buku

Poop Problems (Masalah Pup)

Jamie Glowacki membuka bab ini
dengan pengakuan yang jujur. Dari
semua tantangan dalam
potty training, masalah yang berkaitan
dengan buang air besar atau pup
adalah yang paling sulit, paling
emosional, dan paling sering membuat
orang tua menyerah. Anak yang sudah
lancar pipis di pispot tiba-tiba menolak
keras saat harus pup.
Mereka menahannya sampai
berhari-hari. Mereka bersembunyi
di balik sofa atau di sudut ruangan.
Mereka meminta popok kembali.
Beberapa bahkan menangis histeris
saat melihat pup mereka sendiri
di pispot.

Glowacki menenangkan para
orang tua. Semua ini, katanya, adalah
normal. Ini adalah fase yang sangat
umum dan bisa diatasi.
Yang dibutuhkan hanyalah
pemahaman tentang apa yang terjadi
di dalam pikiran anak, kesabaran,
dan beberapa teknik khusus.

Mengapa Anak Takut Pup
di Pispot?

Glowacki menjelaskan bahwa
anak-anak memiliki hubungan yang
sangat berbeda dengan pup mereka
dibandingkan dengan pipis. Pipis
adalah cairan. Ia keluar dengan cepat
dan menghilang. Tapi pup adalah
benda padat. Anak bisa melihatnya.
Anak bisa merasakannya keluar dari
tubuh mereka. Dan bagi sebagian
anak, pengalaman ini bisa sangat
membingungkan dan menakutkan.

Glowacki menawarkan sebuah
penjelasan psikologis yang sangat
membantu. Bagi anak kecil, pup
mereka terasa seperti 
bagian dari
diri mereka sendiri
. Bayangkan
Anda adalah seorang anak berusia
dua tahun. Anda duduk di pispot.
Anda mengejan. Dan kemudian,
sesuatu yang padat dan hangat keluar
dari dalam tubuh Anda dan jatuh
ke dalam pispot. Anda melihatnya
di sana. Itu terlihat seperti sesuatu
yang penting. Dan sekarang, itu
terpisah dari Anda. Ke mana ia akan
pergi? Apakah ia akan hilang
selamanya? Apakah bagian dari diri
Anda baru saja hilang?

Ini terdengar tidak masuk akal bagi
orang dewasa. Tapi bagi anak kecil
yang belum sepenuhnya memahami
cara kerja tubuh mereka, ini adalah
ketakutan yang sangat nyata. Mereka
belum mengerti bahwa pup hanyalah
sisa makanan yang tidak dibutuhkan
tubuh. Mereka belum mengerti
bahwa tubuh akan terus
memproduksi lebih banyak.
Yang mereka tahu adalah sesuatu telah
keluar dari dalam diri mereka, dan itu
terasa seperti kehilangan.

Ketakutan ini diperparah oleh fakta
bahwa sensasi buang air besar bisa
terasa aneh atau bahkan menyakitkan.
Dorongan untuk pup lebih kuat dan
lebih lama dari dorongan untuk pipis.
Otot-otot perut harus mengejan.
Ada tekanan di bagian bawah.
Bagi anak yang belum pernah
benar-benar memperhatikan
sensasi ini sebelumnya karena selalu
buang air di popok, ini bisa terasa
menakutkan.

Anak yang Menahan Pup atau
Bersembunyi

Glowacki juga membahas perilaku
yang sangat umum: anak yang
menahan pup atau bersembunyi saat
ingin pup. Anak-anak ini akan
menyilangkan kaki, mengepalkan
pantat, atau berdiri dengan kaku
untuk mencegah pup keluar.
Mereka akan menahan sampai
berhari-hari. Atau mereka akan
mencari tempat tersembunyi,
seperti di balik tirai, di sudut
ruangan, atau di bawah meja,
untuk buang air dengan posisi yang
akrab bagi mereka, yaitu berdiri
atau jongkok.

Menahan pup sangat berbahaya.
Semakin lama anak menahan, semakin
keras dan kering pupnya di dalam usus
besar. Ketika akhirnya keluar,
prosesnya akan terasa sakit. Rasa sakit
ini kemudian memperkuat ketakutan
anak. Mereka ingat bahwa pup itu
sakit. Jadi lain kali, mereka
menahannya lagi. Ini menciptakan
siklus yang sangat sulit diputus.

Bersembunyi saat pup adalah sisa
kebiasaan dari era popok. Dulu,
ketika masih memakai popok, anak
bisa buang air kapan saja dan
di mana saja. Mereka sering kali
pergi ke tempat yang tenang dan
privat untuk melakukannya.
Itu naluri alami. Sekarang, meskipun
popoknya sudah tidak ada, kebiasaan
itu masih tersisa. Anak mencari
tempat tersembunyi untuk melakukan
sesuatu yang dulu selalu mereka
lakukan di popok.

Solusi Glowacki:
Jangan Memaksa, Tetap
Tenang, dan Jelaskan

Apa yang harus dilakukan orang tua?
Glowacki sangat menekankan bahwa
memaksa adalah larangan keras.
Jangan pernah memegang anak dan
memaksa mereka duduk di pispot
sambil menangis. Jangan pernah
berteriak atau menunjukkan
kemarahan. Itu hanya akan menambah
ketakutan dan memperburuk masalah.

Langkah pertama yang harus
dilakukan adalah menjelaskan
mekanisme tubuh kepada anak
dengan cara yang sangat sederhana
dan bisa mereka mengerti. Glowacki
menyarankan untuk membuat
cerita. Misalnya:
“Kamu tahu, di dalam perut kita itu
seperti ada pabrik. Pabrik ini
mengambil semua makanan yang
kita makan, mengambil vitaminnya
untuk membuat kita kuat dan besar,
lalu sisanya dibuang. Itu namanya
pup. Pup itu hanya sampah. Tubuh
kita tidak membutuhkannya lagi.
Jadi tubuh kita mendorongnya
keluar. Tidak ada yang hilang dari
dirimu. Tubuhmu akan terus
membuat makanan baru, vitamin
baru, dan pup baru.”

Cerita ini membantu anak memahami
bahwa pup bukanlah bagian dari diri
mereka. Pup hanyalah sampah.
Melepaskannya bukanlah kehilangan.
Melepaskannya adalah hal yang baik
dan normal.

Menangani Sembelit dengan Diet

Glowacki juga menekankan bahwa
masalah fisik dan masalah psikologis
saling terkait. Jika anak sudah
terlanjur menahan pup dan
mengalami sembelit, Anda harus
menangani masalah fisiknya terlebih
dahulu sebelum bisa menangani
masalah psikologisnya. Tidak ada
gunanya mencoba meyakinkan
anak bahwa pup itu tidak sakit jika
kenyataannya memang sakit karena
pupnya keras.

Glowacki menyarankan untuk segera
memperbaiki diet anak. Tambahkan
makanan yang kaya serat.
Buah plum, pir, apel, dan buah beri
sangat efektif. Sayuran hijau juga
penting. Kurangi makanan yang bisa
menyebabkan sembelit, seperti keju,
pisang yang belum matang, dan nasi
putih dalam jumlah besar. Pastikan
anak minum cukup air. Air membantu
melunakkan pup di dalam usus.
Jika perlu, Glowacki bahkan
menyarankan untuk memberikan
sedikit jus buah murni yang
diencerkan dengan air untuk
membantu melancarkan buang air
besar. Tujuannya adalah membuat
pengalaman pup menjadi tidak
sakit, sehingga anak tidak lagi takut.

Teknik “Menggendong” ke Pispot

Ini adalah salah satu teknik paling
penting yang diajarkan Glowacki
untuk anak yang suka bersembunyi
atau menahan pup. Teknik ini
dirancang untuk 
memutus siklus
anak yang sudah terbiasa pup
di lantai atau di balik sofa.

Begini caranya. Anda sudah
mengamati isyarat anak Anda. Anda
tahu mereka ingin pup. Mungkin
mereka mulai bersembunyi. Mungkin
mereka jongkok di sudut ruangan.
Mungkin mereka terlihat mengejan.
Begitu Anda melihat isyarat ini,
jangan berteriak. Jangan panik.
Dekati anak Anda dengan tenang.
Angkat mereka dengan lembut,
seperti menggendong. Bawa mereka
ke pispot. Sambil berjalan, ucapkan
dengan suara yang tenang dan
meyakinkan,
“Pupnya ditahan dulu. Kita taruh
di pispot ya.”

Ini adalah momen yang kritis.
Jika anak sudah mulai mengeluarkan
pupnya sedikit, biarkan. Jangan
dimarahi. Teruslah bawa mereka
ke pispot. Bahkan jika sebagian pup
sudah jatuh di lantai, tetap dudukkan
mereka di pispot. Biarkan sisanya
keluar di pispot. Tujuannya adalah
agar anak merasakan pengalaman
pup di pispot, meskipun awalnya
dimulai di tempat lain. Dengan cara
ini, koneksi di otak mereka mulai
berubah. Mereka belajar bahwa
pispot adalah tempat yang benar
untuk menyelesaikan proses ini.

Glowacki memperingatkan bahwa ini
bukanlah teknik satu kali.
Anda mungkin harus melakukannya
berkali-kali. Setiap kali, respons
Anda harus sama: tenang, lembut,
tapi tegas. Bawa ke pispot. Ucapkan
kalimatnya. Lama-lama, anak akan
mengerti. Mereka akan mulai pergi
ke pispot sendiri sejak awal, tanpa
perlu digendong.

Glowacki menutup bab ini dengan
pesan penghiburan. Masalah pup
adalah fase yang sangat sulit, tapi ia
akan berlalu. Hampir semua anak
akhirnya berhasil melewatinya.
Yang terpenting adalah Anda tidak
menyerah. Jangan kembali
memberikan popok untuk anak pup.
Itu akan membingungkan mereka
dan membuat seluruh proses mundur
jauh ke belakang. Tetaplah tenang,
konsisten, dan percaya bahwa anak
Anda bisa mengatasinya.
Tubuh mereka tahu apa yang harus
dilakukan. Pikiran mereka hanya
perlu sedikit waktu untuk
menyesuaikan diri. Dan dengan
bimbingan Anda yang penuh kasih
dan kesabaran, mereka akan berhasil.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kita masuk ke Bab 6, dan ini dia
topik yang paling bikin banyak
orang tua frustrasi dan nyaris nyerah:
masalah pup. Glowacki ngakuin
dengan jujur, dari semua drama potty
training, urusan yang satu ini emang
paling susah, paling emosional, dan
paling sering jadi alasan buat nyerah.
Bayangin, anak lo udah lancar pipis
di pispot, eh tiba-tiba ngadat total
pas disuruh pup. Dia nahan
berhari-hari, ngumpet di balik sofa,
atau bahkan nangis histeris pas
ngeliat pupnya sendiri di pispot.

Tapi, Glowacki langsung nenangin lo.
Semua ini normal, gaes. Ini fase yang
sangat umum dan pasti bisa lo atasi.
Kuncinya cuma satu: lo harus paham
dulu apa yang lagi terjadi di otak
si kecil, baru lo bisa sabar dan pake
jurus yang tepat.

Kenapa sih anak-anak bisa takut
banget sama pup di pispot?
Serem amat?

Glowacki ngejelasin, hubungan anak
sama pup itu beda banget sama pipis.
Pipis itu cair, keluar cepet, trus ilang.
Tapi pup? Itu padat. Anak bisa ngeliat
wujudnya, dan mereka bisa ngerasain
sesuatu yang gede keluar dari badan
mereka. Buat sebagian anak, sensasi
ini aneh dan menakutkan.

Nah, ini dia penjelasan psikologisnya
yang bikin lo ngeh. Buat anak kecil,
pup mereka tuh berasa kayak bagian
dari diri mereka sendiri. Coba lo
bayangin lo jadi anak 2 tahun.
Lo duduk, ngeden, trus tiba-tiba
ada benda padat dan anget yang
keluar dari dalem badan lo, jatuh
ke pispot. Lo ngeliat benda itu di sana.
Itu keliatan kayak sesuatu yang
penting. Dan sekarang, benda itu
udah misah dari lo. Kemana dia pergi?
Apa dia bakal ilang selamanya?
Apa ada bagian dari diri gue yang
barusan copot?

Buat kita yang udah gede, ini mungkin
kedengeran konyol. Tapi buat anak
yang belum ngerti cara kerja tubuh,
ini ketakutan yang nyata banget.
Mereka belum paham kalau pup itu
cuma sampah sisa makanan. Mereka
belum ngerti kalau badan bakal terus
produksi lagi. Yang mereka tahu, ada
sesuatu yang keluar, dan itu rasanya
kayak kehilangan. Belum lagi sensasi
ngeden yang aneh atau bahkan sakit,
karena otot perut harus kerja keras.
Buat anak yang sebelumnya cuek aja
pup di popok, sensasi ini bener-bener
baru dan bisa bikin panik.

Anak Menahan Pup atau Ngumpet?
Ini Bahaya Banget

Pasti lo familiar sama pemandangan
ini: anak nyilangin kaki, nepokin
pantat, atau berdiri kaku buat nahan
pup. Atau, mereka tiba-tiba
ngilang nyari tempat sembunyi
di balik gorden atau bawah meja
buat pup dengan posisi favorit mereka:
berdiri atau jongkok. Itu naluri alami,
gaes. Dulu di era popok, mereka bisa
pup kapan aja di mana aja.

Tapi, lo harus tahu, menahan pup itu
bahaya. Semakin lama dia tahan,
semakin keras dan kering pupnya
di dalem usus. Pas akhirnya keluar,
prosesnya bakal sakit banget. Nah,
rasa sakit ini yang malah bikin dia
makin takut. Dia jadi inget,
“Oh, pup itu sakit.” Jadi, lain kali dia
nahan lagi. Ini jadi lingkaran setan
yang susah diputus.

Solusi Glowacki: Jangan Paksa,
Tenang Aja, dan Ceritain

Terus, lo harus gimana? Aturan paling
sakral: jangan lo paksa. Jangan pernah
megang anak dan maksa dia duduk
di pispot sambil nangis. Jangan teriak,
jangan marah. Itu cuma nambah rasa
takut dan bikin masalah makin parah.

Langkah pertama, lo harus jelasin cara
kerja tubuh dengan bahasa yang dia
ngerti. Glowacki nyaranin lo bikin
cerita. Misalnya gini:
“Kamu tahu nggak, di dalem perut
kita tuh kayak ada pabrik. Pabrik ini
ngambil semua makanan yang kita
makan, ngambil vitaminnya buat
bikin kita kuat dan gede, terus sisanya
dibuang. Nah, itu namanya pup.
Pup itu cuma sampah. Badan kita
udah nggak butuh lagi, jadi dibuang.
Nggak ada yang hilang dari diri kamu.
Badan kamu bakal terus bikin
makanan baru, vitamin baru, dan
pup baru.”

Cerita kayak gini ngebantu dia ngerti
kalau pup itu bukan bagian dari
dirinya. Itu cuma sampah.
Ngelepasnya bukan berarti
kehilangan, tapi justru bagus.

Atasi Sembelit Dulu dengan Makanan

Glowacki juga nekenin, masalah fisik
dan psikologis itu nyambung. Kalau
anak udah terlanjur sembelit karena
nahan, lo harus beresin dulu fisiknya
sebelum bisa ngomongin psikologisnya.
Percuma lo bilang pup nggak sakit,
kalau kenyataannya dia kesakitan
karena pupnya keras.

Jadi, langsung atur pola makan.
Tambahin makanan kaya serat.
Buah plum, pir, apel, sama berry itu
ampuh. Sayuran hijau juga penting.
Kurangin makanan yang bikin
sembelit kayak keju, pisang yang
belum mateng, dan nasi putih
kebanyakan. Pastiin dia minum air
putih yang cukup biar pup di dalem
usus jadi lembek. Kalau perlu,
Glowacki malah nyaranin dikit jus
buah murni yang diencerin buat
bantu lancarin. Tujuannya satu:
bikin pengalaman pup itu nggak
sakit, biar dia nggak takut lagi.

Jurus “Menggendong” ke Pispot:
Ubah Koneksi di Otak

Ini dia jurus pamungkas Glowacki
buat anak yang doyan ngumpet atau
nahan pup. Lo pasti udah hapal
isyarat anak lo kalau mau pup.
Begitu lo liat dia mulai ngumpet atau
jongkok, jangan panik, jangan teriak.
Deketin dia dengan tenang. Angkat
dia dengan lembut, kayak ngendong.
Bawa ke pispot. Sambil jalan, ucapin
mantra lo dengan suara tenang dan
yakin, “Pupnya ditahan dulu. Kita
taruh di pispot ya.”

Ini momen kritis banget, gaes. Kalau
dia udah terlanjur ngeluarin dikit,
biarin aja. Jangan dimarahin. Tetep
aja bawa ke pispot. Walaupun udah
ada yang jatuh di lantai, tetep
dudukin dia. Biarin sisanya keluar
di pispot. Tujuannya biar dia tetep
ngerasain pengalaman “pup di pispot”,
meskipun awalnya mulai
di tempat lain. Dengan gini, koneksi
di otaknya mulai berubah. Dia belajar
kalau pispot adalah tempat yang
bener buat nyelesein “urusan”.

Glowacki wanti-wanti, lo mungkin
harus ngelakuin ini berkali-kali,
bukan sekali. Setiap kali, respon lo
harus sama: tenang, lembut, tapi
tegas. Bawa ke pispot, ucapin
kalimatnya. Lama-lama, dia bakal
ngerti sendiri dan mulai ke pispot
duluan tanpa perlu lo gendong.

Glowacki nutup bab ini dengan pesan
yang nguatin. Masalah pup ini fase
yang super sulit, tapi percaya deh,
ini bakal berlalu. Hampir semua anak
akhirnya bisa ngelewatin. Yang paling
penting, lo jangan nyerah dan jangan
balik kasih popok lagi buat dia pup.
Itu cuma bikin dia bingung dan
mundur jauh. Tetep kalem, konsisten,
dan percaya anak lo pasti bisa.
Tubuhnya tahu apa yang harus
dilakuin, pikirannya cuma butuh
waktu dikit buat nyesuaiin. Dengan
bimbingan lo yang sabar, dia pasti
sukses.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *