buku

Elizabeth Loftus dan Memori Rekonstruktif

Elizabeth Loftus adalah seorang
psikolog kognitif Amerika yang secara
fundamental mengubah pemahaman
kita tentang ingatan manusia.
Sebelum penelitiannya, ada anggapan
luas bahwa ingatan manusia bekerja
seperti rekaman video.
Kita mengalami sesuatu, rekaman itu
tersimpan di otak kita, dan ketika kita
ingin mengingatnya, kita tinggal
memutar ulang rekaman itu. Mungkin
ada bagian yang buram. Mungkin ada
bagian yang terlupakan. Tapi apa
yang kita ingat, diyakini sebagai
salinan yang cukup akurat dari apa
yang benar-benar terjadi.

Loftus membuktikan bahwa anggapan
ini sepenuhnya salah. Ingatan
bukanlah rekaman yang pasif.
Ingatan adalah 
proses
rekonstruktif yang aktif
.
Setiap kali kita mengingat sesuatu,
kita tidak hanya mengambil file yang
tersimpan dan memutarnya.
Kita sebenarnya membangun
kembali ingatan itu dari
potongan-potongan informasi yang
tersebar. Dan selama proses
pembangunan kembali ini, ingatan
kita bisa berubah, terdistorsi, dan
bahkan ditanami dengan detail-detail
yang tidak pernah benar-benar terjadi.

Eksperimen Klasik: Pertanyaan
dengan Sugesti

Salah satu eksperimen Loftus yang
paling terkenal melibatkan partisipan
yang menonton rekaman video
kecelakaan mobil. Setelah menonton,
para partisipan diminta untuk
menggambarkan apa yang mereka
lihat. Tapi ada satu pertanyaan kunci
yang diajukan dengan cara yang
berbeda kepada kelompok yang
berbeda.

Kelompok pertama ditanya:
“Seberapa cepat mobil-mobil itu saat
saling 
menghantam (smashed)?”
Kelompok kedua ditanya:
“Seberapa cepat mobil-mobil itu saat
saling 
bertabrakan (collided)?”
Kelompok ketiga ditanya:
“Seberapa cepat mobil-mobil itu saat
saling 
menabrak (bumped)?”
Kelompok keempat ditanya:
“Seberapa cepat mobil-mobil itu saat
saling 
bersentuhan (contacted)?”

Semua partisipan menonton video
yang persis sama. Kecelakaan yang
terjadi adalah kecelakaan yang
sama. Yang berbeda hanyalah satu
kata dalam pertanyaan yang
diajukan. Tapi perbedaan kecil ini
menghasilkan perbedaan yang
signifikan dalam jawaban mereka.

Kelompok yang mendengar kata
“menghantam” memperkirakan
kecepatan mobil paling tinggi,
rata-rata sekitar 65 kilometer per jam.
Kelompok yang mendengar kata
“bersentuhan” memperkirakan
kecepatan paling rendah, rata-rata
sekitar 50 kilometer per jam. Padahal
video yang mereka tonton persis sama.
Satu kata yang berbeda dalam
pertanyaan sudah cukup untuk
mengubah ingatan mereka tentang
seberapa cepat mobil itu bergerak.

Tapi Loftus tidak berhenti di situ.
Ia ingin tahu seberapa dalam pengaruh
sugesti ini. Seminggu kemudian,
ia memanggil kembali para partisipan
dan mengajukan pertanyaan baru.
“Apakah Anda melihat pecahan kaca?”
Ini adalah pertanyaan jebakan.
Di dalam video aslinya, tidak ada
pecahan kaca sama sekali.

Hasilnya sangat mengejutkan.
Partisipan yang seminggu sebelumnya
mendengar kata “menghantam”
dua kali lebih mungkin untuk
menjawab “ya” dibandingkan mereka
yang mendengar kata “bersentuhan”.
Mereka tidak hanya mengubah
estimasi kecepatan. Mereka
benar-benar 
menanamkan
ingatan palsu
 tentang pecahan
kaca yang tidak pernah ada. Kata
“menghantam” telah menciptakan
gambaran kecelakaan yang lebih
parah di pikiran mereka, dan
gambaran itu kemudian
menambahkan detail-detail yang
sesuai, termasuk pecahan kaca yang
merupakan konsekuensi logis dari
tabrakan keras.

Bagaimana Ingatan Bisa Diubah?

Loftus menjelaskan bahwa proses
mengingat bukanlah proses
mengambil file yang utuh dari arsip.
Ia adalah proses menyatukan kembali
potongan-potongan informasi yang
tersimpan di berbagai bagian otak.
Setiap kali kita mengingat, kita
membangun kembali ingatan itu,
dan setiap kali kita membangunnya
kembali, ada kesempatan untuk
membuat kesalahan atau
menambahkan informasi baru.

Informasi baru ini bisa datang dari
berbagai sumber. Bisa dari pertanyaan
yang diajukan oleh penyidik atau
pengacara. Bisa dari berita yang kita
baca tentang peristiwa itu. Bisa dari
percakapan dengan orang lain yang
juga menyaksikan peristiwa yang
sama. Bisa dari asumsi kita sendiri
tentang apa yang “seharusnya” terjadi.
Semua informasi ini bisa bercampur
dengan ingatan asli, dan seiring
waktu, kita tidak bisa lagi
membedakan mana yang benar-benar
kita alami dan mana yang kita dengar,
baca, atau asumsikan kemudian.

Loftus juga menunjukkan bahwa
imajinasi bisa menciptakan
ingatan palsu
. Dalam eksperimen
lain, ia meminta partisipan untuk
membayangkan secara detail sebuah
kejadian yang tidak pernah mereka
alami, seperti tersesat di mal saat
kecil. Setelah beberapa sesi imajinasi,
banyak partisipan mulai percaya
bahwa kejadian itu benar-benar
terjadi pada mereka.
Mereka mengembangkan ingatan
yang kaya dan detail tentang sesuatu
yang tidak pernah ada.
Proses membayangkan dengan jelas
telah menciptakan jejak ingatan
yang terasa sama nyatanya dengan
ingatan asli.

Eksperimen “Lost in the Mall”

Untuk membuktikan bahwa ingatan
palsu bisa ditanamkan bahkan untuk
kejadian yang cukup signifikan,
Loftus merancang eksperimen yang
dikenal sebagai “Lost in the Mall”.
Dalam eksperimen ini, ia bekerja
sama dengan keluarga partisipan.
Keluarga memberikan tiga cerita
nyata dari masa kecil partisipan.
Lalu Loftus menambahkan satu
cerita palsu yang dibuat-buat: saat
partisipan berusia sekitar lima tahun,
ia tersesat di pusat perbelanjaan,
menangis, dan akhirnya ditemukan
oleh orang tua yang baik hati dan
dikembalikan ke keluarganya.

Partisipan kemudian diminta untuk
membaca keempat cerita ini dan
menuliskan apa yang mereka ingat
tentang setiap kejadian. Mereka
diizinkan untuk mengatakan jika
mereka tidak ingat. Dari sesi
pertama, sekitar 25 persen
partisipan mengaku mengingat
kejadian tersesat di mal itu,
meskipun itu tidak pernah terjadi.
Setelah beberapa kali wawancara,
persentase ini meningkat.
Partisipan tidak hanya mengatakan
bahwa mereka ingat. Mereka mulai
menambahkan detail-detail spesifik.
Mereka menggambarkan baju yang
mereka kenakan.
Mereka menggambarkan wajah
orang yang menolong mereka.
Mereka menciptakan ingatan yang
sangat hidup dan emosional
tentang sesuatu yang murni fiksi.

Implikasi pada Psikologi
Kesaksian Mata

Penelitian Loftus memiliki dampak
yang sangat besar, terutama pada
sistem peradilan pidana.
Selama puluhan tahun, kesaksian
saksi mata dianggap sebagai salah
satu bentuk bukti paling kuat
di pengadilan. Jika seorang saksi
berdiri di depan juri, menunjuk
terdakwa, dan berkata,
“Saya yakin. Itu dia orangnya,”
maka hukuman hampir pasti
akan dijatuhkan.

Loftus menunjukkan betapa rapuhnya
keyakinan itu. Ingatan saksi mata bisa
dipengaruhi oleh banyak hal.
Cara polisi mengajukan pertanyaan
saat wawancara bisa menanamkan
sugesti. Melihat foto tersangka
di media bisa mencampurkan
wajah itu dengan ingatan tentang
pelaku sebenarnya. Diskusi dengan
saksi lain bisa mengubah ingatan
individu. Stres dan trauma saat
menyaksikan kejahatan bisa
mengganggu proses penyandian
ingatan sejak awal. Jangka waktu
antara kejadian dan identifikasi bisa
menyebabkan ingatan memudar dan
terdistorsi. Dalam kasus-kasus
di mana pelaku memiliki senjata,
saksi cenderung fokus pada senjata
itu dan kurang memperhatikan
wajah pelaku. Ini disebut
“weapon focus effect.”

Loftus telah memberikan kesaksian
ahli dalam ratusan kasus pengadilan,
termasuk kasus-kasus terkenal
seperti pembelaan terhadap
para terdakwa dalam kasus
pembunuhan yang didasarkan pada
ingatan yang dipulihkan dari terapi.
Ia menunjukkan bahwa teknik-teknik
terapi tertentu, seperti hipnosis dan
imajinasi terbimbing, sebenarnya bisa
menanamkan ingatan palsu alih-alih
memulihkan ingatan yang tertekan.

Berkat penelitian Loftus, banyak
negara telah mereformasi prosedur
identifikasi saksi mata.
Polisi sekarang dilatih untuk
menggunakan pertanyaan netral
yang tidak mengandung sugesti.
Lineup tersangka dilakukan dengan
petugas yang tidak tahu siapa
tersangka sebenarnya, sehingga ia
tidak bisa secara tidak sengaja
memberikan petunjuk kepada saksi.
Saksi diperingatkan bahwa pelaku
mungkin tidak ada dalam lineup,
sehingga mereka tidak merasa harus
memilih seseorang. Semua perubahan
ini bertujuan untuk melindungi
integritas ingatan saksi mata dan
mencegah hukuman terhadap orang
yang tidak bersalah.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Penelitian Elizabeth Loftus melahirkan
konsep yang sekarang dikenal sebagai
misinformation effect atau efek
misinformasi. Ini adalah fenomena
ketika informasi yang diterima setelah
suatu peristiwa terjadi justru
mengubah ingatan seseorang tentang
peristiwa tersebut.

Misalnya, seseorang menyaksikan
kecelakaan lalu lintas. Beberapa hari
kemudian, ia membaca berita yang
menyebutkan bahwa mobil berwarna
merah menerobos lampu merah.
Padahal sebenarnya mobil yang ia
lihat berwarna biru. Setelah beberapa
waktu, orang itu bisa mulai percaya
bahwa ia memang melihat mobil
merah. Informasi baru telah
bercampur dengan ingatan aslinya.

Yang penting untuk dipahami adalah
bahwa orang tersebut biasanya tidak
sedang berbohong. Ia benar-benar
percaya bahwa ingatannya akurat.
Inilah yang membuat memori
rekonstruktif menjadi sangat menarik
sekaligus berbahaya.

Kepercayaan Diri Tidak
Menjamin Akurasi

Salah satu temuan yang paling
mengejutkan dari penelitian Loftus
adalah bahwa tingkat keyakinan
seseorang terhadap ingatannya tidak
selalu berhubungan dengan
kebenaran ingatan itu.

Seseorang bisa berkata dengan
sangat yakin:

“Saya ingat dengan jelas. Saya tidak
mungkin salah.”

