buku

When Is Your Child Ready? (Kapan Anak Siap?)

Di bab kedua ini, Jamie Glowacki
langsung membongkar salah satu
mitos terbesar dalam dunia potty
training. Di mana-mana, orang tua
diberitahu bahwa mereka harus
menunggu sampai anak mereka
menunjukkan “tanda-tanda kesiapan”
sebelum memulai potty training.
Daftar tanda-tanda ini biasanya
panjang dan membingungkan.
Anak harus bisa memberitahu ketika
popoknya basah. Anak harus
menunjukkan ketertarikan pada toilet.
Anak harus bisa duduk diam selama
beberapa menit. Anak harus bisa
menarik celananya sendiri naik turun.
Anak harus sudah tidak suka
memakai popok.

Glowacki mengatakan bahwa daftar
tanda-tanda ini bukan hanya tidak
membantu, tapi justru menyesatkan.
Jika orang tua menunggu sampai
semua tanda ini muncul, mereka
mungkin akan menunggu sangat lama.
Beberapa anak tidak akan pernah
menunjukkan semua tanda itu.
Bukan karena mereka tidak mampu,
tapi karena mereka sudah terlalu
nyaman dengan popok mereka.
Atau karena mereka terlalu sibuk
dengan kegiatan lain untuk peduli
pada toilet. Atau karena kepribadian
mereka yang tidak suka perubahan.

Glowacki membalik logika ini.
Menurutnya, potty training bukanlah
tentang menunggu anak siap.
Potty training adalah tentang
orang tua yang memutuskan bahwa
sudah waktunya, lalu memimpin anak
melalui proses itu. Tentu saja, anak
harus cukup matang secara fisik dan
mental. Tapi kematangan itu tidak
perlu diukur dengan daftar panjang
yang rumit.

Window of Opportunity:
Usia 20 hingga 30 Bulan

Glowacki memperkenalkan konsep
yang sangat penting: 
window of
opportunity
 atau jendela
kesempatan. Ini adalah rentang usia
di mana potty training paling
mungkin berhasil dengan lancar.
Menurut pengalamannya dengan
ribuan keluarga, jendela ini berada
antara 
20 hingga 30 bulan.

Mengapa rentang usia ini begitu
istimewa? Glowacki menjelaskan
bahwa ini adalah titik temu yang
langka antara dua kekuatan yang
berlawanan. Di satu sisi, anak pada
usia ini sudah cukup matang secara
fisik. Otot-otot yang mengontrol
kandung kemih dan usus sudah cukup
berkembang sehingga anak bisa
menahan dan melepaskan dengan
sadar. Sistem saraf mereka sudah
cukup terhubung sehingga mereka
bisa merasakan sensasi ingin buang
air dan meresponsnya. Mereka juga
sudah cukup cerdas untuk memahami
instruksi sederhana.

Di sisi lain, anak pada usia ini biasanya
belum mencapai puncak fase
pembangkangan
.
Fase “terrible twos” atau “usia dua
tahun yang mengerikan” belum
mencapai puncaknya. Anak usia
20 bulan mungkin sudah mulai
menunjukkan keinginan untuk
mandiri dan mengatakan “tidak”,
tapi mereka belum sepenuhnya
berada dalam mode melawan
otoritas. Mereka masih cukup
kooperatif. Mereka masih mau
mengikuti orang tua mereka.

Jika orang tua menunggu terlalu lama,
melewati usia 30 bulan, mereka akan
memasuki wilayah yang jauh lebih
sulit. Anak yang lebih tua cenderung
lebih keras kepala. Mereka sudah
terbiasa dengan popok selama
bertahun-tahun, dan kebiasaan itu
sudah sangat mengakar. Mereka juga
lebih pintar dalam berargumentasi
dan melawan. Potty training pada
anak usia tiga atau empat tahun
sering kali berubah menjadi perang
kemauan yang melelahkan. Glowacki
mengatakan bahwa lebih mudah
mengajari anak berusia dua tahun
yang masih polos daripada anak
berusia tiga tahun yang sudah
mahir membantah.

Tanda Kesiapan yang Paling
Nyata

Jadi, jika daftar panjang tanda
kesiapan itu tidak berguna, apa yang
sebenarnya harus dicari oleh orang
tua? Glowacki menyederhanakannya
menjadi tiga hal yang sangat
mendasar.

Pertama, anak bisa mengatakan
“tidak”.
 Ini mungkin terdengar aneh.
Mengapa kemampuan menolak
menjadi tanda kesiapan? Glowacki
menjelaskan bahwa mengatakan
“tidak” adalah tanda bahwa anak
mulai memiliki kesadaran diri dan
keinginan sendiri. Mereka bukan lagi
bayi yang pasif. Mereka adalah
individu kecil yang memiliki pendapat.
Kemampuan untuk mengatakan
“tidak” menunjukkan bahwa anak
sudah bisa mengomunikasikan apa
yang mereka inginkan dan tidak
inginkan. Ini penting karena selama
potty training, anak perlu bisa
memberitahu Anda ketika mereka
perlu ke toilet, atau ketika mereka
tidak ingin ke toilet.

Kedua, anak bisa mengikuti
instruksi sederhana.

Ini adalah tanda bahwa kemampuan
bahasa dan pemahaman anak sudah
cukup berkembang. Mereka bisa
mengerti ketika Anda berkata,
“Ayo duduk di pispot.”
Mereka bisa mengerti ketika Anda
berkata,
“Dorong celanamu ke bawah.”
Instruksi-instruksi ini adalah
fondasi dari potty training.
Jika anak belum bisa memahami
dan mengikuti perintah sederhana,
prosesnya akan sangat sulit.

Ketiga, anak menunjukkan
ketertarikan kecil pada toilet.
Perhatikan kata “kecil”. Glowacki
tidak mengatakan bahwa anak
harus sangat antusias atau
terus-menerus bertanya tentang
toilet. Ketertarikan kecil sudah cukup.
Mungkin anak sesekali mengikuti
Anda ke kamar mandi dan melihat
Anda menggunakan toilet. Mungkin
anak menunjuk ke arah toilet dan
mengatakan sesuatu. Mungkin anak
terlihat penasaran saat Anda
mengganti popoknya. Ketertarikan
kecil ini adalah celah yang bisa
Anda gunakan untuk memulai.
Anda tidak perlu menunggu sampai
anak meminta untuk belajar
menggunakan toilet. Itu mungkin
tidak akan pernah terjadi.

Motivasi Terbesar Datang dari
Bimbingan Orang Tua

Bagian terpenting dari bab ini adalah
kesimpulan Glowacki bahwa
motivasi terbesar untuk potty
training tidak datang dari anak.
Ia datang dari orang tua.

Anak-anak tidak akan bangun
di suatu pagi dan memutuskan
bahwa hari ini mereka akan
meninggalkan popok mereka yang
nyaman. Popok terlalu nyaman.
Mereka bisa bermain selama
berjam-jam tanpa harus berhenti.
Mereka tidak perlu peduli dengan
toilet.

Orang tualah yang harus menjadi
motivator. Orang tualah yang harus
menetapkan bahwa sudah waktunya.
Orang tualah yang harus memimpin
dengan tenang, percaya diri, dan
tegas. Glowacki mengingatkan bahwa
ini bukan tentang memaksa atau
menghukum. Ini tentang
membimbing. Anda adalah pemandu
anak Anda melewati proses belajar
yang baru. Anak Anda tidak tahu
bagaimana caranya menggunakan
toilet. Mereka belum pernah
melakukannya sebelumnya.
Tugas Anda adalah menunjukkan
jalannya, memberi mereka dukungan,
dan tetap tenang bahkan ketika
terjadi kecelakaan.

Glowacki menutup bab ini dengan
pesan yang jelas. Jangan terjebak
dalam permainan menunggu
“tanda kesiapan” yang mitos itu.
Jangan lewatkan jendela kesempatan
antara 20 dan 30 bulan. Jika anak
Anda sudah cukup umur, bisa
mengatakan “tidak”, bisa mengikuti
instruksi sederhana, dan
menunjukkan sedikit ketertarikan,
itu sudah cukup. Selebihnya adalah
tugas Anda sebagai orang tua untuk
memimpin. Ambil napas
dalam-dalam, tetapkan tanggal mulai,
dan bersiaplah. Anda bisa
melakukannya. Anak Anda juga bisa.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, gue lanjutin ke Bab 2 dari buku
Oh Crap! Potty Training nih. Di sini
Jamie Glowacki langsung nembak
salah satu mitos paling bandel
di dunia per-toilet-an:
soal “tanda-tanda kesiapan anak”.
Lo pasti sering denger kan, kalau
mau mulai potty training harus
nunggu si kecil nunjukkin ini-itu dulu?
Nah, Glowacki bilang itu semua
kebanyakan omong kosong dan malah
bikin lo jadi ragu. Yuk, kita bahas.

Lo tau kan, banyak banget artikel atau
saran yang bilang, “Jangan mulai
potty training sebelum anak lo
nunjukkin tanda-tanda siap!”
Daftarnya panjang banget:
anak harus bisa bilang kalau
popoknya basah, harus tertarik
sama toilet, bisa duduk diem,
bisa naik-turunin celana sendiri, dan
udah nggak betah pake popok.
Lengkap banget kayak syarat
lamaran kerja.

Glowacki bilang, daftar panjang kayak
gitu tuh bukan cuma nggak ngebantu,
tapi malah bikin lo tersesat. Bayangin,
kalau lo nungguin semua tanda itu
muncul satu per satu, bisa-bisa lo
nunggu sampe anak lo masuk kuliah.
Beberapa anak emang nggak bakal
pernah nunjukkin semua tanda itu.
Bukan karena mereka nggak mampu,
tapi karena mereka udah keenakan
pake popok. Popok itu nyaman, gaes.
Lo bisa main seharian tanpa harus
berenti. Atau, mungkin aja
kepribadian si kecil yang emang
nggak suka perubahan, jadi dia
cuek aja.

Nah, Glowacki jungkir balikin
logika ini. Dia bilang, potty training
itu bukan soal nunggu anak siap.
Tapi soal lo, sebagai orang tua, yang
mutusin “Oke, sekarang waktunya,”
lalu lo pimpin mereka. Ya jelas, anak
harus cukup dewasa secara fisik dan
mental. Tapi ngukurnya nggak perlu
pake daftar yang bikin pusing.

Window of Opportunity:
Usia 20 sampai 30 Bulan

Ini dia kuncinya. Glowacki ngenalin
istilah keren: 
window of opportunity
atau jendela kesempatan. Jadi, ada
rentang usia emas di mana potty
training paling gampang buat berhasil.
Dari pengalamannya ngurusin ribuan
keluarga, jendela ajaib ini ada
di antara 20 sampai 30 bulan.
Nah, lo catet ya.

Kenapa usia segitu? Soalnya, ini
titik temu yang langka antara dua
kekuatan yang saling tarik-menarik.
Di satu sisi, anak lo di usia ini udah
cukup kuat secara fisik. Otot-otot
yang ngatur kandung kemih dan
perutnya udah mulai berfungsi, jadi
dia bisa nahan dan ngeluarin dengan
sadar. Sarafnya juga udah nyambung,
jadi dia bisa ngerasain sensasi
“mau pipis” dan nanggapinya.
Dia juga udah cukup pinter buat
ngerti instruksi simpel dari lo.

Di sisi lain, anak di usia segini
biasanya belum mencapai puncak
fase “terrible twos” alias masa
pembangkangan yang bikin lo
garuk-garuk tembok.
Anak 20 bulan mungkin udah
mulai suka bilang “enggak” dan
pengen mandiri, tapi dia belum
sepenuhnya berubah jadi pengacara
cilik yang siap debat. Mereka masih
lumayan kooperatif, masih mau
nurut sama orang tuanya. Nah,
ini celah yang harus lo manfaatkan.

Coba deh lo tunda. Kelewatan dari
30 bulan, lo bakal masuk zona
perang. Anak yang lebih gede
biasanya makin keras kepala.
Mereka udah kebiasaan pake popok
bertahun-tahun, jadi susah banget
buat ngubah kebiasaan itu. Mereka
juga makin pinter ngeles dan
ngelawan. Potty training di usia
3 atau 4 tahun seringnya berubah
jadi drama panjang yang bikin lo
berasa kayak lagi negosiasi sama
teroris. Glowacki bilang, lebih
gampang ngajarin anak umur dua
tahun yang masih polos, daripada
anak tiga tahun yang udah jago debat.

Tanda Kesiapan yang Beneran
Jelas

Terus, kalau daftar panjang itu nggak
guna, apa dong yang harus lo liat?
Glowacki ngeringkesnya jadi tiga hal
super simpel aja.

Pertama, anak lo udah bisa bilang
“enggak”. Kedengerannya aneh, ya?
Kok malah kemampuan nolak yang
jadi tanda? Gini, ngomong “enggak”
itu sebenernya tanda kalau si kecil
udah mulai punya kesadaran diri
dan kemauan sendiri. Dia bukan
bayi pasif lagi, tapi udah jadi individu
kecil yang punya pendapat.
Nah, kemampuan ini penting banget
buat potty training, karena nanti dia
harus bisa ngomong ke lo kalau dia
perlu ke toilet, atau kalau dia nggak
mau.

Kedua, dia udah bisa ngikutin
instruksi simpel. Misalnya lo bilang,
“Sini, duduk di pispot,” atau,
“Coba dorong celananya ke bawah,”
dia ngerti dan ngelakuin. Ini fondasi
banget. Kalau dia belum bisa,
prosesnya bakal berat banget.

Ketiga, dia nunjukkin ketertarikan
kecil ke toilet. Perhatiin ya, “kecil”.
Dia nggak perlu heboh atau
nanya-nanya terus. Cukup dikit aja.
Misalnya dia suka ngikutin lo
ke kamar mandi, atau
nunjuk-nunjuk ke arah toilet.
Mungkin dia keliatan penasaran
pas lo lagi ganti popoknya. Nah,
celah kecil inilah yang bisa lo pake
buat mulai. Lo nggak perlu nunggu
sampe dia yang minta diajarin,
karena itu mungkin nggak bakal
terjadi. Popok itu nyaman, gaes.

Motivasi Terbesar Itu dari
Lo, Bukan dari Dia

Ini poin paling penting dari bab ini.
Glowacki nekenin banget, motivasi
terbesar buat suksesnya potty
training itu bukan datang dari anak.
Tapi dari lo, sebagai orang tuanya.
Anak-anak nggak bakal tiba-tiba
bangun pagi dan mikir,
“Oh, hari ini gue akan ninggalin
popok tersayang dan pergi
ke toilet.”
Nggak. Popok itu enak.
Dia bisa main seharian
tanpa berenti.

Jadi, lo-lah yang harus jadi
penggeraknya. Lo yang harus nentuin,
“Ini waktunya.” Lo yang harus pimpin
dengan tenang, pede, dan tegas.
Glowacki ngingetin, ini bukan soal
maksa atau hukum. Ini soal
ngebimbing. Lo itu kayak pemandu
buat anak lo yang lagi belajar skill
baru. Dia kan nggak ngerti gimana
caranya pake toilet. Dia belum
pernah. Tugas lo ya nunjukin caranya,
ngasih dukungan, dan tetep kalem
bahkan pas terjadi kecelakaan
di karpet.

Glowacki nutup bab ini dengan pesan
yang jelas: jangan kejebak sama
mitos nunggu “tanda kesiapan” itu.
Jangan sampe lo kelewatan jendela
ajaib 20-30 bulan. Kalau anak lo
udah cukup umur, udah bisa bilang
“enggak”, bisa ngikutin instruksi,
dan ada ketertarikan dikit, itu udah
cukup. Selebihnya adalah tugas
lo buat pimpin. Ambil napas,
tetapkan tanggal mulai, dan siaplah.
Lo pasti bisa. Anak lo juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *