Sembilan Akar Depresi yang Jarang Kita Bicarakan
Jika Bukan Kimia, Lalu Apa?
Di bagian sebelumnya, kita telah
membahas kemungkinan bahwa
depresi tidak sesederhana
“ketidakseimbangan kimia di otak”.
Tentu ini bukan berarti depresi tidak nyata
—ia sangat nyata, dan menyakitkan.
Tapi jika penyebabnya bukan serotonin
yang kurang, lalu apa?
Johann Hari, setelah mewawancarai
puluhan ahli di seluruh dunia, sampai
pada kesimpulan yang mengubah cara
pandangnya: Depresi sebagian
besar disebabkan oleh situasi
hidup yang sulit, bukan oleh
kerusakan internal di otak.
Ia menemukan setidaknya sembilan
penyebab atau yang ia sebut
“keterputusan” (disconnections)
yang membuat manusia jatuh ke dalam
depresi. Menariknya, sebagian besar
penyebab ini adalah hal-hal eksternal
yang bisa kita lihat, rasakan, dan ubah.
Mari kita telusuri satu per satu, dengan
contoh-contoh dari keseharian yang
mungkin pernah kita alami sendiri atau
lihat pada orang di sekitar kita.
Pekerjaan yang Membunuh Jiwa
Keterputusan dari Pekerjaan
yang Bermakna
Bayangkan dua orang pekerja.
Andi, manajer di perusahaan
startup. Ia datang ke kantor jam 9,
memimpin rapat, membuat keputusan
strategis, dan pulang saat ia mau.
Gajinya besar, ruangannya ber-AC, dan
ia bisa mengatur jadwalnya sendiri.
Saat proyek berhasil, ia mendapat
pujian dan bonus.
Tono, operator produksi di pabrik
yang sama. Setiap hari ia melakukan
tugas yang sama: memasang sekrup
pada bagian tertentu dari sebuah mesin.
Gerakannya monoton, delapan jam
sehari. Ia tidak pernah melihat produk
jadi, tidak pernah bertemu konsumen
yang menggunakan mesin itu, tidak
pernah tahu apakah kerjanya berarti.
Aturannya ketat: tidak boleh duduk,
tidak boleh lihat HP, harus ijin ke toilet.
Gajinya pas-pasan.
Penelitian menunjukkan: Tono jauh
lebih mungkin mengalami depresi
daripada Andi.
Bukan karena Tono lemah secara
genetik. Tapi karena ia tidak
memiliki kendali atas
pekerjaannya dan tidak melihat
makna dalam apa yang ia
lakukan. Manusia butuh merasa
bahwa kerja kerasnya berarti bagi
orang lain. Ketika pekerjaan hanya
menjadi rutinitas tanpa makna,
jiwa kita layu perlahan.
Contoh sehari-hari: Pernah merasa
Minggu sore sudah cemas karena
besok Senin? Atau merasa pekerjaan
Anda seperti “memindahkan tumpukan
A ke tumpukan B” tanpa dampak nyata?
Itulah keterputusan dari makna kerja.
Kesepian di Tengah Keramaian
Keterputusan dari Orang Lain
Dewi, 30 tahun, tinggal di Jakarta.
Ia punya 1.500 teman di Instagram,
800 koneksi di LinkedIn, dan beberapa
grup WhatsApp yang ramai setiap hari.
Tapi kapan terakhir ia punya
percakapan mendalam?
Kapan terakhir ia curhat dan didengar
tanpa interupsi?
Kapan terakhir ia dipeluk saat menangis?
Dewi kesepian. Dan kesepian ini, kata
penelitian, adalah prediktor depresi
yang sangat kuat.
Manusia adalah makhluk sosial. Otak
kita berevolusi dalam kelompok kecil
yang saling mendukung. Ketika kita
terputus dari komunitas
—ketika tidak ada tempat berpulang,
tidak ada bahu untuk bersandar
—kita menderita. Bukan karena lemah,
tapi karena kita sedang hidup di luar
rancangan dasar kemanusiaan kita.
Contoh sehari-hari: Mahasiswa rantau
yang depresi karena jauh dari keluarga.
Pensiunan yang tiba-tiba kehilangan
interaksi sosial setelah pensiun.
Ibu rumah tangga di kompleks
perumahan yang jarang bersosialisasi.
Semua ini adalah bentuk keterputusan
dari orang lain.
Ketika Kita Mengejar Hal yang
Salah
Keterputusan dari Nilai-nilai
Bermakna
Lihatlah iklan, film, media sosial, atau
percakapan di sekitar kita.
Apa yang dianggap “sukses”?
Rumah besar, mobil mewah, liburan
ke luar negeri, body goals, jumlah
follower.
Masyarakat konsumeris kita
terus-menerus membisikkan:
Kamu akan bahagia kalau punya ini.
Kamu akan berarti kalau mencapai itu.
