buku

Kisah Biji Mostar – Pelajaran Pertama tentang Penderitaan

Setelah membahas kehangatan
manusia dan kasih sayang, Dalai Lama
membawa kita memasuki wilayah yang
mungkin paling menantang dalam
perjalanan hidup: penderitaan.
Bagaimana kita menghadapinya?
Bagaimana kita mengubahnya?
Dan mungkinkah penderitaan justru
menjadi guru terbaik dalam hidup?

Bagian ini dibuka dengan sebuah kisah
indah dari tradisi Buddha yang sarat
makna.

Alkisah, seorang wanita kehilangan anak
satu-satunya. Ia sangat terpukul,
tak mampu menerima kenyataan pahit itu.
Dengan setengah putus asa, ia berlari dari
satu orang ke orang lain, mencari obat
yang bisa menghidupkan kembali anaknya.
Ia benar-benar tak rela melepaskan
kepergian sang buah hati.

Suatu hari, ia mendengar kabar tentang
Buddha yang konon memiliki obat ajaib
tersebut. Dengan penuh harap,
ia menemui Buddha dan memohon
obat untuk anaknya.

Buddha, dengan penuh kasih, berkata
bahwa ia memang tahu obatnya, tapi
membutuhkan bahan-bahan tertentu.
“Bawakan aku segenggam biji mostar
dari rumah yang tidak pernah
ditinggal mati oleh anak, pasangan,
orang tua, atau pembantunya,”
kata Buddha.

Wanita itu setuju dan segera berkeliling
dari satu rumah ke rumah lain.
Di setiap rumah, orang-orang dengan
ramah menawarinya biji mostar. Tapi
ketika ia bertanya,
“Apakah di rumah ini pernah ada yang
meninggal?”
semua rumah ternyata pernah
kehilangan seseorang. Satu rumah
kehilangan anak, rumah lain
kehilangan suami, rumah lainnya
kehilangan orang tua.

Setelah mengunjungi banyak rumah
yang semuanya pernah merasakan
kehilangan, wanita itu akhirnya
menyadari sesuatu:
ia tidak sendirian dalam
penderitaannya
. Kesadaran ini
membantunya untuk akhirnya bisa
menerima kenyataan pahit
kepergian anaknya.

Contoh sehari-hari:
Pernahkah kita merasa bahwa
penderitaan kitalah yang paling berat
sedunia?
Saat patah hati, kita merasa tidak ada
yang pernah merasakan sakit sehebat
ini. Saat gagal dalam karier, kita merasa
hanya kita yang mengalami kegagalan
sebesar ini. Tapi cobalah berbicara
dengan orang lain, atau membaca kisah
hidup orang-orang hebat. Kita akan
sadar bahwa setiap orang punya luka
dan perjuangannya masing-masing.
Kesadaran ini tidak menghapus
penderitaan, tapi membuatnya lebih
bisa dipikul karena kita tahu kita
tidak sendirian.

Menerima Penderitaan sebagai
Bagian Alamiah Kehidupan

Langkah pertama dalam
mentransformasi penderitaan adalah
menerimanya sebagai bagian
alamiah dari kehidupan
.
Penderitaan adalah elemen dasar yang
kita bagi dengan semua makhluk
hidup lainnya.

Contoh sehari-hari:
Coba perhatikan sekeliling kita. Bayi
menangis karena lapar. Anak kecil
menangis karena jatuh. Remaja
bersedih karena cinta tak berbalas.
Dewasa stres karena pekerjaan. Lansia
sakit-sakitan. Penderitaan hadir
di setiap tahap kehidupan, dialami oleh
semua orang tanpa kecuali. Bukan
untuk membuat kita pesimis, tapi untuk
menyadari bahwa ini adalah pengalaman
universal.

Yang terpenting, seperti yang kita lihat
dalam kisah biji mostar tadi, cara kita
memandang penderitaan
 akan
sangat memengaruhi seberapa besar kita
menderita. Dua orang bisa mengalami
peristiwa yang sama
—kehilangan pekerjaan misalnya,
tapi tingkat penderitaannya bisa sangat
berbeda tergantung bagaimana mereka
memaknainya.

Menghadapi Masalah
– Dua Jenis dan Cara Menyikapinya

Langkah kedua dalam transformasi
penderitaan adalah menghadapi
masalah dan mencari solusi
.
Dalai Lama membedakan masalah
menjadi dua jenis:

Jenis Pertama: Masalah yang
Bisa Dipecahkan

Ini adalah masalah sehari-hari yang
memang harus kita cari solusinya.
Dengan usaha dan pendekatan yang
tepat, masalah ini bisa diatasi.

