Buku We Should All Be Feminists Chimamanda Ngozi Adichie, Awal Mula: Stigma Kata “Feminis”

Chimamanda Ngozi Adichie
Sahabat, kali ini kita akan menyelami
sebuah buku kecil yang kekuatannya
melampaui ukuran fisiknya.
We Should All Be Feminists
(Kita Semua Harus Menjadi Feminis)
karya Chimamanda Ngozi Adichie
bukanlah novel atau biografi tebal.
Buku ini adalah esai yang diadaptasi
dari pidato TEDx yang telah ditonton
puluhan juta kali. Di dalamnya,
Adichie tidak berteriak atau
menggurui. Ia bercerita. Dan melalui
cerita-cerita pribadinya,
ia membongkar lapisan demi lapisan
ketidakadilan yang sering kali tidak
kita sadari. Mari kita mulai dari
bagian pertama.
1. Awal Mula: Stigma Kata
“Feminis”
Chimamanda Ngozi Adichie
membuka bukunya bukan dengan
definisi kamus atau teori akademis
yang rumit. Ia membukanya dengan
sebuah kenangan dari masa
remajanya, sebuah momen yang
mungkin tampak sepele tetapi
melekat di ingatannya selama
bertahun-tahun.
Saat itu ia berusia empat belas tahun.
Ia sedang berdebat dengan
sahabatnya, Okoloma. Okoloma
adalah teman yang cerdas, seseorang
yang suka berdebat, salah satu dari
sedikit orang yang bisa menandingi
Adichie dalam adu argumen.
Di tengah perdebatan itu, Okoloma
melontarkan sebuah kata. Ia menyebut
Adichie seorang “feminist” (feminis).
Adichie tidak ingat persis apa isi
perdebatan mereka saat itu. Yang ia
ingat jelas adalah nada suara Okoloma.
Kata “feminis” itu diucapkan dengan
nada merendahkan, seolah-olah ia
baru saja melabeli Adichie dengan
sesuatu yang buruk. Saat itu, Adichie
belum sepenuhnya memahami arti
kata tersebut. Ia masih sangat muda.
Tetapi ia bisa merasakan dari cara
Okoloma mengatakannya bahwa itu
bukanlah pujian. Itu adalah tuduhan.
Itu adalah penghinaan.
Bertahun-tahun kemudian, ketika ia
sudah menjadi penulis terkenal dan
bukunya mulai dikenal di seluruh
dunia, pengalaman serupa terjadi
lagi. Kali ini di hadapan seorang
jurnalis. Adichie sedang dalam tur
peluncuran buku pertamanya, dan
seorang jurnalis laki-laki
mewawancarainya. Di tengah
wawancara, sang jurnalis memberinya
sebuah nasihat. Ia berkata bahwa
Adichie sebaiknya tidak menyebut
dirinya seorang feminis. Alasannya?
Feminis adalah “unhappy women who
cannot find husbands” (wanita tidak
bahagia yang tidak bisa mendapatkan
suami).
Bayangkan. Seorang penulis dengan
karya-karya brilian, seorang
intelektual yang telah diakui secara
internasional, diberi nasihat bahwa ia
harus menyembunyikan keyakinannya
tentang keadilan hanya karena label
itu bisa membuat pria tidak tertarik
padanya. Seolah-olah tujuan utama
hidup seorang wanita adalah untuk
mendapatkan suami, dan segala
sesuatu yang lain, termasuk prinsip
dan integritas, harus tunduk pada
tujuan itu.
Adichie merespons dengan cara yang
hanya bisa dilakukan oleh seseorang
yang telah menemukan kedamaian
dengan identitasnya.
Alih-alih tersinggung atau mundur,
ia memutuskan untuk mengambil
label yang dimaksudkan sebagai
penghinaan itu dan mengubahnya
menjadi lencana kehormatan. Sejak
saat itu, ia menyebut dirinya sebagai
“Happy Feminist” (Feminis Bahagia).
Bukan sekadar feminis, tetapi feminis
yang bahagia. Ini adalah sebuah
deklarasi. Sebuah penolakan
terhadap stereotip bahwa feminisme
adalah gerakan perempuan yang
pahit, marah, dan membenci laki-laki.
Di sinilah letak inti dari bagian
pembuka ini. Stigma terhadap kata
“feminis” tidak muncul begitu saja.
Ia muncul karena kesalahpahaman
yang sudah mengakar. Banyak orang,
termasuk Okoloma dan jurnalis itu,
mengira bahwa feminisme adalah
gerakan yang membenci laki-laki,
gerakan yang ingin membalikkan
dominasi, gerakan yang ingin
menempatkan perempuan di atas
dan laki-laki di bawah. Ini adalah
kesalahpahaman yang sangat keliru.
Tetapi kesalahpahaman ini terus
berlanjut karena begitu banyak
orang yang lebih suka bereaksi
terhadap stereotip daripada
benar-benar mendengarkan apa
yang dikatakan oleh para feminis.
Adichie menghabiskan sisa bukunya
untuk membongkar kesalahpahaman
ini. Ia tidak melakukannya dengan
marah. Ia tidak melakukannya
dengan menggurui. Ia melakukannya
dengan bercerita, dengan mengajak
kita melihat pengalaman sehari-hari
melalui lensa yang berbeda.
Bagian pertama ini hanyalah pintu
masuk. Tetapi dari sini kita sudah bisa
melihat apa yang membuat Adichie
begitu efektif sebagai pembicara dan
penulis. Ia tidak menyerang.
Ia mengundang. Ia tidak mencoba
membuatmu merasa bersalah.
Ia mencoba membuatmu melihat.
Dan begitu kamu melihat, kamu
tidak bisa berhenti melihat.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kali ini kita bahas buku kecil
yang tenaganya ngalahin buku-buku
tebal. Judulnya We Should All Be
Feminists atau Kita Semua Harus
Menjadi Feminis, karya keren
Chimamanda Ngozi Adichie.
Buku ini aslinya adalah pidato TEDx
yang udah ditonton puluhan juta kali,
jadi bayangin aja sekuat apa
kata-katanya. Di sini, Adichie gak
teriak-teriak atau menggurui lo soal
teori. Dia cuma… cerita. Dia ajak lo
ngobrol santai, tapi tiba-tiba lo sadar,
otak lo lagi dibongkar pelan-pelan.
Yuk, kita mulai dari bagian pertama.
1. Awal Mula: Dikata-katain
“Feminis”
Chimamanda gak mulai buku ini pake
definisi kaku atau bahasa akademis
yang bikin lo nguap duluan. Ogah.
Dia mulai dari memori pribadi, pas
dia masih ABG berumur 14 tahun.
Waktu itu dia lagi debat sama
sahabatnya sendiri, Okoloma.
Si Okoloma ini temen yang cerdas,
salah satu dari sedikit orang yang
bisa nandingin Adichie dalam adu
argumen, jadi debat mereka pasti seru.
Nah, di tengah panasnya debat itu,
Okoloma ngelontarin satu kata yang
menusuk. Dia nyebut Adichie
seorang “feminist”.
Adichie gak inget persis mereka debat
soal apa. Tapi yang nempel terus
di otaknya adalah NADA suara
Okoloma pas ngucapin kata itu. Nada
merendahkan. Kayak dia baru aja
ngelabelin Adichie dengan sesuatu
yang memalukan. Saat itu Adichie
masih bocil, dia belum paham bener
artinya. Tapi dari cara Okoloma
ngomong, dia langsung bisa
ngerasain. Itu bukan pujian.
Itu tuduhan. Itu cacian. Hanya dari
satu kata dan nada bicara, dia udah
dicap buruk.
Fast forward, bertahun-tahun
kemudian. Adichie sekarang udah jadi
penulis beken, bukunya mendunia,
wawancara di mana-mana. Suatu kali,
ada jurnalis laki-laki yang ngobrol
sama dia. Dan coba tebak?
Dia dikasih “nasihat”. Si jurnalis ini
dengan pedenya nyaranin Adichie
buat gak usah ngaku feminis.
Alasannya? Feminis itu katanya
“unhappy women who cannot find
husbands”, alias cewek gak bahagia
yang gak laku, gak bisa dapet suami.
Lo denger kan, gaes? GILA, gak sih?
Seorang penulis brilian, intelektual
berkelas dunia, dikasih tau buat
nyembunyiin keyakinannya soal
keadilan. Kenapa? Biar cowok gak
ilfeel, biar dia tetep “diinginkan”.
Seolah-olah puncak prestasi tertinggi
seorang cewek tuh ya cuma dapet
suami. Seolah prinsip dan integritas
itu gak ada harganya dibanding punya
cincin nikah. Otak lo mungkin mikir,
“Ini seriusan ngomong gini
ke Chimamanda Adichie?”
Iya, seriusan.
Tapi respons Adichie?
KEREN BANGET. Dia gak tersinggung,
gak mundur, gak ngedumel. Dia malah
ngambil kata yang tadinya buat
ngehina dia itu, terus dia ubah jadi
lencana kehormatan. Dia putuskan
buat nyebut dirinya
“Happy Feminist”, Feminis yang
Bahagia. Lo tangkep gak sih power
move-nya?
Dia nolak mentah-mentah stereotip
kalo feminis tuh cewek pahit,
pemarah, dan benci laki-laki.
Dia balik ngatain, “Gue feminis,
DAN gue bahagia.” Sebuah deklarasi
yang ngegas pol tapi tetap elegan.
Nah, di sinilah inti pembukaannya,
gaes. Stigma jelek soal kata “feminis”
itu gak muncul tiba-tiba. Dia udah
mengakar kuat gara-gara
kesalahpahaman akut.
Banyak orang, kayak Okoloma dan
si jurnalis bego itu, nganggep
feminisme sebagai gerakan benci
laki-laki. Gerakan yang pengen
nuker posisi, cewek di atas, cowok
di bawah. Ini salah paham yang
FATAL banget. Dan parahnya,
kesalahan ini langgeng karena
orang-orang lebih milih reaksi sama
stereotipnya aja, daripada
bener-bener dengerin apa yang
sebenernya diperjuangin.
Sepanjang buku ini, Adichie bakal
ngebongkar satu-satu
kesalahpahaman itu. Tapi gayanya
gak bakal bikin lo merasa diserang
atau digurui. Dia cuma ngajak lo
ngeliat pengalaman hidup
sehari-hari dari lensa yang berbeda.
Dia gak coba bikin lo ngerasa
bersalah. Dia coba bikin lo
MELIHAT. Dan percaya deh, begitu
lo udah ngeliat, lo gak akan bisa
berhenti ngeliat.