Tapi penelitian menunjukkan: Semakin
kita mengejar nilai-nilai ekstrinsik
seperti uang, status, dan penampilan,
semakin tinggi risiko depresi.
Sebaliknya, orang yang fokus pada
nilai-nilai intrinsik
—hubungan, komunitas, pertumbuhan
pribadi, cenderung lebih sehat
secara mental.
Rudi, 35 tahun, eksekutif muda.
Ia punya mobil Eropa, jam tangan
mahal, dan sering selfie di tempat
gym. Tapi di dalam hatinya kosong.
Ia bekerja 12 jam sehari untuk
membayar cicilan semua barang itu.
Ia tidak punya waktu untuk hobi,
teman, atau keluarganya. Ia merasa
seperti tikus dalam roda
—berlari cepat tapi tidak
kemana-mana.
Inilah keterputusan dari nilai-nilai
yang sesungguhnya berarti bagi
jiwa manusia.
Luka Masa Kecil yang Tak
Kunjung Sembuh
Trauma Masa Kanak-kanak
Tahun 1998, sebuah penelitian penting
dilakukan. Para peneliti bertanya
kepada 17.000 orang tentang
pengalaman masa kecil mereka
—apakah mereka mengalami kekerasan,
penelantaran, kehilangan orangtua,
atau disfungsi keluarga lainnya.
Lalu mereka mencocokkannya dengan
kondisi kesehatan partisipan saat dewasa.
Hasilnya mencengangkan:
Semakin banyak trauma masa
kecil, semakin tinggi
kemungkinan seseorang
mengalami depresi dan
kecemasan saat dewasa.
Bukan berarti setiap orang dengan
masa kecil sulit pasti depresi. Tapi
lukanya meninggalkan bekas. Seperti
patah tulang yang sembuh tapi tetap
terasa saat akan hujan.
Contoh sehari-hari: Seorang teman
yang tumbuh dengan orangtua bercara
keras dan sering marah. Kini ia dewasa,
sukses secara karir, tapi sulit percaya
pada pasangan. Ia cemas ditinggalkan,
sensitif pada kritik, dan kadang
tiba-tiba sedih tanpa sebab. Akarnya
mungkin ada di masa kecil, meski
ia sendiri tidak menyadarinya.
Ketika Tetangga Semakin Jauh
Secara Sosial
Keterputusan dari Status dan
Kesenjangan
Coba bandingkan dua negara: Jepang
dan Amerika Serikat. Atau di Indonesia:
bandingkan daerah dengan
kesenjangan rendah dan tinggi.
Penelitian menemukan: Di daerah
dengan kesenjangan ekonomi
yang besar, tingkat depresi dan
kecemasan lebih tinggi. Bukan
cuma pada orang miskin, tapi
di semua lapisan masyarakat.
Mengapa? Karena kesenjangan
menciptakan perbandingan sosial
yang tak sehat. Kita terus-menerus
membandingkan diri dengan mereka
yang di atas. Kita merasa kurang,
merasa gagal, merasa tidak cukup
baik. Rasa iri, malu, dan rendah diri
menjadi makanan sehari-hari.
Contoh sehari-hari: Hidup di kota
besar seperti Jakarta, di mana mal
mewah berdampingan dengan
pemukiman kumuh. Setiap hari kita
melihat jurang pemisah antara yang
punya dan yang tidak. Bagi mereka
yang terjepit di tengah, cukup untuk
melihat kemewahan tapi tidak cukup
untuk meraihnya, rasa frustrasi ini
bisa menjadi racun mental.
Hirup Udara, Sentuh Tanah
Keterputusan dari Alam
Ini mungkin terdengar klise, tapi
penelitian mendukungnya: Orang
yang tinggal di lingkungan yang
lebih hijau merasa lebih sedikit
stres dan putus asa.
Ada sesuatu tentang pepohonan, langit
terbuka, dan tanah yang
menyembuhkan. Mungkin karena
selama 200.000 tahun evolusi, kita
hidup di alam. Baru beberapa generasi
terakhir kita tinggal di dalam kotak
beton.
Contoh sehari-hari: Bandingkan
perasaan Anda setelah satu jam di mal
yang ramai dengan setelah satu jam
di taman kota. Atau perasaan
anak-anak yang jarang main di luar
(generasi “indoor”) dengan mereka yang
bebas berlarian di alam. Ada kelelahan
khas kota yang tidak bisa diatasi dengan
kopi atau tidur, tapi bisa diatasi dengan
berjalan tanpa alas kaki di rumput.
Harapan yang Hilang, Jiwa yang
Mati
Keterputusan dari Masa Depan
yang Aman
Hari mengangkat satu studi kasus yang
sangat kuat: komunitas penduduk
asli Amerika di reservasi.
Di reservasi yang dikendalikan penuh
oleh pemerintah federal, di mana mereka
tidak punya kendali atas hukum, polisi,
sekolah, atau pemerintahan sendiri, angka
bunuh diri sangat tinggi, mencapai
tingkat yang mengerikan.
