buku

Ketika Meninggalkan Hubungan Menjadi Pilihan

Dalam buku Drama Free, Nedra
Glover Tawwab menjelaskan bahwa
ada hubungan yang dapat diperbaiki,
tetapi ada juga hubungan yang begitu
rusak sehingga mempertahankannya
justru membuat seseorang semakin
terluka.

Ia menggambarkan hubungan seperti
kapal yang sedang tenggelam.
Dalam situasi seperti itu, seseorang
hanya memiliki dua pilihan: mencoba
menyelamatkan diri atau tenggelam
bersama kapal tersebut.

Banyak orang yang berada dalam
hubungan keluarga yang tidak sehat
sebenarnya sudah mencoba berbagai
cara untuk memperbaikinya.

Mereka berusaha mengubah diri
mereka sendiri.
Mereka mencoba menetapkan
batasan.
Mereka menyuarakan kebutuhan
mereka dengan jujur.
Mereka menolak menerima perlakuan
yang menyakitkan.

Namun terkadang semua usaha itu
tetap tidak membawa perubahan.

Dalam situasi seperti ini penting untuk
memahami satu hal: seseorang tidak
bisa memaksa orang lain untuk
menginginkan hubungan yang
sehat.

Kejujuran Bukanlah
Pengkhianatan

Salah satu langkah penting dalam
menghadapi hubungan yang
menyakitkan adalah berhenti
menutupi kenyataan.

Sering kali orang terbiasa mempermanis
cerita tentang keluarganya. Mereka
menghindari membicarakan pengalaman
yang menyakitkan karena takut dianggap
tidak menghargai keluarga.

Namun menurut Nedra Glover Tawwab,
mengatakan kebenaran tentang
pengalaman kita bukanlah
pengkhianatan.

Justru kejujuran adalah bentuk
keberanian.

Misalnya seseorang yang tumbuh dalam
keluarga dengan kekerasan emosional
mungkin selama bertahun-tahun
mengatakan kepada orang lain bahwa
keluarganya “baik-baik saja”.

Namun ketika ia mulai jujur tentang apa
yang sebenarnya terjadi, ia bisa mulai
memahami lukanya dan mencari cara
untuk menyembuhkannya.

Tekanan Sosial untuk Selalu
Mempertahankan Keluarga

Masyarakat sering memandang
hubungan keluarga sebagai sesuatu
yang tidak boleh diputuskan.

Banyak orang percaya bahwa hubungan
darah harus dipertahankan apa pun
yang terjadi.

Akibatnya, seseorang yang memilih
menjaga jarak dari anggota
keluarganya sering mendapat
penilaian negatif.

Misalnya seseorang memutuskan untuk
menjaga jarak dari anggota keluarganya
karena hubungan tersebut terus
menyakitinya.

Situasinya bisa berupa hal-hal seperti:

  • Orang tua yang terus menggunakan
    narkoba sehingga rumah selalu
    dipenuhi konflik dan ketidakstabilan.

  • Anggota keluarga yang sering
    melakukan kekerasan fisik atau
    memaki dengan kata-kata kasar.

  • Orang tua yang selalu merendahkan
    anaknya dan mengatakan bahwa ia
    tidak pernah cukup baik.

  • Orang tua yang memanipulasi
    emosi anaknya agar selalu merasa
    bersalah dan menuruti keinginan
    mereka.

Ketika seseorang akhirnya memutuskan
untuk menjauh dari situasi seperti ini,
orang lain sering berkata:

“Bagaimanapun dia tetap orang tuamu.”
“Tidak baik memutus hubungan dengan
keluarga sendiri.”

Komentar seperti ini dapat menimbulkan
rasa bersalah yang besar.

Bahkan anggota keluarga lain mungkin
terus menekan orang tersebut dengan
pertanyaan atau kritik karena mereka
percaya hubungan darah tidak boleh
diputus.

Namun keyakinan bahwa hubungan
keluarga harus dipertahankan dalam
kondisi apa pun bisa menjadi berbahaya
jika hal itu memaksa seseorang terus
menerima kekerasan, pengabaian
emosional, atau manipulasi yang
merusak kesehatannya secara
mental maupun fisik.

Orang tua yang terus
menggunakan narkoba sehingga
rumah selalu dipenuhi konflik
dan ketidakstabilan

Ketika orang tua kecanduan narkoba,
kehidupan keluarga sering menjadi
tidak stabil. Perilaku mereka bisa
berubah-ubah, kadang terlihat baik
tetapi tiba-tiba menjadi marah, tidak
bertanggung jawab, atau bahkan
menghilang dari rumah.

Contohnya dalam kehidupan sehari-hari:
Seorang anak pulang sekolah dan
menemukan rumah dalam keadaan
kacau karena orang tuanya sedang
berada di bawah pengaruh narkoba.
Kadang orang tua tersebut lupa
menyiapkan makanan, tidak peduli
dengan kebutuhan anak, atau
menggunakan uang keluarga untuk
membeli narkoba.

Situasi seperti ini membuat anak hidup
dalam ketidakpastian. Ia tidak tahu
apakah hari itu akan tenang atau
penuh pertengkaran.

Anggota keluarga yang sering
melakukan kekerasan fisik atau
memaki dengan kata-kata kasar

Kekerasan dalam keluarga tidak selalu
berupa pukulan. Kata-kata kasar yang
terus menerus juga bisa melukai
secara emosional.

Contoh sehari-hari:
Seorang ayah yang setiap kali marah
langsung membentak, memaki, atau
bahkan melempar barang. Anak-anak
di rumah menjadi takut berbicara
karena khawatir memicu kemarahan.

Dalam kasus lain, seseorang mungkin
dipukul atau didorong setiap kali
terjadi konflik kecil. Hidup dalam
situasi seperti ini membuat anggota
keluarga selalu merasa tegang dan
tidak aman.

Orang tua yang selalu merendahkan
anaknya dan mengatakan bahwa ia
tidak pernah cukup baik

Beberapa orang tua tidak melakukan
kekerasan fisik, tetapi sering
merendahkan anaknya dengan
kata-kata.

Contohnya:
Setiap kali anak mendapat nilai bagus
di sekolah, orang tuanya justru berkata,
“Kenapa tidak dapat nilai sempurna?”

Atau ketika anak mencoba melakukan
sesuatu yang baru, orang tuanya
mengatakan,
“Kamu tidak akan berhasil.”

Lama-kelamaan anak mulai percaya
bahwa dirinya memang tidak cukup
baik. Rasa percaya diri mereka bisa
sangat rendah karena terbiasa
mendengar kritik yang terus menerus.

Orang tua yang memanipulasi
emosi anaknya agar selalu merasa
bersalah dan menuruti keinginan
mereka

Manipulasi emosional sering terjadi
ketika orang tua membuat anak merasa
bersalah agar anak mengikuti
keinginan mereka.

Contoh sehari-hari:
Seorang anak ingin pindah ke kota lain
untuk bekerja. Namun orang tuanya
berkata:

“Kalau kamu pergi, berarti kamu tidak
peduli dengan keluarga.”
“Setelah semua yang kami lakukan
untukmu, kamu tega meninggalkan
kami.”

Ucapan seperti ini membuat anak
merasa bersalah, meskipun sebenarnya
keinginannya untuk mandiri adalah
hal yang wajar.

Dalam situasi lain, orang tua mungkin
menggunakan kalimat seperti:
“Kalau kamu benar-benar sayang ibu,
kamu pasti menuruti permintaan ibu.”

Cara seperti ini membuat anak merasa
bahwa ia harus selalu memenuhi
keinginan orang tuanya agar tidak
dianggap sebagai anak yang buruk.

Berbagai Bentuk Menjauh dari
Hubungan

Menjauh dari hubungan keluarga tidak
selalu berarti memutus kontak
sepenuhnya.

Setiap orang memiliki cara yang
berbeda untuk melindungi dirinya.

Beberapa orang hanya membutuhkan
jarak sementara untuk menenangkan
diri dan memulihkan emosi mereka.

Sementara yang lain merasa perlu
memutus hubungan sepenuhnya karena
rasa sakit yang mereka alami terlalu besar.

Contohnya dalam kehidupan nyata:

Seseorang mungkin memilih tidak
mengunjungi rumah keluarganya selama
beberapa bulan karena setiap pertemuan
selalu berakhir dengan pertengkaran.

Di sisi lain, ada orang yang mengalami
pengalaman trauma yang sangat berat,
seperti pelecehan seksual dari anggota
keluarga.

Dalam kasus seperti ini, bahkan melihat
orang tersebut kembali bisa
memunculkan kenangan menyakitkan.

Karena itu menjaga jarak fisik sering
menjadi langkah penting agar seseorang
merasa aman dan bisa memulai hidup
baru.

Memutus Hubungan Tidak Berarti
Melupakan Masa Lalu

Ketika seseorang memutus hubungan
dengan anggota keluarga, itu tidak
berarti bahwa ia langsung memaafkan
atau melupakan apa yang terjadi.

Ungkapan “maafkan dan lupakan”
sering kali tidak realistis, terutama
ketika seseorang mengalami trauma
masa kecil yang berat.

Misalnya seseorang mungkin tidak
pernah bisa melupakan masa kecilnya
yang dipenuhi oleh kecanduan alkohol
orang tuanya atau kata-kata kasar
dari anggota keluarga.

Namun itu tidak berarti ia harus
terus hidup dalam rasa bersalah.

Yang terpenting adalah memahami
bahwa kehidupan seseorang lebih
berharga daripada mempertahankan
hubungan yang terus menyakitinya.

Keluarga Tidak Selalu Ditentukan
oleh Hubungan Darah

Buku Drama Free juga menekankan
bahwa keluarga tidak selalu berarti
orang-orang yang berasal dari
pohon keluarga yang sama.

Keluarga sejati adalah orang-orang
yang benar-benar mencintai,
menghargai, dan mendukung kita.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak
orang menemukan rasa keluarga
melalui teman dekat, pasangan, atau
komunitas yang saling mendukung.

Hubungan seperti ini sering
memberikan rasa aman yang mungkin
tidak pernah mereka rasakan dalam
keluarga biologis mereka.

Memaafkan untuk Kedamaian
Diri Sendiri

Memaafkan seseorang yang telah
menyakiti kita tidak selalu berarti
memperbaiki hubungan dengan mereka.

Terkadang memaafkan justru dilakukan
agar seseorang bisa melepaskan beban
emosional yang selama ini ia bawa.

Proses ini tidak mudah, terutama jika
orang yang menyakiti kita tidak pernah
mengakui kesalahan mereka.

Namun memaafkan dapat membantu
seseorang mendapatkan kedamaian
batin dan melanjutkan hidupnya tanpa
terus terikat pada rasa marah.

Memahami Orang Tua untuk
Menyembuhkan Hubungan

Banyak orang tumbuh dengan
kekurangan kasih sayang, dukungan,
atau perhatian dari orang tua mereka.

Pengalaman seperti ini sering
membuat seseorang kesulitan
membangun hubungan yang sehat
di masa dewasa.

Meskipun demikian, sebagian orang
tetap memiliki keinginan untuk
memperbaiki hubungan dengan
orang tua mereka.

Keputusan untuk tetap berhubungan
dengan orang tua atau menjauh dari
mereka adalah keputusan pribadi.

Tidak ada teman, keluarga, atau
bahkan terapis yang benar-benar
dapat menentukan pilihan yang
paling tepat bagi seseorang.

Pertanyaan Penting Sebelum
Memutuskan Hubungan

Untuk memahami hubungan dengan
orang tua, seseorang dapat mencoba
menjawab beberapa pertanyaan
penting.

Misalnya:

Bagaimana kehidupan saya jika
hubungan ini diputuskan?
Apakah saya akan merasa lebih
tenang atau justru lebih sedih?

Apa sebenarnya masalah utama
antara saya dan orang tua saya?

Apakah masalah tersebut masih
terjadi sekarang, atau hanya
terjadi di masa lalu?

Apakah orang tua saya telah
berubah selama bertahun-tahun?

Contoh sehari-hari:

Seseorang mungkin memiliki orang tua
yang dulu kecanduan narkoba ketika ia
masih kecil.

Namun bertahun-tahun kemudian
orang tua tersebut berhasil keluar dari
kecanduan dan mencoba memperbaiki
hidupnya.

Dalam situasi seperti ini, seseorang
mungkin mempertimbangkan apakah
ia ingin memberi kesempatan untuk
membangun hubungan baru.

Mengakui Emosi yang Masih Ada

Meskipun seseorang memutuskan
untuk memperbaiki hubungan dengan
orang tuanya, ia mungkin masih
menyimpan kemarahan atau rasa
sakit dari masa lalu.

Menekan emosi tersebut bukanlah
solusi.

Jika emosi seperti marah atau kecewa
terus dipendam, perasaan itu bisa
semakin menumpuk.

Cara yang lebih sehat adalah mengakui
emosi tersebut dan menemukan cara
yang aman untuk melepaskannya.

Misalnya melalui aktivitas fisik seperti
berlari, olahraga, atau tinju.

Aktivitas seperti ini dapat membantu
seseorang menyalurkan energi
emosional yang kuat.

Kemarahan sebagai Ekspresi
dari Rasa Sakit

Kemarahan sering kali merupakan
ekspresi luar dari rasa sakit yang
lebih dalam.

Ketika seseorang mengalami trauma
masa kecil, kemarahan itu bisa
berubah menjadi kebencian yang
terus menguras energi.

Kebencian membuat seseorang terus
terikat pada kenangan menyakitkan
dari masa lalu.

Karena itu salah satu cara untuk
mengurangi kebencian adalah mencoba
memahami orang yang telah menyakiti
kita.

Melihat Orang Tua sebagai
Manusia Biasa

Salah satu langkah yang dapat
membantu proses penyembuhan adalah
mencoba melihat orang tua sebagai
manusia biasa, bukan hanya sebagai
figur “ibu” atau “ayah”.

Cobalah melihat mereka sebagai individu
dengan kehidupan, pengalaman, dan
kesulitan mereka sendiri.

Misalnya seseorang dapat mencoba
memahami latar belakang orang tuanya.

Bagaimana masa kecil mereka?
Lingkungan seperti apa yang
membentuk mereka?
Kesulitan apa yang mereka hadapi
ketika membesarkan anak?

Sering kali seseorang menyadari bahwa
orang tuanya juga tumbuh dalam
keluarga yang penuh masalah.

Mereka mungkin menghadapi tekanan
ekonomi, masalah kesehatan mental,
atau pengalaman traumatis mereka
sendiri.

Memahami hal ini tidak berarti
membenarkan perilaku yang menyakitkan.

Tidak ada alasan yang dapat
membenarkan kekerasan atau pelecehan.

Namun memahami latar belakang
seseorang dapat membantu menciptakan
rasa empati yang membuat proses
memaafkan menjadi lebih mungkin.

Memahami Masa Lalu untuk
Melangkah ke Depan

Ketika seseorang menyadari bahwa orang
tuanya juga merupakan manusia yang
penuh kekurangan, ia dapat mulai melihat
masa lalu dengan perspektif yang berbeda.

Ia mungkin tetap mengingat luka yang
pernah terjadi, tetapi tidak lagi
membiarkan luka tersebut sepenuhnya
mengendalikan hidupnya.

Memahami masa lalu dapat membantu
seseorang melepaskan sebagian dari
kemarahan dan melangkah menuju
kehidupan yang lebih damai.

Dengan cara ini, seseorang tidak hanya
memperbaiki hubungannya dengan
orang lain, tetapi juga memperbaiki
hubungannya dengan dirinya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *