buku

Bagian 6: Temukan WHY

Sahabat, kita tiba di bagian terakhir
dari buku 
Start with Why. Setelah
memahami bagaimana organisasi
kehilangan arah di tengah
kesuksesan, Simon Sinek menutup
bukunya dengan bagian yang paling
personal dan paling penting:
bagaimana menemukan WHY.
Bagian ini berjudul “Temukan
WHY” (Discover WHY).

Bagian 6: Temukan WHY

Bab 13: Asal-usul Sebuah
WHY

Simon Sinek menegaskan bahwa
WHY bukanlah sesuatu yang bisa
diciptakan di atas papan tulis oleh
tim pemasaran. WHY bukanlah slogan
yang bisa disusun dalam sebuah rapat
brainstorming. WHY adalah sesuatu
yang harus ditemukan kembali.
Ia sudah ada di dalam diri Anda,
tertanam dalam cerita-cerita yang
membentuk Anda menjadi siapa Anda
hari ini. WHY berasal dari masa lalu,
sering kali dari kisah pribadi sang
pendiri atau pengalaman-pengalaman
awal yang membentuk keyakinan
fundamental mereka.

Sinek menawarkan sebuah latihan
untuk menemukan WHY. Latihan ini
bukanlah tentang melihat ke depan,
melainkan melihat ke belakang.
Ia meminta kita untuk menggali
cerita-cerita yang paling membentuk
keyakinan kita. Pikirkan
momen-momen dalam hidup Anda
ketika Anda merasa paling hidup,
paling bersemangat, atau paling
terluka. Cerita-cerita ini biasanya
memiliki tema yang berulang,
sebuah benang merah yang
menghubungkan semuanya.
Benang merah itulah yang mengarah
pada WHY Anda.

WHY bukanlah target pasar. Bukan
pula diferensiasi produk. WHY adalah
keyakinan fundamental, alasan
mengapa Anda bangun dari tempat
tidur di pagi hari dan melakukan apa
yang Anda lakukan. Ini adalah
kontribusi unik yang hanya bisa Anda
berikan kepada dunia. Menemukan
WHY adalah pekerjaan yang
membutuhkan kejujuran dan
introspeksi. Tetapi begitu ditemukan,
WHY itu menjadi kompas yang tidak
akan pernah menyesatkan Anda.

Bab 14: Persaingan Baru

Di bab terakhir ini, Simon Sinek
mendefinisikan ulang apa artinya
bersaing. Jika Anda memulai
dengan WHY, maka persaingan
Anda berubah secara fundamental.
Pesaing Anda bukan lagi
perusahaan lain yang menjual
produk serupa. Pesaing Anda
adalah segala hal yang mengalihkan
orang dari keyakinan Anda. Lawan
sejati Anda adalah ketidakpedulian,
atau status quo (kebiasaan lama)
yang ingin mempertahankan
keadaan seperti sekarang.

Ini adalah perubahan perspektif
yang sangat besar. Ketika Anda
berkompetisi melawan perusahaan
lain, Anda terjebak dalam
perbandingan fitur, harga, dan
pangsa pasar. Tetapi ketika Anda
berkompetisi melawan
ketidakpedulian, Anda tidak perlu
menghancurkan pesaing. Anda
hanya perlu terus-menerus
menginspirasi mereka yang
berbagi keyakinan dengan Anda.

Ketika semua tindakan Anda selaras
dengan WHY, Anda menang bukan
dengan mengalahkan lawan,
melainkan dengan memperkuat
komunitas yang percaya. Komunitas
yang percaya itu sendiri yang akan
menjadi pertahanan terkuat dan
mesin pertumbuhan paling ampuh.
Mereka akan membela Anda,
merekomendasikan Anda, dan tetap
setia kepada Anda, bukan karena
harga atau fitur, tetapi karena
keyakinan yang Anda bagikan.

Buku ini ditutup dengan sebuah
ajakan yang kuat: temukan WHY
Anda, jalani dengan disiplin, dan
mulailah menginspirasi. Dunia ini
penuh dengan orang-orang yang
tahu WHAT yang mereka lakukan.
Dunia ini membutuhkan lebih
banyak orang yang tahu WHY
mereka melakukannya.

Sahabat, selesailah perjalanan kita
menyusuri seluruh isi buku
Start with Why karya Simon
Sinek. Dari dunia yang tidak
berawal dari WHY, keajaiban Golden
Circle yang selaras dengan biologi
manusia, kekuatan kepercayaan
dan titik balik, sinergi antara WHY
dan HOW, bahaya kesuksesan,
hingga cara menemukan WHY. 

Contoh Kasus: Temukan WHY

Kasus 1 (Bab 13): Asal-usul
WHY TOMS Shoes

Pada tahun 2006, seorang
pengusaha muda asal Texas bernama
Blake Mycoskie sedang berlibur
di Argentina. Ia bukanlah seorang
aktivis atau filantropis yang mencari
misi hidup. Ia hanyalah seorang pria
yang sedang beristirahat setelah
menjual perusahaan pertamanya.
Di Argentina, ia bertemu dengan
para relawan yang sedang
membagikan sepatu kepada
anak-anak di desa-desa miskin.
Ia ikut serta, dan apa yang ia lihat
mengguncangnya. Anak-anak
di sana berjalan tanpa alas kaki
di tanah yang keras, terkena luka,
infeksi, dan penyakit yang
sebenarnya bisa dicegah hanya
dengan sepasang sepatu. Banyak
dari mereka tidak bisa pergi
ke sekolah karena peraturan
sekolah mewajibkan siswanya
memakai sepatu.

Mycoskie tidak langsung berpikir,
“Aku harus membuat bisnis sepatu.”
Ia hanya merasa bahwa ia harus
melakukan sesuatu. Di sinilah
WHY-nya mulai terbentuk,
bukan dari analisis pasar atau
strategi bisnis, melainkan dari
pengalaman pribadi yang
menyentuh hatinya. Ia kembali
ke Amerika dengan sebuah ide
sederhana: menciptakan
perusahaan sepatu yang untuk
setiap pasang sepatu yang terjual,
satu pasang sepatu akan diberikan
kepada anak yang membutuhkan.
Ini bukanlah strategi pemasaran.
Ini adalah keyakinan fundamental
bahwa bisnis bisa menjadi alat
untuk mengubah hidup.
Ia menamainya TOMS Shoes,
kependekan dari “Shoes for
Tomorrow” (Sepatu untuk
Hari Esok).

TOMS tidak dimulai dengan WHAT,
yaitu “kami membuat sepatu yang
nyaman.” TOMS dimulai dengan
WHY: “kami percaya bahwa setiap
anak berhak mendapatkan sepatu,
dan kami akan menggunakan
kekuatan bisnis untuk
mewujudkannya.” WHY ini bukanlah
sesuatu yang diciptakan oleh tim
pemasaran. Ia adalah sesuatu yang
ditemukan oleh Mycoskie dalam
perjalanannya ke Argentina.
Ia muncul dari pengalaman nyata
yang membentuk keyakinannya.

Kasus 2 (Bab 14): Patagonia
dan Persaingan Melawan
Ketidakpedulian

Kita telah membahas Patagonia
sebelumnya, tetapi sekarang mari
kita lihat dari sudut pandang
Bab 14. Siapakah pesaing Patagonia?
Jika Anda bertanya kepada analis
bisnis konvensional, mereka akan
menyebutkan The North Face,
Columbia, atau Arc’teryx. Mereka
akan membandingkan harga,
teknologi kain, dan pangsa pasar.
Tetapi Patagonia tidak melihat
persaingan seperti itu. Karena
mereka memulai dengan WHY,
persaingan mereka berubah secara
fundamental. Pesaing Patagonia
bukanlah perusahaan lain yang
menjual jaket. Pesaing Patagonia
adalah ketidakpedulian terhadap
krisis lingkungan. Lawan sejati
mereka adalah status quo yang
mengatakan bahwa bisnis tidak bisa
menjadi kekuatan untuk kebaikan.
Lawan mereka adalah budaya
konsumerisme yang mendorong
orang untuk membeli lebih banyak
barang yang tidak mereka butuhkan.

Dengan WHY yang jelas, Patagonia
tidak perlu menghancurkan
The North Face. Mereka tidak
perlu memenangkan perang harga.
Mereka hanya perlu terus-menerus
memperkuat komunitas yang
percaya pada keyakinan yang sama.
Ketika mereka memasang iklan
“Don’t Buy This Jacket”
(Jangan Beli Jaket Ini), mereka tidak
sedang bersaing dengan Columbia.
Mereka sedang melawan
ketidakpedulian. Mereka sedang
menginspirasi orang untuk peduli
pada planet ini.

Ketika Patagonia menuntut
pemerintah Amerika Serikat untuk
melindungi monumen nasional
Bears Ears, mereka tidak sedang
bersaing dengan Arc’teryx. Mereka
sedang melawan status quo yang
ingin mengeksploitasi alam demi
keuntungan. Ketika semua
tindakan selaras dengan WHY,
Patagonia menang bukan dengan
mengalahkan pesaing, melainkan
dengan memperkuat komunitas
yang percaya. Dan komunitas itu
akan membela Patagonia,
merekomendasikannya, dan tetap
setia, bukan karena harga atau
fitur, tetapi karena keyakinan
yang mereka bagikan.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kita udah sampe di ujung
perjalanan ngulik 
Start with Why.
Setelah ngeliat gimana kesuksesan
bisa bikin lo terlena dan kehilangan
arah, sekarang Simon Sinek nutup
bukunya dengan bagian yang paling
personal dan paling penting:
Gimana Caranya Lo Nemuin
WHY Lo Sendiri
. Dia nyebutnya
Discover WHY.

Bab 13: WHY Lo Itu Sebenernya
Udah Ada Dari Dulu

Simon Sinek nekanin satu hal penting
banget: WHY itu BUKAN sesuatu
yang bisa lo ciptain di papan tulis.
WHY bukan slogan keren hasil
brainstorming tim marketing
semaleman suntuk. WHY adalah
sesuatu yang harus lo TEMUKAN
LAGI. Dia udah ada di dalem diri lo,
tertanam dalem cerita-cerita yang
ngebentuk lo jadi siapa lo hari ini.
WHY lo itu asalnya dari masa lalu.
Seringkali dari kisah pribadi lo
sendiri, atau pengalaman-pengalaman
awal yang ngebentuk keyakinan
fundamental lo.

Nah, Sinek ngasih semacam latihan
buat nemuin WHY. Ini bukan latihan
ngeliat ke depan, tapi justru
NGELIAT KE BELAKANG.
Dia nyuruh lo gali lagi cerita-cerita
yang paling ngebentuk keyakinan lo.
Pikirin momen-momen dalam hidup
lo ketika lo ngerasa paling HIDUP,
paling BERSEMANGAT, atau justru
paling TERLUKA. Cerita-cerita ini
biasanya punya TEMA YANG
BERULANG, kayak benang merah
yang nyambungin semuanya. Nah,
benang merah itulah yang ngarah
ke WHY lo.

WHY lo itu bukan target pasar.
Bukan juga diferensiasi produk.
WHY adalah KEYAKINAN
FUNDAMENTAL, alasan kenapa
lo bangun dari tempat tidur tiap
pagi dan ngelakuin apa yang lo
lakuin. Ini adalah kontribusi unik
yang CUMA LO yang bisa kasih
ke dunia. Nemuin WHY memang
butuh kejujuran dan introspeksi
dalem. Tapi begitu lo nemuin,
WHY itu bakal jadi kompas yang
gak akan pernah ngecewain lo.

Bab 14: Lawan Lo yang
Sebenernya Bukan
Perusahaan Sebelah

Di bab pamungkas ini, Simon Sinek
ngasih definisi ulang soal persaingan.
Kalo lo mulai dari WHY, siapa sih
lawan lo sebenernya? Berubah total.
Pesaing lo BUKAN lagi perusahaan
lain yang jualan produk serupa.
Pesaing lo adalah SEGALA HAL yang
ngalihin perhatian orang dari
keyakinan lo. Lawan sejati lo adalah
KETIDAKPEDULIAN. Atau STATUS
QUO yang pengen tetep
mempertahankan keadaan sekarang.

Ini perubahan perspektif yang gede
banget, gaes. Kalo lo nganggep
lawan lo adalah perusahaan lain,
lo bakal terjebak main perbandingan
fitur, harga, dan rebutan pangsa
pasar. Itu permainan yang
melelahkan. Tapi kalo lo nganggep
lawan lo adalah ketidakpedulian,
lo gak perlu nghancurin pesaing.
Lo cuma perlu terus-terusan
MENGINSPIRASI orang-orang yang
emang udah punya keyakinan yang
sama kayak lo.

Pas semua tindakan lo selaras sama
WHY lo, lo menang bukan dengan
ngalahin lawan, tapi dengan
NGELUATIN KOMUNITAS yang
percaya. Komunitas yang percaya
inilah yang bakal jadi pertahanan
terkuat lo, dan mesin pertumbuhan
paling ampuh. Mereka yang bakal
ngebela lo, ngerekomendasiin lo
ke orang lain, dan tetep setia sama
lo. Bukan karena harga atau fitur,
tapi karena KEYAKINAN yang lo
bagikan bareng-bareng.

Buku ini akhirnya ditutup dengan
ajakan yang nendang: 
Temuin
WHY lo, jalanin dengan
disiplin, dan mulailah
menginspirasi.
 Dunia ini udah
penuh banget sama orang-orang
yang tau WHAT yang mereka
lakuin. Tapi dunia ini butuh lebih
banyak orang yang tau WHY
mereka ngelakuinnya.

Gaes, selesai sudah perjalanan
kita membedah
Start with Why
 dari awal sampe akhir. Dari
dunia yang rapuh karena
manipulasi, Golden Circle yang
selaras sama otak, kekuatan
kepercayaan, sinergi WHY dan
HOW, bahaya mabuk kesuksesan,
sampe cara nemuin WHY. 

Contoh:

Ada seorang pengusaha sukses
bernama Tania. Dia founder sebuah
brand skincare yang lagi hype banget.
Tapi di balik semua kesuksesannya,
Tania ngerasa ada yang kosong.
Setiap pagi dia tetep semangat, tapi
dia sadar, dia udah gak tau lagi kenapa
dia ngelakuin ini semua. WHY-nya
udah ilang ketutup sama laporan
penjualan, ekspansi pasar, dan
tekanan investor.

Suatu hari, Tania mutusin buat ambil
cuti panjang. Dia ninggalin semua
urusan operasional ke timnya.
Dia pergi ke rumah masa kecilnya
di kota kecil yang tenang. Di sana,
dia nemuin buku harian lamanya
dari jaman SMA. Isinya curhatan
masa muda. Dia baca ulang. Dan
di situlah dia nemuin cerita yang
udah lama dia lupakan.

Waktu SMA, Tania punya sahabat
karib, namanya Santi. Santi ini
punya kulit yang sensitif banget.
Jerawatnya parah. Setiap hari,
Santi di-bully di sekolah. Dicap
jelek, kucel, gak terawat. Tania
yang ngeliat itu cuma bisa diem,
tapi hatinya sakit banget.
Suatu hari, Santi gak masuk sekolah
seminggu. Tania nyamperin
rumahnya. Di sana dia liat Santi
nangis di kamar, ngaku males
hidup karena ngerasa jelek terus.

Tania kecil gak bisa ngapa-ngapain.
Dia cuma bisa meluk Santi sambil
bilang, “Lo tuh cantik. Mereka aja
yang gak ngeliat.” Tapi Santi gak
percaya.

Beberapa tahun kemudian, Santi
meninggal. Bukan karena sakit, tapi
karena bunuh diri. Tania hancur.
Di buku hariannya, dia nulis:
“Gue gak akan biarin ada orang lain
yang ngerasa sejelek Santi.
Gue harus bikin sesuatu yang bikin
orang ngerasa dihargai. Dilihat.
Dicintai.”

Nah, pas Tania baca ulang tulisan
itu, dadanya langsung sesak.
Air matanya netes. Dia sadar, INI
DIA WHY-nya. Kenapa dia dulu
bikin brand skincare? Bukan buat
jualan serum atau pelembab. Tapi
karena dia percaya setiap orang
berhak ngerasa cantik dan dihargai.
Produknya cuma alat. WHAT-nya.

Setelah nemuin lagi WHY itu, Tania
langsung balik ke kantor. Tapi ada
satu masalah gede: produk
terbarunya lagi viral banget.
Serum anti-aging. Tapi Tania baru
sadar, strategi pemasarannya selama
ini keliru total. Iklannya penuh
dengan kalimat yang malah bikin
orang insecure. “Takut keriput?
Coba serum ini.” “Jangan sampe
keliatan tua!” Itu semua manipulasi.

Tania langsung ngumpulin tim
marketing. “Kita harus ubah semua
strategi kita. Tagline ini gak sesuai
sama WHY kita.” Timnya kaget.
“Tapi, Bos, ini lagi viral! Penjualan
kita naik tiga ratus persen!”

Tania tegas. “Gue gak peduli. WHY
kita adalah bikin orang ngerasa
dihargai, bukan nakut-nakutin
mereka. Apa kita mau untung gede
tapi bikin orang makin insecure
kayak Santi dulu? Gue gak mau.
Stop. Kita ubah.”

Mereka ubah total kampanyenya.
Alih-alih ngomongin rasa takut
keriput, mereka bikin kampanye
baru: “Lo Cantik Di Setiap Usia.”
Isinya foto-foto pelanggan dari
berbagai umur, lengkap sama cerita
mereka. Serumnya tetep dijual, tapi
pesannya beda banget.

Beberapa bulan kemudian, Tania
dapet email. Isinya dari seorang
pelanggan. Bunyinya gini:
“Mbak, gue udah lama insecure
sama kulit gue. Tapi sejak liat
kampanye lo, gue ngerasa dilihat.
Gue ngerasa cantik, apa adanya.
Makasih.” Tania nangis baca email
itu. Dia sadar, INI kenapa dia
ngelakuin ini semua.

Di titik ini, Tania juga sadar siapa
lawan sebenernya. Dulu dia pikir
lawannya adalah brand skincare lain.
Tapi sekarang dia ngerti, lawannya
adalah KETIDAKPEDULIAN.
Ketidakpedulian yang bikin Santi
dulu ngerasa sendirian.
Ketidakpedulian yang bikin orang
ngerasa gak berharga.

Jadi, dia berhenti fokus sama
kompetitor. Dia fokus ngembangin
komunitas yang percaya sama
WHY dia. Pelanggannya bukan
cuma pembeli, tapi jadi keluarga.
Mereka yang punya cerita mirip
Santi, bergabung. Brand Tania
jadi gerakan.

Itulah kenapa Tania gak pernah
tersesat lagi. Dia udah nemuin
WHY-nya. WHY yang lahir dari
luka, dari kenangan masa lalu,
dari seorang sahabat bernama
Santi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *