buku

Di Luar Air: Otak, Pikiran, dan Etika

Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 5 dan
Bab 6 dari bukuĀ 
Soul of an
Octopus
. Setelah menjelajahi alam
liar dan menyaksikan kecerdasan
gurita di habitat aslinya,
Sy Montgomery kini menyelami aspek
yang lebih dalam: otak, pikiran, dan
pertanyaan etis yang muncul dari
semua yang telah ia pelajari.
Kemudian, ia menutup buku ini
dengan refleksi filosofis tentang jiwa,
koneksi, dan kehilangan.

Bab 5: Di Luar Air:
Otak, Pikiran, dan Etika

Setelah bertahun-tahun menjalin
hubungan emosional dengan gurita
di akuarium dan menyaksikan
kecerdasan mereka di alam liar,
Sy Montgomery merasa perlu untuk
melangkah lebih jauh. Ia tidak hanya
ingin merasakan, tetapi juga ingin
memahami. Bagaimana mungkin
makhluk yang begitu berbeda dari
kita bisa begitu cerdas, begitu ingin
tahu, dan begitu mampu membentuk
ikatan? Untuk menjawab pertanyaan
ini, Montgomery melakukan
perjalanan ke Seattle Aquarium, salah
satu pusat penelitian cephalopoda
terkemuka di dunia, untuk berbicara
dengan para ilmuwan dan filsuf yang
mendedikasikan hidup mereka untuk
mempelajari pikiran gurita.

Bab ini membawa kita menyelami
neurobiologi gurita yang benar-benar
unik. Seperti yang telah disinggung
sebelumnya, gurita memiliki sistem
saraf yang terdistribusi. Ini bukan
sekadar detail anatomi yang menarik.
Ini adalah kunci untuk memahami
bagaimana mereka berpikir dan
merasakan. Pada manusia, sebagian
besar neuron kita terkonsentrasi
di otak, di dalam tengkorak kita.
Kita adalah makhluk dengan otak
yang sangat tersentralisasi. Gurita
mengambil pendekatan yang sama
sekali berbeda. Dari sekitar lima
ratus juta neuron yang dimiliki oleh
seekor gurita, hanya sekitar
sepertiganya yang berada di otak
pusat. Sisanya, sekitar dua pertiga,
tersebar di delapan lengannya.

Apa artinya ini? Ini berarti bahwa
setiap lengan gurita memiliki
“pikiran” sendiri. Mereka bisa
merasakan, mencium, dan bergerak
secara independen, tanpa harus
berkonsultasi dengan otak pusat.
Para peneliti telah melakukan
eksperimen yang menunjukkan
bahwa lengan gurita yang terputus
masih bisa merespons rangsangan,
menarik diri dari rasa sakit, dan
bahkan meraih makanan. Bayangkan
jika tanganmu memiliki otaknya
sendiri, bisa berpikir dan bertindak
secara mandiri, bahkan ketika
terpisah dari tubuhmu. Itulah realitas
sehari-hari bagi seekor gurita.

Para ilmuwan yang ditemui
Montgomery menjelaskan bahwa otak
gurita lebih mirip dengan otak siput
atau kerang, moluska lain yang
menjadi kerabat evolusioner mereka.
Tetapi jangan tertipu oleh
perbandingan ini. Dari otak moluska
yang sederhana itu, evolusi telah
menciptakan sesuatu yang luar biasa
kompleks. Gurita memiliki lobus optik
yang sangat maju, memungkinkan
mereka memproses informasi visual
dengan ketajaman yang menyaingi
vertebrata. Mereka memiliki area
yang didedikasikan untuk belajar dan
memori. Mereka bahkan menunjukkan
pola tidur yang mirip dengan mamalia,
lengkap dengan fase tidur REM yang
oleh beberapa ilmuwan diyakini
sebagai tanda bahwa mereka bermimpi.

Semua informasi ini membawa
Montgomery pada sebuah pertanyaan
etis yang sangat mengganggu.
Jika gurita begitu pintar, begitu
emosional, dan begitu sadar,
bagaimana kita membenarkan cara
kita memperlakukan mereka?
Bagaimana kita membenarkan
menangkap mereka dari alam liar
dan mengurung mereka di akuarium?
Bagaimana kita membenarkan
memakannya, sering kali dengan
cara yang kejam, seperti memotongnya
hidup-hidup atau merebusnya?
Montgomery tidak memberikan
jawaban yang mudah, karena memang
tidak ada. Tetapi ia memaksa
pembacanya untuk menghadapi
ketidaknyamanan ini.

