buku

Bab 3 Pindah ke Welch, Virginia Barat

Setelah bertahun-tahun
berpindah-pindah di gurun,
Rex membuat sebuah pengumuman
besar. Ia mengatakan bahwa mereka
akan pindah ke kampung halamannya
di Welch, Virginia Barat. Di sanalah
ia dibesarkan. Di sanalah keluarganya
berasal. Rex bilang bahwa di Welch
mereka akan memulai hidup baru.
Ia akan mendapatkan pekerjaan yang
baik. Mereka akhirnya akan memiliki
rumah yang layak. Janji-janji ini
terdengar sangat indah, sama seperti
janji istana kaca yang sudah ia
ucapkan selama bertahun-tahun.

Anak-anak penuh harapan. Mereka
mengemas barang-barang mereka
yang sangat sedikit dan menempuh
perjalanan panjang melintasi negara.
Mereka membayangkan rumah yang
hangat, makanan yang cukup, dan
kehidupan yang lebih baik.

Tapi begitu mereka tiba di Welch,
kenyataan langsung menghantam
mereka dengan keras. Rumah yang
akan mereka tinggali bukanlah rumah
yang layak. Itu adalah sebuah
bangunan tua yang sudah sangat
rusak. Catnya mengelupas.
Kayu-kayunya lapuk. Atapnya bocor
di banyak tempat. Tidak ada pipa air
yang berfungsi, jadi tidak ada air
bersih yang mengalir. Tidak ada
kamar mandi yang bisa dipakai.
Listrik hanya tersambung seadanya
dengan kabel-kabel yang berbahaya.

Yang paling parah adalah jamur.
Dinding-dinding rumah itu penuh
dengan jamur hitam yang tumbuh
karena lembab dan tidak pernah
dibersihkan. Baunya sangat
menyengat. Udara di dalam rumah
terasa berat dan tidak sehat.
Ini bukan rumah. Ini adalah
bangunan yang nyaris roboh.

Musim dingin di Welch sangat
berbeda dengan musim dingin
di gurun. Di gurun, malam hari
memang dingin, tapi siang hari masih
ada matahari. Di Welch, musim dingin
sangat kejam. Suhu bisa turun sangat
rendah. Salju turun tebal.
Angin menusuk tulang. Tapi rumah
mereka tidak memiliki pemanas.
Tidak ada tungku yang menyala.
Tidak ada api di perapian. Anak-anak
tidur dengan seluruh pakaian yang
mereka miliki, ditumpuk
berlapis-lapis, tapi tetap menggigil
sepanjang malam.

Kemiskinan yang dulu sudah parah
kini berubah menjadi penderitaan
yang jauh lebih dalam. Di gurun,
setidaknya mereka masih bisa
menikmati sinar matahari dan
langit terbuka. Di Welch, mereka
terkurung di dalam rumah lembab
dan gelap, kelaparan, dan
kedinginan.

Anak-anak kelaparan hampir
sepanjang waktu. Tidak ada makanan
di rumah. Sama seperti sebelumnya,
mereka mengandalkan makan siang
gratis di sekolah sebagai satu-satunya
sumber makanan yang pasti. Tapi
di Welch, keadaan lebih buruk.
Jeannette sering melihat anak-anak
lain di kantin membuang makanan
mereka ke tempat sampah. Roti yang
hanya digigit sedikit. Apel yang
masih utuh. Susu yang belum habis.
Jeannette akan menunggu sampai
tidak ada yang melihat, lalu ia akan
mengambil makanan itu dari tempat
sampah dan memakannya.
Ia melakukan ini dengan rasa malu
yang sangat dalam, tapi rasa lapar
lebih kuat dari rasa malu.

Pakaian mereka juga sangat buruk.
Mereka tidak punya mesin cuci.
Mereka tidak punya sabun. Mereka
tidak punya cukup air untuk mencuci.
Jadi, mereka memakai baju yang
sama bolak-balik selama
berminggu-minggu tanpa dicuci.
Baju itu menjadi sangat kotor, bau,
dan kaku karena keringat dan debu.
Di sekolah, anak-anak lain mengejek
mereka. Mereka dipanggil dengan
nama-nama yang menyakitkan.
Mereka dikucilkan. Tapi tidak ada
yang bisa mereka lakukan.

Rex semakin tenggelam dalam
kebiasaan minumnya. Di Welch,
keadaannya menjadi lebih buruk
dari sebelumnya. Ia tidak hanya
menghabiskan uangnya sendiri
untuk minuman keras. Ia mulai
mencuri uang belanja.
Uang yang seharusnya dipakai
Rose Mary untuk membeli makanan
bagi anak-anak, dicuri oleh Rex dan
dipakai untuk mabuk. Akibatnya,
anak-anak semakin sering kelaparan.
Rex juga semakin sering menghilang
selama berhari-hari, meninggalkan
anak-anak sendirian di rumah reyot
itu tanpa makanan dan tanpa
kehangatan.

Rose Mary tetap tidak berubah.
Ia masih tenggelam dalam dunia
seninya. Ia menghabiskan hari-harinya
melukis, seolah-olah tidak ada
masalah di sekitarnya. Yang paling
menyakitkan adalah suatu hari
Jeannette menemukan bahwa ibunya
menyembunyikan sebatang
cokelat
 di balik selimutnya.
Rose Mary memakan cokelat itu
diam-diam, sendirian, sementara
anak-anaknya kelaparan. Ketika
Jeannette mengetahuinya, ia merasa
dikhianati. Bagaimana mungkin
seorang ibu tega melakukan itu pada
anaknya sendiri? Tapi itulah
kenyataannya. Rose Mary percaya
bahwa ia berhak mendapatkan
kenikmatan kecil untuk dirinya
sendiri, dan anak-anak harus belajar
mengurus diri mereka sendiri.

Di tengah semua penderitaan ini,
terjadi sebuah perubahan besar
dalam diri Jeannette dan kakaknya
Lori. Mereka mulai berpikir bahwa
mereka tidak bisa terus seperti ini
selamanya. Mereka tidak bisa
menunggu orang tua mereka
berubah, karena orang tua mereka
tidak akan pernah berubah.
Satu-satunya jalan keluar adalah pergi.

Lori adalah yang pertama kali
mengajukan ide ini. Ia mengatakan
bahwa mereka harus pergi ke New
York. Di sana, ada lebih banyak
kesempatan kerja. Di sana, mereka
bisa memulai hidup baru yang jauh
dari Rex dan Rose Mary. Jeannette
setuju. Mereka berdua mulai
membuat rencana. Lori akan pergi
duluan. Ia akan mencari pekerjaan,
menyewa apartemen, dan menabung.
Lalu Jeannette akan menyusul
setelah ia cukup umur.

Mereka mulai menabung sedikit
demi sedikit. Setiap koin yang mereka
dapatkan dari pekerjaan kecil atau
dari pemberian, mereka simpan
dengan hati-hati.
Mereka menyebutnya sebagai
“uang pelarian”. Mereka menggambar
rute perjalanan mereka ke New York
di atas kertas. Mereka membayangkan
kehidupan baru yang menunggu
mereka di sana. Sebuah kehidupan
tanpa kelaparan. Tanpa kedinginan.
Tanpa rasa malu.

Bab ketiga ini adalah titik di mana
harapan anak-anak mulai mati dan
digantikan oleh tekad. Mereka
tidak lagi percaya pada janji-janji
Rex. Mereka tidak lagi menunggu
Rose Mary untuk menjadi ibu
yang bertanggung jawab. Mereka
menyadari bahwa jika mereka ingin
hidup yang lebih baik, mereka harus
menciptakannya sendiri.
Rumah reyot di Welch yang penuh
jamur, kelaparan, dan kedinginan
telah mengajarkan mereka satu hal:
keselamatan tidak akan datang dari
orang tua mereka. Keselamatan
hanya bisa datang dari diri mereka
sendiri.

Dari Mana Anak-Anak
Mendapatkan Uang untuk
Menabung?

Jawabannya adalah mereka bekerja.
Meskipun masih sangat muda,
mereka melakukan berbagai
pekerjaan kecil untuk mendapatkan
uang. Berikut adalah
sumber-sumber uang mereka.

Pertama, Lori bekerja. Lori adalah
kakak tertua. Ia sudah cukup umur
untuk bekerja secara legal. Setelah
pindah ke Welch, Lori mendapatkan
pekerjaan di sebuah toko kecil.
Pekerjaannya mungkin sebagai kasir,
penjaga toko, atau membantu pemilik
toko. Gajinya tidak besar, tapi cukup
untuk ditabung sedikit demi sedikit.
Lori adalah orang yang paling serius
dan paling bertanggung jawab
di antara saudara-saudaranya. Ia tahu
bahwa menabung adalah satu-satunya
jalan keluar.

Kedua, Jeannette bekerja
di toko permen.
 Jeannette,
meskipun masih sangat muda,
juga mencari pekerjaan. Ia bekerja
di sebuah toko permen di Welch.
Tugasnya mungkin membantu
melayani pelanggan, membereskan
rak, atau membersihkan toko.
Dari pekerjaan ini, ia mendapatkan
upah kecil. Jeannette sangat bertekad.
Setiap koin yang ia dapatkan,
ia masukkan ke dalam celengan
rahasia yang ia sembunyikan dari
orang tuanya.