Contoh sehari-hari:
Anda kesulitan memenuhi target kerja.
Ini masalah yang bisa dipecahkan.
Caranya? Mungkin dengan belajar skill
baru, meminta bantuan rekan, atau
berdiskusi dengan atasan. Atau
masalah keuangan yang sempit. Bisa
dicari solusinya dengan berhemat,
mencari tambahan penghasilan, atau
berkonsultasi dengan perencana
keuangan.

Jenis Kedua: Masalah yang Tidak
Bisa Dipecahkan

Ini adalah hal-hal seperti kematian,
usia tua, dan penyakit
.
Masalah-masalah ini tidak bisa
“dipecahkan” dalam arti dihilangkan.
Tapi kita tetap harus memikirkannya
dan berusaha menerima bahwa
ini bisa terjadi kapan saja
.

Contoh sehari-hari:
Kita semua tahu bahwa orang tua kita
suatu saat akan meninggal. Tidak ada
yang bisa mencegahnya. Tapi jika kita
selalu menolak memikirkan kenyataan
ini, maka ketika saat itu tiba, kita akan
hancur berantakan. Sebaliknya, jika kita
secara perlahan menerima kenyataan
ini, menghabiskan waktu berkualitas
dengan mereka selama masih ada, maka
ketika kepergian itu tiba, kita akan lebih
siap secara mental. Rasa kehilangan
tetap ada, tapi tidak sampai
menghancurkan kita.

Hindari Penderitaan yang Kita
Ciptakan Sendiri

Kadang-kadang, kita sendiri yang
menciptakan penderitaan yang tidak
perlu. Ini terjadi ketika kita bereaksi
berlebihan
 atau menganggap
sesuatu terlalu personal
.

Penulis buku ini memberikan contoh
yang mungkin pernah kita alami
semua. Saat makan malam di restoran,
pelayanannya buruk. Seorang teman
menganggapnya
personal—seolah pelayan itu sengaja
ingin merusak malamnya. Akibatnya,
ia membiarkan kejadian itu merusak
seluruh malam yang seharusnya bisa
dinikmati bersama teman.

Padahal, bisa jadi pelayan itu sedang
kelelahan, punya masalah keluarga,
atau restoran memang sedang
kekurangan staf. Ketidaknyamanan itu
sama sekali tidak ditujukan secara
personal pada siapa pun.

Contoh sehari-hari:
Seseorang memotong antrian Anda
di supermarket. Anda bisa marah besar,
mengomel seharian, dan membawa
energi negatif ini ke rumah. Atau Anda
bisa berpikir, “Mungkin ia sedang
buru-buru ada urusan penting,” dan
melanjutkan hidup dengan tenang.
Penderitaan pertama berasal dari
kejadian eksternal, penderitaan kedua
(yang lebih besar) justru berasal dari
reaksi kita sendiri.

Guilt vs Regret

Penulis juga membedakan antara rasa
bersalah (guilt) dan penyesalan (regret).
Rasa bersalah adalah penderitaan
yang tidak perlu
, sementara
penyesalan adalah pembelajaran
dari kesalahan
.

Contoh sehari-hari:
Anda pernah berkata kasar pada orang
tua. Jika Anda terus-menerus
menghantui diri dengan
“Aku anak durhaka, aku tidak akan
pernah bisa memaafkan diriku sendiri,”
itu adalah rasa bersalah yang tidak
produktif. Tapi jika Anda berkata,
“Saya menyesal telah berkata kasar, saya
akan belajar mengendalikan emosi dan
akan meminta maaf serta berusaha lebih
baik ke depannya,” itu adalah
penyesalan yang konstruktif. Satu
membuat Anda terpuruk, satu
membuat Anda bertumbuh.

Hukum Ketidakkekalan
– Kunci Mengatasi Perubahan

Salah satu hukum universal dalam
kehidupan adalah segala sesuatu
berubah
. Tidak ada yang abadi.
Dan masalah muncul ketika kita
melawan perubahan ini
—ketika kita berpegang erat pada
sesuatu yang sebenarnya sedang berubah.

Contoh sehari-hari:
Hubungan pertemanan yang dulu
sangat akrab, sekarang mulai renggang
karena masing-masing sibuk dengan
keluarga dan karier. Kita bisa bersedih,
marah, dan menyalahkan, tapi itu
hanya akan menambah penderitaan.
Atau kita bisa menerima bahwa
hubungan itu memang berubah, tetap
menghargai kenangan indah yang
pernah ada, dan menjalani hubungan
dalam bentuk baru yang sesuai
dengan kondisi sekarang.

Yang diperlukan adalah pikiran yang
lentur
—kemampuan untuk menggeser
perspektif dengan mudah. Dengan
pikiran yang lentur, kita bisa
beradaptasi dengan perubahan dalam
hubungan maupun dalam kehidupan
secara umum.

Contoh sehari-hari:
Bayangkan bambu saat badai.
Ia meliuk mengikuti arah angin, dan
setelah badai reda, ia tegak kembali.
Bandingkan dengan pohon besar yang
kaku, bisa tumbang karena melawan.
Pikiran yang lentur seperti bambu itu.
Ketika perubahan datang, ia bisa
menyesuaikan diri tanpa patah.

Menemukan Makna di Balik
Penderitaan

Salah satu cara paling ampuh untuk
mentransformasi penderitaan adalah
menemukan makna di dalamnya.
Viktor Frankl, psikiater yang selamat
dari kamp konsentrasi Nazi, pernah
berkata, “Mereka yang memiliki
‘mengapa’ untuk hidup, dapat
menanggung hampir semua
‘bagaimana’.”

Dalai Lama menyarankan dua cara
untuk menemukan makna dalam
penderitaan:

Cara Pertama: Menjadikan
Penderitaan sebagai Latihan
Spiritual

Penderitaan bisa menjadi guru yang
sangat efektif. Ia mengajarkan kita
tentang kerendahan hati, tentang
empati pada sesama, tentang apa yang
benar-benar berharga dalam hidup.

Contoh sehari-hari:
Setelah mengalami sakit parah,
seseorang bisa menjadi lebih
menghargai kesehatan. Setelah
mengalami kesulitan keuangan,
seseorang bisa menjadi lebih bijak
mengelola uang dan lebih berempati
pada mereka yang berkekurangan.
Setelah kehilangan orang tercinta,
seseorang bisa menjadi lebih
menghargai setiap momen bersama
orang-orang yang masih ada.

Cara Kedua: Membayangkan
Penderitaan Kita Mengurangi
Penderitaan Orang Lain

Ini adalah praktik spiritual yang
mendalam, membayangkan bahwa
penderitaan yang kita alami sedang
“mengambil alih” penderitaan orang
lain, sehingga mereka terbebas.

Contoh sehari-hari:
Saat Anda sedang sakit gigi, coba
bayangkan bahwa dengan merasakan
sakit ini, Anda sedang menyelamatkan
orang lain—anak Anda, pasangan Anda,
atau seseorang yang Anda sayangi,
dari merasakan sakit yang sama. Atau
saat Anda sedang lelah bekerja lembur,
bayangkan bahwa kelelahan ini berarti
keluarga Anda tidak perlu merasakan
kesulitan ekonomi.

Kedua cara ini memberikan tujuan
pada penderitaan
 kita. Dan ketika
penderitaan punya tujuan, ia menjadi
lebih mudah untuk ditanggung.

Menghadapi Sakit Fisik dengan
Pemahaman

Bagian selanjutnya membahas tentang
sakit fisik. Meskipun menyakitkan,
Dalai Lama mengingatkan bahwa rasa
sakit sebenarnya penting untuk
kehidupan
.

Fungsi Rasa Sakit

Pertama, respons rasa sakit berfungsi
sebagai alat pembelajaran yang
penting
. Ingatan tentang pengalaman
menyakitkan membantu memodifikasi
perilaku kita dan memastikan kita
memperhatikan masalah yang perlu
diatasi.

Contoh sehari-hari:
Anak kecil yang menyentuh kompor
panas akan merasakan sakit. Ingatan
tentang sakit itu akan membuatnya
lebih berhati-hati di masa depan. Tanpa
rasa sakit, ia bisa terus-menerus
melukai dirinya tanpa sadar.

Kedua, rasa sakit memberi kita rasa
memiliki diri
. Pasien kusta yang
kehilangan sensasi di tangan mereka
cenderung melihat tangan mereka hanya
sebagai alat, bukan sebagai bagian dari
diri mereka sendiri. Mereka bisa melukai
tangannya tanpa menyadarinya.

Memahami Tujuan Rasa Sakit

Memahami tujuan dari rasa sakit dapat
membantu kita menghadapinya.
Saya ingin berbagi pengalaman pribadi
yang menarik. Tidak lama setelah
membaca buku ini.
Saya mengalami cedera jari dan
merasakan sakit yang cukup hebat.
Ia mencoba teknik yang diajarkan:
berpikir bahwa rasa sakit itu ada hanya
untuk melindunginya dari cedera lebih
lanjut dan mengingatkannya untuk
berhati-hati.

Hasilnya? “Saya menemukan ini cukup
efektif ketika rasa sakitnya tidak terlalu
parah, tapi ketika rasa sakitnya sudah
berat, teknik ini tidak banyak membantu,”

Contoh sehari-hari:
Saat sakit kepala, cobalah berpikir,
“Ini adalah sinyal bahwa saya terlalu
lelah, perlu istirahat, atau perlu minum
lebih banyak air.” Bukan berarti sakitnya
hilang, tapi setidaknya kita tidak
menambah penderitaan dengan
memikirkannya secara negatif.

Tiga Akar Penderitaan dan Jalan
Menuju Kebebasan

Dalam ajaran Buddha, ada tiga akar
penyebab penderitaan
. Memahami
ketiganya adalah langkah penting
menuju kebebasan dari penderitaan.

Akar Pertama: Kebodohan
(Ignorance)

Bukan kebodohan dalam arti tidak
pintar, tapi ketidaktahuan akan
realitas sejati
—termasuk ketidaktahuan bahwa
segala sesuatu bersifat sementara
dan tidak ada yang abadi.

Contoh sehari-hari:
Kita menderita karena hubungan putus
karena kita berpikir hubungan itu akan
abadi. Kita tidak menyadari bahwa
semua hubungan, seperti semua hal lain,
bersifat dinamis dan bisa berubah.
Kebodohan inilah yang membuat kita
terkejut dan hancur ketika perubahan
terjadi.

Akar Kedua: Keinginan (Craving)

Ini adalah keinginan yang tak
pernah puas
. Begitu satu keinginan
terpenuhi, keinginan lain muncul.

Contoh sehari-hari:
Kita pikir kebahagiaan ada di rumah
baru, pasangan baru, pekerjaan baru.
Tapi setelah mendapatkannya, kita
kembali merasa kurang dan
menginginkan yang lain lagi. Siklus
ini tak berujung dan melelahkan.

Akar Ketiga: Kebencian (Hatred)

Ini mencakup kemarahan, permusuhan,
dan keengganan. Energi negatif ini
tidak hanya merusak orang lain, tapi
terutama merusak diri sendiri.

Contoh sehari-hari:
Menyimpan dendam pada seseorang
ibarat minum racun dan berharap
orang lain yang mati. Kemarahan yang
dipelihara hanya akan merusak
ketenangan batin kita sendiri.

Jalan Menuju Kebebasan

Dalai Lama mengajarkan bahwa dengan
menghilangkan ketiga akar ini,
kita bisa menghilangkan sebagian besar
penderitaan. Tentu ini bukan proses
instan, tapi perjalanan seumur hidup.

Contoh sehari-hari:

  • Melawan kebodohan dengan
    belajar dan merenung:
    “Apa yang bisa saya pelajari
    dari situasi ini?”

  • Melawan keinginan tak
    terpuaskan dengan bersyukur:
    “Apa yang sudah saya miliki
    saat ini?”

  • Melawan kebencian dengan
    melatih kasih sayang:
    “Mungkin orang ini juga sedang
    menderita, makanya bersikap
    seperti itu.”

Refleksi – Penderitaan sebagai
Guru Terbaik

Dalam perjalanan hidup, penderitaan
tidak bisa dihindari. Tapi seperti yang
diajarkan Dalai Lama, penderitaan
bisa ditransformasi. Bukan dengan
menyangkalnya atau melawannya,
tapi dengan memahaminya,
menerimanya, dan memberinya
makna
.

Kisah wanita dengan biji mostar
mengajarkan kita bahwa penderitaan
adalah pengalaman universal,
kita tidak sendirian. Pemahaman
tentang dua jenis masalah mengajarkan
kita untuk membedakan apa yang bisa
diubah dan apa yang harus diterima.
Kewaspadaan pada penderitaan yang
kita ciptakan sendiri mengajarkan kita
untuk tidak menambah beban yang
sudah ada. Pemahaman tentang
ketidakkekalan mengajarkan kita untuk
fleksibel. Dan pencarian makna
mengajarkan kita bahwa bahkan dalam
penderitaan terdalam sekalipun, selalu
ada ruang untuk pertumbuhan.

Contoh sehari-hari untuk
direnungkan:

Pikirkan satu penderitaan terbesar yang
pernah Anda alami. Mungkin saat itu
terasa menghancurkan. Tapi sekarang,
lihat ke belakang. Apa yang Anda pelajari
dari pengalaman itu? Apakah Anda
menjadi pribadi yang lebih kuat?
Lebih berempati?
Lebih bijaksana?
Jika ya, maka penderitaan itu sudah
Anda transformasi menjadi sesuatu
yang berharga.

Seperti emas yang dimurnikan dengan
api, seperti berlian yang terbentuk
di bawah tekanan yang luar biasa,
manusia pun bisa menjadi lebih indah
dan berharga setelah melewati
penderitaan, jika kita mau belajar
darinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *