Kali: Bermain, Emosi, dan Kegembiraan
Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 3 dari
bukuĀ Soul of an Octopus. Setelah
kedekatan yang mendalam dengan
Oktavia, Sy Montgomery
diperkenalkan pada seekor gurita
yang sangat berbeda. Jika Oktavia
adalah sahabat yang tenang dan penuh
kepercayaan, maka gurita yang satu ini
adalah bola energi yang penuh rasa
ingin tahu. Namanya Kali.
Bab 3: Kali: Bermain, Emosi,
dan Kegembiraan
Sy Montgomery bertemu Kali
di akuarium yang sama, tetapi Kali
bukanlah gurita raksasa Pasifik seperti
Athena dan Oktavia. Kali adalah
spesies yang berbeda, seekor gurita
muda yang jauh lebih kecil, lebih
lincah, dan lebih energik. Jika Oktavia
mengajarkan Montgomery tentang
kepercayaan, maka Kali akan
mengajarinya tentang kegembiraan.
Sejak pertemuan pertama,
Montgomery menyadari bahwa Kali
memiliki kepribadian yang sama
sekali berbeda. Ia tidak sabar.
Ia tidak menunggu dengan tenang
di dasar akuarium. Begitu melihat
Montgomery mendekat, Kali langsung
bergerak ke permukaan, lengannya
menari-nari di dalam air, seolah-olah
ia tidak sabar untuk berinteraksi.
Ada semangat muda dalam dirinya,
sesuatu yang mengingatkan
Montgomery pada anak anjing atau
anak kucing yang baru menemukan
dunia.
Apa yang paling mengejutkan adalah
kecenderungan Kali untuk bermain.
Montgomery menyaksikan Kali
secara sengaja menyemprotkan air
ke benda-benda di luar akuariumnya.
Ia menyemprot mainan.
Ia menyemprot peralatan. Ia bahkan
menyemprot para sukarelawan yang
datang untuk membersihkan
akuariumnya, sebuah tindakan yang
tampaknya dilakukan dengan penuh
kesenangan dan kenakalan.
Ini bukanlah perilaku berburu. Ini
bukanlah perilaku bertahan. Ini
adalah sesuatu yang berbeda. Ini
adalah bermain.
Para ilmuwan telah lama berdebat
tentang apakah hewan non-manusia
benar-benar bisa bermain. Bermain,
dalam definisi ilmiah,
adalah aktivitas yang dilakukan
secara sukarela, berulang-ulang, dan
tidak memiliki tujuan langsung untuk
bertahan hidup. Ia tidak dilakukan
untuk mendapatkan makanan, untuk
kawin, atau untuk melindungi diri.
Ia dilakukan semata-mata karena
memberikan kesenangan. Bagi
banyak peneliti, bermain adalah
penanda kecerdasan kompleks.
Ia menunjukkan bahwa seekor hewan
tidak hanya bereaksi terhadap
lingkungannya, tetapi juga memiliki
kehidupan batin yang cukup kaya
untuk mengalami kebosanan,
rasa ingin tahu, dan kegembiraan.
Kali menunjukkan semua tanda-tanda
ini. Ia bermain dengan mainan
sederhana yang diberikan oleh para
staf: bola plastik, cangkang kerang,
dan benda-benda kecil lainnya.
Ia akan mendorongnya, menariknya,
memeluknya dengan lengannya, lalu
melepaskannya dan mengejarnya lagi.
Ia tampak sepenuhnya tenggelam
dalam aktivitasnya, seolah-olah tidak
ada hal lain di dunia yang lebih
penting.
Montgomery mencatat bahwa bermain
bukanlah sesuatu yang bisa dianggap
remeh. Dalam dunia hewan, bermain
adalah kemewahan. Hanya hewan
yang cukup aman, cukup kenyang,
dan cukup nyaman yang bisa bermain.
Seekor hewan yang kelaparan tidak
akan bermain. Seekor hewan yang
ketakutan tidak akan bermain.
Ketika Kali bermain, ia menunjukkan
bahwa ia berada dalam kondisi mental
yang positif, bahwa ia merasa cukup
aman untuk mengeksplorasi dunianya
tanpa rasa takut.
Ini membawa Montgomery pada
pertanyaan yang lebih dalam:
jika gurita bisa bermain, apakah
mereka juga bisa merasakan
emosi lain?
Apakah mereka bisa merasa bosan,
kesepian, atau bahagia?
Montgomery mengulas bukti ilmiah
yang menunjukkan bahwa banyak
hewan memiliki kapasitas untuk
emosi. Gajah berduka atas kematian
anggota kawanannya.
Anjing menunjukkan kegembiraan
yang meluap-luap saat pemiliknya
pulang. Bahkan tikus laboratorium
telah terbukti memiliki empati,
memilih untuk membebaskan tikus lain
yang terperangkap daripada mengambil
makanan untuk dirinya sendiri.
Jika mamalia dan burung bisa
merasakan emosi, mengapa gurita
tidak?
Secara evolusi, gurita sangat jauh
dari kita. Nenek moyang terakhir
yang kita miliki bersama gurita hidup
lebih dari enam ratus juta tahun yang
lalu. Itu adalah makhluk sederhana,
mungkin mirip cacing pipih. Dari titik
itu, jalur evolusi kita bercabang. Satu
cabang menuju vertebrata, yang
akhirnya melahirkan ikan, reptil,
burung, mamalia, dan manusia. Cabang
lainnya menuju cephalopoda:
cumi-cumi, sotong, dan gurita.
Kecerdasan kita, dengan otak besar
yang terpusat di kepala, berevolusi
secara independen dari kecerdasan
gurita, dengan otaknya yang
terdistribusi ke seluruh lengan.
Ini adalah contoh luar biasa dari apa
yang oleh para biolog disebut sebagai
“convergent evolution”
(evolusi konvergen), di mana dua jalur
evolusi yang terpisah menghasilkan
solusi yang mirip untuk masalah
yang sama.
Fakta bahwa gurita mengembangkan
kecerdasan melalui jalur yang sama
sekali berbeda dari kita menunjukkan
bahwa kecerdasan bukanlah
kebetulan yang hanya muncul sekali
dalam sejarah kehidupan. Ia mungkin
adalah hasil yang hampir tak
terelakkan dari evolusi pada tingkat
kompleksitas tertentu. Dan jika
kecerdasan muncul secara independen
setidaknya dua kali di planet ini, maka
kemungkinan besar ia juga telah
muncul di tempat lain di alam semesta.
Kali, dengan semangat mudanya,
mengajarkan Montgomery bahwa
kehidupan batin gurita bukanlah
sekadar tentang bertahan hidup.
Ia tentang mengalami dunia dengan
rasa ingin tahu dan kegembiraan.
Di akhir bab ini, Montgomery tidak
lagi ragu bahwa gurita memiliki
emosi. Pertanyaannya bukan lagi
“apakah mereka merasakan?”
melainkan “apa lagi yang mereka
rasakan yang belum kita ketahui?”
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita lanjut ke Bab 3. Setelah
Montgomery ngerasain kedekatan
yang dalem dan penuh kepercayaan
bareng Oktavia, sekarang dia
dikenalin ke gurita yang karakternya
BEDA TOTAL. Kalo Oktavia itu
sahabat yang tenang dan kalem,
gurita baru ini adalah bola energi
yang super kepo. Namanya Kali.
Bab 3: Kali: Main, Emosi, dan
Kegembiraan
Montgomery ketemu Kali di akuarium
yang sama. Tapi Kali ini bukan gurita
raksasa Pasifik kayak Athena atau
Oktavia. Dia spesies berbeda, gurita
muda yang ukurannya jauh lebih kecil,
lebih lincah, dan ENERJIK BANGET.
Kalo Oktavia ngajarin Montgomery
soal KEPERCAYAAN, Kali ngajarin
dia soal KEGEMBIRAAN.
Sejak pertemuan pertama,
Montgomery langsung nyadar kalo
Kali punya kepribadian yang
BENER-BENER LAIN. Dia gak
sabaran. Gak mau nunggu dengan
tenang di dasar akuarium. Begitu
ngeliat Montgomery mendekat,
Kali LANGSUNG melesat
ke permukaan. Lengannya
menari-nari di air, kayak ogah banget
nunggu lama buat interaksi.
Ada semangat anak muda di dirinya.
Montgomery sampe ngerasa ini mirip
sama anak anjing atau anak kucing
yang baru menjelajah dunia.
Antusiasnya meluap-luap.
Yang paling bikin kaget adalah hobi
Kali: MAIN. Montgomery nyaksiin
Kali dengan SENGAJA nyemprotin
air ke benda-benda di luar
akuariumnya. Dia semprot mainan.
Dia semprot peralatan. Dia bahkan
semprot para sukarelawan yang
dateng buat bersihin akuariumnya.
Dan ini dilakuin dengan penuh
KESENANGAN dan KENAKALAN.
Kayak lagi iseng aja gitu.
Ini jelas-jelas BUKAN perilaku berburu.
Bukan juga perilaku bertahan.
Ini sesuatu yang beda. Ini adalah
BERMAIN.
Nah, para ilmuwan udah lama debat
soal apakah hewan selain manusia
beneran BISA main. Dalam definisi
ilmiah, main itu aktivitas yang
dilakukan SECARA SUKARELA,
DIULANG-ULANG, dan GAK PUNYA
TUJUAN LANGSUNG buat bertahan
hidup. Main gak dilakuin buat dapet
makanan, kawin, atau melindungi
diri. Main dilakuin MURNI karena
ngasih KESENANGAN. Buat banyak
peneliti, MAIN adalah penanda
KECERDASAN KOMPLEKS. Main
nunjukin kalo hewan gak cuma
bereaksi ke lingkungan, tapi juga
punya KEHIDUPAN BATIN yang
cukup kaya. Bisa ngerasain BOSAN,
PENGEN TAU, dan KEGEMBIRAAN.
Kali nunjukin SEMUA tanda-tanda ini.
Dia main sama mainan sederhana dari
staf: bola plastik, cangkang kerang,
benda-benda kecil. Dia bakal
dorong-dorong, tarik-tarik, peluk
pake lengannya, terus dilepas lagi
dan dikejar-kejar. Dia kayak
TENGGELAM total dalam aktivitasnya.
Kayak gak ada hal lain di dunia yang
lebih penting. Persis kayak lo lagi asik
main game.
Montgomery nyatet, MAIN itu gak
bisa dianggep remeh. Di dunia hewan,
MAIN adalah KEMEWAHAN. Cuma
hewan yang CUKUP AMAN, CUKUP
KENYANG, dan CUKUP NYAMAN
yang bisa main. Hewan kelaparan
gak bakal main. Hewan ketakutan
gak bakal main. Pas Kali main, dia
NUNJUKIN kalo dia lagi dalam
kondisi mental yang POSITIF.
Dia ngerasa cukup aman buat
ngeksplor dunianya TANPA RASA
TAKUT.
Ini bikin Montgomery mikir lebih
dalem lagi. Kalo gurita BISA main,
apakah mereka juga BISA ngerasain
emosi lain? Apa mereka bisa ngerasa
bosan, kesepian, atau bahagia?
Montgomery ngulas bukti ilmiah
yang nunjukin BANYAK hewan
punya kapasitas buat emosi.
Gajah BERDUKA pas anggota
kawanannya mati. Anjing nunjukin
KEGEMBIRAAN meledak-ledak pas
pemiliknya pulang. Bahkan tikus lab
terbukti punya EMPATI,
milih ngebebasin tikus lain yang
kejebak daripada ngambil makanan
buat diri sendiri. Tikus aja punya
rasa peduli.
Nah, kalo mamalia dan burung bisa
ngerasain emosi, KENAPA GURITA
ENGGAK? Secara evolusi, gurita itu
JAUH BANGET dari kita. Nenek
moyang terakhir yang kita punya
bareng gurita hidup lebih dari
600 JUTA TAHUN LALU. Makhluknya
sederhana, mungkin mirip cacing pipih.
Dari titik itu, jalur evolusi kita
BERCABANG. Satu cabang menuju
vertebrata, yang akhirnya ngelahirin
ikan, reptil, burung, mamalia, dan
manusia. Cabang satunya lagi menuju
cephalopoda: cumi, sotong, dan
GURITA.
Ini yang gila: KECERDASAN kita,
dengan otak gede terpusat di kepala,
BERKEMBANG SECARA MANDIRI
dari kecerdasan gurita, dengan
otaknya yang MENYEBAR ke seluruh
lengan. Ini contoh luar biasa dari yang
disebut biolog sebagaiĀ “convergent
evolution”, evolusi konvergen. Dua
jalur evolusi yang terpisah jauh,
NGASILIN SOLUSI YANG MIRIP
buat masalah yang sama. Kayak dua
perusahaan beda yang sama-sama
nyiptain smartphone tanpa saling
contek.
Fakta kalo gurita ngembangin
kecerdasan lewat jalur yang
BENER-BENER BEDA dari kita
nunjukin kalo KECERDASAN
BUKAN KEBETULAN yang cuma
muncul sekali doang dalam sejarah
kehidupan. Dia mungkin adalah
hasil yang hampir PASTI muncul
dari evolusi di tingkat kompleksitas
tertentu. Dan kalo kecerdasan
muncul secara independen
setidaknya DUA KALI di planet ini,
kemungkinan besar dia juga UDAH
MUNCUL di tempat lain di alam
semesta.
Kali, dengan semangat mudanya yang
meledak-ledak, ngajarin Montgomery
kalo kehidupan batin gurita bukan
cuma soal BERTAHAN HIDUP.
Tapi soal MENGALAMI DUNIA
dengan RASA INGIN TAU dan
KEGEMBIRAAN. Di akhir bab ini,
Montgomery gak ragu lagi kalo gurita
PUNYA EMOSI. Pertanyaannya
sekarang bukan lagi “Apakah mereka
ngerasain?” tapi “APA LAGI yang
mereka rasain yang belum kita tau?”