Pertanyaan tentang hak-hak hewan
dan kesejahteraan gurita
di penangkaran menjadi sorotan tajam
di bab ini. Montgomery berbicara
dengan para aktivis yang berpendapat
bahwa gurita, dengan kecerdasan
mereka yang terbukti, seharusnya
dilindungi oleh undang-undang yang
sama yang melindungi primata dan
mamalia laut dari perlakuan kejam.
Mereka berpendapat bahwa
mengurung makhluk dengan otak
yang begitu kompleks di dalam tangki
kecil adalah bentuk penyiksaan
psikologis. Montgomery sendiri
bergulat dengan perasaannya sendiri.
Ia telah merasakan sendiri kedalaman
hubungan yang bisa dijalin dengan
gurita. Ia telah melihat kilatan
kecerdasan dan emosi di mata mereka.
Tetapi ia juga tahu bahwa akuarium
memainkan peran penting dalam
pendidikan dan konservasi,
membuka mata jutaan orang terhadap
keajaiban lautan yang tidak akan
pernah mereka lihat secara langsung.

Bab ini tidak berusaha untuk
menyelesaikan dilema ini. Sebaliknya,
ia meninggalkan kita dengan
pertanyaan yang menghantui:
jika kita suatu hari nanti benar-benar
membuktikan bahwa gurita memiliki
kesadaran, apakah kita akan berani
mengubah perilaku kita terhadap
mereka? Atau akankah kita, seperti
yang sering kita lakukan, memilih
untuk mengabaikan kebenaran yang
tidak nyaman demi selera dan
kenyamanan kita sendiri?

Bab 6: Jiwa Gurita: Koneksi
Terdalam dan Perpisahan

Bab penutup ini adalah puncak
reflektif dari seluruh perjalanan
Sy Montgomery. Setelah
bertahun-tahun menyelami dunia
gurita, dari akuarium hingga lautan
lepas, Montgomery melakukan satu
perjalanan terakhir yang akan
menjadi momen paling transenden
dalam bukunya. Kali ini, ia pergi
ke perairan lepas pantai Meksiko,
untuk menyelam dan berenang
bersama gurita liar yang belum
pernah berinteraksi dengan manusia.

Di kedalaman yang sunyi, dikelilingi
oleh warna biru yang tak terbatas,
Montgomery menemukan apa yang
ia cari. Seekor gurita liar melihatnya
dari kejauhan. Tidak ada dinding
kaca yang memisahkan mereka.
Tidak ada penjaga akuarium yang
mengawasi. Hanya ada lautan bebas,
dan dua makhluk dari spesies yang
berbeda, saling memandang. Lalu,
atas kemauannya sendiri, gurita itu
mendekat.

Montgomery menggambarkan momen
ini bukan sebagai pertemuan antara
ilmuwan dan subjek, atau antara
manusia dan hewan, tetapi sebagai
pertemuan antara dua jiwa.
Ia merasakan sentuhan lengan yang
sama seperti yang pernah ia rasakan
dari Athena, Oktavia, Kali, dan
Karma. Sentuhan yang lembut,
penuh rasa ingin tahu, dan sama
sekali tidak agresif. Di tengah luasnya
lautan, seekor makhluk bertubuh
lunak tanpa tulang telah memilih
untuk menghabiskan beberapa menit
berharganya untuk berinteraksi
dengannya. Bukan untuk makanan,
bukan untuk perlindungan, tetapi
hanya untuk terhubung.

Dari momen penyatuan yang singkat
namun intens inilah Montgomery
membangun argumen pamungkasnya.
Kata “jiwa” adalah kata yang sarat
makna, sering kali disediakan secara
eksklusif untuk manusia. Tetapi
Montgomery bertanya: jika jiwa
adalah kapasitas untuk hadir
sepenuhnya di dalam momen, untuk
merasakan emosi yang dalam, dan
untuk menjalin koneksi yang tulus
dengan makhluk lain, lalu apakah
gurita tidak memilikinya? Bukankah
Athena, yang dengan lembut
menyelidiki lengannya, menunjukkan
rasa ingin tahu yang merupakan ciri
dari pikiran yang hidup? Bukankah
Oktavia, yang dengan sukarela
menggenggam tangannya selama
berjam-jam, menunjukkan kapasitas
untuk kepercayaan dan persahabatan?

Montgomery tidak mengklaim bahwa
jiwa gurita sama dengan jiwa manusia.
Ia hanya berpendapat bahwa mereka
memiliki sesuatu, sebuah kehidupan
batin yang kaya, sebuah kesadaran
subjektif tentang dunia dan diri
mereka sendiri.

Buku ini ditutup dengan perenungan
tentang kefanaan, kehilangan, dan
keajaiban kesadaran. Semua gurita
yang dicintai Montgomery telah mati.
Umur mereka pendek, hanya tiga
sampai lima tahun, sebuah fakta
biologis yang kejam. Setiap perpisahan
adalah patah hati. Setiap kali seekor
gurita mati, ia tidak hanya kehilangan
hewan yang ia pelajari, tetapi seorang
teman, seorang individu dengan
kepribadian yang unik. Kesedihan ini,
tulis Montgomery, adalah harga yang
harus dibayar untuk cinta antarspesies.
Tapi itu adalah harga yang rela ia
bayar, lagi dan lagi.

Karena dalam setiap pertemuan
singkat itu, ia telah menemukan
keajaiban: bahwa di planet ini,
kita tidak sendirian. Bahwa kesadaran
bisa muncul dalam bentuk yang paling
tidak terduga, dalam makhluk
berlengan delapan, bertubuh lunak,
dan penuh kejutan. Dan bahwa lautan,
yang menutupi sebagian besar planet
kita, penuh dengan jiwa-jiwa yang
menunggu untuk ditemukan.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kita lanjut ke Bab 5 dan 6.
Setelah Montgomery puas ngeksplor
alam liar dan ngeliat langsung
kecerdasan gurita di rumah mereka
sendiri, sekarang dia nyemplung
lebih dalem lagi. Kali ini, dia mau
bongkar isi kepala mereka. Secara
harfiah. Gimana sih OTAK dan
PIKIRAN gurita bekerja? Terus,
pertanyaan etis yang bikin
merinding juga mulai muncul:
setelah tau semua ini, pantes gak
sih kita ngurung atau bahkan
MAKAN mereka? Lalu, dia nutup
buku ini dengan refleksi filosofis
tentang JIWA, KONEKSI, dan
KEHILANGAN.

Bab 5: Di Luar Air:
Otak, Pikiran, dan Etika

Setelah bertahun-tahun ngejalin
hubungan emosional sama gurita
di akuarium dan ngeliat sendiri
kejeniusan mereka di alam liar,
Montgomery ngerasa HARUS
ngelangkah lebih jauh. Dia gak cuma
pengen NGERASAIN, tapi juga
NGERTI. Gimana caranya makhluk
yang BEDA BANGET dari kita bisa
secerdas ini? Sekepo ini? Dan bisa
ngebentuk ikatan sedalem ini? Buat
jawab itu semua, dia terbang
ke Seattle Aquarium, salah satu pusat
penelitian cephalopoda paling top
di dunia. Di sana, dia ngobrol langsung
sama ilmuwan dan filsuf yang ngabisin
hidup mereka buat belajar PIKIRAN
GURITA.

Bab ini ngajak lo nyelam
ke NEUROBIOLOGI gurita yang
BENER-BENER UNIK. Ini bukan
sekadar detail anatomi yang cuma
bikin lo angkat bahu. Ini KUNCI buat
paham gimana mereka mikir dan
ngerasain. Di manusia, sebagian
besar neuron kita ngumpul di otak,
di dalem tempurung kepala.
Kita makhluk dengan otak yang amat
sangat tersentralisasi. Nah, gurita
ngambil jalan yang BENER-BENER
BEDA. Dari sekitar 500 JUTA
NEURON yang dimiliki seekor gurita,
cuma sekitar SEPERTIGANYA yang
di otak pusat. Sisanya? DUA PERTIGA
menyebar di DELAPAN LENGANNYA.

Ini artinya apa? Setiap lengan gurita
punya “PIKIRAN” SENDIRI. Mereka
bisa ngerasain, ngendus, dan gerak
secara MANDIRI. Tanpa harus
“nanya” dulu ke otak pusat.
Para peneliti bahkan udah bikin
eksperimen di mana LENGAN
GURITA YANG SUDAH PUTUS
masih bisa ngerespons rangsangan,
menarik diri dari rasa sakit, dan
bahkan MERAIH MAKANAN.
Bayangin kalo tangan lo punya
otaknya sendiri. Bisa mikir dan
bertindak sendiri, bahkan pas udah
lepas dari badan lo. Itulah realitas
sehari-hari buat gurita. Pikiran
mereka bukan cuma di kepala,
tapi di seluruh tubuh.

Para ilmuwan yang ditemui
Montgomery jelasin, otak gurita itu
sebenarnya lebih mirip sama otak
siput atau kerang. Kerabat moluska
mereka. Tapi JANGAN KETIPU.
Dari otak moluska sederhana itu,
evolusi udah nyiptain sesuatu yang
SUPER KOMPLEKS. Gurita punya
lobus optik yang SANGAT MAJU.
Bikin mereka bisa memproses info
visual setajam vertebrata. Mereka
juga punya area khusus buat
BELAJAR dan MEMORI. Bahkan,
mereka nunjukin POLA TIDUR yang
MIRIP MAMALIA. Lengkap dengan
fase tidur REM yang bikin beberapa
ilmuwan YAKIN kalo gurita itu
BERMIMPI. Mereka mungkin lagi
mimpi ngejar kepiting atau mimpi
ketemu penyelam aneh kayak
Montgomery.

Semua info ini bikin Montgomery
sampe ke pertanyaan etis yang
SUPER MENGGANGGU.
Kalo gurita sepintar ini, se-emosional
ini, dan se-sadar ini… gimana kita
NGEPENIN cara kita memperlakukan
mereka? Gimana kita ngebenarin
menangkap mereka dari alam liar
dan NGURUNG mereka di akuarium?
Gimana kita ngebenarin MAKAN
mereka, yang seringkali dengan cara
yang KEJAM? Kayak motong
hidup-hidup atau merebusnya?
Montgomery GAK NGASIH
JAWABAN GAMPANG. Karena
emang gak ada. Tapi dia MAKSA lo
sebagai pembaca buat ngadepin
KETIDAKNYAMANAN ini.

Pertanyaan soal HAK HEWAN dan
kesejahteraan gurita di penangkaran
jadi sorotan TAJEM di bab ini.
Montgomery ngobrol sama aktivis yang
berpendapat, gurita dengan
kecerdasannya yang terbukti,
HARUSNYA DILINDUNGI
undang-undang yang sama kayak
primata dan mamalia laut. Mereka
bilang, ngurung makhluk dengan
otak serumit itu di tangki kecil adalah
bentuk PENYIKSAAN PSIKOLOGIS.
Montgomery sendiri BERGULAT
sama perasaannya. Dia udah
ngerasain sendiri DALAMNYA
hubungan yang bisa dijalin sama
gurita. Dia udah ngeliat KILATAN
kecerdasan dan emosi di mata mereka.
Tapi dia juga tau, akuarium mainin
peran PENTING dalam pendidikan
dan konservasi. Ngebuka mata jutaan
orang soal keajaiban lautan yang gak
bakal bisa mereka liat langsung.

Bab ini gak nyoba nyelesein dilema itu.
Dia malah ninggalin lo dengan
pertanyaan menghantui: Kalo kita
suatu hari BENER-BENER BUKTIIN
kalo gurita punya KESADARAN, apa
kita bakal BERANI ngubah kelakuan
kita ke mereka? Atau, kayak yang
SERING kita lakuin, kita bakal milih
buat NGABAIIN kebenaran yang gak
nyaman, demi SELERA dan
KENYAMANAN kita sendiri?

Bab 6: Jiwa Gurita: Koneksi
Terdalam dan Perpisahan

Bab pamungkas ini adalah puncak
reflektif dari seluruh perjalanan
Sy Montgomery.
Setelah bertahun-tahun nyelam
ke dunia gurita, dari akuarium ampe
lautan lepas, Montgomery ngelakuin
SATU PERJALANAN TERAKHIR.
Perjalanan yang bakal jadi momen
paling TRANSENDEN di bukunya.
Kali ini, dia pergi ke perairan lepas
pantai Meksiko. Tujuannya:
NYELAM dan BERENANG bareng
gurita liar yang BELUM PERNAH
berinteraksi sama manusia.

Di kedalaman yang sunyi, dikelilingi
warna biru tak terbatas, Montgomery
nemuin apa yang dia cari.
Seekor gurita liar ngeliat dia dari
kejauhan. Gak ada dinding kaca yang
misahin. Gak ada penjaga akuarium
yang ngawasin. Cuma ada LAUTAN
BEBAS. Dan dua makhluk dari spesies
berbeda, saling PANDANG. Lalu,
ATAS KEMAUANNYA SENDIRI,
gurita itu MENDEKAT.

Montgomery ngegambarin momen
ini bukan sebagai pertemuan
ilmuwan dan subjek. Atau manusia
dan hewan. Tapi sebagai
PERTEMUAN ANTARA DUA JIWA.
Dia ngerasain sentuhan lengan yang
SAMA. Persis kayak yang dulu dia
rasain dari Athena, Oktavia, Kali,
dan Karma. Sentuhan LEMBUT.
Penuh RASA INGIN TAU. Dan
SAMA SEKALI GAK AGRESIF.
Di tengah luasnya lautan, seekor
makhluk bertubuh lunak tanpa
tulang, udah MILIH buat ngabisin
beberapa menit berharganya buat
BERINTERAKSI dengannya.
Bukan buat makanan. Bukan buat
perlindungan. Tapi murni buat
TERHUBUNG.

Dari momen penyatuan yang singkat
tapi intens ini, Montgomery
ngebangun ARGUMEN
PAMUNGKASNYA. Kata “JIWA”
itu sarat makna. Seringkali disediain
EKSKLUSIF cuma buat manusia.
Tapi Montgomery balik nanya:
Kalo jiwa itu kapasitas buat HADIR
SEPENUHNYA di dalam momen,
buat ngerasain EMOSI YANG
DALAM, dan buat ngejalin
KONEKSI TULUS sama makhluk
lain… apa gurita GAK PUNYA?
Bukankah Athena, yang dengan
lembut nyelidikin lengannya,
nunjukin RASA INGIN TAU yang
jadi ciri PIKIRAN YANG HIDUP?
Bukankah Oktavia, yang secara
sukarela genggam tangannya
berjam-jam, nunjukin KAPASITAS
buat KEPERCAYAAN dan
PERSAHABATAN?

Montgomery gak ngaku kalo jiwa
gurita SAMA persis kayak jiwa
manusia. Dia cuma berpendapat
kalo mereka PUNYA SESUATU.
Sebuah KEHIDUPAN BATIN YANG
KAYA. Sebuah KESADARAN
SUBJEKTIF tentang dunia dan diri
mereka sendiri.

Buku ini ditutup dengan perenungan
soal KEFANAAN, KEHILANGAN,
dan KEAJAIBAN KESADARAN.
Semua gurita yang dicintai
Montgomery udah MATI. Umur
mereka pendek banget, cuma tiga
sampe lima tahun. Fakta biologis
yang KEJAM. Setiap perpisahan
adalah PATAH HATI. Setiap kali
seekor gurita mati, dia gak cuma
kehilangan hewan yang dia pelajari.
Tapi SEORANG TEMAN. Seorang
individu dengan kepribadian UNIK.
Kesedihan ini, tulis Montgomery,
adalah HARGA yang harus dibayar
buat CINTA ANTARSPESIES. Tapi
itu harga yang RELA dia bayar.
LAGI dan LAGI.

Karena dalam setiap pertemuan
singkat itu, dia udah nemuin
KEAJAIBAN. Bahwa di planet ini,
KITA GAK SENDIRIAN. Bahwa
KESADARAN bisa muncul dalam
bentuk yang PALING GAK
TERDUGA. Dalam makhluk
berlengan delapan, bertubuh
lunak, dan PENUH KEJUTAN.
Dan bahwa lautan, yang nutupin
sebagian besar planet kita,
PENUH DENGAN JIWA-JIWA
yang menunggu buat DITEMUKAN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *