani, dipadukan
dengan warna netral yang lebih
murah. Dengan begitu, kita tetap
bisa menonjol di rak toko, tetapi
biaya bahan bakunya tidak
membengkak.”

Maya berpikir sejenak. “Itu ide yang
brilian. Aku bisa mengatur
produksinya.”

Mereka berdua terdiam lagi, tetapi kali
ini bukan karena ketegangan. Mereka
terdiam karena mereka berdua
menyadari bahwa mereka baru saja
menciptakan sesuatu yang baru,
sesuatu yang tidak mungkin muncul
dari pikiran Rian sendirian atau
Maya sendirian. Desain akhir mereka
tetap mempertahankan lengkungan
indah yang membuat pengguna
merasa dihargai. Biaya produksinya
tetap terkendali karena mereka
menggunakan teknik cetak yang
berbeda. Warnanya tetap menarik,
tetapi dengan cara yang lebih efisien.

Inilah sinergi. Rian dan Maya tidak
saling mengorbankan. Mereka tidak
berkompromi. Mereka menciptakan
solusi ketiga yang jauh lebih baik
daripada solusi awal mereka
masing-masing. Itulah 1 + 1 = 10.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kita lanjut ngobrolin
The 7 Habits. Ini dia puncak dari
Kemenangan Publik. Setelah lo
nguatin fondasi dengan pola pikir
Menang-Menang dan komunikasi
empatik, Stephen R. Covey ngenalin
kebiasaan yang jadi hasil akhir dari
semuanya. 
Kebiasaan 6:
Wujudkan Sinergi
.

Covey ngartiin sinergi sebagai
kerjasama kreatif. Intinya, gabungan
kita itu lebih gede dari cuma
nambahin bagian-bagiannya.
Ini momen ajaib dalam interaksi
manusia, pas dua orang atau lebih,
yang mungkin punya sudut pandang
yang beda banget, bersatu dan
nyiptain sesuatu yang GAK MUNGKIN
bisa diciptain sendirian oleh salah satu
dari mereka. Ini bukan cuma kerja
bareng atau kompromi. Kompromi itu
1 + 1 = 1,5. Dua-duanya ngorbanin
sesuatu, dan gak ada yang beneran
puas. Sinergi adalah 1 + 1 = 3, 8, atau
bahkan seratus. Ini penciptaan solusi
yang sama sekali baru, solusi yang
gak kebayang sebelumnya.

Covey pake analogi keren dari alam.
Kalo lo cuma nanam satu jenis
tanaman doang, tanah di sekitarnya
bakal gampang erosi. Tapi kalo lo
nanam berbagai jenis tanaman
bareng-bareng, akar-akar mereka
bakal saling ngiket dan nguatin
tanah. Mereka tumbuh lebih subur
bareng-bareng daripada sendirian.
Nah, itulah sinergi. Di hubungan
manusia, sinergi terjadi pas kita
MENGHARGAI PERBEDAAN,
bukan cuma mentoleransi.
Perbedaan dalam cara berpikir,
pengalaman, bakat, dan perspektif
itu bukan hambatan. Itu adalah
ASET yang super berharga.

Orang yang gak matang secara
emosional sering ngerasa terancam
sama perbedaan. Mereka pengen
semua orang mikir kayak dia.
Kalo beda, dianggep ancaman.
Ini akar dari prasangka dan konflik.
Sebaliknya, orang yang dewasa
ngeliat perbedaan sebagai
KESEMPATAN buat belajar dan
nyiptain sesuatu yang baru.
Covey nyebut ini
“menghargai perbedaan”, dan dia
bilang ini adalah esensi dari
sinergi. Pas lo ketemu sama orang
yang gak setuju sama lo, daripada
lo langsung pasang kuda-kuda
atau maksa mereka, lo bisa
ngomong ke diri sendiri,
“Orang ini ngeliat dunia secara beda
dari gue. Pasti ada sesuatu yang bisa
gue pelajari dari dia.” Sikap kayak
gini ngebuka pintu menuju
kreativitas yang luar biasa.

Nah, buat mencapai sinergi, lo butuh
SEMUA kebiasaan sebelumnya.
Lo harus proaktif buat ambil inisiatif
nyiptain solusi baru. Lo harus punya
visi yang jelas tentang tujuan akhir.
Lo harus mendahulukan yang utama
biar punya waktu buat dialog kreatif.
Lo harus punya mentalitas
Menang-Menang buat percaya kalo
solusi yang lebih baik itu mungkin.
Dan yang paling penting, lo harus
pake skill mendengarkan empatik
dari Kebiasaan 5 buat bener-bener
paham perspektif orang lain sebelum
lo nyampein perspektif lo sendiri.
Pas semua ini digabung, sinergi jadi
mungkin.

Covey cerita kisah klasik buat
ngegambarin bedanya kompromi dan
sinergi. Bayangin sebuah keluarga
yang lagi rencanain liburan.
Si suami ngotot pengen ke danau
buat mancing. Si istri ngotot pengen
ke kota besar buat belanja dan
nikmatin hiburan. Mereka bisa
kompromi: milih setengah waktu
di danau, setengah waktu di kota.
Itu kompromi 1+1 = 1,5. Si suami
gak bakal beneran nikmatin
waktunya di kota, dan si istri juga
gak bakal beneran nikmatin
waktunya di danau.

Tapi gimana kalo mereka nyari
SINERGI? Mereka duduk dan
bener-bener dengerin kebutuhan
terdalam masing-masing. Si suami
jelasin, kebutuhannya yang
sebenarnya bukan mancing,
melainkan KETENANGAN dan
KEDAMAIAN jauh dari kebisingan.
Si istri jelasin, kebutuhannya yang
sebenarnya bukan belanja,
melainkan STIMULASI dan
KEGEMBIRAAN dari keramaian.
Dengan pemahaman baru ini,
mereka mungkin nemuin solusi
ketiga yang gak pernah terpikirkan
sebelumnya: sebuah resor
pegunungan yang tenang dengan
pemandangan indah, tapi juga
punya pusat seni dan pertunjukan
yang ramai. Solusi ini gak perlu
ada yang ngorbanin keinginan.
Dua-duanya dapet. Ini baru 1+1=3.

Jadi, Kebiasaan 6 ini adalah puncak
dari semua kebiasaan sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *