Buku 8 Rules of Love Jay Shetty, Biarkan Dirimu Sendiri

Jay Shetty
Banyak penelitian sudah dilakukan
untuk membuktikan bahwa
meluangkan waktu sendirian bisa
membantu hubunganmu dengan
orang lain. Ketika kamu punya ruang
pribadi, kamu bisa belajar menerima
diri sendiri apa adanya. Kamu juga
jadi lebih paham nilai-nilai hidup
yang kamu pegang dan tujuan-tujuan
yang ingin kamu capai.
Menerima diri sendiri artinya kamu
tidak terus-menerus menyalahkan
diri atas kekurangan yang kamu miliki.
Kamu sadar bahwa kamu manusia
biasa yang tidak sempurna, dan itu
tidak apa-apa. Dari penerimaan ini,
kamu jadi lebih tenang menjalani
hidup.
Ruang pribadi juga memberi kamu
kesempatan untuk berpikir jernih.
Tanpa gangguan dari orang lain,
kamu bisa merenungkan apa yang
sebenarnya penting dalam hidupmu.
Nilai-nilai seperti kejujuran,
kesetiaan, atau kerja keras bisa
kamu kenali dengan lebih jelas.
Tujuan hidupmu juga bisa kamu
susun tanpa terpengaruh tekanan
dari luar.
Kesalahpahaman tentang
Hidup Sendiri
Banyak orang menganggap bahwa
orang yang belum punya pasangan
itu pasti kesepian dan tidak bahagia.
Anggapan ini ternyata keliru.
Penelitian justru menemukan fakta
sebaliknya. Semakin lama seseorang
hidup sendiri atau belum menikah,
semakin besar kemungkinan dia
merasa bahagia dalam hidupnya.
Psikolog Bella DePaulo
menjelaskan bahwa seiring berjalannya
waktu, orang yang hidup sendiri justru
merasa lebih baik tentang kehidupan
mereka. Tingkat kepuasan hidup
mereka cenderung lebih tinggi.
Ini terjadi karena mereka terbiasa
mengurus diri sendiri dan tidak
menggantungkan kebahagiaan pada
orang lain. Mereka belajar bahwa
kebahagiaan bisa diciptakan dari
dalam diri, bukan dari kehadiran
pasangan semata.
Jangan Takut Sendiri Sampai
Bertahan di Hubungan Buruk
Tentu saja tidak ada yang ingin hidup
terisolasi selamanya.
Manusia memang makhluk sosial
yang butuh orang lain. Namun rasa
takut yang berlebihan terhadap
kesendirian bisa membawa masalah
besar.
Ketika kamu terlalu takut sendirian,
kamu bisa terjebak dalam hubungan
yang tidak sehat atau hubungan yang
merusak. Kamu memilih bertahan
dengan pasangan yang menyakiti
hanya karena kamu tidak sanggup
membayangkan hidup tanpa dia.
Padahal hubungan semacam itu
justru menguras energi dan merusak
harga dirimu.
Penting untuk membedakan antara
sendiri yang sehat dan sendiri yang
terpaksa karena takut melepas
hubungan buruk. Sendiri yang sehat
adalah pilihan sadar untuk memberi
ruang bagi dirimu. Sendiri karena
takut adalah penjara yang kamu
buat sendiri.
Menyendiri Baik untuk
Kesehatan Mental
Meluangkan waktu menyendiri sangat
penting untuk kesehatan mentalmu.
Kamu tidak perlu pergi berhari-hari
ke tempat sunyi. Beberapa menit saja
dalam sehari sudah cukup untuk
memberi jeda bagi pikiranmu.
Di tengah kesibukan sehari-hari yang
padat, otakmu terus bekerja menerima
informasi dan menyelesaikan masalah.
Tanpa jeda, kamu bisa merasa lelah
secara mental. Waktu sendirian
menjadi saat yang tepat untuk
mengistirahatkan pikiran dari semua
keramaian itu.
Saat menyendiri, kamu juga bisa
berlatih mendengarkan suara dalam
kepalamu sendiri. Maksudnya, kamu
memberi perhatian pada
pikiran-pikiran yang muncul tanpa
menghakiminya. Lama-lama kamu
jadi terbiasa dengan obrolan batin
itu dan tidak mudah panik saat
pikiran negatif muncul.
Selain itu, waktu sendirian
membantumu mengenali perasaanmu
sendiri. Apakah kamu sedang sedih,
marah, kecewa, atau justru bersyukur?
Dengan mengenali perasaan, kamu
bisa mengelolanya lebih baik sebelum
perasaan itu meledak dan merusak
hubungan dengan orang lain.
Kamu juga jadi lebih sadar akan
kekurangan-kekuranganmu sendiri.
Ini penting karena kesadaran diri
adalah langkah pertama untuk
memperbaiki diri.
Lihatlah Kekurangan Diri Sendiri
Tidak ada manusia yang sempurna.
Semua orang punya sisi baik dan sisi
buruk. Masalahnya, kita sering kali
lebih mudah melihat kekurangan
orang lain daripada kekurangan diri
sendiri.
Coba perhatikan. Kamu mungkin bisa
dengan cepat menyebutkan hal-hal
yang tidak kamu sukai dari
pasanganmu. Misalnya dia suka lupa
membalas pesan, atau dia sering
terlambat, atau caranya bicara kadang
menyakitkan. Daftar itu bisa panjang.
Tapi pernahkah kamu bertanya pada
diri sendiri: apa kekuranganku dalam
hubungan ini? Apakah aku juga sering
melakukan kesalahan yang sama?
Apakah aku sudah menjadi pasangan
yang baik?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak
selalu mudah dijawab karena butuh
kejujuran pada diri sendiri. Namun
justru di sinilah letak pertumbuhan
dirimu. Ketika kamu berani mengakui
kekuranganmu sendiri, kamu jadi
lebih rendah hati dan lebih mudah
memahami pasanganmu.
Kunci Hubungan yang Baik:
Menerima Ketidaksempurnaan
Strategi utama untuk membangun
hubungan yang sehat sebenarnya
sederhana:
terimalah ketidaksempurnaan
pasanganmu dan juga
ketidaksempurnaan dirimu sendiri.
Kita semua membawa kualitas baik
dan buruk masing-masing.
Pasanganmu tidak akan pernah
menjadi sempurna sesuai bayanganmu.
Kamu juga tidak akan pernah
sempurna sesuai harapannya.
Kalau kamu terus menuntut
kesempurnaan, hubunganmu hanya
akan dipenuhi kekecewaan.
Menerima bukan berarti kamu diam
saja saat pasangan berbuat salah.
Menerima artinya kamu sadar bahwa
dia manusia biasa yang bisa khilaf.
Dari kesadaran itu, kamu bisa
membicarakan masalah dengan
kepala dingin, bukan dengan
kemarahan dan tuntutan.
Begitu pula dengan dirimu sendiri.
Kamu boleh saja berusaha menjadi
lebih baik, tapi jangan sampai kamu
membenci diri sendiri setiap kali
gagal. Beri ruang untuk belajar dan
tumbuh bersama.
Berikut beberapa contoh kasus
Kasus 1: Tidak Nyaman Sendiri,
Akhirnya Salah Pilih Pasangan
Rina merasa takut sekali kalau harus
sendirian. Setelah putus, dia langsung
mencari pengganti karena tidak
tahan dengan rasa sepi. Akhirnya dia
menjalin hubungan dengan seseorang
yang sering meremehkan dan
mengontrol hidupnya.
Walaupun tidak bahagia, Rina tetap
bertahan karena berpikir,
“Daripada sendiri lagi.”
Ini contoh bahwa takut sendiri bisa
membuat seseorang bertahan
dalam hubungan yang tidak
sehat.
Kasus 2: Belajar Sendiri,
Hubungan Jadi Lebih Sehat
Andi memutuskan untuk tidak
buru-buru mencari pasangan setelah
putus. Dia mulai fokus ke dirinya
sendiri: olahraga, membaca, dan
memahami apa yang sebenarnya
dia inginkan dalam hidup.
Beberapa waktu kemudian, saat dia
menjalin hubungan baru, dia jadi
lebih tenang, tidak posesif, dan
tidak bergantung secara emosional.
Ini menunjukkan bahwa waktu
sendiri bisa memperbaiki
kualitas hubungan di masa
depan.
Kasus 3: Selalu Menyalahkan
Pasangan
Dika sering mengeluh bahwa
pasangannya tidak perhatian,
suka telat, dan tidak peka. Namun,
dia tidak pernah menyadari bahwa
dia sendiri jarang memberi kabar
dan sering mengabaikan perasaan
pasangannya.
Setelah hubungan mereka memburuk,
Dika baru sadar bahwa masalahnya
bukan hanya pada pasangan, tapi juga
pada dirinya sendiri.
Ini contoh bahwa kita sering lebih
mudah melihat kekurangan
orang lain daripada diri sendiri.
Kasus 4: Tidak Punya Waktu
Sendiri, Emosi Mudah Meledak
Sari menjalani hari yang sangat sibuk:
kerja, bertemu orang, dan terus
berkomunikasi tanpa jeda. Dia hampir
tidak pernah punya waktu untuk
dirinya sendiri.
Akibatnya, saat ada masalah kecil
dengan pasangannya, dia langsung
marah besar. Padahal sebenarnya
dia hanya kelelahan secara mental.
Ini menunjukkan bahwa kurangnya
waktu sendiri bisa membuat
emosi tidak stabil dan
merusak hubungan.
Kasus 5:
Menerima Ketidaksempurnaan
Budi kesal karena pasangannya sering
lupa hal-hal kecil. Dulu dia sering
marah dan menuntut pasangannya
berubah total.
Namun setelah belajar, dia mulai
memahami bahwa semua orang
punya kekurangan, termasuk
dirinya sendiri yang juga sering
keras kepala.
Akhirnya mereka mulai
berkomunikasi dengan lebih
tenang dan saling mengerti.
Ini contoh bahwa menerima
ketidaksempurnaan membuat
hubungan lebih damai.
Kasus 6: Bahagia Walau Sendiri
Lina belum menikah di usia 30-an.
Banyak orang menganggap dia pasti
kesepian. Tapi kenyataannya,
dia punya hidup yang seimbang:
karier, teman, hobi, dan waktu
untuk dirinya sendiri.
Dia tidak merasa hidupnya kurang
hanya karena belum punya pasangan.
Ini menunjukkan bahwa
kebahagiaan tidak selalu
bergantung pada hubungan
romantis.