Namun keyakinan yang kuat bukanlah
bukti bahwa ingatan tersebut benar.
Ingatan palsu pun bisa terasa sangat
nyata dan sangat meyakinkan.

Hal ini penting karena di pengadilan,
juri sering kali lebih mudah percaya
kepada saksi yang berbicara dengan
yakin. Padahal, saksi yang sangat
percaya diri belum tentu lebih akurat
dibandingkan saksi yang ragu-ragu.

Mengapa Ingatan Tidak
Sempurna?

Menurut para psikolog kognitif,
memori manusia sebenarnya
dirancang untuk menjadi fleksibel,
bukan untuk menjadi kamera yang
sempurna.

Saat mengingat suatu peristiwa, otak
tidak menyimpan setiap detail kecil.
Sebaliknya, otak menyimpan
potongan-potongan informasi
penting, lalu ketika dibutuhkan,
potongan-potongan itu disusun
kembali menjadi sebuah cerita
yang masuk akal.

Sistem ini memiliki keuntungan.
Kita bisa menyesuaikan diri dengan
situasi baru, membuat kesimpulan,
dan menghubungkan pengalaman
lama dengan pengalaman baru.
Tapi ada harga yang harus dibayar:
ingatan menjadi rentan terhadap
kesalahan.

Karena itulah dua orang yang
menyaksikan peristiwa yang sama bisa
memberikan cerita yang sedikit
berbeda. Bukan karena salah satu dari
mereka sengaja berbohong, melainkan
karena masing-masing membangun
kembali ingatan mereka dengan cara
yang berbeda.

Kritik dan Batasan

Meskipun penelitian Loftus sangat
berpengaruh, beberapa peneliti
mengingatkan bahwa tidak semua
ingatan mudah dimanipulasi.
Peristiwa yang sangat emosional
atau sangat penting dalam hidup
seseorang mungkin lebih sulit untuk
diubah dibandingkan peristiwa
sehari-hari yang biasa.

Selain itu, sebagian kritik
menyatakan bahwa banyak
eksperimen Loftus menggunakan
kejadian yang relatif ringan, seperti
kecelakaan mobil atau tersesat
di pusat perbelanjaan. Oleh karena itu,
masih ada perdebatan mengenai
sejauh mana ingatan tentang peristiwa
yang sangat traumatis dapat
dipengaruhi oleh sugesti.

Namun secara umum, mayoritas
psikolog sepakat bahwa ingatan
manusia tidaklah sempurna dan
dapat dipengaruhi oleh informasi
baru.

Warisan Elizabeth Loftus

Penelitian Elizabeth Loftus mengubah
cara kita memandang memori.
Sebelum Loftus, banyak orang
menganggap ingatan sebagai rekaman
yang dapat diputar kembali kapan saja.
Setelah penelitiannya, kita memahami
bahwa ingatan lebih mirip sebuah
cerita yang terus-menerus ditulis ulang.

Temuannya memengaruhi berbagai
bidang:

  • Psikologi forensik, terutama
    dalam pemeriksaan saksi mata.
  • Hukum pidana, dengan
    prosedur identifikasi tersangka
    yang lebih hati-hati.
  • Psikoterapi, terutama dalam
    perdebatan mengenai ingatan
    yang dipulihkan.
  • Pendidikan, karena cara
    bertanya dapat memengaruhi
    apa yang diingat siswa.
  • Kehidupan sehari-hari,
    karena percakapan dengan
    orang lain dapat mengubah
    cara kita mengingat masa lalu.

Elizabeth Loftus mengingatkan kita
bahwa ingatan bukanlah jendela yang
sempurna menuju masa lalu. Ingatan
adalah rekonstruksi yang terus
berubah. Kita sering kali percaya
bahwa kita mengingat masa lalu apa
adanya. Padahal, yang kita ingat
mungkin bukan sekadar apa yang
terjadi, tetapi juga apa yang kita
dengar, apa yang kita bayangkan,
dan apa yang kita yakini telah terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *