Masa Lalu Tidak Memiliki Kuasa atas Diriku
Manusia terus berubah sepanjang
hidupnya. Usia bertambah, kedewasaan
berkembang, pendidikan meningkat,
dan pengalaman hidup semakin
banyak. Namun pada tingkat terdalam,
tingkat jiwa, kita selalu merupakan
jiwa yang indah dan utuh.
Sering kali hasil dari usaha kita di masa
lalu tidak selalu baik. Kita mungkin
membuat keputusan yang keliru,
melakukan kesalahan, atau menjalani
hidup dengan cara yang sekarang kita
sesali. Tetapi pada saat itu, kita
sebenarnya sedang melakukan yang
terbaik yang kita bisa dengan
pemahaman, kesadaran, dan
pengetahuan yang kita miliki saat itu.
Seiring waktu, ketika pengetahuan,
pemahaman, dan kesadaran kita
bertambah, kita akan mulai melakukan
hal-hal secara berbeda. Kita melihat
kembali masa lalu dengan perspektif
baru. Kita menyadari bahwa banyak
hal yang dulu kita lakukan hanyalah
hasil dari keterbatasan pemahaman
pada masa tersebut.
Karena itu, masa lalu tidak perlu
menjadi penjara. Masa lalu hanyalah
bagian dari perjalanan yang membawa
kita sampai ke titik kita berada sekarang.
Membersihkan Rumah Mental
Louise Hay menggunakan metafora
yang sangat sederhana namun kuat:
pikiran kita seperti sebuah rumah.
Di rumah fisik, kita membersihkan
kotoran dan sampah secara teratur.
Kita menyapu lantai, membuang
sampah, membersihkan debu, dan
menata ulang ruangan agar tetap
nyaman ditinggali.
Hal yang sama seharusnya kita lakukan
terhadap pikiran kita.
Membersihkan rumah mental berarti
meninjau kembali masa lalu dengan
hati-hati dan melihat keyakinan apa
yang kita miliki tentang diri sendiri
maupun orang lain. Proses ini tidak
selalu mudah. Bahkan terkadang
menyakitkan. Ada kenangan yang tidak
menyenangkan, pengalaman yang
menyisakan luka, atau keyakinan lama
yang ternyata membatasi diri kita.
Namun proses ini sangat penting.
Jika kita tidak membersihkan
“sampah mental”, maka pikiran kita
akan terus dipenuhi oleh keyakinan
lama, kemarahan, rasa bersalah, atau
luka yang tidak pernah diselesaikan.
Bahaya Menyalahkan Orang Lain
Salah satu cara paling pasti untuk tetap
terjebak dalam masalah adalah dengan
menyalahkan orang lain.
Ketika kita menyalahkan orang lain
atas semua kesulitan kita, kita
sebenarnya sedang memberikan
kekuatan kita kepada mereka. Kita
seolah berkata bahwa hidup kita
dikendalikan oleh tindakan orang lain.
Padahal kekuatan sejati berada
di dalam diri kita sendiri.
Pemahaman yang lebih dalam
memungkinkan kita untuk naik di atas
masalah tersebut dan mengambil
kembali kendali atas masa depan kita.
Orang-orang yang pernah melakukan
hal buruk kepada kita sering kali
bukanlah sosok yang sepenuhnya kuat
atau sadar. Mereka mungkin sama
takutnya, sama bingungnya, atau sama
terluka seperti kita. Mereka bertindak
berdasarkan ketakutan dan
keterbatasan yang mereka miliki.
Ketika kita memahami hal ini, sesuatu
yang baru muncul: belas kasih.
Membebaskan Diri dengan
Memaafkan
Kita tidak bisa benar-benar
membebaskan diri jika kita tidak
membebaskan orang lain.
Memaafkan bukan berarti
membenarkan tindakan yang salah.
Memaafkan berarti melepaskan ikatan
emosional yang membuat kita tetap
terikat pada peristiwa tersebut.
Jika kita menuntut kesempurnaan dari
orang lain, mereka pun akan menuntut
kesempurnaan dari kita. Hubungan
seperti itu akan dipenuhi tekanan,
kekecewaan, dan penderitaan.
Tidak ada manusia yang sempurna.
Semua orang datang ke dunia ini
dengan keterbatasannya masing-masing.
Tugas kita bukanlah menjadi sempurna,
tetapi melampaui keterbatasan awal
yang kita miliki.
Kita ada di sini untuk mengenali
kemegahan dan keilahian dalam
diri kita sendiri.
Namun setiap orang juga memiliki
keyakinan kabur yang harus mereka
atasi sepanjang hidupnya.
Afirmasi untuk Melepaskan
Masa Lalu
Salah satu cara yang diajarkan dalam
buku ini adalah menggunakan afirmasi
untuk menanamkan pola pikir baru.
Afirmasi yang muncul dari gagasan ini
adalah:
Masa lalu tidak memiliki kuasa
atas diriku karena aku bersedia
belajar dan berubah.Aku melihat masa lalu sebagai
bagian yang diperlukan untuk
membawaku ke tempatku
sekarang.Aku bersedia memulai dari titikku
saat ini untuk membersihkan
ruangan-ruangan dalam rumah
mentalku.Tidak masalah dari mana aku
memulai. Aku bisa mulai dari
ruangan yang paling kecil dan
paling mudah.Dengan cara itu, aku akan melihat
hasilnya lebih cepat.Aku merasa bersemangat berada
di tengah petualangan ini karena
aku tahu pengalaman ini tidak
akan pernah terjadi lagi dengan
cara yang sama.Aku bersedia membebaskan
diriku sendiri.
Apakah Itu Benar?
Cara kita melihat dunia sangat
dipengaruhi oleh keyakinan
yang kita pegang.
Bayangkan sebuah gelas yang berisi air.
Seseorang bisa mengatakan gelas itu
setengah kosong. Orang lain bisa
mengatakan gelas itu setengah penuh.
Bahkan seseorang bisa melihatnya
sebagai tiga perempat penuh atau
hanya seperempat kosong.
Cara kita menilai sesuatu bergantung
pada apa yang kita hargai dan apa
yang kita pilih untuk fokuskan.
Karena itu penting untuk memeriksa
pikiran kita sendiri.
Apa pun yang kita percayai akan terasa
benar bagi kita.
Masalah dalam hidup sering kali
hanyalah pola pikiran. Dan pola
pikiran bisa diubah.
Jika sebuah masalah muncul, kita bisa
bertanya pada diri sendiri:
“Pikiran apa yang menyebabkan
pengalaman ini?”
Mengubah Cara Melihat Realitas
Contoh sederhana adalah hari hujan.
Kita bisa berkata bahwa itu adalah hari
yang buruk. Atau kita bisa melihatnya
hanya sebagai hari yang basah.
Jika kita memakai jas hujan atau
membawa payung, kita masih bisa
menikmati hari tersebut. Bahkan
mungkin kita bisa menemukan
kesenangan yang tidak kita duga
sebelumnya.
Namun jika keyakinan kita sejak dulu
mengatakan bahwa hujan berarti hari
yang menyebalkan, maka setiap kali
hujan turun kita akan menyambutnya
dengan perasaan kecewa. Kita
kehilangan kesempatan untuk
menikmati momen yang sebenarnya
bisa menyenangkan.
Pikiran yang penuh kegembiraan
menciptakan kehidupan yang penuh
kegembiraan.
Pikiran yang makmur menciptakan
kehidupan yang makmur.
Pikiran yang penuh kasih menciptakan
kehidupan yang penuh kasih.
Setiap momen adalah awal yang baru.
Titik kekuatan selalu berada pada
saat ini.
Kekuatan Pikiran Ada di Saat Ini
Kita tidak pernah benar-benar terjebak.
Tidak peduli seberapa lama sebuah
masalah berlangsung, perubahan
selalu bisa dimulai hari ini. Saat ini juga.
Penting untuk mengingat satu hal
sederhana namun kuat:
Kita adalah satu-satunya orang yang
berpikir di dalam pikiran kita sendiri.
Itu berarti kita adalah otoritas dan
kekuatan di dunia mental kita.
Memang tidak selalu mudah mengawasi
pikiran yang bergerak begitu cepat.
Tetapi kita bisa mulai dengan
mendengarkan kata-kata yang kita
ucapkan.
Jika kita mengucapkan sesuatu yang
negatif, kita bisa berhenti di tengah
kalimat dan mengubahnya. Atau
bahkan memilih untuk tidak
melanjutkannya.
Perasaan juga menjadi indikator
yang sangat baik.
Jika kita merasa bahagia, berarti pikiran
kita selaras dengan sesuatu yang positif.
Jika kita merasa tidak bahagia, mungkin
ada pola pikiran yang perlu diperiksa.
Ketika sebuah masalah muncul,
sering kali bukan hanya ada sesuatu yang
perlu dilakukan, tetapi ada sesuatu yang
perlu dipahami terlebih dahulu.
Afirmasi untuk Mengubah
Keyakinan Lama
Beberapa afirmasi yang muncul dari
gagasan ini adalah:
Aku tidak lagi memilih untuk
mempercayai keterbatasan
lama dan kekurangan.Sekarang aku memilih untuk
melihat diriku sebagaimana
alam semesta melihatku:
sempurna, utuh, dan lengkap.Aku memilih untuk menjalani
hidup berdasarkan pemahaman ini.
Memutuskan untuk Berubah
Perubahan selalu dimulai dari satu
keputusan:
keinginan untuk berubah.
Namun ketika kita mulai berubah,
sering kali muncul perlawanan.
Perlawanan itu bisa muncul dalam
bentuk kemarahan, penarikan diri,
atau perasaan tidak nyaman.
Ini adalah bagian yang alami dari
proses perubahan.
Dalam proses “membersihkan rumah
mental”, kita akan menemukan
berbagai jenis pikiran lama:
Ada pikiran yang hanya perlu
sedikit dipoles.Ada pikiran yang perlu
diperbaiki dengan usaha.Ada juga pikiran yang seperti
sampah busuk dan hanya
perlu dibuang.
Mengakui Kesediaan untuk
Berubah
Salah satu latihan sederhana adalah
mengucapkan dengan keras:
“Aku bersedia berubah.”
Latihan ini bisa dilakukan sambil
menyentuh tenggorokan sebagai tanda
pengakuan terhadap kata-kata yang
diucapkan.
Sering kali, bagian hidup yang paling
tidak ingin kita ubah justru adalah
bagian yang paling membutuhkan
perubahan.
Menurut gagasan dalam buku ini,
kecerdasan universal selalu
mendengarkan dan merespons.
Ada banyak cara untuk berubah:
spiritual, mental, fisik, atau
pendekatan holistik yang
menggabungkan semuanya.
Sebagian orang memulai dengan
meditasi.
Sebagian memulai dengan doa.
Sebagian memulai dengan
memperbaiki pola pikir.
Tidak masalah dari mana kita memulai.
Ketika kita mulai membersihkan satu
bagian, bagian lain sering kali akan
ikut berubah dengan sendirinya.
Ketika Membersihkan Pikiran
Terasa Tidak Nyaman
Membersihkan pikiran setelah
bertahun-tahun terbiasa dengan pola
pikir negatif bisa terasa tidak nyaman
pada awalnya.
Kadang-kadang kita bahkan merasa
lebih buruk selama beberapa hari.
Ini terjadi karena adanya resistensi
mental dan fisik.
Louise Hay memberikan analogi yang
sederhana: seperti membersihkan
panci yang gosong dan penuh kerak.
Pertama kita merendamnya dengan
air panas dan sabun. Kemudian kita
menggosoknya. Pada awalnya panci
itu terlihat lebih berantakan. Tetapi
setelah digosok terus-menerus,
akhirnya menjadi bersih.
Hal yang sama terjadi pada pikiran.
Kita “merendam” pikiran dengan
ide-ide baru dan afirmasi baru.
Dengan terus mengulanginya,
perlahan-lahan pola lama mulai larut.
Latihan Cermin
Salah satu latihan yang paling terkenal
dari Louise Hay adalah mirror work
atau latihan cermin.
Latihannya sederhana:
Berdiri di depan cermin.
Lihat diri sendiri langsung
di mata.Katakan dengan keras:
“Aku bersedia berubah.”
Perhatikan perasaan yang muncul.
Mungkin ada keraguan,
ketidaknyamanan, atau bahkan
penolakan.
Jika itu terjadi, jangan memarahi diri
sendiri. Cukup perhatikan.
Kemudian kembali menatap mata
sendiri di cermin, sentuh tenggorokan,
dan ucapkan dengan keras sepuluh kali:
“Aku bersedia melepaskan semua
perlawanan.”
Latihan ini dianggap sangat kuat karena
kita berbicara langsung kepada diri kita
sendiri tanpa perantara.
Afirmasi untuk Mengubah Pola Lama
Beberapa afirmasi yang mencerminkan
gagasan perubahan ini antara lain:
Aku memilih untuk melihat pola
lamaku dengan tenang dan objektif.Aku bersedia membuat perubahan.
Aku memilih untuk menikmati
proses ini.Aku melihat dan merasakan diriku
berubah dari momen ke momen.Pikiran tidak memiliki kekuatan
atas diriku.Aku adalah kekuatan itu.
Aku memilih untuk bebas.
Pada akhirnya, pesan utama dari bagian
ini sangat sederhana tetapi mendalam:
Masa lalu tidak memiliki kekuatan atas
kita.
Kita selalu memiliki kemampuan untuk
belajar, memahami, dan berubah.
Dan setiap perubahan selalu dimulai dari
satu titik kecil yaitu kesediaan untuk
melihat ke dalam diri sendiri dan
membersihkan rumah mental kita.
Contoh: Masa Lalu Tidak
Memiliki Kuasa atas Diriku
Seseorang mungkin pernah gagal
dalam pendidikan atau pekerjaan
di masa lalu. Kegagalan itu kemudian
menjadi keyakinan tetap di dalam
pikirannya:
“Aku memang tidak cukup pintar”
atau
“Aku selalu gagal.”
Keyakinan seperti ini membuat masa
lalu seolah memiliki kekuatan atas
masa kini.
Namun jika seseorang melihat kembali
masa lalu dengan perspektif baru, ia bisa
menyadari bahwa pada saat itu ia hanya
melakukan yang terbaik dengan
pemahaman yang dimilikinya. Mungkin
ia belum memiliki pengalaman, belum
memiliki dukungan yang cukup, atau
belum memahami strategi yang tepat.
Ketika pengetahuan dan kesadaran
bertambah, cara bertindak juga bisa
berubah. Masa lalu tidak lagi menjadi
identitas, tetapi hanya menjadi
pengalaman yang mengantar seseorang
sampai ke titik sekarang.
Contoh: Membersihkan Rumah
Mental
Bayangkan seseorang yang sejak kecil
sering mendengar kalimat seperti:
“Kamu tidak akan berhasil.”
“Jangan bermimpi terlalu tinggi.”
“Kamu tidak berbakat.”
Kalimat-kalimat tersebut perlahan
menjadi keyakinan yang menetap
di dalam pikiran.
Membersihkan rumah mental berarti
mulai memeriksa keyakinan-keyakinan
tersebut.
Seseorang dapat bertanya pada dirinya
sendiri:
Apakah keyakinan ini benar?
Dari mana keyakinan ini berasal?
Apakah keyakinan ini membantu
hidupku atau justru membatasi?
Jika keyakinan tersebut ternyata hanya
warisan dari pengalaman masa lalu,
maka ia bisa diganti dengan keyakinan
baru yang lebih mendukung.
Contoh: Bahaya Menyalahkan
Orang Lain
Seseorang mungkin berkata:
“Aku tidak berhasil karena
keluargaku tidak mendukung.”“Aku tidak bahagia karena
orang lain memperlakukanku
dengan buruk.”
Pernyataan seperti ini tampak masuk
akal, tetapi sebenarnya memberi
kekuatan kepada orang lain untuk
menentukan kehidupan kita.
Ketika seseorang berhenti menyalahkan
orang lain dan mulai berkata:
“Sekarang aku bertanggung jawab
atas hidupku.”
maka sesuatu berubah. Ia mulai melihat
kemungkinan baru untuk mengubah
masa depan.
Memahami bahwa orang lain juga
bertindak dari ketakutan dan keterbatasan
mereka dapat menumbuhkan belas kasih.
Belas kasih ini membuka jalan untuk
memaafkan dan melepaskan beban
masa lalu.
Contoh: Cara Pandang terhadap
Situasi
Contoh sederhana adalah hujan.
Seseorang dengan keyakinan negatif
mungkin langsung berkata:
“Hari ini benar-benar buruk karena hujan.”
Akibatnya, suasana hatinya ikut
menjadi buruk.
Namun seseorang dengan cara pandang
berbeda mungkin berkata:
“Hari ini hanya hari yang basah.”
Ia membawa payung, memakai jas hujan,
dan tetap menjalani hari dengan tenang.
Bahkan mungkin ia menikmati udara
yang lebih segar setelah hujan.
Perbedaan pengalaman tersebut bukan
berasal dari cuaca, tetapi dari cara berpikir.
Contoh: Mengubah Pikiran
di Tengah Percakapan
Sering kali kita mengucapkan kalimat
yang memperkuat keyakinan negatif
tanpa sadar.
Misalnya seseorang berkata:
“Aku selalu gagal dalam hal seperti ini.”
Jika ia mulai memperhatikan
pikirannya, ia bisa berhenti di tengah
kalimat dan menggantinya dengan
sesuatu yang lebih konstruktif, misalnya:
“Aku masih belajar bagaimana
melakukannya dengan lebih baik.”
Perubahan kecil seperti ini perlahan
mengubah cara seseorang memandang
dirinya sendiri.
Contoh: Memulai Perubahan
Ketika seseorang memutuskan untuk
berubah, reaksi pertama sering kali
adalah resistensi.
Misalnya seseorang ingin mulai berpikir
lebih positif, tetapi pikirannya berkata:
“Ini tidak akan berhasil.”
Atau ia merasa marah, tidak nyaman,
bahkan ingin menyerah.
Dalam konsep pembersihan mental,
resistensi ini dianggap sebagai bagian
alami dari proses perubahan.
Seperti membersihkan rumah yang
sudah lama tidak dibersihkan, awalnya
akan terlihat berantakan sebelum
akhirnya menjadi rapi.
Contoh: Latihan Afirmasi
Seseorang yang merasa terjebak dalam
keyakinan lama bisa mulai dengan
afirmasi sederhana.
Misalnya setiap pagi ia mengucapkan:
“Aku bersedia berubah.”
Pada awalnya kalimat ini mungkin terasa
aneh atau tidak meyakinkan. Namun
dengan pengulangan, pikiran mulai
menerima kemungkinan baru bahwa
perubahan memang mungkin terjadi.
Contoh: Latihan Cermin
Latihan cermin bisa diterapkan
dengan cara sederhana.
Seseorang berdiri di depan cermin,
menatap dirinya sendiri di mata,
lalu mengatakan:
“Aku bersedia berubah.”
Jika ia merasa ragu atau tidak nyaman,
itu adalah sinyal bahwa ada bagian dari
dirinya yang masih menolak perubahan.
Daripada mengkritik diri sendiri,
ia hanya perlu mengamati perasaan itu
dan mengulang afirmasi:
“Aku bersedia melepaskan semua
perlawanan.”
Dengan cara ini, seseorang mulai
membangun hubungan yang lebih
jujur dengan dirinya sendiri.
Contoh: Mengganti Pola
Pikiran Lama
Misalnya seseorang memiliki pola
pikir seperti:
“Aku tidak cukup baik.”
“Aku selalu membuat kesalahan.”
Ia bisa mulai menggantinya dengan
pola pikir baru seperti:
“Aku terus belajar dan berkembang.”
“Aku mampu berubah.”
Perubahan ini mungkin terlihat kecil,
tetapi jika dilakukan terus-menerus,
pola pikir baru akan menggantikan
pola lama.
Penerapan dalam Kehidupan
Sehari-hari
Penerapan gagasan dalam catatan ini
dapat dilakukan melalui
langkah-langkah sederhana:
Mengamati pikiran dan kata-kata
yang sering diucapkan.Memeriksa keyakinan lama yang
berasal dari masa lalu.Berhenti menyalahkan orang lain
atas keadaan hidup.Mengganti pola pikir negatif
dengan afirmasi baru.Melatih kesediaan untuk
berubah setiap hari.Melihat setiap momen sebagai
kesempatan untuk memulai
kembali.
Dengan cara ini, seseorang secara
perlahan membersihkan rumah
mentalnya.
Dan ketika rumah mental menjadi lebih
bersih, cara seseorang melihat dunia
juga mulai berubah.
Pengalaman hidup yang baru pun mulai
muncul dari perubahan tersebut.