Ketiga, pekerjaan serabutan
lainnya.
 Selain bekerja di toko
permen, Jeannette juga melakukan
pekerjaan apa pun yang bisa
ia temukan. Ia mungkin menjaga
anak tetangga, membersihkan rumah
orang, atau membantu orang tua
di sekitar lingkungan. Apa pun yang
bisa menghasilkan uang, ia lakukan.

Keempat, mereka menyimpan
uang dengan sangat ketat.

Ini adalah bagian yang paling penting.
Jeannette dan Lori tidak
menghabiskan uang mereka untuk
jajan atau bermain. Setiap sen yang
mereka dapatkan langsung masuk
ke dalam tabungan.
Mereka menyembunyikan uang ini
dengan sangat hati-hati, karena
mereka tahu bahwa jika Rex
menemukannya, uang itu akan dicuri
dan dipakai untuk membeli minuman
keras.

Mereka menyebut tabungan ini
sebagai 
“uang pelarian”. Ini adalah
dana khusus yang hanya boleh dipakai
untuk satu tujuan: keluar dari Welch
dan pergi ke New York. Mereka
bahkan membuat rencana tertulis.
Lori akan berangkat duluan
ke New York, mencari tempat tinggal,
dan bekerja. Setelah Lori punya tempat
yang aman, Jeannette akan menyusul.

Jadi, uang tabungan itu berasal dari
kerja keras mereka sendiri. Bukan dari
orang tua mereka. Bukan dari bantuan
siapa pun. Mereka bekerja, menabung,
dan merencanakan masa depan mereka
sendiri, sementara orang tua mereka
terus tenggelam dalam kemiskinan
dan kebiasaan buruk mereka.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Guys, kita lanjut lagi obrolan soal
hidupnya si Jeannette Walls. Setelah
bertahun-tahun jadi “gipsy” di gurun
yang panas, kali ini cerita bawa mereka
ke tempat yang katanya “kampung
halaman”. Lo pasti mikir, ini saatnya
mereka dapet ketenangan. Tapi,
percaya deh, ini malah jadi babak
yang paling kelam.

Bab 3: Pindah ke Welch,
Virginia Barat

Oke, jadi setelah bertahun-tahun
berpindah-pindah di gurun, Rex
tiba-tiba ngumumin sesuatu yang
heboh. Dia bilang mereka bakal
pindah ke kampung halamannya
sendiri di Welch, Virginia Barat.
Di sanalah dia dibesarkan, di sanalah
keluarganya berasal. Dengan penuh
gaya, Rex cerita kalau di Welch mereka
bakal memulai hidup baru. Dia bakal
dapet kerjaan bagus, dan akhirnya
mereka bakal punya rumah yang layak.
Janji ini kedengeran indah banget,
persis kayak janji “istana kaca” yang
udah bertahun-tahun dia gaungkan.

Anak-anak, termasuk Jeannette,
langsung penuh harapan. Mereka
ngemasi barang seadanya dan nempuh
perjalanan panjang lintas negara.
Di kepala mereka, udah kebayang
rumah anget, makanan cukup, dan
hidup yang lebih baik. Tapi, begitu
mereka tiba, kenyataan langsung
nampar mereka keras banget,
tanpa ampun.

Rumah yang bakal mereka tinggali itu
jauh banget dari kata “layak”.
Itu adalah bangunan tua yang udah
sekarat. Catnya pada ngelupas,
kayunya lapuk abis, atapnya bocor
di mana-mana. Pipa airnya? Nggak
ada yang berfungsi, guys. Jadi, nggak
ada air bersih yang ngalir. Nggak ada
kamar mandi yang bisa dipake, dan
listrik cuma nyambung seadanya pake
kabel-kabel yang super bahaya.

Tapi yang paling parah, sumpah,
adalah jamurnya. Dinding rumah itu
penuh sama jamur item yang
tumbuh subur karena lembab dan
nggak pernah dibersihin. Bau
apeknya nyengat banget, menusuk
hidung. Udara di dalem rumah
berasa berat dan jelas banget nggak
sehat. Ini mah bukan rumah, ini
bangunan yang hampir roboh.

Musim dingin di Welch itu beda
banget sama di gurun. Kalau
di gurun, malem dingin tapi siang
masih ada matahari. Di Welch?
Musim dinginnya kejam banget.
Suhu bisa anjlok parah, salju turun
tebel, angin nusuk sampe ke tulang.
Tapi, rumah mereka nggak punya
pemanas! Nggak ada tungku, nggak
ada api perapian. Anak-anak cuma
bisa tidur bertumpuk-tumpuk pake
semua baju yang mereka punya,
berlapis-lapis, tapi tetep aja menggigil
kedinginan sepanjang malem
. Penderitaan yang dulu udah parah,
sekarang malah naik level
berkali-kali lipat.

Di sekolah, Jeannette dan
kakak-adiknya kelaparan hampir
sepanjang waktu. Makan siang gratis
di sekolah masih jadi andalan, tapi
di Welch keadaannya makin ngenes.
Jeannette sering ngeliat anak-anak
lain ngebuang makanan mereka
seenaknya. Roti yang baru digigit
dikit, apel utuh, susu yang belum
diabisin. Dia bakal nunggu sampe
nggak ada yang ngeliat, terus ngambil
makanan itu dari tempat sampah dan
memakannya. Dia ngelakuin ini
dengan rasa malu yang dalem banget,
tapi rasa laparnya jauh lebih kuat.

Baju mereka juga udah parah banget.
Nggak ada mesin cuci, nggak ada
sabun, nggak ada cukup air. Jadi,
mereka pake baju yang sama
bolak-balik berminggu-minggu tanpa
dicuci. Baju itu jadi kotor, bau, dan
kaku karena keringet. Dan di sekolah,
lo bisa nebak sendiri, mereka jadi
bahan bully-an. Diejek, dipanggil
dengan nama yang nyakitin, dikucilin.
Tapi mereka nggak bisa ngapa-ngapain.

Rex, si ayah, makin dalem aja
nyemplung ke botol. Di Welch,
semuanya makin parah. Dia nggak
cuma ngabisin uang sendiri, dia
mulai 
nyuri uang belanja!
Uang yang harusnya Rose Mary
pake buat beli makan anak-anak,
malah dicolong Rex buat mabuk.
Akibatnya, anak-anak makin sering
kelaparan. Dia juga makin sering
ngilang berhari-hari, ninggalin
mereka sendirian di rumah reyot
tanpa makanan dan kehangatan.

Rose Mary, si ibu? Tetep kekeuh
sama dunianya sendiri. Dia masih
asik melukis, seolah nggak ada
masalah di sekelilingnya. Dan ini
yang paling bikin sakit hati: suatu
hari, Jeannette nemuin ibunya
nyembunyiin 
sebatang cokelat
 di balik selimutnya. Rose Mary
makan cokelat itu diam-diam,
sendirian, sementara anak-anaknya
kelaparan. Bayangin, guys, perasaan
Jeannette waktu itu.
Merasa dikhianati habis-habisan.
Gimana seorang ibu bisa tega?
Tapi ya begitulah, Rose Mary ngerasa
dia berhak atas “kenikmatan kecil”
buat dirinya sendiri, dan anak-anak
harus belajar ngurus diri sendiri.

Di tengah semua penderitaan ini,
terjadi sebuah perubahan besar
dalam diri Jeannette dan kakaknya,
Lori. Mereka mulai mikir, mereka
nggak bisa terus-terusan kayak gini.
Mereka nggak bisa nunggu orang tua
mereka berubah, karena udah jelas
banget mereka nggak bakal pernah
berubah. Satu-satunya jalan keluar
adalah pergi.

Lori duluan yang ngeluarin ide itu.
Dia bilang, mereka harus pergi
ke New York. Di sana banyak
kesempatan kerja, dan mereka bisa
mulai hidup baru, jauh dari Rex dan
Rose Mary. Jeannette langsung
setuju. Mereka berdua mulai bikin
rencana. Lori bakal pergi duluan,
cari kerja, sewa apartemen, nabung.
Terus Jeannette nyusul setelah
cukup umur.

Mereka mulai nabung receh demi
receh. Setiap koin dari kerjaan
kecil-kecilan mereka simpen
baik-baik. Mereka nyebutnya
“uang pelarian”. Mereka bahkan
gambar-gambar rute perjalanan
ke New York di kertas, ngebayangin
kehidupan baru yang nunggu.
Kehidupan tanpa kelaparan, tanpa
kedinginan, dan tanpa rasa malu.

Bab ini adalah titik balik yang penting
banget. Di sini, harapan sebagai anak
kecil mulai mati dan perlahan
digantiin sama tekad baja. Mereka
udah nggak percaya lagi sama
janji-janji kosong Rex, dan udah
nggak nunggu Rose Mary buat jadi ibu
yang bertanggung jawab. Mereka
sadar, kalau mau hidup lebih baik,
mereka harus ciptain sendiri. Rumah
reyot penuh jamur di Welch,
kelaparan, dan kedinginan,
telah ngajarin mereka satu hal yang
paling berharga: keselamatan nggak
akan datang dari orang tua mereka.
Keselamatan cuma bisa datang dari
diri mereka sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *