Ketimpangan yang Dinormalisasi Sehari-hari
Sahabat, kita lanjutkan ke bagian
kedua dari bukuĀ We Should All Be
Feminists. Setelah membongkar
stigma yang melekat pada kata
“feminis”, Chimamanda Ngozi Adichie
kini membawa kita
ke pengalaman-pengalaman
sehari-hari yang mungkin tampak
biasa, tetapi sebenarnya mengandung
ketimpangan yang sudah begitu
dinormalisasi sehingga banyak orang
tidak lagi melihatnya sebagai masalah.
2. Ketimpangan yang
Dinormalisasi Sehari-hari
Adichie berpendapat bahwa budaya
telah menormalisasi perlakuan
berbeda terhadap perempuan.
Ketimpangan ini bukanlah sesuatu
yang selalu terjadi dalam bentuk
kekerasan fisik atau diskriminasi
yang mencolok. Sering kali, ia hadir
dalam momen-momen kecil, dalam
interaksi sehari-hari yang tampak
sepele, tetapi jika dikumpulkan,
membentuk pola yang tidak bisa
disangkal.
Ia membuktikannya melalui
tiga cerita pribadi.
Cerita pertama terjadi ketika ia masih
duduk di sekolah dasar. Suatu hari,
gurunya mengumumkan bahwa kelas
mereka membutuhkan seorang
ketua kelas, atau dalam istilah yang
digunakan di sekolah Nigeria,
“class monitor”. Guru itu
menjelaskan syarat-syaratnya:
siapa pun yang ingin menjadi ketua
kelas haruslah murid yang cakap,
berdisiplin, dan bertanggung jawab.
Adichie kecil mendengarkan
syarat-syarat itu dan merasa bahwa ia
memenuhi semuanya. Ia adalah murid
yang rajin. Ia tidak pernah terlambat.
Ia mengerjakan tugas-tugasnya
dengan baik. Ia sangat ingin menjadi
ketua kelas.
Tetapi guru itu kemudian
menambahkan satu syarat lagi yang
tidak tertulis. Ketua kelas haruslah
laki-laki. Adichie tidak terima.
Ia dan beberapa teman perempuannya
protes. Mereka meminta agar anak
perempuan juga diberi kesempatan.
Gurunya, mungkin karena lelah
menghadapi protes, akhirnya setuju
untuk memberikan sebuah tes.
Siapa pun yang mendapat nilai
tertinggi dalam tes itu akan menjadi
ketua kelas.
Adichie mengerahkan seluruh
kemampuannya. Ia belajar dengan
tekun, mengerjakan tes dengan serius,
dan hasilnya keluar: ia mendapat nilai
tertinggi. Ia sangat gembira. Ia pikir
keadilan telah ditegakkan. Seorang
anak perempuan telah membuktikan
bahwa ia mampu.
Tetapi guru itu tidak memberinya
posisi ketua kelas. Sebagai gantinya,
guru itu menciptakan sebuah posisi
yang sebelumnya tidak pernah ada:
wakil ketua kelas. Posisi ketua kelas
tetap diberikan kepada seorang anak
laki-laki, yang mendapat nilai kedua.
Posisi wakil ini tidak memiliki arti
apa pun. Ia tidak memiliki wewenang.
Ia tidak memiliki fungsi. Ia diciptakan
hanya untuk satu tujuan:
agar Adichie diam.
Pesan yang diterima oleh Adichie kecil
sangat jelas. Sebagai seorang
perempuan, kamu boleh berprestasi.
Kamu boleh mendapat nilai tertinggi.
Kamu boleh memenuhi semua syarat.
Tetapi pada akhirnya, posisi tertinggi
tetap bukan untukmu. Posisi itu
disediakan untuk laki-laki. Kamu,
sebagai perempuan, harus puas
dengan posisi kedua, posisi yang
diciptakan khusus untuk
menenangkanmu. Ini adalah
pelajaran pertamanya tentang
bagaimana masyarakat
memandang ambisi perempuan.
Cerita kedua terjadi bertahun-tahun
kemudian, ketika Adichie sudah
dewasa dan menjadi penulis yang
sukses. Suatu hari, ia pergi
ke sebuah restoran di Nigeria
bersama seorang teman laki-laki.
Ketika mereka masuk, pelayan
datang menyapa. Tetapi pelayan
itu hanya menyapa teman
laki-lakinya. Pelayan itu
mengabaikan Adichie sepenuhnya,
seolah-olah ia tidak ada di sana,
seolah-olah ia hanyalah bayangan
yang mengikuti pria itu.
Adichie tidak terkejut. Ia sudah
terbiasa. Tetapi ia memutuskan
untuk melakukan sesuatu yang
kecil namun bermakna. Ketika
tagihan datang, ia yang membayar.
Ia mengeluarkan uang dari
dompetnya sendiri dan
menyerahkannya kepada pelayan.
Apa yang terjadi selanjutnya sangat
mengejutkan. Pelayan itu menerima
uang dari tangannya, lalu berbalik
dan berterima kasih kepada teman
laki-lakinya. Bukan kepada Adichie
yang telah membayar. Bukan kepada
Adichie yang memegang dompet.
Tetapi kepada pria yang duduk
di sebelahnya. Dalam benak pelayan
itu, uang itu pasti berasal dari pria itu.
Tidak masuk akal bagi seorang
perempuan untuk memiliki uang
sendiri, untuk membayar sendiri,
untuk menjadi sumber transaksi.
Perempuan hanyalah perpanjangan
dari laki-laki di sampingnya.
Cerita ketiga mengikuti pola yang
sama. Kali ini terjadi di tempat parkir.
Adichie dan teman laki-lakinya
yang lain sedang berjalan menuju
mobil. Seorang petugas parkir
membantu mereka. Adichie, yang
merasa bahwa petugas itu telah
melakukan pekerjaannya dengan
baik, memutuskan untuk memberinya
tip. Ia merogoh dompetnya,
mengeluarkan uang, dan
memberikannya kepada petugas
parkir itu. Petugas itu menerima uang
dari tangannya, tersenyum, lalu
berterima kasih kepada teman
laki-lakinya. Sekali lagi, uang yang
diberikan oleh tangan seorang
perempuan dianggap berasal dari
kantong seorang laki-laki.
Ketiga cerita ini, jika berdiri sendiri,
mungkin tampak seperti kejadian
kecil yang tidak berarti. Mungkin
pelayan itu hanya tidak
memperhatikan. Mungkin petugas
parkir itu hanya bingung. Mungkin
guru itu hanya ingin menjaga tradisi.
Tetapi jika disatukan, pola yang
muncul sangat jelas. Di mata
masyarakat, perempuan tidak
dianggap sebagai individu yang
mandiri. Prestasinya diragukan.
Uangnya dianggap milik orang lain.
Keberadaannya diabaikan.
Ini bukanlah kesalahan satu orang
atau satu institusi. Ini adalah hasil
dari budaya yang telah
menormalisasi ketimpangan
selama berabad-abad.
Adichie tidak menceritakan
kisah-kisah ini dengan kemarahan
yang meledak-ledak.
Ia menceritakannya dengan nada
yang tenang, nyaris seperti sedang
mengingat kejadian lucu.
Tetapi justru di sinilah letak
kekuatannya. Dengan menyajikan
contoh-contoh yang begitu nyata dan
dekat dengan kehidupan sehari-hari,
ia membuat kita bertanya:
berapa kali kita sendiri pernah
menjadi saksi dari ketimpangan
semacam ini tanpa menyadarinya?
Berapa kali kita sendiri, tanpa
sengaja, menjadi pelaku yang
mengabaikan suara perempuan,
meragukan kemampuannya, atau
menganggapnya tidak terlihat?
