Apa yang Budaya Lain Ketahui tentang Cinta yang Tidak Kita Ketahui?
Cinta tidaklah sama di setiap
tempat. Namun, anehnya,
di mana pun Anda dibesarkan,
Anda diajari untuk percaya bahwa
cinta itu seragam di seluruh dunia.
Di situlah letak tipuannya.
Kita bertingkah seolah-olah semua
orang di seluruh dunia sedang
bergulat dengan masalah yang sama:
usapan layar di Tinder, ghosting, dan
kecemasan karena menggulir layar
dengan ibu jari. Padahal, itu semua
adalah produk ekspor budaya
Barat, bukan kondisi manusia yang
universal.
Ketika Anda mulai melihat
melampaui linimasa media sosial
Anda, Anda akan menyadari bahwa
budaya yang berbeda memperlakukan
cinta, komitmen, dan koneksi dengan
aturan, ritual, dan ekspektasi
yang sangat berbeda. Dan apa yang
disebut sebagai percintaan modern
hanyalah sebagian kecil dari
kaleidoskop besar itu.
Pasar Pernikahan Shanghai:
Ketika Mencari Jodoh Adalah
Urusan Kolektif
Di beberapa tempat, berkencan sama
sekali bukan tentang pilihan
pribadi. Ini tentang integrasi sosial.
Ambil contoh Pasar Pernikahan
Shanghai yang terkenal. Ini adalah
fenomena dunia nyata di mana para
orang tua berkumpul di taman-taman
umum untuk bertukar informasi
tentang anak-anak mereka yang
masih lajang. Mereka pada
dasarnya menjalankan pasar
perjodohan tradisional.
Fenomena ini adalah respons terhadap
individualisasi yang cepat
di Tiongkok, tetapi juga merupakan
bentuk perlawanan terhadap
kesepian yang dapat dibawa
oleh modernitas. Generasi yang
lebih tua menghadapi tekanan yang
dirasakan anak-anak mereka untuk
memilih pasangan sendirian di kota
besar yang berubah dengan sangat
cepat. Di sini, mencari cinta bukanlah
perjalanan pribadi yang sunyi,
melainkan usaha bersama yang
melibatkan keluarga.
Turki: Perpaduan antara Tradisi
dan Otonomi
Bandingkan dengan Turki, sebuah
budaya yang karena perpaduan antara
Timur dan Barat, masih
mempertahankan tradisi
keterlibatan orang tua,
kolektivisme, dan pernikahan
yang diatur, berdampingan dengan
munculnya pasangan muda yang
mandiri.
Di Ankara, misalnya, sekitar
seperempat pernikahan masih
diatur. Namun, banyak di antaranya
yang melibatkan masa pendekatan
setelah perkenalan, sehingga
memadukan tradisi dengan otonomi
pribadi.
Perbedaannya dengan budaya Barat
bukan hanya terletak pada
bagaimana orang berkencan.
Perbedaannya terletak pada
mengapa mereka melakukannya.
Penelitian lintas budaya yang luas
dari lebih dari seratus tujuh puluh
lima negara mengungkapkan bahwa
cinta romantis, meskipun hampir
universal, mengekspresikan
dirinya secara berbeda
tergantung pada norma sosial,
kesetaraan gender, dan mobilitas
hubungan.
Di beberapa budaya, kolektivisme
dan keterlibatan keluarga tetap
menjadi pusat. Pernikahan di sana
bukanlah tentang pemenuhan diri
pribadi, melainkan tentang stabilitas
komunitas dan kehormatan
keluarga. Di budaya lain,
kebebasan individu dan
pemenuhan emosional menjadi
prioritas utama. Dan perbedaan ini
membentuk bagaimana orang
mengalami cinta.
Ketika Modernisasi Tidak Selalu
Membuat Cinta Lebih Bergelora
Sebuah studi perbandingan besar
menunjukkan bahwa di negara-negara
yang lebih modern, orang seringkali
mendapat skor lebih tinggi dalam hal
kedekatan dan gairah. Tetapi
menariknya, ketika modernisasi
mencapai titik tertentu, intensitas
cinta justru menurun.
Artinya, begitu masyarakat menjadi
sangat individualistis, nyala api
romantis tidak menyala selamanya.
Ia hanya berubah menjadi satu lagi
barang dalam daftar periksa
kehidupan.
Sementara itu, di berbagai budaya,
makna dari cinta itu sendiri pun
berbeda-beda. Di beberapa
komunitas di Asia Timur, cinta
mungkin diukur melalui tindakan,
bukan kata-kata. Mengirimkan
hadiah melalui kurir, sebagai tanda
perhatian digital, bukanlah sekadar
isyarat virtual. Tindakan itu melekat
dengan nilai-nilai budaya
tentang kemurahan hati dan
komitmen, yang berbeda dari
cita-cita romantis ala Barat.
Status Lajang dan Makna Sosial
Hubungan
Ada juga perbedaan dalam cara
masyarakat menilai hubungan.
Riset global menunjukkan bahwa
para lajang di budaya yang
menekankan peran keluarga
tradisional seringkali melaporkan
tingkat kebahagiaan yang lebih
rendah dibandingkan para lajang
di masyarakat yang memprioritaskan
kebebasan individu.
Di beberapa negara, status lajang
masih membawa stigma. Jadi,
menjalin hubungan memiliki makna
sosial yang melampaui
kebahagiaan pribadi semata.
Ini penting untuk dipahami karena
ketika Anda membawa konteks
global kembali ke dalam percakapan
yang didominasi oleh kisah Modern
Romance, Anda akan melihat sesuatu
dengan jelas. Frustrasi yang
dirasakan orang-orang dengan
kencan kontemporer di Barat
bukanlah kondisi universal
manusia. Itu adalah krisis
budaya yang spesifik. Sebuah
krisis yang lahir dari individualitas,
logika pasar, dan optimasi diri.
Di tempat-tempat dengan tradisi
komunal yang lebih kuat,
kemitraan romantis dinegosiasikan
tidak hanya antara dua orang,
tetapi juga di dalam keluarga
dan komunitas. Ini tidak membuat
sistem tersebut “lebih baik”, hanya
berbeda. Ini juga tidak membuat
mereka kebal dari ketegangan
modern. Banyak anak muda dalam
konteks kolektivis sekarang harus
menyeimbangkan antara
keinginan pribadi dan
kewajiban, antara kebebasan
pribadi dan harapan orang tua.
Ini menciptakan bentuk-bentuk
pendekatan hibrida yang
mungkin disebut oleh pengamat
Barat sebagai “kompromi”, tetapi
oleh penduduk setempat disebut
sebagai “kehidupan nyata”.
Kembali ke Koneksi Berbasis
Nilai
Lihatlah podcast dan percakapan riset
yang terjadi sekarang. Dalam sebuah
kolaborasi yang diumumkan pada
tahun 2024, ada upaya langsung
untuk menggeser kencan dari
sekadar pertunjukan dan logika
konsumen menuju koneksi
berbasis nilai. Pekerjaan seperti
yang dilakukan Jay Shetty
menekankan kematangan
emosional, kerentanan, dan
pertumbuhan bersama. Ini adalah
sifat-sifat yang tidak eksklusif secara
budaya, tetapi seringkali tidak
mendapat penekanan dalam
ekosistem kencan digital.
Bahkan cara orang
mengomunikasikan cinta pun
berbeda. Hubungan di Barat
seringkali menghargai ucapan
langsung: “Katakan padaku apa
yang kamu rasakan.” Tetapi di Jepang,
Korea, atau sebagian Timur Tengah,
cinta mungkin diungkapkan melalui
konteks tidak langsung, ritual,
dan tindakan jangka panjang
yang tidak selalu dapat diterjemahkan
dalam dunia yang digerakkan oleh
usapan layar.
Percakapan di siniar tentang kencan
multikultural menyoroti hal ini.
Komunikasi bukan hanya tentang
pesan dan emoji. Komunikasi
adalah konteks budaya,
ekspektasi yang tidak terucapkan,
dan kebiasaan mendalam dalam
menafsirkan. Dan ini penting.
Studi internasional mengungkapkan
bahwa pasangan yang bertemu secara
langsung dalam lingkungan
berbasis komunitas tradisional
seringkali melaporkan kepuasan
yang lebih tinggi dan koneksi
yang lebih dalam daripada mereka
yang murni mengandalkan perkenalan
digital. Bahkan dalam budaya yang
sama sekalipun.
Implikasinya sangat besar karena ini
menunjukkan bahwa teknologi
yang menjanjikan kebebasan
dan akses terkadang justru
dapat merusak koneksi yang
seharusnya mereka fasilitasi.
Membongkar Mitos Inti
Percintaan Barat
Perspektif global ini merobek mitos
inti dari percintaan Barat: bahwa
cinta seharusnya terlihat dan terasa
sama di mana-mana.
Kenyataannya tidak.
Di beberapa budaya Afrika,
hubungan bersifat sangat komunal.
Di Eropa Timur, peran tradisional
masih membentuk ekspektasi.
Di India, orang-orang harus
menyeimbangkan kencan
modern dengan kasta dan
negosiasi keluarga. Ini bukanlah
keanehan. Ini adalah kerangka
kerja alternatif untuk cinta yang
menyingkap keterbatasan dari
cita-cita “satu ukuran untuk semua”.
Jadi, ketika Modern Romance
menyoroti kesepian dan
kelebihan pilihan di Barat,
buku ini tidak menyangkal bahwa
cinta penting di tempat lain. Buku
ini mengungkapkan bahwa
teknologi dan budaya
bertabrakan di sini terlebih
dahulu, paling keras, dan
paling mengganggu.
Tetapi konteks global menunjukkan
bahwa manusia di mana pun
tetaplah lapar akan koneksi.
Mereka hanya menavigasinya
dengan alat, nilai, dan latar
belakang sosial yang berbeda.
Sebagian mengandalkan pasar
keluarga dan taman kota, yang lain
pada jaringan komunitas, yang lain
lagi pada migrasi lintas batas dan
pertukaran antarbudaya yang
merentang antar benua.
Ini bukanlah penilaian komparatif.
Ini adalah sudut pandang. Karena
ketika Anda melangkah keluar dari
gelembung kencan Barat, Anda akan
melihat bahwa komplikasi cinta
modern tidaklah universal.
Komplikasi itu diproduksi secara
budaya dan dibentuk oleh nilai-nilai
yang memprioritaskan pilihan
individu di atas pembinaan
hubungan.
Ide Kunci:
Cinta itu universal. Tetapi aturan,
norma, dan ekspektasi seputar
cinta sangat bervariasi di seluruh
budaya, dan konteks budaya ini
secara dramatis membentuk
bagaimana orang mengalami
koneksi, komitmen, dan
kemitraan.
Pelajaran Utama:
Ketika Anda melihat kencan modern
melalui lensa global,
Anda menyadari bahwa
masalah-masalahnya bukanlah
bawaan dari hubungan
antarmanusia. Masalah-masalah
itu adalah gejala dari logika
budaya yang spesifik.
Dan masyarakat lain menawarkan
model-model alternatif yang
mengungkapkan keterbatasan
sekaligus kemungkinan dari
asumsi-asumsi romantis Barat.
Kutipan Favorit:
“Ketika saya benar-benar jatuh
cinta dengan seseorang, itu bukan
karena penampilan mereka dengan
cara tertentu. Itu lebih karena
ketika saya menonton acara TV
tertentu atau makan masakan
tertentu bersama mereka, itu
adalah hal yang paling
menyenangkan.”
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita masuk ke bagian yang bakal
sedikit membuka wawasan geografis
dan budaya lo. Setelah pusing
ngomongin swipe culture dan
ghosting, Aziz Ansari ngajak kita
buat ngaca ke budaya lain.
Judulnya: “Apa yang Budaya Lain
Tahu Soal Cinta, Tapi Kita Gak
Tahu?”
Ini seriusan menarik. Selama ini kita
suka mikir, “Ya semua orang
di seluruh dunia lagi ngalamin hal
yang sama: pusingnya pilih-pilih
di aplikasi, betenya dighosting,
capeknya sama situationship.”
Tapi ternyata? Gak juga.
Ternyata, ghosting, breadcrumbing,
dan drama Tinder itu bukan
kondisi bawaan manusia.
Itu adalah produk ekspor
budaya Barat yang kebetulan
nyebar lewat teknologi. Di belahan
dunia lain, orang jatuh cinta dengan
aturan main yang beda banget.
Yuk kita jalan-jalan bentar.
Pasar Pernikahan Shanghai:
Cari Jodoh Itu Kayak Buka
Stand di Car Free Day
Lo tau People’s Park di Shanghai?
Di sana ada fenomena yang namanya
Shanghai Marriage Market.
Bayangin car free day, tapi yang
jualan bukan baju bekas atau sosis
bakar. Yang dijual adalah profil
anak gadis dan bujang.
Jadi para orang tua
(biasanya emak-emak dan
bapak-bapak) pada datang bawa
poster atau kertas yang isinya: umur,
tinggi badan, pendidikan, pekerjaan,
zodiak, sampai gaji anaknya. Mereka
gelar di bangku taman atau dipajang
di payung. Terus mereka saling tanya,
“Anakmu cocok gak sama anakku?”
Ini bukan karena mereka gak percaya
sama Tinder. Tapi ini adalah bentuk
perlawanan terhadap kesepian
kota besar. Di Shanghai yang super
cepat dan individualis, generasi tua
merasa anak-anak mereka kelamaan
sendiri. Akhirnya mereka turun tangan.
Bukan maksa, tapi “bantuin nyariin”.
Jadi di sini, cinta bukan cuma urusan
dua orang. Tapi proyek keluarga.
Dan ini bukan hal yang aneh atau
norak. Ini cuma cara lain yang sama
validnya dengan kencan buta ala Barat.
Turki: Jomblo Itu Bebas, Tapi
Nikah Itu Urusan Keluarga
Lompat ke Turki, yang secara geografis
aja udah bingung mau ngaku Eropa atau
Asia. Di sini budaya kencannya tuh
hibrida parah.
Di kota kayak Ankara, sekitar
seperempat pernikahan masih
“diatur” (arranged). Tapi jangan
bayangin kayak sinetron India jadul
yang ketemunya pas akad nikah.
Ini lebih ke: “Nak, ibu kenalin sama
anaknya temen ibu. Coba kenalan
dulu. Kalau gak cocok ya gak papa.”
Jadi ada masa “pendekatan” setelah
perkenalan. Campuran antara tradisi
kolektivis dan otonomi modern.
Mereka gak alergi sama intervensi
keluarga kayak kita di sini. Malah
dianggap wajar dan membantu.
Ini beda banget sama budaya kita yang
makin ke sini makin individualis.
Kita nganggep campur tangan orang
tua dalam urusan jodoh itu kayak
pelanggaran HAM. Padahal di Turki?
Itu bentuk dukungan moral.
Fakta Ilmiahnya: Makin Modern,
Belum Tentu Makin Bergelora
Nah, ini yang menarik dari riset global
yang dikutip di buku. Studi besar dari
175 negara menunjukkan kalau
cinta romantis itu emang hampir
universal. Semua orang di semua
budaya bisa ngerasain butterflies in
the stomach.
Tapi cara mengekspresikannya?
Beda-beda banget.
Di negara kolektivis
(Asia Timur, Timur Tengah):
Cinta diukur dari tindakan dan
tanggung jawab jangka
panjang. Bukan dari kata-kata
“I love you” tiap hari. Lo dikasih
hadiah? Itu cinta. Lo diurusin
pas sakit? Itu cinta.Di negara individualis (Barat):
Cinta identik dengan verbal
affirmation dan pemenuhan
emosional pribadi. Lo harus
selalu ngerasa “berkobar-kobar”.
Tapi studi yang sama juga nemuin fakta
nyeleneh: Begitu suatu negara jadi
terlalu modern dan individualis,
intensitas cinta romantisnya
malah turun. Jadi titik jenuh.
Cinta berubah jadi checklist kayak
nyari kerjaan: “Oke, gaji cukup,
tampang oke, hobi nyambung.
Gas!” Apinya padam.
Status Jomblo: Di Sini Bebas,
Di Sana Aib
Ini juga lucu. Riset global nunjukin
kalau kebahagiaan seorang
lajang tuh tergantung banget sama
norma sosial di tempat dia tinggal.
Di budaya yang masih pegang
teguh peran keluarga
tradisional, jadi jomblo itu
seringkali bikin stres dan
gak bahagia. Karena ada
stigma sosial.Di budaya yang mendewakan
kebebasan individu, jadi
jomblo ya biasa aja. Gak ada
yang nanyain “Kapan nikah?”
setiap lebaran (mungkin
kecuali di Indonesia ya,
kita spesial).
Jadi kalau lo ngerasa tertekan karena
status lajang, itu bukan cuma masalah
pribadi lo. Itu adalah tekanan
budaya yang udah terstruktur.
Balik ke Nilai, Bukan Cuma Swipe
Makanya, gerakan kayak yang
dilakukan Jay Shetty atau kolaborasi
riset di tahun 2024 itu penting.
Mereka ngajak kita buat geser fokus
dari “tampilan” ke “nilai”. Dari
“Lucu gak ya?” ke “Dia tuh orangnya
kayak gimana sih?”
Di Jepang atau Korea, cinta sering
diekspresikan lewat hal-hal kecil
dan konsisten. Bukan lewat
kata-kata manis. Di Afrika,
hubungan itu urusan komunal,
bukan cuma urusan dua insan.
Di Eropa Timur, peran gender
yang tradisional masih dijunjung
tinggi.
Ini bukan soal budaya mana yang
lebih baik. Tapi soal perspektif.
Bahwa cara kita berkencan yang
penuh drama ghosting dan
swipe-swipe ini bukan
satu-satunya cara di dunia.
Ada kerangka berpikir lain yang
mungkin bisa bikin kita lebih
waras.
Intinya: Masalah Lo Itu Produk
Budaya, Bukan Kutukan
Jadi, Modern Romance secara halus
ngingetin kita: Kesepian dan
kebingungan lo dalam kencan
digital itu bukan kondisi
manusia yang universal.
Itu adalah gejala dari budaya
spesifik yang lagi lo jalani.
Masyarakat lain punya masalahnya
sendiri (misal: tekanan keluarga,
kewajiban kasta). Tapi mereka gak
separah kita dalam hal
kebingungan eksistensial
gara-gara gak dibales chat.
Ketika lo sadar bahwa ada jalan lain,
lo jadi lebih kritis. Lo gak cuma
ngecap diri lo “gak laku” atau
“sistemnya kacau”. Lo paham bahwa
kalian cuma lagi main di arena
yang aturannya emang lagi
chaos.
Ide Kunci:
Cinta itu universal, tapi aturan
mainnya beda-beda tiap budaya.
Konteks budaya ngebentuk banget
gimana lo ngalamin koneksi dan
komitmen.
Pelajaran Utama:
Masalah kencan modern itu bukan
cacat bawaan manusia. Itu gejala
dari nilai-nilai individualisme dan
pasar bebas yang kebablasan.
Budaya lain ngasih kita contoh
kalau ada model alternatif yang
lebih “manusiawi” (walaupun punya
tantangannya sendiri).
Kutipan Favorit dari Buku:
“Ketika saya benar-benar jatuh cinta
dengan seseorang, itu bukan karena
penampilan mereka dengan cara
tertentu. Itu lebih karena ketika saya
menonton acara TV tertentu atau
makan masakan tertentu bersama
mereka, itu adalah hal yang paling
menyenangkan.”
Gimana? Jadi pengen cari jodoh ala
Shanghai biar emak lo yang capek?
Atau lo tim yang lebih suka budaya
ribet ala kita sendiri?