Tapi di reservasi lain, di mana mereka
diberi otonomi—bisa membuat hukum
sendiri, memilih pemimpin sendiri,
menjalankan sekolah sendiri
—angka bunuh diri turun drastis,
bahkan mendekati nol.
Apa bedanya?
Kendali atas masa depan.
Ketika orang merasa tidak punya kendali
atas nasib mereka sendiri, ketika masa
depan terasa gelap dan tak bisa diubah,
keputusasaan merayap masuk.
Sebaliknya, ketika kita merasa bisa
membentuk masa depan
—bahkan dalam situasi sulit sekalipun,
kita punya alasan untuk bertahan.
Contoh sehari-hari: Generasi muda
yang merasa tidak punya masa depan
karena sulitnya lapangan kerja.
Orangtua yang khawatir tidak bisa
menyekolahkan anak. Masyarakat
di daerah tambang yang tanahnya rusak
dan tak tahu bagaimana masa depan
anak cucu. Semua ini adalah
keterputusan dari masa depan yang
aman dan penuh harapan.
Bukan Menyangkal Genetika
Gen Memang Punya Peran
—Tapi Tidak Sepenuhnya
Hari tidak naif. Ia mengakui:
Ada pengaruh genetik dalam
depresi. Penelitian pada kembar
identik menunjukkan hal ini.
Tapi angkanya penting dicatat:
Gen hanya menjelaskan sekitar
37% kasus depresi.
Artinya, lebih dari separuh penyebab
depresi bukan genetik. Itu berarti
lingkungan, pengalaman, dan cara kita
hidup punya andil besar. Sayangnya,
narasi yang populer justru sebaliknya:
seolah-olah depresi adalah “bawaan”
yang tak bisa dihindari.
Pemahaman yang lebih akurat:
Gen bisa memberi kerentanan. Tapi
seperti benih yang butuh tanah dan
air untuk tumbuh, kerentanan
genetik butuh kondisi tertentu untuk
menjadi depresi. Ubah kondisinya,
dan kita bisa mencegah benih itu
bertunas.
Otak yang Berubah Karena
Kebiasaan
Perubahan di Otak
(Neuroplastisitas)
Poin terakhir ini penting:
Otak berubah berdasarkan
pengalaman. Ini disebut
neuroplastisitas.
Artinya: Jika seseorang terus-menerus
tenggelam dalam pikiran sedih, putus
asa, dan cemas, area otak yang
memproses emosi negatif akan
“menguat”. Jalur sarafnya menjadi
seperti jalan setapak yang semakin
lebar karena sering dilalui.
Sebaliknya, jika kita melatih pikiran
untuk melihat hal-hal baik, bersyukur,
atau menikmati momen kecil, area
positif juga bisa menguat.
Ini bukan “positive thinking” yang naif.
Ini soal bagaimana kebiasaan mental
membentuk struktur otak kita seiring
waktu.
Contoh sehari-hari: Seseorang yang
setiap hari mengeluh, memikirkan
kekurangan, dan mengkritik diri sendiri,
lama-lama ini menjadi “default mode”
otaknya. Ia bahkan tidak sadar sedang
melakukannya. Sebaliknya, mereka yang
terbiasa mencari hikmah, meski dalam
kesulitan, melatih otaknya untuk lebih
tangguh.
Bukan Cuma Sembilan,
Tapi Juga Satu Kesimpulan
Sembilan penyebab ini dari pekerjaan
tak bermakna hingga trauma masa
kecil, dari kesenjangan hingga
kehilangan harapan
sebenarnya berbicara tentang satu
hal: kita terputus dari hal-hal
yang membuat kita manusia.
Terputus dari makna. Terputus dari
sesama. Terputus dari nilai. Terputus
dari alam. Terputus dari masa depan.
Depresi, dalam pandangan ini,
bukanlah kerusakan mesin yang perlu
diganti onderdilnya. Depresi adalah
sinyal—sinyal bahwa ada kebutuhan
mendasar manusia yang tidak terpenuhi.
Seperti rasa lapar memberi tahu kita
perlu makan, atau haus memberi tahu
kita perlu minum, depresi memberi
tahu kita bahwa kita butuh koneksi
yang hilang.
Maka solusinya pun bukan hanya obat.
Solusinya adalah membangun kembali
jembatan yang putus. Menemukan
makna dalam pekerjaan. Membangun
komunitas yang hangat. Mengurangi
kesenjangan. Menyembuhkan luka
masa lalu. Memberi orang kendali
atas hidupnya.
Tentu ini semua tidak mudah. Jauh
lebih mudah menulis resep obat
(medical prescription) daripada
mengubah struktur masyarakat.
Tapi setidaknya, dengan memahami
akar yang sebenarnya, kita bisa mulai
mencari jalan keluar yang lebih jujur
dan lebih manusiawi.