Jawabannya mungkin lebih sering
dari yang ingin kita akui. Dan
di situlah letak pentingnya buku ini.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita lanjut obrolan buku
We Should All Be Feminists. Setelah
ngobrolin stigma konyol yang nempel
di kata “feminis”, sekarang
Chimamanda Ngozi Adichie ngajak
kita ngeliat lebih dekat ke kehidupan
sehari-hari. Dan ini bagian yang
paling ngena, karena dia gak
ngomongin teori berat. Dia cuma
cerita pengalaman pribadi yang super
sederhana, yang mungkin lo anggep
biasa aja. Tapi justru di situlah
bahayanya. Ketimpangan udah
dinormalisasi, udah dianggep wajar,
sampe banyak orang gak sadar itu
masalah.
2. Ketimpangan yang
Dinormalisasi Sehari-hari
Adichie bilang, budaya kita tuh udah
menormalisasi perlakuan beda
ke cewek. Dan ini gak selalu
berbentuk kekerasan fisik atau
diskriminasi yang mencolok mata.
Seringnya, dia hadir
di momen-momen kecil, interaksi
receh yang keliatannya sepele.
Tapi kalo lo kumpulin, semua
momen kecil itu bakal ngebentuk
pola gede yang gak bisa lo sangkal.
Pola bahwa jadi cewek tuh gak
pernah dianggep setara.
Dia buktiin lewat tiga cerita pribadi.
Simak baik-baik, siapa tau lo pernah
ngalamin atau, parahnya, malah lo
lakuin ke orang lain.
Cerita pertama: Jadi Ketua
Kelas Itu Urusan Cowok
Ini terjadi pas Adichie masih ingusan
di sekolah dasar. Suatu hari, gurunya
ngumumin kalo kelas mereka butuh
ketua kelas, atau di Nigeria sana
disebut “class monitor”. Gurunya
jelasin syaratnya: harus murid yang
cakap, disiplin, dan bertanggung
jawab. Adichie kecil dengerin syarat
itu dan ngerasa, “Ini gue banget!”
Dia rajin, gak pernah telat, tugas
selalu beres. Dia ngiler banget
pengen jadi ketua kelas.
Tapi kemudian, gurunya nambahin
satu syarat gak tertulis yang bikin
semua rencana hancur. Ketua kelas
harus LAKI-LAKI. Adichie gak
terima. Dia dan temen-temen
ceweknya protes. Mereka minta
anak cewek juga dikasih kesempatan.
Gurunya, mungkin karena capek
dengerin protes, akhirnya setuju buat
ngadain tes. Nilai tertinggi yang bakal
jadi ketua kelas. Adil kan?
Adichie langsung tancap gas.
Dia belajar mati-matian, ngerjain tes
dengan serius. Hasilnya?
Dia dapet nilai TERTINGGI.
Dia seneng banget. Dia pikir keadilan
udah ditegakin. Seorang anak cewek
udah buktiin kalo dia mampu.
Tapi coba tebak? Guru itu gak ngasih
dia posisi ketua kelas. Gak. Sebagai
gantinya, guru itu BAJU bikin posisi
baru yang sebelumnya gak pernah
ada: WAKIL ketua kelas. Posisi ketua
kelas tetap dikasih ke anak cowok
yang nilainya kedua. Posisi wakil ini
gak punya arti apa-apa, gaes. Gak ada
wewenang, gak ada fungsi.
Dia diciptakan cuma buat satu
tujuan: biar Adichie DIEM.
Pesan yang diterima Adichie kecil itu
jelas banget dan kejam. Sebagai
cewek, lo boleh berprestasi setinggi
langit. Lo boleh dapet nilai tertinggi.
Lo boleh memenuhi semua syarat.
Tapi pada akhirnya, posisi puncak
tetap bukan buat lo. Itu disediakan
buat cowok. Lo, sebagai cewek, harus
puas di posisi kedua. Posisi bohongan
yang diciptakan cuma buat nenangin
lo. Ini pelajaran pertama banget buat
dia soal gimana masyarakat mandang
ambisi seorang cewek.
Cerita kedua: Lo yang Bayar,
Cowok yang Dapet Terima Kasih
Fast forward bertahun-tahun. Adichie
sekarang udah dewasa dan jadi
penulis sukses. Suatu hari, dia pergi
ke restoran di Nigeria bareng temen
cowoknya. Pas mereka masuk,
pelayan nyamperin. Tapi si pelayan
ini CUMA nyapa temen cowoknya.
Dia ngabaikan Adichie total. Kayak
Adichie gak ada di sana, cuma
bayangan yang ngikutin si cowok.
Adichie gak kaget sih. Dia udah biasa.
Tapi dia mutusin buat ngelakuin
sesuatu yang kecil tapi bermakna.
Pas tagihan dateng, DIA yang bayar.
Dia keluarin duit dari dompetnya
sendiri, dan nyerahin ke pelayan.
Nah, yang terjadi selanjutnya ini
bikin melongo. Pelayan itu nerima
duit dari tangan Adichie, lalu berbalik,
dan berterima kasih
ke TEMEN COWOKNYA. Bukan
ke Adichie yang megang dompet dan
baru aja ngecesin duit. Tapi ke cowok
di sebelahnya. Dalam otak pelayan itu,
logikanya simpel: gak mungkin cewek
punya duit sendiri. Uang itu pasti
punya si cowok. Cewek hanyalah
perpanjangan tangan dari
dompet pria.
Cerita ketiga: Tip dari Cewek,
Pujian buat Cowok
Polanya masih sama. Kali ini
lokasinya di tempat parkir. Adichie
lagi jalan ke mobil bareng temen
cowoknya yang lain. Ada petugas
parkir yang bantuin. Ngerasa
petugasnya udah kerja dengan baik,
Adichie mutusin buat ngasih tip.
Dia rogoh dompet, ngeluarin duit,
dan nyerahin ke petugas itu.
Si petugas nerima duit dari
tangannya, senyum, lalu… berterima
kasih ke TEMEN COWOKNYA. Lagi.
Uang yang dikasih oleh tangan cewek,
otomatis dianggep berasal dari
kantong cowok. Keberadaan Adichie
sebagai pemberi, sekali lagi,
gak diakui.
Nah, sekarang lo pikirin. Tiga cerita
ini kalo berdiri sendiri, keliatannya
kayak kejadian sepele.
“Ah, mungkin pelayannya aja yang
gak merhatiin.”
“Ah, petugas parkirnya mungkin
bingung.”
“Gurunya cuma pengen jaga tradisi.”
Banyak yang bakal ngomong gitu.
Tapi kalo lo gabungin, polanya
KRASA BANGET.
Di mata masyarakat, cewek gak
dianggep sebagai individu yang
mandiri. Prestasinya diragukan, atau
dikasih posisi bohongan. Uangnya
dianggep milik cowok. Keberadaannya
diabaikan. Ini bukan salah satu orang
doang atau satu institusi. Ini budaya.
Budaya yang udah ratusan tahun
menormalisasi ketimpangan.
Kerennya Adichie, dia gak cerita ini
sambil ngotot dan marah-marah.
Gayanya tenang, bahkan nyaris kayak
lagi nostalgia ngomongin kejadian
lucu. Dan justru di situlah
kekuatannya, gaes. Dengan ngasih
contoh yang nyata dan deket banget
sama keseharian kita, dia bikin kita
berhenti sejenak. Lo jadi nanya
ke diri sendiri: berapa kali gue jadi
saksi ketimpangan kayak gini tapi
gue anggep angin lalu?
Atau yang lebih serem, berapa kali
gue, tanpa sadar, JADI PELAKUNYA?
Mengabaikan suara cewek,
ngeremehin kemampuannya, atau
bikin dia ngerasa gak kelihatan?
Jawabannya mungkin jauh lebih
sering dari yang berani lo akui. Dan
di situlah pentingnya buku ini.
Dia maksa lo buat ngaca.
