Pertandingan Catur yang Mengubah Segalanya
Pada tahun 2018, terjadi sesuatu yang
gila. Google datang ke kompetisi catur
dengan program kecerdasan buatan
mereka yang bernama AlphaZero.
Siapa juara bertahan saat itu?
Stockfish, program catur open source
yang selama empat tahun
berturut-turut mengalahkan semua
lawan. Secara teoritis, Stockfish adalah
favorit mutlak. Kemampuannya?
Menganalisis 70 juta posisi per detik.
Sementara AlphaZero? Hanya mampu
menganalisis 8.000 posisi per detik.
Perbedaan kecepatan yang sangat jauh,
hampir 10.000 kali lipat.
Tapi ada satu detail kecil: sebelum pagi
hari pertandingan itu, AlphaZero
belum pernah memainkan satu
permainan catur pun dalam
hidupnya. (Atau dalam “kehidupannya”
sebagai program.)
Dan apa yang terjadi?
AlphaZero mengguncang turnamen.
Dalam 100 pertandingan melawan
Stockfish, ia menang atau seri
di semua pertandingan.
Tidak terkalahkan.
Tapi itu belum selesai. Di hari yang
sama, AlphaZero bermain shogi,
versi Jepang dari catur, untuk pertama
kalinya. Dan ia menghancurkan Elmo,
program yang menjadi juara bertahan
di permainan itu, dengan memenangkan
90 dari 100 pertandingan.
Apa Artinya Ini?
AlphaZero tidak memenangkan
pertandingan dengan kecepatan
menghitung. Ia kalah cepat 10.000
kali lipat. Ia menang karena sesuatu
yang lain: pola, intuisi, dan
pembelajaran mandiri. Ia tidak
diberi tahu aturan catur oleh
programmernya. Ia belajar sendiri
dengan bermain melawan dirinya
sendiri berjuta-juta kali, menemukan
strategi yang bahkan belum pernah
terpikirkan oleh manusia dalam
ribuan tahun sejarah catur.
Inilah momen ketika AI menunjukkan
bahwa ia bisa melakukan sesuatu yang
berbeda dari cara manusia berpikir.
Dan ini membawa kita pada
pertanyaan besar: apa jadinya jika
AI mulai diterapkan pada
masalah-masalah kemanusiaan?
Menyambut “Penguasa Baru” Kita?
Penulis buku ini, dengan nada setengah
bercanda setengah serius, berkata:
mungkin sebaiknya kita tunduk
kepada penguasa AI baru kita
sekarang juga dan biarkan mereka
mengatur segalanya sesuai kehendak
mereka.
Kedengarannya ekstrem? Mungkin.
Tapi mari kita lihat faktanya.
Beberapa orang pintar seperti Elon
Musk memang memperingatkan bahwa
AI bisa menjadi ancaman serius. Tapi
di sisi lain, AI juga bisa menjadi hal
terbaik yang pernah terjadi pada
kita.
Mengapa? Karena Manusia Itu…
Kacau
Coba kita jujur sejenak. Manusia itu
tidak logis seperti algoritma. Kita tidak
efisien. Kita adalah kumpulan
kontradiksi berjalan yang tidak
masuk akal.
Lihat saja “prestasi” kita sebagai spesies:
Kita menciptakan perang kimia
yang membunuh ribuan orang
dalam kesakitan yang mengerikan.Kita punya kekerasan dalam
rumah tangga, menyakiti orang
yang paling dekat dan seharusnya
kita lindungi.Kita menciptakan pencucian
uang, sistem rumit untuk
menyembunyikan kekayaan
hasil kejahatan.Dan itu baru beberapa dari
sekian banyak dosa kita.
Secara umum, manusia cenderung pada
kebencian terhadap diri sendiri
dan kehancuran diri. Kita bisa
melihatnya dalam berita setiap hari:
perang, genosida, eksploitasi, kerusakan
lingkungan. Kita tahu merokok itu
buruk, tapi tetap merokok. Kita tahu
polusi itu merusak, tapi tetap mencemari.
Kita tahu perang itu menyengsarakan,
tapi tetap berperang.
Lalu, Seberapa Burukkah AI
Nantinya?
Pertanyaannya: seberapa besar
kemungkinan AI akan melihat fakta
bahwa saat ini sedang terjadi lima
genosida di berbagai belahan dunia,
lalu datang dengan cara yang lebih
baik untuk menjalankan planet ini?
Mungkin AI akan meyakinkan manusia
bahwa kita sebenarnya bisa
memperlakukan dunia di sekitar
kita dengan jauh lebih baik dan
tetap menjadi sangat makmur.
Mungkin AI akan menjadi sesuatu
yang akhirnya membantu manusia
mencapai dunia pasca-harapan
dan melihat melampaui konsep Baik
dan Jahat. Mungkin AI akan
menemukan sesuatu yang lebih besar
yang akhirnya mengakhiri
peperangan ideologis dan agama.
Tapi Ini Bukan Berarti AI Akan
Jadi “Tuhan” Baru
Tentu saja ini semua spekulasi. Tidak
ada yang tahu persis bagaimana AI
akan berkembang. Tapi yang menarik
dari argumen penulis adalah:
jika ada satu hal yang harus kita
harapkan, harapkanlah bahwa
kita tidak meledakkan diri kita
sendiri sebelum kita bisa
membuat perubahan yang
memberi kita kesempatan untuk
menjadi versi terbaik dari diri
kita.
Dengan kata lain: harapan terakhir
yang mungkin masuk akal adalah
harapan agar kita bertahan hidup
cukup lama untuk mencapai titik
di mana AI (atau teknologi lain)
bisa membantu kita keluar dari
kebuntuan ideologis dan emosional
yang selama ini menjebak kita.
Ringkasan Final: Apa yang
Sebenarnya Ingin Disampaikan
Buku Ini?
Setelah melalui perjalanan panjang
membahas otak logis vs emosional,
empat hukum emosi, kritik Nietzsche
terhadap sistem kepercayaan,
Amor Fati, formula Kant tentang hidup
berprinsip, bahaya pengejaran
kebahagiaan bagi demokrasi,
gangguan teknologi, hingga
kemungkinan peran AI
—apa inti dari semua ini?
Intinya Sederhana
(Meskipun Tidak Mudah)
Banyak dari kita mengandalkan
harapan untuk melewati masa-masa
sulit. Kita berkata, “Semoga besok
lebih baik,” “Semoga saya dapat
pekerjaan itu,” “Semoga hubungan
ini langgeng.” Harapan terasa seperti
bahan bakar yang membuat kita
terus bergerak.
Tapi kenyataannya:
harapan mungkin justru menjadi
penyebab utama kecemasan dan
depresi kita.
Mari kita ulang: harapan menciptakan
jurak antara “apa yang ada” dan
“apa yang seharusnya ada.”
Semakin besar jurang itu, semakin
besar penderitaan kita.
Pengejaran Kebahagiaan Adalah
Permainan yang Kalah
Berharap untuk lebih bahagia adalah
permainan yang kalah. Kenapa?
Karena semakin sedikit kesulitan yang
kita hadapi, kita justru menjadi
semakin sensitif terhadap
masalah-masalah kecil.
Ingat Efek Titik Biru? Ketika masalah
besar hilang, kita tidak berhenti
melihat masalah. Kita hanya
menggeser standar dan menemukan
masalah baru yang lebih kecil.
Ini siklus tanpa akhir.
Solusinya: Bukan Kebahagiaan,
Tapi Kebajikan
Alih-alih menjadikan kebahagiaan,
kenyamanan, dan kemudahan sebagai
nilai utama kita, buku ini menawarkan
alternatif yang tidak populer:
Terimalah bahwa hidup itu sulit.
Serius. Bukan dalam arti pasrah dan
menyerah, tapi dalam arti: hentikan
perlawanan terhadap kenyataan
bahwa hidup memang penuh
tantangan. Begitu Anda berhenti
berharap hidup jadi mudah, Anda bisa
mulai fokus pada hal yang lebih
penting: menjadi manusia yang lebih
berbudi pekerti.
Apa itu berbudi pekerti di sini?
Menerima kesulitan, menghadapi
tantangan, dan terus bangkit. Bukan
karena Anda berharap akan bahagia
nantinya, tapi karena menghadapi
tantangan dengan integritas
adalah tujuan itu sendiri.
Ini kembali ke konsep Kant: lakukan
hal yang benar karena itu benar, bukan
karena Anda mengharapkan imbalan.
Hadapi kesulitan karena itu adalah
bagian dari hidup, bukan karena Anda
berharap kesulitan itu akan hilang.
Saran Praktis: Rangkul Kebenaran
Tidak Nyaman Melalui Meditasi
Nah, ini dia bagian actionable dari buku
ini. Penulis memberikan satu saran
praktis yang mungkin terdengar
sederhana tapi sangat kuat: meditasi.
Kenapa Meditasi?
Meditasi, dalam konteks ini, bukan
soal duduk bersila sambil “om” atau
ritual spiritual tertentu. Meditasi
di sini adalah latihan untuk
membiarkan pikiran, terutama
pikiran gelap
—muncul, mengakuinya,
dan kemudian melepaskannya.
Kedengarannya mudah? Praktiknya
sulit. Tapi justru di situlah gunanya.
Bagaimana Meditasi Membantu?
Dengan meditasi, Anda bisa menjadi
lebih nyaman dengan fakta bahwa:
Rasa sakit itu tidak
terelakkan.
Tidak peduli seberapa keras Anda
berharap, hidup akan tetap
menyakitkan kadang-kadang.
Meditasi melatih Anda untuk
duduk dengan rasa sakit itu tanpa
panik, tanpa lari, tanpa mencari
pelarian.Penderitaan tidak harus
terjadi.
Ini bedanya. Rasa sakit itu
otomatis, tapi penderitaan adalah
pilihan. Rasa sakit adalah ketika
sesuatu yang buruk terjadi.
Penderitaan adalah ketika Anda
menolak menerima bahwa hal
buruk itu terjadi, ketika Anda
berharap itu tidak terjadi, ketika
Anda memutar ulang di kepala
“andai saja…”
Meditasi mengajarkan Anda untuk
merasakan rasa sakit tanpa menciptakan
penderitaan. Anda merasakan emosi
negatif, tapi Anda tidak terikat padanya.
Anda melihatnya datang, Anda
melihatnya pergi. Seperti awan di langit.
Contoh Sederhana
Bayangkan Anda sedang marah karena
seseorang menghina Anda. Tanpa
meditasi, kemarahan itu akan
mengambil alih. Anda mungkin akan
membalas, atau menyimpan dendam,
atau berguling-guling di malam hari
memikirkan bagaimana seharusnya
Anda merespon.
Dengan meditasi (setelah berlatih),
Anda bisa merasakan kemarahan itu
muncul. Anda tahu itu ada. Tapi Anda
juga tahu bahwa itu hanya perasaan,
bukan perintah untuk bertindak. Anda
bisa memilih untuk tidak membalas,
tidak menyimpan dendam, dan tidak
merumuskannya berulang-ulang. Anda
membiarkan kemarahan itu pergi
dengan sendirinya.
Inilah yang dimaksud dengan
merangkul kebenaran tidak
nyaman dalam hidup dan tetap
menjalani hidup meskipun
semuanya kacau.
Pesan Terakhir: Meskipun
Semuanya Kacau, Hidup
Tetap Berharga
Judul buku ini memang provokatif:
Everything Is Fcked*. Tapi pesan
akhirnya bukan untuk membuat
Anda putus asa. Justru sebaliknya.
Dengan menerima bahwa semuanya
kacau, bahwa harapan sering
mengecewakan, bahwa kebahagiaan
adalah target yang bergerak, dan
bahwa hidup itu pada dasarnya sulit,
Anda justru membebaskan diri
Anda dari beban untuk terus-menerus
berharap dan kecewa.
Anda bisa berhenti mengejar
fatamorgana kebahagiaan dan mulai
fokus pada apa yang bisa Anda
kendalikan: tindakan Anda,
prinsip Anda, cara Anda
merespon kesulitan.
Anda bisa berhenti menyalahkan dunia
karena tidak sesuai harapan, dan mulai
menerima dunia apa adanya sambil
tetap berusaha menjadi versi terbaik
dari diri Anda.
Dan mungkin, hanya mungkin, dengan
jutaan manusia melakukan pergeseran
kecil ini dari mengejar kebahagiaan
ke menjalani hidup berprinsip, dari
menghindari kesulitan ke menerima
tantangan, kita bisa menciptakan dunia
yang sedikit lebih baik. Atau setidaknya,
tidak meledakkan diri kita sendiri
sebelum AI datang membantu.
