Kematian Chase Andrews dan Persidangan Pembunuhan (1969–1970)
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, ini dia bab yang bikin jantung
lo deg-degan. Setelah bertahun-tahun
hidup sendiri di rawa, Kya sekarang
harus ngadepin sesuatu yang jauh
lebih serem dari kesepian: tuduhan
pembunuhan. Bab 4 ini adalah titik
balik yang bakal bikin lo mikir
ulang segalanya.
Bab 4: Kematian Mengejutkan
dan Persidangan yang
Mengguncang (1969–1970)
Bayangin pagi 30 Oktober 1969.
Dua bocah lagi main di deket hutan,
tiba-tiba nemuin pemandangan yang
bikin bulu kuduk merinding. Di dasar
menara api pengawas hutan yang
udah lama nggak kepake, tergeletak
tubuh Chase Andrews. Lehernya
patah. Badannya udah dingin. Nggak
ada sidik jari di sekitar lokasi. Nggak
ada jejak kaki selain punya Chase
sendiri yang tercetak di tanah
berlumpur menuju menara.
Pertanyaan langsung menghantui:
gimana mungkin seseorang jatuh dari
menara tanpa ninggalin jejak?
Kok bisa lehernya patah tanpa tanda
perlawanan? Polisi yang dateng
bengong. Nggak ada saksi mata.
Kematian Chase adalah misteri yang
nyangkut kayak kabut pagi.
Penyelidikan mulai, dan lo bisa nebak
sendiri ujungnya. Pandangan para
penyidik langsung tertuju ke satu
orang: Kya Clark, si Gadis Rawa.
Ada beberapa alasan kuat.
Pertama, hubungan masa lalunya
sama Chase udah mulai rame di kota.
Kedua, dan ini yang paling ngena,
Kya bukan warga biasa. Dia orang
luar, makhluk aneh yang hidup
di rawa. Prasangka udah kental
banget, jadi warga gampang percaya
kalau dia mampu ngelakuin kejahatan.
Polisi mulai ngumpulin bukti.
Di barang-barang Chase, mereka
nemu serat wol merah yang
nempel di jaketnya. Hasil lab?
Cocok sama serat dari topi wol merah
Kya yang ada di gubuknya. Ini bukti
nggak langsung pertama yang ngaitin
Kya ke TKP. Bukti kedua lebih bikin
bulu kuduk merinding. Beberapa
waktu lalu, koran lokal udah nerbitin
puisi misterius dari “Amanda
Hamilton” , penyair anonim yang
ngomongin pengkhianatan, cinta
jadi kekerasan, alam yang balas
dendam, dan kematian di malam hari.
Salah satu baitnya secara khusus
ngegambarin pria jatuh dari
ketinggian, leher patah, sendirian
di hutan. Gila, kan? Polisi nyelidikin,
dan boom! Amanda Hamilton itu
cuma nama samaran. Penulis aslinya?
Kya Clark. Gadis Rawa yang nggak
pernah sekolah, yang belajar baca
dari Tate, ternyata nulis puisi yang
secara serem ngramalin kematian
Chase.
Dengan “bukti” ini, polisi ngerasa
punya cukup alasan. Suatu pagi,
mereka datengin gubuk Kya,
ngeborgol tangannya, dan bawa dia
pergi dari rawa. Satu-satunya rumah
yang dia kenal. Kya dijeblosin
ke penjara county selama dua bulan
, nunggu sidang. Dua bulan di sel
sempit, jauh dari burung, air, langit.
Buat Kya, ini siksaan tersendiri. Dia
makhluk liar yang tiba-tiba dikurung.
Selama di penjara, cuma sedikit yang
jenguk. Jumpin’ dan Mabel dateng,
bawain makanan dan hiburan.
Mereka nggak percaya Kya
membunuh. Mereka kenal dia dari
kecil. Tate Walker juga dateng,
dihantui rasa bersalah. Dia ninggalin
Kya, dan sekarang ngeliat perempuan
yang dicintainya di balik jeruji.
Dia nggak tahu Kya bersalah apa
nggak, tapi dia harus bantu.
Bantuan terbesar justru datang dari
seorang pengacara tua, Tom Milton.
Dia udah pensiun, tapi memutuskan
balik demi Kya. Dia ngeliat seluruh
kota udah menghakimi bahkan
sebelum sidang dimulai. Tom tahu,
dia harus ngelawan bukan cuma bukti,
tapi juga prasangka yang udah ngerak.
Sidang dimulai. Ruang penuh. Jaksa
penuntut bangun kasus di dua pilar.
Pertama, motif: hubungan Kya-Chase,
pengkhianatan, amarah. Puisi Amanda
Hamilton dijadiin pengakuan
terselubung.
Kedua, bukti fisik: serat wol merah
yang cocok.
Giliran Tom Milton bangun pembelaan.
Tenang dan metodis. Dia hantam pilar
pertama: motif bukan bukti. Setengah
kota mungkin punya motif, tapi itu
nggak cukup buat ngegantung orang.
Lalu dia bantai pilar kedua: serat wol
merah itu bukti lemah. Topi merah
barang umum, cocok nggak ngebuktiin
Kya di TKP malam itu. Cuma nunjukin
mungkin serat nempel di lain waktu.
Pukulan maut Tom: alibi. Dia hadirin
saksi dan dokumen. Malam Chase
mati, Kya nggak ada di Barkley
Cove. Dia lagi di Greenville, ketemu
penerbitnya. Dia udah nyelesein buku
pertamanya soal rawa, dan lagi
diskusi detail. Semua terdokumentasi:
tanggal, jam, tempat, saksi. Jaksa
nyerang balik, nanya gimana mungkin
Gadis Rawa pergi jauh sendirian.
Tom tenang nunjukin tiket bus dengan
tanggal yang pas, saksi di terminal.
Alibi ini nggak bisa dibantah.
Ruang sidang gempar. Juri, warga
lokal yang udah punya prasangka,
mulai goyah. Bukti Tom nggak bisa
diabaikan. Nggak ada saksi mata,
nggak ada sidik jari, nggak ada jejak
kaki. Alibinya kuat. Setelah
rundingan singkat, juri balik.
Kya Clark dinyatakan tidak
bersalah.
Pas vonis dibacain, Kya nggak nangis,
nggak senyum. Dia cuma diem. Beban
di dadanya terangkat, tapi belum ilang
total. Hukum manusia udah bebaskan
dia. Tapi di mata penduduk Barkley
Cove, dia bakal selalu jadi Gadis Rawa
misterius yang mungkin aja beneran
membunuh.
Tom nepuk bahunya, Jumpin’ dan
Mabel meluk, Tate berdiri di pojokan
dengan rasa bersalah. Kya keluar,
hirup udara bebas, dan jalan balik
ke rawa. Pulang. Tapi pertanyaan
gede masih ngegantung: kalau Kya
nggak bunuh Chase, siapa? Dan
kalau dia yang ngelakuin, kok bisa
dia di Greenville di saat yang sama?
Misteri ini belum kejawab. Belum. 🔥
